Anda di halaman 1dari 21

TEORI AKUNTANSI

SAP 10
PSAK NO. 14 DAN PSAK NO. 16

KELOMPOK :

1. NI WAYAN FERIYANTI 1215351108


2. GEDE EDY EKAPUTRA 1415351002

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM EKSTENSI


UNIVERSITAS UDAYANA

2017
1. PSAK 14: Persediaan

A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 14 (Revisi 2008)

PSAK 14 (Revisi 2008) ini berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup periodeang
dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Ruang lingkupnya terlihat pada Tabel II.21.
PSAK ini berbeda dengan PSAK-PSAK lainnya karena sejak revisi 2008 PSAK ini telah
mengadopsi standar akuntansi internasional, IAS 2 (2003): Inventories. Sementara itu, IAS 2
(2003) tersebut tidak mengalami perubahan sampai dengan diterbitkannya IFRS yang berlaku
mulai 1 Januari 2009.Hal ini terlihat dalam buku IFRS as issued at 1 January 2009 hal. 982
(IASFC, 2009).

Tabel II.21 Tujuan & Ruang Lingkup PSAK 14 (Revisi 2008)

Perihal Deskripsi
PSAK 14 (Revisi 2008) mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan.

Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan jumlah biaya


yang diakui sebagai aset dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas aset tersebut
sampai pendapatan terkait diakui.

Tujuan PSAK 14 (Revisi 2008) menyediakan panduan dalam menentuan biaya dan
pengakuan selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunan menjadi nilai
realisasi neto.

PSAK 14 (Revisi 2008) juga memberikan panduan rumus biaya yang digunakan
untuk menentukan biaya persediaan.
Ruang PSAK 14 (Revisi 2008) diterapkan untuk semua persediaan, kecuali:
lingkup a) pekerjaan dalam proses yang timbul dalam kontrak konstruksi, termasuk kontrak
jasa yang terkait langsung (lihat PSAK 34: Akuntansi Kontrak Konstruksi);
b) persediaan yang terkait dengan real estat (lihat PSAK 44: Akuntansi Aktivitas
Perkembangan Real Estat);
c) instrumen keuangan (lihat PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian dan
Pengungkapan dan PSAK Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran);
d) aset biolojik terkait dengan hasil hutan (lihat PSAK 32: Akuntansi Kehutanan);
dan
e) hasil tambang umum dan hasil tambang minyak dan gas bumi (lihat PSAK 33:

2
Akuntansi Pertambangan Umum dan PSAK 29: Akuntansi Minyak dan Gas Bumi).

PSAK 14 (Revisi 2008) tidak berlaku untuk pengukuran persediaan bagi pialang-
pedagang komoditi yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah
dikurangi biaya untuk menjual, sesuai dengan praktik yang berlaku pada industri.
Ketika persediaan tersebut diukur pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk
menjual, maka perubahan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual diakui
dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya

Sumber: Paragraf 1-3 PSAK 14 (Revisi 2008) (IAI, 2008) dan IAS 2 (IASCF, 2009)

B. Konsep Utama

Persediaan didefinisikan dalam paragraf 5 PSAK 14 (Revisi 2008) sebagai aset:

(a) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa;


(b) dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; atau
(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.

Contoh persediaan menurut paragraf 7 dan 18 PSAK 14 (Revisi 2008) adalah:

barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali,


pengadaan tanah dan properti lainnya untuk dijual kembali.

barang jadi yang diproduksi,

barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi,

bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.

biaya jasa seperti biaya tenaga kerja dan biaya personalia lainnya yang secara langsung
menangani pemberian jasa, termasuk personalia penyelia, dan overhead yang dapat
diatribusikan dan entitas belum mengakui pendapatan yang terkait dengan biaya jasa
tersebut (lihat PSAK 23: Pendapatan).

C. Perlakuan Akuntansi

3
Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah
(paragraf 8 PSAK 14 (Revisi 2008)). Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian,biaya
konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
rincian penjelasan dari unsur biaya persediaan terlihat pada Tabel II.22. Sementara itu, nilai
realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya
penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.

