Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan
biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan
dengan menggunakan mesin hemodialisis. Hemodialisis merupakan salah
satu bentuk terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy/RRT) dan
hanya menggantikansebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Hemodialisis
dilakukan pada penderita PGK stadium V dan pada pasien dengan AKI
(Acute Kidney Injury) yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Menurut
prosedur yang dilakukan HD dapat dibedakanmenjadi 3 yaitu: HD
darurat/emergency, HD persiapan/preparative, dan HD kronik/reguler
(Daurgirdas et al., 2007).
Haemodialisis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum
dan zat beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dializer yang
berisi membrane yang selektif-permeabel dimana melalui membrane tersebut
fusi zat-zat yang tidak dikehendaki terjadi. Haemodialisa dilakukan pada
keadaan gagal ginjal dan beberapa bentuk keracunan. Banyak yang merasa
tidak nyaman dan ragu-ragu saat-saat pertama dilakukan hemodialisa. Saat
dilakukan hemodialisa akan merasa lelah setelah selesai dilakukan
hemodialisa terutama bila baru beberapa kali hemodialisa. Tetapi setelah
beberapa kali di lakukan hemodialisa maka cairan yang berlebih dan racun
dari tubuh akan berkurang dan akan merasa kembali bertenaga. Tindakan HD
saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, namun masih banyak
penderita mengalami masalah medis saat menjalani HD.
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita yang menjalani HD adalah
gangguan hemodinamik (Landry dan Oliver, 2006).
Gangguan hemodinamik saat HD juga bisa berupa peningkatan tekanan
darah. Dilaporkan Sekitar 5-15% dari pasien yang menjalani HD reguler
tekanan darahnya justru meningkat saat HD. Kondisi ini disebut hipertensi
intradialitik (HID) atau intradialytic hypertension. Hipertensi intradialitik
adalah suatu kondisi berupa terjadinya peningkatan
tekanan darah yang menetap pada saat HD dan tekanan darah selama dan
pada saat akhir dari HD lebih tinggi dari tekanan darah saat memulai HD.
Tekanan darah penderita bisa normal saat memulai HD, tetapi kemudian
meningkat sehingga pasien menjadi hipertensi saat dan pada akhir HD.
(Chazot dan Jean, 2010).
Pada pasien dengan gagal jantung biasanya dengan tekanan darah yang
rendah, saat HD juga terjadi peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan
darah pada pasien ini tidak mencapai level hipertensi seperti pada pasien yang
tidak gagal jantung. Peningkatan tekanan darah ini juga meningkatkan risiko
kematian dengan peningkatan 10 mmHg saat HD, walaupun tekanan darah
sistolik (TDS) pra HD 120 mmHg (Inrig et al., 2009).

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang di maksud dengan Hemodialisa ?
2. Bagaimana kegawatdaruratan pada Hemodialisa ?

C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Hemodialisa
2. Mengetahui Kegawatdaruratan pada Hemodialisa

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan
biokimiawi darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal,
dilakukan dengan menggunakan mesin hemodialisis (Daurgirdas et al.,
2007). Haemodialisis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti
ureum dan zat beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat
dializer yang berisi membrane yang selektif-permeabel dimana melalui
membrane tersebut fusi zat-zat yang tidak dikehendaki terjadi (Landry dan
Oliver, 2006).

B. Kegawatdaruratan Hemodialisa
1. Komplikasi
a. Ketidakseimbangan Cairan
Adalah penting untuk mengevaluasi keseimbangan cairan sebelum
dialisi sehingga tindakan korektif dapat dilakukan pada awal prosedur.
Alat pemantauan seperti tekanan arteri pulmonal juga diperlukan
dalam menentukan kelebihan cairan kardiovaskuler. Istilah berat badan
kering digunakan untuk mengekspresikan berat badan dimana volume
cairan ada pada batas normal yang bebas dari gejala-gejala
ketidakseimbangan cairan. Gambaran tersebut bukan hal yang absolute
tetapi memberikan pedoman untuk pembuangan atau penggantian
cairan. Hal ini memerlukan peninjau dan perbaikan yang sering,
khususnya pada pasien yang baru didialisis, pada mereka yang sering
mengalami penurunan berat badan yang terjadi karena pembuangan
atau penumpukan cairan dan karena peningkatan atau kehilangan
jaringan.

