Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Syndrom (HIV) merupakan salah satu penyakit yang
berbahaya bagi seseorang.Sejak pertama kali kasus HIV ditemukan tahun 1987 terus terjadi
peningkatan jumlah kasus sampai sekarang.Risiko penyebaran dan penularan infeksi ini juga
menjadi perhatian yang serius oleh para pemangku kebijakan dan masyarakat luas. WHO
(World Health Organization) menyatakan bahwa HIV/AIDS (Acquuired Immunodeficiency
Syndrom) merupakan penyakit infeksi penyebab kematian peringkat atas dengan angka
kematian dan angka kejadian penyakit yang tinggi serta membutuhkan diagnosis serta terapi
yang cukup lama (WHO, 2006).
Kasus HIV/AIDS di Indonesia Sembilan tahun terakhir berdasarkan Laporan
Perkembangan HIV-AIDS Triwulan III sampai 30 September 2013 oleh Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia dapat dilihat pada grafik berikut :

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa jumlah kasus HIV ada sedikit penurunan pada
tahun 2007, 2009, dan 2011 namun secara kumulatif trend kasus HIV mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun.
Tingginya prevalensi kasus HIV/AIDS di Indonesia saat ini bukan hanya masalah
penyakit menular tetapi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat luas. Oleh
karena itu diperlukan penanganan menyeluruh tidak hanya bersifat kuratif dan rehabilitative
tetapi juga promotif den preventif
Berdasarkan Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan III Tahun 2013 oleh
Kementerian Kesehatan RI disebutkan bahwa jumlah kasus HIV sampai dengan September
2013 sebanyak 118.787 kasus, sedangkan kasus AIDS sebanyak 45.650 orang. Presentase

kasus kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (34,5%), diikuti kelompok
umur 30-39 tahun (28,7%) dan umur 40-49 tahun (10.6%). Jumlah tertinggi kasus AIDS
adalah pada wiraswasta (5.430), diikuti ibu rumah tangga (5.353), dan tenaga non
professional/karyawan (4.847). Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual
(60,9%), pengguna narkoba suntik (17,4%), diikuti penularan perinatal (2,7%) dan
homoseksual (2,4%).
Presentase kasus kumulatif AIDS tertinggi berada pada rentang usia reproduksi aktif,
yang apabila hamil dapat menularkan infeksi HIV pada bayinya. Hal ini diketahui dengan
tingginya jumlah kasus HIV pada bayi di Indonesia yaitu sebesar 185 kasus pada tahun 2013
(sampai dengan September).Penularan yang terjadi dari ibu kepada bayinya dapat terjadi
pada masa kehamilan, saat persalinan dan selama menyusui. Apabila tidak dilakukan deteksi
dini dan penanganan yang tepat pada ibu, maka akan semakin tinggi jumlah bayi dan anak
dengan kasus HIV/AIDS. Besar risiko penularan infeksi HIV dari ibu ke anak dapat dilihat
pada tabelberikut :
Tabel 1.1 Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Risiko Penularan
Selama kehamilan
Saat persalinan
Selama menyusui (rata-rata 15%)
Risiko penularan keseluruhan

Presentase
5-10%
10-20%
5-20%
20-50%

Sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2014

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan RI, 2013, di seluruh
Indonesia jumlah ibu hamil yang mengikuti layanan PMTCT sejumlah 21.103 orang pada
tahun 2011, 43.624 orang pada tahun 2012, dan 33.087 orang pada tahun 2013 (sampai bulan
Juni 2013). Melihat data tersebut , terdapat peningkatan jumlah ibu hamil yang mengikuti
program PMTCT di Indonesia sejak tahun 2011 hungga bulan Juni 2013. Namun angka
tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah ibu hamil di Indonesia yaitu
sekitar 0,57% (tahun 2013).
Pencegahan penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention of Mother to Child
Transmission (PMTCT) merupakan bagian dari rangkaian upaya pengendalian HIV dan
AIDS. Tujuan utamanya adalah agar bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV terbebaskan
dari HIV, serta ibu dan bayi tetap hidup dan sehat. Kebijakan umum PPIA sejalan dengan
kebijakan program nasional pengendalian HIV-AIDS dan IMS lainnya, serta kebijakan
program KIA (Kementerian Kesehatan RI, 2014). PPIA atau PMTCT merupakan sebuah

