Anda di halaman 1dari 9

IDENTIFIKASI PROBLEMATIKA

BIMBINGAN KONSELING
Posted on April 5, 2014 by konselorwahyu

Standard
Latar Belakang
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik,
sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20
Tahun 2003). Masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki ekspektasi kinerja yang unik.
Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa
digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan
konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan (Permendiknas No. 27
tahun 2008). Keberadaan UU No. 20 tahun 2003 dan Pemendiknas No. 27 tahun 2008 tersebut menunjukkan
bahwa bimbingan konseling adalah salah satu komponen yang integral dalam mendorong tercapainya tujuan
pendidikan. Pada kurikulum 2013 dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta
mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Dalam
rangka implementasi kurikulum 2013 yang mengamanatkan adanya peminatan peserta didik pada kelompok
mata pelajaran, lintas mata pelajaran, dan pendalaman mata pelajaran maka diperlukan adanya pelayanan
Bimbingan dan Konseling yang dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling atau konselor. Implementasi
kurikulum 2013 tentu membutuhkan usaha dan kinerja yang lebih dari konselor. Berdasarkan pemaparan di atas,
profesi bimbingan dan konseling menjadi profesi yang semakin di pandang dan mapan. Profesi bimbingan dan
konseling telah diberi kesempatan untuk menjadi profesi yang bermartabat dan diakui oleh masyarakat. Hal ini
tentu menjadi sebuah tantangan pada konselor itu sendiri untuk bisa menjawab tantangan tersebut dengan
kinerja yang maksimal. Akan tetapi, berbagai macam permasalahan muncul terkait pelaksanaan bimbingan dan
konseling di Indonesia. Munculnya masalah-masalah tersebut muncul karena berbagai macam faktor. Baik faktor
yang berasal dari konselor itu sendiri maupun dari luar konselor itu sendiri. Faktor yang berasal dari konselor itu
sendiri lebih menyoroti pada kemampuan konselor yang belum mampu menampilkan layanan bimbingan
konseling yang berkualitas. Sementara itu gejala-gejala berbagai masalah pada usia remaja makin meluas dilihat
dari frekuensi maupun variabilitas masalahnya. Permasalahan siswa bukan hanya berkisar pada persoalan
belajar dan perkembangan diri, melainkan bergerak ke persoalan-persoalan kriminalitas dan norma-norma
masyarakat seperti penggunaan narkoba, pergaulan lawan jenis yang terlalu bebas. Sedangkan faktor dari luar
konselor lebih pada kurangnya dukungan sistem yang dapat menunjang kualitas kinerja konselor. Berikut ini akan
diidentifikasi berbagai problematika bimbingan dan konseling di Indonesia. Identifikasi problematika bimbingan
dan konseling akan diklasifikasikan menjadi empat yaitu 1) permasalahan pribadi konselor; b) permasalahan
manajemen bimbingan dan konseling disekolah; c) permasalahan sarana dan prasarana bimbingan dan
konseling; dan d) permasalahan keterampilan konselor dalam melaksanakan layanan konseling.
Permasalahan Pribadi Konselor
Konselor berperan sebagai polisi sekolah
Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga
dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Tidak jarang pula konselor sekolah diserahi
tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. Konselor ditugaskan mencari siswa yang bersalah dan diberi
wewenang untuk mengambil tindakan bagi siswa-siswa yang bersalah itu dan cenderung menghukum siswa
yang bermasalah. Anggapan seperti itu timbul karena adanya fakta bahwa konselor sekolah belum bisa berperan
layaknya seorang konselor sekolah. Terdapat fenomena-fenomena yang ditemukan berdasarkan pengalaman
penulis ketika PPL di salah satu SMA di kota Surabaya seperti konselor berdiri di depan gerbang sekolah
menunggu siswa yang terlambat dan menghukumnya, konselor memberi tindakan dengan hukuman bagi siswa
yang melanggar tata tertib sekolah, konselor melakukan tindakan dengan hukuman bagi siswa yang membolos,
konselor memotong rambut siswa yang panjang, konselor memarahi dan mengintrogasi siswa yang dianggap
membuat masalah di sekolah, dan sebagainya. Pada desember 2013 yang lalu juga terjadi pemukulan yang