b. Hipervolemia
Temuan-temuan berikut dapat mengisyaratkan adanya kelebihan
cairan : tekanan darah naik, peningkatan nadi dan frekuensi pernafasan,
peningkatan tekanan vena sentral, dipsneu, rales basah, batuk, edema,
peningkatan berat badan yang berlebihan dsejak dialisis terkhir, dan
riwayat atau catatan kelebihan masukan cairan dalam keadaan tidak
terdapat kehilangan yang adekuat. Pengobatan kelebihan cairan selama
dialisis ditujukan untuk membuang kelebihan air. Karena pembuangan
ini tergantung pada pertukaran cairan ke spasium vaskuler dari
kompartemen tubuh lain, perawatan harus dilakukan selama dialisis
untuk menghindari kehilangan cairan terlalu cepat yang menyebabkan
kekurangan cairan. Jadi, lebih baik untuk mengurangi volume kelebihan
cairan selama periode dua atau tiga dialisis, kecuali kongestif paru.
c. Ultrafiltrasi
Kelebihan air dibuang dari kompartemen vaskuler melalui proses
ultrafiltrasi. Pada beberapa sistem dialisis yang lebih baru digunakan
membran yang sangat permeabel, ultrafiltrasi dapat berlebihan dan
harus ditangani dengan segera. Sistem ini dilengkapi dengan pemantau
kontrol volumetrik, yang membatasi ultrafiltrasi dengan mengontrol
ukuran bilik ultrafiltrasi dan dengan konstan pemantau pembungan
cairan yang terkumpul. Gejala-gejala ultrafiltrasi berlebihan dapat mirip
dengan gejala-gejala yang terdapat pada shock, hipotensi, mual,
muntah, berkeringat, pusing dan pingsan.
d. Hipovolemia
Pengkajian hipovolemi juga didasrakan pada evaluasi
kecnderunagn dalam tanda-tanda vital dan gejala- gejala. Petunjuk
terhadap hipovolemia meliputi penurunan tekanan darah, peningkatan
frekuensi nadi dan pernafasan, turgor kulit buruk, mulut kering, tekanan
vena sentral menurun dan penurunan haluaran urin. Riwayat kehilangan
banyak cairan melalui berkeringat banyak, muntah, diare dan
penghisapan lambung yag menimbulkan kehilangan berat badan yang
nantinya mengarah ke diagnosa keperawatan kekurangan cairan.
Pada pasien hipovolemi perawat dapat menghubungkan selang
darah balik vena langsung dan menginfuskan cairan normal salin ke
dalam tubuh pasien. 200 ml cairan dapat mencukupi untuk memulihkan
keseimbangan atau setidaknya mencegah hipotensi lebih lanjut.
e. Hipotensi
Hipotensi selama dialisis dapat disebabkan oleh hipovolemia,
ultrafiltrasi berlebihan, kehilangan darah ke dalam dialiser,
inkompatibilitas membran pendialisa, dan terapi obat anti hipertensi.
Hipotensi pada awal dialisis dapat terjadai pada pasien dengan volume
darah sedikit, seperti pada anak-anak dan pada orang dewasa yang
kecil. Hipotensi lanjut pada dialisis biasanya karena ultrafiltrasi
berlebihan atau terlalu cepat.
f. Hipertensi
Penyebab hipertensi yang paling sering selama dialisis adalah
kelebihan cairan, sindrom disekuilibrium, respon renin terhadap
ultafiltrasi, dan ansietas. Hipertensi selama dialisis biasanaya
disebabkan oleh kelebihan natrium dan air. Hal ini dapat diperkuat
dengan membandingkan berat badan pasien sekarang dengan berat
badan ideal, bila kelebihan cairan sebagai penyebab hipertensi
ultrafiltrasi biasanya akan mengurangi tekanan darah.
g. Sindrom Disekuilidrium Dialisis
Sindrom Disekuilidrium Dialisis dimanifestasikan oleh
sekelompok gejal-gejala yang diduga disfungsi serebral. Rentang
beratnya gejala-gejala dari mual ringan, muntah, sakit kepala, dan
hipertensi sampai agitasi, kedutan, kekacauan mental dan kejang.
Diperkirakan bahawa dialisis cepat, yang efisien dihasilkan pada
perpindahan air, pH, dan osmolalitas antara cairan serebral spinal dan
darah yang menyebabkan gejala-gejala.
h. Ketidakseimbangan Elektrolit
Dengan kecenderungan dialisi dini dan adekuat, ketidakseimbanga
elektrolit yang sangat berat tidak terlihat dalam frekuensi yang sama
sebelum penggunaan hemodialisis yang kuat. Memepertahanakan dan
penggantian keseimbangan elektrolit pada pasien dialisis dicapai
terutama dengan dialisis dan memeperkecil derajat kontrol diet.
Elektrolit merupakan perhatian utama dalam dialisis yang normalnya
dikoreksi selama prosedur adalah :
1) Natrium serum
Meskipun natrium serum yang berlebihan biasanya tidak terlihat
pada pasien yang menjalani dialisis adekuat, rasa haus dapat
merupakan indikasi kelebihan natrium. Pasien yang kehausan karena
asupan natrium berlebihan akan meminum air dalam jumlah besar
yang akan menimbulkan hipertensi dan kelebihan cairan.
2) Kalium
Penurunan kadar kalium dengan cepat selama dialisis dapt
menimbulkan hipokalemia, dapat meningkatkan efek digitalis, dan