upaya yang penting karena sebagian besar perempuan HIV positif berada dalam usia
reproduksi aktif dan lebih dari 90% kasus bayi yang terinfeksi HIV ditularakan melalui
proses dari ibu ke bayi (Departemen Kesehatan RI, 2006).
Berdasarkan kebijakan yang ada maka salah satu penanggulangan yang dikembangkan
sebagai pendekatan dalam mencegah dan membatasi serangan HIV adalah melalui pelayanan
Volentary Counselling and Testing atau dikenal dengan singkatan VCT dan Provider Initiated
Test and Counselling (PITC) (WHO, 2007). Kedua program ini mempunyai konteks yang
sama, namun secara peran serta mempunyai perbedaan. VCT memerlukan inisiatif dari klien
untuk memeriksakan diri dan mengikuti rangkaian program HIV/AIDS. Sedangkan PITC
membutuhkan peran aktif provider atau dalam hal ini petugas kesehatan.
Salah satu fungsi PITC adalah untuk mengungkap jumlah penderita HIV/AIDS yang
tidak terdeteksi dilingkungan beresiko. Semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan
PITC, maka akan menambah data mengenai penderita dan penyebaran HIV sehingga
pemerintah dapat segera mempersiapkan langkah intervensi. Keuntungan lainnya, PITC
dapat memutus mata rantai penularan HIV dalam masyarakat (PKBI, 2007).
PITC juga menjadi bagian yang sangat penting dalam program PMTCT. Penawaran tes
HIV pada ibu hamil dilakukan pada saat kunjungan antenatal atau menjelang persalinan
bersama pemeriksaan rutin lainnya. Bila ibu menolak untuk diperiksa dengan tes HIV, maka
ibu hamil tetap akan diberi bantuan dan tata laksana linis sesuai dengan kondisinya dan tetap
dianjurkan untuk pemeriksaan ulang seperti biasa. Pada kunjungan berikutnya ibu hamil akan
diberi penjelasan ulang tentang pentingnya tes HIV dan bila belum yakin, makan akan
diperkenalkan dengan konseling dan tes sukarela (KTS).
Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan III Tahun 2013 menunjukkan jumlah
kumulatif kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat sampai dengan bulan September 2013
sejumlah 9.340 kasus HIV dan 4.131 kasus AIDS. Data yang diperoleh dari Kementerian
Kesehatan RI, 2014, di Provinsi Jawa Barat jumlah ibu hamil yang mengikuti program
PMTCT sejumlah 1.796 ibu hamil pada tahun 2011, 4.381 ibu hamil pada tahun 2012, dan
6.099 orang pada tahun 2013 (sampai dengan bulan Juni).
Menurut data yang diperoleh dari Dinas kesehatan kabupaten Bogor, jumlah kumulatif
penderita HIV/AIDS sampai dengan bulan Desember tahun 2013 sebanyak 690 orang dan
angka ini dapat dikatakan cukup tinggi. Kabupaten bogor merupakan kota tertinggi ke lima di
Jawa Barat untuk kasus HIV/AIDS. Pada tahun 2013, terdapat 56 kasus yang terdiri dari

