Anda di halaman 1dari 6

ISSN: 2252-3979

http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/lenterabio

Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh 2,4-D (2,4-Dichlorophenoxyacetic acid)


dan Kinetin (6-Furfurylaminopurine) untuk Pertumbuhan Tunas Eksplan
Pucuk Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba Miq. ex Roxb.)
secara In Vitro

Peni Kartikasari, M. Thamrin Hidayat, Evie Ratnasari


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya

ABSTRAK
Tanaman jabon (Anthocephalus cadamba Miq. ex Roxb.) merupakan salah satu jenis tanaman lokal Indonesia
yang berpotensi baik untuk dikembangkan dalam perbaikan hutan di samping itu tujuan lainnya adalah, seperti
penghijauan, reklamasi lahan bekas tambang. Produksi dan produktivitas tanaman jabon relatif rendah dikarenakan
sulit untuk mendapatkan bibit karena teknik budidaya yang dilakukan masih tradisional. Salah satu cara
perbanyakan yang sanggup memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam jumlah besar dan seragam
pertumbuhannya ialah dengan sistem kultur jaringan. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui kombinasi
konsentrasi 2,4-D dan kinetin yang paling optimal menghasilkan tunas eksplan pucuk jabon. Data dianalisis dengan
menggunakan anava satu arah untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan, jika terdapat perbedaan yang
nyata maka dilanjutkan dengan uji Jarak Ganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan MS+1.10-1
mg/L 2,4 D+3.10-1 mg/L kinetin mampu menginduksi tunas dalam waktu 2 hari dan rerata tinggi tunas yang
optimal sebesar 1,28 cm

Kata kunci: Jabon 2,4-D; kinetin; kultur jaringan

ABSTRACT

Jabon (Anthocephalus cadamba Miq. Ex Roxb.) is one of Indonesia local plants that could potentially be developed for
the improvement of the forest is in addition to the other purposes, such as reforestation, reclamation of mined lands. Production
and productivity is relatively low due Jabon hard to get the seeds for cultivation techniques are traditionally performed. One way
of propagation that can meet the demand of large amounts of seed and uniform growth is a tissue culture system. The purpose of
this study is to determine the combination of 2,4-D concentration and the optimal kinetin produced shoots shoots jabon explants.
Data were analyzed using one-way Anova to determine the effect of a given treatment, if there is a noticeable difference then will
proceed to test Dual Duncan distance. The results showed that the treatment was able to induce MS+1.10-1 mg/L 2,4 D+3.10-1
mg/L kinetin shoots in 2 days the best optimal shoots high by 1.28 cm.

Keywords: Jabon, 2.4-D; kinetin; tissue culture

PENDAHULUAN konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya


Di Indonesia, terdapat sekitar 4.000 jenis yang memiliki akar tunjang dan banyak sekali
pohon yang berpotensi untuk digunakan sebagai menyerap air. Berpotensi baik untuk
bahan bangunan. Akan tetapi, hingga saat ini, dikembangkan dalam pembangunan hutan
hanya sekitar 400 jenis atau 10% dari jumlah maupun untuk tujuan lainnya seperti
tersebut yang memiliki nilai ekonomi. sedangkan, penghijauan, reklamasi lahan bekas tambang dan
260 jenis lainnya digolongkan sebagai kayu pohon peneduh. (Mansur, 2011).
perdagangan. Jabon merupakan tanaman kayu Produksi dan produktivitas tanaman jabon
yang tumbuh liar di hutan. Tanaman jabon di relatif rendah dikarenakan bibit tanaman jabon
tahun 1970-an sangat terkenal namun karena tidak mudah dijumpai di kios penyediaan bibit
perkembangan eksploitasi hutan dan beralih dan pada penangkar bibit jumlahnya masih
fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun sangat terbatas, teknik budidaya yang dilakukan
menjadikan tanaman ini sulit ditemukan. Tanaman masih tradisional. Salah satu cara yang dilakukan
jabon merupakan tanaman yang dapat menjadi untuk mendapatkan bibit unggul ialah secara
76 LenteraBio Vol. 2 No. 1 Januari 2013:7580

