Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016

PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI


MODUL

: Reverse Osmosis

PEMBIMBING

: Ir. Herawati Budiastuti M.Eng.Sc, Ph.D

Praktikum : 19 Oktober 2015


Penyerahan: 26 Oktober 2015
(Laporan)
Oleh :
Kelompok

: II

Nama

: 1. Rizwan Firzatulloh

131411049

2. Sidna Kosim Amrulah

131411052

3. Wina Septiyanti

131411056

4. Rahmi Harlen F
131411060
Kelas

: 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang
1.2 Tujuan Praktikum
a. memahami proses pemisahan kation dalam air baku dengan sistem reverse osmosis
b. mengukur dan menganalisis nilai TDS, DHL, pH terhadap waktu
c. menghitung persen zat terlatur yang ditolak (%reject)

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Reverse Osmosis
Proses osmosis adalah perpindahan massa pelarut (solvent) melalui pori dalam filter
atau membran semi permiabel, sedangkan reverse osmosis (RO) adalah perpindahan
massa larutan (solution) melalui pori filter / membran dengan memakai driving force
berupa tekanan. Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri
tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Membran seleksi
itu harus bersifat selektif yang berarti bisa dilewati pelarut tapi tidak bisa dilewati zat
terlarut seperti molekul berukuran besar.Membran reverse osmosis merupakan alternatif
untuk memperoleh air minum yang bersih dan memiliki kandungan oksigen yang cukup
tinggi. Hal ini dikarenakan reverse osmosis memiliki pori-pori yang sangat kecil sehingga
dapat menghambat khlorin, bakteri, dan endapan dimana hanya air yang dapat lolos dari
membran.
2.2 Membran Reverse Osmosis
Material membran reverse osmosis yang digunakan umumnya bersifat hidrofilik,
mempunyai permeabilitas yang tinggi terhadap air, dan kelarutan yang sangat rendah
terhadap zat terlarut. Membran reverse osmosis terbuat dari bahan polimer permeator.
Material yang digunakan antara lain dari golongan ester selulosa seperti selulosa diasetat
dan selulosa triasetat, tetapi material ini tidak tahan terhadap zat kimia, bakteri, dan suhu
yang ekstrim. Material lainnya adalah poliamida. Poliamida memiliki selektivitas yang
tinggi terhadap garam tetapi material ini kurang begitu tahan terhadap klorin. Membran
reverse osmosis memiliki ukuran pori persepuluh ribu mikron dan dapat menghilangkan
zat organik, bakteri, pirogen, juga koloid yang tertahan oleh struktur pori yang berfungsi
sebagai penyaring.Membran reverse osmosis tidak membunuh mikroorganisme
melainkan hanya menghambat dan membuangnya. Konfigurasi modul membran RO
umumnya adalah spiral wound. Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan pemakaian
konfigurasi modul ini antara lain tekanan operasi, kemudahan pencucian, kemudahan
pemeliharaan, kemudahan pengoperasian, dan kemungkinan penggantian membran.
Modul spiral wound terdiri dari beberapa membran seperti membran datar, spacer, dan
material berpori yang dililitkan mengelilingi suatu saluran pengumpul permeat (permeate

collecting tube). Larutan umpan mengalir aksial sepanjang modul dalam celah yang
terbentuk antara spacer dan membran atau masuk pada permukaan silindris dari elemen
dan keluar secara aksial seperti gambar.

Gambar 2.1. Modul membrane


spiral wound

Membran reverse osmosis dapat mengalami perubahan karena terjadi


penyumbatan dimana penyumbatan diakibatkan oleh zat padat yang terlarut dalam
air. Membran yang mengalami penyumbatan ditandai oleh tingginya aliran yang
masuk dan meningkatnya tekanan. Penyumbatan dapat terjadi karena adanya kerak
(scale) pada membran, pengendapan oksida logam, atau penyumbatan koloid.
Faktor faktor yang mempengaruhi kinerja membran sebagai berikut:
a. Laju umpan
Laju permeat meningkat dengan semakin tingginya laju alir umpan. Selain
itu laju alir yang besar juga akan mencegah terjadinya fouling pada membran.
Namun energi yang dibutuhkan untuk mengalirkan umpan akan semakin besar.
b. Tekanan operasi
Laju permeat secara lansung sebanding dengan tekanan operasi yang
digunakan terhadap permukaan membran. Semakin tinggi tekanan operasi, maka
permeat juga akan semakin tinggi
c. Temperatur operasi
Laju permeat akan meningkat seiring dengan peningkatan temperatur.
Namun temperatur bukanlah variabel yang dikontrol. Hal ini perlu diketahui untuk
dapat mencegah terjadinya penurunan fluks yang dihasilkan karena penurunan
temperatur operasi.

