Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan Gerakan Islam. Maksud


gerakanya ialah Dakwah Islam dan Amar Maruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang
yaitu perseorangan dan masyarakat. Dakwah dan Amar Maruf nahi Munkar pada bidang
pertama terbagi kepada dua golongan. Pertama, kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan
(tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; dan yang kedua kepada
yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam.
Adapun dawah Islam dan Amar Maruf nahi Munkar bidang kedua, ialah kepada
masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan
dengan dasar taqwa dan mengharap keridlaan Allah semata-mata.
Dengan melaksanakan dakwah Islam dan amar maruf nahi munkar dengan caranya
masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuannya, ialah
Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Seberapa pentingkah kepribadian islami itu ?


2. Apa saja sifat sifat dasar muhammadiyah itu ?
3. Mengapa kita harus memahami konsep kepribadian muhammadiyah ?

1.3 Tujuan

1. Mengerti betapa pentingnya berkpribadian muhammadiyah.


2. Menjadi acuan atau pedoman untuk menjadi lebih baik kedepannya.
3. Menjadi manusia yang lebih baik di berbagai aspek kehidupan.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Dirumuskannya Kepribadian Muhammadiyah

Kepribadian Muhammadiyah ini timbul pada waktu Muhammadiyah dipimpin oleh


Bapak Kolonel H.M. Yunus Anis, ialah pada periode 1959-1962. Kepribadian Muhammadiyah
ini semula berasal dari uraian Bapak H. Faqih Usman, sewaktu beliau memberikan uraian dalam
suatu latihan yang diadakan Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada saat itu
almarhum KH. Faqih Usman menjelaskan bahasan yang berjudul: Apa sih Muhammadiyah
itu?
Kemudian oleh Pimpinan Pusat dimusyawarahkan bersama-sama Pimpinan
Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur (HM. Saleh Ibrahim), Jawa Tengah (R. Darsono), dan
Jawa Barat (H. Adang Afandi). Sesudah itu disempurnakan oleh suatu Tim yang antara lain,
terdiri dari: KH. Moh.Wardan, Prof. KH. Farid Maruf, M. Djarnawi Hadikusuma, M. Djindar
Tamimy; kemudian turut membahas pula Prof.H. Kasman Singodimejo SH. di samping
pembawa prakarsa sendiri KH. Faqih Usman.
Setelah urusan itu sudah agak sempurna, maka diketengahkan dalam Sidang Tanwir
menjelang Muktamar ke 35 di Jakarta (Muktamar Setengah Abad). Dan di Muktamar ke-35
itulah Kepribadian Muhammadiyah disahkan setelah mengalami usul-usul penyempurnaan.
Dengan demikian maka rumusan Kepribadian Muhammadiyah ini adalah merupakan hasil
yang telah disempurnakan dalam Muktamar ke-35 setengah abad -pada tahun 1962, akhir
periode pimpinan HM. Yunus Anis.

2.2 Kepribadian Muhammadiyah

Sesungguhnya kepribadian Muhammadiyah itu merupakan ungkapan dari kepribadian


yang memang sudah ada pada Muhammadiyah sejak lama berdiri. KH. Faqih Usman pada saat
itu hanyalah mengkonstantir -meng-idhar-kan apa yang telah ada; jadi bukan merupakan hal-hal
yang baru dalam Muhammadiyah. Adapun mereka yang menganggap bahwa Kepribadian
Muhammadiyah sebagai perkara yang baru, hanyalah karena mereka mendapati
Muhammmadiyah sudah tidak dalam keadaan yang sebenarnya.

