Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH KOMUNIKASI KESEHATAN

\
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Allah S.W.T. karena atas berkat
ramat serta kehendak-Nya lah kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini. Dalam
menyelesaikan makalah ini, banyak kesulitan yang kami hadapi. Namun berkat bimbingan dari
Dosen Bahasa Indonesia kami yaitu Ibu Septi Daruyani, makalah ini dapat terselesaikan tepat
pada waktunya.
Seperti yang kita ketahui beberapa tantangan yang dihadapi oleh tenaga medis guna
meningkatkan kinerja, salah satunya ialah peran komunikasi kesehatan untuk membangun
hubungan yang ideal antara tenaga medis dengan pasiennya. Karenanya kami mengangkat tema
Komunikasi Kesehatan pada makalah ini untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia.
Kami menyadari, sebagai mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih
perlu banyak belajar dalam penulisan makalah, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan
dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran
yang positif agar makalah ini menjadi lebih baik dan berguna di masa yang akan datang.
Harapan kami, semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
para pembaca ke depannya.

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata Pengantar. iii
Daftar Isi iv
BAB I Pendahuluan... 1
A. Latar Belakang.. 1
B. Rumusan Masalah. 3
C. Tujuan Penulisan.. 3
D. Metodologi Penulisan. 3
E. Sistematika Penulisan... 3
BAB II Landasan Teori. 5
A. Konsep Komunikasi Kesehatan 5
B. Jenis Jenis Komunikasi 9
BAB III Analisis dan Pembahasan 13
A. Ruang Lingkup Komunikasi Kesehatan 13
B. Komunikasi Kesehatan Bagi Bidang Kesehatan............................ 20
C. Dampak Komunikasi Kesehatan dalam Pembangunan Kesehatan 21
BAB IV Penutup 23
A. Kesimpulan... 23
B. Saran. 23
Daftar Pustaka 24
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Komunikasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Komunikasi dibuat untuk


menyebarluaskan pesan kepada publik, mempengaruhi khalayak dan menggambarkan
kebudayaan pada masyarakat. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi
yang kuat di masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan berinteraksi yang bersifat antarpribadi,
dipenuhi melalui kegiatan komunikasi interpersonal atau antarpribadi. Sedangkan kebutuhan
untuk berkomunikasi secara publik dengan orang banyak, dipenuhi melalui aktivitas komunikasi
massa.

Dengan demikian komunikasi menjadi unsur penting dalam berlangsungnya kehidupan


suatu masyarakat. Selain merupakan kebutuhan, aktivitas komunikasi sekaligus merupakan unsur
pembentuk suatu masyarakat. Sebab tidak mungkin manusia hidup di suatu lingkungan tanpa
berkomunikasi satu sama lain.

Komunikasi kesehatan masyarakat saat ini sudah mengalami perubahan yang sangat pesat
dan mendasar dari strategi yang bersifat partial komunikasi kesehatan telah bergeser kepada
strategi komprehensif berdasarkan hasil studi empiris. Komunikasi kesehatan saat ini juga telah
memanfaatkan teknologi baru yang dimodifikasi dengan komunikasi pembangunan. Prinsip-
prinsip pemasaran sosial. Analisis perilaku serta manajemen yang berorientasi kepada pelanggan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian komunikasi kesehatan?


2. Bagaimana konsep komunikasi kesehatan?
3. Apa landasan komunikasi dalam pembangunan kesehatan?
4. Macam-macam jenis komunikasi?
5. Bagaimana model komunikasi kesehatan?
6. Bagaimana ruang lingkup komunikasi kesehatan?
7. Apa dampak komunikasi kesehatan terhadap pembangunan kesehatan?
1.3 Tujuan

1. Agar dapat mengetahui pengertian dari komunikasi kesehatan


2. Agar dapat mengetahui konsep komunikasi kesehatan
3. Agar dapat mengetahui landasan komunikasi dalam pembangunan kesehatan
4. Agar dapat mengetahui jenis-jenis dari komunikasi kesehatan
5. Agar dapat mengetahui model dari komunikasi kesehatan
6. Agar dapat mengetahui ruang lingkup komunikasi kesehatan
7. Agar dapat mengetahui dampak komunikasi kesehatan terhadap pembangunan kesehatan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Kesehatan

Definisi komunikasi kesehatan sebenarnya melekat pada hubungan konseptual antara


komunikasi dengan kesehatan sehingga konsep komunikasi memberikan peranan pada kata
yang mengikutinya (bandingkan dengan komunikasi bisnis, komunikasi kultural, dll). Berikut
adalah definisi dari komunikasi kesehatan.

