Anda di halaman 1dari 5

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI PADA PASIEN

PERILAKU KEKERASAN DENGAN METODE SENAM AEROBIC LOW IMPACT


DI RSJD DR AMINO GONDOHUTOMO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Stase Keperawatan Jiwa Tahap Profesi

Pembimbing Akademik : Ns. Sri Padma Sari, S.Kep. MNS


Pembimbing klinik : Sujarwo, S.Kep

Disusun oleh:

Imaningtyas Ridar
Fitria Mega Wardani
Yulita Hernayati
Devi Andriani
Retno Romauli Risa Putri

PROGRAM STUDI PROFESI NERS XXVIII


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI PADA PASIEN


PERILAKU KEKERASAN DENGAN METODE SENAM AEROBIC LOW IMPACT
DI RSJD DR AMINO GONDOHUTOMO
A. TOPIK
Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi pada pasien perilaku kekerasan dengan
metode senam aerobic low impact di Rsjd Dr Amino Gondohutomo.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Klien dapat mengetahui kegiatan fisik yang dilakukan pada saat klien marah
2. Tujuan Khusus
- Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat dilakukan oleh klien
- Klien dapat menyebutkan kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku kekerasan
- Klien dapat mendemonstrasikan dua kegiatan fisik yang dapat mencegah perilaku
kekerasan
C. LANDASAN TEORI
Gangguan jiwa adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak normal baik hal yang
berhubungan dengan fisik maupun dengan mental. Data Profil Kesehatan Indonesia (2008)
menunjukkan bahwa dari 1000 penduduk terdapat 185 penduduk mengalami gangguan
jiwa. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 2007, diketahui bahwa
prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota rumah tangga terdapat 140/1000 penduduk
usia 15 tahun ke atas, dan diperkirakan sejak awal tahun 2009 jumlah penduduk yang
mengalami gangguan jiwa sebesar 25% dari populasi penduduk di Indonesia. (Yosep,
2010).
Salah satu dari gangguan jiwa adalah perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah
keadaan dimana seseorang melakukan tindakan fisik yang membahayakan bagi
lingkungan maupun orang lain, bahkan diri sendiri. Marah merupakan salah satu gejala
dari resiko perilaku kekerasan atau perilaku kekerasan. Marah adalah emosi yang memiliki
ciri-ciri aktivitas saraf simpati yang tinggi dan adanya perasaan jengkel yang amat kuat
disebabkan kesalahan yang ditimbulkan atau sebagai respon dari kecemasan. (Yosep,
2010).
Cara yang dilakukan untuk menyalurkan energi pada klien dengan resiko perilaku
kekerasan atau perilaku kekerasan adalah dengan terapi non farmakologi yaitu senam
aerobic. Senam aerobic adalah aktivitas fisik yang bertujuan melatih otot jantung agar bisa
bekerja dalam waktu lama dan terus-menerus. (Giriwijoyo, 2012). Beberapa penelitian
menunjukan bahwa aktivitas fisik dan terapi olahraga dapat meningkatkan kepercayaan
pasien terhadap orang lain dan mengontrol kemarahan pasien. (Campbell & Foxcroft,
2008). Manfaat lain dari senam aerobik adalah dapat membantu tidur lebih nyaman,
menghilangkat stres, memberikan saat yang menyenangkan selama latihan. Senam aerobik
juga membantu meningkatkan hormon endorphin yang memiliki efek relaksan sehinggat
dapat mengurangi resiko perilaku kekerasan secara efektif. (Yulistanti, 2003).
D. KLIEN
a. Kriteria Inklusi
1) Klien yang mengalami gangguan jiwa perilaku kekerasan, yang dirawat di ruang VII
RSJD Dr. Amino Gondohutomo
2) Klien sudah kooperatif
3) Klien mampu berinteraksi dengan klien lain
4) Klien dalam kondisi stabil
5) Klien bersedia mengikuti senam sampai selesai
b. Kriteria Eksklusi
1) Klien yang mengalami gangguan jiwa perilaku kekerasan, yang belum dapat
berinteraksi
2) Klien dengan gangguan mental organik berat
3) Klien yang memiliki keterbatasan dalam bergerak.
c. Proses Seleksi Peserta
1) Menyeleksi klien sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
2) Mengidentifikasi nama klien dan masalah keperawatan yang dialami.
3) Membuat kontrak waktu dengan klien.
E. PENGORGANISASIAN
Leader : Fitria Mega Wardani
- Memimpin berlangsungnya TAK
- Merencanakan, mengontrol dan mengatur berlangsungnya TAK
- Melakukan senam aerobic low impact
Co. Leader : Imaningtyas Ridar
- Membuka acara
- Mendampingi leader
- Mengambil alih posisi leader jika leader bloking
- Menyerahkan kembali kepada leader posisi leader
- Menutup acara
Fasilitator : Devi Andriani dan Yulita Hernayati
- Ikut serta dalam kegiatan kelompok.
- Memberikan stimulus dan motivasi kepada klien anggota kelompok untuk aktif
mengikuti berlangsungnya TAK.
Observer : Retno Romauli
- Mencatat serta mengamati respon klien (dicatat pada format yang tersedia).
- Mengawasi berlangsungnya TAK dari mulai persiapan, proses hingga penutupan.
F. SETTING TEMPAT
a. Tempat : Ruang VII RSJD Dr. Amino Gondohutomo
b. Hari/ tanggal :-
c. Waktu :-
d. Jumlah klien : 10 orang
e. Setting tempat :

