Anda di halaman 1dari 69

KONSEP AGAMA ISLAM

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh :

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG (STFB)


BANDUNG
2011
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha


Penyayang. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada
manusia agung teladan umat Rasulullah SAW, keluarga suci
yang senantiasa mendampingi, serta para sahabat mulia yang
rela berkorban demi tegaknya risalah Illahi.
Islam sebagai agama dan ideologi merupakan sarana
penghantar perjalanan manusia kepada Allah. Dengan sarana
yang pasti ini, memastikan manusia untuk tidak memilih jalan
lain atau berjalan di jalan yang salah. Karena itu, Allah SWT telah
memberikan pedoman agar manusia tidak tersesat dan sampai
pada tujuan penciptaannya. Dalam Islam terdapat tiga sumber
ajaran agama yang dapat dijadikan rujukan, yaitu Al-Quran, Al-
Hadits, dan Ijtihad.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
membahas ketiga sumber ajaran Islam tersebut, selain untuk
memenuhi salah satu tugas Pendidikan Agama.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam pembuatan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, dikarenakan masih
terbatasnya ilmu pengetahuan, pengalaman serta kemampuan
yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis memohon maaf
apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan baik
mengenai isi maupun cara penyampaian.
Saran dan kritik dari semua pihak yang sifatnya
membangun sangat penulis harapkan agar menjadi panduan
serta bekal masa yang akan datang. Akhirnya penulis berharap
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi
para pembaca.

1
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................... 1
B. Rumusan Masalah........................................................ 1
C. Tujuan Pembuatan Makalah.......................................... 2
D. Manfaat Makalah.......................................................... 2
E. Sistematika Penulisan................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN................................................ 3
A AL QURAN............................................... 3
1.Kitab kitab sebelum Al Quran........................ 3
2.Definisi Al Quran............................................... 5
3.Penyusunan dan pembukuan Al Quran............ 5
4. Fungsi Al Quran............................................... 9
5.Ilmu ilmu dalam Al Quran.............................. 9
6. Keistimewaan Al Quran................................... 10
7.Nama nama lain Al Quran.............................. 14
8. Adab membaca Al Quran................................. 14
9.Fakta unik tentang Al Quran............................. 17
B AL HADITS................................................ 18
1.Definisi Hadits...................................................... 18
2.Dalil naqli dan aqli............................................... 20
3.Sejarah hadits dan pembukuannya...................... 21
4.Fungsi Hadits....................................................... 22

2
5. Macam macam Hadits...................................... 23
6.Istilah istilah dalam Hadits................................ 26
7.Derajat Keshahihan.............................................. 28
8.Kutubus Sittah...................................................... 29
9. Fakta unik tentang Hadits................................... 35
C IJTIHAD....................................................... 36
1.Definisi ijtihad...................................................... 36
2.Dalil Aqli dan Naqli............................................... 36
3.Perkembangan Ijtihad.......................................... 37
4.Syarat syarat Ijtihad.......................................... 38
5.Tingkatan Ijtihad.................................................. 39
6.Macam Ijtihad...................................................... 41
7. Lima Mazhab besar dunia................................... 42
8.Fakta unik tentang ijtihad.................................... 49

BAB III PENUTUP...................................................... 50


A. Kesimpulan............................................................. 50
B. Saran....................................................................... 50

DAFTAR PUSTAKA.................................................... 51

3
4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Islam sebagai agama yang syamil dan kamil,
memberikan pedoman untuk umatnya agar tidak tersesat
dalam mengemban tugas sebagai khalifah dan sebagai hamba
Illahi di muka bumi ini.
Al Quran sebagai sumber hukum Islam yang pertama
dan utama. Setiap muslim beriman dan yakin kepada segala
hal yang diturunkan dan diwahyukan oleh Allah SWT. Secara
faktual, Al Quran merupakan suatu kenyataan yang bisa
dijangkau panca indera dan akal, dapat dipikirkan atau
dibuktikan kebenarannya (bahwa kita itu berasal dari Allah).
Tidak demikian halnya dengan kitab samawi lainnya. Kitab
tersebut faktanya sudah tidak ada, sehingga akal sudah tidak
mampu membahas dan membuktikan kebenarannya.
Al Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua yang
dapat dijadikan pedoman hidup. Karena Hadits pada
hakikatnya adalah wahyu dari Allah SWT juga. Fungsinya untuk
menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al
Quran. Serta menjelaskan atau merinci aturan aturan yang
digariskan oleh Al Quran.
Ijtihad adalah salah satu metode untuk menggali sumber
hukum Islam. Ijtihad dapat dijadikan sebagai sumber ajaran
Islam yang ketiga. Secara historis kaum muslimin
menggunakan ijtihad untuk melepaskan tanggung jawab
dalam menjawab permasalahan kehidupan kontemporer yang
belum diketahui hukumnya dengan jelas. Ijtihad mulai
berkembang setelah wafatnya Rasulullah SAW.

1
B. Rumusan Masalah
Agar masalah tidak melebar dan diluar pokok bahasan,
maka penulis membatasi masalah pada hal hal berikut :
1. Definisi dari Al Quran, Al Hadits, dan Ijtihad
2. Dalil naqli dan aqli dari Al Quran, Al Hadits, dan
ijtihad
3. Fungsi dari Al Quran, Al Hadits, dan Ijtihad

C. Tujuan Pembuatan makalah


Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini khususnya
adalah untuk memenuhi salah satu tugas Pendidikan agama,
dan umumnya sebagai pengantar untuk memahami sumber
sumber ajaran Islam.

D. Manfaat Makalah
Manfaat yang dapat diambil baik untuk penulis
maupun pembaca adalah :
1. Mengetahui ragam sumber ajaran Islam
2. Mengetahui sejarah, fungsi, dan perkembangan
sumber ajaran islam
3. Memahami pentingnya sumber sumber ajaran Islam
sebagai fondasi kehidupan beragama

E. Sistematika Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar penulisan lebih
terarah, tidak menyimpang dari batas permasalahan dan dari
tujuan yang diharapkan. Makalah ini terdiri dari 3 (tiga) Bab
dengan rincian sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang permasalahan,
rumusan masalah, tujuan pembuatan makalah, dan
manfaatnya.

2
BAB II PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas secara lebih mendalam ketiga
sumber ajaran Islam yaitu Al Quran, Al Hadits, dan Ijtihad.
Dimulai dengan definisi, dalil, fungsi dan tambahan informasi
lain tentang ketiga sumber tersebut.
BAB III PENUTUP
Pada bab ini berisi kesimpulan dari semua materi yang telah
dipaparkan dalam bab pembahasan masalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. AL QURAN
1. Kitab kitab sebelum Al Quran
Kitab kitab yang berasal dari firman Allah SWT
sebelum turunnya Al Quran seluruhnya ada empat
macam, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Injil yang
diturunkan kepada Isa as. Sementara itu ada firman Allah
dalam bentuk shuhuf (lembaran lembaran) yang
diberikan kepada Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as.
a. Taurat.
Taurat dalam bahasa Ibrani adalah Thora, yaitu
kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Musa
as untuk membimbing kaumnya ( Bani Israil ). Hal itu
sesuai dengan Firman Allah SWT, sebagai berikut :










Artinya:

3
Dan kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan kami
jadikan Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil, akan tetapi
para pewarisnya telah menyembunyikan sebagian isi
kitab Taurat tersebut. (Al Isra : 2)
b. Zabur.
Zabur adalah nama kitab suci yang diberikan kepada
Nabi Daud as. Zabur berasal dari kata zabara yazburu,
yang berarti menulis. Zabur disebut juga dalam bahasa
Arab dengan mazmur dan jamaknya mazamir.
Firman Allah SWT dalam Al Quran mengenai kitab
Zabur :
Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi
nabi itu atas sebagian yang lain, dan Kami berikan
Zabur kepada Daud. (An Isra : 55)

c. Injil
Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa as
bin Maryam. Kitab ini pada intinya berisi ajakan kepada
umat Nabi Isa as untuk hidup dengan zuhud, yaitu
menjauhi kerakusan dan ketamakan duniawi. Hal itu
dimaksudkan untuk meluruskan pandangan orang
orang yahudi yang bersifat materialis. Kitab Injil dalam Al
Quran disebutkan dalam ayat berikut :
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani israil)
dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang
sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan
kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk
dan cahaya (yang menerangi)... (QS Al Maidah : 6)
d. Shuhuf Ibrahim as dan Musa as
Shuhuf termasuk kitab samawi yang disebutkan
dalam Al Quran. Shuhuf berupa lembaran lembaran

4
yang diberikan kepada Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa
as, seperti yang termaktub dalam Al Quran :
Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada
dalam lembaran lembaran Musa? Dan lembaran
lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji ?
(An Najm : 36 37)
Terhadap kitab-kitab terdahulu (Shuhuf, Taurat, Zabur dan
Injil), Al-Quran berfungsi sebagai (5 :48) :

1. Nasikh ( penggati) terhadap syariat kitab-kitab


terdahulu,

2. Muhaimin (batu ujian) terhadap otensitas kitab


terdahulu dari campur tangan manusia,

3. Mushadiq ( pembenar) terhadap ajaran-ajaran


terdahulu.

2. Definisi Al Quran
Al Quran mempunyai beberapa definisi baik secara
istilah maupun bahasa, diantaranya yang dikemukakan di
bawah ini :
1. Secara harfiyah,Al-Quran berarti bacaan,yang berasal
dari kata Qara-a. Sedangkan menurut istilah ( definisi ),
Al Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada
Rasulullah Muhammad S.A.W melalui melalui malaikat
jibril dan membacanya adalah ibadah.
( Wahyudin, Udi. Muchsin, dkk, 2001. Pendidikan
Agama Islam SMA 3. Bandung : Orba Sakti.)
2. Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Quran berasal dari
bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang
dibaca berulang-ulang". Kata Al-Quran adalah bentuk

5
kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya
membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga
dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni
pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya:
Sesungguhnya mengumpulkan Al-Quran (di dalam
dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu)
itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami
telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti
{amalkan} bacaannya. (75:17 - 75:18)
( Haludhin, Khuslan. 2004. Integrasi Budi Pekerti
Dalam Pendidikan Agama Islam 2. Solo : PT. Tiga
Serangkai)
3. Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai
berikut : Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan
ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawattir,
membacanya termasuk ibadah."
4. Muhammad Ali Ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an
sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang
tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan
perantaraan Malaikat Jibril as dan ditulis pada mushaf-
mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara
mutawattir, serta membaca dan mempelajarinya
merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-
Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas."