dilakukan oleh oknum konselor di Gorontalo. Seorang siswa SMU di Kabupaten Gorontalo, muntah darah setelah
dipukul konselornya. Siswa tersebut dipukul hingga tergolek lemas di ruang instalasi gawat darurat (IGD) Rumah
Sakit Umum (RSU) dr Dundo Limboto (Sindonews.com, diakses 12 Februari 2014). Fenomena ini tentunya akan
mencederai profesi konselor yang sesungguhnya adalah profesi yang mulia. Fenomena-fenomena yang terjadi
seperti yang telah disebutkan di atas tentunya akan berdampak negatif pada hubungan antara konselor dan
konseli. Konselor yang seharusnya menjadi sahabat siswa, tapi seakan menjadi pribadi yang ditakuti, dihindari,
dan bahkan dijauhi oleh siswa. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa konselor di
tempat penulis PPL, fenomena-fenomena tersebut timbul karena banyak diantara mereka yang menganggap
bahwa jika konselor tidak melakukan tindakan dengan hukuman, maka tidak akan membuat perubahan pada
siswa dan tidak akan memberikan efek jera pada siswa yang suka melanggar peraturan. Selain itu, juga ada
anggapan bahwa teori dan fakta dilapangan itu jauh berbeda dan bahkan bertolak belakang. Oleh karena itu,
akan sulit membantu anak menemukan alternatif-alternatif untuk membuat perubahan pada siswa jika menganut
teori yang dipelajari di perguruan tinggi. Konselor berperan sebagai polisi sekolah pada hakekatnya bukanlah
profil konselor yang sesungguhnya. Konselor yang berperan sebagai polisi sekolah tersebut hanya akan
membuat hubungan yang tidak baik antara konselor dan konseli. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Rogers
(dalam Frankel & Sommerbeck, 2008) menyatakan bahwa hubungan antara konselor dan konseli adalah
kekuatan utama dalam melaksanakan konseling. Rogers (1957) menyatakan terdapat tiga kualitas pribadi
konselor yang mencakup a) kesesuaian (keaslian, atau realitas); b) penghargaan positif tak bersyarat
(penerimaan dan peduli); dan c) pemahaman empatik yang akurat (kemampuan untuk sangat memahami dunia
subjektif dari orang lain).
Konselor tidak menunjukkan sikap disiplin
Konselor sebagai tenaga pendidik profesional sudah selayaknya menjadi contoh yang baik untuk siswa dalam
menunjukkan sikap disiplin. Akan tetapi, sikap disiplin belum sepenuhnya bisa ditunjukkan oleh konselor. Salah
satu konselor di SMA kota Surabaya kurang menunjukkan sikap disiplin, seperti datang tidak tepat waktu dan
terlambat masuk kelas. Konselor yang menunjukkan sikap disiplin tidak sesuai dengan Permendiknas No. 27
tahun 2008. Pada kompetensi kepribadian dijelaskan bahwa konselor harus menampilkan kinerja berkualitas
tinggi yang bersemangat, berdisiplin, dan mandiri. Penyataan tersebut mengindikasikan bahwa sudah selayaknya
bagi konselor untuk tampil sebagai pribadi yang disiplin di sekolah. Dalam dunia pendidikan ada istilah ing
ngarso sung tulodho yang memiliki arti yang di depan memberi contoh. Pernyataan tersebut memberi arti bahwa
konselor sebagai pendidik profesional sudah selayaknya memberi contoh yang baik kepada peserta didik
berkaitan dengan disiplin. Konselor memberi contoh yang baik kepada siswa dalam menunjukkan sikap disiplin
karena konselor sebagai pendidik adalah model yang ditiru oleh siswa. Bandura dengan teori pembelajaran
observasional(modeling) menyatakan bahwa perilaku anak muncul karena adanya proses observasi terhadap
model. Bandura menetapkan beberapa tahapan terjadinya proses modeling, yaitu a) atensi; b) retensi; c)
reproduksi; dan d) motivasi (Burger, 2011; Boeree, 2007; Feist & Feist, 2006).
Kurangnya kesadaran multibudaya dalam konseling
Perbedaan budaya antara satu daerah dengan daerah lain dan antara satu etnis dengan etnis lainnya dalam
menyelenggarakan berbagai tradisi, tentunya mempengaruhi perilaku individu dan dapat menjadi sumber
permasalahan individu. Di samping itu, tata pergaulan individu dalam lingkup keluarga, tetangga, sekolah dan
masyarakat, memuat budaya tertentu. Menghadapi bebagai situasi tersebut adakalanya seseorang memerlukan
bantuan orang lain (konselor). Konselor sebagai individu memiliki budaya dan konseli sebagai individu juga
memilki budaya. Permasalahan dapat terjadi dalam interaksi antara konselor dan konseli yang berbeda budaya
dan atau ada sumber masalah konseli berkaitan dengan budaya. Sehubungan dengan itu, penting artinya
mengenal dan memahami budaya konseli. Sebagai seorang konselor profesional, harus mampu mengalihkan
perhatian mereka untuk melakukan konseling dengan memasukkan isu-isu lintas budaya (Wolfgang, 2011).
Terlebih lagi Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam (Goodwin & Giles, 2003). Dalam Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 2 dinyatakan bahwa Pendidikan
nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman. Sehubungan dengan hal tersebut, tuntutan terhadap pentingnya konseling keberagaman
budaya (multikultural) di Indonesia sejalan dengan amanat dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara jelas mengakomodasikan nilai-nilai pancasila,
nilai-nilai agama, kebudayaan, hak asasi manusia dan semangat multikultural. Sue & Sue (2008) menyatakan
terdapat tiga kompetensi lintas budaya yang harus dimiliki konselor, yaitu: a) konselor menyadari asumsi-asumsi,
nilai-nilai, dan bias-bias yang dimiliki individu; b) memahami pandangan dunia dari keberagaman budaya konseli;
dan c) mengembangkan strategi dan teknik intervensi yang sesuai. Amanat Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tentang pentingnya kesadaran multi budaya dalam
konseling tidak sejalan dengan fakta yang ada dilapangan. Berdasarkan pengalaman penulis ketika
melaksanakan PPL di salah satu SMA kota Surabaya, konselor belum memiliki kesadaran multibudaya. Salah
satu contohnya adalah konselor terkesan memaksanakan nilai-nilai yang dimiliki konselor untuk ditanamkan pada
konseli. Hal ini akan berdampak pada terdistorsinya hubungan antara konselor dan konseli. Padahal hubungan
konseling yang kuat dapat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan konseling.