kemungkinan dapat serius dan kadang-kadang disritmia fatal.
3) Bikarbonat
Bikarbonat melindungi tubuh dari kelebihan asam. Selama dialiasi,
asidosis dikoreksi dengan menambahkan baik asetat atau bikarbonat
pada dialisa. Asetat berdifusi ke dalam darah, tempat dimetabolisme
menjadi bikarbinat. Ini merupakan bentuk dasar dari bufer yang
digunakan pada kosentrat dialiasis.
4) Kalsium
Kalsium dialisa dipertahankan 3 3,5 mEq/L untuk mencegah
kehilangan kalisum dari darah ke dialisat.
5) Fosfor
Menurunkan fosfor serum, mengurangi resiko ketidakseimbangan
kalsium-fosfor dan mengakibatkan masalah tulang. Kadar fosfor
serum yang tinggi menendakan bagi perawat bahwa pasien tidak
meminum pengikat fosfat atau meminumnya pada waktu tidak tepat.
6) Magnesium
Magnesium umumnya dipertahankan pada kadar yang dapat diterima
selama dialisis teratur, tetapi asupannya harus dibatasi sehingga
gejala-gejala hipermagnesenia dapat dihindari.
i. Infeksi
Pasien uremik mengalami penurunan resisten terhadap infeksi,
yang diperkirakan karena penurunan respon imunologik. Teknik-teknik
keperawatan yang mencegah atau mengurangi komplikasi paru tidak
dapat diabaikan selama prosedur dialisis. Teknik-teknik tersebut
meliputi sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk, ambulasi dini,
humidifikasi adekuat, hidrasi, aspirasi thrakeal, penggunaan mesin
tekanan psotif intermitem dan terapi oksigen.
j. Perdarahan dan heperinisasi
Perdarahan selama dialisis mungkin karena kondisi medik yang
mendasari seperti ulkus atau gastritis atau mungkin akibat anti
koagulasi berlebihan. Heparin adalah obat pilihan karena pemberiannya
sederhana, meningkatkan masa pembekuan dengan cepat, dimonitor
dengan mudah dan mungkin berlawanan dengan protamin.
2. Trouble Shooting Pada Hemodialisa
Masalah-Masalah Peralatan
Salah satu dari tujuan utama dari unit dialisis adalah mencegah
komplikasi yang diakibatkan oleh tindakan itu sendiri. Hemodialisis
meliputi penggunaan alat berteknologi tinggi. Efisiensi dialisis, juga
keamanan dan kenyamanan pasien, dapat terganggu bila baik pasien
maupun peralatan tidak dipantau dengan adekuat. Alat pemantauan
dirancang untuk memantau beberapa parameter yang paling penting adalah
aliran, konsentrasi, dan udara dalam sirkuit dialisis.
a. Aliran Dialisat
Aliran dialisat yang tidak mencukupi tidak akan membahayakan
pasien, tetapi akan menggangu efisiensi dialisis. Alirannya
dipertahankan pada kecepatan yang dianjurkan untuk tiap tipe dialiser,
kecepatan aliran darah, atau metoda dialisis yang digunakan. Secara
tradisisonal aliran dialisis biasanya dipertahankan 500 ml/menit,
meskipun aliran lebih cepat dapat digunakan dalam efisiensi yang lebih
tinggi, dialisis singkat dimana aliran darah juga tinggi. Perawat
biasanya memeriksa aliran sedikitnya setiap jam dan membuat
penyesuaian bila diperlukan.
b. Konsentrat Dialisat
Perubahan mendadak atau cepat dalam konsentrasi dialisat dapat
mengakibatkan kerusakan sel darah merah dan gangguan serebral.
Gejala-gejala ringan termasuk mual, muntah, dan sakit kepala. Pada
kasus berat, dapat menyebabkan kekacauan mental, koma, dan
kematian. Bila ini terjadi, harus cepat dipikirkan terjadinya
ketidakseimbangan konsentrat dialisat. Bila pasien secara tidak sengaja
didialisis terhadap air atau larutan hipotonik, akan terjadi hemolisis dan
gejala-gejala pertama mungkin terasa nyeri hebat pada vena balik. Bila
ini terjadi segara hentikan dialisis.
c. Suhu
Kebanyakan sistem pemberian dialisat menggunakan elemen
pemanas untuk mempertahankan suhu dialisat pada tingkat optimal.
Suhu terlalu dingin dapat menyebabkan menggigil dan spasme
pembuluh darah. Pada beberapa kasus, penurunan suhu dialisat
mencapai 36oC mengurangi insiden hipotensi dan gejala-gejala lain
yang dapat terjadi selama pembuangan cairan dengan cepat. Suhu tinggi
dapat menyebabkan demam dan rasa tidak nyaman pada pasein
sementara suhu yang sangat tinggi dapat menyebabkan hemolisis.
d. Aliran Darah
Pemantauan yang adekuat terhadap kecepatan aliran darah dalam
dialisis penting untuk efisiensi dialisis. Hemodialisis biasanya
memerlukan kecepatan aliran darah 200-300ml/menit pada pasien
dewasa dan kecepatan aliran yang sedikit lebih rendah biasanya
diresepkan untuk anak-anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecepatan aliran darah adalah tekanan darah, fistula, dan fungsi kateter,
serta sirkuit ekstrakorporeal. Alarm tekanan tinggi menandakan masalah
pada selang darah vena. Alarm tekanan rendah mencerminkan adanya
obstruksi pada aliran darah dari pasien.