2
K.H. Faqih Usman sebagai seorang yang telah sejak lama berkecimpung dalam
Muhammadiyah, sudah benar-benar memahami apa sesungguhnya sifat-sifat khusus (ciri-ciri
khas) Muhammadiyah itu. Karena itu kepada mereka yang berlaku tidak sewajarnya dalam
Muhammadiyah, beliaupun dapat memahami dengan jelas. Yang benar-benar dirasakan oleh
almarhum ialah bahwa Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, berdasar Islam, menuju
terwujudnya masayarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu wataala,
bukan dengan jalan politik, bukan dengan jalan ketatanegaraan, melainkan dengan melalui
pembentukan masyarakat, tanpa memperdilikan bagamana struktur politik yang manguasainya;
sejak zaman Belanda, zaman militerisme Jepang, dan samapai zaman kemerdekaan Republik
Indonesia.
Muhammadiyah tidak buta politik, tidak takut politik, tetapi Muhammadiyah bukan
organisasi politik. Muhammadiyah tidak mencampuri soal-soal politik , tetapi apabila soal-soal
politik masuk dalam Muhammadiyah, ataupun soal-soal politik mendesak-desak urusan Agama
Islam, maka Muhammadiyah akan bertindak menurut kemampuan, cara dan irama
Muhammadiyah sendiri. Sejak partai politik Islam Masyumi dibubarkan oleh presiden Sukarno,
maka warga Muhammadiyah yang selama ini berjuang dalam medan politik praktis, mereka
masuk kembali dalam Muhammadiyah. Namun karena sudah terbiasa dengan perjuangan cara
politik, maka dalam mereka berjuang dana beramal dalam Muhammadiyah pun masih membawa
cara dana nada politik cara partai.
Oleh almarhum K.H. Faqih Usman dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada saat itu,
cara-cara demikian dirasakan sebagai cara yang dapat merusak nada dan irama Muhammadiyah.
Muhammadiyah telah mempunyai cara perjuangan yang khas. Muhammadiyah bergerak bukan
untuk Muhammadiyah sebagai golongan. Muhammadiyah bergerak dan berjuang untuk
tegaknya Islam, untuk kemenangan kalimah Allah, untuk terwujudnya masyarakat utama, adil
dan makmur yang diridlai Allah Subhanahu wataala. Hanya saja Islam yang digerakkan oleh
Muhammadiyah adalah Islam yang sajadah, Islam yang lugas (apa adanya), Islam yang menurut
Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw; dana menjalankannya dengan menggunakan akal
pikirannya yang sesuai dengan ruh Islam.
Secara leksikal, kepribadian berasal dari kata pribadi yang berarti manusia sebagai
perseorangan. Kepribadian (dengan imbuhan ke-an) berarti sifat hakiki yang tercermin pada
sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dengan orang lain atau bangsa lain.

3
Dengan demikian, yang dimaksud dengan kepribadian Muhammadiyah ialah rumusan
yang menggambarkan hakekat Muhammadiyah, serta apa yang menjadi dasar dan pedoman amal
usaha dan perjuangannya, serta sifat-sifat yang dimilikinya. Narasi berikut ini menjelaskan
kepribadian Muhammadiyah yang diharapkan dapat menjadi munthalaq (start pont), pedoman
dan pijakan utama dalam merumuskan kepribadian seorang muballigh Muhammadiyah,
termasuk Muballigh di kalangan mahasiswa. Muhammadiyah adalah sebagai Gerakan Islam dan
Dakwah Amar Maruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Quran dan
Sunnah. Secara fungsional Muhammadiyah merupakan alat untuk berjuang dan mencapai cita-
cita mulia, terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhoi Allah s.w.t. untuk
melaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi,
sebagaimana firman Allah s.w.t. :

Sebuah negeri yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah perlindungan Rabb Yang
Maha Pengampun. (Saba : 15)

Untuk mencapai tujuan itulah Muhammadiyah didirikan dengan bersendikan dua pilar
gerakan utama; amar maruf dan nahi munkar,berdasarkan :

Adakanlah dari kamu sekalian, golongan yang mengajak kepada keIslaman, menyuruh
kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan. Mereka itulah golongan yang beruntung
berbahagia. (Alu Imran : 104)

Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju terwujudnya masyarakat Islam yang


sebenar-benarnya, Muhammadiyah merumuskan prinsip-prinsip dasar segala gerak dan amal
usaha yang tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar berikut ini :

1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah dan taat kepada Allah s.w.t.
2. Hidup manusia bermasyarakat.
3. Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu
satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia
akhirat.