Klien
Leader

Leader
Observe
Co - r
leader
Fasilitato
G. Alat/media yang digunakan
r
Laptop, speaker, video senam
H. PROSES PELAKSANAAN
1. Persiapan
a. Mengingatkan kontrak dengan klien
b. Mempersiapkan alat dan tempat
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
- Salam dari terapis kepada klien
- Klien dan terapis memakai papan nama
b. Evaluasi/validasi
- Menanyakan perasaan klien saat ini
- Menanyakan apakah ada kejadian perilaku kekerasan : penyebab, tanda gejala,
perilaku kekerasan serta akibatnya
c. Kontrak
- Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
- Menjelaskan aturan main
- Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok harus minta ijin kepada
terapis
- Lama kegiatan 45 menit
- Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Mendiskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien
- Tanyakan kegiatan : rumah tangga harian dan olahraga yang biasa dilakukan
- Tulis di flipchart
b. Menjelaskan kegiatan fisik yang dapat digunakan untuk menyalurkan kemarahan
secara sehat : nafas dalam, memukul kasur, memukul bantal, senam.
c. Membantu klien memilih dua kegiatan yang dapat dilakukan
d. Bersama klien mempraktekan dua kegiatan yang telah dipilih
- Terapis mendemonstrasikan
- Klien mendemonstrasikan ulang
e. Menanyakan perasaan klien setelah mempraktekan cara penyaluran kemarahan
f. Memberikan pujian pada peran klien
g. Upayakan semua klien berpartisipasi
4. Terminasi
a. Evaluasi
- Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
- Menanyakan ulang cara baru yang sehat untuk mencegah perilaku kekerasan
b. Tindak lanjut
- Menganjurkan klien menggunakan cara yang telah dipelajari jika menghadapi
stimulus penyebab pk
- Menganjurkan klien melatih secara teratur cara yang telah dipelajari
- Memasukan pada jadwal harian klien
c. Kontrak yang akan datang
- Menyepakati untuk belajar cara baru yang lain, yaitu interaksi sosial yang asertif
- Menyepakati waktu dan tempat TAK berikutnya

I. DAFTAR PUSTAKA
Campbell P, Foxcroft D. 2008. Exercise Therapy For Schizophrenia (Protocol), The
Cochrane Collaboration. Published by JohnWiley & Sons, Ltd, Liverpool.
Giriwijoyo, S. 2012. Ilmu Faal Olahraga. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Yosep. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama.
Yulistanti, Y. 2003. Tingkat Depresi Sebelum Dan Setelah Melakukan Terapi Senam
Aerobic Low Impact Pada Pasien Gangguan Jiwa Di RS Ghrasia Propinsi DIY. Skripsi
Universitas Gajah Mada : Fakultas Kedokteran.