termasuk kasus pada balita usia 1-4 tahun sebanyak 3 kasus dan paling tinggi pada usia 20-29
tahun sebanyak 34 kasus (Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, 2013).
Peningkatan jumlah kasus HIV pada ibu hamil dan tingginya kasus HIV pada usia
reproduktif ini membuat layanan PITC dirasa sangat penting dan sangat diperlukan untuk
menjangkau lebih banyak ibu hamil untuk dilakukan tes HIV. Namun banyak orang takut
melakukan tes HIV karena berbagai alasan termasuk perlakuan diskriminasi masyarakat dan
keluarga.Karena itu layanan konselingdan tes HIV harus melindungi pasien dengan menjaga
kerahasiaan. Banyak tantangan bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dan melaksanakan
tes HIV pada pasien yang dating ke saran kesehatan mengingat konsekuensi dan dampak
masalah yang terkait dengan hasil tes HIV tersebut bagi pasien maupun petugas (Depkes,
2010).
Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit HIV/AIDS, kesalahpahaman
persepsi tentang bagaimana HIV ditularkan, kurangnya kases terhadap pengobatan dapat
menjadi factor yang memperkuat stigmatisasi selain prasangka serta ketakutan yang
berkaitan dengan sejumlah isu sensitive termasuk seksualitas, penyakit dan kematian, dan
penggunaan narkoba (Whetten, 2008). Didukung dengan teori yang mengatakan bahwa
faktor demografi, struktur social, akses terhadap layanan dan persepsi individu yang
mempengaruhi motivasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HIV/AIDS
2.1.1 Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus golongan RNA yang
spesifik menyerang system imun/kekebalan tubuh manusia. Penurunan system
kekebalan tubuh pada orang yang terinfeksi HIV memudahkan berbagai infeksi,
sehingga dapat menyebabkan timbulnya AIDS. (Kementerian Kesehatan RI, 2014)
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala/tanda
klinis pada pengidap HIV akibat infeksi tumpangan (oportunistik) karena
penurunan system imun.Penderita HIV mudah terinfeksi berbagai penyakit karena
imunitas tubuh yang sangat lemah, sehingga tubuh gagal melawan kuman yang
biasanya tidak menimbulkan penyakit.Infeksi oportunistik ini dapat disebabkan
oleh berbagai virus, jamur, bakteri dan parasit serta dapat menyerang berbagai
organ, antara lain kulit, saluran cerna/usus, paru-paru dan otak. (Kementerian
Kesehatan RI, 2014)
2.1.2 Penularam HIV
Cara penularan HIV melalui alur sebagai berikut
1. Cairan genital : cairan sperma dan cairan vagina pengidap HIV memiliki
jumlah virus yang tinggi dan cukup banyak untuk memungkinkan penularan,
terlebih jika disertai IMS lainnya. Karena itu semua hubungan seksual yang
beresiko dapat menularkan HIV, baik genital, oral maupun anal.
2. Kontaminasi darah atau jaringan: penularan HIV dapat terjadi melalui
kontaminasi darah seperti transfusi darah dan produknya (plasma,trombosit)
dan transplantasi organ yang tercemar virus HIV atau melalui penggunaan
peralatan medis yang tidak steril, seperti suntikan yang tidak aman, misalnya
penggunaa alat suntik bersama pada penasun, tatto dan tindik steril
3. Perinatal : Penularan dari ibu ke janin/bayi penularan ke janin terjadi selama
kehamilan melalui plasenta yang terinfeksi, sedangkan ke bayi melalui darah
atau cairan genital saat persalinan dan melalui ASI pada masa laktasi
2.1.3 Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Risiko penularan HIV dari ibu ke anak tanpa upaya pencegahan atau intervensi
berkisar antar 20-50% (Tabel2.1).Dengan pelayanan pencegahan penularan HIV

dari ibu ke anak yang baik, risiko penularan dapat diturunkan menjadi kurang dari
2%.Pada masa kehamilan, plasenta melindungi janin dari infeksi HIV, namun bila
terjadi peradangan, infeksi atau kerusakan barrier plasenta, HIV bisa menembus
plasenta, sehingga terjadi penularan dari ibu ke anak.Penularan HIV dari ibu ke
anak lebih sering terjadi pada saat persalinan dan masa menyusui.
Tabel 2.1 Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak
Risiko Penularan
Selama kehamilan
Saat persalinan
Selama menyusui (rata-rata 15%)
Risiko penularan keseluruhan

Presentase
5-10%
10-20%
5-20%
20-50%

Sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2014

Ada tiga faktor risiko penularan HIV dari ibu ke anak, yaitu sebagai berikut.
1. Faktor Ibu
a. Kadar HIV dalam darah ibu (viral load) merupakan faktor yang paling
utama terjadinya penularan HIV dari ibu ke anak : semakin tinggi kadarnya,
semakin besar kemungkinan penularannya, khususnya pada saat/menjelang
persalinan dan masa menyusui bayi.
b. Kadar CD4 ibu dengan kadar CD4 yang rendah, khususnya bila jumlah sel
CD4 di bawah 350 sel/mm , menunjukkan daya tahan tubuh yang rendah
karena banyak sel limfosit yang pecah/rusak. Kadar CD4 tidak selalu
berbanding terbalik dengan viral load. Pada fase awal keduanya bias tinggi,
sedangkan pada fase lanjut keduanya bias rendah kalau penderitanya
mendapat terapi anti-retrovirus (ARV).
c. Status gizi selama kehamilan seperti berat badan yang rendah serta
kekurangan zat gizi terutama protein, vitamin dan mineral selama
kehamilanmeningkatkan risiko ibu untuk mengalami penyakit infeksi yang
dapat meningkatkan kadar HIV dalam darah ibu, sehingga menambah risiko
penularan ke bayi.
d. Penyakit infeksi selama kehamilan atau IMS, misalnyasifilis, infeksi organ
reproduksi, malaria dan tuberkulosis berisiko meningkatkan kadar HIV pada
darah ibu, sehingga risiko penularan HIV kepada bayi semakin besar.
e. Masalah pada payudara misalnya puting lecet, mastitis dan acses pada
payudara akan meningkatkan risiko penularan HIV melalui pemberian ASI.

