Anda di halaman 1dari 18

KEPUTUSAN

KEPALA UPTD PUSKESMAS DTP CIWANDAN


NOMOR : 440/
/KAPUS/2016
TENTANG
PANDUAN PENYUSUNAN PEDOMAN,PANDUAN, KERANGKA ACUAN DAN
SOP PADA UPTD PUSKESMAS DTP CIWANDAN
KEPALA UPTD PUSKESMAS DTP CIWANDAN,
Menimbang:

a. bahwa dalam rangka pembinaan peningkatan mutu dan kinerja


melalui

perbaikan

yang

berkesinambungan

terhadap

sistem

manajemen, sistem manajemen mutu, sistem penyelenggaraan


pelayanan dan program serta penerapan sistem manajemen risiko
maka perlu dilakukan perbaikan mutu puskesmas yang dilakukan
secara teru menerus;
b. bahwa untuk menjamin terselenggaranya sistem manajemen mutu
puskesmas secara efektif dan efisien, maka dipandang perlu
menetapkan pedoman cara penyusunan pedoman, panduan,
kerangka acuan dan SOP melalui Keputusan Kepala UPTD
Puskesmas Cilegon;
Mengingat :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144);
2. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2012
Tentang Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur
Administrasi Pemerintahan;
3. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur negara dan
Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2012
Tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Instansi Pemerintah;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 tentang Puskesmas;
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 46 Tahun 2015 tentang
Akreditasi Puskesmas, Klinik Pratama dan Tempat Praktek
Mandiri (Lembaran Daerah Kota Cilegon Tahun 2008 Nomor 7 )

MEMUTUSKAN
Menetapkan :

KEPUTUSAN KEPALA UPTD PUSKESMAS DTP CIWANDAN


TENTANG CARA

Kesatu

PENYUSUNAN

PEDOMAN, PANDUAN

KERANGKA KERANGKA ACUAN DAN SOP


Pedoman dan prosedur penyelenggaraan program/upaya
Puskesmas dan kegiatan pelayanan Puskesmas perlu disusun,

Kedua

didokumentasikan dan dikendalikan.


Pedoman tata cara penyusunan pedoman, panduan kerangka
acuan dan SOP sebagaimana

tercantum

dalam lampiran

keputusan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari


keputusan ini.
Ketiga

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan


apabila dikemudian

hari

ada

kekeliruan

akan

diadakan

perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di
: Cilegon
Pada tanggal
: 10 Agustus 2016
KEPALA UPTD PUSKESMAS DTP
CIWANDAN,

ABDULLAH ALBAAR

LAMPIRAN KEPUTUSAN KEPALA


PUSKESMAS NOMOR....................
TENTANG : PANDUAN PENYUSUNAN
PEDOMAN, PANDUAN,KERANGKA ACUAN, DAN
SOP

PEDOMAN CARA PENYUSUNAN PEDOMAN, PANDUAN,


KERANGKA ACUAN, DAN SOP

A.

PEDOMAN/PANDUAN
Pedoman/panduan

adalah

kumpulan ketentuan dasar yang memberi arah

langkah-langkah yang harus dilakukan. Pedoman merupakan dasar untuk


menentukan dan melaksanakan kegiatan.
Panduan adalah petunjuk dalam melakukan kegiatan, sehingga dapat diartikan
pedoman mengatur beberapa hal, sedangkan panduan hanya mengatur 1
(satu) kegiatan. Pedoman/ panduan dapat diterapkan dengan baik dan benar
melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (selanjutnya disebut SOP).
Mengingat sangat bervariasinya bentuk dan isi pedoman/panduan maka
Puskesmas menyusun/membuat sistematika buku pedoman/ panduan sesuai
kebutuhan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dokumen pedoman atau panduan
yaitu :
1. Setiap pedoman atau panduan harus dilengkapi dengan peraturan atau
keputusan Kepala Puskesmas untuk pemberlakuan pedoman/panduan
tersebut.
2. Peraturan Kepala Puskesmas tetap berlaku meskipun terjadi penggantian
Kepala Puskesmas.
3. Setiap pedoman/panduan sebaiknya dilakukan evaluasi minimal setiap 2-3
tahun sekali.
4. Bila Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan pedoman/panduan
untuk suatu kegiatan/pelayanan tertentu, maka Puskesmas dalam
membuat pedoman/panduan wajib mengacu pada pedoman/panduan yang
diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

