Anda di halaman 1dari 7

ETNOBOTANI BEBERAPA SPESIES PADA SUKU FABACEAE

Nur Saidatuzzahroh (3425110107), Sheilla Angelina (noreg), Putri Octaviani (3425111421),


Rega Alfi () & Bagus Herda Saputra (noreg)
Abstrak
Fabacae merupakan salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan, Fabaceae dibagi
dalam tiga sub famili yaitu Papilionaceae, Caesalpiniaceae dan Mimosacese. Pembagian ketiga
sub famili ini berdasarkan bentuk bunganya. Pada sub famili Papilionaceae memiliki
karakteristik tumbuhan yang berbunga kupu-kupu (papilon = kupu-kupu). Keisitimewaan dari
suku ini adalah pada bagian akarnya yang bersimbiosis dengan sejenis bakteri yang dapat
menghisap nitrogen bebas dari udara. Bakteri ini adalah Rhizobium javanicum , Rhizobium
leguminoserum (rhizo=akar). Oleh karena itu, kelompok tumbuhan ini dikenal sebagai tanaman
pupuk hijau. Caesalpiniaceae memiliki karakteristik bunga seperti sayap pada burung merak
dengan bagian tengahnya yang disebut lunas. Spesies Bauhinia corymbosa dan Bauhinia sp.
bermanfaat sebagai tanaman hias pada pekarangan rumah karena memiliki bunga yang indah,
serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga dapat mensejahterakan masyarakat. Spesies
Senna didymobotrya daunnya digunakan untuk obat pencahar atau sembelit . Daun dari spesies
Calliandra haematocephala digunakan sebagai obat luka baru. Sedangkan pada Calliandra
calothyrsus dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia , sebagai pupuk hijau, tanaman pelindung
bagi kopi dan teh, untuk memperbaiki tanah dan menahan erosi. Spesies Arachis pintoi
bermanfaat untuk pengontrol erosi, pada usaha tani lahan kering yang berlereng, erosi terjadi
terutama pada periode awal pertumbuhan tanaman yang menyebabkan lahan terdegradasi dan
menurun produktivitasnya.
PENDAHULUAN
Kebun Raya Cibodas (Cibodas Botanical Garden) yang terletak di Kompleks Hutan
Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat merupakan salah satu suatu kawasan yang mengkoleksi
berbagai jenis tumbuhan. Letak kebun raya cibodas berada di kaki Gunung Gede dan Gunung
Pangrango pada ketinggian kurang lebih 1.300 1.425 meter di atas permukaan laut dengan
luas 84,99 hektar. Temperature rata-rata 20,06 C, kelembaban 80,82 % dan rata-rata curah
hujan 2.950 mm per tahun. Kawasan Kebun Raya Cibodas memiliki keberagaman flora yang
begitu banyak. Flora yang ada merupakan tumbuhan yang memiliki nilai ilmu pengetahuan dan
pengembangan serta ilmu pengetahuan di bidang konservasi. Ilmu pengetahuan dan
pengembangan perlu dilakukan pada flora yang ada di kawasan tersebut agar dapat
dibudidayakan dan bermanfaat bagi masyarakat.
Fabaceae disebut juga Leguminosae atau polong-polongan merupakan keluarga
terbesar ketiga setelah angiosperma Orchidaceae (anggrek) dan Asteraceae (aster, bunga
matahari). Sejumlah besar spesies dari Fabaceae dapat di panen sebagai tanaman untuk
konsumsi manusia dan hewan serta untuk minyak, serat, bahan bakar, pupuk, kayu, obat, bahan
kimia, dan varietas hortikultura (Lewis et al., 2005). Selain itu, beberapa spesies dipelajari
sebagai sistem model genetik dan genom (misalnya Pisum sativum, Medicago truncatula, dan
trefoil, Lotus corniculatus). Habitus dari Fabaceae bervariasi dari semak, pohon, tanaman
merambat/ liana, dan bahkan beberapa diantaranya akuatik. Ukurannya juga bervariasi.
Fabaceae termasuk tumbuhan yang dominan dan sering ditemukan dalam berbagai jenis
vegetasi, sebagian besar jenis vegetasi didistribusikan ke seluruh daerah beriklim sedang dan
tropis dunia (Rundel, 1989).
Fabaceae sangat beragam di hutan tropis dan subtropis. Speseies dari Fabaceae,
misalnya kacang-kacangan memiliki kemampuan untuk mengikat nitrogen dari udara, karena
pada akar tanaman kacang-kacangan terdapat bakteri yang disebut Rhizobium. Bakteri ini
bersimbiosis dengan bintil-bintil pada akar tanaman kacang-kacangan yang dapat mengikat

