Anda di halaman 1dari 7

1.

Wahid , umur 25 tahun, mengeluh tenggorokan terasa sakit sekali, tidak bisa menelan makanan
dan minuman, sejak 3 hari yang lalu. Gejala tersebut disertai batuk dan demam tinggi sejak 5 hari
yang lalu.
a. Bagaimana Anatomi dan fisiologi tenggorokan ?( adri vidro chika )
b. Bagaimana Histologi tenggorokan ?( rini siska vera )
c. Apa penyebab dan mekanisme sakit tenggorokan ?( vera friska adri )
Jawab :
Bakteri dan virus masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas infeksi pada
hidung atau faring menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen
pada tonsil terjadi proses inflamasi dan infeksi kemerahan dan edema pada faring serta
ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil menyebabkan timbulnya sakit
tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan
menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil.
Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan
infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga
dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna
putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan,
demam tinggi bau mulut serta otalgia.

d. Apa penyebab dan mekanisme susah menelan ? (chika adri rini )


Jawab :
Bakteri dan virus masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas infeksi pada
hidung atau faring menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen

pada tonsil terjadi proses inflamasi dan infeksi kemerahan dan edema pada faring serta
ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil menyebabkan timbulnya sakit
tenggorokannyeri telan

e. Apa penyebab dan mekanisme batuk pada kasus ini ?(dewi rini siska )
f. Apa penyebab dan mekanisme demam pada kasus ini ?( berly vera ranty )
Jawab :
(faktor pencetus) aktifasi respon imun seluler inflamasi pelepasan mediator
inflamasi (misal : sitokinin) pelepasan asam arakidonat sekresi asam arakidonat
sekresi prostaglandin E2 set-point termolegulator terganggu suhu tubuh demam

g. Bagaimana hubungan dari sakit tenggorokan susah menelan dan batuk disertai demam
pada kasus ini ?( vidro chika friska )
Jawab :
2. Selama 1 tahun terakhir, wahid sering menderita sakit tenggoroan disertai batuk dan demam
yang membaik etelah berobat ke puskesmas.
a. Apakah ada hubungan keluhan Wahid 1 tahun yang lalu dengan keluhan sekarang ? jelaskan !
( siska dewi berli )
b. Faktor apasaja yang mempengaruhi sakit tengorokan yang berulang ?(ranty berl vidro )
c. Hubungan antara pengobatan dan kebiasaan dengan keluhan sejak 1 tahun terakhir ?(adri vidro
dewi )
3. Istrinya mengeluhkan bahwa Wahid mengorok saat tidur. Wahid sangat suka makan buah
mangga dan nangka mua serta minum es.
a. Apa penyebab dan mekanisme mengorok ?( friska ranty chika)
b. Apa hubungan sakit tenggorkan dengan mengorok ?( rini siska vera )
c. Apa hubungan makan buanh mangga , nangka muda serta minum es dengan sakit

tenggorokan?( vera friska adri )


d. Bagaimana pandangan islam tentang makanan ? ( chika adri rini )
4. Bagaimana interpretasi dan mekanisme dari :
a. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, compos mentis ( dewi rini berli )
b. Vital Sign : T : 39,10C, N : 112 x/menit reguler, ( vidro vera friska )
c. Pemeriksaan Leher : teraba pembesaran kelenjar submandibular sebelah kanan. ( adri chika
siska )
5. Bagaimana interpretasi dan mekanisme dari Status THT
a. Telinga : membrana timpani utuh, refleks cahaya +/+( berli dewi ranty )
b. Hidung : cavum nasi = lapang, mukosa normal, massa -/- ( ranti berli vidro )
c. Tenggorokan : faring kemerahan, lateral band, dan granula membesar
Tonsil T3/T2, detritus +/+, kripta melebar, tampak tonsil sebelah kanan lebih besar dari
sebelah kiri dan palatum molle sebelah kanan edema.( friska vidro dewi )
Jawab :
1. Faring kemerahan
2. Lateral band
3. Granula membesar
4. Tonsil T3/T2
Jawab :
Pembesaran tonsil diukur menurut derajatnya terhadap uvula. Semakin besar, akan
semakin mendekati uvula. Besar tonsil ditentukan sebagai berikut:
T0 : tonsil di dalm fosa tonsil atau telah diangkat
T1 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula
T2 : bila besarnya 2/4 jarak arkus anterior dan uvula
T3 : bila besarnya jarak arkus anterior dan uvula
T4 : bila besarnya mencapai arkus anterior atau lebih
Gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi :

T0 : Tonsil masuk di dalam fossa

T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume


orofaring

T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :


T0 : bila sudah dioperasi
T1 : ukuran yang normal ada
T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
T3 : pembesaran mencapai garis tengah
T4 : pembesaran melewati garis tengah
5. Detritus +/+
Jawab :
Menunjukkan adanya bercak putih yang mengisi kripta tonsil yang terdiri dari
leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan, dan sisa-sisa makanan yang
tersangkut.
6. Kripta melebar
Jawab :
Menunjukkan saat folikel mengalami peradangan, tonsil akan membengkak dan
membentuk eksudat yang akan mengalir ke canal lalu mengisi kripta. Karena terjadi
penumpukan eksudat di kripta, maka sebagai kompensasi, kripta melebar.
7. Tonsil sebelah kanan lebih besar dari sebelah kiri
8. Palatum molle sebelah kanan edema
Apabila gejala ini dikaitakan
6. Gangguan apa yang mungkin terjadi ?( siska friska chika )
Jawab :
7. Gangguan apa yang paling mungkin terjadi ? ( adri ranti rini )

8. Data apa yang dibutuhkan untuk memastikan ?( rini adri vra )


9. Bagaimana mengatasi secara komprehensif ?( vera rini adri )

10. Apa yang terjadi bila tak ditangani secara komprehensif ?( chika vera friska )
Jawab :

Otitis media

11. Apakah perlu tindakan invasif untuk menatalaksana tindakan ini ?( dewi chika siska )

12. Apakah ganguan ini bida diatasi secara tuntas ?( berli dewi ranty )
Jawab :
Prognosis tonsilofaringitis kronis ini basanya baik jika causanya dikoreksi dan daya tahan
tubuh pasien baik serta menghindari faktor-faktor predisposisi, yaitu :

Rangsangan kronis rokok,

Makanan tertentu,

Higiene mulut yang buruk,

Pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat,

Pengaruh cuaca dan

Pengobatan tonsilofaringitis sebelumnya yang tidak adekuat.

13. Bagaimana kompetensi dokter umum nya ?( ranti berli vidro )


Jawab :

Tingkat kompetensi 4 : Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter
(misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat
memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas.

Apa itu ngorok? Apa bedanya dengan sleep apnea obstruktif (SAO)?
Ngorok atau istilah medisnya snoring adalah bunyi napas yang timbul saat tidur. Sedangkan SAO
adalah henti napas saat tidur (sleep apnea) yang dapat mempengaruhi kualitas hidup dan
berpotensi membahayakan jiwa. SAO lebih sebagai suatu sindroma di mana apnea timbul dalam
beberapa periode. Apnea sendiri adalah terhentinya proses bernapas seseorang secara
sementara dan intermiten selama 10 detik/lebih setiap periodenya. SAO timbul karena saluran
napas bagian atas menyempit (oklusi) saat tidur menghasilkan beberapa episode apnea.
Akibat dari apnea, penderita sering terbangun mendadak, namun tertidur lagi saat napas kembali
normal, selanjutnya kejadian yang sama terjadi berulang-ulang.
Siapa saja yang mengorok?
Pada usia 30 tahun, 20% pria dan 5% wanita mengorok. Kemudian meningkat hingga 60% dan
40% pada usia 40 tahun. Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya usia, mukosa palatum
(langit2) orofaring, dan hipofaring menjadi kurang elastik dan mudah kolaps sewaktu menghirup
udara (inspirasi). mengorok juga 3 kali lebih sering terjadi pada obesitas.
Obesitas sering menyebabkan ngorok dan henti napas selama tidur karena berat leher,
meningkatnya lemak di rongga parafaringeal yang mempersempit faring/tenggorok, langit-langit

yang menebal, dan dasar lidah yang memadat. Ngorok dan henti napas (sleep apnea) dapat
muncul seiring, meski tidak benar2 pada saat yang bersamaan. Hampir sebagian besar orang
yang sleep apnea mengorok, namun orang yang mengorok belum tentu mengalami sleep apnea.
Sehingga kebiasaan mengorok pada seseorang tidak dapat dijadikan landasan dalam memutskan
apakah seseorang sleep apnea atau tidak.