5. Format baku sistematika pedoman panduan yang lazim digunakan sebagai


berikut :
a. Format Pedoman Pengorganisasian Unit Kerja
BAB I

Pendahuluan

BAB II

Gambaran Umum Puskesmas

BAB III Visi, Misi, Falsafah, Nilai dan Tujuan Puskesmas


BAB IV Struktur Organisasi Puskesmas
BAB V

Struktur Organisasi Unit Kerja

BAB VI Uraian Jabatan


BAB VII Tata Hubungan Kerja
BAB VIII Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Personil
BAB IX Kegiatan Orientasi
BAB X

Pertemuan/ Rapat

BAB XI Pelaporan
1. Laporan Harian
2. Laporan Bulanan
3. Laporan Tahunan
b. Format Pedoman Pelayanan Unit Kerja
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Pedoman
C. Ruang Lingkup Pelayanan
D. Batasan Operasional
E. Landasan Hukum
BAB II STANDAR KETENAGAAN
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
B. Distribusi Ketenagaan

C. Jadwal Kegiatan, termasuk Pengaturan Jaga (Rawat Inap)


BAB III STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruang
B. Standar Fasilitas
BAB IV TATALAKSANA PELAYANANAN
BAB V

LOGISTIK

BAB VI KESELAMATAN PASIEN


BAB VII KESELAMATAN KERJA
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU
BAB IX PENUTUP
c. Format Panduan Pelayanan Puskesmas
BAB I

DEFINISI

BAB II RUANG LINGKUP


BAB III TATALAKSANA
BAB IV DOKUMENTASI
Sistematika panduan pelayanan Puskesmas dapat dibuat sesuai dengan
materi/isi panduan. Pedoman/panduan yang harus dibuat adalah
pedoman/panduan minimal yang harus ada di Puskesmas yang
dipersyaratkan sebagai regulasi yang diminta dalam elemen penilaian.
Bagi Puskesmas yang telah menggunakan e-file tetap harus mempunyai
hardcopy

pedoman/panduan

yang

dikelola

oleh

tim

akreditasi

Puskesmas atau bagian Tata Usaha Puskesmas.


B.

KERANGKA ACUAN
Penyusunan kerangka acuan upaya/ kegiatan dengan mencakup tujuan umum
dan khusus. Tujuan umum adalah tujuan secara garis besar, sedangkan tujuan
khusus merupakan rincian kegiatan yang akan dicapai dari organisasi.

Kegiatan pokok dan rincian kegiatan adalah langkah-langkah kegiatan


dilaksanakan sehingga tercapainya tujuan program. Oleh karena itu antara
tujuan dan kegiatan harus berkaitan dan

sejalan. Cara melaksanakan

kegiatan, metode untuk melaksanakan kegiatan pokok dan rincian kegiatan.


1.

Sistematika atau format kerangka acuan


Sistematika atau format kerangka acuan upaya kegiatan sebagai berikut :
A. Pendahuluan
B. Latar belakang
C. Tujuan umum dan tujuan khusus
D. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
E. Cara melaksanakan kegiatan
F. Sasaran
G. Skedul (jadwal) pelaksanaan kegiatan
H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan
I.

Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan

Sistematika/format tersebut diatas adalah minimal Puskesmas dapat


menambah sesuai kebutuhan, tetapi tidak diperbolehkan mengurangi.
Contoh penambahan ditambah poin untuk rencana pembiayaan/anggaran.
2.

Petunjuk Penulisan
a. Pendahuluan
Yang ditulis dalam pendahuluan adalah hal-hal yang bersifat umum
yang masih terkait dengan upaya/kegiatan.
b. Latar belakang
Latar belakang adalah merupakan justifikasi atau alasan mengapa
program tersebut disusun. Sebaiknya dilengkapi dengan data-data
sehingga alasan diperlukan program tersebut dapat lebih kuat.

c. Tujuan umum dan tujuan khusus


Tujuan ini adalah merupakan tujuan upaya/kegiatan. Tujuan umum
adalah tujuan secara garis besarnya, sedangkan tujuan khusus adalah
tujuan secara rinci.
d. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
Kegiatan pokok dan rincian kegiatan adalah langkah-langkah kegiatan
yang harus dilakukan sehingga tercapainya tujuan upaya/kegiatan

tersebut. Oleh karena itu antara tujuan dan kegiatan harus berkaitan
dan sejalan.
e. Cara melaksanakan kegiatan
Cara melaksanakan kegiatan adalah metode untuk melaksanakan
kegiatan pokok dan rincian kegiatan. Metode tersebut bisa antara lain
dengan membentuk tim, melakukan rapat, melakukan audit, dan lainlain.
f.

