Anda di halaman 1dari 9

INVENTARISASI TUMBUHAN GULMA DI LAHAN PERTANIAN WORTEL

(Daucus carota L.) DESA SUMBER BRANTAS DI


KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU

Rika Minanda Yuliasari1, Eko Sri Sulasmi2 dan Sulisetijono3


1
Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang
2
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang
e-mail: 1ricaminanda80@yahoo.com

ABSTRAK: Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menghambat
pertumbuhan, perkembangan dan produktivitas tanaman karena dapat tumbuh lebih awal pada lahan
kering dibandingkan dengan lahan basah dan lebih cepat daripada tanaman budidaya semusim.
Inventarisasi merupakan kegiatan mengumpulkan data tentang jenis-jenis gulma yang ada di lahan
pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Inventarisasi bertujuan untuk
mengenalkan jenis-jenis gulma yang ada di daerah ini dalam ruang lingkup yang lebih luas.Pengambilan
sampel dilakukan pada bulan Februari – April 2016 di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas,
Kecamatan Bumiaji Kota Batu secara purporsive sampling yaitu dengan membuat 10 plot ukuran 1m x
1m. Identifikasi gulma dilakukan di laboratorium herbarium jurusan biologi FMIPA Universitas Negeri
Malang. Metode yang digunakan adalah metode kuadrat. Spesies gulma yang ditemukan di lahan
pertanian wortel sebanyak 13 spesies, meliputi Ageratum mexicanum L., Blumea hieracifolia (D. Don)
DC, Cyperus rotundus L., Eleusine indica L., Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake, Oxalis corniculata L.,
Oxalis intermedia A.Rich., Richardia brasiliensis Gomez, Rorippa indica (L.) Hiern, Salvia tiliaefolia
Vahl., Solanum nigrum L., Stellaria australis Zoll. dan Synedrella nodiflora L. Ke 13 spesies tergolong
dalam 12 marga dan 9 suku, meliputi Asteraceae, Poaceae, Caryophyllaceae, Cyperaceae, Lamiaceae,
Oxalidaceae, Brassicaceae, Rubiaceae dan Solanaceae. Ciri-ciri morfologi gulma di lahan pertanian
wortel umumnya berbatang herba dan percabangan simpodial; berakar tunggang; berdaun tunggal,
bertangkai, pertulangan daun sejajar; berbunga majemuk. Kelimpahan spesies gulma tertinggi di lahan
pertanian wortel Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji Kota Batu adalah Salvia tiliaefolia Vahl. (207
individu) dan Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake (170 individu).

Kata kunci : Inventarisasi, gulma, wortel

ABSTRACT: Weeds is one of plant pests (OPT), which inhibits the growth, development and
productivity of plants because it can grow up early on dry land compared to wetlands and faster than
annual crops. Inventory is an activity to collect data on the types of weeds in s in agricultural land carrot
Sumber Brantas, Bumiaji, Batu. Inventory aims to introduce the types of weeds that exist in this area
within the broader scope. Sampling was conducter in February – April 2016 on carrot farmland in the
village of Sumber Brantas, Bumiaji, Batu. Sampling using purposive sampling by creating 10 plots which
is 1 m x 1 m. Weed identification conducted in the laboratory of biology majors herbarium, State
University of Malang. The method used is the least squares’s method.Weeds species been found in
farmland carrots as many as 13 species, including Ageratum mexicanum L., Blumea hieracifolia (D. Don)
DC, Cyperus rotundus L., Eleusine indica L., Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake, Oxalis corniculata L.,
Oxalis intermedia A.Rich., Richardia brasiliensis Gomez, Rorippa indica (L.) Hiern, Salvia tiliaefolia
Vahl., Solanum nigrum L., Stellaria australis Zoll. dan Synedrella nodiflora L. 13 species belongs to 12
genus and 9 family, such is Asteraceae, Poaceae, Caryophyllaceae, Cyperaceae, Lamiaceae, Oxalidaceae,
Brassicaceae, Rubiaceae dan Solanaceae. Morphological characteristics of weeds on agricultural land
carrots generally herbaceous stems and branching simpodial, rooted stable, single leaf, stalks, parallel
leave’s bone, and compound interest. The highest abundance of weed species in farmland carrot Sumber
Brantas, Bumiaji, Batu is Salvia tiliaefolia Vahl. (207 individual) and Galinsoga ciliate (Raf) S.F. Blake
(170 individual).