2. Faktor Bayi
a. Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir : bayi premature atau bayi
dengan berat lahir rendah lebih rentan tertular HIV karena system organ dan
kekebalan tubuh belum berkembang baik.
b. Periode pemberian ASI : risiko penularan melalui pemberian ASI bila tanpa
pengobatan berkisar antara 5-20%
c. Adanya luka di mulut bayi : risiko penularan lebih besar ketika bayi diberi
ASI
3. Faktor tindakan obstetrik
Risiko terbesar penularan HIV dari ibu ke anak terjadi pada saat persalinan,
karena tekanan pada plasenta meningkat sehingga bias menyebabkan terjadinya
hubungan antara darah ibu dan darah bayi. Selain itu, bayi terpapar darah dan
lendir ibu di jalan lahir.Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko
penularan HIV dari ibu ke anak selama persalinan adalah sebagai berikut.
a. Jenis persalinan. Risiko penularan pada persalinan per vaginam lebih besar
daripada persalinan seksio sesaria, namun seksio sesaria memberikan
banyak risiko lainnya untuk ibu.
b. Lama persalinan. Semakin lama proses persalinan, risiko penularan HIV
dari ibu ke anak juga semakin tinggi, karena kontak antara bayi dengan
darah/lendir ibu semakin lama
c. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan meningkatkan
risiko penularan hingga dua kali dibandingkan jika ketuban pecah kurang
dari empat jam.
d. Tindakan episiotomy, ekstraksi vakum dan forsep meningkatkan risiko
penularan HIV
Tabel 2.2 Faktor Risiko Penularan HIV dari ibu ke Bayi
Faktor Ibu
1. Kadar HIV/viral
load dalam darah
2. Kadar CD4
3. Status gizi
selama
kehamilan
4. Penyakit infeksi
selama
kehamilan

Faktor Bayi
1. Prematuritas dan
berat lahir rendah
2. Lama menyusu,
bila tanpa
pengobatan
3. Luka pada mulut
bayi, jika bayi
menyusu

Faktor Obstetrik
1. Jenis persalinan
2. Lama persalinan
3. Ketuban pecah
dini
4. Tindakan
episiotomi,
ekstraksi vakum
dan forsep

5. Masalah
payudara, jika
menyusui

2.1.4 Perjalanan Alamiah dan Stadium Infeksi


Di dalam Pedoman Pelaksanaan Pencegahan Penularan HIV dan Sifilis dari Ibu
ke Anak (Kementerian Kesehatan RI, 2014), terdapat tiga fase perjalanan alamiah
infeksi HIV (Bagan 1) sebagai berikut.:
Fase I: masa jendela (window period) tubuh sudah terinfeksi HIV, namun pada
pemeriksaan darahnya masih belum ditemukan antibody anti-HIV. Pada masa
jendela yang biasanya berlangsung sekitar dua minggu sampai tiga bulan sejak
infeksi awal ini, penderita sangat mudah menularkan HIV kepada orang lain.
Sekitar 30-50% orang mengalami gejala infeksi akut berupa demam, nyeri
tenggorokan, pembesaran kelenjar getah bening, ruam kulit, nyeri sendi, sakit
kepala, bias disertai batuk seperti gejala flu pada umumnya yang akan mereda dan
sembuh dengan atau tanpa pengobatan. Fase flu-like syndromeini terjadi akibat
serokonversi dalam darah, saat replikasi virus terjadi sangat hebat pada infeksi
primer HIV.
Fase II: masa laten yang bisa tanpa gejala/tanda (asimtomatik) hingga gejala
ringan. Tes darah terhadap HIV menunjukkan hasil yang positif, walaupun gejala
penyakit belum timbul. Pada fase ini penderita tetap dapat menularkan HIV kepada
orang lain. Masa tanpa gejala rata-rata berlangsung selama 2-3 tahun, sedangkan
masa dengan gejala ringan dapat berlangsung selama 5-8 tahun, ditandai oleh
berbagai radang kulit seperti ketombe, folikulitis yang hilang-timbul walaupun
diobati.
Fase III: masa AIDS merupakan fase terminal infeksi HIV dengan kekebalan tubuh
yang telah menurun drastis sehingga mengakibatkan timbulnya berbagai infeksi
oportunistik, berupa peradangan berbagai mukosa, misalnya infeksi jamur di mulut,
kerongkongan dan paru-paru. Infeksi TB banyak ditemukan di paru-paru dan organ
lain di luar paru-paru. Sering ditemukan diare kronis dan penurunan berat badan
sampai lebih dari 10% dari berat awal.

