Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan kuantitas dan kualitas hidup


individu, permasalahan yang dihadapi juga semakin kompleks. Permasalahan
dimaksud sering kali tidak cukup bahkan tidak mampu diatasi sendiri . Ia juga
tidak terselesaikan dengan tuntas hanya dengan diberi pelayanan dalam bentuk
informasi dan nasihat. individu memerlukan pelayanan yang secara sistematis
mampu membantu mengentaskan masalah yang dihadapinya sehingga ia mampu
mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan efektif sehariIndividu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri,
menentukan hidup, dan menangani masalahmasalah psikisnya asalkan konselor
menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk
aktualisasi diri. Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.
Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak
anak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning,
penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada
masa

sekarang,

dia

berpendapat

bahwa

masa

lampau

memang

akan

mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan


mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang
terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
b. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Carl Ransom Rogers?
2. Bagaimana pengertian Person Centered Therapy (Rogers)?
3. Bagaimana tujuan Person Centered Therapy?
4. Bagaimana fungsi dan peran Terapis?

5. Bagaimana pengalaman klien dalam Terapi?


6. Bagaimana konsep dasar Person Centered Therapy?
7. Bagaimana proses Terapeutik?
8. Bagaimana kelebihan dan kekurangan pendekatan Person-Centered Therapy?

c. Tujuan
1. Mengetahui biografi Carl Ransom Rogers.
2. Mengetahui pengertian Person Centered Therapy (Rogers).
3. Mengetahui tujuan Person Centered Therapy.
4. Mengetahui fungsi dan peran Terapis.
5. Mengetahui pengalaman klien dalam Terapi.
6. Mengetahui konsep dasar Person Centered Therapy.
7. Mengetahui proses Terapeutik.
8. Mengetahui kelebihan dan kekurangan pendekatan Person-Centered Therapy.

BAB II
PEMBAHASAN

A. LATAR BELAKANG
Pendekatan ini dikembangkan dari konsep psikologi humanistik.
Pandangan humanistik

"pandangan orang mampu dan otonom, dengan

kemampuan untuk mengatasi kesulitan mereka, menyadari potensi mereka,


dan mengubah hidup mereka dengan cara yang positif" (Seligman, 2006). Carl
Rogers (kontributor utama dari pendekatan berpusat pada klien) menekankan
perspektif humanistik serta memastikan hubungan terapeutik dengan klien
mempromosikan diri, keaslian dan aktualisasi dalam kehidupan mereka, dan
membantu mereka untuk menggunakan kekuatan mereka (Seligman, 2006).
Pendekatan ini pada awalnya difokuskan pada klien yang bertanggung
jawab atas terapi yang menyebabkan klien mengembangkan pemahaman yang
lebih besar dari diri, eksplorasi diri, dan peningkatan konsep diri. Fokusnya
kemudian bergeser ke frame klien referensi dan kondisi inti yang diperlukan
untuk terapi sukses seperti memastikan terapis menunjukkan pemahaman
empatik dengan cara tidak menghakimi.
Saat

ini,

pendekatan

berpusat

berfokus

pada

klien

mampu

mengembangkan pemahaman yang lebih besar dari diri dalam suatu


lingkungan yang memungkinkan klien untuk menyelesaikan masalah sendirisendiri tanpa campur tangan langsung oleh terapis. Terapis harus menjaga
sikap pertanyaan yang terbuka untuk berubah serta menunjukkan keberanian
untuk menghadapi yang tidak diketahui.
B. PENDIRI
Konseling berpusat pada person (person centered counseling) dikembangkan
oleh Carl Person Rogers, salah seorang psikolog klinis yang sangat menekuni
bidang konseling dan psikoterapi. Dia dilahirkan pada 1902 di LoakPark,

