Anda di halaman 1dari 22

Hidung menghubungkan lubang-lubang sinus udara paranasalis yang

masuk ke dalam ronga-ronga hidung, dan juga menghubungkan lubang-


lubang nasolakrimal yang menyalurkan air mata, dari mata ke dalam bagian
bawah rongga nasalis ke dalam hidung. (Evelyn C. Peacrce, 2009).
b. Faring
Faring merupakan tempat persimpangan saluran pernafasan dan saluran
pencernaan. Terdapat dua buah tonsil kiri dan kanan sebelah belakang
terdapat epiglotis yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan
makanan, untuk alasan deskriptif, faring dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
Nasofaring, orofaring, laringofaring. (Ross and Willson, 2011).
c. Laring
Laring atau kotak suara memanjang dari langit-langit lidah dan tulang
hioid hingga trakea, laring berada didepan laringofaring pada vetebra
servikalis ke-3, 4, 5 dan 6. saat masa puberitas, terdapat perbedaan ukuran
laring pada pria dan wanita. Selanjutnya, ukuran laring membesar pada pria,
disebut jakun (Adams apple) dan umumnya menyebabkan pria memiliki pita
suara yang besar. (Ross and Willson, 2011).
Laring Terdiri dari atas satu seri cincin tulang rawan yang berhubungan
oleh otot- otot dan mengandung pita suara berfungsi mengelurkan benda
asing dan sekret dari saluran respirasi bagian bawah. Di faring juga terdapat
epiglotis (tutup tenggorokan), laring terdiri dari beberapa tulang rawan
antara lain, kartilago tiroid, kartilago aritenoid, kartilago krikoid, dan
kartilago epiglotis.
d. Trakea
Trakea atau pipa angin merupakan perpanjangan dari laring pada
ketinggian tulang vetebra torakal ke-7 yang mana bercabang menjadi dua
bronkus {primary bronchus). Ujung dari cabang trakea biasa disebut carina.
Trakea ini sangat fleksibel dan berotot, panjang nya 12 cm dengan C-shaped
cincin kartilago, pada garis ini mengandung pseudostratified ciliated
columnar epithelium yang mengandung banyak sel goblet (sekresi mukosa).
(Irman Somantri, 2012).
e. Bronkus
Keterangan Gambar : 1.3. Anatomi Bronkus Bronkus terdapat 2 buah
bronkus yang terletak pada ketinggian vertebra torakalis IV dan ke V,
Bronkus-bronkus itu berjalan kebawah dan kesamping arah tampuk paru-
paru. Bronkus kanan pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri
dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri
lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin,
mempunyai 2 cabang. Bronkus-bronkus ini kemudian kembali bercabang-
cabang menjadi cabang yang kecil disebut bronkiolus, tidak terdapat cincin
pada ujung bronkiolus terdapat gelembung paru dan gelembug halus atau
alveoli. (Irman Somantri, 2012).
f. Alveolus
Parenkim paru merupakan area kerja dari jaringan paru, dimana pada
daerah tersebut mengandung berjuta-juta unit alveolar. Alveoli bentuknya
sangat kecil, alveoli merupakan kantong udara pada akhir bronkiolous
respiratorius yang memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen dan karbon
dioksida, seluruh unit alveolar(zona respirasi) terdiri atas bronkiolus
respiratorius, duktus alveolar, dan kantong alveoli {Alveolar sacs). (Arif
Muttaqin, 2000)
Diperkirakan terdapat 24 juta alveoli pada bayi baru lahir, pada saat
seseorang menginjak usia 8 tahun, jumlahnya bertambah seperti usia
dewasa, yaitu 300 juta Setiap unit 9-11 prepulmonari dan pulmonari kapiler.
Fungsi utama alveolar adalah pertukaran oksigen dan karbon dioksida di
antara kapiler pulmoner dan alveoli. (Irman somantri, 2012).
g. Paru-paru
Paru-paru ada dua, merupakan alat pernafasan utama, paru-paru mengisi
rongga dada. Terletak disebelah kanan dan kiri dan di tengah di pisahkan
oleii jantung dan berserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya
yang terletak didalam mediastinum. Merupakan organ elastis berbentuk
kerucut yang terletak di dalam rongga toraks, terdiri dari paru-paru kanan
dan paru-paru kiri dibagi menjadi segmen-segmen sesuai dengan segmen
bronkus. Paru-paru kanan dibagi lagi menjadi 10 segmen bronkopulmoner.
Jaringan paru-paru bersifat elastis berpori dan seperti busa sehingga dapat
mengembangkan dan menyempit pada waktu bernafas. Paru- paru
dibungkus oleh lapisan tipis terdiri dari kolagen dan jaringan elastis yang
disebut pluera. Pleura dibagi menjadi dua, yaitu pleura partial yang melapisi
rongga torak dan pleura viseral yang menutupi setiap paru. Diantara
keduanya terdapat cairan
pleura yang memungkinkan kedua permukaan bergetar satu sama lain.
Selama respirasi yang mencegah pemisahan thorak dan paru- paru. (Evelyn
C. Pearce, 2009).
2.2. Konsep Penyakit
2.2.1 Pengertian Assia Bronkial
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai ciri
bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran napas) terutama
pada percabangan trakeobronkial yang dapat diakibatkan oleh berbagai
stimulasi seperti oleh faktor biokemial, endokrin, infeksi, otonomik, dan
psikologi.(Irman somantri, 2008).
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernafasan
psikologis. Dimana berbagai sel dan elemen seluler berperan, terutama sel
mast, eosinofil, limfosit T, Makrofag, dan Sel epithelial.(Irman somantri,
2012).
Asma adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh keadan saluran nafas
yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan, baik dari dalam maupun
luar tubuh. Akibat dari kepekaan yang berlebihan ini terjadilah penyempitan
saluran nafas secara menyeluruh dari seluruh pernafasan. (Abidin, 2002).
Penyakit Asma banyak ditemukan pada anak-anak, terutama yang tinggal
di daerah perkotaan dan industri. Kejadian Asma hampir meningkat diseluruh
dunia, baik negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia.
Kata asma berasal dari bahasa yunani yang berarti sulit bernafas,
sedangkan definisi asma bronchiale menurut The Amerika Theory Society
mendefinisikan Asma sebagai berikut.
Asma adalah penyakit paru yang didalamnya terdapat obstruksi jalan
nafas, inflamasi jalan nafas, dan jalan nafas yang hiperresponsif atau
sepasme otot polos bronchial (Betzz, 2002).
Asma adalah penyakit pernafasan obstruktif yang ditandai dengan
spasme otot polos bronkiolus, hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara
dan penurunan ventilasi alveolus. (Corwin, 2000).
2.2.2. Fisiologi Pernafasan
Menurut Irman Somantri (2012). Proses fisiologi pernafasan dibagi
menjadi tiga yaitu:
a. Ventilasi pulmonal
Keluar masuknya udara antara atmosfir dan alveoli paru- paru. Udara
bergerak masuk dan keluar dari paru- paru karena adanya pebedaan
tekanan atmosfer dan alveolus serta dibantu oleh kerja mekanik otot-otot
pemapasan selama inspirasi volume torak bertambah besar karena
diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot. Muskulus
stemokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas, sedangkan muskulus
serratus, Skaleneus, serta interkostalis eksternus berperan mengangkat iga.
b. Difusi
Stadium kedua dari proses respirasi mencakup proses difusi gas- gas
melintasi membran antara alveolus- kapiler yang tipis (<0, 5pm). Kekuatan
pendorong untuk pemindahan ini adalah perbedaan tekanan parsial antara
darah dan fase gas. tekanan oksigen dalam atmosfer pada tekana laut + 149
mmHg (21 % dari 760 mmHg).
Pada saat oksigen diinspirasi dan sampai pada alveolus maka tekanan
parsial ini mengalami penurunan sampai sekitar 103 mmHg akibat udara
tercampur dengan ruang rugi anatomis pada saluran udara dan juga dengan
uap air.
Faktor- faktor yang menentukan kecepatan difusi gas melalui membran
paru-paru adalah sebagai berikut:
1. Makin besar perbedaan tekanan pada membran makin cepat kecepatan
difusi.
2. Makin besar area membran paru-paru makin besar kuantitas gas yang
dapat berdifusi melewati membran dalam waktu tertentu.
3. Makin tipis membran, makin cepat difusi gas melalui membran tersebut
kebagian yang berlawanan.
4. Koefisien difusi secara lagsung dibanding proporsional terhadap
kemampuan terlarut dari gas dalam cairan membran paru-paru dan
kebalikan nya terhadap ukuran molekul. Namun demikian, molekul
kecil yang berdifusi tinggi lebih cepat dari besarnya ukuran gas yang kurang
dapat larut,
c. Transportasi
1) Transpor Oksigen dalam darah
Sistem pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari atas paru-paru dan sistem
kardiovaskuler. Pengangkutan O2 kejaringan tertentu bergantung pada
jumlah O2 yang masuk paru-paru, pertukaran gas yang cukup pada paru-
paru, aliran darah ke jantung, dan kapasitas pengangkutan oksigen dalam
darah.