Sasaran
Sasaran program adalah target pertahun yang spesifik dan terukur
untuk mencapai tujuan-tujuan upaya/kegiatan.
Sasaran upaya/kegiatan menunjukkan hasil antara yang diperlukan
untuk merealisisasikan tujuan tertentu. Penyusunan sasaran program
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Sasaran yang baik harus memenuhi SMART yaitu :
1) Specific : sasaran harus menggambarkan hasil spesifik yang
diinginkan, bukan cara pencapaiannya. Sasaran harus memberikan

arah dan tolok ukur yang jelas sehingga dapat dijadikan landasan
untuk penyusunan strategi dan kegiatan yang spesifik.
2) Measurable : sasaran harus terukur dan dapat dipergunakan untuk
memastikan apa dan kapan pencapaiannya. Akontabilitas harus
ditanamkan

kedalam

proses

perencanaan.

Oleh

karenanya

meetodologi untuk mengukur pencapaian sasaran (keberhasilan


upaya/ kegiatan) harus ditetapkan sebelum kegiatan yang terkait
dengan sasaran tersebut dilaksanakan.
3) Agressive but Attainable : apabila sasaran harus dijadikan standar
keberhasilan, maka sasaran harus menantang, namun tidak boleh
mengandung target yang tidak layak. Umpamanya kita bisa
menetapkan sebagai suatu sasaran pengurangan kematian
misalnya akibat TB akan dapat dicapai pada suatu tingkat tertentu
tetapi meniadakan kematian merupakan hal yang tidak dapat
dipastikan kelayakannya.
4) Result oriented : sedapat mungkin sasaran harus menspesifikkan
hasil

yang

ingin

dicapai.

Misalnya:

mengurangi

komplain

masyarakat terhadap pelayanan OAT sebesar 50%.


5) Time bound : sasaran sebaiknya dapat dicapai dalam waktu yang
relatif pendek, mulai dari beberapa minggu sampai

beberapa

bulan (sebaiknya kurang dari 1 tahun). Kalau ada upaya/kegiatan 5


(lima) tahun dibuat sasaran antara. Sasaran akan lebih mudah
dikelola dan dapat lebih serasi dengan proses anggaran apabila
dibuat sesuai dengan batas-batas tahun anggaran di Puskesmas.
Seni didalam penentuan sasaran adalah menimbulkan tantangan
yang dapat dicapai. Sasaran yang terbaik adalah sasaran yang
dapat mendorong peningkatan kapasitas Puskesmas, namun

dalam batas-batas kelayakan. Sasaran yang baik tidak hanya akan


meningkatkan

upaya/kegiatan

dan

jasa

pelayanan

yang

dihasilkan, namun juga menumbuhkan kebanggaan dan rasa


percaya diri pada para pelaksananya. Sebaliknya penerapan target
kinerja yang tidak mungkin dicapai akan melemahkan motivasi,
membunuh inisiatif dan menghambat daya inovasi para karyawan.
g.

Jadwal pelaksanaan kegiatan


Skedul

atau

jadwal

adalah

merupakan

perencanaan

waktu

melaksanakan langkah-langkah pelaksanaan upaya/kegiatan. Lama


waktu tergantung rencana upaya/kegiatan tersebut dilaksanakan.
Untuk program tahunan, maka jadwal yang dibuat adalah jadwal untuk
1 tahun, sedangkan untuk upaya/kegiatan 5 tahun maka jadwal yang
harus dibuat adalah jadual 5 tahun.
h. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan
Yang dimaksud dengan evaluasi pelaksanaan kegiatan adalah evaluasi
dari skedul (jadwal) kegiatan. Schedule (jadwal) tersebut akan
dievaluasi setiap berapa bulan sekali (kurun waktu tertentu), sehingga
apabila