generatif dengan menggunakan biji, tetapi metode kelompok yaitu auksin, giberelin, etilen, sitokinin
ini membutuhkan waktu yang lama. Untuk itu, dan asam absisat (ABA) (Wattimena, 1992).
salah satu cara perbanyakan yang sanggup Auksin adalah senyawa yang berpengaruh
memenuhi kebutuhan permintaan bibit dalam terhadap perkembangan sel, menaikkan tekanan
jumlah besar dan seragam pertumbuhannya ialah osmotik, meningkatkan sintesis protein,
dengan sistem kultur jaringan. meningkatkan permeabilitas sel terhadap air dan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara melenturkan atau melunakkan dinding sel yang
perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur diikuti menurunnya tekanan dinding sel sehingga
jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman air dapat masuk ke dalam sel yang disertai
dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti dengan kenaikan volume sel (Hendaryono, 1994).
daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian- Dalam penelitian ini auksin yang digunakan
bagian tersebut dalam media buatan secara adalah 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D), 2,4-D
aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur memiliki rumus molekul C8H6Cl2O3 (Hogan,
tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus 2011). 2,4-D merupakan golongan auksin sintesis
cahaya sehingga bagian tanaman dapat yang mempunyai sifat stabil, karena tidak mudah
beregenerasi menjadi tanaman lengkap. terurai oleh enzim-enzim yang dikeluarkan sel
Aplikasi kultur jaringan pada awalnya ialah atau pemanasan pada proses sterilisasi
untuk propagasi tanaman. Penggunaan kultur (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Sitokinin ialah
jaringan lebih berkembang lagi, yaitu untuk senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan
menghasilkan tanaman yang bebas penyakit, sel pada jaringan tanaman serta mengatur
koleksi plasma nutfah, memperbaiki sifat genetika pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sama
tanaman, produksi dan ekstraksi zat-zat kimia halnya dengan kinetin (6-furfurylaminopurine).
yang bermanfaat dari selsel yang dikulturkan Sitokinin berperan merangsang pertumbuhan sel
(George dan Sherrington, 1984). dalam jaringan yang disebut eksplan dan
Eksplan adalah bagian kecil jaringan atau merangsang pertumbuhan tunas daun
organ yang dikeluarkan atau dipisahkan dari (Wetherell,1982).
tanaman induk kemudian dikulturkan. Berhasil Di ujung batang terdapat meristem apikal
tidaknya pengkulturan eksplan tergantung pada bersama dengan daun-daun muda yang berada
faktor yang dimiliki oleh eksplan itu sendiri. didekatnya membentuk pucuk batang. Pucuk
Faktor-faktor itu meliputi ukuran, umur fisiologi, batang merupakan daerah titik tumbuh, dimana
sumber dan genotip eksplan (Hughes dalam pada daerah tersebut terjadi proses pembelahan
Katuuk, 1989). sel yang menambah jumlah sel sehingga
Bagian tanaman jabon yang akan dijadikan menyebabkan batang tumbuh lebih tinggi.
sebagai sumber eksplan ialah bagian pucuk dari Setelah eksplan dikulturkan, kemungkinan
tanaman jabon, karena keberadaan pucuk dapat terjadi adanya respon pertumbuhan dan
tanaman jabon lebih melimpah dan juga tidak organogenesis. Respon organogenesis eksplan
merusak tanaman karena pucuk yang diambil secara in vitro terjadi dengan dua cara yang
dari tanaman jabon dapat tumbuh kembali. Pucuk berbeda yaitu secara langsung dan tidak
tanaman jabon merupakan bagian tanaman yang langsung. Organogenesis eksplan secara langsung
bersifat meristematik karena sel-selnya masih ditunjukkan dengan munculnya organ secara
aktif membelah dan mempunyai daya regenerasi langsung dari potongan tanaman utuh tanpa
yang tinggi. melalui terbentuknya kalus. Bentukan-bentukan
Keberhasilan teknik kultur jaringan sangat ini muncul secara teratur bisa berupa tunas dan
ditentukan pada pemilihan media yang tepat akar dalam kultur jaringan proses morfogenesis
(mengandung unsur hara makro dan mikro, atau organogenesis tergantung pada tiga hal,
vitamin, asam amino, sukrosa dan zat pengatur yaitu inokulasi, media, dan lingkungan.
tumbuh), kondisi yang aseptik, dan faktor Pembentukan tunas dan akar umunya bergantung
lingkungan. Zat pengatur tumbuh merupakan pada rasio sitokinin atau auksin pada nutrisi
salah satu faktor terpenting dalam keberhasilan media (Skoog dan Miller dalam Anggraeni, 2008).
pertumbuhan tanaman yang dikulturkan. Zat Berdasarkan penjelasan di atas, maka
pengatur tumbuh tanaman dapat dibedakan dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh zat
menjadi zat pengatur tumbuh endogen dan pengatur tumbuh 2,4-d (2,4-dichlorophenoxyacetic
eksogen. Zat pengatur tumbuh endogen disebut acid) dan kinetin (6-furfurylaminopurine) untuk
fitohormon, sedangkan zat pengatur tumbuh pertumbuhan tunas eksplan pucuk tanaman jabon
eksogen disebut zat pengatur tumbuh sintetik. Zat (anthocephalus cadamba miq. ex roxb.) secara in
pengatur tumbuh dalam tanaman terdiri dari 5 vitro.
Kartikasari dkk.: Pengaruh zat pengatur tumbuh 77