nitrogen dari udara sehingga dapat menyuburkan tanaman disekitarnya karena tanahnya
mengandung banyak unsur hara. Hal ini merupakan salah satu dari beberapa cara pada kacangkacangan untuk memperoleh nitrogen yang banyak untuk proses metabolismenya (McKey,
1994; Sprent, 2001).
Tumbuhan memiliki peranan penting dalam masyarakat. Berbagai macam kebutuhan
dapat diperoleh dari tumbuhan. Perkembangan dari ilmu dan pengetahuan serta teknologi
membuat pemanfaatan dan budidaya tumbuhan menjadi berkembang. Menurut Soekarman dan
Riswan (1992) istilah etnobotani sebenarnya sudah lama dikenal, etnobotani sebagai ilmu
mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suku-suku terkecil. Rifai dan
Waluyo (1992) mengemukakan bahwa etnobotani adalah mendalami hubungan budaya manusia
dengan alam nabati sekitarnya. Dalam hal ini diutamakan pada persepsi dan konsepsi budaya
kelompok masyarakat dalam mengatur
sistem pengetahuan tentang tumbuhan yang
dimanfaatkan di dalam masyarakat tersebut. Suatu bidang ilmu yang mempelajari hubungan
timbal balik secara menyeluruh antara masyarakat lokal dan alam lingkungannya meliputi
sistem pengetahuan tentang sumberdaya alam tumbuhan (purwanto,1999).

METODOLOGI
Pengamatan ini dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2012 di Kebun Raya Cibodas, Jawa
Barat. Pengamatan dilakukan mulai pukul 07.30 15.00 WIB. Alat yang digunakan antara lain :
alat tulis, kertas, papan jalan, panduan lapangan, dan kamera.Pengamatan dilakukan dengan
tracking ke kawasan Kebun Raya Cibodas dengan menggunakan panduan lapangan, kemudian
mencatat data dari tanaman yang ditemukan dan mengambil foto bagian-bagian tanaman.
Melalui panduan lapangan, dapat diketahui ciri umum Fabaceae, setelah itu melalui karakter
bunga yang telah diamati lau mengelompokkan tanaman pada ketiga sub-suku dari fabaceae.
Kemudian data yang didapat di identifikasi untuk mengetahui jenisnya.
HASIL
Gambar
Bauhinia corymbosa
Calsapinaceae

Deskripsi
Habitus : perdu
Daun : pangkal daun berbagi, bentuk daun seperti
kupu-kupu, daun muda berwarna hijau keunguan
atau merah, permukaan daun kasar, aksilar.
Batang : berbentuk persegi, berwarna merah dan
permukaannya halus.
Bunga : merupakan bunga zigomorf dan berwarna
ungu.
Buah : polong-polongan.

Bauhinia sp.
Calsapinaceae

Habitus : perdu
Daun : daun nya lebih panjang dari pada jenis
Buhinia corymbosa, daun mudanya memiliki
permukaan yang lebih licin dari pada daun yang
sudah tua, daun yang muda agak menutup
sedangkan yang tua daunnya membuka. Venasi
pada daun ada 5.
Batang : permukaannya berbulu, bentuknya bulat,
pada batang yang masih muda berwarna hijau
kemerahan sedangkan pada batang yang sudah tua
permukaanya sedikit lebih kasar.
Bunga : zygomorf dan berwarna putih keunguan.
Buah : polong-polongan.

Senna didymobotrya
Habitus : perdu
Daun : daunnya majemuk beranak daun genap,
ujung daun runcing, pangkal daunnya juga
runcing.
Batang : batang berbentuk bulat dan bekayu.
Bunga : bunganya berwarna kuning.
Buah : buahnya polong-polongan dan terdapat
sekat-sekat ruang di dalam buahnya, setiap sekat
teriri beberapa biji yang kecil-kecil berwarna
coklat kehitaman jika sudah tua.

Calliandra haematocephala
Mimosaceae

Habitus : perdu, Pohon, tinggi 6-8 m.


Daun : daunnya majemuk menyirip anak daun
bentuk lanset, ujung dan pangka! tumpul, tepi rata,
panjang 10-15 cm, lebar 1-3 cm, hijau.
Batang : batang yang muda berbentuk
kotak/persegi sedangkan batang yang sudah tua
berbentuk bulat. Tegak, berkayu, percabangan
simpodial, putih kotor.
Bunga : bunganya berwarna merah, Majemuk,
diujung cabang, bentuk bongkol, benangsari
banyak, daun mahkota lepas, benluk rambut,
panjang 11-16 cm
Buah : Polong, pipih, panjang 10-15 cm, lebar 1-2
cm, masih muda hijau setelah tua coklat.
Biji berjumlah 3-15, berbentuk elips dan pipih,
berukuran 5-7 mm, berwarna coklat kelam.

