Anda di halaman 1dari 22

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1. Penduduk

Penduduk yang mendiami Kelurahan Fatubesi pada RT 01 sampai RT 18

berasal dari beraneka ragam suku, yakni Suku Timor Helong, Suku Rote, Suku

Bima, Suku Sabu, Suku Alor, Suku Flores, Suku Sumba, Suku Jawa-Madura, dan

Suku Bugis-Makasar.

Adapun jumlah Kepala Keluarga (KK) di kawasan studi sebanyak 742 KK

dengan jumlah penduduk 3.690 jiwa yang terdiri dari 1.862 jiwa Laki-laki dan

1828 jiwa Perempuan

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kelurahan Fatubesi

Kelompok Umur Jumlah Penduduk Jumlah


(Tahun) Laki-laki Perempuan
05 214 296 510
6 10 168 148 316
11 15 141 143 284
16 20 291 191 482
21 25 197 256 453
26 30 258 175 433
31 35 162 209 371
36 40 145 124 269
41 45 110 139 249
46 50 50 38 88
51 55 7 35 82
56 60 35 28 63
61 Ke atas 44 46 90
Jumlah 1.862 1.828 3.690
Sumber : Data Kelurahan 2009

1
Adapun banyaknya jiwa tiap Kepala Kelurga (KK) di tiap rumah dari

sampel yang diambil dapat dilihat dalam tabel 4.2.

Tabel 4.2. Data Jumlah Jiwa Dari 60 KK di Kelurahan Fatubesi

No Jumlah Jiwa Jumlah KK (n = 60) %


a b c (c x 100)/60
1 23 15 25
2 35 23 38,3
3 57 14 23,3
4 7 10 7 11,7
5 > 10 1 1,7
Jumlah 60 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.2. di atas

digambarkan bahwa jumlah jiwa dalam keluarga yang paling banyak berkisar

antara 3-5 orang yakni sebanyak 23 kepala keluarga atau 38, 3 %.

4.1.2. Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk di kawasan studi rata-rata sudah menamatkan

pendidikan. Dengan perincian tamat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 20 %, tamat

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) 15 %, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas

(SLTA) 55 %, Diploma dan Serjana 10 %, dapat dilihat dalam tebel 4.3.

2
Tabel 4.3. Tingkat Pendidikan Penduduk di Kelurahan Fatubesi

No Tingkat Pendidikan Jumlah KK (n = 60) %


a b c (c x 100) / 60
1 SD atau Sederajat 12 20
2 SLTP 9 15
3 SMU atau sederajat 33 55
4 Diploma 1 1,7
5 Sarjana Lengkap 5 8.3
Jumlah 60 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari keadaan yang ditemui di lokasi penelitian responden pada umumnya


pendidikan sudah cukup baik, yakni sebanyak 33 orang responden atau 55%,
menempuh pendidikan sampai ditingkat SMU atau sederajat.

4.1.3. Sosial Ekonomi


a. Jenis Pekerjaan Responden
Perincian mengenai pekerjaan dan pendapatan di kawasan studi dilihat pada
tabel 4.4.
Tabel 4.4. Jenis Pekerjaan Penduduk di Kelurahan Fatubesi

No Jenis Pekerjaan Jumlah KK ( n = 60) %


a b c (c x 100) / 60
1 Pegawai Negeri Sipil/Guru 14 23,3
2 Pegawai sawasta 7 11.7
3 TNI/POLRI - -
4 Wirasuwasta 32 53,4
5 Petani/nelayan 5 8,3
6 Pensiunan 2 3.3
Jumlah 60 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Jenis pekerjaan responden dapat digolongkan sebagai berikut yakni

:pegawai negeri/guru, pegawai swasta, wiraswasta, petani/nelayan, dan pensiunan.

3
Dari golongan pekerjaan tersebut di atas, dominasi pekerjaan penduduk adalah

wiraswasta yakni sebanyak 32 orang responden 53,4%. Dengan kenyataan kondisi

ini mengakibatkan perhatian penduduk akan aspek keserasian, kenyamanan,

keindahan, ketentaraman terhadap lingkungan sekitarnya tidak terhiraukan lagi

atau dengan kata lain penempatan fungsi bangunan tidak pada tempatnya. Di

mana fungsi rumah tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal tetapi juga

difungsikan untuk kegiatan lain seperti kios, warung dll.