Key-words: Inventory, Weeds, Carrots

1
2

Inventarisasi adalah kegiatan pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai sumber
daya alam untuk perencanaan pengelolaan sumberdaya tersebut. Kegiatan inventarisasi adalah
kegiatan untuk mengumpulkan data tentang jenis-jenis tumbuhan gulma yang ada di suatu daerah.
Kegiatan inventarisasi meliputi kegiatan eksplorasi dan identifikasi. kegiatan inventarisasi diharapkan
dapat mengungkapkan potensi dan informasi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
mengenalkan jenis-jenis tumbuhan gulma yang ada di daerah kawasan penelitian (Yuniarti, 2011).
Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) yang menghambat
pertumbuhan, perkembangan dan produktivitas tanaman karena dapat tumbuh lebih awal pada lahan
kering dibandingkan dengan lahan basah dan lebih cepat daripada tanaman budidaya semusim. Gulma
juga pesaing alami yang kuat bagi tanaman budidaya dikarenakan mampu memproduksi biji dalam
jumlah yang banyak, memiliki perkecambahannya cepat, pertumbuhan awalnya cepat dan kerapatan
tinggi (Ashton dan Monaco, 1991). Kehadiran gulma di suatu lahan pertanian secara umum
memberikan pengaruh negatif terhadap tanaman budidaya yaitu sebagai penghasil alelopati,
alelomediasi dan alelopoli. Gulma dikatakan penghasil alelopati karena dapat mengeluarkan bahan
kimia untuk menekan bahkan mematikan tumbuhan lain. Alelomediasi karena gulma merupakan
tempat tinggal bagi beberapa jenis hama tertentu atau gulma sebagai penghubung antara hama dengan
tanaman budidaya, sedangkan alelopoli, karena gulma selalu bersifat monopoli atas air, hara, CO2, O2
dan sinar matahari (Riry, 2008).
Wortel (Daucus carota L.) digolongkan sebagai tanaman semusim karena hanya berumur
kurang dari setahun, sekitar 70-120 hari tergantung pada varietasnya. Wortel yang berada di lokasi
penelitian memiliki masa umur panen mencapai 180 hari. Wortel merupakan jenis sayuran yang
ditanam sepanjang tahun pada semua musim. Wortel tumbuh di daerah pegunungan yang memiliki
suhu udara dingin dan lembab, kurang lebih pada ketinggian 1200 mdpl dan membutuhkan sinar
matahari yang cukup (Cahyono, 2002).
Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui spesies tumbuhan gulma di lahan pertanian wortel,
mengumpulkan data tentang spesies tumbuhan gulma yang ada di lahan pertanian dan sebagai acuan
untuk mengenalkan spesies tumbuhan gulma yang ada di daerah kawasan penelitian.

METODE
Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif eksploratif yaitu untuk
menggambarkan spesies gulma dan yang mendominasi di lahan pertanian wortel Desa Sumber
Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
kuadrat.
Penentuan plot secara purposive sampling dengan membuat 10 plot ukuran 1mx1m.
Pengambilan sampel dengan mengambil tumbuhan gulma yang ada di plot, difoto dan dihitung jenis
tumbuhan yang ada pada plot. Tumbuhan gulma pada plot diambil untuk dibuat herbarium. Analisis
data dilakukan dengan mengidentifikasi jenis tanaman wortel yang tercuplik dan ada di plot. Spesimen
gulma diidentifikasi dengan menggunakan buku Flora of Java Backer., C. A. & Bakhuizen van den
Brink., R. C., Vol. I-III (1963, 1965 & 1968).

HASIL PENELITIAN
1. Spesies Tumbuhan Gulma yang Terdapat di Lahan Pertanian Wortel Desa Sumber Brantas
Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Berdasarkan hasil identifikasi, tumbuhan gulma yang ditemukan disajikan dalam Tabel 1.
Ditemukan sebanyak 13 spesies yang tergolong dalam 12 marga dan 9 suku. Tumbuhan gulma suku
Asteraceae ditemukan 4 spesies.
3

Tabel 4.1 Spesies Tumbuhan Gulma di Lahan Pertanian Wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu

No Suku Marga Spesies


1. Asteraceae 1. Ageratum 1. Ageratum mexicanum L.
2. Galinsoga 2. Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake
3. Blumea 3. Blumea hieracifolia (D. Don) D.C
4. Synedrella 4. Synedrella nodiflora L.