2) Transpor karbon dioksida dalam darah
Transpor karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru dilakukan dengan tiga
cara yaitu, 10 % secara fisik larut dalam plasma, 20 % berkaitan dengan
gugus amino pada hemoglobin dalam sel darah merah, dan sekitar 70 %
ditranspor sebagai bikarbonat plasma.
2.2.3. Etiologi Asma
Sampai saat ini etiologi asma belum diketahui pasti, sesuatu hal yang
menonjol pada semua penderita asma adalah fenomena hiperreaktivitas
bronkus. Bronkus pada penderita asma sangat peka terhadap serangan
rangsangan imunologi maupun non- imunologi, oleh karena sifat inilah, maka
serangan asma mudah terjadi ketika rangsangan baik fisik, metabolik, kimia,
alergen, infeksi saluran atas, dan sebagainya. penderita asma perlu
mengetahui
dan sedapat mungkin menghindari rangsangan atau pencetus yang dapat
menimbulkan asma. (Irman Somantri, 2012).
Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan faktor autonom,
imunologis, infeksi, endokrin dan psikologis dalam berbagai tingkat pada
berbagai individu). Aktivitas bronkokontriktor neural diperantarai oleh bagian
kolinergik sistem saraf otonom. Ujung sensoris vagus pada epitel jalan nafas,
disebut reseptor batuk atau iritan, tergantung pada lokasinya, mencetuskan
refleks arkus cabang aferens, yang pada ujung eferens merangsang
kontraksi otot polos bronkus. Neurotransmisi peptida intestinal vasoaktif
(PIV) memulai relaksasi otot polos bronkus. Neurotramnisi peptida vasoaktif
merupakan suatu neuropeptida dominan yang dilibatkan pada terbukanya
jalan nafas. Faktor imunologi penderita asma ekstrinsik atau alergi, terjadi
setelah pemaparan terhadap faktor lingkungan seperti debu rumah, tepung
sari dan ketombe. Bentuk asma inilah yang paling sering ditemukan pada
usia 2 tahun pertama dan pada orang dewasa (asma yang timbul lambat)
disebut intrinsik. Faktor endokrin menyebabkan asma lebih buruk dalam
hubungannya dengan kehamilan dan mentruasi atau pada saat wanita
menopause, dan asma membaik pada beberapa anak saat pubertas. Faktor
psikologis emosi dapat memicu gejala-gejala pada beberapa anak dan
dewasa yang berpenyakit asma, tetapi emosional atau sifat- sifat perilaku
yang dijumpai pada anak asma lebih sering dari pada anak dengan penyakit
kronis lainnya.
Asma yang terjadi pada anak- anak sangat erat kaitannya dengan alergi
kurang lebih 80 % pasien asma memiliki riwayat alergi. Asma yang muncul
pada saat dewasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor: adanya sinusitis,
polip hidung, sensitivitas terhadap aspirin atau obat - obat, anti- inflamasi
non steroid (AINS), atau mendapatkan picuan ditempat kerja, ditempat-
tempat kerja tertentu yang banyak terdapat agen- agen yang dapat terhirup
seperti debu, bulu binatang, dll. banyak dijumpai orang yang menderita
asma, yang disebut occupaational asthma, yaitu asma yang disebabkan
karena pekerjaan. Kelompok dengan resiko terbesar terhadap perkembangan
asma adalah anak -anak yang mengidap alergi dan memiliki keluarga
dengan riwayat asma (Ikawati Zullies, 2011).
2.2. 4. Tanda dan Gejala
Menurut Elizabeth, (2002) tanda dan gejala asma adalah sebagai berikut:
a. Bersin- bersin, batuk yang terus menerus dan terkadang batuk seperti
tertekan.
b. Sesak nafas (Dyspnoe)
c. Retraksi otot-otot pernafasan
d. Nafas cuping hidung
e. Bunyi nafas Wheezing
f. Peningkatan jelas usaha bernafas
g. Respiratory dan denyut nadi meningkat
h. Pemafasaan cepat dan dangkal
i. Keringkatan berlebihan
j. Selama serangan udara terperangkap karena sepasme dan mukus
sehingga memperlambat ekspirasi.
k. Serangan biasanya terjadi menjelang dini hari atau pada suatu kondisi
tertentu seperti suatu menjelang ataupun sehabis hujan.
Gejala asma bersifat episodik, seringkah reversibel dengan atau tanpa
pengobatan Gejala awal berupa :
a. batuk terutama pada malam atau dini hari
b. sesak napas
c. Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan
napasnya
d. Rasa berat di dada
e. Dahak sulit keluar.
Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa.
Yang termasuk gejala yang berat adalah:
a. Serangan batuk yang hebat
b. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
c. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
d. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan
duduk
e. Kesadaran menurun
2.2.5. Gambaran klinis Asma pada anak
Suriadi, dkk (2002), menyatakan bahwa pembagian asma pada anak yaitu
:
a. Asma Episodik Jarang
Biasanya teijadi pada anak berusia dibawah lima tahun dengan frekuensi
serangan 3-4 kali dalam setahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh
infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas. Serangan dapat terjadi
beberapa hari dan jarang merupakan serangan yang berat.
Gejala - gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi
(Wheezing) dapat berlangsung 3-4 hari, sedangkan batuk- batuknya dapat
berlangsung 10 hari. Manifestasi alergi jarang didapatkan pada golongan ini.
Tumbuh kembang anak biasanya baik. Diluar serangan tidak ditemukan
kelainan. Golongan ini merupakan 70-75% dari populasi asma pada anak.
b. Asma Episodik sering
Serangan asma dapat timbul tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua
menghubungakan dengan perubahan udara, adanya alergen, aktivitas fisik
dan stres. Banyak kasus yang tidak jelas pencetusnya, serangan dapat
terjadi 3-4 kali dalam satu bulan dan frekuensi serangan paling tinggi pada
umur 6-12 tahun.
Umunya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan
mengi yang dapat mengganggu tidur. Dari waktu dapat terjadi serangan
yang berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Kemampuan aktivitas
fisik menjadi berkurang, anak sering tidak dapat melakukan aktivitas
olahraga dan kegiatan lainnya, juga sering tidak masuk sekolah sehingga
prestasi belajarnya terganggu. Sedangkan kecil ada yang mengalami
gangguan psikososial. Golongan ini merupakan 20-25 % dari populasi asma.
2.2.6 Patofisiologi Asma
Obstruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme otot
bronkus, sumbatan mukus, edema, dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi
bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran nafas
menyempit pada fase tersebut. Hal ini mengakibatkan udara distal tempat
teijadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. selanjutnya terjadi
peningkatan volume residu, kapasitas Residu Fungsional (KRF), dan pasien
akan bernafas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total
( KPT). Keadaan hiperinflasi ini bertujuan agar saluran nafas tetap terbuka
dan pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi ini
diperlukan otot-otot bantu nafas. (Slamet Suyono, 2001).
Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara
obyektif dengan VEPi (volume ekspirasi paksa detik pertama) atau APE (Arus
puncak ekspirasi), sedangkan penurunan KVP (Kapasitas vital paksa)
mengambarkan derajat hiperinflasi paru. Penyempitan saluran napas dapat
teijadi baik pada saluran napas dapat terjadi baik pada saluran napas besar,
CO2 sedangkan pada saluran napas yang kecil gejala batuk dan sesak lebih
dominan dibandingkan mengi.
Penyempitan saluran napas ternyata tidak merata diseluruh bagian paru.
Ada daerah-daerah yang kurang mendapat ventilasi, sehingga daerah kapiler
yang melalui daerah tersebut mengalami hipoksemia. Penurunan PaC>2
Mungkin merupakan kelainan pada asma sub klinis. Untuk mengatasi
kekurangan oksigen, tubuh melakukan hiperventilasi, agar kebutuhan
oksigen terpenuhi. Tetapi akibatnya pengeluaran CO2 Menjadi berlebihan
sehingga PaCo2 menurun yang kemudian menimbulkan alkalosis respiratorik.