2.3 Proses Reverse Osmosis


Pada proses reverse osmosis terdapat dua jenis larutan yang berbeda diletakkan secara
berdampingan dan diantara kedua jenis larutan itu diletakan membrane semi permeable
sebagai pembatas. Pada wadah sebelah kiri disebut concentrated solution, yaitu larutan
dengan kadar garam tinggi. Sedangkan pada wadah sebelah kanan disebut dilute solution,
yaitu larutan dengan kadar garam rendah. Fungsi membran semi permeable diletakkan
ditengah kedua larutan tersebut untuk mencegah terjadinya percampuran diantara kedua
larutan tersebut. Membrane semi permeable adalah membrane yang bisa dilewati oleh
molekul air tetapi tidak bisa dilewati molekul garam. Prinsip reverse osmosis adalah
pemberian tekanan pada concentrated solution sehingga molekul air yang terkandung
dalam concentrated solution dapat mengalir ke dilute solution dimana molekul garam
tidak dapat menembus membran.

Gambar 2.2.Perbedaan Proses


Osmosis dan Reverse Osmosis

Hasil dari reverse osmosis adalah air yang tidak mengandung ion (kation) dengan
kadar zat terlarut (TDS) atau daya hantar listrik (DHL) yang relatif sangat
rendah.Membrane reverse osmosis dipengaruhi dua hal yaitu permeabilitas
permukaan membran dan efektivitas pori membran. Proses reverse osmosis juga
disebabkan oleh flux air (aliran air atau debit air) dan konsentrasi zat terlarut.

Konsentrasi zat terlarut (TDS) dipengaruhi oleh debit dan tekanan sehingga bila
tekanan bertambah maka akan mempercepat laju alir tetapi bila laju alir ditetapkan
maka konsentrasi zat padat terlarut akan naik. Bila tekanan bertambah dan laju alir
tetap sedangkan konsentrasi zat padat terlarut turun maka disebabkan oleh membran
baru yang memiliki daya serap cukup bagus dan kualitas air yang dihasilkan
meningkat. Sebaliknya, bila laju alir ditetapkan dan tekanan bertambah sedangkan
konsentrasi zat padat terlarut naik maka terjadi penyumbatan pada membran.Untuk
mementukan keberhasilan proses, tekanan operasi (P) umumnya antara 2-80 bar.
Tekanan semakin besar, maka proses pemisahan semakin baik sehingga dihasilkan air
(H2O) semakin murni (kadar garam atau zat terlarut semakin kecil).
Faktor- faktor yang mempengaruhi proses reverse osmosis:
a) Kepadatan /kerapatan membran, semakin rapat membran maka akan semakin baik air
olahan yang dihasilkan
b) Fluks, gerakan air yang terus menerus
c) Tekanan
Tekanan mempengaruhi laju alir bahan pelarut yang melalui membran. Laju alir
permeat akan semakin meningkat dengan meningkatnya tekanan dan mutu air hasil
olahan (permeat) juga akan semakin meningkat (Heitmann, 1990).
d) Recovery factor
Dalam pengolahan air payau, semakin tinggi faktor perolehan maka akan
semakin baik konsentrasi garam yang didapat dari pengolahan air payau.
e) Ketahan membran. Membran hanya dapat bertahan sebentar apabila terlalu banyak
komponen komponen yang tidak diinginkan ikut masuk di dalam air umpan.
f) Pembersihan (cleaning)
Pembersihan pada membran tergantung dari jenis membran yang digunakan
dan proses penggunaannya.