Komunikasi kesehatan adalah :

a. Studi yang mempelajari bagaimana cara menggunakan strategi komunikaso untuk


menyebarluaskan informasi kesehatan yang dapat memengaruhi individu dan komunitas
agar mereka dapat membuat keputusan yang tepat berkaitan dengan pengelolaan
kesehatan.
b. Studi yang menekankan peran teori komunikasi yang dapat digunakan dalam penelitian
dan praktik yang berkaitan dengan promosi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.
c. Kegunaan teknik komunikasi dan teknologi komunikasi secara positif untuk
memengaruhi individu, organisasi, komunitas dan penduduk bagi tujuan mempromosikan
kondisi yang kondusif atau yang memungkinkan tumbuhnya kesehatan manusia dan
lingkungan. Kegunaan ini termasuk beragam aktivitas seperti interaksi antara
professional kesehatan dengan para pasien di klinik, self-help groups, mailings, hotlines,
kampannya media massa, dan penciptaan peristiwa.
d. Proses untuk mengembangkan atau membagi pesan kesehatan kepada audiens tertentu
dengan maksud mempengaruhi pengetahuan, sikap, keyakinan mereka tentang pilihan
perilaku hidup sehat.
e. Seni dan teknik penyebarluasan informasi kesehatan yang bermaksud mempengaruhi dan
memotivasi individu, mendorong lahirnya lembaga atau institusi baik sebagai peraturan
ataupun sebagai organisasi di kalangan audiens yang mengatur perhatian terhadap
kesehatan.
f. Proses kemitraan antara para partisipam berdasarkan dialog dua arah yang didalamnya
ada suasana interaktif, ada perukaran gagasan, ada kesepakatan menganai kesatuan
gagasan mengenai kesehatan yang seimbang demi membaharui pemahaman bersama
(Ratzan, S.C., 1994)
g. Komunikasi yang berkaitan dengan proses pertukaran pengetahuan, meningkatkan
konsensus, mengidentifikasi aksi-aksi yang berkaitan dengan kesehatan yang mungkin
dapat dilakukan secara efektif.

Menurut para ahli, komunikasi kesehatan adalah

Menurut George A Miller (1951): komunikasi adalah proses informasi yang disampaikan
dari satu tempat tertentu ke tempat yang lain
Menurut Clavenger (1959): komunikasi merupakan suatu terminologi yang merujuk pada
suatu proses pertukaran informasi yang dinamis.
Menurut Cherry (1966): komunikasi berarti berbagi elemen perilaku dengan kesepakatan
yang ditetapkan bersama.

Secara umum, komunikasi kesehatan adalah proses penyampaian pesan kesehatan oleh
komunikator melalui saluran/media tertentu kepada komunikan dengan tujuan untuk mendorong
perilaku manusia tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan yang mengarah kepada keadaan
(status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani), dan sosial.

Jadi, komunikasi Kesehatan adalah proses penyampaian informasi tentang kesehatan.

2.2 Konsep Komunikasi Kesehatan


Konsep komunikasi kesehatan secara khusus diterapkan untuk pelaksanaan program
pembangunan di bidang kesehatan, yaitu pada

1. Pemasaran sosial

Pemasaran sosial selalu dimulai dengan promosi tentang sikap atau kepercayaa yang
dikaitkan dengan kesehatan. Kemudian dilakukan penyampaian anjuran tentang produk atau
pelayanan dengan petunjuk cara pemakaian yang efektif.