Konselor membeberkan rahasia konseli

Penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling selain dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsipprinsip tertentu, juga dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan asas-asas bimbingan itu
akan memperlancar pelaksanaan dan lebih menjamin keberhasilan layanan, sedangkan pengingkarannya akan
dapat menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan, serta mengurangi atau mengaburkan hasil
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Betapa pentingnya asas-asas bimbingan konseling ini
sehingga dikatakan sebagai jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan layanan bimbingan dan konseling. Apabila
asas-asas ini tidak dijalankan dengan baik, maka penyelenggaraan bimbingan dan konseling akan berjalan
tersendat-sendat atau bahkan terhenti sama sekali. Salah satu asas bimbingan dan konseling yang menjadi
sorotan adalah asas kerahasiaan (confidentiality). Dengan adanya asas kerahasiaan (confidentiality) akan
memberikan batasan kepada konselor dalam berbagi informasi dengan guru, orang tua, dan staf sekolah (Davis,
Williamson & Scarboro, 2008). Menjaga kerahasiaan permasalahan konseli termasuk tindakan yang sangat
fundamental dan dalam profesi konseling, yang selanjutnya, kepercayaan konseli pada konselor akan terbangun
dengan baik (Lazovsky, 2008). Akan tetapi, Banyak konselor yang kurang memperhatikan dan lalai dalam
menjaga kerahasiaan permasalahan yang dialami konseli. Berdasarkan pengalaman penulis ketika
melaksanakan PPL di salah satu SMA di kota Surabaya, ditemukan fenomena-fenomena yang terjadi terkait
kerahasiaan permasalahan konseli yang seharusnya dijaga oleh konselor. Fenomena-fenomena tersebut antara
lain konselor membicarakan permasalahan konseli dengan guru-guru yang lain, konselor dengan mudah
menceritakan kepada wali kelas dari konseli yang bersangkutan terkait permasalahannya, dan tidak jarang
masalah yang dialami oleh konseli menjadi bahan tertawaan konselor dan guru-guru yang lain. Berbagai macam
alasan muncul mengapa konselor tidak mampu menjaga kerahasiaan permasalahan konseli. Berdasarkan
wawancara yang dilakukan penulis, beberapa konselor sering tidak menyadari bahwa ia sudah membeberkan
permasalahan konseli, konselor kurang berhati-hati dalam menyimpan data-data terkait permasalahan konseli,
konselor berdiskusi dengan konselor lain terkait permasalahan konseli tanpa persetujuan konseli, dan adanya
tekanan dari wali kelas maupun pihak-pihak terkait untuk menceritakan permasalahan dari konseli. Bahkan, ada
anggapan dari oknum-oknum tertentu bahwa masalah-masalah konseli harus dilaporkan kepada guru untuk
pertimbangan nilai siswa. Konselor tidak mampu menjaga kerahasiaan permasalahan konseli tentunya akan
berdampak negatif baik pada profesionalitas konselor itu sendiri dan konseli yang bersangkutan. Untuk
profesinalitas konselor itu sendiri dampaknya adalah kepercayaan konseli pada konselor akan menurun sehingga
siswa akan enggan melakukan konseling dengan konselor karena takut jika permasalahannya akan diketahui
oleh orang lain. Sedangkan dampak pada konseli yang permasalahannya diketahui oleh orang lain adalah
motivasi konseli untuk terbuka dalam proses konseling selanjutnya cenderung menurun karena takut
permasalahannya akan diketahui oleh orang lain. Fenomena-fenomena seperti yang disebutkan di atas tentunya
bertolak belakang dengan kode etik Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Dalam kode etik
ABKIN terdapat empat poin yang dijelaskan terkait kerahasiaan (confidentiality).
Konselor kurang termotivasi mengembangkan profesionalitasnya
Saat ini masih terus terdengar suara-suara sumbang tentang kinerja konselor terkait fungsi dan tanggung
jawabnya, masih ditemukan adanya perilaku kurang profesional. Perilaku-perilaku konselor yang kurang
profesional memunculkan impresi maupun persepsi kurang positif. Juntika 1993 (dalam Akhmadi, 2012)