2. Poaceae 5. Eleusine 5. Eleusine indica L.


3. Caryophyllaceae 6. Stellaria 6. Stellaria australis Zoll.
4. Cyperaceae 7. Cyperus 7. Cyperus rotundus L.
5. Lamiaceae 8. Salvia 8. Salvia tiliaefolia Vahl.
6. Oxalidaceae 9. Oxalis 9. Oxalis corniculata L.
10. Oxalis intermedia A.Rich.
7. Brassicaceae 10.Rorippa 11. Rorippa indica (L.) Hiern
8. Rubiaceae 11. Richardia 12. Richardia brasiliensis Gomez
9. Solanaceae 12. Solanum 13. Solanum nigrum L.

2. Ciri-Ciri Morfologi Tumbuhan Gulma yang Terdapat di Lahan Pertanian Wortel Desa
Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Ciri-Ciri morfologi tumbuhan gulma yang terdapat di lahan pertanian wortel di Desa Sumber
Brantas Bumiaji Kota Batu adalah sebagai berikut.

a. Ageratum mexicanum L.
Nama daerah : Wedusan ; Akar: tunggang; Batang: tumbuh tegak, tingginya sekitar 32 cm,
berbentuk bulat, bercabang, permukaan batang berambut, percabangan simpodial; Daun: tunggal,
letaknya saling berhadapan, panjang tangkai 2,5-5 cm, bertangkai, helaian daun bulat telur dengan
pangkal membulat, permukaan daun berambut, ujungnya runcing, tepi bergerigi, pertulangan menjari;
Bunga: bunga Cawan, bentuk malai rata yaitu ibu tangkai, mengadakan percabangan dengan panjang
6-8 mm, tangkai bunga berambut, mahkota berbentuk tabung dengan warna putih atau ungu;
Persebaran: pada tempat terbuka tersebar merata pada areal tanaman wortel.

b. Blumea hieracifolia (D. Don) D.C.


Nama daerah : Sembung; Akar: tunggang; Batang: arah tumbuh tegak lurus dan bercabang,
permukaan batang berambut, percabangan pada batang simpodial, batang panjang; Daun: tunggal,
tersusun berbentuk spiral,panjang tangkai 1-1,5cm, panjang daun 2-3,5 cm dan lebar 1,5-2cm
permukaan daun licin, tepi daun beringgit, ujung daun membulat, pangkal daun membulat,
pertulangan menyirip; Bunga: majemuk, kepala sesil dengan panjang 3 mm, tangkai bunga berbulu,
panjang bunga ± 5 mm, kelopaknya lonjong halus, benang sari panjangnya ±5 mm yang berjumlah 5,
kepala sari bulat dengan ujungnya bercabang, mahkotanya berbentuk pita; Persebaran: semak dan
semusim dengan tinggi ± 75 cm, hidup di tepi tanaman wortel.

c. Cyperus rotundus L.
Nama daerah : Rumput teki; Akar: serabut; Batang: arah tumbuh batang tegak dengan tinggi
25 cm, batangnya berbentuk segitiga, batang memiliki ruas-ruas yang panjang, percabangan
simpodial; Daun: tunggal, Daun berjejal pada pangkal batang membentuk roset akar dengan pelepah
daun tertutup tanah, panjang daun ± 30 cm, helaian daun bergaris, pertulangan daun sejajar, ujung
daun runcing, pangkal daun runcing, tepi daun rata; Bunga: bunganya berbentuk bulir majemuk
dengan 3-10 bulir kecil yang mempunyai 8-25 bunga; Persebaran: tempat tumbuh tanaman ini tumbuh
liar di tempat terbuka.
4

d. Eleusine indica L.
Nama daerah : Rumput belulang; Akar : serabut; Batang: tegak, pendek, bentuk batang bulat
dan beruas-ruas, permukaan batang berambut, pelepah menempel kuat, batangnya bercabang; Daun:
daun tunggal, daunnya duduk memeluk batang, pada pangkal helai daun berambut, ujungnya runcing,
tepi rata, pertulangan sejajar, permukaan daun berbulu halus; Bunga: majemuk, bentuk bulir yang
tersusun dari 5-12 bulir, panjang bulir 2,5-17 cm, panjang bunga 4-7 mm, bunganya berwarna hijau,
kelopak tidak terlihat, biji-biji tersusun seperti tandan pada tangkai bunga; Persebaran: hidup pada
daerah yang basah, tumbuh pada areal tanaman wortel.

e. Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake


Nama daerah : Bribil; Akar: tunggang; Batang : arah tumbuh batang tegak, batangnya lunak
dan bulat, beruas-ruas, batangnya bercabang, berwarna hijau, percabangan simpodial; Daun:
tunggal,bertangkai, tangkai silindris, panjang daun 2,5-5,5 cm dan lebar 1,5-3,5 cm, helaian daun bulat
telur, berhadapan bersilang, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi bergerigi, permukaan
daun strigose, pertulangan daun menyirip; Bunga: majemuk cawan, berbentuk bulat, 4-5 bunga,
kelopak bentuk mangkok, benang sari berwarna kuning, mahkota terdiri dari lima daun mahkota;
Persebaran: tanaman ini tumbuh di sepanjang jalan setapak dan diantara tanaman wortel.

f. Oxalis corniculata L.
Nama daerah : Cacalincingan; Akar: tunggang; Batang : arah tumbuh batang tegak merayap
dengan panjang 0,1-1,4cm, percabangan simpodial, permukaan batang licin; Daun: tunggal, tangkai
daun panjang 1,5-10 cm, pada pangkalnya melebar menjadi pelepah dan anak daun berbentuk jantung
sungsang, ujung daun terbelah, tepi daun rata, permukaan daun licin; Bunga: dalam payung tunggal di
ketiak dengan 2-8 bunga, daun mahkota berwarna kuning dengan pangkal hijau, panjangnya 3-8 mm,
benang sari di depan mahkota daun lebih pendek, tangkai putik berambut; Persebaran :tempat
tumbuhnya tersebar merata pada areal tanaman wortel.

g. Oxalis intermedia A.Rich.


Nama daerah : Calingcing; Akar : tunggang; Batang: herba, arah tumbuh batang tegak lurus,
percabangan simpodial; Daun: tunggal, bertangkai, tangkai silindris, panjang daun 2,5-8,5 cm, bentuk
daun segitiga, bangun jantung sungsang, ujung daun terbelah, pangkal daun runcing, tepi daun rata,
permukaan daun licin; Bunga: bersimetri radial, mahkota berwarna ungu, letak benang sari duduk di
atas dasar bunga; Persebaran: tanaman ini tumbuh di jalan setapak tanaman budidaya.

h. Richardia brasiliensis Gomez


Nama daerah : Goletrak beuti; Akar: tunggang; Batang : tanaman berbatang herba dengan
tinggi ± 6 cm, percabangan simpodial, batangnya berambut; Daun: tunggal, bertangkai, panjang daun
1-1,5 cm, tangkai daun bulat, letak daun berhadapan, ujungnya runcing, pangkal daun bersatu dengan
stipula yang berbentuk mangkok, perrmukaan daun strigose, tepi daun rata; Bunga: involukrum,
mempunyai kelopak yang berambut dengan 4 sepal, mahkota berbentuk tabung berwarna putih, serta
memiliki benang sari dan putik yang bercabang; Persebaran: tumbuh di tempat terbuka yang
memperoleh penyinaran yang cukup, tersebar di sekitar tanaman wortel.

i. Rorippa indica (L.) Hiern


Nama daerah : Sawi lemah; Akar: tunggang; Batang: arah tumbuh batang tegak, batangnya
lunak dan bulat, permukaan batang licin, percabangan simpodial; Daun: tunggal, bentuk bulat telur,
ujung daun tumpul, pangkal daun runcing, pertulangan daun menyirip, tepi daun bergerigi, permukaan
daun licin; Bunga: tunggal, bentuk bulir, benang sari berwarna kuning, tangkai putik hijau, kepala
putik hijau, mahkota berbentuk corong dan berwarna kuning; Persebaran: tumbuhan ini tumbuh
diantara tanaman wortel.
5

j. Salvia tiliaefolia Vahl.