dalam waktu tiga hari tidak terjadi kontaminasi,


BAHAN DAN METODE maka media siap digunakan. Media di sterilkan
Jenis penelitian ini merupakan penelitian dengan autoklaf dan apabila dalam waktu tiga
eksperimen. Alat yang digunakan dalam hari tidak terjadi kontaminasi, maka media siap
penelitian ini ialah botol media, neraca digital, digunakan.
kertas label, tissue, beaker glass, gelas ukur, Inokulasi eksplan diawali dengan sterilisasi
spatula, spuit, pipet, pinset, scalpel, pembakar ruangan dan laminar air flow, dilakukan dengan
spirtus, panci, pengaduk kayu, kompor, pH- menyalakan lampu UV selama kurang lebih 2 jam
meter, tabung reaksi, handsprayer, cawan petri, yang sebelumnya sudah dilap dengan alkohol
autoklaf, oven sterilisasi, stirer dan laminar air 95%. Pengambilan tanaman jabon sebagai eksplan
flow. Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan gunting
antara lain, eksplan batang tanaman jati, media tanaman. Mula-mula eksplan dicuci dengan
MS yang berupa larutan stok media, vitamin, menggunakan fungisida, setelah itu eksplan
gula, akuades, alkohol 96% dan 70%, agar bubuk, dicuci dengan menggunakan sabun cair
KOH 1 M dan HCl 1 M. kemudian dibilas dengan air mengalir sampai
Pada penelitian ini terdapat 5 kombinasi tidak ada busa yang tertinggal pada eksplan.
konsentrasi (perlakuan), yaitu A (MS+ 0.10-1 Kemudian eksplan yang telah dicuci bersih
mg/L 2,4 D+4.10-1 mg/L kinetin), B (MS+1.10-1 dipindahkan pada botol lain yang sudah bersih.
mg/L 2,4 D+3.10-1 mg/L kinetin), C (MS+2.10-1 Sterililasi eksplan juga dilakukan di dalam laminar
mg/L 2,4 D+ 2.10-1 mg/L kinetin), D (MS+3.10-1 air flow cabinet dengan menggunakan alkohol 70%,
mg/L 2,4 D+1.10-1 mg/L kinetin) dan E (MS+4.10- akuades dan larutan tween. Eksplan yang telah
1 mg/L 2,4 D +0.10-1 mg/L kinetin) dengan 5 kali disterilisasi tersebut siap ditanam dan
pengulangan. dimasukkan dalam botol yang berisi media secara
Penelitian diawali dengan persiapan alat dan tegak lurus, tiap botol diisi satu eksplan. Langkah
bahan dengan melakukan sterilisasi. Sterilisasi selanjutnya, menutup mulut botol dengan plastik
alat menggunakan oven dengan suhu 80oC selama PP secara aseptik dengan melewatkan pada api.
60 menit. Media diautoklaf pada tekanan 1,4 Eksplan diletakkan pada tempat penyimpanan
kg/cm2 dan suhu 1210C selama 20 menit. kultur (ruang inkubasi) yang keadaannya sudah
Laminar air flow cabinnet (LAFC) yang akan diatur pada suhu (250C) dan cahaya ruang
digunakan untuk inokulasi eksplan disemprot dengan menggunakan pencahayan lampu TL.
dan diusap dengan alkohol 95%. Pengamatan hasil penelitian dilakukan
Pembuatan media MS diawali dengan dengan pengamatan tinggi tunas. Pengamatan
Memasukkan akuades sebanyak 200ml kedalam waktu induksi dilakukan setiap hari, setelah
beaker glass kemudian menambahkan larutan stok inokulasi sampai semua eksplan menghasilkan
media A, B dan C masing-masing 15ml. tinggi tunas selama 60 hari. Pengamatan tinggi
Menambahkan vitamin 15ml. menambah gula tunas dilakukan pada pengamatan hari ke-60
sebanyak 45 g sambil diaduk sampai larut. setelah dilakukan inokulasi. Data yang diperoleh
Tambahkan akuades sedikit demi sedikit sambil dari pengukuran tinggi tunas, dianalisis dengan
diaduk. Homogenkan semua larutan. Diukur pH menggunakan analisis varian (Anava satu arah)
larutan. Jika terlalu basa ditambahkan HCl 1M dan uji Jarak Ganda Duncan.
dan jika terlalu asam ditambahkan KOH 1M,
sehingga diperoleh pH sebesar 5,6-5,8. HASIL
Menambahkan akuades sampai volume 1,5l. Waktu induksi pertumbuhan tunas diamati
Memasukkan agar 10,5 g dan dihomogenkan. secara visual dengan mencatat atau menghitung
Kemudian didihkan di atas kompor. Setelah waktu pertumbuhan (hari). Penghitungan dimulai
mendidih, media diangkat dan dituangkan ke dari satu hari setelah dilakukan inokulasi sampai
dalam beakerglass. Bagi menjadi 5 bagian, A, B, C, terbentuk tunas pertama kali. Pengamatan
D dan E. Tambahkan 25 ml zat pengatur tumbuh dilakukan hingga 60 hari setelah inokulasi. Hasil
kombinasi 2,4-D dan Kinetin sesuai dengan pengamatan lama induksi tunas dapat dilihat
konsentrasi pada tiap perlakuan. Aduk kembali pada Tabel 1.
larutan sampai homogen. Media dimasukkan ke Hasil penelitian didapatkan, bahwa pada
dalam botol kultur yang telah disterilkan perlakuan A (MS+ 0.10-1 mg/L 2,4-D+4.10-1 mg/L
sebelumnya dan dilakukan penutupan dengan kinetin), rerata pembentukan tunas dalam 4 hari.
plastik PP. Media disterilkan dengan autoklaf Perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L 2,4-D+3.10-1 mg/L
selama 20 menit dengan temperatur sekitar 121c kinetin) terbentuk tunas dalam 2 hari. Perlakuan
dan pada tekanan sekitar 1 atm, dan apabila C (MS+2.10-1 mg/L 2,4-D+ 2.10-1 mg/L kinetin)
78 LenteraBio Vol. 2 No. 1 Januari 2013:7580