3. Penyusunan dan pembukuan Al Quran


Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup,
terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan

6
Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah
bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga
kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak
diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu
berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit
atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang
binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat
langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu
diturunkan.
a. Periode Nabi Muhammad SAW
Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara
malaikat Jibril yang menjadi mukjizat atas kenabiannya.
Dimana Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam, akan
tetapi diwahyukannya Al-Quran kepada Rasulullah tidak
sekaligus melainkan secara mutawattir (bertahap) pada
saat terjadi suatu peristiwa (Asbabun Nuzul), disamping
Rasulullah menghafalkan secara pribadi, Nabi juga
memberikan pengajaran kepada sahabat-sahabatnya
untuk dipahami dan dihafalkan, ketika wahyu turun
Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya
agar mudah dihafal karena Zaid merupakan orang yang
paling berpotensi dengan penulisan, sebagian dari
mereka dengan sendirinya menulis teks Al-quran untuk
di milikinya sendiri diantara sahabat tadi , sebagian para
sahabat lagi ada yang menyodorkan al-Quran kepada
Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan-tulisan. Pada
masa Rasullah untuk menulis teks al-Quran sangat
terbatas sampai-sampai para sahabat menulis Al-Quran
di pelepah-pelepah kurma, lempengan batu dan dikeping

7
- keping tulang hewan. Meskipun Al-Quran sudah
tertuliskan pada masa Rasulullah tapi al-quran masih
berserakan tidak terkumpul menjadi satu mushaf .
Pada saat itu memang sengaja dibentuk dengan
hafalan yang tertanam di benak para sahabat dan
penulisan teks Al-Quran yang di lakukan oleh para
sahabat. Tidak dibukukan di dalam satu mushaf
dikarenakan Rasulullah masih menunggu wahyu yang
akan turun selanjutnya, dan sebagian ayat-ayat Al-
Quran ada yang dimansukh oleh ayat yang lain, jika
umpama Al-Quran segera dibukukan pada masa
Rasulullah, tentunya ada perubahan ketika ada ayat
yang turun lagi atau ada ayat yang dimanskuh oleh ayat
yang lain.
b. Periode Abu Bakar ra
Ketika Rasullulah wafat dan kekhalifaaan jatuh
ketangan Abu Bakar, kondisi sosial sangat ricuh pada
masalah aqidah. Dalam rangka memerangi Musailamah
Al-Kadzab terjadilah pertempuran yang sangat besar
antara pasukan Islam yang dipimpin oleh Khalid bin walid
dan pasukan Musailamah Al-Kadzab yang berjumlah
40.000 sementara dari Khalid bin walid hanya berjumlah
10.000. Akan tetapi atas niat tulus untuk menegakkan
agama Allah kemenangan masih berpihak kepada Islam.
Tragedi ini dinamakan perang Yamamah (12 H), yang
menewaskan sekitar 70 para Qori dan Hufadz. Dari
sekian banyaknya para hufadz yang gugur, Umar Bin
Khattab khawatir Al-Quran akan punah dan tidak akan
terjaga, kemudian Umar menyusulkan kepada Abu Bakar
yang saat itu menjadi khalifah untuk mengumpulkan Al-

8
Quran yang masih berserakan kedalam satu mushaf.
Abu Bakar menyerahkan urusan tersebut kepada Zaid
Bin Tsabit. Pada awalnya Zaid bin Tsabit menolak
dikarenakan pengumpulan Al-Quran tidak pernah
dilakukan pada masa Rasulullah sebagaimana Abu Bakar
menolaknya. Zaid bin Tsabit dengan kecerdasannya
mengumpulkan Al-Quran dengan berpegang teguh
terhadap mushaf yang ada di rumah Rasulullah, mushaf
pribadi para sahabat dan hafalan-hafalan yang ada di
benak para sahabat yang masih tersisa pada
peperangan yamamah . Zaid sangat hati-hati didalam
penulisannya, karena al-Quran merupakan sumber
pokok ajaran islam. Yang kemudian Zaid menyerahkan
hasil penyusunannya kepada Abu Bakar, dan beliau
menyimpannya sampai wafat.
c. Periode Umar Bin Khattab
Pada masa Umar Bin Khattab tidak terjadi
penyusunan dan permasalahan apapun tentang Al-
Quran karena al-Quran dianggap sudah menjadi
kesepakatan dan tidak ada perselisihan dari kalangan
sahabat dan para tabiin. Dimasa kekhalifaan Umar lebih
konsen terhadap perluasan wilayah yang meliputi Syiria,
Persia, Palestina dan Mesir. Setelah Umar Bin Khattab
wafat, Al-Quran diserahkan kepada Hafsah istri Nabi
Muhammad SAW.
d. Periode Utsman Bin Affan
Semakin banyaknya negara yang ditaklukkan oleh
Umar Bin Khattab, semakin beranekaragam pula
pemeluk agama Islam, disekian banyaknya pemeluk
agama Islam mengakibatkan perbedaan tentang Qiroah

9
antara suku yang satu dengan yang lain, masing-masing
suku mengklaim Qiroah dirinyalah yang paling benar.
Perbedaan Qiroah tersebut terjadi disebabkan
kelonggaran-kelonggaran yang diberikan Nabi
Muhammad kepada Kabilah-kabilah Arab dalam
membaca Al-Quran menurut dialeknya masing-masing.
Hufaidzah bin Yaman yang pernah ikut perang melawan
Syam bagian Armenia bersamaan Azabaijan bersama
penduduk Iraq, telah melihat perbedaan tentang Qiroah
tersebut. Setelah pulang dari peperangan, Hufaidzah
menceritakan adanya perbedaan qiroah kepada Utsman
Bin Affan, sekaligus ia mengusulkan untuk segera
menindak perbedaan dan membuat kebijakan,
dikhawatirkan akan terjadi perpecahan dikalangan
ummat Islam tentang kitab suci, seperti perbedaan yang
terjadi dikalangan orang Yahudi dan Nasrani yang
mempermasalahkan perbedaan antara kitab Injil dan
Taurat. Selanjutnya Utsman Bin Affan membentuk lajnah
(panitia) yang dipimpin oleh Zaid Bin Harist dengan
anggotanya Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash dan
Abdurahman bin Harits.
Utsman Bin Affan memerintahkan kepada Zaid
untuk mengambil Mushaf yang berada dirumah Hafsah
dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek yakni
dialek Qurays, mushaf yang asli dikembalikan lagi ke
Hafsah. Utsman Bin Affan menyuruh Zaid untuk
memperbanyak mushaf yang diperbaruhi menjadi 6
mushaf, yang lima dikirimkan kewilayah Islam seperti
Mekkah, Kuffah, Basrah dan Suria, yang satu tersisa
disimpan sendiri oleh Ustman dirumahnya. Mushaf ini

10
dinamai Al-Imam yang lebih dikenal mushaf Utsmani,
demikianlah terbentuknya mushaf Utsmani dikarenakan
adanya pembaruan mushaf pada masa Utsman Bin
Affan.

4. Fungsi Al Quran
Al Quran adalah manhaj tarbiyah Islamiyah yang
merupakan kitab syariyah. Mempunyai banyak fungsi
dalam kehidupan beragama, diantaranya :
1. Petunjuk bagi orang orang yang bertakwa (Al
Baqarah : 2),
2. Membenarkan kitab kitab sebelumnya (Al Maidah :
48),
3. Sebagai pembeda antara yang haq dan bathil (Al
Furqan : 1),
4. Pemberi peringatan seluruh umat (Al Qalam : 51 52),
5. Menjelaskan hukum hukunm yang telah ditetapkan
Allah (Yunus:37).

5. Ilmu dalam Al Quran


Selain sebagai pedoman dalam beragama, Al
Quran juga merupakan sumber segala bidang ilmu di
dunia, seperti yang termaktub dalam surat Al Baqarah :
164










11





Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis
hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan. (Al-Baqarah: 164)
Dari ayat diatas dapat disimpulkan, ternyata ada lima
cabang ilmu yang dibahas di ayat tersebut:
1. Ilmu Falak (Astronomi), Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang.
2. Ilmu Kelautan, Bahtera yang berlayar di laut.
3. Ilmu Pertanian (Agronomi), Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)- nya.
4. Ilmu Hewan (Zoologi), Dan dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan.
5. Ilmu Tinjauan Cuaca (Meteorologi), Dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan.

6. Keistimewaan Al Quran
Al-Qur'an tidak turun sekaligus. Al-Qur'an turun
secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Para ulama membagi masa turun ini menjadi 2 periode,
yaitu periode Mekah dan periode Madinah.

12
Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap
surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekah)
dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini
berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat
tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum
Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat
Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat
Madaniyah.
Periode Mekah berlangsung sekitar sepuluh tahun,
yaitu selama Rasulullah SAW berdakwah di sana, sebelum
hijrah kemadinah. Ciri ayat/surat Makkiyah adalah :
1. Suratnya pendek pendek,
2. Isinya sebagian besar menerangkan aqidah, yaitu pokok
pokok tauhid dan keimanan. Ilmu yang mempelajari
pokok pokok atau dasar agama disebut ushuluddin.
3. Awal ayatnya banyak yang dimulai dengan kata yaa
ayyuhannasu, artinya wahai sekalian manusia.
Diawali dengan kata itu menunjukan bahwa pada
periode Makkah, sebagian besar manusia belum
beriman dan masih asing dengan ajaran islam.
Dalam waktu yang relatif singkat, yaitu selama
kurang lebih tiga belas tahun, Rasulullah berhasil membina
umat islam di Madinah. Ciri ayat/surat Madaniyah, antar
lain :
1. Suratnya panjang panjang,
2. Isinya lebih banyak menerangkan tentang Hukum
hukum, akhlak, dan kemasyarakatan,
3. Awal ayatnya banyak yang diawali dengan kata yaa
ayyuhalladziina aamanuu, artinya wahai orang
orang yang beriman.
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi
menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal

13
dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan
mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam
30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil
memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan
penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua
jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan
pembagian subyek bahasan tertentu.
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat
yang ada di dalam Al-Quran terbagi menjadi empat
bagian, yaitu:
1. As Sabuththiwaal (tujuh surat yang
panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa,
Al-Araaf, Al-Anaam, Al Maa-idah dan Yunus
2. Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud,
Yusuf, Mu'min dan sebagainya
3. Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus
ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
4. Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti
Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya
Al-Quran secara garis besar (sebagaimana disarikan
dalam Al-Fatihah, surat pertama) berisi tentang :

1. Tauhid, argumen dan bukti-bukti kekuasaan Allah di


alam (1 : 1-3)

2. Berita Hari Akhir (Eskatologi) ( 1 : 4)

3. Syariah (ibadah dan muamalah) ( 1 : 5 - 6)

4. Manusia (tabiat, karakter, golongan dan kisah) ( 1 : 7)

14
Al-Quran merupakan mukjizat dari Allah, sebagai
bukti kebenaran dari Allah. Ia memiliki berbagai
keunggulan di antaranya :

1. Keasliannya terjaga (15:9), Allah menjaminnya. Dalam


sejarah Al-Quran terjaga melalui hafalan shahabat
yang dilanjutkan para ulama dan hufadz (penghafal
Quran), ditulis dan didokumentasikan dengan rapi,
kemudian dibukukan yang dilakukan melalui pengujian
yang ketat dan mutawatir (diterima semua pihak),
ditradisikan menjadi bacaan baik dalam shalat maupun
wirid-wirid

2. Al-Quran merupakan kitab yang universal yang berlaku


untuk semua manusia, bahkan alam (25 ;1, 7:178)

3. Al-Quran mencakup seluruh aspek kehidupan (16 :89 , 6


:38 )

4. Al-Quran memiliki gaya bahasa dan isi yang tak


tertandingi, meskipun satu surat saja (2:23)

5. Kandungan Al-Quran mengadung ramalan sejarah yang


tepat. Misalnya tentang kemenangan Rum (31:1-2)

6. Al-Quran merupakan sumber dari berbagai


ilmu. Misalnya ilmu sejarah, bahasa, syariah, hikmah
dan falsafah

7. Al-Quran merupakan kitab yang tersusun rapi dan


terinci ( 11: 1), tetapi tidak memiliki pertentangan di
dalamnya ( 4 :82)

15
Salah satu keistimewaan Al-Quran misalnya adanya
Kesimbangan Angka-angka dalam Al Quran

Respon manusia terhadap Al-Quran bermacam-macam :

1. Orang-orang kafir ; mendustakan (7:146), mengolok-


olok (18:106), menganggap dongeng (6:25)

2. Orang-orang beriman iman (2:4), menjadikan sebagai


petunjuk hidup (2:2), melaksanakan dengan rendah hati
(32:15), bersemayam di dalam hati ( 29:49)

Meski demikian, di antara orang-orang yang beriman


dalam menggunakan Al Quran terdapat 3 kelompok :

1. Dzalimu li nafsih ( menzalimi diri sendiri) , yaitu llebih


banyak lalai terhadap Al-Quran

2. Muqtasid (pertengahan), yaitu berupaya melakukan


tetapi masih sering lalai

3. Sabiquna bil khairat ( bersegera dalam kebaikan), yaitu


orang yang selalu berpegang teguh dan
mendahulukan Al-Quran

Kewajiban Muslim terhadap Al Quran adalah:

1. mengimaninya,

2. mempelajarinya (47 :24)

3. membaca dan menghafalkannya (73 :4),

4. mengamalkannya dalam kehidupan (24:51)

16
5. mengajarkan kepada orang lain (16 :44)