4
4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban
sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
5. Ittiba kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad saw.
6. Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi.

Dengan prinsip-prinsip dasar tersebut maka, apapun yang diusahakan termasuk cara-cara
atau sistem perjuangannya, Muhammadiyah berpedoman : Berpegang teguh akan
ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun di segala bidang dan lapangan dengan
menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah.
Kesemua rumusan tertera di atas mengantarkan kita kepada sepuluh sifat-sifat dasar
Muhammadiyah yang wajib dipelihara dan diamalkan :
1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah
3. Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam.
4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah
negara yang sah.
6. Amar maruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang
baik
7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan
sesuai dengan ajaran Islam.
8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan
mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara
dan membangun negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai
Allah s.w.t.
10. Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.

2.3 Memahami Kepribadian Muhammadiyah

Memahami Kepribadian Muhammadiyah berarti:


1. Memahami apa sebenarnya Muhammadiyah.

5
2. Karena Muhammadiyah ini sebagai organisasi, sebagai suatu persyarikatan yang
beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Quran dan Sunnah, maka perlu pula
difahami, Islam yang bagaimanakah yang hendak ditegakkan dan dijunjung tinggi
itu, mengingat telah banyak kekaburan kekaburan dalam Islam di Indonesia ini. Dan
hal ini pulalah yang hendak dipergunakan untuk mendasari atau menjiwai segala
amal usaha Muhammadiyah sebagai organsisasi.
3. Kemudian dengan sifat-sifat dan cara-cara yang kita contoh atau kita ambil dari
bagaimana sejarah dawah Rasulullah yang mula-mula dilaksanakan, itu pulalah
yang kita jadikan sifat gerak dawah Muhammadiyah, dengan kita sesuaikan pada
keadaan dan kenyataan kenyataan yang kita hadapi.

2.4 Cara Menuntunkan Kepribadian Muhammadiyah

Tidak ada cara lain dalam memberikan atau menuntunkan Kepribadian Muhammadiyah
ini, kecuali harus dengan teori dan praktek penanaman pengertian dan pelaksanaan.

1. Penandasan atau pendalaman pengertian tentang dawah atau bertabligh.


2. Menggembirakan dan memantapkan tugas berdawah. Tidak merasa rendah diri
(minder-waardig - Bld) dalam menjalankan dawah; namun tidak memandang rendah
kepada yang bertugas dalam lapangan lainnya (politik, ekonomi, seni-budaya dan lain-
lain).
3. Keadaan mereka -para warga- hendaklah ditugaskan dengan tugas yang tentu-tentu,
bukan hanya dengan sukarela. Bila perlu dilakukan dengan suatu ikatan, misalnya
dengan perjanjian, dengan baiat dan lainlain.
4. Sesuai dengan masa itu, perlu dilakukan dengan musyawarah yang sifatnya
mengevaluasi tugas-tugas itu. Sesuai dengan suasana sekarang, perlu pula dilakukan
dengan formalitas yang menarik, yang tidak melanggar hukum-hukum agama dan juga
dengan memberikan bantuan logistik.
5. Pimpinan Cabang, Ranting bersama-sama dengan anggota-anggotanya
memusyawarahkan sasaran-sasaran yang dituju, bahan-bahan yang perlu dibawakan
dan membagi petugas-petugas sesuai dengan kemampuan dan sasarannya.

6
6. Pada musyawarah yang melakukan evaluasi, sekaligus dapat ditambahkan bahan-bahan
atau bekal yang diperlukan, yang akan dibagikan kepada para warga selaku muballigh
dan muballighot.