terbentuk tunas dalam 4 hari. Perlakuan D Pengukuran tinggi tunas dari pangkal tunas
(MS+3.10-1 mg/L 2,4-D+1.10-1 mg/L kinetin) setelah 60 hari inokulasi yang diukur dengan
terbentuk tunas dalam 6 hari, dan perlakuan E menggunakan penggaris melalui luar botol. Hasil
(MS+4.10-1 mg/L 2,4-D+0.10-1 mg/L kinetin) pengukuran tinggi tunas dapat dilihat pada Tabel
terbentuk tunas dalam 9 hari. Perlakuan kontrol 2.
rerata pembentukan tunas dalam 11 hari. Induksi
tercepat pada perlakuan ini terjadi pada hari Tabel 2. Rerata Tinggi Tunas Pucuk Tanaman Jabon (A.
kedua yaitu pada perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L cadamba) pada Berbagai Kombinasi Konsentrasi 2,4-D
2,4-D+3.10-1 mg/L kinetin) setelah inokulasi. dan Kinetin beserta notasi hasil Uji Jarak Ganda
Duncan Secara In-vitro
Tabel 1. Waktu Induksi Tunas (hari) Eksplan Pucuk
Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba Miq. ex Roxb.) Perlakuan Rerata tinggi tunas perlakuan (cm)
pada Berbagai Kombinasi Konsentrasi 2,4-D dan Kontrol 0,06 a
Kinetin Secara In-vitro. A 0,58 bc
Perlakuan Rerata waktu induksi (hari) B 1,28 d
Kontrol 11 hari C 0,64 c
A 4 hari D 0,36 abc
B 2 hari E 0,14 ab
C 4 hari
D 6 hari
E 9 hari