7. Nama nama lain Al Quran


Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang
menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk
kepada Al-Qur'an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama
tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
A. Al-Kitab : (2:2 dan 44:2)
B. Al-Furqan (pembeda benar salah) (25:1)
C. Adz-Dzikr (pemberi peringatan) : (15:9)
D. Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat) : (10:57)
E. Al-Hukm (peraturan/hukum) : (13:37)
F. Al-Hikmah (kebijaksanaan) : (17:39)
G. Asy-Syifa' (obat/penyembuh) : (10:57 dan
17:82)
H. Al-Huda (petunjuk) : (72:13 dan 9:33)
I. At-Tanzil (yang diturunkan) : (26:192)
J. Ar-Rahmat (karunia) : (27:77)
K. Ar-Ruh (ruh) : (42:52)
L. Al-Bayan (penerang) : (3:138)
M. Al-Kalam (ucapan/firman) : (9:6)
N. Al-Busyra (kabar gembira) : (16:102)
O. An-Nur (cahaya) : (4:174)
P. Al-Basha'ir (pedoman) : (45:20)
Q. Al-Balagh (penyampaian/kabar) : (14:52)
R. Al-Qaul (perkataan/ucapan) : (28:51)

8. Adab membaca Al Quran


Hendaknya manusia ingat kepada keagungan firman
Allah dan tingginya kedudukan firman tersebut. Karena
ketika membaca Al Quran perlu diperhatikan adab
adabnya baik secara lahiriah maupun batiniah. Beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Suci Badan ()

17
Al-Qur'an merupakan firman Allah SWT; wahyu
yang dimuliakan. Maka sangat tidak tepat jika kita
tilawah Al-Qur'an sementara badan kita dalam kondisi
kotor, apalagi terkena najis.
2. Wudhu ().
Hendaknya kita mengambil air wudhu terlebih
dahulu sebelum tilawah Al-Qur'an. Hendaknya kita sadari
bahwa Al-Qur'an ini tidak sama dengan buku, majalah
atau koran yang seenaknya kita perlakukan. Diantara
dalil yang sering dipakai dalam adab ini adalah firman
Allah SWT:





Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang
disucikan. (QS. Al-Waqi'ah : 77)


Al-Qur'an tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-
orang yang sudah suci. (HR. An-Nasai, Daruquthni,
Baihaqi).
3. Bersih Tempat ()
Tidak boleh bagi kita membaca Al-Qur'an di
tempat-tempat yang tidak pantas, seperti tempat
pembuangan sampah. Dan larangan yang lebih besar
membawa mushaf atau membaca Al-Qur'an di WC.
4. Khusyu' ()
Yakni menghadirkan hati saat membaca ayat-ayat
Allah SWT. Nabi SAW ditanya: "Siapa yang paling bagus
suaranya ketika membaca Al-Qur'an?" Beliau bersabda:
"Orang yang apabila kalian mendengar ia membaca Al-
Qur'an, kalian lihat ia takut kepada Allah Azza Wa Jalla"

18
(HR. Thabrani, hadits semakna diriwayatkan pula oleh
Abu Dawud dan Ibnu Abi Syaibah)
5. Tenang dan Tenteram ()
Sebaliknya, tidak dibenarkan membaca Al-Qur'an
dengan tergesa-gesa, gugup, atau merasa dikejar
setoran.








Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(QS. Ar-Ra'du : 28)
6. Bersiwak Sebelum Mulai ()
Hendaknya kita bersiwak terlebih dahulu sebelum
tilawah Al-Qur'an. Dengan begitu, bau mulut kita
menjadi harum saat melantunkan ayat-ayat Illahi.
Sebaliknya, tidak sepantasnya kita tilawah sementara
mulut kita bau tidak sedap.
7. Ta'awudz di Permulaan ()
Sebagaimana firman Allah SWT:










Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu
meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang
terkutuk. (QS. An-Nahl : 98)
8. Basmalah di Setiap Awal Surat (
)
Di setiap awal surat, hendaknya membaca
basmalah. Pada semua mushaf sudah tercantum

19
basmalah di awal setiap surat untuk memudahkan
melaksanakan adab tilawah ini. Hanya ada satu surat
yang dikecualikan yakni Surat At-Taubah atau Surat
Bara'ah. Tidak boleh mendahului dengan basmalah,
tetapi cukup dengan ta'awudz.
9. Tartil ()
Diantara adab yang sangat penting dalam tilawah
adalah tartil. Yaitu membaca Al-Qur'an secara perlahan
dan sesuai dengan kaidah tajwid. Allah SWT berfirman




Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan (QS.
Al-Muzammil : 4)
Jadi tartilnya bukan sekedar membaca sesuai
kaidah tajwid, tetapi juga dilagukan dengan indah.
10. Sujud bila bertemu Ayat Sajdah (
)
Ayat-ayat sajdah ini ada pada lima belas tempat di
dalam Al-Qur'an, yaitu: Al-A'raf : 206, Ar-Ra'du : 105, An-
nahl : 50, Al-Isra' : 109, Maryam : 58, Al-Hajj : 18, Al-
Hajj : 77, Al-Furqan : 60, An-Naml : 28, As-Sajdah : 15,
Shad : 24, Fushilat : 38, An-najm : 62, Al-Insyiqaq : 21,
dan Al-Alaq : 19.

11. Tadabbur ()
Yakni memikirkan ayat yang dibaca, berusaha
secara sistematis untuk memahami Al Quran, sehingga
dapat melakukan petunjuk Al Quran dalam kehidupan
sehari-hari.

20
9. Fakta unik tentang Al Quran
A. Ayat terpanjang di Al Quran adalah ayat 282 pada
surah Al - Baqarah, dan ayat terpendek yaitu pada ayat
pertama surah Taha, Yasin, Al Mu'min dan yang lainnya.
B. Nabi yang paling banyak dikisahkan dalam alquran
adalah Nabi Musa AS.
C. Al Quran tidak disusun sesuai dengan turunnya ayat.
D. Surat terpanjang adalah sura Al B aqarah dengan 286
ayat dan surat terpendek adalah Al - Kautsar dengan 3
ayat
E. Al - Quran menceritakan semua jenis kitab terdahulu.
F. Terdapat ayat-ayat gharibah yang tidak dibaca seperti
kaidah tajwid pada umumnya yaitu: Imalah (11: 41),
Isymam (12: 11), Tashil (41: 44), dan Naql (49: 11).
G. Nabi-nabi yang dijadikan nama surat yaitu hanya nabi
Yunus, Yusuf, Hud, Ibrahim, Nuh, dan Muhammad.
H. Terdapat orang-orang selain nabi didalamnya seperti
Imran, Maryam, Luqman
I. Satu-satunya Kakek dan cucu yang diceritakan dalam
satu surah yaitu Imran dan Isa as
J. Alquran adalah kitab yang paling banyak dihapal orang
K. Kaum yang paling banyak diceritakan yaitu Bani Israil
L. Al - Quran menceritakan maho alias kaum sodom
M. Hanya surat At - taubah yang tidak diawali oleh
basmalah.

B. AL HADITS
1. Definisi Al Hadits
Menurut bahasa kata hadits memiliki arti;
1) al jadid minal asyya (sesuatu yang baru), lawan dari
qodim. Hal ini mencakup sesuatu (perkataan), baik
banyak ataupun sedikit.
2) Qorib (yang dekat)

21
3) Khabar (warta), yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan
dipindahkan dari seseorang kepada orang lain dan ada
kemungkinan benar atau salahnya. Dari makna inilah
diambil perkataan hadits Rasulullah saw.
Hadits : Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad SAW, baik berupa ucapan (qauly), perbuatan
(fi'ly), ketetapan (taqriry), atau dengan sifat.
Definisi umum hadits Nabi ialah sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa
perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan sifat-sifat
beliau.
Dalam hal ini, Allah juga menggunakan kata hadits
dengan arti khabar, dalam firman-Nya;

.
Maka hendaklah mereka mendatangkan khabar yang
sepertinya jika mereka orang yang benar (QS. At-
Thur;24).
Adapun hadits menurut istilah ahli hadits hampir
sama (murodif) dengan sunah, yang mana keduanya
memiliki arti segala sesuatu yang berasal dari Rasul, baik
setelah diangkat ataupun sebelumnya. Akan tetapi kalau
kita memandang lafadz hadits secara umum adalah segala
sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW.
Setelah diangkat menjadi nabi, yang berupa ucapan,
perbuatan, dan taqrir beliau. Oleh sebab itu, sunah lebih
umum daripada hadits.
Secara Lughowi (Harfiyah) Hadits adalah ism
masdar, yang fiil madhi dan mudhorinya, hadatsa
yahdutsu. Maknanya ada 4 :

22
a. Afal (Perbuatan)
Dalam hadits Arbain dikatakan :




:


:
] .




:
[
Dari Ummul Muminin; Ummu Abdillah; Aisyah
radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini
yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Ahdasa diambil dari kata hadits, mengikuti wazan
afala, yang artinya amila amalan la minar rasul
(mengada-adakan atau melakukan perbuatan lain yang
tidak ada dizaman rasul). Jadi hadits disini bermakna
perbuatan, dan kalau berubah menjadi ahdasa, maka
maknanya berbuat-buat atau mengadakan perbuatan.
b. Akhbar/aqwal (Cerita atau perkataan atau kabar)
Dalam sejarah dikenal istilah haditsul ifki, (cerita
bohong), berkenaan dengan tuduhan keji terhadap
ibunda Aisyah r.a.
Dan didalam alquran, terdapat 220 kata, hadits
serta pecahannya. Yang berarti cerita atau
menceritakan. Contoh dalam surat Ad Duha ayat
sebelas, Allah berfirma, Dan terhadap nikmat Robbmu
maka hendaklah engkau menceritakannya.
Dalam penukilan hadits pun, terutama di
shohihnya Imam Muslim rahimahullah; dikenal istilah
akhbarona dan haddatsana. akhbarona (telah

23
mengkabarkan kepada kami) sedangan ahdasana (telah
menceritakan kepada kami).
c. Jadid (baru)
Dalam aqidah menurut imam mazhab Asyariyah,
dikenal ada 20 sifat wajib Allah, ada 20 sifat muhal
(mustahil) Allah dan ada satu sifat jaiz. Dan yang kang
kedua dari sifat wajib Allah setelah wujud adalah Qidam.
Lawannya qidam adalah hadits. Qidam artinya dahulu,
sedangkan hadits artinya baru atau ada permulaan. (4)
Jadi hadits disini artinya adalah baru, atau ada
permulaan. Didalam ilmu fiqh pun dikenal dengan istilah
hadats ashghor dan hadats akbar, hadts disini juga
bermakna tajdid (memperbaharui/membikin baru lagi).
d. Qorib (dekat)
Dalam bahasa arab, ada kalimah antum haditsun
minni bil Islam, kamu terasa dekat dengan saya karena
islam. Jadi hadits disini, artinya dekat perasaan/hati.
2. Dalil Naqli dan Aqli
Firman Allah SWT:












Katakanlah! Taatlah kalian Allah dan Rasu-nya, jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang kafir. (Ali - Imran 3:32)
Dalam salah satu pesan Rasulullah SAW, berkenaan
dengan keharusan menjadikan hadits sebagai pedoman
hidup, disamping Al Quran sebagai pedoman utamanya,
beliau bersabda:
( )











24
Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian
tidak akan tersesat selagi kamu berpegangan teguh pada
keduanya, yaituberupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
(HR. Malik)
3. Sejarah Hadits dan Pembukuannya

Pada masa Sang Nabi masih hidup, Hadits belum


ditulis dan berada dalam benak atau hapalan para sahabat.
Para sahabat belum merasa ada urgensi untuk melakukan
penulisan mengingat Nabi masih mudah dihubungi untuk
dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu.

Di antara sahabat tidak semua bergaulnya dengan


Nabi. Ada yang sering menyertai, ada yang beberapa kali
saja bertemu Nabi. Oleh sebab itu Al Hadits yang dimiliki
sahabat itu tidak selalu sama banyaknya ataupun
macamnya. Demikian pula ketelitiannya. Namun demikian
di antara para sahabat itu sering bertukar berita (Hadist)
sehingga prilaku Nabi Muhammad banyak yang diteladani,
ditaati dan diamalkan sahabat bahkan umat Islam pada
umumnya pada waktu Nabi Muhammad masih hidup.