Pada serangan asma yang lebih berat lagi banyak saluran napas dan
alveolus tertutup o.leh mukus sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya
pertukaran gas. Hal ini menyebabkan hipoksemia dan kera otot-otot
pemapasan bertambah berat serta terjadi peningkatan produksi CO2
Peningkatan produksi CO2 yang disertai dengan penurunan ventilasi alveolus
menyebabkan retensi CO2 (Hiperkepnia ) dan teijadi asidosis metabolik dan
konstriksi pembuluh darah paru yang kemudian menyebabkan shunting yaitu
peredaran darah tanpa melalui unit pertukaran gas yang baik, yang
akibatnya memperburuk hiperkapnia.(Slamet Suyono, 2001). Dengan
demikian penyempitan saluran napas pada asma akan menimbulkan hal- hal
sebagai berikut:
a. Gangguan ventilasi berupa hipoventilasi
b. Ketidak seimbangan perfusi dimana distribusi ventilasi setara dengan
sirkulasi daerah paru.
c. Gangguan difusi gas ditingkat alveoli.
Ketiga.faktor tersebut dapat mengakibatkan :
a. Hipoksemia
b. Hiperkapnia
c. Asidosis respiratorik pada tahap yang sangat lanjut
2.2.7 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Slamet Suyono (2001) pemeriksaan penunjang asma bronkial
sebagai berikut:
a) Spirometri
Cara yang paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma
adalah njelihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan
spirometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator hirup
(inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik beta. Peningkatan VEP Atau
KVP sebanyak > 20% menunjukkan diagnosis asma. Tetapi respon yang
kurang dari 20% berarti bukan asma.
b) Uji provokasi Bronkus
Jika pemeriksaan spirometri normal, untuk menunjukkan adanya
hiperreaktivitas bronkus dilakukan uji provokasi bronkus. Ada beberapa cara
untuk melakukan uji provokassi bronkus seperti uji provokasi
histamin, metakolin, kegiatan jasmani, udara dingin, larutan garam,
hipertonik, dan bahkan dengan aqua distilata. Penurunan VEP1 sebesar 20 %
atau lebih dianggap bermakna. Uji dengan menyuruh pasien berlari cepat
selama 6 menit sehingga mencapai denyut jantung 80-90 % dari maksimum.
Dianggap bermakna bila menunjukkan penurunan APE (Arus Puncak
Ekspirasi) paling sedikit 10 % akan hanya uji provokasi dengan alergi
terhadap alergen yang diuji.
c) Pemeriksaan Sputum
Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan neutrofil
sangat dominan pada bronkitis kronik. Selain untuk melihat adanya
eosonofil, kristal Charcot- leyden, dan Spiral Curschamann, pemeriksaan ini
penting untuk melihat adanya miselium Aspergillus Furnigatus.
d) Pemeriksaan eosinofil total
Jumlah eosinofil total dalam darah sering menigkat pada pasien asma dan
hal ini dapat membantu dalam membedakan asma dari bronkitis kronik.
Pemeriksaan ini juga dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan
cukup tidaknya dosis kartikosteroid yang dibutuhkan pasien asma.
e) Uji kulit
Tujuan uji kulit adalah untuk menunjukkan adanya antibodi IgE spesifik
dalam tubuh. Uji ini hanya menyongkong anamnesis, karena uji alergen
yang positif tidak selalu merupakan penyebab asma, demikian pula
sebaliknya.
f) Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum Kegunaan
pemeriksaan IgE total hanya untuk menyongkong adanya atopi.
Pemeriksaan IgE spesifik lebih bermakna dilakukan bila uji kulit tidak dpat
dilakukan atau hasilnya kurang dapat dipercaya.
g) Foto Dada
Pemeriksaan ini diakukan untuk menyingkirkan penyebab lain obstruksi
saluran napas dan adanya kecurigaan terhadap proses patologis diparu atau
komplikasi asma seperti pneunomotoraks, pneumomediastinum, atelektasis,
dan lain-lain.
h) Analisis Gas Darah
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada asma yang berat. Pada fase awal
serangan, terjadi hipoksemia dan hipokapniaa (PaCC>2< 35 mmHg)
kemudian pada stadium yang lebih berat PaCC>2 justru mendekati normal
sampai normokapnia. Selanjutnya pada asma yang sangat berat terjadinya
hiperkapnia (PaCC>2 > 45 mmHg), hipoksemia, dan asidosis respiratorik.
2.2.8 Diagnosis
Diagnosis asma disadari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala brupa
batuk, sesak nafas, mengi, rasa berat didada dan veribiliti yang berkaitan
dengan cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis,
ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru, akan lebih
meningkatkan nilai diagnostik. (Arif Mansjoer, 2000).
a. Riwayat penyakit atau gejala :
1) Bersifat episodik seringkah reversible dengan atau tanpa penggobatan.
2) Gejala berupa batuk, sesak nafas, rasa sesak didada, dan
berdahak.
3) Gejala timbul atau memburuk terutama malam atau dini
hari
4) Diawali oleh faktor- faktor pencetus yang bersifat individu.
5) Respon terhadap pemberian Bronkodilator.
b. Pemeriksaan jasmani
Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pemeriksaan jasmani dapat
normal. Kelainan pemeriksaan jasmani yang paling sering ditemukan adalah
mengi pada Auskultasi. Pada sebagian penderita auskultasi dapat terdengar
normal walaupun pada pengukuran objektif (Faal paru) telah terdapat
penyempitan jalan nafas.
c. Faal paru
Umumnya penderita asma sulit menilai beratnya gejala dan persepsi
mengenai asmanya, demikian pula dokter tidak selalu dalam menilai
Dispnea dan mengi. Sehinngga dibutuhkan pemeriksaan objktif yaitu faal
paru, yang digunakan untuk menilai obstruksi jalan nafas.
Menurut Zullies Ikawati (2011) ada beberapa mendiagnosis Adanya serangan
asma:
1. Mengi pada saat menghirup nafas
2. Riwayat batuk yang memburuk pada malam hari, dada sesak yang terjadi
berulang, dada nafas tersengal-sengal
3. Hambatan bernafas yang reversibel secara bervariasi selama
siang hari.
4. Adanya peningkatan gejala pada saat olahraga, infeksi virus, eksposur
tehadap allergen, dan perubahan musim.
5. Terbangun malam- malam dengan gejala- gejala seperti diatas.
2.2. 9. Diagnosis Banding
Menurut Irman Somantri (2012), ada beberapa diagnosis banding pada
asma, yaitu: a. Bronkitis Kronik
Bronkitis kronik ditandai dengan batuk kronik yang khas dipagi hari dan
mengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun sedikitnya 2 tahun. Penyakit
batuk kronik seperti tuberkulosis, bronkitis atau keganasan harus
disingkirkan dahulu. Gejala utama batuk disertai sputum biasanya
didapatkan pada pasien berumur 35 tahun dan perokok berat. Gejalanya
dimulai dengan batuk pagi hari, lama kelamaan disertai
mengi dan menurunnya kemampuan kegiatan jasmani. Pada staadium lanjut
dapat ditemukan sianosis dan tanda-tanda cor-pulmonal.
b. Emfisema paru
Sesak merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan mengi
jarang menyertainya, pasien biasanya kurus, berbeda dengan asma, pada
emfisema tidak pernah ada masa remisi, pasien selalu sesak pada kegiatan
jasmani. Pada pemeriksaan fisis ditemukan dada kembung, peranjakan
napas terbatas, hipersonor, pekak hati menurun, dan suara napas sangat
lemah. Pemeriksaan foto dada menunjukkan hiperinflasi.
c. Gagal jantung kiri akut.
Dikenal dengan asma kardial, dan bila timbul pada malam hari disebut
Paroxysmal Nocturnal Dyspnoe. Pasien tiba- tiba terbangun, pada malam
hari karena sesak, tetapi sesak menghilang atau berkurang bila duduk.
d. Emboli Paru
Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli antara lain imobilisasi, gagal
jantung dan tromboflebitis. Disamping gejala sesak nafas, pasien batuk-
batuk yang dapat disertai darah, nyeri pleura, keringat dingin kejang dan
pingsan.
2.2.10. Komplikasi Asma
Menurut Slamet Suyono (2001), komplikasi asma bronkial yang
mungkin muncul yaitu sebagai berikut:
1. Fraktur iga
2. Gagal nafas
3. Pneumotoraks
4. Emfisema
5. Bronkitis
6. Atelektasis
7. Aspergilosis bronkopulmoner alergik.
2.2.11 Penatalaksanaan
Menurut John Rees, dkk,(2000) pencegahan dan pengobatan sebagai berikut:
a. Pencegahan
Cara menghindari berbagai pencetus serangan asma perlu diketahui dan
diajarkan kepada anak serta keluarganya, misalnya debu rumah merupakan
pencetus yang sering dijumpai pada anak. Debu rumah biasanya
mengadung tepung sari, rumput-rumputan, pohon dan berlukar disekitar
rumah yang dibawa oleh angin masuk kedalam rumah. Debu rumah juga
mengandung serpih atau rontokan kulit, buluh hewan peliharaan, ludah
binatang peliharaan yang kering, rontokan pakaian,
hancuran, koran, tembakau, abu rokok, dan sebagainya. Debu rumah juga
megandung serangan yang sudah coati, bakteri, jamur, sisa-sisa makanan
yang telah lama, dan tungau. Tumpukan buku-buku koran yang telah lama
mengandung banyak sekali alergen yang pontensial dapat merupakan
pencetus asma pada anak.