Gambar 2.1 menunjukkan: i) FaseI, viral load(HIV dalam darah) sangat tinggi
sehingga penderita sangat infeksius, limfosit T CD4 menurun tajam saat viral
loadmencapai pncak; ii) Fase II dengan viral loadmenurun dan relatif stabil, namun
limfosit T CD4 berangsur-angsur menurun; dan iii) Fase III dengan viral load
makin tinggi dan limfosit T CD4 mendekati nol sehingga terjadi gejala
berkurangnya daya tahan tubuh yang progresif diikuri dengan timbulnya penyakit,
misalnya tuberculosis (TB), herpes zoster (HSV), oral hairy cell leukoplakia
(OHL), oral candidiasis (OC), Pneumocystic carinii pneumonia (PCP),
cytomegalovirus (CMV), popular pruritic eruption (PPE) dan Mycobacterium
avium (MAC)

Stadium klinis infeksi HIV menurut WHO


World Health Organization (WHO) menyatakan stadium klinis infeksi HIV yang
dapat digunakan untuk memandu tatalaksana penderita HIV (rapid test HIV)
dengan metoda tiga reagen secara serial (strategi tiga serial) menunjukkan hasil
reaktif.Stadium klinis ini berguna untuk memandu tatalaksana penderita HIV secara
komprehensif dan berkesinambungan (lihat Tabel 2.3).
Tabel 2.3 Stadium klinis infeksi HIV menurut WHO
Berat
Bada

Stadium I
Asimptomatik
Tidak ada
Penurunan berat

n
Gejal

badan (BB)
Tidak ada gejala atau Luka di sekitar bibir

hanya :
Limfadenopati
generalisata
persisten

Stadium 2
Sakit ringan
Penurunan BB 5-10%

Stadium 3
Sakit sedang
Penurunan BB > 10%

Stadium 4
Sakit berat (AIDS)
Sindroma wasting HIV

Kandidiasis oral atau Kandidiasis esophageal


Herpes simpleks
( keilitis angularis)
vaginal
Ruam kulit yang gatal Oral hairy
ulseratif lebih dari
(seboroik atau
prurigo)
Herpes zoster dalam 5

leukoplakia
Diare, demam yang
tidak diketahui

satu bulan
Limfoma
Sarkoma kaposi

10
tahun terakhir
ISPA berulang,
misalnya sinusitis
atau otitis
Ulkus mulut berulang

penyebabnya
lebih dari satu

Kanker serviks invasif


Retinitis

cytomegalovirus
bulan
Infeksi bakterial yang Pneumonia pnemosistis
TB ekstra-paru
berat (pneumoni,
Abses otak
piomiositis, dll)
toksoplasmosis
TB paru dalam satu

Meningitis
tahun terakhir
kriptokokus
TB limfadenopati
Encefalopati HIV
Gingivitis/periodontit
Gangguan fungsi
is ulseratif
neurologis dan tidak
nekrotika akut
oleh penyebab lain,
sering kali membaik
dengan ART

Sumber: Pedoman Pelaksanaan PPIA dan Sifilis kementerian Kesehatan RI, 2013

2.2 PMTCT
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi menurut Kementerian Kesehatan RI, 2013.
1. Penyebarluasan komunikasi, informasi, dan edukasi tentang pencegahan infeksi HIV
2. Tes HIV dan konseling (Provider Initiated Testing and Counselling PITC) TIPK
(Tes Inisiatif Petugas Kesehatan) adalah tes HIV atas inisiatif pemberi pelanan
kesehatan dan konseling kepada pasien untuk kepentingan kesehatan dan
pengobatannya. TIPK dianjurkan sebagai bagian dari standar pelayanan pada
fasyankes. TIPK dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip 3C (confidential,
consent dan counseling); dan 2R (recording-reporting dan referral).
Penawaran tes HIV dan sifilis pada ibu hamil dilakukan pada saat kunjungan
antenatal atau menjelang persalinan bersama pemeriksaan rutin lainnya. Bila ibu
menolak untuk diperiksa dengan tes HIV dan sifilis, maka ia diminta untuk
menyatakan ketidak-setujuannya secara tertulis. Apa pun pilihannya, ibu hamil tetap
diberikan bantuan dan tatalaksana klinis sesuai dengan kondisinya dan tetap
dianjurkan untuk pemeriksaan ulang seperti biasa. Pada kunjungan berikutnya, ibu
hamil diberi penjelasan ulang tentang pentingnya tes HIV dan sifilis demi
keselamatan diri dan bayinya, terutama di daerah epidemi tinggi dan terkonsentrasi
HIV-AIDS. Bila ibu hamil tersebut belum bisa diyakinkan, maka ia dapat dirujuk
untuk mengikuti konseling yang lebih intensif pada layanan konseling dan tes
sukarela (KTS), bila ada.