b. Tingkat Pendapatan Penduduk

Tabel 4.5. Tingkat Pendapatan Per-Bulan Penduduk di Kelurahan Fatubesi

No Pendapatan Per bulan (Rp) Jumlah KK ( n = 60) %


a b c (c x 100) / 60
1 0,000 500.000 21 35
2 500.000 1.000.000 12 20
3 1.000.000 3.000.000 25 41,6
4 3.000.000 5.000.000 1 1,7
5 > 5.000.000 1 1,7
Jumlah 60 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.5. di atas di

mana pendapatan penduduk di kawasan studi yang tersebar berkisar antara Rp

1.000.000 sampai Rp 3.000.000 keatas. Namuan masih banyak penduduk juga

tidak memiliki penghasilan tetap seperti yang bekerja pada sektor wiraswasta, dan

petani/nelayan.. Namun demikian hal ini tidak dapat menunjukan terciptanya

suatu penataan bangunan yang memenuhi kaidah-kaidah/syarat-syarat teknis

maupun heginis, oleh karena kurangnya pemahaman dan kesadaran warga

mengenai penataan rumah sehat, disamping itu tidak terlepas adanya budaya atau

cara hidup/kebiasaan yang dimiliki penduduk dari daerah asalnya.

4
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan

a. Kelengkapan Ruangan

1) Konstruksi Rumah Permanen

Tabel 4.6. Kelengkapaan Ruang pada Rumah Tinggal Permanen di Kelurahan


Fatubesi

Jumlah Rumah Yang


Presentase dari
Memenuhi Kebutuhan
No Komponen Ruang Keseluruhan
Ruangan
Jumlah Rumah
(n = 29)
a b c (c x 100) /29
1 R. Tidur, R. Tamu dan Dapur 2 6,90
2 R. Tidur, R. Tamu, Dapur dan KM/WC 7 24,14
3 R. Tidur, R. Tamu, R. Keluarga, KM/WC,
R. Makan bersatu dengan Dapur 10 34,48
4 R. Tidur utama, R. Tidur Anak, R. Tamu, R.
Keluarga, R. kerja, R. Makan, KM/WC,
Dapur dan Gudang. 10 34,48
Jumlah 29 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil panelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.6. di atas,

secara minimal rata-rata kelengkapan ruang untuk konstruksi rumah permanen di

kawasan studi belum mencapai persyaratan kelengkapan dan ukuran ruangan

dalam satu rumah tinggal, yakni hanya 10 rumah atau 34,48 % yang memenuhi

kelengkapan ruangan secara baik.

5
2) Konstruksi Rumah Semi Permanan

Tabel 4.7. Kelengkapaan Ruang pada Rumah Tinggal Semi Permanen di


Kelurahan Fatubesi

Jumlah Rumah Yang


Presentase dari
Memenuhi Kebutuhan
No Komponen Ruang Keseluruhan
Ruangan
Jumlah Rumah
(n = 13)
a b c (c x 100) /13
1 R. Tidur, R. Tamu dan Dapur 2 15,38
2 R. Tidur, R. Tamu, Dapur dan KM/WC 6 46,15
3 R. Tidur, R. Tamu, R. Keluarga, KM/WC,
R. Makan bersatu dengan Dapur 4 30,77
4 R. Tidur utama, R. Tidur Anak, R. Tamu, R.
Keluarga, R. kerja, R. Makan, KM/WC,
Dapur dan Gudang. 1 7,69
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.7. di atas,

bahwa kelengkapan ruang untuk konstruksi rumah semi permanen belum

memenuhi kebutuhan ruang dan ukuran, yakni hanya 1 rumah atau 7,69 % yang

memiliki kelengkapan ruangan sesuai dengan standar rumah sehat.

6
3) Konstruksi Rumah Temporer

Tabel 4. 8. Kelengkapaan Ruang pada Rumah Tinggal Temporer di Kelurahan


Fatubesi

Jumlah Rumah Yang


Presentase dari
Memenuhi Kebutuhan
No Komponen Ruang Keseluruhan
Ruangan
Jumlah Rumah
(n = 18)
A b c (c x 100) /18
1 R. Tidur, R. Tamu dan Dapur 15 83,33
2 R. Tidur, R. Tamu, Dapur dan KM/WC 3 16,67
3 R. Tidur, R. Tamu, R. Keluarga, KM/WC,
R. Makan bersatu dengan Dapur - 0,00
4 R. Tidur utama, R. Tidur Anak, R. Tamu, R.
Keluarga, R. kerja, R. Makan, KM/WC,
Dapur dan Gudang. - 0,00
Jumlah 18 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.8. di atas,

bahwa kelengkapan ruang untuk konstruksi rumah temporer belum memenuhi

kebutuhan ruang dan ukuran secara baik, yakni sebanyak 15 rumah atau 83,33 %

hanya memiliki ruang tidur, ruang tamu dan dapur.