menemukan bahwa pelaksanaan konseling oleh guru pembimbing belum sesuai dengan yang diharapkan, yakni
masih kurangnya kemampuan pembimbing dalam menangani dan menggali masalah yang dihadapi siswa.
Marjohan 1994 (dalam Akhmadi, 2012) menemukan bahwa baru 39,47% guru pembimbing yang dapat
menerapkan kemampuan profesional konseling dalam kategori tinggi, sedangkan 60,53% baru mampu
menerapkan kemampuan tersebut pada kategori sedang. Dengan adanya hasil penelitian yang disebutkan di
atas, seorang konselor sudah selayaknya terus mengembangkan profesionalitas dirinya secara berkelanjutan,
akan tetapi, tidak semua konselor punya kesadaran akan hal itu. Masih banyak konselor yang tidak punya
kesadaran untuk mengembangkan profesionalitasnya secara berkelanjutan. Adapun beberapa fenomena yang
ditangkap penulis baik melalui wawancara dan observasi dengan beberapa konselor di kota Ngawi adalah tidak
munculnya kesadaran bahwa mengikuti seminar dan lokakarya adalah penting, konselor cenderung enggan
mengikuti seminar dan lokakarya karena kurang terfasilitasi oleh sekolah, konselor kurang termotivasi mengikuti
kegiatan-kegiatan MGBK, dan konselor tidak termotivasi untuk membaca buku-buku yang bisa menunjang
berkembangnya pengetahuan konselor. Konselor yang kurang termotivasi mengembangkan profesionalitasnya,
akan berdampak negatif pada tingkat profesional dan perkembangan diri konselor itu sendiri. Dampak negatif
yang terjadi adalah konselor ketinggalan informasi-informasi baru bidang bimbingan dan konseling. Selain itu,
konselor tidak memiliki hubungan yang baik dengan konselor-konselor lain untuk berbagi informasi dan
berdiskusi terkait informasi-informasi baru di dunia bimbingan konseling. Dampak-dampak negatif tersebut
tentunya akan berpengaruh pula pada keberhasilan dan keefektifan konselor dalam memberikan layanan
bimbingan dan konseling kepada siswa. Fenomena-fenomena yang disebutkan di atas bertolak belakang dengan
Permendiknas nomor 7 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Konselor yang
menyatakan bahwa konselor harus mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan.
Lebih jauh, dijelaskan lebih rinci dalam kode etik ABKIN terkait konselor harus mengembangkan pribadi dan
profesionalitas konselor secara berkelanjutan adalah a) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, b)
menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian berkarakter serta kinerja profesional, c) memiliki kesadaran
dan komitmen terhadap etika profesional, d) mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja, e)
berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling, f) mengimplementasikan kolaborasi
antarprofesi, dan g) mengembangkan diri untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dalam bidang
profesi melalui pendidikan dan pelatihan, penelitian dan penulisan karya ilmiah, mengikuti seminar lokakarya
dalam bidang Bimbingan dan Konseling.
Permasalahan Manajemen Bimbingan Konseling di Sekolah
Adanya persepsi konselor bahwa bimbingan konseling mampu bekerja sendiri
Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang tersendiri dan tidak terkait dengan pihak-pihak terkait
dalam suatu sekolah. Konselor perlu bekerjasama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu
penanggulangan masalah yang dihadapi oleh konseli. Di sekolah misalnya, masalah-masalah yang dihadapi oleh
siswa tidak berdiri sendiri. Masalah itu seringkali terkait dengan orangtua siswa, guru dan pihak-pihak lain. Selain
itu, terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu,
penanggulangan tidak dilakukan sendiri oleh konselor saja. Dalam hal ini peranan guru, orang tua dan pihakpihak lain sering kali sangat menentukan. Konselor harus pandai menjalin hubungan kerjasama yang saling
mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah. Disamping itu, konselor harus
pula memanfaatkan berbagi sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah
siswa. Fakta dilapangan menunjukkan tidak semua konselor bisa bekerja sama dengan pihak-pihak terkait dalam
upaya penanganan masalah konseli. Konselor seringkali bekerja sendiri, tanpa memperhatikan pihak-pihak lain
yang terkait dalam upaya menangani masalah konseli. Hal ini tentunya akan berdampak pada beratnya tugas
konselor, terhambatnya tujuan konseling yang akan dicapai, serta kurang maksimalnya bantuan konselor dalam
penyelesaian masalah yang dialami konseli. Fenomena-fenomena tersebut tampak pada konselor di salah satu
SMA di kota Ngawi. Konselor tidak bisa bekerja sendirian, akan tetapi perlu adanya partnership, kerja sama,
kolaborasi, dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait (Hall & Hornby, 2003). Pernyataan tersebut didukung oleh
Neukrug (2012) yang menyatakan bahwa konselor sekolah harus bekerja dengan kolega dan mitra kerja yang
terkait untuk memastikan bahwa layanan bimbingan dan konseling yang diberikan kepada siswa berhasil dan
efektif. Kemudian, Schellenberg (2008) menyatakan bahwa perlu kerja sama antara konselor danstakeholders,

staf administrasi sekolah, orang tua untuk mencapai keberhasilan program bimbingan konseling yang dibuat.
Pernyataan-pernyataan tersebut memberikan gambaran kepada konselor bahwa dalam memberikan layanan
bimbingan dan konseling kepada siswa, konselor harus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti kepala
sekolah, guru, wali kelas, staf sekolah, dan orang tua siswa. Hal ini dilakukan untuk keberhasilan layanan
bimbingan dan konseling yang diberikan konselor kepada siswa. Tidak menutup kemungkinan pula bagi konselor
menangani permasalahan konseli di luar wewenang dan ranah konselor. Dalam hal ini konselor dapat menjalin
kerja sama dengan lembaga-lembaga di luar sekolah seperti psikolog, psikiater, pekerja sosial, tokoh agama, dan
konselor yang lain dengan persetujuan konseli (Sederholm, 2003).
Tidak adanya manajemen Bimbingan Konseling yang baik di sekolah
Manajemen bimbingan konseling merupakan salah satu unsur penting dalam pelayanan bimbingan dan
konseling di sekolah. Dalam modul pelatihan implementasi kurikulum 2013 untuk konselor dijelaskan bahwa
kelancaran jalannya pelayanan bimbingan dan konseling memerlukan manajemen yang cukup efektif dan efisien,
baik manajemen untuk terlaksanaannya layanan bagi masing-masing materi layanan, maupun ketatalaksanaan
keseluruhan pelayanan bimbingan konseling pada satuan unit kerja. Dengan adanya manajemen bimbingan
konseling yang baik, akan menghasilkan alur kinerja konselor yang jelas. Sehingga kinerja konselor akan menjadi
lebih efektif dan efisien. Pemaparan yang disebutkan di atas tidak sejalan dengan fenomena yang ada di
lapangan. Tidak semua konselor menyadari pentingnya manajemen bimbingan konseling di sekolah. Di salah
satu SMK di kota Ngawi misalnya, belum jelas bagaimana manajemen bimbingan konseling di sekolah. Bentukbentuk kerja sama antara konselor, guru mata pelajaran, wali kelas dan staf sekolah tidak jelas. Berbeda dengan
di salah satu SMA di kota Surabaya, terdapat papan manajemen bimbingan konseling di ruang bimbingan
konseling, tetapi pelaksanaan manajemen bimbingan konseling tidak berjalan dengan baik. Sehingga,
dampaknya muncul kerancuan kinerja guru, wali kelas, dan konselor. Permasalahan-permasalahan psikologis
anak yang seharusnya konselor yang menangani, tapi bukan konselor yang menangani, melainkan wali kelasnya.