Nama daerah : Sage; Akar: tunggang; Batang: arah tumbuh batang tegak, batangnya berkayu,
percabangan simpodial; Daun: tunggal, bangun daun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun
membulat, tepi daun bergerigi, permukaan daun berbulu halus dan rapat; Bunga: majemuk, mahkota
bunga berwarna ungu; Persebaran: tumbuhan ini hidup di tengah tanaman wortel.

k. Solanum nigrum L.
Nama daerah : Ranti; Akar: tunggang; Batang: arah tumbuh batang tegak, batang berbentuk
bulat, percabangan simpodial, batangnya bercabang; Daun: tunggal, bertangkai, tangkai silinder,
panjang daun 3-5 cm, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, permukaan daun berbulu halus,
tepi daun bergigi, pertulangan daun menyirip; Bunga: majemuk dengan mahkota kecil berwarna putih,
benang sari berwarna kehijauan, tangkai bunga berbulu; Persebaran: tanaman ini hidup dengan tinggi
± 1,5 m, diantara tanaman wortel.

l. Stellaria australis Zoll.


Nama daerah : Selaton; Akar: serabut; Batang: arah tumbuh batang tegak, percabangan batang
simpodial, bentuk batangnya sering menyebar ke segala arah; Daun: daun tunggal, panjang daun 3-8
cm, bentuk daun bulat telur, ujung daun meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun rata, permukaan
daun strigose; Bunga: memiliki panjang sepal 3,5 – 5 mm, panjang petalnya 1¾-3 mm, benang sarinya
ada 5, beberapa bunganya bertangkai; Persebaran: tempat tumbuh tanaman ini di pinggir jalan areal
tanaman wortel.

m. Synedrella nodiflora L.
Nama daerah : Legetan; Akar: tunggang; Batang: arah tumbuh batang tegak, batangnya
berkayu, percabangan batang simpodial, bentuk batang silinder dan memiliki bulu-bulu halus; Daun:
daun tunggal, bertangkai, berhadapan bersilang membentuk 90º,tangkai daun silindris, panjang daun
1,5-2 cm, helaian daun bundar telur, ujung daun meruncing, pangkal daun runcing, tepi daun bergerigi,
permukaan daun strigose; Bunga: majemuk, di nodus cawannya berbentuk lonceng, bunga terdapat
pada ketiak daun dengan daun yang tersusun 2-7 bunga atau lebih, involukrum; Persebaran: tempat
tumbuh tanaman ini diantara tanaman wortel.

3. Kelimpahan Spesies Gulma di Lahan Pertanian Wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu

Kelimpahan spesies gulma di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu, disajikan dalam Tabel 2. Kelimpahan gulma tertinggi ditemukan pada spesies
Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake (170 individu) dari suku Asteraceae dan spesies Salvia tiliaefolia
Vahl. (207 individu) dari suku Lamiaceae.
6

Tabel 2. Kelimpahan Spesies Gulma di Lahan Pertanian Wortel Desa Sumber Brantas
Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Plot
No Spesies ∑
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1. Ageratum mexicanum L. 14 23 9 - 6 10 10 - - 13 85
Blumea hieracifolia (D.
2. 1 6 - - 13 21 21 16 23 15 116
Don) D.C.
3. Cyperus rotundus L. 9 12 12 - 17 6 4 - 9 - 69
4. Eleusine indica L. 10 3 15 17 - 2 - 3 2 2 54
Galinsoga ciliata (Raf) S.F.
5. 32 12 20 16 25 11 7 19 22 6 170
Blake
6. Oxalis corniculata L. 22 25 11 7 15 - 11 22 17 - 130

7. Oxalis intermedia A.Rich. 4 - - 13 9 5 - 3 4 3 41


Richardia brasiliensis
8. - - 8 - 10 - - 6 2 1 27
Gomez
9. Rorippa indica (L.) Hiern - 7 12 - - 8 3 7 15 7 59
10. Salvia tiliaefolia Vahl. 35 26 19 9 28 30 20 14 10 16 207
11. Solanum nigrum L. 10 3 12 11 7 - 8 2 21 6 80
12. Stellaria australis Zoll. 2 - 9 11 15 20 10 3 7 5 82
13. Synedrella nodiflora L. 5 - 14 11 20 - 3 1 - 3 57
∑ Individu 159 117 146 95 182 134 117 105 132 79 1266