Illinois. Keluarganya termasuk tekun beragama dan Rogers sendiri termasuk


penganut protestan yang taat.
Dalam bidang pendidikan tinggi, Rogers menjadi mahasiswa pada
Educational and Psychology Course di Colombia University. Dari sinilah
pokokpokok pemikirannya dipengaruhi. Gelar doktornya disandang pada
usia 29 tahun pada universitas yang sama. Disertasi yang ditulis adalah
measuring Personality adjustment in Children Nine to Thirteen years of Age.
Karya-karyanya sangat banyak, diantara buku yang telah ditulis adalah
: Counseling and Psychoterapy: Newer Concept in Practice, Client Centered
Therapy, Fredom to Learn, dan On Becoming Person, dan berbagai artikel
tentang teorinya di berbagai jurnal ilmiah. Rogers adalah penganut paham
humanistic, sejalan dengan temantemannya seperti Abraham Maslow.
Berdasarkan sejarahnya teori konseling yang dikembangkan Rogers ini
mengalami beberapa perubahan. Pada mulanya dia mengembangkan
pendekatan konseling yang disebut non-directive counseling (1940)
pendekatan ini sebagai reaksi terhadap teoriteori konseling yang berkembang
saat itu yang terlalu berorientasi pada konselor atau directive counseling. Pada
tahun 1951 Rogers mengubah namanya menjadi client centered counseling
sehubungan dengan perunan pandangan tentang konseling yang menekankan
pada upaya reflektif terhadap perasaan klien. Enam tahun berikutnya, pada
1957 Rogers mengubah sekali lagi pendekatannya menjadi konseling yang
berpusat pada person (person centered) yang memandang klien sebagai partner
dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun konselor dan
keduanya perlu mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling
berlangsung.
Konseling berpusat pada person ini memperoleh sambutan positif dari
kalangan ilmuan maupun praktisi, sehingga dapat berkembang secara pesat,
hingga saat ini, pendekatan konseling ini masih relevan untuk dipelajari dan
diterapkan. Dalam kaitannya Geldard (1989) menyatakan bahwa karya Rogers
ini memiliki kekutan (powerfull) dan manfaat (usefull) dalam membantu
klien.

Rogers sebenarnya tidak terlalu memberi perhatian kepada teori kepribadian.


Baginya cara mengubah dan perhatian terhadap proses perubahan kepribadian
jauh lebih penting dari pada karakteristik kepribadian itu sendiri. Namun
demikian, karena dalam proses konseling selalu memperhatikan perubahan
perubahan kepribadian, maka atas dasar pengalaman klinisnya Rogers
memiliki pandanganpandangan khusus mengeni kepribadian, yang sekaligus
menjadi dasar dalam menerapkan asumsiasumsinya terhadap proses
konseling.
C. KONSEP
Untuk memahami lebih luas pandangnnya tentang manusia perlu
memahami cara pandang Rogers tentang kepribadian. Rogers mengungkapkan
bahwa terdapat tiga unsur yang sangat esensial dalam hubungannya dengan
kepribadian, yaitu self, medan fenomenal, dan organisme.
Self adalah bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan
Rogers. Self disebut pula struktur self atau self concept merupakan persepsi
dan nilainilai individu tentang dirinya atau halhal lain yang berhubungan
dengan dirinya. Self merupakan suatu konsepsi yang merupakan persepsi
mengenai dirinya I atau me dari persepsi hubungan dirinya dengan orang
lain dengan segala aspek kehidupannya.
Self meliputi dua hal, yaitu self riil (real self) dan self ideal (ideal self).
Real self merupakan gambaran sebenarnya tentang dirinya yang nyata, dan
ideal self merupakan apa yang menjadi kesukaan, harapan, atau yang
idealisasi tentang dirinya.
Medan fenomenal merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang
diterimanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pengalaman yang
meliputi peristiwaperistiwa yang diperoleh dari pengamatan dan dari apa
yang pernah dilakukan individu. Pengalaman ada yang bersifat internal yaitu
persepsi mengenai dirinya sendiri dan pengalaman yang bersifat eksternal

yaitu persepsi mengenai dunia luarnya. Pengalamanpengalaman ini berbeda


antara individu satu dengan lainnya, dan dapat menjadi self.
Kita dapat memahami medan fenomenal seseorang hanya dengan
menggunakan kerangka pemikiran internal individu yang bersangkutan.
Pemahaman secara empati, sebagai bentuk internal frame of reference, sangat
berguna dalm memahami medan fenomenal ini.
Organism merupakan keseluruhan totalitas individu, yang meliputi
pemikiran, perilaku, dan keadaan fisik. Organism mempunyai satu
kecenderungan

dan

dorongan

dasar,

yaitu

mengaktualisasikan,

mempertahankan, dan mengembangkan diri. Perilaku itu merupakan usaha


organism yang berarah tujuan (goal directed) yaitu untuk memuaskan
kebutuhankebutuhan

sebagaimana

dialaminya

dan

dalam

medan

sebagaimana yang diamatinya. Dalam hubungan ini emosi menyertai pada


umumnya memberikan fasilitas perilaku berarah tujuan itu. Kebanyakan cara
cara berperilaku yang diambil orang adalah yang selaras dengan konsep self.
Organism bereaksi terhadap medan fenomenal sebagaimana medan itu
dialami dan diamati. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan
(realitas). Organism bereaksi terhadap medan fenomenal sebagai keseluruhan
yang terorganisasi.
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus
menerus antara organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami
perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian
sebagaimana berikut ini.
1.