Para ulama membagi perkembangan hadits itu


kepada 7 periode yaitu :

a. Masa wahyu dan pembentukan hukum (pada Zaman


Rasul : 13 SH - 11 SH ).
b. Masa pembatasan riwayat (masa khulafaur-rasyidin :
12-40 H).
c. Masa pencarian hadits ( pada masa generasi tabi'in dan
sahabat-sahabat muda : 41 H - akhir abad 1 H ).
d. Masa pembukuan hadits ( permulaan abad II H ).

25
e. Masa penyaringan dan seleksi ketat ( awal abad III H )
sampai selesai.
f. Masa penyusunan kitab-kitab koleksi ( awal abad IV H
sampai jatuhnya Baghdad pada tahun 656 H ).
g. Masa pembuatan kitab syarah hadits, kitab-kitab tahrij
dan penyusunan kitab-kitab koleksi yang lebih umum
( 656 H dan seterusnya ).
Pada zaman Rasulullah al-Hadits belum pernah dituliskan
sebab :
a. Nabi sendiri pernah melarangnya, kecuali bagi sahabat-
sahabat tertentu yang diizinkan beliau sebagai catatan
pribadi.
b. Rasulullah berada ditengah-tengah ummat Islam
sehingga dirasa tidak sangat perlu untuk dituliskan
pada waktu itu.
c. Kemampuan tulis baca di kalangan sahabat sangat
terbatas.
d. Ummat Islam sedang dikonsentrasikan kepada Al-
Qur'an.
e. Kesibukan-kesibukan ummat Islam yang luar biasa
dalam menghadapi perjuangan da'wah yang sangat
penting.
Pada zaman-zaman berikutnya pun ternyata al-
Hadits belum sempat dibukukan karena sebab-sebab
tertentu. Baru pada zaman Umar bin Abdul Azis, khalifah
ke-8 dari dinasti Bani Umayyah ( 99-101 H ) timbul inisiatif
secara resmi untuk menulis dan membukukan hadits itu.
Sebelumnya hadits-hadits itu hanya disampaikan melalui
hafalan-hafalan para sahabat yang kebetulan hidup lama
setelah Nabi wafat dan pada saat generasi tabi'in mencari
hadits-hadits itu.

26
Diantara sahabat-sahabat itu ialah : Abu Hurairah,
meriwayatkan hadits sekitar 5374 buah. Abdullah bin
Umar bin Khattab, meriwayatkan sekitar 2630 buah. Anas
bin Malik, meriwayatkan sebanyak 2286 buah. Abdullah
bin Abbas, meriwayatkan sebanyak 1160 buah. Aisyah
Ummul Mu'minin, meriwayatkan sebanyak 2210 buah.
Jabir bin Abdillah meriwayatkan sebanyak 1540 buah. Abu
Sa'id al-Hudri meriwayatkan 1170 buah.
4. Fungsi Hadits
Kedudukan Hadits terhadap Al-Quran :
Bayan tafsir:
Menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Qur'an
dan penjelasan ini berupa:
1. Menjelaskan Ayat Mujmal (umum):
Misalnya, Al Qur'an mewajibkan wudhu bagi orang
yang akan sholat. Hadits menjelaskan rincian wudhu,
bilangan membasuh dan batas - batas membasuh.
2. Membatasi Yang Mutlaq:
Misalnya Al Qur'an menetapkan hukum potong tangan
bagi pencuri. Hadits menjelaskan tentang batasan nilai
barang yang dicuri yang menyebabkan terjadinya
hukum potong tangan.
3. Mentakhshish atau mempertegas kalimat 'am (kalimat
umum)
Misalnya Al Qur'an menjelaskan tentang waris dan
orang-orang yang berhak mendapat warisan. Hadits
memberi pengecualian bagi orang yang membunuh
tidak berhak mendapat waris.
Bayan Taqrir:
Menjelaskan ketetapan hukum yang terdapat dalam
Al-Qur'an. Misalnya, menjelaskan wajibnya wudhu

27
bagi orang yang akan shslat sebagaimana Al Qur'an
telah menjelaskan demikian.

Bayan Tasyri':
Menetapkan ketetapan hukum baru yang tidak
terdapat dalam Al-Quran. Misalnya, menetapkan
hukum bagi pelaku zina muhshon (orang yang telah
berkeluarga).
5. Macam macam Hadits
a. Hadits Berdasar Jumlah Perawi
1) Hadits Mutawatir
Hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok
orang dari beberapa snad yang terpercaya. Beberapa
hal yang harus dipenuhi agar bisa disebut hadits
mutawatir:
Isi hadits harus hal-hal yang dapat dicapai panca
indra
Orang-orang yang meriwayatkannya harus benar-
benar terpercaya.
Orang-orang yang meriwayatkan harus hidup pada
satu zaman
2) Hadits Ahad
Hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau
lebih tetapi tidak mencapai tingkat mutawatir.
Pembagian hadits ahad :
- Hadits Shahih
Hadits yang bersambung sanadnya, dirwayatkan
oleh orang yang adil dan dhobit (kuat hafalannya).
Syarat-syarat hadits shahih :
Isinya tidak bertentangan dengan Al-Quran
Sanadnya bersambung
Diriwayatkan oleh perawi yang adil dan dhobit

28
Tidak syadz (bertentangan dengan hadits lain
yang lebih shahih)
Tidak cacat walaupun tersembunyi
- Hadits Hasan
Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang tidak
disangka dusta dan tidak syadz

- Hadits Dhaif
Hadits yang diriwayatkan oleh oarang yang tidak
adil,tidak dhobit,syadz, dan cacat.
b. Hadits Berdasar Macam Periwayatannya
Hadits yang baik bersambung sanadnya hingga Nabi
Muhammad SAW. Hadits juga disebut hadits marfu atau
mausul. Hadits yang terputus sanadnya :
Hadits Muallaq
Hadits yang permulaan sanadnya dibuang oleh
seorang atau lebih hingga akhir sanadnya, yang
berarti termasuk hadits Dahif
Hadits Mursal
Disebut juga hadits yang dikirim yaitu hadits yang
diriwayatkan oleh para tabiin dari Nabi Muhammad
saw tanpa menyebutkan sahabat tempat merima
hadits
Hadits Mudallas
Hadits yang disembunyikan cacatnya, padahal
sebenarnya ada.
Hadits Munqathi
Hadits yang terputus karena hilang satu atau dua
orang perawinya
Hadits Mudhol
Hadits yang terputus sanadnya
c. Hadits-hadits dhaif disebabkan oleh cacat perawi
Hadits Maudhu
Hadits yang dalam sanadnya terdapat perawi yang
berdusta atau dituduh berdusta.
Hadits Matruk

29
Hadits yng diriwayatkan oleh seorang perawi saja
sedangkan perawi itu dituduh berdusta
Hadits Mungkar
Hadits yang riwayatkan oleh seorang perawi yang
lemah yang bertentangan dengan yang diriwayatkan
oleh perawi yang jujur

Hadits Muallal
Hadits yang didalamnya ada cacat yang tersembunyi
Hadits Mudhthorib
Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi dari
beberapa sanad dengan matan yang kacau.
Hadits Maqlub
Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang
dalamnya tertukar dengan mendahulukan antara
sanad dan matan atau sebaliknya
Hadits Munqalib
Hadits yang terbalik lafalnya, sehingga artinya
berubah
Hadits Mudraj
Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang
didalamnya ada tambahan yang bukan hadits.
Hadits Syadz
Hadits yang bertentangan deng an hadits lainnya
sekalipun posisi hadittsnya sederajat.

6. Istilah istilah dalam Hadits

a. Mutawatir

Hadits yang diriwayatkan dari banyak jalan (sanad) yang


lazimnya dengan jumlah dan sifatnya itu, para rawinya
mustahil bersepakat untuk berdusta atau kebetulan
bersama-sama berdusta. Dan perkara yang mereka bawa
adalah perkara yang inderawi yakni dapat dilihat atau
didengar. Hadits mutawatir memberi faidah ilmu yang

30
harus diyakini tanpa perlu membahas benar atau
salahnya terlebih dahulu.

b. Ahad

Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

c. Shahih (sehat)

Hadits yang dinukilkan oleh orang yang adil (muslim,


baligh, berakal, bebas dari kefasiqan yaitu melakukan
dosa besar atau selalu melakukan dosa kecil, dan bebas
dari sesuatu yang menjatuhkan muruah/kewibawaan)
dan sempurna hafalannya /penjagaan kitabnya terhadap
hadist itu, dari orang yang semacam itu juga dengan
sanad yang bersambung, tidak memiliki illah
(penyakit/kelemahan) dan tidak menyelisihi yang lebih
kuat. Hadits shahih hukumnya diterima dan berfungsi
sebagai hujjah.

d. Hasan (baik)

Hadits yang sama dengan hadits yang shahih kecuali


pada sifat rawinya di mana hafalannya/penjagaan
kitabnya terhadap hadits tidak sempurna, yakni lebih
rendah. Hadits hasan hukumnya diterima.

e. Dhaif (lemah)

Hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih


atau hasan. Hadits dhaif hukumnya ditolak.

f. Maudhu (palsu)

31
Hadits yang didustakan atas nama Nabi shallallahu
alaihi wasallam padahal beliau tidak pernah
mengatakannya, hukumnya ditolak.

g. Mursal

Yaitu seorang tabiin menyandarkan suatu ucapan atau


perbuatan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Hukumnya tertolak karena ada rawi yang hilang antara
tabiin tersebut dan Nabi shallallahu alaihi wasallam,
dan mungkin yang hilang itu adalah rawi yang lemah.

h. Syadz

Hadits yang sanadnya shahih atau hasan namun isinya


menyelisihi riwayat yang lebih kuat dari hadits itu
sendiri, hukumnya tertolak.

i. Mungkar

Hadits yang sanadnya dhaif dan isinya menyelisihi


riwayat yang shahih atau hasan dari hadits itu sendiri,
hukumnya juga tertolak.

j. Munqathi

Hadits yang terputus sanadnya secara umum, artinya


hilang salah satu rawinya atau lebih dalam sanad, bukan
di awalnya dan bukan di akhirnya dan tidak pula
hilangnya secara berurutan. Hukumnya tertolak.

k. Sanad

Rangkaian para rawi yang berakhir dengan matan.

32
l. Matan

Ucapan rawi atau redaksi hadits yang terak dalam sanad.

m.Rawi

Orang yang meriwayatkan atau membawakan hadits.

n. Atsar

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada


selain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yakni
kepada para shahabat dan tabiin.

o. Marfu

Suatu ucapan atau perbuatan atau persetujuan yang


disandarkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam.

p. Mauquf

Suatu ucapan atau perbuatan yang disandarkan kepada


shahabat.

q. Jayyid (bagus)

Suatu istilah lain untuk shahih.

r. Muhaddits

Orang yang menyibukkan diri dengan ilmu hadits secara


riwayat dan dirayat (fiqih hadits), serta banyak
mengetahui para rawi dan keadaan mereka.

33
s. Al-Hafidz

Orang yang kedudukannya lebih tinggi dari muhaddits, di


mana ia lebih banyak mengetahui rawi di setiap
tingkatan sanad.

t. Majhul

(Rawi yang) tidak dikenal, artinya tidak ada yang


menganggapnya cacat sebagaimana tidak ada yang
men-tadil-nya, dan yang meriwayatkan darinya
cenderung sedikit. Bila yang meriwayatkan darinya
hanya satu orang maka disebut majhul al-ain, dan bila
lebih dari satu maka disebut majhul al-hal. Hukum
haditsnya termasuk hadits yang lemah.

u. Tsiqah

(Rawi yang) terpercaya, artinya terpercaya kejujurannya


dan keadilannya serta kuat hafalan dan penjagaannya
terhadap hadits.

v. Jarh

Cacat, dan majruh artinya tercacat.

w. Tadil

Dinilai adil.

x. Muttafaqun alaih

Maksudnya hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan


Muslim dalam kitab Shahih mereka.