2.4 Aplikasi Reverse Osmosis di Industri


Beberapa aplikasi penggunaan reverse osmosis dalam industri antara lain :
a. Desalinasi air payau
b. Demineralisasi untuk air umpan boiler
c. Pemisahan protein dan whey
d. Treatment khusus untuk industri kimia, makanan, tekstil, kertas dan lainnya

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Reverse Osmosis


Kelebihan Reverse Osmosis
1. Proses yang tergolong rendah
2. Biaya instalasi rendah
3. Dapat digunakan untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan organik atau
inorganic
4. Tidak menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan
Kekurangan Reverse Osmosis
1. Air umpan harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu untuk menghilangkan
partikula-partikulat
2. Operasi reverse osmosi memerlukan biaya yang tinggi baik dari segi material
maupun alat
Untuk menentukan efisiensi pemisahan maka dapat dilakukan dengan cara
menentukan rejection (R), yang menyatakan hubungan antara konsentrasi atau kadar
garam dialiran influen dan efluen. Rumusnya sebagai berikut :
R=

CmCp
x 100
Cm

Keterangan :
Cm = Konsentrasi zat terlarut dalam influen (konsentrat)
Cp = Konsentrasi zat terlarut dalam permeat
Semakin besar nilai R maka proses pemisahan semakin baik, artinya permeat
semakin murni.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
s
No Nama Alat
1
Alat Reverse osmosis
2
Ember
Gelas Kimia
3
4
5
6

TDS meter, DHL meter


pH meter
stopwacth

Volume
50 ml
2000 ml
1000 ml
-

Jumlah
1
1
2
2
2
1
1
1

Bahan yang digunakan


1. Air Keran

Skema Alat Reverse Osmosis

3.2 Prosedur Kerja


Menyiapkan alat dan bahan
yang digunakan

Mengukur nilai DHL dan TDS


pada aliran umpan (air keran)

Membuka valve aliran

Menyalakan alat reverse


osmosis

Saat tekanan operasi stabil, ukur nilai TDS, DHL, pH dan


volume di aliran permeat dan konsentrat setiap 10 menit
selama 90 menit

Menampung hasil aliran


permeat ke bak penampungan
aquades dan membuang hasil
aliran konsentrat

BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Data Pengamatan
Laju alir umpan

= Vpermeat + Vkonsentrat
= 69 ml + 85 ml = 154 ml = 0,154 L

TDS umpan

= 179 mg/L

DHL umpan

= 0,26 S

# Run 1
Waktu

(menit
)

Konsentrasi di Aliran

Permeat

Konsentrat

Tekanan Operasi
(psi)

TDS
(mg/L)

DHL
(S/cm
)

pH

TDS
(mg/L)

DHL
(S/cm
)

pH

12
13
12
12
11
11
11
11
11

0,019
0,018
0,017
0,018
0,016
0,018
0,018
0,017
0,017

5,9
6,5
5,7
6,3
6,1
5,9
5,7
5,7
5,8

275
277
270
271
159
271
247
267
262

0,4
0,374
0,365
0,411
0,417
0,408
0,409
0,391
0,411

6,5
6,7
6,4
6,9
6,5
6,5
6,5
6,3
6,6

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90

100
100
100
100
100
100
100
100
100

# Run 2
Waktu

Konsentrasi di Aliran

(menit
)

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90

Permeat

Tekanan Operasi
(psi)

Konsentrat

TDS
(mg/L)

DHL
(S/cm
)

pH

TDS
(mg/L)

DHL
(S/cm
)

pH

11
11
11
11
11
11
12
13
13

0,017
0,016
0,028
0,017
0,016
0,016
0,017
0,018
0,019

5,8
5,7
6
6,5
5,8
5,6
6,9
6,6
6,5

263
265
189
261
271
267
291
257
260

0,381
0,397
0,278
0,394
0,208
0,4
0,426
0,386
0,39

6,2
6,9
6,5
5,7
6,5
6,5
7,1
6,8
6,6

98
98
98
98
98
90
85
98
98

4.2 Pengolahan Data


4.2.1

Perhitungan persen Reject(%R)


R=

CmCp
Cm

atau

R=

CmCp
x 100
Cm

Dengan : Cm = konsentrasi zat terlarut dialiran influen


Cp = konsentrasi zat terlarut dialiran

Hasil perhitungan persen reject (%R)


# Run 1
TDS umpan
(mg/l)
275
277
270
271
159
271
247
267
262

TDS
permeat
(mg/l)
12
13
12
12
11
11
11
11
11

%R

0,956
0,953
0,956
0,956
0,931
0,959
0,955
0,959
0,958

95,636
95,307
95,556
95,572
93,082
95,941
95,547
95,880
95,802

# Run 2
TDS umpan
(mg/l)

TDS
permeat
(mg/l)