Tidak melaksanakan evaluasi program bimbingan dan konseling

Konselor sekolah profesional sebagai bagian dari tim pendidik di sekolah memiliki kinerja yang menunjang
pencapaian tujuan yang dicanangkan oleh sekolah (Dahir & Stone, 2009). Kinerja konselor sekolah tersebut
tertuang dalam program layanan konseling dan program tersebut terbukti keefektifannya dalam pencapaian
tujuan sekolah dan peningkatan prestasi belajar siswa (Astramovich, Coker & Hoskins, tanpa tahun). Untuk
menguji keefektifan dan memperbaiki program layanan bimbingan dan konseling perlu dilakukan eveluasi.
Evaluasi program layanan bimbingan konseling juga bisa menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan untuk
memverifikasi kekuatan program layanan konseling (Otto, 2001). Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak
semua konselor melaksanakan evaluasi. Berdasarkan observasi yang pernah dilakukan penulis di salah satu
SMA di Kabupaten magetan, konselor tidak melakukan evaluasi program layanan bimbingan dan konseling.
Sehingga tidak ada perbaikan program layanan bimbingan dan konseling dari tahun ke tahun. Banyak alasan
konselor tersebut tidak melakukan evaluasi program layanan, antara lain, ketidakmampuan konselor melakukan
evaluasi, minimnya minat konselor untuk belajar melakukan evaluasi program layanan bimbingan konseling, dan
minimnya pelatihan yang diberikan kepada konselor untuk mengevaluasi program layanan bimbingan dan
konseling.
Permasalahan Sarana dan Prasarana Bimbingan Konseling
Ruang bimbingan dan konseling yang kurang memadai
Salah satu aspek pendukung dalam keefektifan proses konseling adalah keberadaan ruang bimbingan dan
konseling yang layak. Akan tetapi, belum semua sekolah mampu memfasilitasi keberadaan ruang bimbingan
konseling yang layak dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Berdasarkan pengalaman penulis,
ditemukan ruang bimbingan konseling yang tidak layak digunakan sebagai ruang bimbingan konseling. Ruang
bimbingan konseling di salah satu SMK di kota Ngawi bersanding dengan ruang UKS, tidak memiliki ventilasi,
dan ruang bimbingan konseling yang berada di bawah tangga. Selain beberapa fakta tersebut, ada juga
beberapa sekolah di kota Ngawi yang tidak mempunyai ruang bimbingan konseling sama sekali sehingga
konselor berada di ruang guru. Selanjutnya, ruang bimbingan konseling di salah satu kota Padang letaknya jauh
dari kelas tempat proses belajar mengajar siswa sehingga tidak ada minat siswa untuk mendatangi ruang
bimbingan konseling, bahkan ada siswa yang tidak tahu letak ruang bimbingan konseling. Penulis juga