34
y. Muallaq/taliq

Hadits yang terputus sanadnya dari bawah, satu rawi


atau lebih.

7. Derajat Keshahihan
Klasifikasi hadits menurut dapat (diterima) atau
ditolaknya hadits sebagai Hujjah (dasar hukum) adalah :
HADITS SHOHIH adalah hadits yang diriwayatkan oleh
rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya
bersambung, tidak ber illat (penyakit) dan tidak janggal
boleh diamalkan.
HADITS HASAN adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya
(hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat
serta kejanggalan pada matannya boleh diamalkan.
HADITS DHAIF (LEMAH) adalah hadits yang kehilangan
satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih
atau hadits hasan tidak boleh diamalkan.
HADITS MAUDHU (PALSU) adalah hadits yang dicipta
serta dibuat oleh seorang pendusta yang ciptaan itu
mereka bangsakan (katakan Sabda nabi SAW ) secara
palsu dan dusta, baik hal itu disengaja maupun tidak
boleh diamalkan.
HADITS LA ASLALAHU (TIDAK ADA SUMBERNYA) adalah
hadits yang tidak diketahui dari mana asalnya, tidak
terdapat sanad serta perawinya yang bisa untuk diteliti
sangat tidak boleh diamalkan.
8. Kutubus Sittah

35
Istilah Kutubus Sittah digunakan untuk menyebut
enam kitab induk hadits, yaitu Shahih Al Bukhari, Shahih
Muslim, Sunan An Nasa`I, Sunan Abi Dawud, Sunan At
Tirmidzi, dan Sunan Ibni Majah. Mari kita mengenalnya
secara ringkas.

a. Shahih Al Bukhari

Kitab ini diberi judul Al Jami Ash Shahih oleh


penyusunnya. Beliau menyeleksi hadits yang tercantum
dalam kitab ini dari 600 ribu hadits. Beliau bersusah
payah dalam memilih, menyeleksi dan mencari hadits
yang shahih hingga setiap kali hendak menuliskan hadits
(dalam kitab ini), beliau selalu berwudhu dan
mengerjakan shalat dua rakaat sembari memohon
petunjuk kepada Allah dalam menuliskannya. Setiap
hadits bersanad yang beliau tuliskan dalam kitab ini
memiliki sanad shahih dari Rasulullah SAW dengan
sanad yang muttashil (bersambung) dimana para
perawinya telah memenuhi persyaratan dalam hal
keadilan dan kesempurnaan hafalan.

Beliau menyelesaikan penyusunan kitab tersebut


selama enam belas tahun. Setelah itu, beliau
mengajukan kitabnya itu kepada Imam Ahmad, Yahya bin
Main, Ali bin Al Madini, dan selain mereka, kemudian
mereka menilainya sebagai kitab yang bagus dan
memberi rekomendasi/persaksian akan keabsahan hadits
dalam kitab tersebut.

Jumlah hadits dalam Shahih Al Bukhari termasuk


yang terulang berjumlah 7397 buah dan jika tidak

36
termasuk yang terulang berjumlah 2602 buah.
Demikianlah yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar.

Al Bukhari dilahirkan pada bulan Syawal tahun 194


H. Beliau tumbuh sebagai anak yatim di bawah asuhan
ibunya. Kemudian mulai menempuh perjalanan untuk
mencari hadits pada tahun 210 H. Beliau berpindah-
pindah tempat di dalam negerinya dalam rangka
mencari hadits. Kemudian tinggal di Hijaz selama enam
tahun. Setelah itu, pergi ke Syam, Mesir, Jazirah,
Bashrah, Kufah, dan Baghdad.

Beliau rahimahullah memiliki hafalan yang sangat


kuat. Disebutkan bahwa beliau bisa menghafal sebuah
kitab dengan sekali membaca. Beliau adalah seorang
yang sangat zuhud dan wara, jauh dari kehidupan para
penguasa dan pemimpin. Beliau seorang yang sangat
pemberani dan dermawan. Beliau adalah seorang
mujtahid dalam bidang fiqih. Beliau sangat teliti dalam
mengambil kesimpulan hukum suatu hadits
sebagaimana dapat disaksikan dalam judul-judul bab
dalam kitab Shahih-nya.

Beliau wafat di daerah Khartank yang berjarak dua


farsakh dari Samarkand pada malam Idul Fithri tahun
256 H dalam usia 62 tahun kurang tiga belas hari. Beliau
meninggalkan ilmu yang sangat banyak dalam berbagai
kitab karangannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat-
Nya kepadanya dan memberinya balasan yang lebih baik
atas jasa-jasanya bagi kaum muslimin.

b. Shahih Muslim

37
Kitab ini adalah kitab yang telah terkenal dan
disusun oleh Muslim bin Al Hajjaj. Beliau mengumpulkan
hadits-hadits shahih dari Rasulullah SAW menurut
penilaiannya di dalam kitab ini. An Nawawi berkata, Di
dalam kitab ini beliau menerapkan metode yang sangat
bagus dalam hal ketelitian, kesempurnaan, wara, dan
marifah dimana sangat jarang seorang mendapatkan
petunjuk untuk melakukan hal tersebut kecuali beberapa
orang saja di beberapa masa.

Beliau mengumpulkan hadits-hadits yang sesuai


dalam satu tempat dan menyebutkan berbagai jalur dan
lafadz-lafadz hadits yang dia susun per-bab. Hanya saja,
beliau tidak menyebutkan judul-judul bab tersebut.
Mungkin karena khawatir akan menambah tebal kitab
tersebut atau karena terdapat alasan yang lain.

Setiap bab dalam kitab ini telah diberi judul oleh


sejumlah ulama yang menjelaskannya. Di antara syarah
yang paling bagus adalah yang disusun oleh An Nawawi
rahimahullah. Jumlah hadits dalam kitab ini adalah 7275
buah, termasuk hadits yang terulang dan jika dibuang,
hanya berjumlah 4000 buah.

Apabila ditinjau dari segi keabsahannya, maka


mayoritas atau seluruh ulama telah sepakat bahwa
Shahih Muslim menduduki tingkat kedua setelah Shahih
Al Bukhari.

Muslim adalah Abu Al Husain Muslim bin Al Hajjaj


bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi. Beliau dilahirkan
pada tahun 210 H. Beliau melakukan perjalanan ke

38
berbagai negeri dalam rangka mencari hadits. Beliau
pergi ke Hijaz, Syam, Iraq, dan Mesir. Ketika Al Bukhari
datang di Naisabur, dia belajar kepadanya, mempelajari
ilmunya dan mengikuti setiap langkahnya.

Banyak ulama ahli hadits dan selainnya


memberikan pujian kepadanya. Beliau meninggal pada
tahun 261 H. Beliau meninggalkan ilmu yang banyak di
dalam karya-karyanya. Semoga Allah melimpahkan
rahmat-Nya kepadanya dan memberi balasan yang lebih
baik atas jasa-jasanya yang beliau berikan kepada kaum
muslimin.

c. Sunan An Nasa`i

An Nasa`i rahimahullah menyusun kitabnya As


Sunan Al Kubra dan memasukkan ke dalamnya berbagai
hadits shahih dan cacat. Kemudian beliau meringkasnya
dalam kitab As Sunan Ash Shughra dan beliau beri judul
Al Mujtaba yang di dalamnya beliau hanya
mengumpulkan berbagai hadits shahih menurut
penilaiannya.

Al Mujtaba adalah kitab Sunan yang paling sedikit


mengandung hadits dlaif dan perawi yang dijarh.
Derajat kitab ini berada setelah Ash Shahihain. Ditinjau
dari sisi para perawinya, kitab ini didahulukan daripada
Sunan Abi Dawud dan Sunan At Tirmidzi karena beliau
sangat berhati-hati dalam memilih para perawi. Al Hafizh
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, Banyak perawi yang
dipakai Abu Dawud dan At Tirmidzi yang ditinggalkan
oleh An Nasa`i dalam meriwayatkan haditsnya. Bahkan,

39
dalam meriwayatkan haditsnya dia meninggalkan
sejumlah perawi yang terdapat dalam Ash Shahihain.

Kesimpulannya, syarat An Nasa`i yang digunakan


dalam Al Mujtaba adalah syarat yang paling ketat
setelah syarat dalam Ash Shahihain.

An Nasa`i adalah Abu Abdir Rahman, Ahmad bin


Syuaib bin Ali An Nasa`i. Disebut juga An Nasawi karena
dinisbatkan kepada daerah Nasa, sebuah negeri yang
terkenal di daerah Khurasan.

Beliau dilahirkan pada tahun 215 H di Nasa.


Kemudian melakukan perjalanan untuk mencari hadits.
Beliau mendengar hadits dari penduduk Hijaz, Khurasan,
Syam, Jazirah, dan selainnya. Beliau tinggal lama di
Mesir. Di sanalah beliau karya beliau tersebar luas.
Kemudian beliau pergi ke Dimasyq dan mendapatkan
ujian (fitnah) di sana.

Beliau meninggal pada tahun 303 H di Ramalah,


Palestina dalam usia 88 tahun. Beliau meninggalkan
karya yang banyak dalam bidang hadits dan ilal.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya dan
memberinya balasan yang lebih baik atas jasa-jasanya
kepada kaum muslimin.

d. Sunan Abi Dawud

Kitab ini adalah kitab yang berisi 4800 hadits yang


diseleksi oleh penyusunnya dari 500.000 hadits. Beliau
hanya menyebutkan hadits-hadits tentang hukum.

40
Sunan Abi Dawud ini sangat terkenal di kalangan
ahli fiqih (fuqaha`) karena kitab ini mengumpulkan
hadits-hadits hukum. Penyusunnya mengatakan bahwa
dia telah menyodorkan kitabnya tersebut kepada Imam
Ahmad bin Hambal dan beliau menilainya sebagai kitab
yang bagus dan baik. Ibnu Al Qayyim memberikan pujian
yang hebat (terhadap kitab ini) dalam Muqaddimah kitab
Tahdzib-nya.

Abu Dawud adalah Sulaiman bin Al Asyats bin


Ishaq Al Azdi As Sijistani. Beliau dilahirkan di Sijistan,
salah satu daerah di Bashrah, pada tahun 202 H. Beliau
melakukan berbagai perjalanan mencari hadits. Beliau
menulis hadits dari penduduk Syam, Irak, Mesir, dan
Khurasan. Beliau mengambil hadits dari Ahmad bin
Hambal dan juga dari guru-guru Al Bukhari dan Muslim.

Para ulama memberikan pujian kepadanya dan


menyebutkan bahwa beliau memiliki hafalan yang
sempurna, pemahaman yang kuat, dan seorang yang
wara. Beliau meninggal di Bashrah pada tahun 275 H
dalam usia 73 tahun. Beliau meninggalkan karya yang
banyak. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya
kepadanya dan memberinya balasan yang lebih baik
atas jasa-jasanya yang diberikan kepada kaum muslimin.

e. Sunan At Tirmidzi

Kitab ini juga terkenal dengan nama Jami At


Tirmidzi. At Tirmidzi rahimahullah menyusunnya
berdasarkan dengan bab-bab fiqih. Beliau menjelaskan
derajat shahih, hasan, atau dlaif setiap hadits pada

41
tempatnya masing-masing dan menjelaskan sisi
kelemahannya. Beliau juga menjelaskan ulama yang
beliau ambil pendapatnya baik dari kalangan sahabat
atau selainnya. Di akhir kitab tersebut, beliau menyusun
sebuah kitab yang membahas tentang ilmu ilal dan
dalamnya beliau mengumpulkan berbagai faedah yang
penting.

Dalam kitab ini terdapat berbagai faedah dalam


bidang fiqih dan hadits yang tidak ada dalam kitab yang
lain. Para ulama dari Hijaz, Iraq dan Khurasan
menilainya sebagai kitab yang bagus tatkala
penyusunnya menyodorkan kitab ini kepada mereka.