Akar Tunggang, kuning kecoklatan.

Caliandra calothyrsus

Semak atau pohon kecil, tinggi (1.5-)4-6(-12) m,


diameter batang dapat berukuran 30 cm, kulit
batang berwarna coklat kehitaman. Daun
majemuk menyirip ganda, berseling (alternate)
dengan jarak antar ruas (rachis) 10-17 cm.
Perbungaan terdiri dari sedikit atau banyak kepala
bunga, bunga berkelompok di bagian ujung
(terminal) membentuk rasemosa berukuran 10-30
cm. Tiap bunga menarik berwarna merah
keunguan berukuran 4-6 cm; daun kelopak
berukuran 2 mm; kelopak mahkota 5-6 mm;
benang sari banyak. Buah kering, panjang 8-11 cm
dan lebar 1 cm. Biji berjumlah 3-15, berbentuk
elips dan pipih, berukuran 5-7 mm, berwarna
coklat kelam.

Arachis pintoi

Habitus: herba rendah.


Daun: 2 pasang, berbulu halus, daging daun
seperti kertas. Ujung daun runcing, pangkal daun
tumpul.
Bunga:
perbungaan
terminal,
kelopaknya
berwarna kuning besar. Kacang hias ini umumnya
berbunga terusmenerus selama masa hidupnya,
dengan 4065 bunga/m2 setiap harinya. Setelah
terjadi penyerbukan, ovary (indung telur) pada
gynophore akan memanjang sampai 27 cm dan
masuk ke dalam tanah sampai kedalaman 7 cm
yang selanjutnya membentuk polong dan biji.
Buah: polong-polongan.
Biji: setiap polong hanya berisi satu biji.
Batang: Berupa stolon.

Akar: system perakaran serabut

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di kawasan Kebun Raya Cibodas, Jawa
Barat. Fabacae merupakan salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan, Fabaceae dibagi dalam
tiga sub famili yaitu Papilionaceae, Caesalpiniaceae dan Mimosacese. Pembagian ketiga sub
famili ini berdasarkan bentuk bunganya. Pada sub famili Papilionaceae memiliki karakteristik
tumbuhan yang berbunga kupu-kupu (papilon = kupu-kupu). Semua bunga dalam kelompok ini
berbentuk seperti kupu-kupu.Bagian-bagian bunganya terdiri dari bendera, sayap, lunas.
Sebagian besar dari jenis ini dapat dikonsumsi dan merupakan komoditas penting dalam
kehidupan manusia. Keisitimewaan dari suku ini adalah pada bagian akarnya yang bersimbiosis
dengan sejenis bakteri yang dapat menghisap nitrogen bebas dari udara. Bakteri ini adalah
Rhizobium javanicum , Rhizobium leguminoserum (rhizo=akar). Oleh karena itu, kelompok
tumbuhan ini dikenal sebagai tanaman pupuk hijau.
Caesalpiniaceae memiliki karakteristik bunga seperti sayap pada burung merak dengan
bagian tengahnya yang disebut lunas. Caesalpiniaceae meliputi 150 marga, dan kurang lebih
22000 species. Hampir semua marga dari suku ini berupa perdu atau pohon, dan boleh
dikatakan tidak ada yang berupa terna dan berakar tunggang. Batang simpodium. Daun
umumnya majemuk menyirip ( majemuk pinnatus), atau menyirip ganda (majemuk bipinnatus),
jarang sekali ditemukan tunggal atau beranak daun satu. Bunga umumnya majemuk tak terbatas
(Racemosa), dengan bunga tersusun dalam tandan. Memiliki daun kelopak (sepal) 5, dengan 5
daun mahkota (petal) yang bebas, tidak ada yang berlekatan atau dapat pula ditemukan jumlah
daun mahkota (petal) kurang dari 5. Benang sari (stamen) 10 jarang lebih, bisanya bebas atau
berlekatan, putik (pistillum) dengan satu daun buah (carpel). Buahnya berupa buah polong yang
jika masak akan kering kemudian pecah. Buahnya juga dapat berdaging dan tidak membuka,
sering kali bersayap. Biji dengan endoperm yang tipis atau tanpa adanya endosperm, lembaga
besar. Sedangkan pada sub famili Mimosaceae memiliki karakteristik bunga dengan bentuk
bongkol. Dan bunganya merupakan bunga mejemuk dengan banyak beneng sari dan daunnya
mejemuk.
Spesies dari famili fabaceae memiliki banyak manfaat bagi masyrakat, pada spesies
Bauhinia corymbosa dan Bauhinia sp. bermanfaat sebagai tanaman hias pada pekarangan
rumah karena memiliki bunga yang indah, serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga
dapat mensejahterakan masyarakat. Pada spesies Senna didymobotrya daunnya digunakan
untuk obat pencahar atau sembelit. Pada daun dari Spesies Calliandra haematocephala
digunakan sebagai obat luka baru. Sedangkan pada Calliandra calothyrsus dimanfaatkan
sebagai pakan ruminansia , sebagai pupuk hijau, tanaman pelindung bagi kopi dan teh, untuk
memperbaiki tanah dan menahan erosi. Selain itu, digunakan sebagai sumber serbuk sari bagi
produksi madu. Tujuan penanaman kaliandra pada mulanya untuk penghijauan, mencegah erosi
dan mencegah penduduk mengambil kayu bakar dari hutan. Dengan adanya kaliandra,
penduduk dapat mengambil kayunya untuk kayu bakar sehingga penebangan liar di hutan oleh
penduduk dapat dicegah (Tangendjaja et al., 1992 dalam Wina et al., 2000).
Spesies Arachis pintoi bermanfaat untuk pengontrol erosi, pada usaha tani lahan kering
yang berlereng, erosi terjadi terutama pada periode awal pertumbuhan tanaman yang
menyebabkan lahan terdegradasi dan menurun produktivitasny a. Arachis pintoi berpotensi
besar untuk mencegah hanyutnya tanah, karena susunan/anyaman batang dan perakarannya
dapat melindungi tanah dari daya rusak intensitas hujan yang tinggi. Selain itu untuk rehabilitasi