dari

evaluasi

diketahui

ada

pergeseran

jadwal

atau

penyimpangan jadwal, maka dapat segera diperbaiki sehingga tidak


mengganggu upaya/ kegiatan secara keseluruhan. Karena itu yang
ditulis dalam kerangka acuan adalah kapan (setiap kurun waktu berapa
lama) evaluasi pelaksanaan kegiatan dilakukan dan siapa yang
melakukan.Yang dimaksud dengan pelaporannya adalah bagaimana
membuat laporan evaluasi pelaksanaan kegiatan tersebut dan kapan
laporan tersebut harus dibuat. Jadi yang harus ditulis didalam kerangka
acuan adalah cara bagaimana membuat laporan evaluasi dan kapan
laporan tersebut harus dibuat dan ditujukan kepada siapa.

i.

Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan


Pencatatan kegiatan ditulis dalam kerangka acuan adalah bagaimana
melakukan pencatatan kegiatan atau membuat dokumentasi kegiatan.
Pelaporan adalah bagaimana membuat laporan program dan kurun
waktu (kapan) laporan harus diserahkan dan kepada siapa saja
laporan tersebut harus diserahkan.
Evaluai kegiatan adalah evaluasi pelaksanaan upaya/kegiatan secara
menyeluruh. Jadi yang ditulis didalam kerangka acuan, bagaimana
melakukan evaluasi dan kapan evaluasi harus dilakukan.

C.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)


Istilah prosedur ada beberapa pengertian, diantaranya:
1. Standar Operasional Prosedur adalah serangkaian instruksi tertulis yang
dibakukan

mengenai

berbagai

proses

penyelenggaraan

aktivitas

organisasi, bagaimana dan kapan harus dilakukan, dimana dan oleh siapa
dilakukan (Permenpan Nomor 35 Tahun 2012).
2. SOP administratif adalah prosedur standar yang bersifat umum dan tidak
rinci dari kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang aparatur atau
pelaksana dengan lebih dari satu peran atau jabatan.
3. SOP teknis adalah prosedur standar yang sangat rinci dari kegiatan yang
dilakukan oleh satu orang aparatur atau pelaksana dengan satu peran atau
jabatan.

4. Administrasi pemerintahan adalah pengelolaan proses pelaksanaan tugas


dan fungsi pemerintahan yang dijalankan oleh organisasi pemerintah.
5. Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan (SOP AP)
adalah

standar

operasional

prosedur

dari

berbagai

proses

penyelenggaraan

administrasi

pemerintahan

yang

sesuai

dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Beberapa Istilah prosedur yang sering digunakan yaitu :
1. Prosedur yang telah ditetapkan disingkat protap.
2. Prosedur untuk panduan kerja (prosedur kerja, disingkat PK).
3. Prosedur untuk melakukan tindakan.
4. Prosedur penatalaksanaan.
5. Petunjuk pelaksanaan disingkat juklak.
6. Petunjuk pelaksanaan secara tehnis, disingkat juknis.
7. Prosedur untuk melakukan tindakan klinis adalah algoritma/clinical patway,
namun pada saat ini umumnya juga disebut prosedur.
Walaupun banyak istilah tentang pengertian prosedur agar tidak menjadikan
salah tafsir maka yang dipergunakan di dalam buku panduan ini adalah
Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai dengan Pedoman Penyusunan
Dokumen Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama.
a. Tujuan Penyusunan SOP
Agar berbagai proses kerja rutin terlaksana dengan efisien, efektif, konsisten/
seragam dan aman, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan melalui
pemenuhan standar yang berlaku.

b. Manfaat SOP
1) Memenuhi persyaratan standar pelayanan Puskesmas
2) Mendokumentasi langkah-langkah kegiatan

3) Memastikan karyawan Puskesmas memahami bagaimana melaksanakan


pekerjaannya. Contoh : SOP pemberian informasi, SOP pemasangan infus,
SOP pemindahan pasien dari tempat tidur ke kereta dorong dan lain-lain.
c. Format SOP
Untuk menghindari berbagai macam format SOP, maka format SOP UPTD
Puskesmas Patihan mengacu pada Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Kop/heading SOP