Untuk menghindari penyebab dari makanan bila belum diketahui pasti,
lebih baik anak yang asma jangan makan coklat, kacang tanah atau
makanan-' yang mengandung coklat atau minum es. Perlu diperhatikan pula
apakah asma timbul setelah anak memakan makanan yang mengandung zat
pengawet atau pewarna makanan.
Hindarkan anak kontak dengan orang dewasa yang sedang menderita
influenza misalnya bicara atau bersin didekat anak yang asma, bila batuk
atau bersin harus menutup mulut dan hidungnya. Hindarkan anak berada di
tempat yang sedang terjadi perubahan udara misalnya cuaca sedang
mendung dan sehabis hujan, usahakan anak tidak bermain luar rumah.
Anak yang menderita asma tidak dilarang bermain-main atau berolahraga
tetapi perlu diatur, karena hal tersebut merupakan kebutuhan untuk tumbuh
kembang anak, hingga caranya harus diawasi dan diatur seperti berikut:
1) Menambah toleransi secara bertahap, menghidarkan percepatan gerak
yang mendadak, mengalihkan macam kegiatan misalnya lari-lari ,naik
sepeda dan berenang.
2) Bila mulai batuk-batuk istirahat sebentar, minum air dan setelah pulih lagi
diteruskan kegiatannya.
3) Adakalanya beberapa anak sebelum melakukan kegiatan perlu minum
obat dan menghirup Aerosol lebih dahulu, misalnya akan berolahraga,
lebih baik minum obat dan dapat berolahraga daripada takut diberi obat
dan anak tidak dapat mengikuti aktivitas sehari- hari seperti anak lainnya.
b. Pengobatan
Berdasarkan patogenesis yang telah dikemukakan, strategi pengobatan
asma dapat ditinjau dari berbagai pendekatan. Seperti mengurangi respons
saluran napas, mencegah ikatan alergen dengan IgE, mencegah
pengelepasan mediator kimia, dan merelaksasi otot-otot polos bronkus.
1) Mencegah ikatan alergen - IgE
a. Menghindari alergen, tampaknya sederhana, tetapi sering siikar
dilakukan.
b. Hiposensitisasi, dengan menyuntikan dosis kecil alergen yang dosisnya
makin ditingkatkan diharapkan tubuh akan membentuk IgG (Bioking
antibody) yang akan mencegah ikatan alergen dengan IgE
pada sel mast. Efek hiposensitisasi pada orang dewasa saat ini masih
diragukan.
2) . Mencegah pelepasan mediator
Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme bronkus
yang dicetuskan oleh alergen. Natrium kromolin mekanisme kerjanya diduga
mencegah pengelepasan mediator dari mastosit. Obat tersebut tidak dapat
mengatasi spasme bronkus yang telah teijadi, oleh karena itu hanya dipakai
sebagai obat profilaktik pada terapi pemeliharaan. Natrium kromolin paling
efektif untuk asma anak yang penyebabnya alergi, meskipun juga efektif
pada sebagian asma intrinsik dan asma karena kegiatan jasmani. Obat
golongan agonis beta 2 maupun teofilin selain bersifat sebagai bronkodilator
juga dapat mencegah penglepasan mediator.
3) . Melebarkan saluran napas dengan bronkodilator
a. Simpatomimetik
Agonis beta 2 (salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol) merupakan obat-
obat tepilih untuk mengatasi serangan asma akut. Dapat diberikan secara
inhalasi melalui MDI (Matered Dosed inhaler) atau nebulizer.
b. Aminoflin dipakai sewaktu serangan asma akut. Diberikan dosis awal,
diikuti dengan dosis pemeliharaan.
c. Kortikosteroid, tidak termaksuk obat golongan bronkodilator tetapi secara
tidak langsung, dapat melebarkan saluran napas. Dipakai pada serangan
akut atau terapi pemeliharaan.
d. Antikolinergik (ipatropium bromida) terutama dipakai sebagai suplemen
bronkodilator agonis beta 2.
4). Mengurangi respons dengart jalan meredam inflamasi saluran napas.
Banyak peneliti telah membuktikan bahwa asma baik yang ringan
maupun yang berat menunjukkan inflamasi saluran napas. Secara
histopalogis ditemukan adanya infiltrasi sel-sel radang serta mediator
inflamasi ditempat tersebut. Implikasi terapi proses inflamasi diatas
meredam inflamasi yang ada baik dengan natrium kromolin, atau secara
lebih oral, parenteral, atau inhalasi seperti pada asma akut atau kronik.
Pengobatan Asma Menurut GINA (Global initiative for Asthma)
I. Asma kronis
Untuk menatalaksanaan asma kronis, disarankan pendekatan yang
disebut Stepwise approach, yang ditunjukan untuk membantu menentukan
keputusan klinik, disesuaikan dengan kondisi pasien, pada panduan NAEPP
tahun 2007, pendekatan stepwise dibedakan pada 3 katagori umur, yaitu
umur 0-4 tahun, umur 5-11 tahun, dan umur > 12 th - dewasa, pada
panduan NAEPP tahun 2007 terdapat 6 step pendekatan,
yang pada prinsipnya jika asma terkontrol, obat -obat yang dignakan yaitu:
Inhalasi kortikosteroid, Steroid inhalasi, kortikosteroid sistemik, Agonis p-2
adrenergik (Zullies Ikawati, 2011).
2. Asma akut
Serangan asma sebaiknya tidak disepelekan, karena bisa mengancam
jiwa, serangan dikatakan berat dan perlu segera mendapat perawatan medis
jika: pasien tidak bisa bernafas dalam keadaan istirahat, badan sampai
membungkuk kedepan, tidak dapat berkata-kata, hanya bisa berkata
sepatah- sepatah dan tidak bisa membentuk satu kalimat utuh (pada bayi,
dia berhenti menyusui) terlihat gelisah mengantuk/ lesu, atau kecepatan
pernafasan lebih dari 30 menit. Suara mengi yang keras atau bahkan tidak
terdengar. Denyut jantung lebih dari 120 / meni (untuk bayi : 160 menit). PEF
kurang dari 60 % prediksi, bahkan pada awal pengobatan Pasien kelelahan.
Obat- obat yang digunakan yaitu: Inhalasi p -agonis, p-agonis sistemik,
Kortikosteroid (Zullies Ikawati, 2011).
2.2.12. Asuhan keperawatan pada anak dengan asma.
Menurut Marilynn E. Doenges, (2000) Asuhan keperawatan pada anak
dengan asma adalah sebagai berikut:
a. Data fokus
Dikarekteristikan pada konstriksi otot polos bronkus, hipersekresi mukosa,
inflamasi serta edema mukosa bronkus.
b. Pengkajian
1. Aktivitas atau istirahat
Gejala: keletihan, kelelahan, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan
aktivitas sehari-hari karena sulit bernafas, ketidak mampuan untuk tidur.
Dyspnoe pada saat istirahat ataupun ketika sedang beraktivitas.
Tanda: gelisah, Insomnia.
2. Integritas atau Ego
Gejala: peningkatan faktor resiko dan perubahan pola hidup Tanda: Ansietas,
ketakutan, peka rangsangan.
3. Makanan atau cairaan
Gejala : mual, tidak naafsu makan, Anorebia
Tanda: penurunan berat badan, berkeringat, turgor kulit buruk, edema dan
muntah-muntah.
4. Pernafasan
Gejala: Sesak Nafas atau Dyspnoe, dada seperti tertekan, batuk hilang
timbul, biasanya jika terpapar faktor alergen. Riwayat penyakit keturunan
dalam keluarga.
Tanda: pernafasan cepat dan dangkal, Ekspirasi memanjang , bunyi nafas
mengi atau wheezing. Sianosis akibat kekurangan oksigen, retraksi otot-otot
pernafasan, nafas cuping hidung. Respiratory meningkat, keringat berlebihan
dapat terlihat hiperinflasi dengan peninggian diafragma interaksi sosial.
Gejala: ketergantungan terhadap orang lain, kurang sistem pendukung.
Tanda: ketidakmampuan untuk mempertahankan suara karena distress
pernafasan, keterbatasan mobiltas fisik,
c. Prioritas keperawatan
1. Mempertahankan potensi jalan nafas.
2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas. meningkatkan
masukan nutrisi.
3. Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi.
4. Memberikan informasi tentang proses penyakit atau prognosis dan
program pengobatan.
d. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Keperwatan
1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan: bronkospasme,
peningkatan atau penumpukan sekresi, edema mukosa bronkus dan
inflamasi dinding bronkus.