PEMBAHASAN
Tumbuhan gulma yang ditemukan di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu terdiri dari 9 suku yang terdiri dari 13 spesies. Kelimpahan gulma tertinggi yang
ditemukan di lahan pertanian wortel adalah Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake (170 individu) dari
suku Asteraceae dan Salvia tiliaefolia Vahl. (207 individu) dari suku Lamiaceae karena memiliki
pertumbuhan yang cepat jika dibandingkan dengan tumbuhan gulma yang lainnya dan kondisi lahan
pertanian wortel mendukung pertumbuhan kedua tumbuhan gulma tersebut. Kondisi penelitian hujan
dan tanahnya basah. Jumlah individu terbesar pada tumbuhan gulma ditemukan pada plot 5 yaitu
sebesar 182 sedangkan jumlah individu terkecil pada tumbuhan gulma ditemukan pada plot 10 yaitu
sebesar 79.
Keragaman gulma yang terdapat pada lahan pertanian wortel relatif sama. Spesies gulma ada
yang berdaun lebar yang ditemukan seperti wedusan (Ageratum mexicanum L.), bribil (Galinsoga
ciliata (Raf) S.F. Blake), ranti (Solanum nigrum L.) dan legetan (Synedrella nodiflora L.), sedangkan
spesies gulma rumput-rumputan antara lain Cyperus rotundus L. dan Eleusine indica L.
Spesies gulma pada lahan pertanian wortel di Wonosobo ditemukan 16 spesies sedangkan
penelitian di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu menemukan 13 spesies (Utami,
2009), meskipun penelitian sama-sama di lahan pertanian wortel tetapi macam dan varietas spesies
gulma yang ditemukan berbeda. Perbedaan speises gulma dikarenakan suhu pada lahan pertanian
wortel di Wonosobo antara 17-20ºC dan di Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu
antara 18- 21ºC mempengaruhi daya kompetisi dari gulma tersebut dan daya berkembang biaknya
7