11

Langkah-langkah TIPK (Tes Inisiatif Petugas Kesehatan) atau PITC :


a. Pemberian informasi sebelum tes
Sebelum melakukan pemeriksaan laboratorium pada layanan antenatal terpadu,
termasuk tes HIV dan sifilis, petugas kesehatan wajib memberikan informasi yang
meliputi hal-hal berikut.
- Risiko penularan penyakit-penyakit tertentu, seperti TBC, malaria, hepatitis
HIV dan sifilis, dari ibu kepada bayinya selama kehamilan, saat persalinan
-

dan masa menyusui


Keuntungan diagnosis dini penyakit-penyakit tersebut atau penyakit lainnya
seperti hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal pada kehamilan bagi ibu

dan bayi yang akan dilahirkan.


Layanan yang tersedia dan pengobatan bagi pasien yang hasil tesnya positif.
Informasi bahwa hasil tes akan diperlakukan secara konfidensial; dan tidak
akan diungkapkan tanpa seijin pasien kepada orang lain selain petugas

kesehatan yang terkait langsung dengan perawatan pasien.


Pasien mempunyai hak untuk menolak menjalani tes laboratorium rutin. Tes
akan dilakukan sesuai dengan standar prosedur yang berlaku, kecuali pasien
menggunakan hak tolaknya tersebut. Bila menolak, pasien perlu membuat

pernyataan tertulis
Penolakan untuk

mempengaruhi layanan selanjutnya bagi klien/ibu hamil.


Kesempatan diberikan kepada pasien untuk mengajukan pertanyaan kepada

menjalani

pemeriksaan

laboratorium,

tidak

akan

petugas kesehatan
b. Pengambilan darah dan tes HIV
Diagnosis HIV yang asimtomatik menggunakan strategi tiga serial untuk
daerah dengan prevalensi HIV di bawah 10%. Tiga reagen yang berbeda
sensitivitas, spesifisitas dan preparasi antigennya digunakan secara serial, sesuai
dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 241/2006 tentang Standar
Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik.
Pengambilan darah untuk tes HIV dilakukan sekaligus untuk tes lainnya
dilakukan oleh tenaga medis dan/atau teknisi laboratorium yang terlatih. Bila tidak
ada tenaga medis dan/atau teknisi laboratorium maka tenaga kesehatan lain (bidan
atau perawat terlatih) dapat melakukannya. Cara pengambilan darah seperti biasa,
mengikuti prosuder standar.

12

Tes

diagnostic

HIV

dapat

dilakukan

secara

serologis

dan

virologis.Pemeriksaan serologis dilakukan dengan metode rapid diagnostic test


(RDT) atau Enzyme Immuno Assay (EIA) yang menggunakan antibody atau fraksi
protein.Pemeriksaan virus menggunakan metode PCR (polymerase chain
reaction).
c. Penyampaian hasil tes HIV
Petugas kesehatan perlu mengetahui hasil tes lebih dahulu sebelum
disampaikan kepada ibu hamil. Kesesuaian nama pasien perlu diperiksa,
kemudian semua hasil pemeriksaan disampaikan, di samping hasil tes HIV.
Maksud dari nilai hasil pemeriksaan dijelaskan, demikian pula tatalaksana yang
akan dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan tersebut. Hasil pemeriksaan
dicatat dalam rekam medis, sedangkan formulir hasil pemeriksaan dapat diberikan
kepada pasien, sebagai haknya.Jika pasien menghendaki, formulir hasil
pemeriksaan tersebut dapat disimpan di fasyankes sebagai lampiran rekam medis
pasien.
Pasien perlu diberi kesempatan bertanya tentang hasil pemeriksaan dan
tatalaksana yang hendak dilakukan.Konseling diberikan setelah pasien/ibu hamil
memahami hasil tes dan tatalaksana yang hendak dilakukan.Bila ada keraguan,
pasien dirujuk.
d. Konseling
Konseling wajib diberikan pada setiap pasien/ibu hamil yang telah diperiksa
spesimen darahnya untuk tes HIV dan sifilis.Konseling harus dilakukan secara
tatap muka individual.
3. Pencegahan Kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV
Pada prinsipnya setiap perempuan perlu merencanakan kehamilannya, namun
pada perempuan dengan HIV perencanaan kehamilan harus dilakukan dengan lebih
hati-hati dan matang karena adanya risiko penularan HIV kepada bayinya.
Kegiatan yang dilakukan meliputi:
a. Pencegahan dan penundaan kehamilan pada ibu dengan HIV
Penggunaan kontrasepsi harus segera dibicarakan dengan setiap perempuan
dengan HIV setelah diagnosisnya ditegakkan
b. Perencanaan kehamilan