Kecenderungan Mengaktualisasi

Rogers beranggapan bahwa organism manusia adalah unik dan memiliki


kemampuan

untuk

mengarahkan,

mengatur,

menontrol

dirinya,

dan

mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, manusia berkecenderungan


untuk mengaktualisasikan diri, yaitu untuk mengembangkan seluruh

kemampuannya dengan jalan memelihara dan meningkatkan organisme ke


arah otonomi. Kecenderungan mengaktualisasikan diri ini sifatnya terarah,
konstruktif, dan ada dalam kehidupannya. Kecenderungan mengaktualisasi
sebagai daya dorong (motive force) individu yang bersifat inherent, karena
sudah dimiliki sejak dilahirkan, hal ini ditunjukkan dengan kemampuan bayi
untuk memberikan penilaian apa yang terasa baik (actualizing) dan yang
terasa tidak baik(nonaktualizing) terhadap peristiwa yang diterimanya.

2.

Penghargaan Positif dari Orang Lain

Self berkembang dari interaksi yang dilakukan organisme dengan realitas


lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu.
Lingkungan sosial yang sangat berpengaruh adalah orangorang yang
bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan
berkembang secara positif didalam berinteraksi itu mendapat penghargaan,
penerimaan, dan cinta dari orang lain (positive regard).
Sepanjang berinteraksi dengan orang lain itulah individu membutuhkan
penghargaan secara positif. Jika kebutuhan ini diperolehnya, maka individu
juga akan belajar dan merasakan dirinya sebagai orang yang berharga, dapat
menerima dan mencintai dirinya sendiri (self regard). Memperoleh
penghargaan positif dari orang lain tanpa syarat dan penghargaan diri secara
positif pada hakikatnya adalah kebutuhan setiap individu (Pescitelli, 1997).
Tentunya penghargaan positif yang diberikan kepada individu tidak diberikan
dengan cara memaksa atau bersyarat (condition of worth). Pemberian
penghargaan yang bersyarat akan menghambat pertumbuhannya.
3.

Person yang Berfungsi Secara Utuh

Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif


tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi
yang kongruensi antara self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat

mencapai penyesuaian psikologis secara baik. Rogers menegaskan bahwa


orang yang demikian ini menjadi pribadi yang berfungsi secara sempurna
(fully functioning person), yang ditandai oleh keterbukaan terhadap
pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat mengekspresikan
perasaanperasaannya secara bebas, bertindak mandiri, dan kreatif. Fully
functioning ini pada dasarnya sebagai tujuan kehidupan manusia.
D. ASUMSI KEPRIBADIAN SEHAT/TIDAK SEHAT
Menurut Rogers, pembentukan self Berhubungan dengan pengalamannya.
Hubungan self dengan pengalaman Seseorang pada dasarnya dapat
diklasifikasikan menjadi tiga Kelompok, yaitu (1) kongruensi (keselarasan),
pengalaman yang sesuai dengan self (2) Tidak kongruen (uncongruence),
pengalaman yang tidak sesuai dengan self dan (3) self yang tidak memiliki
hubungan dengan pengalaman. Self yang sesuai dengan pengalaman biasanya
oleh individu dilambangkan, diakui dan dinyatakan atau disimbolisasikan.
Self yang tidak sesuai dengan pengalaman akan didistorsi dan ditolak.
sedangkan diri yang tidak memilik hubungan dengan pengalaman akan
diabaikan.
Bagaimana diri terbentuk pada seseorang? menurut rogers, self terbentuk
melalui dua proses, yaitu dengan proses asimilasi dan proses introyeksi.
Proses asimilasi adalah proses pembentukan self yang terjadi karena akibat
pengalaman langsung individu. Dengan pengalaman tersebut langsung.
Dengan pengalaman tersebut individu menyusun konsep dirinya tentang siapa
dirinya. Sepanjang hidupnya setiap individu memiliki pengalaman tertentu
dan pengalaman-pengalaman itulah sedikit demi sedikit terdiferensiasi
sebagai self-nya.
Proses Interoyeksi merupakan proses pembentukan Struktur self yang
Terjadi karena adanya interaksi individu dengan orang lain atau lingkungan
sekitar. biasanya interoyeksi diperoleh melalui interaksi dengan orang- orang