Tabel 3. Uji Parametrik Anava Satu Arah

Tinggi
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 4.883 5 .977 9.141 .000
Within Groups 2.564 24 .107
Total 7.447 29

Berdasarkan Tabel 2 perlakuan B (MS+1.10-1 tunas jabon, sehingga dilanjutkan dengan


mg/L 2,4 D+3.10-1 mg/L kinetin) mempunyai pengujian jarak ganda Duncan.
nilai rerata tinggi tunas paling besar, yaitu sebesar
1,28 cm, diikuti oleh perlakuan C (MS+2.10-1 PEMBAHASAN
mg/L 2,4 D+ 2.10-1 mg/L kinetin) sebesar 0,64 Dari hasil analisis data menunjukkan,
cm, perlakuan A (MS+ 0.10-1 mg/L 2,4 D+4.10-1 terdapat pengaruh berbagai kombinasi
mg/L kinetin) sebesar 0,58 cm, perlakuan D konsentrasi 2,4-D (2,4-Dichlorophenoxyacetic acid)
(MS+3.10-1 mg/L 2,4 D+1.10-1 mg/L kinetin) dan kinetin (6-Furfurylaminopurine) terhadap
sebesar 0,36 cm dan perlakuan E (MS+4.10-1 mg/L induksi dan pertumbuhan eksplan pucuk jabon
2,4- D+0.10-1 mg/L kinetin) sebesar 0,14 cm (A. cadamba) dan kombinasi konsentrasi 2,4-D dan
sedangkan perlakuan kontrol sebesar 0,06 cm. kinetin yang paling optimal menghasilkan tunas
Data tinggi tunas tanaman jabon pada Tabel eksplan pucuk jabon yaitu pada perlakuan B
2 telah dilakukan analisis uji parametrik Anava (MS+1.10-1 mg/L 2,4-D+3.10-1 mg/L kinetin).
Satu Arah dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Pada penelitian ini didapatkan beberapa data
Ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan tentang waktu induksi (hari) pertumbuhan tunas
setiap perlakuan yang diberikan. Hasil analisis uji (Tabel 1) dan tinggi tunas (Tabel 2) dari eksplan
parametrik Anava satu arah dari tinggi tunas pucuk tanaman jabon. Pemberian kombinasi
pucuk tanaman jabon pada masing-masing perlakuan zat pengatur tumbuh pada media MS
perlakuan seperti ditunjukkan pada Tabel 3. memberikan hasil yang baik karena adanya kerja
Berdasarkan hasil uji parametrik Anava satu sama, antara auksin dan sitokinin dalam
arah pada tabel 3. diperoleh F Hitung = 9,141 dan menginduksi tunas, hal ini seperti pernyataan
nilai signifikasi = 0. Dengan nilai signifikasi =0 < Werner (2009) eksplan yang diinokulasikan pada
= 0,05 menunjukkan terdapat beda nyata medium dengan kombinasi auksin dan sitokinin
(signifikan) di antara perlakuan terhadap tinggi mampu menginduksi tunas. Terbentuknya tunas
Kartikasari dkk.: Pengaruh zat pengatur tumbuh 79