At Tirmidzi adalah Abu Isa, Muhammad bin Isa bin


Surah As Sulami At Tirmidzi. Beliau dilahirkan di Tirmidz
-sebuah kota di ujung Jaihun- pada tahun 209 H. Beliau
berkeliling ke seluruh negeri dan mendengar hadits dari
penduduk Hijaz, Iraq, dan Khurasan.

Para ulama sepakat atas keimaman dan kemuliaan


beliau. Bahkan, Al Bukhari pun bersandar pada
periwayatannya dan mengambil riwayat darinya padahal
Al Bukhari merupakan salah satu gurunya.

Beliau meninggal pada tahun 279 H dalam usia 70


tahun. Beliau menghasilkan karya-karya yang sangat
bermanfaat dalam bidang ilal dan selainnya. Semoga
Allah melimpahkan rahmat-Nya dan memberinya
balasan yang lebih baik.

f. Sunan IbnuMajah

42
Ini adalah kitab yang disusun oleh penulisnya
berdasarkan urutan bab. Di dalamnya penyusun
mengumpulkan 4341 buah hadits. Berdasarkan pendapat
yang masyhur di kalangan mutaakhirin kitab ini
termasuk kitab induk keenam dari enam kitab induk
hadits. Meskipun demikian, kitab ini derajatnya lebih
rendah dari kitab Sunan An Nasa`i, Sunan Abi Dawud,
dan Sunan At Tirmidzi. Bahkan, telah masyhur bahwa
hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara
bersendirian umumnya adalah hadits dlaifAdz Dzahabi
berkata, Di dalamnya terdpat hadits-hadits mungkar
dan sejumlah kecil hadits maudlu.

Mayoritas hadits yang beliau takhrij juga


diriwayatkan oleh semua atau sebagian penyusun enam
kitab induk hadits. Dan beliau meriwayatkan hadits
secara bersendiri dan tidak diriwayatkan oleh mereka
(penyusun enam kitab induk hadits) sebanyak 1339 buah
sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Ustadz
Muhammad Fu`ad Abdul Baqi.

Ibnu Majah adalah Abu Abdillah Muhammad bin


Yazid bin Abdillah bin Majah (dengan huruf ha` yang
disukun, tetapi ada yang mengatakan dengan huruf ta`)
Ar Rabai (maula mereka) Al Qazwini.

Beliau dilahirkan di Qazwin termasuk wilayah


Iraq- pada tahun 209 H. Beliau melakukan perjalanan
dalam mencari hadits sampai ke Ar Ray, Bashrah, Kufah,
Baghdad, Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau mengambil
hadits dari banyak orang di negeri-negeri tersebut.

43
Beliau meninggal pada tahun 273 H dalam usian 64
tahun. Beliau memiliki banyak karya yang bermanfaat.
Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya dan memberi
balasan yang lebih baik atas jasa-jasanya kepada kaum
muslimin.

9. Fakta unik tentang Al Hadits


Muslim Syi'ah hanya mempercayai hadis yang
diriwayatkan oleh keturunan Muhammad saw, melalui
Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang
memihak Ali bin Abi Thalib. Syi'ah tidak menggunakan
hadis yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang
menurut kaum Syi'ah diklaim memusuhi Ali, seperti
Aisyah, istri Muhammad saw, yang melawan Ali pada
Perang Jamal. Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, tetapi
sebagian besar menggunakan: * Ushul al-Kafi * Al-
Istibshar * Al-Tahdzib * Man La Yahduruhu al-Faqih.
Para Imam Syiah memerintahkan penulisan hadits pada
saat tokoh tokoh Suuni ternama enggan menulis hadits,
yaitu menjelang abad ke 3 M.
Masih banyaknya pertentangan tentang keshahihan
kitab bukhari dan Muslim yang dianggap sebagai kitab
paling shahih.
Tertundanya penulisan hadits merupakan salah satu isu
penting dalam sejarah hadits. Penundaan tersebut
memberi pengaruh penting terhadap gaya bahasa
hadits, jumlahnya, kemungkinan pemalsuannya, serta
berbagai masalah lain yang terkait di dalamnya.
Al Bukhari membuang tujuh ratus ribu hadits, dan Abu
Hanifah hanya menerima seratus lima puluh dari sekitar
satu juta hadits.

44
C. IJTIHAD
1. Definisi Ijtihad
Menurut bahasa, ijtihad berarti (bahasa Arab )Al-
jahd atau al-juhd yang berarti la-masyaqat (kesulitan dan
kesusahan) dan akth-thaqat (kesanggupan dan
kemampuan).
Kata al-jahd (9:79) beserta serluruh turunan katanya
menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa dan
sulit untuk dilaksanakan atau disenangi.
Secara istilah ijtihad berarti pencurahan segenap
kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan
akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan
hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam
al-Quran dan as-Sunnah.
2. Dalil Ijtihad
Adapun dasar dari keharusan berijtihad ialah antara
lain terdapat pada al-Qur'an surat an-Nisa ayat 59 :
Wahai orang orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul, dan ulil amri diantara kalian.
Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin
Mas'ud sebagai berikut : " Berhukumlah engkau dengan al-
Qur'an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu
engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila
engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka
ijtihadlah ".
3. Perkembangan Ijtihad
Ijtihad dalam sejarah dan perkembangannya, telah
ada sejak zaman Rasulullah saw. Rasulullah saw. sendiri
adalah mujtahid (ahli ijtihad) pertama. Ijtihadnya terbatas
dalam masalah-masalah yang belum ditetapkan hukuknya
oleh wahyu (Alquran).

45
Pada masa Abu Bakar jika menghadapi persoalan dan
tidak menemukan nashnya di dalam Alquran dan hadis, ia
mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan
menentukan hukum dari masalah-masalah itu. Demikian
pula pada masa Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali
bin Abi Thalib. Mereka menggunakan ijtihad terhadap
masalah-masalah yang tidak didapati nasnya di dalam
Alquran dan sunah Rasulullah saw. akan tetapi, diantara
keempat sahabat besar itu, hanya Umar yang banyak
diketahui memakai ijtihad.
Sesudah masa sahabat, ijtihad semakin berkembang. Hal
ini ditandai dengan munculnya mujtahid besar, separti Abdullah
bin Umar bin Khatab, Ibnu Syihad az-Zuhri, Abdullah bin Abbas,
Alqamah bin Qais, Anas bin Malik, Umar bin Abdul Aziz, Abdullah
bin Amr, dan Wahhab bin Munabbih.
Ijtihad mengalami perkembangan yang paling pesat pada
abad kedua sampai dengan abad keempat Hijriah. Masa itu
dikenal dengan priode pembukuan sunah serta fikih dan
munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang kemudian dikenal
sebagai Imam-imam mazhab, yaitu, Imam Jafar, Imam Hanafi,
Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam
Hanbali).
Kaum muslimin (secara historis) menggunakan
kesempatan berijtihad untuk melepaskan tanggung jawab
dalam menjawab permasalahan kehidupan yang belum
ditemui dalam hukum yang jelas (dhahir) sampai
datangnya masa penaklukan kota Baghdad di masa
kekuasaan Dinasti Abbasiyah oleh Bangsa Tartar (sekitar
665 H.).
Setelah abad keempat Hijriah, perkembangan ijtihad
mengalami kemunduran, bahkan muncul pendapat bahwa
pintu ijtihad telah tertutup.

46
Selanjutnya, perkembangan ijtihad dalam kehidupan
muslimin berjalan lamban, dan secara umum tidak ada
perbedaan mendasar tentang ijtihad, meskipun ada juga
pembeda di antara kelompok muslim. Seperti, adanya perbedaan
antara mereka yang memasukkan qiyas dalam ijtihad dan
sebagian lagi menolak.
4. Syarat syarat Ijtihad
Kemampuan berijtihad dan kelayakan untuk menjadi
seorang mujtahid tidak mungkin tercapai melainkan apabila
seseorang itu memenuhi syarat syarat ijtihad seperti di
bawah ini :
a. Adil
b. Laki laki
c. Beriman
d. Bukan anak hasil zina
e. Wara
f. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat
ayat Al Quran.
g. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits hadits
Rasul.
h. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah
ditunjukkan oleh ijma agar ia tidak berijtihad yang
hasilnya bertentangan dengan ijma.
i. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas
dan dapat mempergunakannya untk menggali hukum.
j. Menguasai bahasa Arab secara mendalam.
k. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh
mansukh dalam Al Quran dan Al Hadits.
l. Mengetaui latar belakang turunnya ayat (asbabun
nuzul) dan latar belakang suatu hadits (asbabul wurud),
agar ia mampu melaksanakan istinbat hukum secara
tepat.
m. Mengetahui sejarah para periwayat hadits agar ia dapat
menilai suatu hadits, apakah hadits tersebut dapat
diterima atau ditolak.

47
n. Mengetahui ilmu logika / mantiq, agar ia dapat
menghasilkan dedukssi yang benar dalam menyatakan
suatu pertimbangan hukum dan sangggup
mempertahankannya.
o. Menguasai kaidah kaidah istinbat hukum / ushul fiqih,
agar dengan kaidah kaidah ini ia mampu mengolah
dan menganalisa permasalahan yang akan
diketahuinya.

Menurut al-Ghazali, objek ijtihad adalah setiap hukum


syara yang tidak memiliki dalil yang qathi. Dari
pendapatnya itu, diketahui ada permasalahan yang tidak
bisa dijadikan objek ijtihad. Dengan demikian, syariat Islam
dalam kaitannya dengan ijtihad terbagi dalam dua bagian:

Syariat yang tidak boleh dijadikan ijtihad, yaitu hukum-


hukum yang telah dimaklumi sebagai landasan pokok
Islam, yang berdasarkan pada dalil-dalil yang qathi,
seperti kewajiban melaksanakan shalat, zakat, puasa,
ibadah haji atau haramnya melakukan zina, mencuri dan
lain-lain. Semua itu telah ditetapkan hukumnya di dalam
Al-Quran dan As sunnah.

Syariat yang bisa dijadikan lapangan ijtihad, yaitu


hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang bersifat
zhanni, baik maksudnya, petunjuknya, ataupun
eksistensinya (subut), serta hukum-hukum yang belum
ada nash-nya dan ijma para ulama.

Apabila ada nash yang berkeadaannya masih


zhanni, hadis ahad misalnya, maka yang menjadi

48
lapangan ijtihad diantaranya adalah meneliiti bagaimana
sanadnya, derajat para perawinya, dan lain-lain.

Dan nash yang petunjuknya masih zhanni, maka


yang menjadi lapangan ijtihad, antara lain bagaimana
maksud dari nash tersebut, misalnya dengan memakai
kaidah am, khas, mutlaq muqayyad, dan lain-lain.

Sedangkan terhadap permasalahan yang tidak ada nash-


nya, maka yang menjadi lapangan ijtihad adalah dengan
cara menggunakan kaidah-kaidah yang bersumber dari
akal, seperti qiyas, istihsan, mashalah murshalah, dan
lain-lain. Namun permasalahan ini banyak diperdebatkan
dikalangan para ulama.

5. Tingkatan Ijtihad
Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan, yaitu :
1. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil, yaitu ijtihad yang dilakukan
dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan
kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai
sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali
hukum. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya
sendiri manakala dipandang perlu. Mujtahid dari tingkatan
ini contohnya seperti Imam Jafar, Imam Hanafi, Imam
Malik, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal
dengan sebutan Mazhab Lima.
2. Ijtihad Muntasib, yaitu ijtihad yang dilakukan seorang
mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan
kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid
muthlaq/Mustaqil). Jadi untuk menggali hukum dari
sumbernya, mereka memakai sistem atau metode yang
telah dirumuskan imamnya, tidak menciptakan sendiri.