Tabel II.22 Pengukuran Persediaan dalam PSAK 14 (Revisi 2008)

Perihal Deskripsi
Unsur biaya Biaya pembelian

persediaan Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya
(kecuali yang kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas
pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan,dan biaya lainnya yang
secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi,
bahan,dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa
dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian. [par.10]

Biaya konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait
dengan unit yang diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung.
Termasuk juga alokasi sistematis overhead produksi tetap dan variabel
yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi. Overhead
produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan,
tanpa memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan
dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen
dan administrasi pabrik. Overhead produksi variabel adalah biaya
produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau hampir
secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan
tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung [par.11]

Biaya lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang
biaya tersebut timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi
saat ini. Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk

4
memasukkan overhead nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk
pelanggan tertentu sebagai biaya persediaan. [par.14]
Biaya standar
Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan
perlengkapan, tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar
di-review secara reguler dan, jika diperlukan, direvisi sesuai dengan
Teknik kondisi terakhir. [par.19]
pengukuran
biaya persediaan Metode eceran
Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk menilai
persediaan dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan
memiliki marjin yang sama saat tidak praktis untuk menggunakan metode
penetapan biaya lainnya. [par.20]
Biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan
barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang
dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan
berdasarkan identifikasi spesifik terhadap biayanya masing masing
[par.21]

Rumus biaya
Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 21, harus dihitung
persediaan
dengan menggunakan rumus (1) biaya masuk pertama keluar pertama
(MPKP) atau first in first out (FIFO) atau (2) ratarata tertimbang. Entitas
harus menggunakan rumus biaya yang sama terhadap semua persediaan
yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk persediaan yang
memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda, rumusan biaya yang berbeda
diperkenankan. [par.23]
Nilai realisasi Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali jika persediaan
neto rusak, seluruh atau sebagian persediaan telah usang, atau harga jualnya
telah menurun. [par.26]

Biaya persediaan juga tidak akan diperoleh kembali jika estimasi biaya
penyelesaian atau estimasi biaya untuk membuat penjualan telah
meningkat. [par.26]

Praktek penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi


neto konsisten dengan pandangan bahwa aset seharusnya tidak dinyatakan
5
melebihi perkiraan jumlah yang dapat direalisasi dari penjualan atau
penggunaannya. [par.26]

Sumber: Paragraf 10-26 PSAK 14 (Revisi 2008) (IAI, 2009) dan IAS 2 (IASCF, 2009)

2. PSAK 16: Aset Tetap

A. Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 16 (Revisi 2011)

PSAK 16 (Revisi 2011): Aset Tetap merevisi PSAK 16 (Revisi 2007): Aset Tetap. Secara
substantif tidak terdapat perbedaan di kedua revisi PSAK tersebut. PSAK (Revisi 2011) hanya
untuk
menyesuaikan dengan versi IFRS per 1 Januari 2009. PSAK ini mengadopsi IAS 16
(2009):Property, Plant and Equipment. Tujuan dan ruang lingkup PSAK 16 (Revisi 2011) terlihat
pada Tabel II.15.

Tabel II.15 Tujuan & Ruang Lingkup PSAK 16 (Revisi 2011)

Perihal Deskripsi
Tujuan Tujuan PSAK 16 (Revisi 2011) adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi

aset tetap agar pengguna aporan keuangan dapat memahami informasi


mengenai investasi entitas di aset tetap dan perubahan dalam investasi tersebut.
Ruang PSAK 16 (Revisi 2011) harus diterapkan dalam akuntansi aset tetap kecuali
lingkup PSAK lain menetapkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi yang berbeda

PSAK 16 (Revisi 2011) tidak berlaku untuk hak penambangan dan reservasi
tambang, seperti minyak,gas alam, dan sumber daya alam sejenis yang tidak
dapat diperbarui.

PSAK lain bisa saja mensyaratkan pengakuan aset tetap berdasarkan


pendekatan yang berbeda dari PSAK 16. Contohnya adalah PSAK 30 tentang
sewa yang mensyaratkan suatu entitas untuk mengevaluasi pengakuan aset
tetap sewaan atas dasar pemindahan risiko dan imbalan. Namun demikian,
dalam aspek perlakuan akuntansi lain tertentu untuk aset tersebut, termasuk
penyusutan,PSAK 16 (Revisi 2011) mengaturnya.

6
PSAK 16 (Revisi 2011) diterapkan untuk properti yang dikonstruksi atau
dikembangkan untuk digunakan di masa depan sebagai properti investasi, tetapi
belum memenuhi kriteria definisi Properti Investasi dalam PSAK 13: Properti
Investasi. Ketika konstruksi atau pembangunannya telah selesai,properti
tersebut menjadi properti investasi dan entitas diharuskan menerapkan PSAK
13.Properti investasi yang sedang dikembangkan ulang untuk dilanjutkan
penggunaannya di masa depan sebagai properti investasi juga harus mengacu
pada PSAK 13. Entitas yang menggunakan model biaya untukproperti investasi
sesuai PSAK 13 harus menggunakan model biaya dalam PSAK 16 (Revisi
2011).