menemukan ruang bimbingan konseling yang pada dasarnya sangat layak, akan tetapi pihak konselor belum
mampu memanfaatkan ruang tersebut secara maksimal. Salah satu SMA di kota Surabaya memiliki ruang
bimbingan konseling sangat luas, terdapat lemari-lemari penyimpan data siswa yang memadai, dan terdapat dua
bilik ruang konseling individu. Akan tetapi, ruang konseling individu kurang dimanfaatkan sesuai dengan
fungsinya dan difungsikan sebagai tempat menghukum siswa yang melanggar tata tertib. Selanjutnya, salah satu
SMP di kota Surabaya memiki ruang bimbingan konseling yang luas, ber-AC dan nyaman. Akan tetapi, ruang
bimbingan konseling tersebut lebih banyak digunakan oleh guru-guru yang sedang tidak bertugas hanya untuk
mengobrol, merokok, dan bahkan tidur. Berikutnya salah satu SMK di Pringsewu, Lampung juga memiliki ruang
bimbingan konseling yang layak dan memadai. Akan tetapi, ruang konseling individu tidak difungsikan sesuai
fungsinya. Ruang konseling individu lebih banyak difungsikan untuk menyimpan buku-buku dan barang-barang
yang tidak terpakai. Terdapat kriteria-kriteria ruang bimbingan dan konseling untuk optimalisasi manfaat ruang
bimbingan dan konseling. Dalam hal ini, ABKIN (2007) merekomendasikan kriteria ruang bimbingan dan
konseling di sekolah, yaitu a) lokasi ruang bimbingan dan konseling mudah diakses (strategis) oleh konseli tetapi
tidak terlalu terbuka sehingga prinsip-prinsip konfidensial tetap terjaga; b) jumlah ruang bimbingan dan konseling
disesuaikan dengan kebutuhan jenis layanan dan jumlah ruangan; c) antar ruangan sebaiknya tidak tembus
pandang; dan d) jenis ruangan yang diperlukan meliputi ruang kerja, ruang administrasi/data, ruang konseling
individual, ruang bimbingan dan konseling kelompok, ruang biblio terapi, ruang relaksasi/desensitisasi, dan ruang
tamu. Sementara itu, BNSP memberikan gambaran yang berbeda tentang standar sarana yang terkait dengan
ruang bimbingan dan konseling di sekolah. Adapun standar ruang bimbingan dan konseling adalah a) ruang
konseling berfungsi sebagai tempat peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan
dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir; b) Luas minimum ruang konseling 9 m2; c) ruang
konseling dapat memberikan kenyamanan suasana dan menjamin privasi peserta didik, dan d) ruang konseling
dilengkapi berbagai sarana penunjang lainnya (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses 12 Februari 2014).
Jika dalam suatu sekolah sudah terdapat ruang bimbingan konseling, sudah selayaknya bagi konselor untuk
memanfaatkan ruang bimbingan dan konseling dengan baik. Selain itu, selayaknya konselor memanfaatkan
ruang bimbingan dan konseling sesuai dengan fungsinya. Dengan adanya ruang bimbingan dan konseling yang
sesuai dengan standar, akan turut mempengaruhi keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah
(ABKIN, 2007).
Keengganan konselor bekerja ketika sarana dan prasarana tidak memadai
Ketiadaan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan layanan bimbingan konseling memang menjadi salah
satu problematika. Ketiadaan sarana dan prasarana seperti ruang bimbingan konseling, ruang konseling individu,
lemari penyimpan data dan yang lainnya akan menghambat kinerja konselor itu sendiri. Akan tetapi, ketiadaan
sarana dan prasarana itu seharusnya tidak menjadi halangan bagi konselor untuk mengupayakan pelaksanaan
layanan bimbingan konseling yang optimal untuk membantu siswa. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa
terdapat oknum konselor di salah satu SMA di kota Ngawi yang menyatakan bahwa ia tidak bisa melakukan
layanan konseling individu, layanan bimbingan kelompok, layanan konseling kelompok dan layanan-layanan
lainnya karena tidak adanya ruang bimbingan konseling. Fakta serupa juga terjadi di salah satu SMP di kota
Ngawi, yang juga tidak melakukan layanan bimbingan konseling secara optimal dengan alasan tidak adanya
ruang bimbingan konseling. Keengganan konselor bekerja ketika sarana dan prasarana tidak memadai akan
menjadi masalah pada pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Hal ini akan berakibat pada
semakin kompleksnya problematika bimbingan dan konseling di sekolah. Salah satu akibat yang paling terlihat
adalah siswa yang seharusnya mendapat dan membutuhkan layanan bimbingan dan konseling akhirnya tidak
bisa mendapatkannya. Fenomena seperti ini menunjukkan kurangnya motivasi dan kreatifitas konselor dalam
memberikan layanan bimbingan konseling dengan fasilitas yang kurang mendukung. Konselor yang enggan
melaksanakan layanan bimbingan dan konseling tentu akan menambah masalah yang ada. Walau sarana dan
prasarana dirasa masih kurang, sudah seharusnya layanan bimbingan dan konseling tetap berjalan. Dalam
Permendiknas No. 27 tahun 2008 dijelaskan dalam kompetensi kepribadian bahwa konselor harus menampilkan
tindakan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan produktif. Kreatifitas sangat dibutuhkan konselor dalam mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Nicholson & Golsan, 1983). Berani
berpikir bebas dan kreatif atau out of the box merupakan hal mendasar yang harus dikembangkan oleh guru
bimbingan dan konseling. Hal itu diperlukan agar layanan bimbingan dan konseling tetap bisa dilaksanakan.