Berikut adalah hal-hal yang berada pada pemasaran sosial :

Melakukan segmentasi sasaran


Mempromosikan produk
Pelayanan
2. Analisis perilaku
Mempelajari perilaku
Menentukan perilaku baru
Menumbuhkan perilaku baru
Memotivasi perubahan
3. Antropologi
Mengkaji aspek kebudayaan masyarakat
4. Sosiologi
Mengkaji aspek :
a. Interaksi = horizontal vertikal
b. Integrasi = horizontal vertikal

Tahap-tahap pelaksanaan mencakup :

Produksi, menyangkut materi, media seprofesional mungkin sesuai sumber daya yang ada
Distribusi, aktifitas media, produk, pelayanan, dukungan antar persona/individu
Pelatihan, pendistribusian materi pendidikan, penyediaan produk, dan pelayanan

Evaluasi mencakup :

Sistem distibusi produk dan materi


Administrasi internal, kinerja personil dan anggaran
Penelusuran sementara dari tingkat pengetahuan dan praktek

Ketiga tahap tersebut mengharapkan cara bagaimana program membuka kesempatan


mempengaruhi birokrasi kesehatan yang lebih luas, meyakinkan bahwa proses komunikasi
merupakan bagian integral dari seluruh system pelayanan kesehatan.
2.3 Landasan Komunikasi dalam Pembangunan Kesehatan

Dalam Undang-undang Kesehatan nomor 23 tahun 1992 pasal 63 dijelaskan perlunya


pengembangan Sistem Informasi Kesehatan yang mantap agar dapat menunjang sepenuhnya
pelaksanaan manajemen dan upaya kesehatan dengan menggunakan teknologi dari yang
sederhana hingga yang mutakhir disemua tingkat administrasi kesehatan. Sistem Informasi
Kesehatan dikembangkan terutama untuk mendukung manajemen kesehatan. Pendekatan
sentralistis di waktu lampau menyebabkan tidak berkembangnya manajemen kesehatan di unit-
unit kesehatan dan di Daerah. Manajemen memang akan berkembang dengan baik pada saat
suatu unit atau Daerah diberi kewenangan untuk mengurus dirinya sendiri (otonom).

Dengan kurang jelasnya manajemen kesehatan diwaktu lampau, maka kebutuhan


informasi dan datanya pun menjadi tidak jelas pula.

Oleh karena itu, tahun 2001 yang merupakan awal pelaksanaan Otonomi Daerah dapat
dianggap sebagai momentum yang tepat untuk mulai mengembangkan kembali Sistem Informasi
Kesehatan. Mendukung hal tersebut maka pada tahun tersebut di terbitkan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 551/Menkes/SK/V/2002 tentang Kebijakan dan Strategi
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS). Seiring dengan pesatnya
perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) maka pada tahun 2003
dikeluarkan Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengem-bangan egovernment. Kemudian dijabarkan lagi melalui

Surat Keputusan Menteri Informasi & Komunikasi nomor


56/KEP/M.KOMINFO/12/2003 tentang Panduan Manajemen Sist Dokumen Elektronik (versi
1.0) dan Surat Keputusan Kepala Badan Administrasi Negara Nomor 239/IX/6/8/ 2003 tentang
Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

2.4 Jenis-Jenis Komunikasi Kesehatan

Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan


individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry
(1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.
Makalah ini difokuskan pada komunikasi interpersonal yang terapeutik. Komunikasi
interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok
kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan
penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada
tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara
terapeutik. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proporsional yang mengarah pada
tujuan yaitu penyembuhan pasien. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi untuk personal
dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien.

A. KOMUNIKASI VERBAL

Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit
adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka.
Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Katakata adalah alat atau simbol yang
dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau
menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang
tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka
yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung. Komunikasi Verbal yang
efektif harus:

1. Jelas dan ringkas


Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit
kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan. Kejelasan
dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas.
Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian
yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa,
mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata
yang mengekspresikan ide secara sederhana. Contoh: Katakan pada saya dimana rasa
nyeri anda lebih baik daripada saya ingin anda menguraikan kepada saya bagian yang
anda rasakan tidak enak.
2. Perbendaharaan Kata
Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu
menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam
keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi
bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting.
Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan Duduk,
sementara saya akan mengauskultasi paru-paru anda akan lebih baik jika dikatakan
Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru Anda.