2. Komponen SOP

Penulisan SOP yang harus tetap di dalam tabel/kotak adalah: nama


Puskesmas dan logo, judul SOP, nomor dokumen, tanggal terbit dan tanda
tangan

Kepala Puskesmas,

sedangkan

untuk

pengertian,

kebijakan, prosedur/langkah-langkah, dan unit terkait boleh

tujuan,

tidak diberi

tabel/kotak.
3. Petujuk Pengisian SOP
a. Logo:
Logo yang dipakai adalah logo Pemerintah Kota Cilegon, dan lambang
Puskesmas.
b. Kotak kop/heading diisi sebagai berikut:
1) Heading hanya dicetak halaman pertama.
2) Kotak FKTP diberi logo Pemerintah Kota Cilegon dan

nama

Puskesmas
3) Kotak Judul diberi judul/nama SOP sesuai proses kerjanya.
4) Nomor dokumen: diisi sesuai dengan ketentuan penomoran yang
berlaku di UPTD Puskesmas DTP Ciwandan, dibuat sistematis agar
ada keseragaman.
5) Nomor revisi : diisi dengan status revisi, dapat menggunakan huruf.
Contoh: dokumen baru diberi huruf A, dokumen revisi pertama
diberi huruf B dan seterusnya. Tetapi dapat

juga dengan angka,

misalnya untuk dokumen baru dapat diberi nomor 0, sedangkan


dokumen revisi pertama diberi nomor 1, dan seterusnya.
6) Tanggal terbit: diberi tanggal sesuai tanggal terbitnya atau tanggal
diberlakukannya SOP tersebut.

7) Halaman: diisi nomor halaman dengan mencantumkan juga total


halaman untuk SOP tersebut (misal 1/5). Namun, di tiap halaman
8) selanjutnya dibuat footer misalnya pada halaman kedua: 2/5, halaman
terakhir: 5/5.
9) Ditetapkan Kepala FKTP: diberi tandatangan Kepala UPTD Puskesmas
Ciwandan dan nama jelasnya.
4. Isi SOP
Isi dari SOP setidaknya adalah sebagai berikut:
a. Pengertian: diisi denisi judul SOP, dan berisi penjelasan dan atau
denisi

tentang istilah

yang

mungkin

sulit

dipahami atau

menyebabkan salah pengertian/menimbulkan multi persepsi.


b. Tujuan: berisi tujuan pelaksanaan SOP secara spesik. Kata kunci:
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk .
c. Kebijakan: berisi kebijakan Kepala Puskesmas yang menjadi dasar
dibuatnya SOP tersebut, misalnya untuk SOP imunisasi pada bayi,
pada kebijakan dituliskan: Keputusan Kepala Puskesmas No...... tentang
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak.
d. Referensi: berisi dokumen eksternal sebagai acuan penyusunan SOP,
bisa
berbentuk buku, peraturan perundang-undangan, ataupun bentuk lain
sebagai bahan pustaka.

e. Langkah-langkah prosedur: bagian ini merupakan bagian utama yang


menguraikan langkah-langkah
f.

kegiatan

untuk menyelesaikan proses

kerja tertentu.
Unit terkait: berisi unit-unit yang terkait dan/atau prosedur terkait dalam
proses kerja tersebut.
Dari keenam isi SOP sebagaimana diuraikan di

atas,

dapat

ditambahkan antala lain: bagan alir, dokumen terkait.


g. Diagram alir/ bagan alir (flow chart):
Di dalam penyusunan prosedur maupun instruksi kerja sebaiknya
dalam langkah-langkah kegiatan dilengkapi dengan diagram alir/ bagan
alir

untuk

memudahkan

dalam pemahaman

langkah-langkahnya.

Adapun bagan alir secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu
diagram alir makro dan diagram alir mikro.
1) Diagram alir makro, menunjukkan kegiatan-kegiatan secara garis
besar dari proses yang ingin kita ngkatkan, hanya mengenal
satu simbol, yaitu simbol balok:

2) Diagram alir mikro, menunjukkan rincian kegiatan-kegiatan dari tiap


tahapan diagram makro, bentuk simbol sebagai berikut:

5.