besar baik secara generatif maupun vegetatif. Faktor lingkungan juga mempengaruhi pertumbuhan
gulma, di Wonosobo menggunakan sistem pertanian organik sedangkan di Desa Sumber Brantas
Kecamatan Bumiaji Kota Batu menggunakan sistem pertanian rotasi (bergilir). Keberadaan gulma di
Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu yang dibiarkan tumbuh pada tanaman budidaya
akan menurunkan hasil panen wortel karena berbagai faktor antara lain kemampuan tanaman budidaya
berkompetisi, jenis-jenis gulma, umur tanaman budidaya, umur gulma dan tanaman budidaya yang
berkompetisi dengan gulma.
Menurut Tjitrosoedirdjo,dkk (1984), dalam mengidentifikasi gulma dapat ditempuh satu atau
kombinasi dari sebagian atau seluruh cara-cara ini:
1. membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidentifikasi di herbarium.
2. konsultasi langsung, dengan para ahli di bidang yang bersangkutan.
3. mencari sendiri melalui kunci identifikasi.
4. membandingkannya dengan determinasi yang ada.
5. membandingkannya dengan ilustrasi yang tersedia.
Heyne (1987) dalam Kumolo, dkk (2011) menyatakan adaptasi dan daya kompetisi suku
Asteraceae lebih tinggi bila dibandingkan dengan spesies yang lain. Spesies tersebut tidak
membutuhkan syarat hidup yang begitu tinggi, cepat tumbuh lebat dan mampu memperbanyak diri
secara alami dengan mudah. Tumbuhan gulma Ageratum mexicanum L. adalah salah satu spesies yang
mampu hidup pada daerah yang kering maupun lembab, pada lahan yang lembab, tergolong ke dalam
tumbuhan terna semusim, tumbuh di tepi jalan, tanggul, dan sekitar saluran air dan hidup pada
ketinggian 1-2.100 m dpl (Dalimartha, 2006).
Tumbuhan gulma memiliki pertumbuhan yang cepat, memiliki daya saing yang kuat dalam
memperebutkan nutrisi, toleransi yang besar terhadap lingkungan yang ekstrim dan alat
perkembangbiakannya mudah tersebar baik melalui manusia, air, dan angin (Moenandir, 1993). Jenis
tumbuhan gulma yang berbeda di setiap lahan dikarenakan adanya perbedaan mikrolimat yang
meliputi suhu, keadaan air, intensitas cahaya, angin, landscape, dan waktu (musim kemarau atau
musim penghujan). Hal tersebut ditegaskan oleh Kurniawati (2008) tumbuhan gulma yang tumbuh
pada area yang memiliki kondisi tanah yang baik dan subur serta cocok dengan syarat hidup tumbuhan
gulma tersebut maka tumbuhan gulma tersebut akan tumbuh dengan subur.
Menurut Meilin (2006) spesies tumbuhan gulma yang tumbuh dan mendominasi suatu areal
tergantung dari lokasi dan iklim setempat. Vegetasi tumbuhan gulma yang tumbuh pada suatu daerah
akan berbeda-beda dengan daerah lainnya, walaupun tanaman budidaya yang sama. Sastroutomo
(1990) menyatakan bahwa tumbuhan gulma suku Asteraceae yakni Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake
juga mendominasi di lahan pertanian wortel karena suku Asteraceae ini dapat berkembang biak
melalui biji, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, misalnya sedikit air sampai
tempat basah dan tahan terhadap naungan. Kebutuhan akan cahaya, temperatur, air dan ruang tumbuh
terpenuhi sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tumbuhan gulma ini dapat berkembang cepat. Hal ini
sesuai dengan pendapat (Reader dan Buck dalam Darmadi dkk., 2011) yang menyatakan bahwa
tumbuhan gulma dari suku Asteraceae ini banyak ditemukan karena dapat berkembangbiak melalui
biji, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, misalnya sedikit air sampai tempat
basah dan tahan terhadap naungan.
Peranan gulma suku Asteraceae merupakan tumbuhan yang sangat berperan dalam kestabilan
ekosistem suatu kawasan, salah satunya dapat mencegah terjadinya erosi tanah pada suatu kawasan
(Utami, 2009). Anggota suku Asteraceae dapat tumbuh dengan baik di kawasan tropis yang memiliki
intensitas penyinaran matahari yang tinggi, karena sinar matahari merupakan sumber energi utama
dalam membantu proses fotosintesis yaitu proses pembentukan makanan bagi tumbuhan (Salisbury
dkk., 1995). Hasil penelitian menunjukkan suku Asteraceae di lahan pertanian wortel banyak
ditemukan di area terbuka dengan intensitas cahaya matahari sedang. Suku Asteraceae yang
ditemukan di lahan pertanian wortel rata-rata banyak hal ini karena terdapat beberapa spesies dari suku
Asteraceae yang dapat beradaptasi pada lingkungan terbuka seperti Galinsoga ciliata (Raf) S.F.
Blake, Ageratum mexicanum L., Blumea hieracifolia (D. Don) D.C. dan Synedrella nodiflora L.
8

KESIMPULAN
1. Tumbuhan gulma yang terdapat di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu meliputi 9 suku yakni Asteraceae, Brassicaceae, Caryophyllaceae,
Cypetaneae, Lamiaceae, Solanaceae, Oxalidaceae, Poaceae, Rubiaceae, yang terdiri dari 13
spesies antara lain Ageratum mexicanum L., Blumea hieracifolia (D. Don) D.C., Cyperus
rotundus L., Eleusine indica L., Galinsoga ciliata (Raf) S.F. Blake, Oxalis corniculata L., Oxalis
intermedia A.Rich., Richardia brasiliensis Gomez, Rorippa indica (L.) Hiern, Salvia tiliaefolia
Vahl., Solanum nigrum L., Stellaria australis Zoll. dan Synedrella nodiflora L.
2. Ciri-ciri morfologi tumbuhan gulma di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota Batu umumnya berakar tunggang; berbatang herba dan percabangan simpodial;
berdaun tunggal, bertangkai, pertulangan sejajar; berbunga majemuk.
3. Kelimpahan spesies gulma tertinggi di lahan pertanian wortel Desa Sumber Brantas Kecamatan
Bumiaji Kota batu yaitu spesies Salvia tiliaefolia Vahl. (207 individu) dan spesies Galinsoga
ciliata (Raf) S.F. Blake (170 individu).

SARAN
Perlu ditinjau lebih lanjut mengenai pemanfaatan gulma yang telah diidentifikasi pada lahan
pertanaman wortel. Selain dapat diketahui cara pengendaliannya juga mengetahui cara
pemanfaatannya.