3. Arti denotatif dan konotatif


Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan,
sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu
kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi
perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati
kematian. Ketika berkomunikasi dengan klien, perawat harus hati-hati memilih kata-kata
sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika
menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien.

4. Selaan dan kesempatan berbicara


Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan
komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok
pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang
menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat
sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal
tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti
kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan denganmemikirkan apa yang akan dikatakan
sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin
menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara
terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang.

5. Waktu dan relevansi


Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang
menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan
diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi
penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan
waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika
pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat.

6. Humor
Dugan (1989) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan
rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam
memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) melaporkan
bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan
perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas,
memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut
dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien.

B.KOMUNIKASI NON-VERBAL

Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan katakata. Merupakan cara
yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu
menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian
sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan
verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan.

Komunikasi non-verbal teramati pada:

1) Metakomunikasi

Komunikasi tidak hanya tergantung pada pesan tetapi juga pada hubungan antara
pembicara dengan lawan bicaranya. Metakomunikasi adalah suatu komentar terhadap isi
pembicaraan dan sifat hubungan antara yang berbicara, yaitu pesan di dalam pesan yang
menyampaikan sikap dan perasaan pengirim terhadap pendengar. Contoh: tersenyum
ketika sedang marah.

2) Penampilan Personal
Penampilan seseorang merupakan salah satu hal pertama yang diperhatikan
selama komunikasi interpersonal. Kesan pertama timbul dalam 20 detik sampai 4 menit
pertama. Delapan puluh empat persen dari kesan terhadap seseOrang berdasarkan
penampilannya (Lalli Ascosi, 1990 dalam Potter dan Perry, 1993). Bentuk fisik, cara
berpakaian dan berhias menunjukkan kepribadian, status sosial, pekrjaan, agama, budaya
dan konsep diri. Perawat yang memperhatikan penampilan dirinya dapat menimbulkan
citra diri dan profesional yang positif. Penampilan fisik perawat mempengaruhi persepsi
klien terhadap pelayanan/asuhan keperawatan yang diterima, karena tiap klien
mempunyai citra bagaimana seharusnya penampilan seorang perawat. Walaupun
penampilan tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan perawat, tetapi mungkin akan
lebih sulit bagi perawat untuk membina rasa percaya terhadap klien jika perawat tidak
memenuhi citra klien.

3) Intonasi (Nada Suara)


Nada suara pembicara mempunyai dampak yang besar terhadap arti pesan yang
dikirimkan, karena emosi seseorang dapat secara langsung mempengaruhi nada suaranya.
Perawat harus menyadari emosinya ketika sedang berinteraksi dengan klien, karena
maksud untuk menyamakan rsa tertarik yang tulus terhadap klien dapat terhalangi oleh
nada suara perawat.

4) Ekspresi wajah
Hasil suatu penelitian menunjukkan enam keadaan emosi utama yang tampak
melalui ekspresi wajah: terkejut, takut, marah, jijik, bahagia dan sedih. Ekspresi wajah
sering digunakan sebagai dasar penting dalam menentukan pendapat interpesonal. Kontak
mata sangat penting dalam komunikasi interpersonal. Orang yang mempertahankan
kontak mata selama pembicaraan diekspresikan sebagai orang yang dapat dipercaya, dan
memungkinkan untuk menjadi pengamat yang baik. Perawat sebaiknya tidak memandang
ke bawah ketika sedang berbicara dengan klien, oleh karena itu ketika berbicara
sebaiknya duduk sehingga perawat tidak tampak dominan jika kontak mata dengan klien
dilakukan dalam keadaan sejajar.