Hasil penelitian ini tentunya tidak sejalan dengan apa yang di paparkan

oleh Surowiyono (1994), bahwa rumah tinggal sekurang-kurangnya memiliki

ruang yang meliputi kamar tidur, ruang terima tamu, ruang keluarga, ruang

makan, kamar mandi/WC dan gudang. Karena dari ketiga kategori rumah baik

permanen, semi permanen dan temporer belum memiliki kebutuhan ruangan

secara baik.

Kondisi yang ditemui sebagaimana hasil penelitian, dipengaruhi oleh

faktor-faktor: (a) pendidikan, meskipun tingkat pendidikan masyarakat sudah

cukup baik namun kurangnya pemahaman masyarakat akan perencanaan rumah

7
sehat sehingga masyarakat tatap membangun rumah seadanya, (b) ekonomi,

dengan jenis pekerjaan masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai

wiraswasta dengan penghasilan yang tidak tetap sehingga masyarakat tidak

mampu untuk membangun rumah yang memadai, (c) luas tanah dan status tanah,

dengan luas tanah yang kecil dan status tanah yang ditempati oleh masyarakat

khususnya konstruksi rumah semi permanan dan temporer adalah tanah kontrakan

baik itu milik pemerintah maupun milik keluarga sehingga masyarakat tidak

berinisiatif untuk melakukan perbaikan-perbaikan pada rumah atau tetap dengan

kondisi seadanya.

b. Pencahayaan

1) Rumah Permanen

Dari hasil pengamatan kondisi di lokasi penelitian untuk sistem

pencahayaan pada rumah permanen sudah baik yaitu dari 29 rumah permanen

sebanyak 23 rumah atau 72,3 % sudah memenuhi kebutuhan pencahayaan tiap

ruangan dalam rumah secara baik, sedangkan 6 rumah atau sekitar 27,7 % belum

memenuhi kebutuhan pencahayaan tiap ruangan dalam rumah secara baik.

2) Rumah Semi Parmanen

Pada rumah semi permanen sesuai dengan hasil pengamatan di lokasi

penelitian sudah cukup bai yakni dari 13 rumah yang diteliti, ada 9 rumah atau

69,20 % sudah memenuhi kebutuhan pencahayaan tiap ruangan dalam rumah

secara baik sedangkan 4 rumah atau 30,80 % belum memenuhi kebutuhan

pencahayaan tiap ruangan secara baik.

8
3) Rumah Temporer

Dari hasil pengamatan kondisi di lokasi penelitian untuk sistem

pencahayaan pada rumah temporer yakni dari 18 rumah seluruhnya atau 100 %

belum memiliki sistem pencahayaan tiap ruangan dalam rumah secara baik.

Dalam penelitian sebagaimana digambarkan di atas, untuk rumah

permanen dan semi permanen tentunya kebutuhan pencahayan utuk tiap ruangan

sudah cukup baik ini dipengaruhi oleh (a) ukuran luas lubang pencahayaan yang

memenuhi standar yakni 15 20 % luas lantai, (b) bahan yang digunakan yakni

dari kaca polos dan kaca barwarna. Hal ini tentunya sejalan dengan apa yang

dipaparkan oleh iswar (1989), menyatakan bahwa jendela sekurang-kurangnya

seluas 15 20 % dari luas lantai, dan Tengaro (2000); Frick dan Suskiyanto

(2002), menjelaskan bahwa, intesitas cahaya matahari yang masuk ke dalam

ruangan sangat di pengaruhi oleh faktor-faktor: (a) jenis bahan yang digunakan

adalah tembus cahaya, misalnya: Kaca polos, kaca barwarna atau fiber glass, (b)

warna bahan sebagai bidang pantulan yang berpengaruh adalah; dinding, langit-

langit dan lantai. Semakin warnanya mudah dan cerah, semakin banyak

memantulkan cahaya, (c) luas bidang bukaan/jendela, dan (d) pengurangan

intesitas cahaya oleh kisi-kisi (sunscreen) dan pohon. Sedangkan untuk rumah

temporer tidak sejalan teori ini karena tidak semua ruangan memiliki sistem

pencahayaan secara baik hal ini di pengaruhi oleh: (a) luas lubang pencahayaan

yang tidak mencapai standar ukuran luas yakni 15 20 % luas lantai, (b) bahan

yang digunakan yakni masih ada yang menggunakan bahan bukan dari kaca

seperti dari tripleks atau seng, sehingga menghambat masuknya cahaya ke dalam

ruangan.