49
Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud
dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Contohnya,
dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. Dari
madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu
Yusuf. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk
kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil.
3. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut
mujtahid mazhab/fatwa, yaitu ijtihad yang dilakukan
seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu.
Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-
kaidah istinbath imamnya, demikian juga mengenai
hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Ijtihad
mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang
memang belum diijtihadi imamnya, men-takhrij-kan
pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat
yang dinukil dari imamnya, mana yang shahih dan mana
yang lemah. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini
dari madzhab Syafi'i.
4. Ijtihad di bidang tarjih, yaitu ijtihad yang dilakukan
dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada
baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun
dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana
diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau
mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai
dengan tuntunan zaman. Dalam mazhab Syafi'i, hal itu
bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i.
Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok
ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya;
sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu
mereka menjadikannya satu tingkatan.
6. Macam macam Ijtihad

50
Ada beberapa macam Ijihad yang dikenal dalam syariat
Islam :
1. Ijma
Menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat.
Sedangkan menurut istilah adalah kebulatan pendapat
ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau
wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara
dengan cara musyawarah. Hasil Ijma adalah fatwa yaitu
keputusamn bersama para ulama dan ahli agama yang
berwenang untuk diikuti seluruh umat.
2. Qiyas
Yaitu berarti mengukur sesuatu dengan cara lain dan
menyamakannya. Dengan kata lain qiyas dapat diartikan
pula sebagai suatu upaya untuk membandingakan suatu
perkara dengan perkara dengan perkara lain yang
mempunyai pokok masalah atau sebab akibat yang sama.

3. Istihsan
Yaitu suatu proses perpiindahan dari suatu qiyas kepada
qiyas yang lainnya yang lebih kuat atau mengganti
argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk
mencegah kemudharatan. Dapat diartikan pula
menetapkan hukum suatu perkara yang menurut logika
dapat dibenarkan.
4. Mushalat Murshalah
Menurut bahasa berarti kesejahtteraan umum. Adapun
menurut istilah adalah perkara perkara yang perlu
diperhatikan demi kemashlahatan manusia.
5. Suhudz Dzariah
Menurut bahasa berarti menutup jalan. Sedangkan
menurut istilah adalah tindakan memutuskan suatu yang
mubah menjadi makruh atau haram demi kepentingan
umat.

51
6. Istishab.
Yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan
telah ditetapkan di masa lalu hingga ada dalil yang
mengubah kedudukan hukum tersebut.
7. Urf
Yaitu berupa perbuatan yang dilakukan terus menerus
(adat), baik berupa perkataan maupun perbuatan.
7. Lima Mazhab Besar Dunia
a. IMAM JAFAR ( 80 148 H / 699 765 M)
Jafar Ash-Shadiq adalah Jafar bin Muhammad Al-Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami
Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW. Beliau
dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah (699 M). Ibunya
bernama Ummu Farwah binti Al-Qasin bin Muhammad bin
Abu Bakar As-Siddiq. Pada beliaulah terdapat perpaduan
darah Nabi SAW dan Abu Bakar As-Siddiq ra.
Beliau berguru langsung dengan ayahnya
Muhammad Al-Baqir di sekolah ayahnya, yang banyak
melahirkan tokoh tokoh ulama besar Islam. Jafar Ash-
Shadiq adalah seorang ulama besar dalam banyak bidang
ilmu, seperti ilmu filsafat, tasawuf, fiqih, kimia dan ilmu
kedokteran. Beliau adalah Imam yang keenam dari dua
belas Imam dalam mazhab Syiah Imamiyah. Dikalangan
kaum sufi beliau adalah guru dan syaikh yang besar dan
dikalangan ahli kimia beliau dianggap sebagai pelopor
ilmu kimia. Diantaranya beliau menjadi guru Jabir bin
Hayyam ahli kimia dan kedokteran Islam. Dalam mazhab
Syiah fiqih Jafarilah sebagai fiqih mereka, karena
sebelum Jafar Ash-Shadiq dan pada masanya tidak ada
perselisihan. Perselisihan dan perbedaan pendapat baru
muncul setelah masa beliau.
Ahli Sunnah berpendapat bahwa Jafr Ash-Shadiq
adalah seorang mujtahid dalam ilmu fiqih, yang mana

52
beliau sudah mencapai ketingkat ladunni, belaiu dianggap
sebagai sufi ahli Sunnah dikalangan syaikh-syaikh mereka
yang besar, serta padanyalah tempat puncak
pengetahuan dan darah Nabi SAW yang suci.
Syahrastani mengatakan bahwa Jafar Ash-Shadiq
adalah seorang yang berpengetahuan luas dalam agama,
mempunyai budi pekerti yang sempurna serta sangat
bijaksana, zahid dari keduniaan, jauh segala hawa nafsu.
Imam Abu Hanifah berkata: Saya tidak dapati orang
yang lebih faqih dari jafar bin Muhammad.
George Zaidan berkata: Diantara muridnya adalah
Abu Hanifah (wafat 150 H / 767 M), Malik bin Anas (wafat
179 H / 795 H) dan Wasil bin Ata (wafat 181 H / 797 M).
Abu Nuaim mengatakan bahwa diantara murid beliau juga
ialah Muslim bin Al-Hajjaj, perawi hadits shahih yang
masyhur. Bahkan riwayat lain mengatakan bahwa di
Kufah, sedikitnya ada 900 orang Syaikh belajar kepada
beliau di masjid Kufah.
Abu Zuhrah berkata: Beliau (Jafar Ash-shadiq)
berpandukan kitab Allah (Al-Quran), pengetahuan serta
pandangan beliau sangat jelas, beliau mengeluarkan
hukum-hukum fiqih dari nash-nashnya, beliau
berpandukan keoada sunnah, sesungguhnya beliau tidak
mengambil melainkan hadits riwayat Ahli Bait (Keluarga
Nabi).

b. IMAM ABU HANIFAH (80 150 H / 699 767 M)


Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, adalah Abu
Hanifah An-Nukman bin Tsabit bin Zufi At-Tamimi. Beliau
masih mempunyai pertalian hubungan kekeluargaan
dengan Imam Ali bin Abi Thalib ra. Imam Ali bahkan
pernah berdoa bagi Tsabit, yakni agar Allah memberkahi
keturunannya. Tak heran, jika kemudian dari keturunan

53
Tsabit ini, muncul seorang ulama besar seperti Abu
Hanifah.
Dilahirkan di Kufah pada tahun 150 H / 699 m, pada
masa pemerintahan Al-Qalid bin Abdul Malik, Abu Hanifah
selanjutnya menghabiskan masa kecil dan tumbuh
menjadi dewasa disana. Sejak masih kanak-kanak, beliau
telah mengkaji dan menghafal Al-Quran. Beliau dengan
tekun senantiasa mengulang-ulang bacaannya, sehingga
ayat-ayat suci tersebut tetap terjaga dengan baik dalam
ingatannya, sekaligus menjadikan beliau lebih mendalami
makna yang dikandung ayat-ayat tersebut. Dalam hal
memperdalam pengetahuannya tentang Al-Quran beliau
sempat berguru kepada Imam Asin, seorang ulam terkenal
pada masa itu.
Selain memperdalam Al-quran, beliau juga aktif
mempelajari ilmu fiqih. Dalam hal ini kalangan sahabat
Rasul, diantaranya kepada Anas bin Malik, abdullah bin
Aufa dan Abu Tufail Amir, dan lain sebagainya. Dari
mereka, beliau juga mendalami ilmu hadits.
Keluarga Abu hanifah sebenarnya adalah keluarga
pedagang. Beliau sendiri sempat terlibat dalam usaha
perdagangan, namun hanya sebentar sebelum beliau
memusatkan perhatian pada soal-soal keilmuan.
Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tekun
dalam mempelajari ilmu. Sebagai gambaran, beliau
pernah belajar fiqih kepada ulama yang paling terpandang
pada masa itu, yakni Humad bin Abu Sulaiman, tidak
kurang dari 18 tahun lamanya. Setelah wafat gurunya,
Imam Hanifah kemudinan mulai mengajar di banyak
majelis ilmu di Kufah.
Sepuluh tahun sepeninggal gurunya, yakni pada
tahun 130 H. Imam Hanifah kemudian pergi meninggalkan

54
Kufah menuju Mekah. Beliau tinggal beberapa tahun
lamanya disana, dan di tempat itupun beliau bertemu
dengan salah seorang murid Abdullan bin Abbas ra.
Semasa hidupnya, Imam Abu Hanifah dikenal sebagai
seorang yang sangat dalam ilmunya, ahli zuhud, sangat
tawadhu, dan sangat teguh memegang ajaran agama.
Beliau tidak tertarikkepada jabatan-jabatan resmi
kenegaraan, sehingga beliau pernah menolak tawaran
menjadi hakim (Qadhi) yang ditawarkan oleh Al-Mansur.
Konon, karena penolakannya itu belliau kemudian
dipenjarakan hingga akhir hayatnya.
Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H / 767 M,
pada usia 70 tahun. Beliau dimakamkan dipekuburan
Khizra. Pada tahun 450 H / 1066 M, didirikanlah sebuah
sekolah yang diberi nama Jami Abu Hanifah.
Sepeninggal beliau, ajaran dan ilmunya tetap
tersebar melalui murid-muridnya yang cukup banyak.
Diantara murid-murid Abu Hanifah yang terkenal adalah
Abu yusuf, Abdullah bin Mubarak, Waki bin Jarah ibn
Hasan Al-Syaibani, dan lain-lain. Sedang diantarakitab Abu
Hanifah adalah : Al-Musuan (kitab hadits, dikumpulkan
oleh muridnya), Al-Makharij (buku ini dinisbahkan kepada
Abu Hanifah, diriwayakan oleh Abu Yusuf), Fiqh Akbar
(kitab fiqih yang lengkap).
c. IMAM MALIK BIN ANAS (93 179 H / 795 M)
Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, dilahirkan di
Madinah, pada tahun 93 H. Beliau berasal dari Kablah
Yamniah. Sejak kecil beliau telah rajin menghadiri majelis-
majelis ilmu pengetahuan, sehingga sejak kecil itu pula
beliau telah hafal Al-Quran. Tak kurang dari itu,
ibundanya sendiri yang mendorong Imam Malikuntuk
senantiasa giat menuntut ilmu.

55
Pada mulanya beliau belajar dari Ribiah, seorang
ulama yang sangat terkenal pada waktu itu. Selain itu,
beliau juga memperdalam hadits kepada Ibn Syihab,
disamping juga mempelajari ilmu fiqih dari para sahabat.
Karena ketekunan dan kecerdasannya, Imam Malik
tumbuh sebagai seorang ulama yang terkemuka,
terutama dalam bidang ilmu hadits dan ilmu fiqih. Bukti
atas hal itu, adalah ucapan Al-Dahlami ketika dia berkata:
Malik adalah orang yang paling ahli dalam bidang hadits
di Madinah, yang paling mengetahui tentang keputusan-
keputusan Umar, yang paling mengerti tentang pendapat-
pendapat Adullah bin Umar, Aisyah ra, dan sahabat-
sahabat mereka, atas dasar itulah dia memberi fatwa.
Apabila diajukan kepada suatu masalah, dia menjelaskan
dan memberi fatwa.
Setelah mencapai tingkat yang tinggi dalam bidang
ilmu itulah, Imam Malik mulai mengajar. Karena beliau
merasa memiliki kewajiban untuk membagi
pengetahuannya kepada orang lain yang membutuhkan.
Meski begitu, beliau dikenal sangat bergati-hati
dalam memberi fatwa. Beliau tak lupa untuk terlebih
dahulu mneliti hadits-hadits Rasulullah SAW, dan
bermusyawarah dengan ulama lain, sebelum kemudian
memberikan fatwa atas suatu masalah. Diriwayatkan,
bahwa beliau mempunyai tujuh puluh orang yang biasa
diajak bermusyawarah untuk mengeluarkan suatu fatwa.
Imam Malik dikenal mempunyai daya ingat yang
sangat kuat. Pernah, beliau mendengar tiga puluh satu
hadits dari Ibn Syihab tanpa menulisnya. Dan ketika
kepadanya diminta mengulangi seluruh hadits tersebut,
tak satu pun dilupakannya. Imam Malik benar-benar
mengasah ketajaman daya ingatnya, terlebih lagi karena

56
pada masa itu masih belum terdapat suatu kumpulan
hadits secara tertulis. Karenanya karunia tersebut sangat
menunjang belaiu dalam menuntut ilmu.
Selain itu, beliau dikenal sangat ikhlas dalam
melakukan sesuatu. Sifat inilah kiranya yang memberi
kemudahan kepada beliau di dalam mengkaji ilmu
pengetahuan. Beliau sendiri pernah berkata: almu itu
adalah cahaya; ia akan mudah dicapai dengan hati yang
takwa dan khusyu. Beliau juga menasehatkan untuk
menghindari keraguan, ketika beliau berkata : Sebaik-
baik pekerjaan adalah yang jelas. Jika engkau menghadapi
dua hal, dan salah satunya meragukan, maka kerjakanlah
yang lebih meyakinkan menurutmu.
Karena sifat ikhlasnya yang besar itulah, maka Imam
Malik tampak enggan memberi fatwa yang berhubungan
dengan soal hukuman. Seorang muridnya, Ibnu Wahab,
berkata: Saya mendengar Imam Malik (jika ditanya
mengenai hukuman), beliau berkata: ini adalah urusan
pemerintahan. Imam Syafii sendiri pernah berkata:
Ketika aku tiba di Madinah, aku bertemu dengan Imam
Mali. Ketika mendengar suaraku, beliau memandang
diriku beberapa saat, kemudian bertanya: Siapa namamu?
Akupun menjawab: Muhammad! Dia berkata lagi: Wahai
Muhammad, bertakwalah kepada Allah, jauhilah maksiat
karena ia akan membebanimu terus, hari demi hari.
Tak pelak, Imam Malik adalah seorang ulama yang
sangat terkemuka, terutama dalam ilmu hadits dan fiqih.
Beliau mencapai tingkat yang sangat tinggi dalam kedua
cabang ilmu tersebut. Imam Malik bahkan telah menulis
kitab Al-Muwaththa, yang merupakan kitab hadits dan
fiqih.

