Anda di halaman 1dari 7

TUGAS RUMAH RESPONSI 1

Oleh :
Henggar Allest Pratama 122010101080

Pembimbing
dr. Bagas Kumoro , Sp.M

KSM ILMU PENYAKIT MATA RSD DR. SOEBANDI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
TUGAS RUMAH RESPONSI

1. Apa dasar diagnosis ulkus kornea pada kasus tersebut? Mengapa bisa terjadi semua
kornea berwarna hijau ( fluoresensi positif di semua lapang kornea)?
Prinsip fluoresin tes adalah zat warna fluoresin akan berwarna hijau jika terdapat defek
pada epitel kornea. Hal ini terjadi karena epitel yang rusak akan melepaskan lipid di
membrane sel. Fluoresin tes akan berubah warna menjadi kehijauan karena berikatan
dengan lipid tersebut..
Definisi ulkus kornea adalah adanya diskontinuitas jaringan yang lebih dalam dari epitel.
Sehingga apabila terwarnai fluoresin maka hanya teinya saja yang terwarnai, tengahnya
tidak karena defeknya lebih dalam dari epitel.
Pada kasus ini fluoresin meluas hingga ke seluruh lapangan kornea. Kemengkinannya
adalah ulkus yang terjadi di seluruh kornea namun telah terjadi epitelisasi yang belum
sempurna sehingga epitel yang belum terbentuk sempurna akan terwarnai pada fluoresin.
Fluoresin positif pada seluruh lapangan kornea menandakan adanya ulkus yang meluas
hingga ke seluruh lapangan kornea dalam waktu cepat. Berdasarkan onsetnya, ini
mengarahkan diagnose bakteri infeksi yang menyebabkan infeksi ini adalah
Pseudomonas. Pseudomonas dicirikan sebagai ulkus yang dapat menyebar dengan cepat
karena mampu memproduksi enzim proteolitik dan dapat menyebabkan melting ulcer.
Melting ulcer adalah hilangnya stroma secara progresif dalam waktu kurang dari 24 jam
akibat adanya proteolitik dan kolagenase yang dihasilkan oleh Pseudomonas. Namun
melihat hipopion yang terjadi sangat luas, juga mengarahkan bakteri penyebabnya kea rah
Streptococcus/Staphylococcus. Dapat dilakukan parasintesis untuk dilakukan kultur dan
pengecatan untuk mengetahui apakah hipopion tersebut steril ataukah ada kuman.

2. Apakah cefotaxime tidak boleh diinjeksikan secara intramuskuler/subkonjungtiva?


Cefotaksim bisa diberikan secara intramuskuler, selain juga dapat digunakan secara
intravena. Cara pemberian intravena adalah dengan dilarutkan dalam water for injection
sekurang-kurangnya 4 ml, disuntikkan pelan-pelan selama 3 sd 5 menit. Hal ini karena
sering disertai nyeri pada saat memasuki pembuluh darah, karena bersifat hiperosmotik.
Pemberian secara intramuskuler juga dapat diberikan, dengan catatan diberikan pada otot
gluteal yang tebal dan disuntikkan pada satu sisi tidak lebih dari 4 ml. Namun terdapat
kelemahan pada injeksi intramuskuler, yaitu efek yang muncul tidak secepat jika
diberikan secara intravena dan untuk penggunaan panjang tidak efektif karena lebih
menyakitkan. Pada umumnya obat yang dapat dimasukkan intravena dapat dimasukkan
intramuscular, namun obat tertentu (dengan bahan pelarut minyak misalnya) hanya
diberikan secaraintramuskuler agar efek terapi yang muncul lebih lama. Contoh :
sikzonoat yang bersifat minyak diberikan secara i.m agar efek terapinya panjang. Bisa
mencapai satu bulan.

3. Gentamisin bentuknya seperti apa?


Gentamisin tersedia dalam bentuk vial rata-rata dalam sediaan 2 ml, dengan 20mg/2ml
atau 40mg/2ml, 40mg/ml, 80mg/2ml, ada pula 800mg/20ml, dan adapula 100mg/ml
dalam 100ml (untuk kegunaan khusus metritis).
Gentamisin adalah antibiotic golongan aminoglikosida bekerja dengan menghambat
sintesis protein pada bakteri dengan berikatan dengan ribosom 30S dengan cara
menghambat kompleks pembentukan peptide, menyebabkan kesalahan pembacaan
mRNA, dan menguraikan polisom menjadi monosom.
Dosis :
Dewasa : 3-5 mg/kgBB/hari
Anak : 6-7,5 mg/kgBB/hari
Bayi : 7,5 mg/kgBB/hari
Terbagi dalam 3 dosis. Pada metritis (infeksi pada uterin) diberikan Gentamisin
100mg/ml 40-50 ml/hari selama 3-5 hari.