pada perlakuan merupakan bukti, bahwa sel-sel dalam jaringan yang dibuat eksplan dan
mampu merespon zat pengatur tumbuh 2,4-D dan merangsang pertumbuhan tunas daun.
kinetin yang diberikan secara kombinasi. Berdasarkan Tabel 2 didapatkan hasil tinggi
Perbedaan waktu induksi tunas dapat terjadi tunas yang diukur pada masing-masing
dikarenakan adanya perbedaan kombinasi zat perlakuan. Rerata tinggi tunas yang terbesar
pengatur tumbuh yang diberikan. Hariyanti et al. terdapat pada perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L 2,4
(2004) menyebutkan bahwa penambahan sitokinin D+3.10-1 mg/L kinetin), diikuti oleh tinggi tunas
dalam konsentrasi yang tinggi memberikan pada perlakuan C (MS+2.10-1 mg/L 2,4 D+ 2.10-1
pengaruh yang baik terhadap pembentukan tunas mg/L kinetin), A (MS+ 0.10-1 mg/L 2,4 D+4.10-1
dan menghasilkan jumlah tunas terbanyak. Pada mg/L kinetin), D (MS+3.10-1 mg/L 2,4 D+1.10-1
perlakuan kontrol induksi tunas terjadi lebih lama mg/L kinetin), E (MS+4.10-1 mg/L 2,4 D +0.10-1
dibandingkan dengan perlakuan A (MS+ 0.10-1 mg/L kinetin) dan kontrol. berdasarkan uji
mg/L 2,4-D+4.10-1 mg/L kinetin), B (MS+1.10-1 parametrik satu arah (Tabel 3) didapatkan bahwa
mg/L 2,4-D+3.10-1 mg/L kinetin), C (MS+2.10-1 terdapat perbedaan yang nyata, dengan F hitung =
mg/L 2,4-D+ 2.10-1 mg/L kinetin), D (MS+3.10-1 9,141 dan nilai signifikasi = 0 < =0,05 diantara
mg/L 2,4-D+1.10-1 mg/L kinetin) dan E (MS+4.10- perlakuan terhadap tinggi tunas jabon.
1 mg/L 2,4-D +0.10-1 mg/L kinetin), hal ini Hasil pengujian Jarak Ganda Duncan
dikarenakan pada perlakuan kontrol media MS diperoleh bahwa perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L
tidak terdapat penambahan zat pengatur tumbuh 2,4 D+3.10-1 mg/L kinetin) berbeda nyata dengan
2,4-D dan kinetin, sehingga eksplan hanya A (MS+ 0.10-1 mg/L 2,4 D+4.10-1 mg/L kinetin), C
menggunakan hormon endogen yang dikandung (MS+2.10-1 mg/L 2,4 D+ 2.10-1 mg/L kinetin), D
eksplan atau tumbuhan itu sendiri. Pada (MS+3.10-1 mg/L 2,4 D+1.10-1 mg/L kinetin), E
perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L 2,4-D+3.10-1 mg/L (MS+4.10-1 mg/L 2,4 D +0.10-1 mg/L kinetin) dan
kinetin) konsentrasi 2,4-D yang lebih rendah kontrol. Hal tersebut dapat terjadi karena terdapat
dibandingkan dengan konsentrasi kinetin pengaruh dari penambahan zat pengatur tumbuh
mendorong terjadinya induksi tunas secara dengan konsentrasi 2,4-D yang lebih rendah
optimal, hal ini sesuai dengan Wattimena et al. dibandingkan dengan konsentrasi kinetin yang
(1992) menyatakan proliferasi tunas aksilar hanya lebih tinggi. Kandungan sitokinin dalam sel yang
memerlukan sitokinin dalam konsentrasi yang lebih tinggi daripada auksin akan memacu sel
tinggi tanpa auksin atau auksin dalam konsentrasi untuk membelah secara cepat dan berkembang
rendah sekali. Eksplan pucuk jabon merespon menjadi tunas. Wetherell (1982), menyebutkan
kombinasi tersebut dengan membentuk tunas bahwa sitokinin mempunyai dua peranan penting
dengan kecepatan tumbuh yang paling cepat (2 untuk propagasi secara in-vitro yaitu merupakan
hari setelah inokulasi). perangsang pembelahan sel dalam jaringan dan
Secara morfologi, tunas dapat diamati pada merangsang pertumbuhan tunas daun.
tinggi. Berdasarkan Tabel 2, diperoleh data rerata Perbandingan antara auksin dan sitokinin yang
tinggi tunas dari masing-masing perlakuan. tepat akan meningkatkan pembelahan sel dan
Tinggi tunas diamati dengan tujuan mengetahui diferensiasi sel.
perkembangan massa sel (tunas) hingga akhir Respons yang berbeda tersebut dipengaruhi
penelitian. Respon organogenesis eksplan secara oleh konsentrasi zat pengatur tumbuh yang
in vitro terjadi dengan dua cara yang berbeda diberikan. Perbedaan ini diduga tidak hanya
yaitu secara langsung dan tidak langsung. dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh yang
Organogenesis eksplan secara langsung diberikan pada media kultur saja, melainkan juga
ditunjukkan dengan munculnya organ secara dipengaruhi oleh kadar hormon endogen pada
langsung dari potongan tumbuhan utuh tanpa eksplan. Kadar hormon endogen yang berbeda
melalui terbentuknya kalus (George, 1993). Tunas pada setiap eksplan akan memengaruhi respons
merupakan ranting muda yang baru tumbuh atau suatu eksplan terhadap pemberian zat pengatur
calon tanaman baru yang tumbuh dari bagian tumbuh, meskipun eksplan tersebut ditanam
tanaman (Rahardja dan Wiryanta, 2003). Sitokinin dalam media kultur yang sama. Abidin (1990)
diyakini memegang peranan utama dalam menyatakan zat pengatur tumbuh pada
mengatur perkembangan tunas (Goldsworthy dan konsentrasi tertentu mampu menghambat kerja
Fisher, 1996). Wetherell (1982), juga hormon endogen dan dapat mengganggu
menyebutkan bahwa sitokinin mempunyai dua pertumbuhan dan perkembangan sel.
peranan penting untuk propagasi secara in- vitro Berdasarkan pengamatan selama 60 hari
yaitu merupakan perangsang pembelahan sel penelitian didapatkan semua perlakuan
kombinasi zat pengatur tumbuh 2,4-D dan kinetin
80 LenteraBio Vol. 2 No. 1 Januari 2013:7580