terdekat. berdasarkan penilaian orang lain tentang dirinya, dan individ itu
menyetujui apa yang dinilai itu maka struktur self itu membentuk.
Pengalaman seseorang baik pengalaman sendiri maupun pengalaman hasil
interaksi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya tidak selalu
membentuk struktur self individu. Pengalaman-pengalaman yang dapat
terdiferensiasi sebagai struktur self adalah pengalaman- pengalaman yang
sesuai dengan struktur self adalah pengalaman-pengalaman yang sesuai
dengan struktur self, sedangkan pengalaman yang tidak sesuai akan ditolak
(denied) atau kaburkan (distortion). Menurut Rogers Pengalaman yang
didistorsi adalah pengalaman yang disadari tetapi hanya dalam bentuk yang
dibuat konsisten atau sesuai dengan konsep diri yang diimajinasi. Sedangkan
pengalaman yang ditolak merupakan pengalaman yang tidak diakui sebagai
sebagai bagian dari dirinya dan/atau tidak diakui sebagai hal yang telah
dilakukan. Distorsi atau penolakan pengalaman dilakukan untuk menjaga
integritas struktur selfnya yang telah terbentuk(Hjelle dan Ziegler, 1981).
Pribadi dengan penyesuaian baik sangat erat hubungannya dengan
pengalaman individu,

yaitu segenap pengalamannya diasimilasikan dan

disadari ke dalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self. Sebaliknya,


penyesuaian psikologis yang salah terjadi apabila konsepsi self menolak
menjadi sadar pengalaman, yang selanjutnya tidak dilambangkan dan tidak
diorganisasikan ke dalam struktur self secara utuh.
Menurut Rogers cara mengubah dan perhatian terhadap proses perubahan
kepribadian jauh lebih penting daripada karakteristik kepribadian itu sendiri.
Baginya focus dalam masa sekarang itu lebih baik daripada mengingat
kembali lagi pada masa lampau, karena bagi Rogers kejadian masa lampau
akan sangat mempengaruhi kepribadian. Selain itu Rogres memiliki
pandangan-pandangan khusus mengenai kepribadian, yang sekaligus menjadi
dasar dalam menerapkan asumsiasumsi terhadap proses konseling. Menurut

Rogres terdapat tiga unsur yang sangat esensial dalam hubungan dengan
kepribadian, yaitu, self, medan fenomenal,dan organisme.
Rogers membagi Kepribadian menjadi dua bagian, yaitu :
1. Karakteristik Pribadi Sehat Pribadi yang sehat menurut konseling berpusat
pada person (Person Centered) adalah :
1. Kapasitas untuk memberikan toleransi pada apapun dan siapapun.
2. Menerima dengan senang hati hadirnya ketidakpastian dalam hidup.
3. Mau menerima diri sendiri dan orang lain.
4. Spontanitas dan Kreatif.
5. Kebutuhan untuk tidak dicampuri orang lain dan menyendiri (privacy).
6. Otonomi; kapasitas untuk menjalin hubungan antar pribad yang mendalam
dan akrab. 7. Mempunyai kepedulian yang tulus pada orang lain.
8. Mempunyai rasa humor.
9. Terarah dalam diri sendiri.
10. Mempunyai sikap terbuka dalam hidup.
2. Karakteristik Pribadi yang Tidak sehat Karakteristik Pribadi yang
Menyimpang menurut Person Centered adalah:
1. Adanya ketidaksesuaian antara persepsi diri dan pengalamannya yang riil.
2. Adanya ketidaksesuaian antara bagaimana dia melihat dirinya (self concept)
dan kenyataan atau kemampuannya.
E. HAKIKAT DAN TUJUAN KONSELING
1. HAKIKAT
Manusia dalam pandangan Rogers adalah bersifat positif. Ia mempercayai
bahwa manusia memiliki dorongan kuat untuk selalu bergerak kemuka, berjuang

untuk berfungsi, kooperatif, konstruktif dan memiliki kebaikan pada inti


terdalam tanpa perlu mengendalikan
dorongan-dorongan agresifnya. Selain itu Rogers juga beranggapan bahwa
manusia