DAFTAR RUJUKAN

Ashton, F.M. dan Monaco, F. J. 1991. Weed Science. Principle and Practice (3rd ed.). John Willey and
Sons, New York: Inc. New York.
Backer, C. A. & Bakhuizen Van Den Brink, R. C. 1963. Flora of Java (Spermatophytes only) Vol I.
Netherland. Wolters-Noordhoof. V.-Groningen.
Backer, C. A. & Bakhuizen Van Den Brink, R. C. 1965. Flora of Java (Spermatophytes only) Vol II.
Netherland. Wolters-Noordhoof. V.-Groningen.
Backer, C. A. & Bakhuizen Van Den Brink, R. C. 1968. Flora of Java (Spermatophytes only) Vol III.
Netherland. Wolters-Noordhoof. V.-Groningen.
Cahyono, B. 2002. Wortel Teknik Budi Daya Analisis Usaha Tani. Kanisius: Yogyakarta.
Chuah, S.T, Salmijah, S, Teng, Y.T & Ismail, B.S. 2004. Changes in Seed Bank Size and Dormancy
Characteristics of The Glyphosate-resistant Biotype of Goosegrass (Eleusine indica (L.)
Gaertn.). Weed Bilogy and Management 4(2): 114-
121(online)(https://www.researchgate.net/) ,diakses 26 April 2016
Dalimartha S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta : Puspa Swara.
Darmadi, K, Martin, A.A. J &Suryaningsih. 2011. Inventarisasi Gulma Pada Tanaman Jagung (Zea
mays L.) di Lahan Sawah Kelurahan Padang Galak, Denpasar Timur, Kodya Denpasar,
Provinsi Bali. Jurnal Simbiosis, 1(1): 1-8, diakses 14 Juni 2016.
Kumolo, Fredian B., dan Utami, Sri. 2011. Jenis-Jenis Tumbuhan Anggota Famili Asteraceae di Wana
Wisata Nglimut Gonoharjo Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Jurnal BIOMA Vol.13, No. 1
di Daerah Pagilaran Batang. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang: IKIP PGRI
Kurniawati, E. 2008. Perbedaan komposisi Komunitas Gulma pada Area Perkebunan Teh Rakyat
dengan Kanopi Terbuka dan Kanopi Tertutup di Daerah Pagilaran Batang. Skripsi tidak
diterbitkan. Semarang: IKIP PGRI Semarang.
Meilin, A. 2006. Studi Dominansi Dan Teknik Pengendalian Gulma Pada Perkebunan Karet (Studi
Kasus Di Desa Tunas Baru, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi
Jambi). Jambi: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi (BPTP).
Moenandir, J. 1990. Persaingan Tanaman Budidaya Dengan Gulma. Jakarta: Penerbit CV.
Rajawali.
Moenandir, J.1993. Ilmu Gulma Dalam Sistem Pertanian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Moenandir, J. 2010. Ilmu Gulma. Malang: Universitas Brawijaya Press.
Riry, J. 2008. Mengenal Gulma danPengelolaannya di Indonesia. Bogor : CV D’sainku Advertising.
9

Rosanti, D. 2013. Inventarisasi Gulma Pada Perkebunan Cokelat Desa Pajar Bulan Kabupaten Lahat
Provinsi Sumatera Selatan. (Online). (http://www.univpgri-palembang.ac.id), diakses 19
Juli 2016.
Salisbury, F.B. & Ross, C.W. 1995. Fisiologi tumbuhan. Jilid 1 Terjemahan Diah R. Lukman dan
Sumaryo. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Sastroutomo, S. S. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tjitrosoepomo, G. 2005b. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Tjitrosoedirdjo, S., Utomo, H. & Wiroatmodjo, J. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT
Gramedia. Jakarta.
Utami, S. 2009. Kemelimpahan Jenis Gulma Tanaman Wortel (Daucus carrota L.) pada Sistem
Pertanian Organik. Bioma 6 (2): 54-58. (Online) (eprints.undip.ac.id), diakses 22 Juni
2016.
Yuniarti, 2011. Invertarisasi dan Karakterisasi Morfologis Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr.)
di Kabupaten Tanah Datar. Jurnala Plasma Nutfah (1). (Online)
(repository.unand.ac.id/16791/1/Jurnal_Yuniarti), diakses tanggal 1 Agustus 2016.