13

Bila perempuan dengan HIV dan pasangannya memutuskan ingin punya anak,
maka kehamilan perlu direncanakan dengan matang.Persyaratan mencakup aspek
medis dan aspek social sebagai berikut.
Aspek medis meliputi hal-hal sebagai berikut :
- Viral load tidak terdeteksi: bila viral loadsudah terdeteksi, maka kemungkinan
penularan HIV dari ibu ke bayi rendah.
Kadar CD4 lebih dari 350 sel/mm 3: kadar CD4 yang tinggi merupakan tanda

bahwa kekebalan tubuh ibu cukup baik dan layak untuk hamil. Dengan kadar
CD4 kurang dari 350 sel/mm3 maka ibu akan rentan terhadap infeksi sekunder
yang akan membahayakan ibu dan janin di masa kehamilannya.
Aspek sosial mencakup hal-hal di bawah ini :
- Perencanaan kehamilan oleh pasangan: kedua belah pihak (laki-laki dan
perempuan) benar-benar memahami risiko dan konsekuensi kehamilan,
-

persalinan dan aspek pengasuhan anak.


Kesepakatan/persetujuan dari keluarga: untuk menghindari penelantaran
pengasuhan anak di kemudian hari akibat keterbatasan orang tua yang
menderita HIV, perlu dipertimbangkan adanya persetujuan keluarga agar
bersedia mengasuh anak tersebut apabila terjadi kendala pada orang tuanya.

Persiapan perempuan dengan HIV yang ingin hamil seperti berikut :


-

Pemeriksaan kadar CD4 dan viral load, untuk mengetahui apakah sudah layak

untuk hamil
Bila VL tidak terdeteksi atau kadar CD$ lebih dari 350 sel/mm3, senggama

tanpa kontrasepsi dapat dilakukan, terutama pada masa subur.


Bila kadar CD4 masih kurang dari 350 sel/mm3, minum ARV secara teratur
dan disiplin minimal selama enam bulan dan tetap menggunakan kondom
selam senggama.

Persiapan pasangan dari perempuan dengan HIV yang ingin hamil :


-

Bila dipastikan serologis HIV non-reaktif (negatif), maka kapanpun boleh


senggama tanpa kondom, setelah pihak perempuan dipastikan layak untuk

hamil.
Apabila serologis reaktif (positif), perlu dilakukan pemeriksaan viral load,
untuk mengetahui risiko penularan.

14

Apabila VL tidak terdeteksi senggama tanpa kontrasepsi dapat dilakukan pada

masa subur pasangan.


Apabila VL masih terdeteksi atau kadar CD4 kurang dari 350 sel/mm 3, maka

sebaiknya rencana kehamilan ditunda dulu.


4. Pemberian ARV pada ibu hamil dengan infeksi HIV
Merujuk pada pedoman muktahir, semua ibu hamil dengan HIV diberi terapi ARV,
tanpa harus memeriksakan jumlah CD4 dan viral loadterlebih dahulu, karena
kehamilan itu sendiri merupakan indikasi pemberian ARV yang dilanjutkan seumur
hidup (lihat gambar 2.2). pemeriksaan CD4 dilakukan untuk memantau pengobatan
bukan sebagai acuan untuk memulai terapi.
Untuk memulai terapi ARV perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:
- Persiapan klien secara fisik/mental untuk menjalani terapi melalui edukasi pra-

pemberian ARV;
Bila terdapat infeksi oportunistik, maka infeksi tersebut perlu diobati terlebih
dahulu. Terapi ARV baru bias diberikan setelah infeksi oportunistik diobati dan
stabil (kira-kira setelah dua minggu sampai dua bulan pengobatan). Terapi ARV
dapat dimulai dengan pemberian kotrimoksazol untuk melihat kepatuhan dan

mengobati infeksi oportunistik yang ada;


