Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS
A. NAMA
: MYG
B. ALAMAT
: Jl.Batubolong Pagutan Regency no.13 Mataram
C. JENIS KELAMIN : laki-laki
D. USIA
: 5 tahun
E. PENDIDIKAN
: TK
F. SUKU BANGSA
: Sasak
G. AGAMA
: Islam
H. PEKERJAAN
:I. STATUS PERKAWINAN : Belum menikah

II. ANAMNESIS
A. KELUHAN UTAMA : pasien datang ke poliklinik kulit kelamin diantar oleh
orang tuanya, dengan dikeluhkan gatal-gatal dan timbul bercak-bercak
kemerahan pada kaki, ketiak,dan tangan
B.

RPS

: Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu, awalnya dirasakan

berawal pada kaki, kemudian meluas ke bagian tubuh lain,seperti tangan,dan


ketiak. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat pada malam hari dan
menyebabkan pasien terbangun hampir setiap malam,Untuk mengurangi
keluhan, ibu pasien biasanya menaburi tubuh pasien dengan bedak bayi, dan
C.

kadang minyak kelapa, dan keluhan dinyatakan dapat berkurang.


RPD : -

D. RPK : Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah dan riwayat
orang sekitar yang memiliki keluhan yang sama dibenarkan oleh ibu pasien
yaitu kakak pasien yang sering diajak bermain oleh pasien serta kedua orang
tua pasien sendiri.
E. RP.SOS
: teman-teman pasien di sekolah juga banyak yang mengalami
keluhan yang serupa.
III. STATUS DERMATOLOGIS

Lokasi : kaki kanan dan kiri, tungkai bawah kanan dan kiri, ketiak kanan dan kiri,
lengan bawah kanan dan kiri
Effloresensi : papul eritem multipel, bentuk bulat berbatas tegas
Diagnosis : skabies
IV. DIAGNOSIS DIFFERENSIAL

1. Prurigo von hebra


Kelainan kulit terdiri atas papul- papul milliar berbentuk kubah sangat gatal, lebih
mudah diraba daripada dilihat, terutama bagian ekstensor.

2.Dermatitis
Peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen
dan atau faktor endogen menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik
(eritema,papul, vesikel skuama likenifikasi) dan keluhan gatal.
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menegakkan diagnosis biasanya bisa dilakukan :
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul, atau
vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah kaca objek, lalu
ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih
dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari kemudian
dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan miroskop cahaya.
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.
VI. KOMPLIKASI
Jika skabies tidak segera diobati dapat menyebabkan infeksi sekunder. Seperti
timbul demam dan kunikulus semakin meluas ke seluruh tubuh.
VII. PENATALAKSANAAN
Pengobatan : Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau
salep yang dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan
yang tersedia di pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain;
tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu (telur, larva maupun kutu dewasa),
tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh dan murah harganya.
Sistemik
Antihistamin klasik sedatif ringan untuk mengurangi gatal, misalnya klorfeniramin
maleat 0.34 mg/kg BB 3 x sehari.

Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin,


eritromisin.
Topikal
Obatan-obatan yang dapat digunakan antara lain :
1.

Salep 2 4, biasanya dalam bentuk salep atau krim. Kekurangannya, obat ini
menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori pakaian, tidak efektif
membunuh stadium telur, dan penggunaannya harus lebih dari 3 hari berturutturut.

2. Emulsi benzil-benzoas 20 25%, efektif terhadap semua stadium, diberikan


setiap malam selama 3 hari berturut-turut. Kekurangannya, dapat menimbulkan
iritasi kulit.
3.

Gamexan 1%, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium kutu,
mudah digunakan, serta jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak
dianjurkan bagi wanita hamil, maupun anak dibawah usia 6 tahun, karena bersifat
toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemakaiannya cukup satu kali dioleskan
seluruh tubuh. Dapat diulang satu minggu kemudian bila belum sembuh.

4.

Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan karena selain memiliki efek anti- skabies,
juga bersifat anti gatal.

5. Permetrin HCl 5%, efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalu toksik.
Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relatif mahal.
Selain menggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah
upaya peningkatan kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara :
1.

Mencuci bersih bahkan sebagian ahli menganjurkan merebus handuk, seprai


maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.
Menghilangkan faktor predisposisi, antara lain dengan penyluhan mengenai
higiene perorangan dan lingkungan.

2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.


3.

Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk


memutuskan rantai penularan.

VIII.

PROGNOSIS

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan
dan menghilangkan faktor predisposisi (antara lain, higiene), maka penyakit ini
dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik.

IX. RESEP

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Encyclopedia of Disease and the solution. Basic Healing : Jakarta
Djuanda,Adhi.2008. Ilmu Penyakit Kulit dan kelamin.ed.V.Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta
Siregar.2004. Atlas berwarna saripati penyakit kulit.ed.2 EGC : jakarta