2.5 Kepribadian Warga Persyarikatan Muhammadiyah

Muhammadiyah sebagai tenda besar segala amal usaha dan gerak dakwah kita memiliki
kepribadian, sifat-sifat dan karakter dasar yang demikian kuat. Tentunya kita, kader
Persyarikatan, khususnya para muballigh/dai di kalangan mahasiswa, yang menjadi agen utama
perubahan umat kepada kebaikan dan penerus estapet perjuangan Muhammadiyah dituntut untuk
secara ikhlas dan sungguh-sungguh memegang teguh (iltizam) serta committed dengan
kepribadian warga Persyarikatan Muhammadiyah yang telah dirumuskan berikut ini;
1) Memahami hakekat Islam secara menyeluruh mencakup aspek akidah, ibadah,
akhlaq dan muamalat dunyawiyah; bersumberkan Al-Quran dan Sunnah Maqbulah.
2) Melandasi segala sesuatu dengan niat ikhlas mencari ridla Allah s.wt. semata-mata.
3) Mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupannya, dan
berusaha untuk menegakkan Islam dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga dan
kehidupan bermasyarakat sehingga terwujud masyarakat utama yang diridlai oleh Allah s.wt.
4) Memiliki semangat jihad untuk memperjuangklan Islam.
5) Memiliki kemauan dan kesediaan untuk berkorban demi Islam baik korban waktu, harta,
tenaga bahkan nyawa sekalipun.
6) Mempunyai keteguhan hati dalam mengamalkan, menegakkan dan memperjuangkan Islam
dengan arti kata tidak mundur karena ancaman dan tidak terbujuk dengan rayuan dan selalu
istiqamah dalam kebenaran.
7) Mematuhi pimpinan dalam hal-hal yang disukai dan tidak disukai selama berada dalam garis
kebenaran. Apabila terjadi perbedaan pendapat antara dia dan pimpinan dalam hal yang
sifatnya mubah atau ijtihad, dia akan mendahulukan pendapat pimpinan.
8) Mengamalkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat.
9) Aktif dalam dakwah Islam (Muhammadiyah) secara murni dan penuh.
10) Bisa dipercaya dan mempercayai orang lain dalam organisasi.

7
Demikianlah Muhammadiyah telah berusaha maksimal untuk mengkonstruksi karakter
dan kepribadian warganya yang diharapkan menjadi shibgah (celupan, warna dasar) yang
menjadikannya unggul dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri, umat dan sesama anak bangsa.

2.6 Kepribadian Kita dan Pergeseran Tata Nilai Umat


Setelah mencermati narasi kepribadian Muhammadiyah dan Warga Muhammadiyah
tertera di atas, ada baiknya kita sandingkan dengan fakta dan orientasi kehidupan kekinian yang
berubah dalam durasi dan dengan akselarasi yang sangat cepat. Arus globalisasi yang ditandai
dengan revolusi teknologi di bidang komunikasi dan transportasi telah berhasil melipat belahan
bumi serta mengeliminir jarak dan selisih waktu antar negara. Melalui kekuatan teknologi
komunikasi setiap peristiwa di belahan bumi manapun dapat direkam dengan baik, teknologi
transportasi telah mampu membuat seseorang untuk berada di beberapa negara dalam waktu
yang sedemikian singkat. Inilah yang kemudian mengakhiri segala bentuk sekat-sekat budaya,
ras, aliran, ideologi dan bahkan agama di antara manusia sejagad.
Selain itu sistem kapitalisme global semakin menjerat para pemimpin dan warga negara-
negara berkembang, yang nota bene-nya adalah umat Islam. Namun di sisi yang lain muncul
segelintir pemilik modal raksasa yang dapat menggerakkan kecenderungan masyarakat umum
semaunya melalui impor budaya destruktif secara masal. Masyarakat masuk ke sebuah tatanan
kehidupan liberal yang individual, materialistis, sekularistik dan hedonis. Orientasi politik
masyarakatpun tak terelakkan dari arus deras ini. Lembaga trias politica; eksekutif, legislatif dan
yudikatif terjebak pada kubangan pragmatisme dan demokrasi liberal yang mengingkari fakta
kehendak nurani umat yang mayoritas. Dengan nalar demokrasi liberal masyarakat dicekoki
dengan berbagai produk legislasi yang berada di luar domain akal sehat.
Di tengah-tengah arus deras di atas kita hidup. Dalam menghadapi arus kehidupan yang
sedemikian deras, masyarakat dunia, tak terkecuali umat Islam, khususnya kita di Indonesia ini,
akan berhadapan face to face dengan berbagai dampak dari era ini dalam bentuk agresi ideologi,
politik, ekonomi, budaya, intelektual dll. yang semuanya ini dapat memarjinalkan dan
menggerus konservasi kearifan dan budi luhur serta nilai-nilai agama yang telah lama mereka
pegang dengan teguh.