9
c. Penghawaan( Sirkulasi Udara)

1) Rumah Permanen

Sistem penghawaan untuk rumah permanen sesuai dengan kondisi di

lokasi penelitian yakni dari 29 rumah, hanya 21 rumah atau 72,41% sudah

memiliki sistem penghawaan tiap ruangan secara baik, sedangkan 8 rumah atau

27,59 % belum memiliki sistem penghawaan tiap ruangan secara baik.

2) Rumah Semi Permanen

Sistem penghawaan untuk rumah semi permanen sesuai dengan kondisi

di lokasi penelitian yakni dari 13 rumah, hanya 9 rumah atau 69,23 % sudah

memiliki sistem penghawaan tiap ruangan secara baik, sedangkan 4 rumah atau

30,77 % belum memiliki sistem penghawaan tiap ruangan secara baik

3) Rumah Temporer

Sistem penghawaan untuk rumah temporer sesuai dengan kondisi di

lokasi penelitian yakni dari 18 rumah seluruhnya atau 100 % belum memiliki

sistem penghawaan tiap ruangan secara baik.

Hasil pengamatan menujukkan bahwa untuk rumah permanen dan semi

permanen sudah memiliki sistem penghawaan tiap ruangan dalam rumah cukup

baik, ini dipengaruhi oleh: (a) luas lubang penghawaan yang mencapai 5 % dari

luas lantai, (b) bahan yang digunakan yakni menggunakan berupa kisis-kisi dari

kayu sehingga udara dengan baik akan masuk ke dalam rungan dalam rumah. Hal

ini tentunya sejalan dengan apa yang di paparkan oleh Suseno (2006), menyatakan

bahwa rumah yang sehat dan nyaman, apabilah suhu udara dan kelembapan udara

dalam ruangan sesuai dengan suhu tubuh manusia normal. Suhu udara dalam

kelembapan ruang sangat dipengaruhi oleh penghawaan dan pencahayaan.

10
Penghawaan yang kurang atau tidak lancar akan menjadikan ruangan terasa

pengap dan akan menimbulkan kelembapan tinggi dalam ruangan dan luas lubang

penghawaan minimal 5 % dari luas lantai. Neuferst (1996), menyatakan bahwa

bouven jendela dan pintu bisa didesain dalam bentuk kisi-kisi kayu dengan arah

serong 45, sehingga angin yang keras tidak akan langsung menerpa pemakai

ruangan melainkan dipantuklan terlebi dahulu pada bidang plafond dan masuknya

debu tanah dapat diminimalisir. Sedangkan untuk rumah temporer tidak sejalan

dengan teori ini yakni selain karena tidak memiliki lubang penghawaan, ukuran

yang tidak sesuai juga diakibatkan oleh penggunaan bahan dengan tripleks atau

kertas yang menutup lubang penghawaan sehingga mengalangi masuknya udara

ke dalam ruang.

d. Ketinggian Konstruksi Plafond

1) Konstruksi Rumah Permanen

Tabel 4.9. Ketinggian Konstruksi Plafond pada Rumah Tinggal Permanen di


Kelurahan Fatubesi

Presentase dari
Jumlah Rumah
No Kelengkapan plafond dan ukuran tinggi Keseluruhan
(n = 29)
Jumlah Rumah
a b c (c x 100) /29
1 Tidak memiliki plafond 11 37,93
2 Memiliki plafond, tinggi 2,4 m 18 62,07
Jumlah 29 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.9. di atas,

bahwa untuk rumah permanen dari 29 rumah yakni sebanyak 18 rumah atau 62,07

% memiliki konstruksi plafond disetiap ruangan dan dalam kondisi baik,

sedangkan 11 rumah atau 37, 93 % tidak memiliki plafond di tiap ruangan.