57
Imam Malik meninggal dunia pada usia 86 tahun.
Namun demikian, mazhab maliki tersebar luas dan dianut
di banyak bagian di seluruh penjuru dunia.
d. IMAM SYAFII (150 204 H / 769 820 M)
Imam Syafii, yang dikenal sebagai pendiri mazhab Syafii
adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafii Al-Quraisyi. Belaiu
dilahirkan di Ghazzah, pada tahun 150 H, bertepatan
dengan wafatnya Imam Abu Hanifah.
Meski dibesarkan dalam keadaan yatim dan dalam
satu keluarga yang miskin, tidak menjadikan belaiu
merasa rendah diri, apalagi malas. Sebaliknya, bahkan
beliau sangat giat mempelajari hadits dari ulama ulama
hadits yang banyak terdapat di Mekah. Pada usianya yang
masih kecil, beliau juga telah hafal Al-Quran.
Pada usianya yang ke-20, belaiu meninggalkan
Mekah mempelajari ilmu fiqh dari Imam Malik. Merasa
masih harus memperdalam pengetahuannya, beliau
kemudian pergi ke irak, sekali lagi mempelajari fikih, dari
murid Imam Abu Hanifah yang masih ada. Dalam
perantauannya tersebut, belaiu juga sempat mengunjungi
Persia, dan beberapa tempat lain.
Setelah wafat Imam Malik (179 H), beliau kemudian
pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmu disana,
bersama harun Al-Rasyid, yang telah mendengar
kehebatan beliau, kemudian meminta beliau untuk datang
ke Baghdad. Imam Syafii memenuhi undangan tersebut.
Sejak saat itu beliau dikenal secara lebih luas, dan banyak
orang yang belajar kepadanya. Pada waktu itulah mazhab
beliau mulai dikenal.
Tak lama setelah itu, Imam Syafii kembali ke Mekah
dan mengajar rombongan jamaah haji yang datang dari

58
berbagai penjuru. Melalui mereka inilah, mazhab Syafii
menjadi terebar luas ke penjuru dunia.
Pada tahun 198 H, beliau pergi ke negeri Mesir.
Beliau mengajar di masjid Amru bin As. Beliau juga
menulis Kitab Al-Um, Amali Kubra, Kitab Risalah, Ushul al-
Fiqh, dan memperkenalkan Waul Jadid sebagai mazhab
baru. Adapun dalam hal menyusun kitab Ushul Fiqh, Imam
Syafii dikenal sebagai orang yang pertama yang
mempelopori penulisan dalam bidang tersebut.
Di Mesir inilah kemudian Imam Syafii wafat, setelah
menyebarkanilmu dan manfaat kepada banyak orang.
Kitab-kitab beliau hingga kini masih dibaca orang, dan
makam beliau di Mesir sampai detik ini masih ramai
diziarahi orang. Sedang murid-murid beliau yang terkenal,
diantaranya adalah: Muhammad bin Abdullah bin Al-
Hakam, Abu Ibrahim bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub
Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti dan lain sebagainya.

e. IMAM AHMAD HAMBALI (164 241 H / 780 855 M)


Imam Ahmad Hambali adalah Abu Abdullah Ahmad bin
Muhammad bin Hambal bin Hilal Al-Syaibani. Beliau
dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H
(780 M).
Ahmad bin Hambal dibesarkan dalam keadaan
yatim oleh ibunya, karena ayahnya meninggal ketika
beliau masih bayi. Sejak kecil beliau telah menunjukkan
sifat dan pribadi yang mulia, sehingga menarik simpati
banyak orang. Dan sejak kecil itu pula beliau telah
menunjukkan minat yang besar kepada ilmu
pengetahuan, kebetulan pada saat itu Baghdad

59
merupakan kota pusat ilmu pengetahuan. Beliau memulai
dengan belajar menghafal Al-Quran, kemudian belajar
bahasa Arab, hadits, sejarah Nabi dan sejarah sahabat
serta para tabiin.
Untuk memperdalam ilmu, beliau pergi ke Bashrah
untuk beberapa kali, disanalah beliau bertemu dengan
Imam Syafii. Beliau juga pergi menuntut ilmu ke Yaman
dan Mesir. Diantaranya guru beliau yang lain adalah Yusuf
Al-Hasab bib Ziad, Husyaim, Umair, Ibn Humam dan Ibn
Abbas. Imam Ahmad bin Hambal banyak mempelajari dan
meriwayatkan hadits, dan beliau tidak mengambil hadits,
keculai hadits-hadits yang sudah jelas shahihnya. Oleh
karena itu, akhirnya beliau berhasil mengarang kitab
hadits, yang terkenal dengan nama Musnad Ahmad
Hambali. Beliau mulai mengajar ketika berusia empat
puluh tahun.
Pada masa pemerintahan Al-Muktasim Khalifah
Abbasiyah beliau sempat dipenjara, karena sependapat
dengan opini yang mengatakan bahwa Al-Quran adalah
makhluk. Beliau dibebaskan pada masa Khalifah Al-
Mutawakkil.
Imam Ahmad Hambali wafat di Baghdad pada usia
77 tahun, atau tepatnya pada tahun 241 H (855 m) pada
masa pemerintahan khalifal Al-Wathiq. Sepeninggal
beliau, mazhab Hambali berkembang luas dan menjadi
salah satu mazhab yang memiliki banyak penganut.

8. Fakta unik tentang Ijtihad


Khalifah yang paling banyak menggunakan ijtihad adalah
Umar bin Khattab. Umar pernah berijtihad dan mengubah
hukum Islam. Dan diabadikan dalam buku Falsafah At

60
Tasyr karya Subhi Mahmashani (1981), Yusuf Qardhawi
membahas dalam salah satu kitabnya As- - Saah wa Al
Muranah far Asy Syara Islamiyyah (1985), dll
Beberapa ijtihad Umr bin Khattab : tidak memberikan
zakat untuk mualaf, padahal telah ada ketentuannya
dalam Al Quran (9 : 60). Umar tidak memotong tangan
pencuri pada masa terjadinya kelaparan (5:38).

BAB III
PENUTUP

61
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan materi yang telah dipaparkan di
muka, ada beberapa poin yang dapat kita simpulkan,
beberapa diantaranya adalah :
Islam sebagai agama penyempurna telah menyiapkan
seperangkat aturan sebagai pedoman hidup setiap
muslim, yaitu Al Quran, Al Hadits, dan Ijtihad.
Al Quran diturunkan secara berangsur angsur namun
tidak ada jeda antara turunnya wahyu dengan
penulisannya, berbeda dengan hadits yang lebih
mengandalkan tradisi lisan dan pertentangan tentang
kebolehan dalam penulisan hadits.
Perawi yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah
Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan
Aisyah binti Abu Bakar.
Ijtihad telah melahirkan banyak mazhab di dunia.
Tidak semua orang layak melakukan ijtihad atau istinbat
hukum Islam. Karenanya wajib hukumnya bagi seseorang
yang memiliki kemampuan terbatas untuk bertaqlid
kepada muqallid.

B. SARAN
Untuk penulis dan pembaca sekalian agar lebih
mendalami hukum Islam yang menjadi pedoman agar
terciptanya tujuan penciptaan manusia.
Bersikap krits dan tanggap dalam menerima serta
memahami sebuah pernyataan atau hukum Islam.
Tolak ukur dalam mencari kebenaran adalah literatur
(yang shahih) dan akal (yang kritis).
Bersikap positif dan sportif dalam menghadapi
keanekaragaman (perbedaan) yang terjadi dalam tubuh
Islam, dikarenakan terlalu banyaknya sumber yang
dijadikan rujukan.

62
DAFTAR PUSTAKA

Ujaj Khatib, Dr. Muhammad, Ushulul Hadist Taysir Mustalah


Hadist
Nawawi, Imam, As-Suyuthi, Jalaludin, Tadrib ar-Rawi
Al-A'zami, M.M., (2005), Sejarah Teks Al-Qur'an dari
Wahyu sampai Kompilasi, (terj.), Jakarta: Gema Insani
Press, ISBN 979-561-937-3.
Rahman, A., (2007), Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Quran:
Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Quran,
(terj.), Bandung: Penerbit Mizania, ISBN 979-8394-43-7
Baidan, Nashruddin. 2003. Perkembangan Tafsir Al Qur'an di
Indonesia. Solo, Tiga Serangkai.
Faridl, Miftah dan Syihabudin, Agus --Al-Qur'an, Sumber Hukum
Islam yang Pertama, Penerbit Pustaka, Bandung, 1989 M.
Qardawi, Yusuf. 2003. Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Quran.
(terjemahan: Kathur Suhardi). Jakarta. Pustaka Al-Kautsar.
Online Quran Project list over 100+ translation in 25 different
languages.
Quran Terjemah Indonesia
Al-Qaththan, Syaikh Manna' Khalil. 2006. Pengantar Studi Ilmu
Al-Qur'an (Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an). Terjemahan: H.
Aunur Rafiq El-Mazni, Lc, MA. Jakarta. Pustaka Al-Kautsar.
Al Mahali, Imam Jalaluddin dan Imam Jalaluddin As Suyuthi,2001,
Terjemahan Tafsir Jalalain Berikut Azbabun Nuzul Jilid 4
(terj oleh Bahrun Abu Bakar, Lc), Bandung, Sinar Algesind
Departemen Agama Republik Indonesia -- Al-Qur'an dan
Terjemahannya.

63
Khalaf Zadeh, Qasim Mir, Kisah Kisah Al Quran, Qorina, Jakarta,
2006.
Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab, Lentera,
Jakarta, Februari 2004
Qurba, Abu, Taqlid, Fathu Makkah, Jakarta, Oktober 2003
DR. H. Bisri Affandi, MA. (1993) Dirasat Islamiyyah (Ilmu
Tafsir & Hadits). CV aneka Bahagia Offset.
http://gurukuansing.blogspot.com/2010/01/tata cara atau adab
tilawah al-qur.html
http://10109472.blog.unikom.ac.id/iman-kepada.1pi
http://ratih1727.multiply.com/journal/item/103/BERPEGANG
TEGUH KEPADA KITABULLAH DAN ASSUNNAH
http://archive.kaskus.us/forum/21
http://tatangjm.wordpress.com/fungsi-hadits-terhadap-al-quran/
http://www.ustsarwat.com/cari.php?k=hds
http://roudhotul.blogspot.com/2008/05/fungsi-hadits.html

64