Permasalahan Keterampilan Konselor dalam Melaksanakan Layanan Konseling


Konselor hanya memberikan nasehat dalam proses konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan konseli dalam rangka pengembangan
pribadi konseli secara optimal. Dalam proses konseling masih banyak konselor yang hanya memberikan nasehat
daripada menerapkan pendekatan-pendekatan konseling. Banyak faktor mengapa konselor lebih banyak
memberikan nasehat daripada menerapkan pendekatan-pendekatan konseling. Berdasarkan wawancara yang
dilakukan penulis pada salah satu konselor SMA di kota Ngawi, alasan pertama adalah konselor tidak berasal
dari latar belakang bimbingan konseling sehingga tidak memahami hakekat konseling dengan benar dan alasan
kedua adalah pemberian nasehat dirasa konselor lebih mudah daripada melakukan konseling dengan
pendekatan-pendekatan konseling. Konseling pada hakekatnya bukanlah hanya pemberian nasehat semata,
akan tetapi, banyak keterampilan lain yang bisa digunakan dalam proses konseling. Pemberian nasehat lebih
cenderung pada counselor-centered bukan client-centered yang bisa berpotensi menghacurkan hubungan
konseling (Neukrug, 2012). Jika mengacu pada teori person-centered yang dicetuskan oleh Rogers, manusia
pada dasarnya dapat dipercaya, memiliki akal, mampu memahami diri dan pengarahan diri sendiri, mampu
membuat perubahan yang konstruktif, dan mampu untuk hidup efektif dan produktif (Corey, 2009). Jika merujuk
pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa proses konseling bukanlah sebuah proses pemberian nasehat, akan
tetapi bagaimana konselor memanfaatkan potensi yang dimiliki manusia untuk mengarahkan dirinya dalam
mencapai kehidupan yang efektif dan produktif.
Konselor kurang memiliki keterampilan dasar konseling yang memadai
Konselor yang profesional dituntut memiliki keterampilan dasar konseling yang memadai, akan tetapi, fakta terjadi
masih banyak konselor yang kurang terampil dalam mempraktekkan keterampilan dasar konseling. Berdasarkan
pengalaman penulis pada waktu PPL, beberapa fenomena yang terjadi adalah konselor kurang menyambut
konseli dengan baik ketika konseli ingin konseling dengan konselor, konselor kurang memperhatikan
kenyamanan konseli dalam melakukan konseling, konselor tidak melakukan konseling tidak di ruang konseling,
konselor melakukan konseling dengan kurang memberikan perhatian pada konseli, konselor melakukan
konseling sambil berbicara dengan guru yang lain, konselor memberikan respon yang kurang menyenangkan
pada pernyataan konseli, dan sebagainya. Fenomena-fenomena seperti yang disebutkan di atas tentunya akan
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses konseling itu sendiri. Sebagai seorang konselor tentunya
harus memiliki berbagai keterampilan dasar konseling agar mencapai tujuan konseling yang efektif (Cormier,
Nurius & Osborn, 2009; Shertzer & Stone, 1980). Terdapat beberapa keterampilan dasar konseling, yaitu a)
keterampilan attending;b) listening responses yang meliputi klarifikasi, paraprase, refleksi, dan menyimpulkan;
dan c) influencing responses yang meliputi keterampilan bertanya, interpretasi, pemberian informasi, immediacy,
self-disclosure, dan konfrontasi (Cormier, Nurius & Osborn, 2009). Lebih jauh Neukrug (2011) menjelaskan
terdapat beberapa keterampilan dasar konseling yang dibagi menjadi 4 jenis, yaitu a) foundational skills yang
meliputi keterampilan mendengarkan, empati dan memahami secara mendalam, dan diam;b) commonly used
skills yang meliputi keterampilan bertanya, self- disclosure, modeling, memberikan afirmasi dan dorongan, dan
penawaran alternatif, pemberian informasi, pemberian nasehat;c) commonly used advanced skills yang meliputi
keterampilan konfrontasi, interpretasi, dan kolaborasi;dan d) advanced and specialized counseling skills yang
meliputi keterampilan metapora, pengubahan pola berpikir, narratives dan storytelling, therapeutic touch,
dan role-playing.
Konselor hanya menangani anak bermasalah
Banyak opini yang muncul bahwa guru bimbingan dan konseling (konselor sekolah) adalah pihak yang
berwenang dalam menangani anak bermasalah saja. Contohnya adalah anak yang sering melanggar tata tertib,
anak yang sering terlambat, anak yang kurang memperhatikan guru saat proses belajar dan mengajar, dan anak
yang membolos. Dan fakta di lapangan memang masih banyak guru bimbingan dan konseling yang fokusnya
hanya menangani anak-anak seperti itu. Hal tersebut dibuktikan dengan pengalaman pribadi penulis ketika
melaksanakan PPL di salah satu SMA di Surabaya. Konselor lebih banyak fokus pada penanganan anak yang
bermasalah saja. Akan tetapi, anak-anak yang punya potensi baik di bidang akademik atau non akademik kurang
mendapat bimbingan secara berkelanjutan agar potensi mereka semakin berkembang secara optimal. Fenomena
yang tersebut di atas tentu tidak sesuai dengan Permendiknas No. 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi
Akademik Dan Kompetensi Konselor. Dalam Permendiknas No. 27 tahun 2008 tersebut disebutkan tentang

konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan bimbingan dan konseling yang bertujuan
mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk
mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Konselor adalah pengampu
pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal. Dari pernyataan
tersebut jelas bahwa konselor tidak hanya menangani anak bermasalah, akan tetapi, lebih kepada
pengembangan potensi yang dimiliki konseli, memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan, dan peduli
pada kemaslahatan umum.

Kurangnya kesadaran konselor akan pentingnya need assesment sebagai dasar pembuatan
programbimbingan konseling

Need assement menjadi salah satu aspek penting yang perlu dilakukan konselor dalam membuat progam
bimbingan dan konseling yang komprehensif (Gysbers & Henderson, 2006). Suatu program yang disusun secara
jelas, sistematis, dan terarah dan dikembangkan secara tepat guna. Program bimbingan mencakup
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program bimbingan dan konseling (Winkel, 2007). Informasi yang
dihimpun dengan pelaksanaan need assesment dapat membantu konselor untuk mengidentifikasi kebutuhan
siswa yang kemudian sebagai dasar pemberian layanan bimbingan dan konseling (Astramovich, 2011). Jika
program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan kebutuhan siswa, maka diharapkan program bimbingan
dan konseling efektif diberikan kepada siswa. Tidak semua konselor melakukan need assesment sebagai dasar
pembuatan program bimbingan dan konseling. Beberapa konselor tidak melakukan need assesment. Fenomena
ini terjadi pada konselor di salah satu konselor di SMA kota Surabaya. Konselor tidak melakukan need
assesment sebagai dasar pembuatan progam bimbingan dan konseling. Konselor hanya melakukan copy
paste dari program tahun-tahun sebelumnya. Berbagai alasan konselor tidak melakukan need
assesment muncul. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan konselor di salah satu SMA di kota
Surabaya, muncul pengakuan bahwa program yang dibuat dirasakan sudah baik dan tidak perlu dilakukan need
assesment. Muncul pengakuan pula bahwa need assesment akan membutuhkan waktu lama, dan tidak ada
jaminan kebenaran dari need assesment yang telah dilakukan. Rendahnya kesadaran konselor akan
pentingnya need assesment sebagai dasar pembuatan program bimbingan dan konseling akan berdampak
negatif terhadap keefektifan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh konselor. Hal ini akan
berdampak pada rendahnya keefektifan dan keberhasilan dari program bimbingan dan konseling yang diberikan.
Hal ini terjadi karena siswa tidak membutuhkan informasi-informasi yang diberikan oleh konselor yang termuat
dalam program bimbingan dan konseling.Kesimpulan Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di
Indonesia diharapkan dapat mendorong tercapainya tujuan pendidikan. Hal tersebut membutuhkan kinerja yang
maksimal dari konselor. Akan tetapi, berbagai macam problematika bimbingan dan konseling muncul dan bisa
menghambat tercapainya tujuan pendidikan. Diperlukan upaya yang maksimal dari konselor untuk segera
berbenah diri untuk menjawab tantangan bahwa profesi konselor adalah profesi yang bermartabat.