Syarat penyusunan SOP


a. Perlu ditekankan bahwa

SOP

harus

ditulis

oleh mereka

yang

melakukan pekerjaan tersebut atau oleh unit kerja tersebut. Tim atau
panitia yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas hanya untuk menanggapi
dan mengkoreksi SOP tersebut. Hal tersebut sangatlah penting, karena
komitmen terhadap

b. pelaksanaan

SOP

hanya diperoleh dengan adanya keterlibatan

personel/unit kerja dalam penyusunan SOP.


c. SOP harus merupakan ow chart dari suatu kegiatan. Pelaksana atau
unit kerja agar mencatat proses kegiatan dan membuat alurnya kemudian
Tim Mutu diminta memberikan tanggapan.
d. Di dalam SOP harus dapat dikenali dengan jelas siapa melakukan apa,
dimana, kapan, dan mengapa.
e. SOP jangan menggunakan kalimat majemuk. Subjek, predikat dan objek
SOP harus jelas.
f. SOP harus menggunakan kalimat perintah/instruksi bagi pelaksana
dengan bahasa yang dikenal pemakai.
g. SOP harus jelas, ringkas, dan mudah dilaksanakan. Untuk

SOP

pelayanan pasien maka harus memperhatikan aspek keselamatan,


keamanan dan kenyamanan pasien. Untuk SOP profesi harus mengacu
kepada standar profesi, standar pelayanan, mengikuti
Ilmu Pengetahuan

dan

Teknologi

(IPTEK)

perkembangan
kesehatan, dan

memperhatikan aspek keselamatan pasien.


6. Evaluasi SOP
Evaluasi SOP dilakukan terhadap isi maupun penerapan SOP
a. Evaluasi penerapan/ kepatuhan terhadap SOP dapat dilakukan dengan
menilai tingkat kepatuhan terhadap langkah-langkah dalam SOP. Untuk
evaluasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan daftar tilik/check list:
Daftar tilik adalah daftar urutan kerja (actions) yang dikerjakan secara
konsisten, diikuti

dalam pelaksanaan suatu rangkaian kegiatan, untuk

diingat, dikerjakan, dan diberi tanda (check-mark).


1) Daftar tilik merupakan bagian dari sistem manajemen

mutu

untuk

mendukung standarisasi suatu proses pelayanan.


2) Daftar tilik tidak dapat digunakan untuk SOP yang kompleks.
3) Daftar tilik digunakan untuk mendukung, mempermudah pelaksanaan
dan memonitor SOP, bukan untuk menggantikan SOP itu sendiri.
4) Langkah-langkah menyusun daftar tilik:

Langkah awal menyusun daftar tilik dengan melakukan Identikasi


prosedur yang

membutuhkan

daftar

tilik

untuk mempermudah

pelaksanaan dan monitoringnya.


a) Gambarkan flow-chart dari prosedur tersebut.
b) Buat datar kerja yang harus dilakukan.
c) Susun urutan kerja yang harus dilakukan.
d) Masukkan dalam daftar tilik sesuai dengan format tertentu.
e) Lakukan uji-coba.
f) Lakukan perbaikan daftar tilik
g) Standarisasi daftar tilik.
5) Daftar tilik untuk mengecek kepatuhan terhadap SOP dalam langkahlangkah kegiatan, dengan rumus sebagai berikut:

b. Evaluasi isi SOP


1) Evaluasi SOP dilaksanakan sesuai kebutuhan dan minimal dua
tahun sekali yang dilakukan oleh masing-masing unit kerja.
2) Hasil evaluasi: SOP masih tetap bisa dipergunakan, atau SOP
tersebut perlu diperbaiki/direvisi.

Perbaikan/revisi isi

SOP

bisa

dilakukan sebagian atau seluruhnya.


3) Perbaikan/ revisi perlu dilakukan bila:
a) Alur SOP sudah tidak sesuai dengan keadaan yang ada.
b) Adanya perkembangan Ilmu dan Teknologi (IPTEK) pelayanan
kesehatan.
c) Adanya perubahan organisasi atau kebijakan baru.
d) Adanya perubahan fasililitas.
4) Peraturan
Kepala
Puskesmas tetap
berlaku meskipun terjadi
penggantian Kepala Puskesmas.
KEPALA UPTD
PUSKESMAS DTP CIWANDAN,

ABDULLAH ALBAAR