memiliki

kemampuan

untuk

membimbing,

mengatur

dan

mengendalikan dirinya sendiri. Hakikat manusia menurut Rogers adalah sebagai


berikut :
1. Manusia cenderung untuk melakukan aktualisasi diri, hal ini dapat dipahami
bahwa organisme akan mengaktualisasikan kemampuanya dan memiliki
kemampuan untuk mengarahkan dirinya sendiri.
2. Perilaku manusia pada dasarnya sesuai dengan persepsinya tentang medan
fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi.
Oleh karena itu, persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subjektif.
3. Manusia pada dasarnya bermanfaat dan berharga dan dia memiliki nilai-nilai
yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya.
4. Secara mendasar manusia itu baik dan dapat dipercaya, konstruktif tidak
merusak dirinya. Asumsi-asumsi tentang manusia ini secara prinsipil
menentukan tujuan dan prosedur konseling yang harus diperhatikan oleh
konselor yang berpusat pada person.
2. Tujuan
Dalam Corey (2013:94) disebutkan bahwa tujuan dasar terapi client
centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien
untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Rogers dalam Corey
(2013:94) menguraikan ciri-ciri orang yang bergerak ke arah menjadi
bertambah teraktualkan sebagai berikut: (1) keterbukaan pada pengalaman;
(2) kepercayaan terhadap organisme sendiri; (3) tempat evaluasi; (4)
kesediaan untuk menjadi suatu proses. Ciri-ciri tersebut merupakan tujuantujuan dasar terapi client centered.
a. Keterbukaan pada pengalaman
Keterbukan pada pengalaman perlu memandang kenyataan tanpa
mengubah bentuknya supaya dengan struktur diri yang tersusun lebih
dulu. Sebagai lawan dari kebertahanan, keterbukaan pada pengalaman
menyiratkan menjadi lebih sadar terhadap kenyataan sebagaimana

kenyataan itu hadir di luar dirinya. Hal ini berarti juga bahwa
kepercayaan-kepercayaan individu tidak kaku dan individu memiliki
kesadaran atas diri sendiri pada saat sekarang serta kesanggupan
mengalami dirinya dengan cara-cara yang baru.
b. Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam
membangun rasa percaya terhadap diri sendiri. Sering kali saat klien
datang untuk terapi, ia memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang kecil
untuk memutuskan sesuatu. Dengan meningkatnya keterbukaan klien
pada pengalaman-pengalamannya, kepercayaan klien kepada dirinya
sendiri pun mulai timbul.
c. Tempat evaluasi
Tempat evluasi internal yang brkaitan dengan kepercayaan diri,
berarti lebih banyak mencari jawaban-jawaban pada diri sendiri bagi
masalah-masalah keberadaannya. Individu menetapkan standar-standar
tingkah laku dan melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat
putusan-putusan dan pilihan-pilihan bagi hidupnya.
d. Kesediaan untuk menjadi suatu proses
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian, yang merupakan
lawan dari konsep tentang diri sebagai produk, sangat penting. Klien
dalam terapi berada dalam proses pengujian persepsi-persepsi dan
kepercayaan-kepercayaan

serta

membuka

diri

bagi

pengalaman-

pengalaman baru dan revisi-revisi alih-alih menjadi wujud yang


membeku.
Dari uraian di atas terapis tidak memiliki tujuan khusus bagi klien.
Tonggak terapi client centered adalah anggapannya bahwa klien dalam
hubungannya dengan terpais yang menunjang, memiliki kesanggupan untuk
menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri.
F. PERAN DAN FUNGSI KONSELOR
Dalam konsling berpusat pada person harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
1. Menciptakan hubungan yang bersifat permisif.