%R

263
265
189
261
271
267
291
257
260

11
11
11
11
11
11
12
13
13

0,958
0,958
0,942
0,958
0,959
0,959
0,959
0,949
0,950

95,817
95,849
94,180
95,785
95,941
95,880
95,876
94,942
95,000

4.3 Grafik Hubungan antara (DHL, TDS, pH, dan %Reject) terhadap waktu
4.3.1

Run 1

Grafik DHL terhadap waktu


0.5
0.4
0.3

DHL Permeat

DHL (S/cm) 0.2

DHL Konsentrat

0.1
0
0

50

100

Waktu (menit)

Grafik TDS terhadap waktu


300
250
200
TDS (mg/l)

TDS Permeat

150

TDS Konsentrat

100
50
0
0

50

100

Waktu (menit)

Grafik pH terhadap waktu


8
6
pH

pH Permeat

pH Konsentrat

2
0
0

20

40

60

80

100

Waktu (menit)

Grafik %Reject terhadap waktu


97.000
96.000
95.000
%Reject

94.000

% Reject

93.000
92.000
91.000
0

20

40

60

Waktu (menit)

80 100

4.3.2

Run 2

Grafik DHL terhadap waktu


0.5
0.4
0.3

DHL Permeat

DHL (S/cm) 0.2

DHL Konsentrat

0.1
0
0

50

100

Waktu (menit)

Grafik TDS terhadap waktu


400
300
TDS (mg/l)

TDS Permeat

200

TDS Konsentrat

100
0
0

50

100

Waktu (menit)

Grafik pH terhadap waktu


8
6
pH

pH Permeat

pH Konsentrat

2
0
0

20

40

60

80

Waktu (menit)

100

BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Jawaban Pertanyaan
1. Hitung persen reject (%R) dan tabelkan. Jelaskan dengan singkat dan jelas
Tabel untuk nilai % reject telah tersedia pada lembar data pengamatan. Berdasarkan
teori, semakin besar nilai persen reject (%R) maka proses pemisahan akan semakin
baikdan permeat yang dihasilkan akan semakin murni. Dari percobaan yang kami
lakukan dapat dilihat nilai persen reject (%R) yang dihasilkan cukup tinggi berkisar
antara 93-94% yang berarti permeat yang dihasilkan sudah murni (kandungan TDS
dan kationnya hanya sedikit).
2. Perkirakan hubungan (korelasi) antara konsentrasi zat terlarut yang
dinyatakan DHL dan TDS (membentuk persamaan linier atau tidak linier)
Berdasarkan grafik, terlihat bahwa semakin kecil nilai TDS maka nilai DHL akan
semakin kecil pula. Hal ini dikarenakan nilai TDS menunjukkan kandungan zat
terlarut didalam air termasuk mineral. Sedangkan dalam mineral terkandung ion-ion
(kation), kandungan kation dalam air ditunjukkan oleh nilai DHL. Oleh karena itu,
semakin banyak ion yang tertahan didalam membran reverse osmosis maka
kandungan TDS dalam airpun akan semakin menurun sehingga hubungan antaranilai
TDS dengan DHL adalah berbanding lurus. Grafik TDS dan DHLakan membentuk
persamaan tidak linier.

3. Jelaskan singkat dan jelas mengapa di aliran permeat konsentrasi zat terlarut
tidak dapat atau sulit dihasilkan harga rendah atau mendekati 0
Ketidakseragaman ukuran padatan terlarut dapat menyebabkan konsentrasi zat
terlarut di aliran permeat sulit mendekati nol. Hal ini karena, ada sebagian kecil
padatan terlarut yang memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran membran
sehingga padatan tersebut masih dapat melewati membran(lolos) dan terbawa ke
aliran permeat.
4. Usaha apa agar kadar zat terlarut di aliran permeat dihasilkan TDS atau DHL
sekecil mungkin
a. Dengan memperkecil diameter membran yang digunakan
b. Dengan menggunakan tekanan yang lebih tinggi namun harus disesuaikan dengan
tekanan optimum
c. Melakukan pretreatment pada air

5. Jelaskan fungsi masing masing kolom (tabung) dalam sistem RO tersebut


a. Kolom filter digunakan untuk menyaring padatan-padatan tersuspensi yang
terkandung di dalam air.
b. Membran reverse osmosis digunakan untuk menghambat padatan terlarut yang
terkandung dalam air agar tidak ikut terbawa ke aliran permeat.
c. Pompa digunakan untuk mengalirkan influen ke dalam membran reverse osmosis
d. Manometer digunakan untuk menunjukkan tekanan operasi