11
2) Konstruksi Rumah Semi Permanen

Tabel 4.10. Ketinggian Konstruksi Plafond pada Rumah Tinggal Semi Permanen
di Kelurahan Fatubesi

Presentase dari
Jumlah Rumah
No Kelengkapan Plafond dan ukuran tinggi Keseluruhan
(n = 13)
Jumlah Rumah
a b c (c x 100) /13
1 Tidak memiliki plafond 7 53,85
2 Memiliki plafond, tinggi 2,4 m 6 46,15
Jumlah 13 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana di tunjukkan pada tabel 4.10. di atas,

bahwa untuk rumah semi permanen dari 13 rumah yakni sebanyak 6 rumah atau

46,15 % memiliki konstruksi plafond di setiap ruangan dan dalam kondisi baik,

sedangkan 7 rumah atau 53,85 % tidak memiliki plafond di tiap ruangan.

3) Konstruksi Rumah Temporer

Tabel 4.11. Ketinggian Konstruksi Plafond pada Rumah Tinggal Temporer di


Kelurahan Fatubesi

Presentase dari
Kelengkapan Plafond dan ukuran tinggi Jumlah Rumah
No Keseluruhan
plafond (n = 18)
Jumlah Rumah
a b c (c x 100) /18
1 Tidak memiliki plafond 14 77,78
2 Memiliki plafond, tinggi 2,4 m 4 22,22
Jumlah 18 100,00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.11. di atas,

bahwa untuk rumah temporer dari 18 rumah yakni sebanyak 4 rumah atau 22,22

% memiliki konstruksi plafond di setiap ruangan dan dalam kondisi baik,

sedangkan 14 rumah atau 77,78 % tidak memiliki plafond di tiap ruangan.

12
Dari hasil penelitian mengenai konstruksi plafon untuk rumah permanen

sudah memiliki konstruksi plafond di tiap ruangan dengan kondisi baik, yakni (a)

ketinggian plafond dari muka lantai sangat bervariasi, berkisar antara 2,40 3,00

m. dari segi teknis tinggi plafond tentunya sudak cukup baik yakni ketinggian

minimal untuk plafond adalah 2,40 m. Dalam Gunawan (1978), mengatakan

bahwa ketinggian plafond terhadap lantai rumah minimal 2,4 m, (b) konstruksi

yang digunakan adalah konstruksi dari kayu dan dilapisi tripleks ataupun gipsum.

Sedangkan padan rumah semi permanen dan temporer belum memiliki konstruksi

plafond yang baik di setiap ruangan. Ini dilihat dari ukuran ketinggian yang tidak

mencapai 2,40 m dari muka lantai, konstruksi yang digunakan juga masih ada

yang menggunakan anyaman bambu, kertas, bebak, dan juga tidak memiliki

konstruksi plafond, sehingga kondisi ruangan sangat panas pada waktu siang hari.

e. Ketinggian Lantai Dari Muka Tanah

1) Konstruksi Rumah Permanen

Tabel 1.12. Ketinggian Lantai Rumah Tinggal pada Rumah Permanen di


Kelurahan Fatubesi

Presentase
No Ketinggian Lantai(M) Jumlah rumah (n = 29)
Keseluruhan
a b c (c x 100) / 29
1 - 10 cm 10 34,48
2 + 10 cm 19 65,52
Jumlah 29 100, 00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.12 di atas,

bahwa untuk rumah permanen dari 29 rumah yakni sebanyak 19 rumah atau 65,52

% memiliki konstruksi lantai dengan ketinggian 10 cm dari muka tanah dasar,

sedangkan 10 rumah atau 34, 48 % ketinggian lantainya tidak mancapai atau

kurang dari 10 cm dari muka tanah dasar.

13
2) Konstruksi Rumah Semi Permanen

Tabel 4.13. Ketinggian Lantai Rumah Tinggal pada Rumah Semi Permanen di
Kelurahan Fatubesi

Presentase Keseluruhan
No KetinggianLantai(M) Jumlah rumah (n = 13)
Dari Jumlah Rumah
a b c (c x 100) / 13
1 - 10 cm 3 23,08
2 10 cm 10 76,92
Jumlah 13 100, 00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.13 di atas,

bahwa untuk rumah semi permanen dari 13 rumah yakni sebanyak 10 rumah

23,08 % memiliki konstruksi lantai dengan ketinggian 10 cm dari muka tanah

dasar, sedangkan 3 rumah atau 23,08 % ketinggian lantainya tidak mancapai atau

kurang dari 10 cm dari muka tanah dasar.