lahan, sebagai salah satu famili leguminosa Arachis pintoi berpotensi untuk meningkatkan
kesuburan tanah dari hasil fiksasi (penambatan) nitrogen secara biologi. Dari hasil fiksasi
tersebut dihasilkan 6585% nitrogen. Pengontrol Gulma, di daerah tropis Arachis pintoi telah
teruji kemampuannya dalam bersaing dengan gulma, seperti pada perkebunan kopi, coklat,
pisang, jeruk, ubi kayu, dan nenas. Jenis kacang ini efektif mencegah tumbuhnya gulma setelah
34 bulan ditanam atau sama efektifnya dengan Desmodium ovalifolium dalam mencegah
tumbuhnya kembali gulma. Pengontrol Nematoda, dari hasil penelitian di Costa Rica, Arachis
pintoi mampu melindungi tanaman tomat dari infeksi yang disebabkan nematoda Meloidogyne
arabicide, dan tanaman kopi dari Meloidogyne exigua. Tanaman ini juga terbukti bukan
merupakan host dari kedua jenis nematoda ini dan bahkan mampu menekan (effek negatife)
perkembangan kedua jenis nematoda tersebut. Arachis pintoi dapat digunakan untuk makanan
beberapa jenis ternak peliharaan seperti : sapi, kuda, keledai, biri-biri (domba), kambing, babi,
dan ayam. Daunnya mengandung kadar protein yang tinggi dan baik untuk pencernaan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada dosen mata kuliah Botani, Bapak Agung Sedayu, yang sudah mengajar
kami sehingga kami paham dengan penelitian kami.
Terima kasih kepada kakak pendamping kami, Hafidza, yang sudah membimbing kami selama
kami pengamatan sampai pembuatan jurnal ini.
Terima kasih kepada semua teman-teman yang membantu dan selalu mendukung kami sehingga
kami dapat menyelesaikan jurnal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Benson, L. 1957. Plant Classification. pp: 33-42. Boston D.C.: Heath and
Company
Duke. J.1983. Handbook of Energy Tanaman. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta
Fahn, A. 1990. Plant Anatomi. 4th Ed. London: Butterwort-Heinemann Ltd.
Steenis, Van. 1981. Flora cetakan ketiga. P T Pradnya Paramita. jakarta
Tjitrosoepomo, G. 1997. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gajah
Mada University press
Wina Elizabeth dan Tangendaja Budi. 2000. Pemanfaatan kaliandra
(calliandra calothyrsus) Sebagai hijauan pakan ruminansia di Indonesia.
Lokakarya Produksi Benih dan Pemanfaatan Kaliandra di Bogor 14 16
November, 2000.
http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/leaflet/arachis
%20pintoi.pdf
http://www.smgrowers.com/products/plants/plantdisplay.asp?plant_id=230
http://www.plant.id.au/home/guide_view.aspx?id=166

http://tolweb.org/Fabaceae/21093
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/24877/prosidin
g_penelitian_ilmu_hayat-2.pdf
http://www.hear.org/pier/species/senna_didymobotrya.htm
http://plantlust.com/plants/senna-didymobotrya/
http://dosen.narotama.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/Kajianetnobotani-masyarakat-di-sekitar-Taman-Nasional-Gunung-Merapistudi-kasus-di-Desa-Umbulharjo-Sidorejo-Wonodoyo-dan-Ngablak.pdf