Anda di halaman 1dari 12

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dan hasil penelitian serta pembahasan

yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Faktor-faktor yang menjadi pemicu terjadinya fraud (kecurangan) yang

dilakukan oleh pegawai bank pada bisnis perbankan di Indonesia secara garis

besar dapat dikelompokkan sebagai fraud triangle yaitu adanya tekanan untuk

melakukan penyelewengan (pressure), adanya kesempatan yang bisa

dimanfaatkan (opportunity) serta adanya pembenaran terhadap tindakan

tersebut (razionalization). Dalam konteks fraud perbankan, faktor-faktor ini

dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) aspek yaitu (a) aspek individu pelaku

yang terdiri dari sifat tamak manusia, moral yang kurang kuat, penghasilan

yang kurang mencukupi kebutuhan hidup yang wajar, kebutuhan hidup yang

mendesak, gaya hidup yang konsumtif, malas atau tidak mau kerja, dan ajaran

agama yang kurang diterapkan; serta (b) aspek organisasi yang terdiri dari

kurang adanya sikap keteladanan pimpinan, tidak adanya kultur organisasi

yang benar, sistem akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah kurang

memadai, kelemahan sistem pengendalian manajemen, manajemen cenderung

menutupi kejahatan jabatan di dalam organisasi.

168
169

2. Prospek penerapan strategi anti Fraud Bank Indonesia dalam industri

perbankan untuk mencehag tindak kejahatan perbankan yang dilakukan oleh

pegawai bank, antara lain:

a. Prospek penerapan strategi anti fraud Bank Indonesia dalam industri


perbankan untuk mencegah tindak kejahatan perbankan yang dilakukan
oleh pegawai bank, antara lain:

1) Pilar Pencegahan

Secara keseluruhan Pilar Pencegahan kurang prospektif dalam

penerapannya. Namun apabila dilihat dari strateginya, maka

disimpulkan sebagai berikut:

a) Strategi Anti Fraud Awareness

(1) Program/Prosedur Penyusunan dan Sosialisasi

Meskipun dilakukan secara sistematis atau dengan kata lain

tepat sasaran, namun terkesan hanya formalitas saja, tidak

sampai kepada esensinya yaitu mencegah fraud.

(2) Program/Prosedur Employee Awareness

Program ini prospeknya diragukan karena kurang serius

dijalankan. Di samping itu juga membutuhkan penyisihan

waktu dan biaya, sedanhkan karyawan tetap aja berperilaku

sama seperti sebelum awareness. Diperlukan adanya

pembinaan kesadaran yang menyeluruh, mengingat pada

relaitasnya kesadaran pegawai perbankan sering kali jauh dari

ekspetasi dan esensi kebijakan.


170

(3) Program/Prosedur Customer Awareness

Program ini melibatkan nasabah bank sehingga akan

mempunyai prospek yang baik, mengingat nasabah juga akan

diuntungkan. Namun bila hubungan nasabah dengan bank

sudah terbentuk kurang baik, maka program ini tentunya akan

menjadi kurang optimal.

b) Strategi Identifikasi Kerawanan

(1) Program/Prosedur Area/Activity Identification

Mempunyai prospek bagus mengingat program ini akan

membantu pihak perbankan untuk mengidentifikasi

kecurangan pada tahap awal, namun pelaksanaannya

membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

(2) Program/Prosedur Fraud Risk Identification

Program ini tidak prospektif karena belum ada instrumen

pendukung pada saat Strategi Anti Fraud Bank Indonesia

diterbitkan. Program ini dapat membantu pihak perbankan

untuk mengidentifikasi fraud risk secara lebih mandiri, jika

pihak bank bersedia mengadakan instrumen pendukungnya.

(3) Program/Prosedur Reporting and Updating

Program ini memiliki sangat prospektif mengingat, hampir

semua bank umum dapat dikatakan telah memiliki program


171

komputer yang tergolong cukup canggih sehingga

pemuktahiran pelaporan dapat mudah dilakukan.

c) Stategi Know Your Employee

(1) Program/Prosedur Pre-employee Screaning

Program pra-penyaringan ini akan mempunyai prospek yang

baik bila dimaksudkan untuk menjaring karyawan yang jujur,

mengingat proses perekrutan pada lembaga perbankan tidak

hanya mengikuti standar nasional tapi bahkan standar

internasional yang ketat.

(2) Program/Prosedur Selection Program (circuit, mutasi,


promosi)

Agar menjadi prospektif, program ini tetap harus

mengutamakan untuk menjaring calon karyawaan yang jujur

dengan tetap berpegang standar nasional dan standar

internasional.

(3) Program/Prosedur Employee Monitoring

Program ini kurang efektif karena bagaimana perusahaan dapat

memantau karyawan secara menyeluruh, paling dilakukan

hanya sewaktu di kantor saja, sedangkan diluar kantor sulit

untuk dilakukan.
172

(4) Program/Prosedur Pengenalan dan Pemantauan Karakter,


Perilaku dan Gaya Hidup Karyawan

Pengenalan dan pemantauan karakter, perilaku serta gaya

hidup karyawan akan terasa sulit dikarenakan hal tersebut

menyangkut kepada aspek pribadi yang masing-masing

sehingga mengakibatkan inefisiensi waktu dan sumberdaya

dalam melakukan pemantauan tersebut.