4. Apa terapi antinyeri jika alergi NSAID?


Untuk memahami terapi pada nyeri maka kita harus memahami perjalanan dari nyeri
tersebut. Nyeri dapat dirasakan melalui 4 tahap sebagai berikut :
a. Transduksi
Adalah tahap dimana terdapat stimulus dari tekanan, atau zat kimia yang akan diubah
menjadi suatu aktivitas listrik pada nerve ending (akhiran saraf). Rangsangan zat
kimia bias berupa komponen mediator nyeri seperti prostaglandin, bradykinin.
b. Transmisi
Adalah proses penjalaran impuls listrik mulai dari nerve ending hingga ke pusat
neurosensorik korteks serebri, melalui 3 neuron :
Neuron pertama : dari nerve ending melalui serabut saraf A dan C hingga ke
kornu posterior medulla spinalis
Neuron kedua : dari kornu posterior medulla spinalis hingga ke thalamus
Neuron ketiga : dari thalamus hingga ke pusat neurosensorik di korteks
serebri. Di korteks serebri, impuls listrik tersebut akan dipersepsikan.
c. Modulasi
Dalam tubuh, terdapat analgetik alami yang akan berinteraksi dengan impuls yang
masuk, dikontrol oleh otak sehingga sangat subjektif masing-masing orang. Jika
analgetik alami dalam tubuh ini tetap tinggi maka impuls listrik yang muncul tidak
akan mempersepsikan nyeri. Modulasi aktif di kornu posteror medulla spinalis.
Analgetik alami tersebut antara lain adalah serotonin, enkalin, endorphin, dan
noradrenalin.

d. Persepsi
Adalah diterjemahkannya impuls listrik di korteks serebri.

Pada penatalaksanaan nyeri dengan farmakologis, yang perlu diperhatikan adalah ada 3
hambatan yang dapat dilakukan untuk menghambat nyeri, yaitu pada tahap transduksi,
transmisi, dan modulasi.
NSAID bekerja dengan menghambat zat-zat kimia, terutama (prostaglandin E2) pada nerve
ending sehingga menghambat transduksi. Golongan NSAID yang efektif sebagai analgetik
adalah ibuprofen, indometasin, na diclofenac, asam mefenamat, piroksicam, metamizole,
ketorolac. Ketorolac adalah NSAID yang memiliki efek paling baik dan kuat.

Anestesi local dapat memblok transmisi karena dapat memblok perjalanan impuls dari nerve
ending menuju ke korteks serebri. Anestesi local seperti lidocaine atau anestesi topical
bermanfaat pada kasus-kasus tertentu yang terdapat inflamasi local.

Terapi yang paling tinggi untuk memblok adalah dengan sistemik, yang merupakan gold
standar pengelolaan antinyeri. Namun memiliki beberapa efek samping sistemik. Opioid
umumnya digunakan untuk nyeri sedang-berat. Pada nyeri sedang dapat digunakan codein,
sedangkan jika nyeri berat dapat digunakan metadon, petidin, ataupun morfin.

5. Fungsi atropine selain untuk midriatikum dan analgetik?


Sulfas atropine 1% adalag obat golongan parasimpatomimetik yang bersifat analog
parasimpatis, mempunyai beberapa efek selain midriatikum dan analgetik.
Siklopegik kuat, yaitu mengistirahatkan badan silier sehingga mata tidak
berakomodasi sehingga otot-otot badan silier dapat beristirahat
Pada peradangan intraokuler dapat menekan inflamasi dan melepaskan sinekia
Mempunyai efek mengurangi sekresi aquos humor

6. Natamycin antijamur golongan apa?


Antijamur rata-rata bekerja dengan menghambat ergosterol. Ergosterol adalah kolesterol
yang hanya terdapat pada jamur yang membentuk membrane sel jamur, membuat
kekakuan pada dinding sel jamur dan mencegah kebocoran isi sel jamur.
Natamisin adalah antihamur golongan Poliena.
Ada 5 golongan antihamur :
a. Poliena, berikatan dengan ergosterol pada permukaan membrane sel jamur sehingga
lebih permeable da nisi sel lisis/bocor. contoh Amfoterisin B, Neomisin, Kandisidin,
Nistatin, Natamisin
b. Azol, menghambat perubahan lanosterol menjadi ergosterol, dibagi menjadi imidazole
dan triazol. Imidazol : Mikonazol, Ketoconazole, Klotrimazol. Triazol : Fluconazole,
Itraconazole,
c. Alinamin, menghambat enzim skualena epoksidasi, enzim yang berfungsi mensintesis
ergosterol. Contoh : Terbinafin
d. Echinocandin digunakan untuk infeksi jamur sistemik pada pasien imunokompromais,
obat golongan menghambat sintesis dari glucan dalam dinding sel melalui enzim Beta
(1-3) glucan synthase, contoh : Anidulafungin, Caspofungin, Micafungin.
e. Obat lain,seperti asam benzoate, flusitosin.

7. Levofloxacin 0,5% bersifat apa?


Levofloksasin adalah antibiotic golongan floroquinolon, bekerja dengan menghambat
DNA girase (enzim yang diperlukan untuk transkripsi dan replikasi DNA bakteri). Waktu
paruh 5-7 jam dengan kadar puncak 6 jam (oral). Sifat : bakteriosid.

Penggolongan Antibiotik berdasarkan daya kerjanya :


Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam
golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar),
kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.

Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat
pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian kuman sangat
tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah
sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin,
makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.