3) Konstruksi Rumah Temporer

Tabel 4.14. Ketinggian Lantai Rumah Tinggal pada Rumah Temporer di


Kelurahan Fatubesi

Presentase
No KetinggianLantai(cm) Jumlah rumah (n = 18) Keseluruhan Dari
Jumlah Rumah
a B c (c x 100) / 18
1 - 10 cm 10 55,56
2 10 cm 8 44,44
Jumlah 18 100, 00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.14. di atas,

bahwa untuk rumah temporer dari 18 rumah yakni sebanyak 8 rumah atau 44,44

% memiliki konstruksi lantai dengan ketinggian 10 cm dari muka tanah dasar,

sedangkan 10 rumah atau 55,56 % ketinggian lantainya tidak mancapai atau

kurang dari 10 cm dari muka tanah dasar.

14
Gunawan (1978), ketinggian lantai denah bawah yang padat harus

sekurang-kurangnya 10 cm diatas muka tanah yang paling tinggi dari pekarangan

yang sudah disiapkan dan sekurang-kurangnya 25 cm di atas titik yang paling

tinggi dari sumbu jalan yang berbatasan. Namun dari hasil pengamatan di lokasi

penelitian khususnya pada rumah semi permanen dan temporer masih banyak

rumah warga yang ketinggian lantainya rumahnya kurang dari 10 cm bahkan ada

rumah yang lantai rumahnya berada di bawah permukaan jalan sehingga tidak

menutup kemungkinan untuk air masuk kedalam rumah bila terjadi luapan air dari

muka jalan pada musim hujan.

f. Sarana Pelengkap Rumah

1) Jaringan Air Bersih

a. Konstruksi Rumah Permanen

Tabel 4.15.Jaringan Air Bersih Rumah Tinggal pada Rumah Permanen di


Kelurahan Fatubesi

Presentase
No Jaringan air bersih Jumlah rumah (n = 29)
Keseluruhan
a b c (c x 100) / 29
1 Memiliki jaringan air bersih 12 41,38
2 Tidak memiliki jaringan air bersih 17 58,62
Jumlah 29 100, 00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.15 di atas,

bahwa untuk rumah permanen dari 29 rumah yakni sebanyak 17 rumah atau 58,62

% memiliki jaringan air bersih di rumahnya, sedangkan 12 rumah atau 41,38 %

tidak memiliki jaringan air bersih di rumahnya.

15
b. Konstruksi Rumah Semi Permanen

Tabel 4.16. Jaringan Air Bersih Rumah Tinggal pada Rumah semi Permanen di
Kelurahan Fatubesi

Presentase
No Jaringan air bersih Jumlah rumah (n = 13)
Keseluruhan
a b c (c x 100) / 13
1 Memiliki jaringan air bersih 7 53,85
2 Tidak memiliki jaringan air bersih 6 46,15
Jumlah 13 100, 00
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.16 di atas

bahwa untuk rumah semi permanen dari 13 rumah yakni sebanyak 6 rumah atau

46,15 % memiliki jaringan air bersih di rumahnya, sedangkan 7 rumah atau 53,85

% tidak memiliki jaringan air bersih di rumahnya

c. Konstruksi Rumah Temporer

Tabel 4.17.Jaringan Air Bersih Rumah Tinggal pada Rumah Temporer di


Kelurahan Fatubesi

Presentase
No Jaringan air bersih Jumlah rumah (n = 18)
Keseluruhan
a b C (c x 100) / 18
1 Memiliki jaringan air bersih - 0.00
2 Tidak memiliki jaringan air bersih 18 100.00
Jumlah 18 100, 00
Sumber : Data olahan Penulis (2009)

Dari hasil penelitian sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.17 di atas,

bahwa untuk rumah Temporer dari 18 rumah seluruhnya atau 100 % tidak

memiliki jaringan air bersih di rumahnya

Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-

syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak

mengandung logam berat. Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh

manusia, terdapat resiko bahwa air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya

Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan

16
memasak air hingga 100 C, banyak zat berbahaya, terutama logam, tidak dapat

dihilangkan dengan cara ini. Dari hasil penelitian ditemukan khusnya pada rumah

semi permanen dan temporer masih banyak rumah penduduk tidak memiliki

jaringan air bersih di rumahnya. Dengan demikian untuk kebutuhan kesehariannya

baik untuk kebutuhan air minum, masak, mandi dan cuci masyarakat

menggunakan air dari sumur, dan juga air yang disediakan di bak penampungan

umum yang disediakan pemerintah melalui program P2KP Hal ini diakibatkan

oleh tidak tersedianya jaringan air bersih yang baik dan juga kurangnya

pemahaman masyarakat mengenai penggunaan air bersih, sehingga masyarakat

lebih memilih menggunakan air yang bersumber dari sumur-sumur milik warga.