5) Sikap tubuh dan langkah


Sikap tubuh dan langkah menggambarkan sikap; emos, konsep diri dan keadaan
fisik. Perawat dapat mengumpilkan informasi yang bermanfaat dengan mengamati sikap
tubuh dan langkah klien. Langkah dapat dipengaruhi oleh faktor fisik seperti rasa sakit,
obat, atau fraktur.

6) Sentuhan
Kasih sayang, dudkungan emosional, dan perhatian disampaikan melalui
sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien,
namun harus mnemperhatikan norma sosial. Ketika membrikan asuhan keperawatan,
perawat menyentuh klien, seperti ketika memandikan, melakukan pemeriksaan fisik, atau
membantu memakaikan pakaian. Perlu disadari bahwa keadaan sakit membuat klien
tergantung kepada perawat untuk melakukan kontak interpersonal sehingga sulit untuk
menghindarkan sentuhan. Bradley & Edinburg (1982) dan Wilson & Kneisl (1992)
menyatakan bahwa walaupun sentuhan banyak bermanfaat ketika membantu klien, tetapi
perlu diperhatikan apakah penggunaan sentuhan dapat dimengerti dan diterima oleh
klien, sehingga harus dilakukan dengan kepekaan dan hati-hati. Komunikasi terapeutik
sebagai tanggung jawab perawat, yakni perawat harus memiliki tanggung jawab moral
yang tinggi yang didasari atas sikap peduli dan penuh kasih sayang, serta perasaan ingin
membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Addalati (1983), Bucaille (1979)
dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama, perawat tidak
dapat bersikap tidak perduli terhadap ornag lain adalah seseorang pendosa yang
mementingkan dirinya sendiri. Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979)
menyatakan bahwa

human care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga/mengabdikan
rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan
keberadaanya: membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri,
Sesungguhnya setiap orang diajarkan oleh Allah untuk menolong sesama yang memrlukan
bantuan. Perilaku menolong sesama ini perlu dilatih dan dibiasakan, sehingga akhirnya menjadi
bagian dari kepribadian.

Didalam organisasi sangat membutuhkan komunikasi. Adapun jenis- jenis komunikasi dalam
organisasi antara lain :

a. Komunikasi formal vs informalKom


unikasi formal adalah komunikasi yang mengikuti rantai komando yang dicapai oleh
hirarki wewenang. Komunikasi informal adalah komunikasi yang terjadi diluar dan tidak
tergantung pada herarki wewenang. Komunikasi informal ini timbul karena adanya
berbagai maksud, yaitu
Pemuasan kebutuhan manusiawi,
Perlawanan terhadap pengaruh yang monoton dan membosankan,
Keinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain,
Sumber informasi hubungan pekerjaan.

Jenis lain dari komunikasi informasi adalah adalah dasas-desusyang secara resmi tidak
setuju. Desas-desus ini juga mempunyai peranan fungsional sebagai alat komunikasi
tambahan bagi organisasi.

b. Komunikasi ke bawah vs komunikasi ke atas vs komunikasi lateral


Komunikasi kebawah mengalir dari peringkat atas ke bawah dalam herarki. Komunikasi
ke atas adalah berita yang mengalir darin peringkat bawah ke atas atas suatu organisasi.
Komunikasi lateral adalah sejajar antara mereka yang berada tingkat satu wewenang.

c. Komunikasi satu arah dan dua arah


Komunikasi satu arah, pengirim berita berkomunikasi tanpa meminta umpan balik,
sedangkan komunikasi dua arah adalah penerima dapat dan memberi umpan balik.
Bagaimanapun juga keefektifan komunikasi organisasi dipengaruhi beberapa factor
diantaranya :
Saluran komunikasi formal
Sruktur wewenang
Dalam organisasi dimana perbedaan stasus dan kekuasaan akan mempengaruhi isi
komunikasi.