2) Pilar Deteksi

Secara keseluruhan Pilar Deteksi ini diragukan prospeknya. Namun

apabila dilihat dari strateginya, maka disimpulkan sebagai berikut:

a) Strategi Wistleblowing

(1) Program/Prosedur Wistleblower Protection

Program wistleblower protection mempunyai prospek yang

baik namun sulit untuk dilaksanakan mengingat sulitnya

mencari orang yang dapat melaksanakan. Namun dalam

pelaksanaannya bisa saja menggunakan tenaga ahli atau

konsultan, yang tentunya akan mengakibatkan inefisiensi dan

biaya tinggi.

(2) Program/Prosedur Regulasi Pengaduan Fraud

Program ini mempunyai prospek baik dengan syarat harus

dibuatkan standar agar tidak menjadi fitnah.


173

(3) Program/Prosedur Pelaporan dan Mekanisme Tindaklanjut


Pengaduan Fraud

Program Pelaporan dan Mekanisme Tindaklanjut Pengaduan

Fraud ini bila ditindaklanjuti dapat berprospek baik.

b) Strategi Surprise Audit

(1) Program/Prosedur Surprise Audit Methodology

Program audit dadakan pada umumnya mempunyai prospek

baik karena akan menghasilkan temuan yang apa adanya,

namun mengandung kelemahan mengingat audit dadakan akan

mengganggu aktivitas rutin.

(2) Program/Prosedur Reporting of Surprise Audit

Pelaporan temuan audit hanya sebatas aspek formalitas saja.

Temuan audit pada umumnya hanya sebatas penyimpangan

prosedur akunting saja bukan temuan kecurangan sehingga

kurang prospektif. Namun bila temuan audit ditindaklanjuti

dengan seksama, program ini mempunyai prospek baik

mengingat hamper semua kecurangan diawali dengan temuan

dari Reporting of Surprise Audit.

c) Strategi Suveillance System

(1) Program/Prosedur Off Site Monitoring

Program off site monitoring ini kurang prospektif karena

memerlukan waktu yang cukup lama, serta kesiapan unsur


174

pengawasan pada regulasi dan sumber daya manusi dan

sumber dana yang dialokasikan dalam pengawasan.

(2) Program/Prosedur Surveillance Audit Methodology

Program ini mempunyai prospek yang baik karena program ini

akan menemukan metode audit yang dapat dijadikan standar.

3) Pilar Investigasi, Pelaporan, dan Sanksi

Secara keseluruhan Pilar Investigasi, Pelaopran dan Sanksi diragukan

prospeknya. Namun apabila dilihat dari strateginya, maka disimpulkan

sebagai berikut:

a) Strategi Investigasi

(1) Program/Prosedur Ketentuan Penentuan Tim Investasi

Program ini memiliki prospek yang baik karena Bank

Indonesia mempunyai sumberdaya dan regulasi yang baik

sehingga sangat mendukung dalam investigasi.

(2) Program/Prosedur Fraud Audit/Investigation Methodology and

Approach

Prospek Program/Prosedur Fraud Audit/Investigation

Methodology and Approach yang dilakukan Bank Indonesia

cenderung baik, karena telah dilakukan sesuai dengan standar

yang ditetapkan. Namun demikian, program/prosedur ini

membutuhkan kontrol atau pengawasan yang ketat dan

evaluasi yang berkesinambungan.


175

b) Strategi Pelaporan (Iternal, Eksternal)

Program/Prosedur Fraud Audit/Investigation Reporting System


and Standard

Fraud Audit/Investigation reporting system and standard yang

dilakukan Bank Indonesia cenderung kurang prospektif, hal ini

dapat dilihat dengan realitas yang ada, minimnya kompetensi

pejabat dalam transparansi pelaporan sehingga system yang

dibangun masih jauh dari harapan.

c) Strategi Pengenaan Sanksi (Internal, Eksternal)

(1) Program/Prosedur Kebijakan Penganaan Sanksi

Program/prosedur ini masih kurang efektif, karena dalam

pelaksanaannya hanya sekedar teguran dan kurangnya

pengawasan dalam perbaikan atas kesalahan yang telah

dilakukan. Pihak Bank Indonesia terkadang tidak tegas dalam

meminta pertanggungjawaban jika telah terhjadi kesalahan.

(2) Program/Prosedur Mekanisme Pengenaan Sanksi

Program/prosedur ini kurang prospektif mengingat relaitas

yang ada, transparansi dan akuntabilitas mekanisme pengenaan

sanksi masih dipertanyakan.