Intervensi;
a) Kaji atau pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi dan ekspirasi.
b) Kaji derajat dispnoe misalnya: gelisah, ansietas dan pengunaan otot
bantu pernafasan.
c) Auskultasi bunyi nafas, pada asma bunyi nafas mengi.
d) Pertahankan polusi lingkungan minimum misalnya: debu, asap, bulu
binatang, kapuk bantal dan lain- lain.
e) Bantu latihan nfas abdomen.
f) Observasi karakteristik batuk, misalnya; batuk kering atau
berdahak .
g) Ajarkan teknik nafas dalam dan baatuk efektif
h) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/ hari, bisa dengan
pemberian air hangat.
i) Kolaborasi untuk pengobatan dan fisioterapi dada.
1. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
dan obstruksi jalan nafas serta kerusakan alveoli.
Intervensi:
a) Kaji frekuensi dan kedalaman pernafasan, catat penggunaan obat bantu
pernafasan, pemafasaan cuping hidung.
b) Bantu pasien dalam mengeluarkan sputum atau sekresi
c) Auskultasi bunyi nafas, adanya mengi mengindikasikan adanya spasma
bronkus dan tertahannya sekret.
d) Palpasi fremitus, penurunan getaran vibrasi diduga akibat penumpukan
sekresi ataupun udara, yang teqebak.
e) Awasi tingkat kesadaran atau status mental.
f) Evalusi tingkat toleransi aktivitas, berikan lingkungan senyaman mungkin.
g) Kolaborasi untuk pemberian oksigen tambahan dan obat-obatan
bronkodilator.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
Dyspnoe, Anoreksia dan efek samping obat.
Intervensi:
a) Kaji kebiasaan diet atau pola makan. Evaluasi berat badaan dan ukuran
tubuh.
b) Auskultasi bunyi usus.
c) Berikan perawatan oral sesering mungkin
d) Anjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering. Hindari makanan yang
mengandung gas serta minuman bikarbonat.
e) Hindari makanan yang sangat panas atau sangat dingin. Sajikan makanan
dalam keadaan hangat dan semenarik mungkin.
f) Ciptakan suasana, makan senyaman mungkin.
g) Timbang berat badan sesuai indikasi, catat adanya penurunan berat
badan.
h) Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian hiakanan yang mudah
dicerna.
i) Kolaborasi dengan tim medis untuk indikasi pemberian
vitamin.
2.3 Alergen
2.3.1.Pengertian Alergen
Alergen adalah zat yang dapat menimbulkan alergi, alergen merupakan
faktor pencetus yang sering dijumpai pada asma, diperkirakan 30%m-40%
seragan asma dicetuskan oleh alergen terutama pada anak- anak. (Iskandar.
Junaidi.2006). Alergen adalah zat dilingkungan yang pada orang
sensitif dapat menimbulkan gejala alergen pada asma. Pada asma, alergen
yang dapat memicu adalah alergen hidup, seperti tungau, debu rumah,
kecoak, serta serpih kulit binatang seperti anjing dan kucing.
Ilmu alergi merupakan bagian imunologi. Alergi baru pertama dikenalkan
oleh von pirquet pada tahun 1906. Alergi bearti reaksi sesorang yang
menyimpang terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen), dengan
akibat timbulnya gejala-gejala klinis. Alergen tersebut untuk kebanyakan
orang dengan kontak atau pajanan yang sama tidak menimbulkan reaksi dan
tidak menimbulkan penyakit. Penyakit alergi adalah golongan penyakit
dengan ciri peradangan yang timbul akibat reaksi imunologis terhadap
alergen lingkungan. Walaupun faktor lingkungan merupakan faktor penting,
faktor genetik dalam manifestasi alergi tidak dapat diabaikan. Adanya alergi
terhadap suatu alergen tertentu menunjukkan bahwa seseorang pernah
terpajan dengan alergen bersangkutan sebelumnya. Penyakit alergi
merupakan kumpulan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat.(Slamet
Suyono, 2001).
2.3.2. Tanda dan gejala
Gejala reaksi alergi bisa bersifat ringan atau berat. Umunya reaksi alergi
berupa gejala mata berair, mata terasa gatal, dan kadang bersin. Pada reaksi
yang ekstrim bisa terjadi gangguaan pernafasan, kelainan fungsi jantung dan
tekanan darah yang sangat rendah, yang menyebabkan syok. Reaksi jenis ini
disebut anafilaksis, yang bisa terjadi pada organ-organ yang
sangat sensitif, misalnya segera setelah makan makanan atau obat tertentu
atau setelah disengat lebah memperlihatkan gejala alergi hebat.
2.2.3. Diagnosis
Setiap alergi timbul karena dipicu oleh suatu alergen tertentu, karena itu
tujuan utama dari diagnosis adalah mengenali alergen nya. Alergen dapat
berupa tumbuhan musim tertentu (misalnya serbuk tanaman) atau bahan
tertentu(misalnya bulu kucing, obat, atau makanan). Jika bersentuhan
dengan kulit atau masuk kedalam mata, terhirup, terhirup, termakan atau
disuntikkan, alergen menyebabkan reaksi alergi.
Pemeriksaan dapat membantu menentukan apakah gejalanya
berhubungan dengan alergi dan menentukan alergen penyebabnya. Pada
pemeriksaan darah didapatkan banyaknya eosinofil (sejenis sel darah putih
yang sering kali meningkat selama terjadinya reaksi alergi).
Tes kulit sangat bermanfaat untuk menentukan alergen penyebabnya
terjadinya reaksi alergi. Caranya adalah larutan encer yang terbuat dari
saripati pohon, rumput, rumput liar, serbuk tanaman, debu, bulu binatang,
racun serangga, makanan dan beberapa jenis obat secara terpisah
disuntikan pada kulit dalam jumlah yaang sangat kecil. Jika terdapat alergi
terhadap satu atau beberapa bahan tersebut, pada lokasi penyuntikan akan
terbentuk bentol
(pembentukan seperti kaligata yang sekelilingnya merah) dalaam waktu 15-
20 menit.
2.2.4. Pengobatan
Pengobatan yang utama adalah dengan menghindari alrgen penyebab. Ini
lebih baik daripada mencoba mengobati suatu reaksi alergi dengan
menggunakan obat-obatan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk
menghindari kontak dengan alergen:
a. Jika alergi terhadap debu rumah, sebaiknya jangan menggunakan
perabot, "karpet, atau tirai yang sifatnya menampug debu.
b. Membungkus kasur dan bantal dengan pelindung (plastik)
c. Menghisp debu dalam rumah sesering mungkin
d. Mengunakan AC untuk mengurangi kelembaban ruangan yang
tinggi
e. Memasang penyaring udara
Pengobatan dengan imunoterapi alergen dilakukan bila tidak dapat -
menghindari alergen, yaitu dengan menyuntikan alergen. Sejumlah kecil
alergen disuntikan dibawah kulit dosisnya dinaikan secara bertahap sampai
tercapai dosis pemeliharaan. Pengobatan ini merangsang tubuh untuk
menghasilkan antibodi penghalang atau antibodi penetralisasi yang
bertindak sebagai pencegah terjadinya reaksi atergi terhadap serbuk
tanaman, partikel debu rumah, racun serangga, dan bulu binatang.
Imunoterapi tidak dianjurkan
untuk penderita yang alergi terhadap makanan karena berisiko terjadinya
reaksi alergi berat (anafilaksis).
Dosis"'' awal pengobatan biasanya diberikan 1 kali seminggu, selanjutnya
dosis pemeliharaan diberikan setiap 4-6 minggu. Prosedur ini sangat efektif
jika dosis pemeliharaan diberikan sepanjang tahun.
2.4 Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
2.4.1. Pengertian ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan atas maupun bawah
yang disebabkan oleh masuknya kuman mikroorganisme (bakteri dan virus)
ke dalam organ saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari.
( Nursalam,dkk, 2008).
ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang merangsang
salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung, seperti
sinus, rongga tengah pleura.(Depkes RI, 2000).
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi yang terutama
mengenai struktur pernafasan diatas laring, terapi penyakit mi mengenai
saluran atas dan bawah secara stimultan atau beraturan (Depkes RI, 2005).
2.4.2.EtioIogi
Etiologi ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus, riketsia. Bakteri penyebab
ISPA antara lain adalah streptococus, Stapilococus, pneumococus, hemofilus,
bordetella dan korino bacterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan mikrovirus, adenovirus,
koronavirus, pikomovirus, mikoplasma, herpes, virus. Beberapa virus yang
menyebabkan ISPA dari gambaran klinis umum yang melibatkan sistem
organ lain :
1. Virus- virus rino dan virus- virus korona, biasanya menimbulkan penyakit
yang terbatas pada saluran pernafasan bagian atas saja terutama hidung.