8
2.7 Rekonstruksi Kepribadian Muballigh Mahasiswa
Dalam hemat pandangan kami, para aktivis dakwah Muhammadiyah, terkhusus lagi
muballigh dari kalangan mahasiswa, diperlukan sebuah konstruksi kepribadian, karakter atau
akhlaq yang berbasis pada sejarah kenabian (sirah nabawiyah) sehingga kita memiliki
autentisitas gerakan tabligh (dakwah) di tengah arus kehidupan modern yang sedemikian rupa.
Seringkali tidak kita sadari bahwa kita memaknai aktivitas dakwah sebagai aktivitas
memperbaiki orang lain. Akibatnya, kita terjebak pada aktivisme yang bersifat rutin dan
seringkali sangat menjenuhkan. Bahkan kadang kita mengalami defisit stamina batin dan keropos
pertahanan spiritual. Padahal ini menjadi modal utama dalam berdakwah/bertabligh. Perlu
direnungkan baik-baik kecaman Allah s.w.t. terhadap Bani Israel yang terlampau sibuk dengan
orang lain dan melupakan diri mereka sendiri :

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan
diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu
berpikir? (Al-Baqarah : 44)

Demikian pula ancaman Allah s.w.t. kepada kita, orang-orang beriman :

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak
kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan. (Al-Shaff :2-3)
Kedua ayat tersebut mengajarkan kita untuk membangun pondasi kepribadian yang
kokoh sebelum menyuruh orang lain melakukannya. Inilah kata kunci utama dalam
merekonstruksi konsep diri bangunan kepribadian kita.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan Gerakan Islam. Maksud


gerakanya ialah Dakwah Islam dan Amar Maruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua
bidang: perseorangan dan masyarakat. kepribadian berasal dari kata pribadi yang berarti
manusia sebagai perseorangan. Kepribadian (dengan imbuhan ke-an) berarti sifat hakiki yang
tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dengan orang lain
atau bangsa lain. Kepribadian Muhammadiyah ini timbul pada waktu Muhammadiyah
dipimpin oleh Bapak Kolonel H.M. Yunus Anis, ialah pada periode 1959-1962.
Dengan demikian, perlu difahamkan kepada warga Muhammadiyah: apakah
Muhammadiyah itu sebenarnya dan bagaimana cara membawa/menyebarluaskannya.
Menyebarkan faham Muhammadiyah itu pada hakekatnya menyebarluaskan Islam yang sebenar-
benarnya; dan oleh karena itu, cara menyebarkannya pun kita perlu mengikuticara-cara
Rasulullah saw menyebarkan Islam pada awal pertumbuhannya.

3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, diperlukan pemahaman tentang kepribadian
kemuhammadiyahan agar tingkah laku kita lebih baik dan teratur sesuai dengan pedoman
tingkah laku yg di dasarkan oleh konsep dasar kemuhammadiyahan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Abu-Rabi, Ibrahim M. Intellectual Origins of Islamic Resurgence in the Modern Arab World.
Albany: State University of New York Press, 1996.

Auda, Jasser. Maqasid al-Syariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London:
The International Institute of Islamic Thought, 1429H/2008 CE

Http://www,pedomanbermuhammadiyah.com

11