2) Selokan Air

a. Konstruksi Rumah Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah permanen mengenai

selokan air dari 29 rumah yakni 16 rumah atau 55,17 % yang memiliki

selokan yang di salurkan secara baik, sedangkan 13 rumah atau 44,83 % tidak

memiliki selokan yang disalurkan secara baik.

b. Konstruksi Rumah Semi Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah semi permanen mengenai

selokan air dari 13 rumah tinggal, hanya 9 rumah atau 69,23 % yang memiliki

selokan yang di salurkan secara baik, sedangkan 4 rumah atau 30,77 % tidak

memiliki selokan yang disalurkan secara baik.

c. Konstruksi Rumah Temporor

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah temporer mengenai selokan

air dari 18 rumah tinggal, hanya 5 rumah atau 27,78 % yang memiliki selokan

yang di salurkan secara baik, sedangkan 13 rumah atau 72,22 % tidak

memiliki selokan yang disalurkan secara baik.

17
Ketersediaan fasilitas saluran pembuangan air kotor dan air hujan

memiliki peran penting bagi kesehatan rumh dan lingkungan sekitarnya.

Namun dari hasil penelitian ditemukan banyak rumah-rumah penduduk yang

tidak memiliki saluran pembuangan air kotor yang disalurkan dengan baik.

Hal ini tentunya dipengaruhi oleh minimnya lahan dan juga tidak tersedianya

saluran lingkungan sehingga masyarakat langsung menyalurkan air kotor dari

rumahnya langsung ke lahan kosong ataupun ke halaman rumah sehingga

akan mengalami genangan, atau becek pada saat musim hujan. Menurut

Peorbo (2002), bila tidak tersedia drainase lingkungan yang baik maka, akan

menimbulkan dampak pembuangan air limba terhadap lingkungan adalah: (a)

timbulnya bau busuk, (b) badan air penerima akan menjadi tempat

berkumpulnya vektor penyakit (cacing, penyakit perut), (c) menurunnya

kualitas air tanah dangkal, (d) Kualitas lingkungan menjadi menurun.

3) Tangki Septik

a. Konstruksi Rumah Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah permanen dari 29 rumah

tinggal setiap rumah memiliki Tangki Septik atau 100 % dengan kondisi

sangat baik.

b. Konstruksi Rumah Semi Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah permanen dari 13 rumah

tinggal, yakni 11 rumah atau 84,62 % memiliki tangki septik dan 2 rumah atau

15,78 % tidak memiliki tangki septik.

18
c. Konstruksi Rumah Temporer

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah semi permanen dari 13

rumah tinggal, yakni 3 rumah atau 16,67 % memiliki tangki septik sedangkan

15 rumah atau 83,33 tidak memiliki tangi septik di rumahnya.

Hasil penelitian ini tentunya masih banyak rumah yang tidak

memiliki sistem pembuangan tinja atau tangki septik dengan konstruksi

permanen tetapi masih ada yang menggunakan sistem cubluk. Hal ini tentunya

sejalan dengan yang dicantumkan dalam Departemen Kimpraswil (2003),

bahwa sistem pengolahan air limbah di Kota Kupang pada umumnya masih

menggunakan sistem setempat, dengan menggunakan tangki septik atau

cubluk meski belum tertata dengan baik bahkan pada umumnya belum

memiliki tangki septik. Berhubungan dengan ini, maka dalam rencana sistem

prasarana air limbah perlu dipertimbangkan bahwa air limba akan berkaitan

erat dengan penyakit yang akan ditimbulkan akibat penanganan yang kurang

baik.

4) Tempat Penampungan Sampah

a. Konstruksi Rumah Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah permanen dari 29 rumah

tinggal yakni, 18 rumah atau 62,07 % memiliki tempat penampungan sampah

dengan kondisi baik di rumahnya sedangkan 11 rumah atau 37.93 % tidak

memiliki tempat penampungan sampah.

b. Konstruksi Rumah Semi Permanen

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah permanen dari 13 rumah

tinggal yakni, 7 rumah atau 53,85 % memiliki tempat penampungan sampah

dengan kondisi baik di rumahnya sedangkan 6 rumah atau 46,15 % tidak

memiliki tempat penampungan sampah di rumahnya.

19
c. Konstruksi Rumah Temporer

Berdasarkan hasil penelitian pada rumah temporer dari 18 rumah

tinggal yakni, 6 rumah atau 33,33 % memiliki tempat penampungan sampah

dengan kondisi baik di rumahnya sedangkan rumah atau 66,07 % tidak

memiliki tempat penampungan sampah di rumahnya.