2. Virus- virus kosaki A dan B menimbulkan penyakit primer pada nasofaring
mikoplasma dapat menyebabkan penyakit baik pada saluran pernafasan
atas dan saluran pernafasan bawah yang meliputi bronkiditis, pneumonia
bronchitiss, faringoton silitis, melingitis dan otitis media.
3. Virus-virus adeno kurang 10% penyakit-penyakit saluran pernafasan.
Kebanyakan diantaranya bersifat ringan. Sebagian besar bahwa mungkin
asimtomatis. Virus- virus adenoo dan virus pernafasan kadang- kadang
menyebabkan infeksi berat pada saluran pernafasan bagian bawah.
4. Virus- virus parainfluenza sebagian besar dari sindrom batuk rejan tetapi
mungkin pula penyebab bronkitis, bronkiolitis dan penyakit demam
saluran pernafasan akut.
2.4.3. Patofisiologi
Infeksi saluran pernafasan nafas atas adalah infeksi - infeksi yang
menyebabkan oleh mikro- organisme. Infeksi- infeksi tersebut terbatas pada
struktur- struktur saluran nafas termasuk rongga hidung, faring dan laring.
Infeksi saluran nafas atau mencakup Common cold (masuk angin),
faringitis, atau sorethroat (radang tenggorokan), laryngitis, dan Influenza
tanpa komplikasi. Sebagian besar infeksi saluran nafas atas disebabkan oleh
virus. Walaupun bakteri juga dapat terlibat baik sejak awal atau yang bersifat
sekunder terhadap infeksi virus. Semua jenis infeksi mengaktifkan respon
dan peradangan sehingga teijadi pembengkakan dan edema jaringan yang
terinfeksi, reaksi peradangan menyebabkan peningkatan pembentukan
mukus yang berperan menimbulkan gejala- gejala infeksi saluran nafas atas
yaitu hidung tersumbat, sputum berlebihan, dan rabas hidung (pilek), nyeri
kepala, demam ringan, dan malaise juga timbul akibat reaksi peradangan.
(Tjandra Yoga Aditama, 2004)
2.4.4. Tanda dan Gejala
Seorang anak yang menderita ISPA biasanya menunjukkan bermacam-
macam tanda dan gejala seperti: Sakit tenggorokan, batuk, bersin, rinorrhea,
hidung tersumbat, sakit telinga, keluar cairan dari telinga, sesak nafas, nafas
cepat dan nafas bunyi. Terdapat beberapa keluhan perasaan lemas selama
satu sampai dua minggu setelah priode akut. Penerikan dada kedalam, bisa
juga mual dan muntah, tak mau makan, badan lemah, dan sebaginya.
Menurut Brunner & Suddarth, (2002) Adapun tanda dan gejala ISPA
menurut klasifikasinya:
1. ISPA ringan
Batuk, suara serak, pilek, dengan ataupun tanpa nafas (demam). Termasuk
juga ISPA ringan, keluarnya cairan dari telinga yang lebih dari dua minggu,
rasa sakit di telinga.
2. ISPA sedang
Pernafasan cepat lebih dari 50 kali / menit (tanda utama), Wheezing, (nafas
menciut-ciut), suhu tubuh 35 C atau lebih.
3. ISPA berat
Tanda dan gejala ISPA berat atau sedang ditambah dengan satu atau lebih
tanda dan gejala: penarikan dada ke dalam (Cgest indrawing) pada saat
menarik nafas (tanda utama), stridor (pernafasan ngorok), takmampu dan
tak mau m,akan. Tanda ISPA berat antara lain: kulit kebiruan (sianosis), nafas
cuping hidung (cuping hidung ikut bergerak kembang kempis sewaktu
bernafas), kejang, dehidrasi, terdapat membran difetri.
2.4.5. Cara Penularan
Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari penderita ISPA dan carrier
yang disebut juga reservoir bibit penyakit yang ditularkan pada orang lain
melalui kontak langsung, atau melalui benda- benda yang tercemar bibit
penyakit, termasuk udara oleh karena salah satu penularan melalui udara
yang tercemar dan masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, maka
penyakit ISPA termasuk golongan Air borne disease. Bibit penyakit diudara
pada umumnya berbentuk aerosol yakni suatu suspensi yang melayang
diudara dapat seluruhnya berupa bibit penyakit atau hanya sebagian dari
padanya( Depkes Ri, 2000).
Menurut Depkes RI (2000) bentuk aerosol dari penyebab penyakit ISPA:
1. Dust yaitu campuran antara bibit yang melayang di udara
2. Droplet nuclei yaitu sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan
tubuh secara droplet dan melayang diudara.
Kuman dapat mencapai seluruh saluran nafas dan menimbulkan ifeksi
dengan cara:
1. Hematogen (dari infeksi di tempat lain)
2. Limfogen
3. Perkontinunatum (dari tempat infeksi pada jaringan yang berdekatan
dengan paru), misalnya : Abses hati, subphrenik.abses dan lain-lain.
4. Yang banyak adalah lewat jalan udara atau nafas. Kuman yang masuk
lewat nafas berasal dari:
a. Kuman diudara luar (jenisnya berbagai macam) masuk bersama udara
nafas.
b. Kuman dalam jalan yang semula bersifat kornensial dalam saluran nafas,
tetapi karena sesuatu sebab berubah menjadi pathogen, kemudian
menginfeksi saluran nafas.
2.5. Hubungan Alergen dengan kejadian serangan asma bronkial
Alergen adalah zat yang dapat menimbulkan alergi, alergen merupakan
faktor pencetus yang sering dijumpai pada asma, diperkirakan 30%m-40%
seragan asma dicetuskan oleh alergen terutama pada anak- anak.( Iskandar
Junaidi, 2006).
Menurut Ariff Muttaqin, (2000), alergen dibagi atas 2 yaitu:
1. Alergen di dalam rumah (indoors) seperti tungau debu rumah, bulu kucing,
bulu anjing atau binatang peliharaan lainnya. Alergen ini banyak dijumpai
di negara-negara tropis, juga terdapat di negara-negara dengan 4 musim.
2. Alergen di luar rumah {outdoors), seperti serbuk sari {pollen) khususnya
di negara-negara 4 musim; tree pollen pada musim semi, grass pollen
pada musim panas, jamur pada musim panas dan gugur Faktor alergen
dianggap mempunyai peranan pada sebagian besar anak dengan asma.
Disamping itu hiperaktivitas saluran nafas juga merupakan faktor yang
penting. Bila tingkat hiperaktivitas bronkus tinggi, diperlukan jumlah
alergen yang sedikit, dan sebaliknya jika tingkat hiper-aktivitas rendah
diperlukan jumlah antigen yang lebih tinggi untuk menimbulkan serangan
asma. Pada bayi anak kecil sering berhubungan dengan isi dari debu
rumah, misalnya tungau, serpih atau bulu binatang, spora jamur yang
terdapat dalam rumah, dengan bertambahnya umur makin banyak jenis
alergen pencetusnya. Alergen dapat masuk kedalam tubuh melalui
makanan, minuman, hirupan, suntikan atau tempelan pada kulit dan lain-
lain. Yang dapat merupakan alergen adalah debu rumah, tunggau debu
rumah, spora jamur, bulu anjing, kucing ataupun hewan peliharan lainnya.
Debu rumah sebenarnya terdiri dari bermacam-macam alergen seperti
sisa makanan, potongan rambut dan berbagai macam kulit binatang. Dari
semua alergen tersebut yang paling sering menjadi pencetus asma
adalah tungau debu rumah (Ramailah S, 2006)
Tungau ini berkembang biak sangat cepat terutama seperti di kamar tidur
karena makanannya adalah serpihan kulit manusia yang terlepas pada waktu
tidur Sebenarnya tanpa disadari, kulit kita secara
teratur selalu berganti dengan yang baru. Kondisi ini juga terjadi waktu kita
tidur oleh karena itu tungau sangat banyak masuk terdapat dalam kamar
tidur dan diduga menjadi salah satu penyebab serangan asma yang terjadi
pada malam hari. Tungau debu rumah senang hidup ditempat yang lembab
seperti tempat tidur, dapur, karpet, buku-buku tua, boneka berbulu, selimut,
gorden, kursi tamu, dan lain-lain. Karena sangat kecil dan ringan tungau
sangat mudah tertiup angin dan terbesar diudara. Mula- mula reaksi alergi
berupa bersin, mata terasa gatal dan batuk. Lama kelamaan bisa teijadi
sesak nafas (serangan asma), oleh karena itu sebaiknya sedapat mungkin
menghindari debu rumah atau sedikit mungkin berhubungan dengan debu.
Hewan peliharan juga dapat mencetuskan serangan asma. Anjing, kucing,
dan kuda, merupakan hewan yang cukup sering menimbulkan asma.
(Iskandar Junaidi.2006).
3. 6 Hubungan infeksi saluran pernapasan dengan kejadian
serangan asma Bronkial
ISPA adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang merangsang
salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung, seperti
sinus, rongga tengah pIeura.(Depkes RI, 2000).