Daftar Pustaka
ABKIN.2007. Rambi-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan
Formal. Bandung: ABKIN
ABKIN. 2011. Kode Etik Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia ABKIN. Semarang: ABKIN.
Ahmad, Z. 2013. Guru Pukuli SIswa Hingga Muntah Darah. (Online), (Sindonews.com), diakses 12 Februari
2014.
Akhmadi, A. 2012. Peningkatan Kemampuan Konselor Profesional, Kajian Materi Diklat Jarak Jauh Guru
Bimbingan Konseling. (Online), (www.himcyoo.files.wordpress.com) diakses 12 Februari 2014.
Astramovich, R. L., Coker, J. K., & Hoskins, W. J. Tanpa tahun. Training school counselors in program
evaluation.American School Counseling Association.
Astramovich, R.L. 2011. Needs Assesment: A Key Evaluation Tool for Professional Counselors. (Online),
(http://counselingoutfitters.com), diakses 12 Februari 2014.
Boeree, C.G. 2007. Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Alih Bahasa:
Inyiak Ridwan Muzir. Jogjakarta: Prismasophie.
Burger, J.M. 2011. Personality. USA: Wadswarth Cengage Learning.

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Thomson Brooks/Cole.
Cormier, S., Nurius, P.S. & Osborn, C.J. 2009. Interviewing and Change Strategies for Helpers: Fundamental
Skills and Cognitive Behavioral Interventions. USA: Brooks/Cole.
Dahir, C.A. & Stone, C.B. 2009. School Counselor Accountability: The Path to Social Justice and Systemic
Change.Journal of Counseling & Development, 87: 12-20.
Davis, K.M., Williamson, L.L. & Scarboro, B.A. 2008. Professional Activities in Professional School Counseling.
Dalam H.L.K Coleman & C. Yeh (Ed.), Handbook of School Counseling (hlm. 811-824). New York: Routledge.
Feist, J. & Feist, G.J. 2006. Theories of Personality. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Frankel, M & Sommerbeck, L. 2008. Nondirectivity: Attitude or Practice?. The Person-Centered Journal, 15: 1-2:
58-78.
Goodwin, R., & Giles, S. 2003. Social Support Provision and Cultural Values in Indonesia and Britain. Journal of
Cross-Cultural Psychology, 34 (10): 1-6.
Gybers, C.N. & Henderson, P. 2006. Developing & Managing Your School Guidance and Counseling
Program.American Counseling Association: Alexandria.
Hall, C. & Hornby, G. 2003. Learning to Collaborate: Working Across the Divide. Dalam G. Hornby, C. Hall& E.
Hall(Ed.),Counselling Pupils in Schools: Skills and Strategies for Teachers (hlm. 141-151). London: Routledge
Falmer.
Kemendikbud. 2013. Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Guru BK/Konselor: Implementasi
Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud.
Lazovsky, R. 2008. Maintaining Confidentiality with Minors: Dilemmas of School Counselors. (Online),
(www.schoolcounselor.org), diakses 12 Februari 2014.
Neukrug, E.S. 2012. The World of the Counselor: An Introduction to the Counseling Profession. USA:
Brooks/Cole.
Nicholson, J.A. & Golsan, G. 1983. The Creative Counselor. USA: McGraw-Hill, Inc.
Otto, C.N.C. 2001. An Evaluation of the School Counseling Program at Stillwater Area Schools in Stillwater,
Minnesota. University of Wisconsin-Stout: The Graduate College.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Konselor (Online), (unnes.ac.id/wp-content/uploads/Permendiknas-no.-27-tahun2008.pdf), diakses 12 Februari 2014.
Rogers, C.H. 1957. The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change. Journal of
Consulting Psychology, 21: 95103.
Schellenberg, R. 2008. The New School Counselor: Strategies for Universal Academic Achievement. USA:
Rowman & Littlefield Education.
Sederholm, G.H. 2003. Counselling Young People in School. London and Philadelphia: Jessica Kingsley
Publishers.
Shertzer, B. & Stone, S.C. 1980. Fundamental of Counseling. Boston: Houghton Mifflin Company.
Sudrajad, A. 2013. Standar Ruang Bimbingan dan Konseling. (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/),
diakses 12 Februari 2014.
Sue, D.W. & Sue, D. 2008. Counseling the Culturally Diverse: Theory and Practice. New Jersey: John Wiley &
Sons, Inc.
Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Online),
(www.inherentdikti.net/files/sisdiknas.pdf), diakses 12 Februari 2014.
Winkel, W.S. & Hastuti, S. 2007. Bimbingan dan Konseling di Intitut Pendidikan. Jakarta: Gramedia.
Wolfgang, J, dkk. 2011. Developing Cross Cultural Competence: Applying Development and Prevention Ideals to
Counseling Young Children. Makalah disajikan pada the annual convention of the Association for Counselor
Educators and Supervisors (ACES), Nashville, 26-30 Oktober 2011. Dalam Eric database, (Online),
(http://eric.ed.gov/), diakses 18 Desember 2013.