Dari hasil penelitian ini ditemukan masih banyak rumah yang tidak

memiliki tempat penampungan sampah. Dalam Conterius (1996), menyatakan

bahwa dampak yang ditimbulkan oleh sampah terhadap kualitas hidup dan

kualitas lingkungan dapat beraneka ragam. Dampak yang timbul diantaranya

adalah: gangguan kenyamanan, dan estetika, terjadi kerusakan lingkungan,

gangguan terhadap kesehatan manusia berupa penyakit, gangguan terhadap

genetik dan reproduksi manusia dan kerusakan ekosistem dalam skala besar.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai rumah permanen, semi

permanent dan temporer sebagaimana yang telah di uraikan di atas maka

dilakukan rekapitulasi evaluasi penilaian bardasarkan bobot tiap komponen

kelengkapan rumah.

A. Rumah Permanen

Tabel 4. 18. Perhitungan Skor Komponen Kelengkapan pada Rumah Permanen

Hasil Penelitian Bobot Nilai Akhir


No Variabel
% % %
a b c d (c x d) /100
1 Kelengkapan Ruang 34,48 25 8,62
2 Pencahayaan 72,30 20 14,46
3 Penghawaan (sirkulasi udara) 72,40 20 14,48
4 Ketinggian Plafond 62,07 10 6,21
5 Ketinggian Lantai 65,52 10 6,55
6 Sarana Pelengkap Rumah 64,66 15 9,70
Total 100 60,02
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

20
Dari hasil perhitungan skor komponen kelengkapan pada rumah

permanen sebagaimana ditunjukkan pada tabel diatas, yakni sudah mencapai 60,

02 % rumah yang memenuhi syarat penataan rumah sehat atau berada pada

kategori menengah. Hasil ini tentunya di pengaruhi oleh kondisi rumah permanen

yang memang merupakan bangunan rumah tinggal yang memiliki kelengkapan

konstruksinya secara baik, mulai dari pondasi hingga atap, dengan konstruksi

dindingnya merupakan tembok secara keseluruhan.

B. Rumah Semi Permanen

Tabel 4.19.Perhitungan Skor Komponen Kelengkapan pada rumah Semi


Permanen

Hasil Penelitian Bobot Nilai Akhir


No Variabel
% % %
a b c d (c x d) /100
1 Kelengkapan Ruang 7,69 25 1,92
2 Pencahayaan 69,20 20 13,84
3 Penghawaan (sirkulasi udara) 69,20 20 13,84
4 Ketinggian Plafond 46,85 10 4,69
5 Ketinggian Lantai 76,92 10 7,69
6 Sarana Pelengkap Rumah 65,39 15 9,81
Total 100 51,79
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil perhitungan skor komponen kelengkapan pada rumah semi

permanen sebagaimana ditunjukkan pada tabel diatas, yakni mencapai 51,79 %

rumah yang memenuhi syarat penataan rumah sehat atau berada pada kategori

jelek, karena rumah semi permanen merupakan bangunan rumah yang dari segi

kelengkapan konstruksi cukup baik, mulai dari pondasi hingga atap, dengan

konstruksi dinding hanya setengah tembok dan setengahnya menggunakan

papan/bebak.

21
C. Rumah Temporer

Tabel 4. 20. Perhitungan Skor Komponen Kelengkapan pada Rumah Temporer

Hasil Penelitian Bobot Nilai Akhir


No Variabel
% % %
a b c d (c x d) /100
1 Kelengkapan Ruang 0,00 25 0,00
2 Pencahayaan 0,00 20 0,00
3 Penghawaan (sirkulasi udara) 0,00 20 0,00
4 Ketinggian Plafond 22,22 10 2,22
5 Ketinggian Lantai 44,44 10 4,44
6 Sarana Pelengkap Rumah 19,45 15 2,92
Total 100 9,58
Sumber : Data Olahan Penulis (2009)

Dari hasil perhitungan skor komponen kelengkapan pada rumah

temporer sebagaimana ditunjukkan pada tabel diatas, yakni mencapai 9,58 %

rumah yang memenuhi syarat penataan rumah sehat atau berada pada kategori

sangat jelek, karena rumah-rumah temporer ini hanyalah bangunan-bangunan

yang secara konstruksi dari pondasi hingga atap tidak lengkap atau hanya bersifat

sementara.

22