Maksud dari permisif adalah konselor harus menciptakan hubungan yang


penuh dengan kehangatan, penerimaan, pengertian dan terhindar darisegala
bentuk ketegangan. Hal ini dapat dilakukan secara verbal maupun non-verbal.
2. Mendorong pertumbuhan pribadi
Fungsi konselor dalam konseling berpusat pada klien bukan hanya membantu
klien agar terlepas dari masalah-masalah yang dihadapinya akan tetapi lebih
dari itu konselor juga berfungsi untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan klien, dengan menjadikan klien lebih dewasa dan tenang dalam
menghadapi masalah dikemudian hari.
3. Mendorong kemampuan memecahkan masalah
Konselor dalam hal ini berfungsi untuk membantu klien agar ia
mengembangkan

kemampuannya

untuk

memecahkan

masalah

yangdihadapinya.
G. TAHAP TAHAP KONSELING
Pada garis besarnya langkah-langkah proses konseling yang berpusat pada
klien adalah sebagai berikut :
a. Konseli datang kepada konselor atas kemauannya sendiri atau atas saran
orang lain. Apabila konseli datang atas saran orang lain, maka konselor harus
mampu menciptakan situasi yang nyaman dan permisif agar konseli dapat
menentukan untuk tetap mengikuti
konseling daripada membatalkannya.
b. Situasi konseling sejak awal menjadi tanggung jawab konseli, sehingga
konselor berperan untuk mengarahkan konseli.
c. Konselor mendorong konseli untuk mampu mengungkapkan pikiran,
perasaan, bersikap ramah, bersahabat dan menerima konseli apa adanya.
d. Konselor menerima dan memahami konseli.
e. Konseli berupaya agar konseli mampu menerima dirinya sendiri (Self
accepince)
f. Konseli menentukan pilihan sikap.
g. Konseli merealisasikan pilihannya.

Jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan konseling,
dapat dijabarkan bahwa proses hubungan konseling dapat proses konseling
dapat dibagi menjadi empat tahap(corey, 1998), yaitu:19
Tahap pertama : klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kogruensi,
mengalami kecemasan atau kondisi penyesuain diri yang tidak baik.
b) Tahap kedua : saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat
memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang sedang dialami, dan
menemukan jalan atas kesulitankesulitannya.
Perasaan yang ada pada klien adalah ketidakmampuan mengatasi masalah
hidupnya. Tahap ketiga : pada awal konseling klien menunjukan prilaku,
sikap, dan persaan yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami
kepada konselor secara permukaan dan belum menyetakan pribadi yang
dalam. Dengan kondisi yang diciptakan konselor kondusif dengan sikap
empati

dan

penghargaan,

konselor

terus

membantu

klien

untuk

mengeksplorasi dirinya secara lebih terbuka. Jika hal ini berhasil maka klien
mulai menunjukan sikap yang lebih menyatakan diri yang sesungguhnya.
d) Tahap keempat : inilah klien mulai menghilangkan sikap dan prilaku yang
kaku, membuka diri terhadap pengalamannya,dalam belajar untuk bersikap
lebih matang dan teraktualisasi, dengan jalan menghilangkan pengalaman
yang didistrosinya
H. TEKNIK
Teknik yang digunakan dalam konseling yang berpusat dalam pribadi (person
centered counseling) berbeda dengan teknik-teknik konseling yang lainnya.
Perbedaannya adalah bahwa terapi atau konselor lain sering berfokus pada sesuatu
yang klien dapat lakukan atau ungkapkan selama sesi terapi/konseling, sedangkan
teknik yang digunakan dalam konseling yang berpusat dalam pribadi dilakukan
oleh terapi/konselor dengan cara menciptakan lingkungan yang memfasilitasi
proses kesadaran diri (self-awareness). Teknik-teknik konseling yang dapat
digunakan dalam person centered counseling berupa congruence, unconditional
positive regard and acceptance, empathy, and reflection of feelings. Dalam
beberapa sumber dijelaskan seorang konselor wajib menguasai 3 teknik utama