yang ditambahkan ke dalam media Murashige Directory of Commercial Laboratories. Inggris:


dan Skoog (MS) mampu menginduksi tunas. Exegetics Limited.
Kombinasi ZPT yang dapat membentuk tunas Goldsworthy, P. R. and N. M. Fisher, 1996. Fisiologi
tercepat pada perlakuan B (MS+1.10-1 mg/L 2,4- Tanaman Budidaya Tropik. UGM Press.
D+3.10-1 mg/L kinetin), dengan rerata tinggi Yogyakarta.
tunas pucuk jabon sebesar 1,28 cm. Hendaryono, D.P.S. dan A. Wijayani, 1994. Teknik
Kultur jaringan Perbanyakan dan Petunjuk
SIMPULAN Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif. Yogyakarta:
Kombinasi konsentrasi 2,4-D dan Kinetin Kasinus.
yang dapat membentuk tunas secara optimal Katuuk JRP, 1989. Teknik Kultur Jaringan dalam
Mikropropagasi Tanaman. Jakarta : Departemen
(tercepat) pada media MS adalah pada perlakuan
Pendidikan dan Kebudayaan.
B dengan waktu induksi 2 hari dan rerata tinggi
Mansur, I. dan F.D. Tuheteru, 2010. Kayu Jabon. Depok:
tunas yaitu 1,28 cm,
Penebar Swadaya.
Rahardja, P. C dan W. Wiryanta, 2003. Aneka Cara
DAFTAR PUSTAKA
Memperbanyak Tanaman. Agromedia Pustaka:
Abidin A, 1990. Dasar-dasar Pengetahuan tentang Zat
Jakarta.
Pengatur Tumbuh. Bandung : Penerbit Angkasa.
Wattimena, G.A., L.W, Gunawan, N.A. Mattjik, E.
Anggraeni, F, 2009. Penambahan Zat Pengatur Tumbuh
Syamsudin, N.M.A. Wiendi dan A. Ernawati.
-naphtaleneacetic acid (NAA) dan 6-
1992. Bioteknologi Tanaman. Bogor : Institut
benzylamino purine (BAP) Untuk Induksi dan
Pertanian Bogor Press.
Pertumbuhan Eksplan Batang Ubi Kayu (Manihot
Werner, T. dan T. Schmulling. 2009. Cytokinin Action in
esculenta Crantz) secara in vitro. Skripsi. Tidak
Plant Development. Current Opinion in Plant
dipublikasikan. Surabaya: Unesa-Biologi.
Biology 2009, 12 : 527-538
George, E.F, 1993. Plant Propagation by Tissue Culture,
Wetherell, D.F, 1982. Pengantar Propagasi Tanaman Secara
Part 1, 2nd Edition. Exegetic Limited : England.
In Vitro. Terjemahan dari: Introduction to In Vitro
George, E. F. dan P. D. Sherrington, 1984. Plant
Propagation. Penerjemah: Koesoemardiyah. IKIP
Propagation by Tissue Culture Handbook and
Semarang Press. Semarang