(3) Program/Prosedur Penentuan Pihak yang Berwenang


Mengenakan Sanksi

Program/prosedur ini memiliki prospek yang baik karena

pejabat yang ada di Bank Indonesia mempunyai integritas yang


176

tinggi, sehingga dalam setiap kebijakan pasti sesuai dengan

peraturan yang ada.

4) Pilar Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut

Secara keseluruhan Pilar Pemantauan, Evaluasi, dan Tindak Lanjut

mempunyai prospek dari kurang prospektif. Namun apabila dilihat

dari strateginya, maka disimpulkan sebagai berikut:

a) Strategi Pemantauan

(1) Program/Prosedur Fraud Risk Monitoring

Program/prosedur ini cukup prospektif, namun diperlukan

berbagai sumber daya dalam melaksanakan pemantauan resiko

penipuan. Untuk itu diperlukan komitmen yang konsisten

dalam pelaksanaan pemantauan, terlebih pemantau yang ada

pada saat ini tergolong kurang efektif.

(2) Program/Prosedur Fraud Audit Monitoring

Program/prosedur ini akan berjalan dengan efektif karena dapat

berfungsi sebagai indicator dalam mendeteksi gejala-gejala

yang ada bila dilaksanakan secara terus-menerus.

b) Strategi Evaluasi

(1) Program/Prosedur Fraud Profiling

Program/prosedur ini bahwa pada dasarnya bertujuan untuk

memberikan gambaran tentang beberapa masalah sehingga

dapat diketahui jalan keluar dari berbagai masalah. Namun


177

dalam prakteknya dikhawatirkan evaluasi tersebut tidak

didasarkan pada keberlanjutan hasil evaluasi, dimana evaluasi

dilaksanakan dalam rangka memberikan konsep dengan tidak

diimbangi dengan keampuhan konsep dan kemampuan

pelaksanaan konsep tersebut.

(2) Program/Prosedur

Program ini mempunyai prospek baik mengingat program ini

dapat digunakan untuk mendeteksi dan mencegah agar tidak

terjadi fraud selanjutnya. Namun pada implementasinya

dikhawatirkan evaluasi tersebut hanya menyangkut pada

penyelesaian bukan pencegahan risiko penipuan.

c) Strategi Tindak Lanjut

(1) Mekanisme Pelaksanaan Tindak Lanjut

Program/prosedur ini mempunyai prospek kurang baik

mengingat mekanisme pelaksanaan tindak lanjut biasanya

kurang mendapat dukungan pimpinan, hanya berhenti pada

titik tertentu dan tidak akan dapat mencegah terulangnya fraud.

(2) Tindak Lanjut atas Fraud Risk Evaluation

Tindak lanjut atas fraud risk evaluation program pada

implementasi kurang mendapatkan porsi besar, padahal ini

akan berimplikasi pada kejelasan dan tindak lanjut dari

pembuatan kebijakan pada masa akan mendatang.


178

b. Berdasarkan Data Laporan Tahunan Pelaksanaan Surat Edaran Bank

Indonesia No.13/28/DPNP tentang Penerapan Strategi Anti Fraud bagi

Bank Umum pada Bank BNI, Bank Mandiri, Bank Sinar Mas dan Bank

Mega, maka dapat dinyatakan bahwa:

1) Hampir seluruh bank yang dijadikan sebagai sumber penelitian telah

melaksanakan Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/28/DPNP tentang

Strategi Anti Fraud bagi Bank Umum.

2) Mengingat pelaksanaan SE BI No. 13/28/DPNP tersebut bahwa

berjalan 1 (satu) tahun, maka efektivitas pelaksanaan surat edaran ini

belum bisa dikatakan efektif, meskipun ada penurunan jumlah kasus

internal fraud, namun jumlah penurunannya belum bisa dikatakan

signifikan.

3) Dalam melaksanakan SE BI No. 13/28/DPNP, pada umumnya lebih

menekankan pada Pilar Deteksi, strategi wistleblowing. Bahkan ada

bank seperti Bank BNI dan Bank Mandiri menggunakan konsultan

asing yang ahli menjalankan strategi wistleblowing.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka disarankan hal-hal sebagai

berikut:
179

1. Dalam pelaksanaan Surat Edaran Bank Indonesia No.13/28/DPNP tentang

Penerapan Strategi Anti Fraud bagi Bank Umum sebaiknya dilakukan secara

terintegrasi dengan instansi-instansi terkait lainnya.

2. Dalam pelaksanaan Surat Edaran Bank Indonesia No.13/28/DPNP tentang

Penerapan Strategi Anti Fraud bagi Bank Umum sebaiknya diupayakan

enforcement yang lebih kuat lagi dari pada sanksi dan denda.

3. Surat Edaran Bank Indonesia No.13/28/DPNP tentang Penerapan Strategi

Anti Fraud bagi Bank Umum sebaiknya diupayakan untuk ditingkatkan

menjadi Peraturan Bank Indonesia yang lebih mengikat dan apabila

memungkinkan diusulkan untuk menjadi undang-undang bersama-sama anti

fraud bidang lainnya.