untuk dapat menerapkan konseling yang berpusat dalam pribadi, yaitu


Congruence (Kesesuaian), yaitu keaslian, seseorang kongruen perilaku dengan
emosi, Empathy (empati), yaitu kemampuan untuk melihat dunia dari perspektif
klien, dan Unconditional Positive Regard (Penerimaan tanpa syarat), yaitu
kemampuan untuk menerima diri klien secara utuh tanpa melihat adanya
kekurangan yang ada pada diri klien.
1. Congruence
Congruence atau kongruensi adalah apakah atau tidaknya seorang konselor
berperilaku sesuai dan otentik dalam apa yang mereka katakan dan lakukan.
Cukup sering, jika seorang konselor mengatakan satu hal tapi bahasa tubuh
mencerminkan sesuatu yang lain, jika klien menyadari hal ini, maka dapat
berdampak pada kepercayaan mereka dan keterbukaan dalam hubungan terapeutik
(Seligman, 2006 dalam Garret). Misalnya, konselor mungkin mengatakan "Saya
mengerti darimana anda berasal" ke klien tapi lihat bingung di wajah nya. Klien
dapat melihat kebingungan ini dan merasa tidak nyaman dengan mengekspresikan
perasaan dari titik ini hingga kedepannya.
Oleh karena itu, peran utama dari konselor adalah untuk menyadari bahasa
tubuh mereka dan apa yang mereka katakan serta berada di saat konseling
berlangsung. Jika kebingungan muncul, konselor harus mampu untuk mengatasi
hal ini dengan klien. Jika melihat contoh sebelumnya, konselor menyatakan
pemahaman akan tetapi memiliki ekspresi yang bingung, konselor menyadari
akan klien yang tampak gelisah setelah konselor berkomentar tentang
pemahaman. Maka konselor harus menjelaskan kepada klien mengapa dan
bagaimana ia dapat mengerti pernyataan itu. Hal ini menempatkan klien akan
perasaan nyaman dan memastikan kelanjutan kepercayaan kepada konselor.
2. Unconditional positive regard
Unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat mengacu pada
terapis/konselor mengacu terapis untuk menerima, menghormati dan peduli
tentang klien. Hal ini tidak berarti konselor harus setuju dengan semua perkataan

klien atau yang klien lakukan, bagaimanapun konselor harus melihat klien sebagai
individu dalam berusaha melakukan yang terbaik yang dia bisa dan menunjukkan
ini dengan mengungkapkan keprihatinan daripada tidak setuju dengan apa yang
klien ungkapkan. Penerimaan tanpa syarat memungkinkan klien untuk
mengungkapkan bagaimana mereka berpikir tanpa merasa dihakimi, dan
membantu untuk memfasilitasi proses perubahan dengan menunjukkan bahwa
mereka dapat diterima.
3. Empathy
Empathy atau empati adalah keterampilan yang digunakan dalam konseling
berpusat pada pribadi

untuk menunjukkan pemahaman tentang emosi klien.

Empati berbeda dengan simpati, simpati sering dilihat sebagai cara pengungkapan
mengasihani

klien

sedangkan

empati

menunjukkan

pemahaman

dan

memungkinkan klien untuk lebih terbuka. Contoh berikut:


Klien

: Saya merasa seolah-olah tidak ada yang peduli


tentang saya dan saya selalu sendirian.

Tanggapan empati : Jadi Anda merasa sendirian saat ini dan seakan
tidak ada yang peduli.
Tanggapan simpati : Saya prihatin bahwa Anda merasa seperti itu.

4. Nondirectiveness
Konseling yang berpusat dalam pribadi menggunakan nondirectiveness
sebagai

teknik

oleh

terapis/konselor

nya.

Nondirectiveness

mengacu

memungkinkan klien menjadi fokus dari sesi terapi/konseling tanpa terapis


memberikan saran atau menerapkan strategi atau kegiatan.
Teknik lainnya
Teknik lain yang digunakan konseling yang berpusat dalam pribadi meliputi
Reflection of feelings , Open Questions, Paraphrasing, dan Encouragers. Contoh
teknik:

Reflection of feelings (Refleksi perasaan)


Klien: Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya jadi bingung dan marah.
Konselor: Jadi Anda merasa bingung dan marah.
Open Questions (Pertanyaan terbuka)
Klien: Saya mengalami kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu dan orang lain
keluar dan mulai mencaci maki saya.
Konselor: Dan apa yang anda rasakan?
Paraphrasing (Parafrase)
Klien: Saya telah merasa tertekan selama 2 bulan terakhir sejak saya putus dengan
pacar saya. Saya mengalami kesulitan tidur dan tidak bisa berkonsentrasi di
tempat kerja.
Konselor: Jadi perasaan depresi berdampak pada kehidupan sehari-hari Anda.
Encouragers
Klien: Itu membuat saya serasa ingin menangis, saya tidak tahu apa yang harus
dilakukan.
Counsellor: Hmm ....
5. PENERAPAN
Menurut Corey dalam Garret, Konseling yang berpusat dalam pribadi dapat
diterapkan untuk individu, kelompok dan keluarga. Konseling yang berpusat
dalam pribadi telah berhasil mengobati masalah termasuk gangguan kecemasan,
alkoholisme, masalah psikosomatik, agoraphobia, kesulitan interpersonal, depresi,
dan gangguan kepribadian (Bozrath, Zimring & Tausch, seperti dikutip Corey,
2005 dalam Garret). Hal ini juga bisa digunakan dalam konseling pada individu
dengan kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit atau kehilangan orang yang
dicintai. Bila dibandingkan dengan terapi lain seperti terapi tujuan-terfokus (goalfocused therapies), Konseling yang berpusat dalam pribadi telah terbukti efektif
bagi mereka (Corey, 2005 dalam Garret).