e. Kebocoran Darah
Detektor kebocoran darah akan sangat berarti bila aliran keluar
dialisat tidak terlihat, seperti pada sistem pemberian tunggal. Dialisis
biasanya segera dihentikan bila terjadi kebocoran besar. Bila pasien
mengalami anemia berat resiko kehilangan darah pada daliser akan
memperberat resiko reaksi terhadap darah yang terkontaminasi dialisat.
f. Emboli Udara
Resiko emboli udara adalah salah satu masalah keamanan pasien
yang paling serius pada unit hemodialisis. Udara dapat memasuki
sirkulasi pasien melalui selang darah yang rusak, kesalahan
menyambungkan selang darah, lubang pada kontainer cairan intravena,
atau perubahan letak jarum arteri yang tidak disengaja.
BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Hemodialisis adalah suatu usaha untuk memperbaiki kelainan biokimiawi
darah yang terjadi akibat terganggunya fungsi ginjal, dilakukan dengan
menggunakan mesin hemodialisis (Daurgirdas et al., 2007).
Komplikasi yang dapat terjadi pada hemodialisa yaitu ketidakseimbangan
cairan, hipervolemia, hipovolemia, hipotensi, hipertensi, sindrom
disekuilidrium dialisis, ketidakseimbangan elektrolit, infeksi dan perdarahan
dan heperinisasi. Salah satu dari tujuan utama dari unit dialisis adalah
mencegah komplikasi yang diakibatkan oleh tindakan itu sendiri.
Hemodialisis meliputi penggunaan alat berteknologi tinggi. Efisiensi dialisis,
juga keamanan dan kenyamanan pasien, dapat terganggu bila baik pasien
maupun peralatan tidak dipantau dengan adekuat. Alat pemantauan dirancang
untuk memantau beberapa parameter yang paling penting adalah aliran,
konsentrasi, dan udara dalam sirkuit dialisis.
DAFTAR PUSTAKA

Chan axe. (2013). Makalah hemodialisa. Terdapat pada http://wong-ndeso-


asli.blogspot.co.id/2013/09/makalah-hemodialisa.html. Diakses pada
tanggal 25 Oktober 2016 pukul 14.30 WIB.

Chazot, C., and Jean, G. 2010. Intradialytic Hypertension: It Is Time to Act.


Nephron Clin Pract;115:c18288.

Daugirdas, J.T., Blake, P.G., Ing, T.S. (2007). Handbook of Dialysis. 4th ed.
Phildelphia. Lipincott William & Wilkins.

Hudak, Carolyn M. (2006). Keperawatan kritis : Pendekatan holistik. Jakarta :


EGC.

Inrig, J.K., Patel, U.D., Toto, R.D., Szczech, L.A. (2009). AssLeeociation of
Blood
Pressure Increases During Hemodialysis With 2-Year Mortality in Incident
Hemodialysis Patients: A Secondary Analysis of the Dialysis Morbidity and
Mortality Wave 2 Study. Am J Kidney Dis, November ; 54(5): 88190.

Landry, D.W., and Oliver, J.A. (2006). Blood pressure instability during
hemodialysis. Kid Int: 69, 171011.