Pada ibu hamil dengan tuberculosis: OAT selalu diberikan mendahului ARV
sampai kondisi pasien memungkinkan (kira-kira dua minggu sampai dua bulan)
dengan fungsi hati baik untuk memulai terapi ARV.
Pada awalpengobatan, klien yang tidak mendapat kotrimoksazol profilaksis, perlu

kontrol lebih sering (satu minggu, kemudian dua minggu, dan seterusnya) sebagai
cara pemantauan efek samping dan kepatuhan klien. Dengan demikian, jumlah ARV
yang diberikan mengikuti jadwal kunjungan.
5. Perencanaan persalinan aman bagi ibu dengan HIV
Tujuan persalinan aman bagi ibu dengan HIV adalah menurunkan risiko
penularan HIV dari ibu ke bayi, serta risiko terhadap ibu, tim penolong (medis/nonmedis) dan pasien lainnya. Persalinan melalui bedah sesar beresiko lebih kecil untuk
penularan terhadap bayi, namun menambah risiko lainnya untuk ibu.Risiko
penularan pada persalinan per vaginam dapat diperkecil dan cukup aman bila ibu
mendapat pengobatan ARV selama setidaknya enam bulan dan/atau viral loadkurang
dari 1000 kopi/mm3 pada minggu ke-36.
Hal-hal berikut perlu diperhatikan dalam memberikan pertolongan persalinan yang
optimal pada ibu dengan HIV.

15

Pelaksanaan persalinan, baik melalui seksio sesarea maupun pervaginam, perlu

memperhatikan kondisi fisik ibu dan indikasi obstetirk.


Ibu hamil dengan HIV harus mendapatkan informasi sehubungan dengan

keputusannya untuk menjalani per vaginam ataupun melalui seksio sesarea


Tindakan menolong persalinan ibu dengan HIV, baik per vaginam maupun seksio
sesarea harus memperhatikan kewaspadaan umum yang berlaku untuk semua
persalinan.

Perawatan nifas bagi ibu dengan HIV pada dasarnya sama dengan perawatan nifas
pada ibu nifas normal. Terdapat beberapa hal berikut yang perlu diperhatikan :
-

Bagi ibu yang memilih tidak menyusui dapat dilakukan penghentian produksi ASI
Pengobatan, perawatan dan dukungan secara berkelanjutan diberikan disamping
tatalaksana infeksi oportunistik terhadap pengidap HIV/AIDS dan dukungan

edukasi nutrisi.
Pelayanan kontrasepsi pasca persalinan diutamakan agar tidak terjadi kehamilan

yang terencana dan membahayakan ibu dan janin yang dikandungnya.


Edukasi kepada ibu tentang cara membuang bahan yang berpotensi menimbulkan
infeksi, seperti lokia dan pembalut yang penuh dengan darah.

6. Pemberian ARV dan kotrimoksasol profilaksis pada bayi


Pemberian ARV pada bayi mengikuti Pedoman HIV pada Anak (2013). Sejak
ARV dimulai, diperlukan kepatuhan terhadap aturan pemberian obat setiap hari,
karena ketidakpatuhan merupakan penyebab utama kegagalan pengobatan.Persiapan
amat penting dilakukan sebelum memulai pemberian ARV, yaitu persiapan pengasuh
bayi dan faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Semua bayi lahir dari
ibu dengan HIV, baik yang diberi ASI eksklusif maupun susu formula, harus diberi
zidovudin sejak hari pertama (umur 12 jam), selama enam minggu.
7. Diagnosis HIV pada bayi
Mulai kehamilan trimester ketiga, antibody dari ibu termasuk antibody terhadap
HIV ditransfer secara pasif kepada janin, dan dapat terdeteksi sampai anak berusia 18
bulan.Oleh karena itu, pemeriksaan serologis HIV pada anak kurang dari 18 bulan
dapat menunjukkan hasil reaktif, walaupun anak tersebut tidak terinfeksi
HIV.Diagnosis HIV pada bayi dan anak dapat menggunakan uji virology dan seologi.
8. Pelayanan imunisasi

16

9. Pemberian nutrisi bagi bayi dari ibu dengan HIV


Jika bayi telah diketahui HIV positif i) ibu sangat dianjurkan untuk memberikan
ASI eksklusif sampai bayi berumur enam bulan, ii) mulai usia enam bulan, bayi
diberikan makanan pendamping ASI dan ASI tetap dilanjutkan sampai anak berumur
dua tahun.