J. KELEMAHAN DAN KELEBIHAN


Teori Konseling Client-Centered memiliki kelebihan dan juga kekurangan.
Kelebihan dari teori konseling Client-Centered yaitu pemusatan pada klien dan
bukan pada therapist, identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama
dalam mengubah kepribadian, lebih menekankan pada sikap terapi daripada
teknik, memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan
kuantitatif, Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi,
menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis, klien memiliki
pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan
masalahnya, klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh
ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi. Sedangkan kekurangan dari
teori konseling client-centered ini yaitu terapi berpusat pada klien dianggap terlalu
sederhana, terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan, tujuan untuk
setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga
sulit untuk menilai individu, tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang
berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya, sulit bagi therapist untuk
bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonall, terapi menjadi tidak efektif
ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif, minim teknik untuk membantu klien
memecahkan masalahnya sehingga tidak bisa digunakan pada penderita
psikopatologi yang parah.
Dalam Corey (2013:110) disebutkan bahwa terapi client centered
memberikan sumbangan-sumbangan berikut: jauh lebih aman dibanding dengan
model-model terapi lain, memberikan jaminan yang lebih realistis bahwa para
calon klien tidak akan mengalami kerugian, memberikan landasan humanistic
bagi usaha memahami dunia subjektif klien, klien bisa menjadi diri sendiri,
menyajikan

umpen

balik

langsung

dan

khas

dari

apa

yang

baru

dikomunikasikannya, klien bisa menigkatkan sendiri keseluruhan tindakan yang


dialaminya.
Kelemahan model client centered terletak pada cara sejumlah praktisi
menyalahtafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi client

centered. Kemudian adanya jalan yang menyebabkan sejumlah praktisi menjadi


terlalu terpusat pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai
pribadi yang unik.

BAB III
KESIMPULAN
.A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian materi yang telah dibahas, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Person centered therapy menggunakan sedikit teknik, akan tetapi menekankan
sikap konselor. Teknik dasar adalah mencakup mendengar dan menyimak secara
katif, refleksi, klarifikasi, being here bagi klien.
2. Konseling berpusat pada klien tidak menggunakan tes diagnostik, interpretasi,
studi kasus dan kuesioner untuk memperoleh informasi.
3. Keberhasilan terapi tergantung kepada faktor-faktor tingkat gangguan psikis,
struktur biologis klien, lingkungan hidup klien dan ikatan emosional.
4. Bentuk implikasi person centered therapy ini ialah seperti kelompok
pertumbuhan pribadi, kelompok kesadaran sensori, kelompok sensitivitas, dan
kelompok relasi manusia. Kelompok ini menekankan pentingnya emosi dan
kecocokan (congruence) dalam interaksi manusia Pendekatan ini lebih
menekankan pada kelompok-kelompok kecil.
5. Premis-premis terapi kelompok yang berpusat pada orang kerja kelompok ini
didasarkan atas kepercayaan terhadap sumber-sumber dalam diri individu yang
siap ditumbuh-kembangkan dalam kelompok sehingga dapat mengembangkan
potensi anggota tanpa diarahkan pada tujuan tertentu oleh pemimpin kelompok.
B. SARAN
1. Terlalu menekankan pada aspek afektif, emosinal, perasaan sebagai penentu
perilaku, tetapi melupakan faktor intelektif, kognitif, dan rasional.
2. Penggunaan informasi untuk membantu klien tidak sesuai dengan teori.
3. Tujuan setiap klien yaitu memaksimalkan diri dirasa terlalu luas, umum, dan
longgar sehingga sulit untuk menilai setiap individu.

DAFTAR PUSTAKA
J & S Garrett. Person-Centred Threapy a Guide To Counseling Therapies (DVD).
Journal. Australian Instute of Professional Counsellors.
Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling
di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000),

Latipun, Psikologi Konseling,(Malang: UMM, 2001)


Corey, Gerald. 2013. Teori dan paktek konseling & psikoterapi. Aditama:
Bandung