ISPA adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan atas maupun bawah
yang disebabkan oleh masuknya kuman mikroorganisme
(bakteri dan virus) ke dalam organ saluran pernafasan yang berlangsung
selama 14 hari.( Nursalam, dkk, 2008).
Sebagian besar infeksi saluran nafas atas di sebabkan oleh virus,
walaupun bakteri juga dapat terlibat, baik sejak awal atau yang bersifat
sekunder terhadap infeksi virus. Semua jenis infeksi mengaktifkan respon
dan peradangan sehingga terjadi pembengkakan dan edema jaringan yang
terinfeksi. Reaksi peradangan menyebabkan peningkatan pembentukan
mukus yang berperan menimbulkan gejala- gejala infeksi saluran nafas atas
dan bisa menjalar ke saluran nafas bawah(Tjandra yoga aditama, 2004)
Pembentukan mukus bisa menyebabkan obstruksi jalan nafas difus
reversibel sehingga bisa menimbulkan serangan.(Suzanne C. Smeltzer,
2002).
Sensitisasi alergen dapat meningkat biasanya terjadi karena penurunan
sistem imun dan aktifnya respon anti- virus sehingga infeksi semakin berat.
Sel- sel tertentu didalam saluran udara (terutama sel mast) diduga
bertanggung jawab terhadap awal mulanya terjadi penyempitan saluran
pernafasan ini. Sel mast di sepanjang ronki melepaskan bahan seperti
histamin dan leukotrien yang menyebabkan terjadinya konstraksi otot polos,
peningkatan pembentukan lendir, perpindahan sel darah putih ke bronki. Sel
mast mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang
dikenal sebagai benda asing (alergen). (Slamet Suyono, 2001).
Biasanya infeksi virus, terutama pada bayi dan anak kecil. Virus penyebab
biasanya Respirator Syncytial Virus (RSV) dan Virus Parainfluinza. Kadang-
kadang dapat juga oleh bakteri misalnya Perfusis dan Sireptokokus Beta
Hemolilikus, jamur misalnya Aspergillus dan parasit misalnya Ashiris. infeksi
merupakan salah satu pencetus yang paling sering menimbulkan asma pada
anak pada anak diperkirakan 2/3 penderita asma pada anak di cetuskan oleh
infeksi, infeksi adalah masuknya mikroba kedalam tubuh dengan jalan
melalui kulit/ selaput lendir, hingga masuk kedalam jaringan darah dan
seterusnya.
Beberapa penyakit infeksi saluran pernafasan yang dapat memudahkan
teijadinya serangan asma diantaranya adalah ISPA, TBC, Sinusitis, Rhenitis
Alergen Pada bayi infeksi saluraa nafas dapat memberikan gejala yang
menyerupai asma, yang sebenarnya merupakan peradangan pada saluran
nafas. Sebagian bayi yang pernah menderita infeksi virus suatu saat akan
menjadi penderita asma atau alergi dikemudian hari. Pada orang normal
infeksi saluran nafas hanya akan menyebabkan batuk, pilek, dan demam.
Namun pada penderita asma gejala ini akan disertai dengan serangan asma.
Oleh karena itu penderita asma yang peka terhadap infeksi virus sebaiknya
menghindari penularan dinhdrang yang sedang menderita penyakit infeksi
saluran nafas.
Infeksi virus merupakan salah satu pencetus asma yang potensial. Apabila
salah satu anggota keluarga menderita infeksi virus misalnya flu, pemberian
kortikosteroid pada penderita asma yang terserang infeksi virus dapat
mengurangi timbulnya dan beratnya serangan asma. (Zullies Ikawati. 2011).
2.7 Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori diatas maka dapat digambarkan Kerangka
konseptual sebagi berikut. Hubungan alergen dan infeksi saluran pemapasan
dengan kejadian serangan asma bronkial.
Variabel Independen Variabel Dependen
yang paling sering ditemukan pada usia 2 tahun pertama dan pada orang
dewasa (asma yang timbul lambat) disebut intrinsik. Faktor endokrin
menyebabkan asma lebih buruk dalam hubungannya dengan kehamilan dan
menstruasi atau pada saat wanita menopause, dan asma membaik pada
beberapa anak saat pubertas. Faktor psikologis emosi dapat memicu gejala-
gejala pada beberapa anak dan dewasa yang berpenyakit asma, tetapi
emosional atau sifat- sifat perilaku yang dijumpai pada anak asma lebih
sering dari pada anak dengan penyakit kronis lainnya, serangan dapat terjadi
3-4 kali dalam satu bulan dan
frekuensi serangan paling tinggi pada umur 6-12 tahun. (Suriadi, 2006)
^------
Brorkus pada penderita asma sangat peka terhadap serangan rangsangan
imunologi maupun non- imunologi, oleh karena sifat inilah, maka serangan
asma mudah terjadi ketika rangsangan baik fisik, metabolik, kimia, allergen,
infeksi saluran atas, dan sebagainya. penderita asma perlu mengetahui dan
sedapat mungkin menghindari rangsangan atau pencetus yang dapat
menimbulkan asma.(Irman Somantri, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa
hubungan alergen bukan hanya alergen tetapi debu rumah merupakan
pencetus yang sering dijumpai pada anak. Debu rumah biasanya
mengadung tepung sari, rumput-rumputan, pohon dan berlukar disekitar
rumah yang dibawa oleh angin masuk kedalam rumah. Debu rumah juga
mengandung serpih atau rontokan kulit, buluh hewan peliharaan, ludah
binatang peliharaan yang kering, rontokan pakaian, hancuran, koran,
tembakau, abu rokok, dan sebagainya. Debu rumah juga megandung
serangan yang sudah coati, bakteri, jamur, sisa-sisa makanan
yang telah lama, dan tungau. Tumpukan buku-buku koran yang telah lama
mengandung banyak sekali alergen yang pontensial dapat merupakan
pencetus asma pada anak, penyebab dari makanan bila belum diketahui
pasti, lebih baik anak yang asma jangan makan coklat, kacang tanah atau
makanan yang mengandung cpklat atau minum es.
Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C = 0,478 dengan approx.
Sig.= 0,000 < a = 0,05 berarti signifikan. Nilai C tersebut dibandingkan
dengan nilai Cmax =,/- dimana m adalah nilai terkecil dari baris atau
Vm
12-1
kolom, nilai Cmax =J = 0,707. Karena nilai C = 0,478 tidak terlalu
jauh
dengan nilai Cmax= 0,707 maka kategori hubungan sedang(Sudjana, 1996).
Hal ini menunjukkan bahwa serangan asma bronkial bukan hanya
disebabkan oleh faktor alergen, tetapi bisa teijadi karena banyak faktor
alegen yang lainnya yaitu, Pada asma, alergen yang dapat memicu adalah
alergen hidup, seperti tungau, debu rumah, kecoak, serta serpih kulit
binatang seperti anjing dan kucing, polusi udara, perubahan suhu udara atau
kelembaban yang tiba-tiba, menghirup asap rokok, adanya gejala-gejala
bronkitis, emfisema, gagal nafas, juga stres mental, olahraga seperti lari-lari
selama lima menit, bermain sepak bola juga dapat mendatangkan serangan,
biasanya orang tua menghubungakan dengan perubahan udara, adanya
alergen, aktivitas fisik dan stres. Secara klasik, asma dibagi menjadi dua
kategori berdasar faktor pemicunya, yaitu asma
ekstrinsik atau alergi mengacu pada asma yang disebabkan karena
menghirup alergen, yang biasanya terjadi pada anak-anak yang memiliki
keluarga dengan riwayat penyakit alergi( baik eksim, utikaria, alergen atau
hay fever). Asma instrinsik mengacu pada asma yang disebabkan karena
faktor-faktor diluar mekanisme imunitas, dan umumnya dijumpai pada orang
dewasa, beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya asma antara lain:
udara dingin, obat- obatan, stres dan olahraga. Penyakit alergi adalah
golongan penyakit dengan ciri peradangan yang timbul akibat reaksi
imunologis terhadap alergen lingkungan. Walaupun faktor lingkungan
merupakan faktor penting, faktor genetik dalam manifestasi alergi tidak
dapat diabaikan. Adanya alergi terhadap suatu alergen tertentu
menunjukkan bahwa seseorang pernah terpajan dengan alergen
bersangkutan sebelumnya. Penyakit alergi merupakan kumpulan penyakit
yang sering dijumpai di masyarakat.(Slamet Suyono, 2001).