2.5 Model Komunikasi Kesehatan

1. Model Shanon Weaver

Komunikasi dipandang sebagai suatu sistem: yang terdiri:


Sumber informasi (source) memilih informasi yang dirumuskan (encode) menjadi
pesan (massage) pesan dikirim dengan isyarat (signal) melaui saluran (chanel) kepada
penerima (receiver) penerima menterjemahkan pesan untuk disampaikan ke tujuan
(destination)
2. Model SMCR

Model ini menampilkan 4 variabel komunikasi:

1. Source (sumber)
2. Massage (pesan)
3. Chanel (saluran)
4. Receiver (penerima)

Proses komunikasi berlangsung tergantung: ketrampilan, sikap, pengetahuan, budaya yang


berbeda

3. Speech Communication Model

Komunikasi terdiri 3 variabel:

1. Pembicara (speaker)
2. Pendengar (receiver)
3. Umpan balik (feed back)

2.6 Ruang Lingkup Komunikasi Kesehatan

Ada beberapa ruang lingkup yang ada dalam komunikasi kesehatan. Ruang lingkup
dilihat dari cakupan komunikasi kesehatan. Berikut adalah ruang lingkup komunikasi kesehatan,
yaitu :

1. Masyarakat (Audience)

Masyarakat sebagai ruang lingkup dari komunikasi kesehatan adalah sasaran dari kamunikasi
kesehatan itu sendiri. Berikut adalah bagian-bagian dari masyarakat sebagai ruang lingkup
komunikasi kesehatan

Budaya sehat, sikap dan perilaku (health beliefs, attitude and behavior)
Kebudayaan, umur, dan faktor jenis kelamin (cultural, age and gender factor)
Tingkatan buta huruf/tingkatan tuna aksara (literacy levels)
Faktor resiko (risk factor)
Persoalan gaya hidup ( lifestyle issues)
Faktor sosial ekonomi (socio-economics factor)

2. Perilaku sehat yang direkomendasikan, pelayanan atau produk


Keuntungan (benefits)
Resiko (risks)
Kerugian (disadvantages)
Harga atau inovasi gaya hidup (price or lifestyle trade-off)
Ketersediaan dan akses (avaibility and access)

3. Lingkungan sosial

Kebijakan pemegang kekuasaan, sikap dan latihan (stakeholders beliefs, attitudes and
practices)
Norma sosial (social norms)
Struktur sosial (social structure)
Ide-ide yng ada dan program (existing initiatives and programs)

4. Lingkungan politik

Aparat berwajib dan hukum (policies, laws)


Kesediaan politik dan komitmen (political willingness and commitment)
Tingkat prioritas dalam agenda politik (level of priority in political agenda)

2.7 Dampak Komunikasi Kesehatan Terhadap Pembangunan Kesehatan

Komunikasi kesehatan dapat mempengaruhi sikap, persepsi, kesadaran, pengetahuan dan


norma sosial yang kesemuanya berperan sebagai precursor dalam perubahan prilaku.
Komunikasi kesehatan sangat efektif dalam mempengaruhi prilaku karena didasarkan pada
psikologi sosial, pendidikan kesehatan, komunikasi massa, dan pemasaran untuk
mengembangkan dan menyampaikan promosi kesehatan dan pesan pencegahan pencegahan.

Komunikasin kesehatan adalah pendekatan yang beragam dan multidisipin untuk


mencapai buat kebijakan dan masyarakat untuk memperkenalkan, mengadopsi atau mendukung
perilaku, praktek atau kebijakan yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan dimana
pesan-pesan kesehatan dikomunikasikan dari para pakar di bidang kesehatan medis dan
masyarakat. Sehingga bisa dikatakan komunikasi mempunyai dampak yang sangat besar
terhadap pembangunan kesehatan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesehatan adalah proses penyampaian informasi tentang kesehatan.


Konsep komunikasi kesehatan ada empat, yaitu pemasaran sosial, analisis perilaku,
antopologi dan sosiologi
Jenis-jenis komunikasi itu ada dua, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non-verba
Ada 3 model komunikasi, yaitu Model Shanon Weaver, Model SMCR dan Speech
Communication Model
Ada empat ruang lingkup komunikasi kesehatan yaitu masyarakat (Audience), perilaku
sehat yang direkomendasikan, pelayanan atau produk, lingkungan sosial dan lingkungan
politik