Kejadian serangan Asma Bronkial pada alergen ini kemungkinan dapat
dikurangi dengan cara menghindari anak kontak dengan orang dewasa yang
sedang menderita influenza, alergen( debu, polusi udara, kecoak, bulu-bulu
kucing, dll.) anak yang asma jangan makan coklat, kacang tanah, atau
makanan yang menggandung coklat atau minum es. Jika alergi terhadap
debu rumah, sebaiknya jangan menggunakan perabot, karpet, atau tirai
yang sifatnya menampug debu. Membungkus kasur dan bantal dengan
pelindung (plastik), Memasang penyaring udara. Anak yang menderita asma
tidak dilarang
bermain-main atau berolahraga tetapi perlu diatur, karena hal tersebut
merupakan kebutuhan untuk tumbuh kembang anak, hingga caranya harus
diawasi dan diatur.
4.2.2. Hubungan infeksi saluran pernapasan dengan kejadian
serangan Asma Bronkial pada anak asma Yang berobat di
poliklinik anak RSUD dr. M. Yunus Bengkulu.
Dari tabel 4.5. di atas ternyata menunjukkan tabulasi silang antara infeksi
saluran pernafasan dengan serangan asma. Ternyata dari 37 orang dengan
infeksi saluran pernafasan terdapat 19 orang dengan asma episodik sering
dan 18 orang dengan asma episodik jarang, hal ini menunjukkan bahwa
pada responden infeksi saluran pemapasan dengan serangan asma, Bukan
hanya infeksi saluran nafas atas di sebabkan oleh virus, dapat juga oleh
bakteri misalnya Perfiisis dan Sireptokokus Beta Hemolilikus, jamur misalnya
Aspergillus dan parasit misalnya Ashiris. infeksi merupakan salah satu
pencetus yang paling sering menimbulkan asma pada anak pada anak
diperkirakan 2/3 penderita asma pada anak di cetuskan oleh infeksi, infeksi
adalah masuknya mikroba kedajnm tubuh dengan jalan melalui kulit/ selaput
lendir, hingga masuk kedalam jaringan darah dan seterusnya. Beberapa
penyakit infeksi saluran pernafasan yang dapat memudahkan terjadinya
serangan asma diantaranya adalah ISPA, TBC, Sinusitis, Rhenitis Alergen
Pada bayi infeksi saluran nafas dapat memberikan gejala yang menyerupai
asma, yang
sebenarnya merupakan peradangan pada saluran nafas. Sebagian bayi yang
pernah menderita infeksi virus suatu saat akan menjadi penderita asma atau
alergi dikemudian hari. Pada orang normal infeksi saluran nafas hanya akan
menyebabkan batuk, pilek, dan demam. Namun pada penderita asma gejala
ini akan disertai dengan serangan asma. Oleh karena itu penderita asma
yang peka terhadap infeksi virus sebaiknya menghindari penularan dini
orang yang sedang menderita penyakit infeksi saluran nafas.
walaupun bakteri juga dapat terlibat, baik sejak awal atau yang bersifat
sekunder terhadap infeksi virus. Semua jenis infeksi mengaktifkan respon
dan peradangan sehingga terjadi pembengkakan dan' edema jaringan yang
terinfeksi. Reaksi peradangan menyebabkan peningkatan pembentukan
mukus yang berperan menimbulkan gejala- gejala infeksi saluran nafas atas
dan bisa menjalar ke saluran nafas bawah (Tjandra Yoga Aditama, 2004).
Dan sedangkan dari 32 orang dengan tidak ada infeksi saluran pernafasan
terdapat 3 orang dengan asma episodik sering dan 29 orang dengan asma
episodik jarang, Infeksi virus merupakan salah satu pencetus asma yang
potensial. Apabila salah satu anggota keluarga menderita infeksi virus
misalnya flu, pemberian kortikosteroid pada penderita asma yang terserang
infeksi virus dapat mengurangi timbulnya dan beratnya serangan asma.
Infeksi ini menyebabkan hiperemia dan odema pada membran mukosa, yang
kemudian menyebabkan peningkatan sekresi bronkial. Karena adanya
perubahan pada mebran mukosa ini, maka terjadi kerusakan pada lapisan
epitelia saaluran nafas yang
menyebabkan berkurangnya fungsi pembersihan mukosiliar. Selain itu,
peningkatan sekresi bronkial yang dapat menjadi kental dan liat, makin
memperparah gangguan pembersihan mukosiliar. Apakah perubahan ini
bersifat permanen, belum diketahui, namun infeksi pemapasan akut yang
berulang dapat berkaitan dengan peningkatan hipereaktivitas saluran napas,
atau terlibat dalam patogenesis asma atau PPOK. Pada umumnya pembahan
ini bersifat sementara dan akan kembali normal jika infeksi sembuh.(Zullies
Ikawati, 2011).
Berdasarkan hasil uji stastic Chi-square (Continuity Correction) diperoleh
hasil hubungan yang signifikan antara Infeksi saluran Pemapasan dengan
kejadian serangan asma bronkial pada anak asma yang berobat di poliklinik
anak RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti
ada hubungan antara Infeksi Saluran Pemapasan dengan kejadian serangan
asma bronkial pada anak asma yang berobat di poliklinik anak RSUD dr. M.
Yunus Bengkulu. Hal ini menunjukkan bahwa Infeksi saluran pemapasan
disebabkan oleh kejadian serangan asma bronkial. infeksi merupakan salah
satu pencetus jenis bakteri, virus, riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain
adalah streptococus, Stapilococus, pneumococus, hemofilus, borfetella, virus
parainfluenza, dan korino bacterium. yang paling sering menimbulkan asma
pada anak pada anak diperkirakan 2/3 penderita asma pada anak di
cetuskan oleh infeksi, infeksi adalah masuknya mikroba kedalam tubuh
dengan jalan melalui kulit/ selaput lendir, hingga masuk kedalam jaringan
darah dan seterusnya. Seorang anak yang menderita
ISPA biasanya menunjukkan bermacam-macam tanda dan gejala seperti:
Sakit tenggorokan, batuk, bersin, rinorrhea, hidung tersumbat, sakit telinga,
keluar cairan dari telinga, sesak nafas, nafas cepat dan nafas bunyi. Terdapat
beberapa keluhan perasaan lemas selama satu sampai dua minggu setelah
priode akut. Penerikan dada kedalam, bisa juga mual dan muntah, tak mau
makan, badan lemah. (Brunner & Suddarth, 2002)
Hasil uji Contingency Coefficient didapat nilai C = 0,410 dengan approx.
Sig.= 0,000 < a = 0,05 berarti signifikan. Nilai C tersebut dibandingkan
lyu_____________________________i
dengan nilai Cmax = J--------------- dimana m adalah nilai terkecil dari baris
atau
Vm
b-l
kolom, nilai Cmax=J= 0,707. Karena nilai C = 0,410 tidak terlalu jauh
dengan nilai Cmax- 0,707 maka kategori hubungan sedang (Sudjana, 1996).
Hal ini menunjukkan bahwa infeksi saluran pemapasan adalah salah satu
penyebab dari kejadian serangan asma bronkial pada anak, sedangkan
penyebab antara lain, dispnea atau kesukaran bernafas dapat disebabkan
kelemahan saraf atau otot, kerusakan pada iga-iga atau mang pleura, paru-
paru kaku yang disebabkan pneumonia, udema paru- paru dalam payah
jantung, atau obstruksi dalam saluran udara pada bronkitis.( Evelyn C.
Pearce, 2002). Infeksi Virus penyebab biasanya Respirator Syncytial Vims
(RSV) dan Virus Parainfluinza. Kadang- kadang dapat juga oleh bakteri
misalnya Perfusis dan Sireptokokus Beta Hemolilikus, jamur misalnya
Aspergillus dan parasit misalnya Ashiris.).
Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari penderita ISPA dan carrier
yang disebut juga reservoir bibit penyakit yang ditularkan pada orang lain
melalui kontak langsung, atau melalui benda- benda yang tercemar bibit
penyakit, termasuk udara oleh karena salah satu penularan melalui udara
yang tercemar dan masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, maka
penyakit ISPA termasuk golongan Air borne disease. Bibit penyakit diudara
pada umumnya berbentuk aerosol yakni suatu suspensi yang melayang
diudara dapat seluruhnya berupa bibit penyakit atau hanya sebagian dari
padanya( Depkes RI, 2000).
Kejadian serangan asma bronkial pada Infeksi saluran pemapasan dapat
dikurangi dengan cara menganjurkan pada anak untuk mengkonsumsi
makanan- makanan yang bergizi, vitamin sesuai dengan kebutuhan tubuh
anak dan menghindari anak kontak dengan orang dewasa yang sedang
menderita influenza, ,alergen( debu, polusi udara, kecoak, bulu-bulu
kucing,dll.) anak yang Infeksi saluran pemapasan jangan makan coklat,
kacang tanah, atau makanan yang menggandung coklat atau minum es.
Perlu diperhatikan pula apakah ISPA timbul setelah anak memakan makanan
yang mengandung zat pengawet atau pewarna makanan.