Sumber: Paragraf 1-5 PSAK 16 (Revisi 2011) (IAI, 2011) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

B. Konsep Utama

Masalah utama dalam akuntansi untuk aset tetap adalah saat (timing) pengakuan aset,penentuan
jumlah tercatat dan beban penyusutan, serta penentuan dan perlakuan akuntansi untuk penurunan
nilai tercatat aset tetap. Di dalam paragraf 6 PSAK 16 (Revisi 2011), aset tetap didefinisikan
sebagai aset berwujud yang

a) dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalka
kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
b) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Pengertian aset tetap tersebut terkait dengan beberapa istilah umum lainnya, seperti diuraikan
dalam Tabel II.16.

Tabel II.16 Pengertian-pengertian Terkait dengan Aset Tetap

Perihal Deskripsi
Jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar dari imbalan
lain yang diserahkan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
Biaya perolehan
konstruksi atau, jika dapat diterapkan, jumlah yang diatribusikan ke aset
(cost)
pada saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratan tertentu dalam
PSAK lain.
Jumlah tercatat Nilai yang disajikan dalam neraca setelah dikurangi akumulasi penyusutan
(carrying amount) dan akumulasi rugi penurunan nilai

7
Jumlah yang dapat
Nilai yang lebih tinggi antara harga jual neto dan nilai pakai (value in use)
diperoleh kembali
suatu aset
(recoverable amount)
Jumlah yang dapat
Biaya perolehan suatu aset atau jumlah lain yang menjadi pengganti biaya
disusutkan
perolehan,dikurangi nilai residunya.
(depreciable amount)
Nilai kini dari arus kas suatu entitas yang diharapkan timbul dari
Nilai khusus entitas
penggunaan aset dan dari pelepasannya pada akhir umur manfaat atau yang
(entity specific value)
diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban
Jumlah yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset
Nilai residu aset setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika aset tersebut telah mencapai
umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.
Jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak
Nilai wajar yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu
transaksi dengan wajar (arms length transaction)
Alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama
Penyusutan
umur manfaatnya
Rugi penurunan nilai Selisih dari jumlah tercatat suatu aset dengan jumlah yang dapat diperoleh
(impairment loss) kembali dari aset tersebut
a) suatu periode dimana aset diharapkan akan digunakan oleh entitas, atau
Umur manfaat (useful
b) jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari
lif)
aset tersebut oleh entitas

Sumber: Paragraf 1-5 PSAK 16 (IAI, 2009) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

C. Perlakuan Akuntansi

Tabel II.17 menjelaskan perlakuan akuntansi utama untuk aset tetap sesuai dengan PSAK 16
(Revisi 2011). Perlakuan tersebut merujuk pada paragraf berhuruf miring dan tebal di PSAK 16
(Revisi 2011). Namun demikian, Tabel II.17 juga mencakup beberapa paragraf yang tidak
berhuruf miring dan tebal untuk lebih memperjelas uraian tentang perlakuan akuntansi aset tetap.

Tabel II.17 Perlakuan Akuntansi untuk Aset Tetap dalam PSAK 16 (Revisi 2011)

Perihal Deskripsi
Pengakuan Biaya perolehan aset diakui jika dan hanya jika

a) besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan

8
dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas, dan
b) biaya perolehan aset dapat diukur secara andal [par.7]

PSAK 16 (Revisi 2011) tidak menentukan unit ukuran dalam


pengakuan suatu aset tetap.Karena itu, diperlukan pertimbangan
dalam penerapan kriteria pengakuan yang sesuai dengan kondisi
tertentu entitas. Pertimbangan tersebut tepat terhadap agregasi unit-
unit yang secara individual tidak signifikan, seperti cetakan dan
perkakas, kemudian menerapkan kriteria atas nilai agregat tersebut
[par.9]
Pengukuran Awal Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset
1) Komponen biaya pada awalnya harus diakui berdasarkan biaya perolehan, yang meliputi.
perolehan a. harga perolehan, termasuk bea impor dan non-creditable tax
dikurangi diskon dan potongan
b. biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset
ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan
sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen

c. estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan


restorasi lokasi aset.[par.15-16]
2) Pengukuran Biaya a. Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunainya dan
Perolehan diakui pada saat terjadinya.Jika pembayaran untuk suatu aset
ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu kredit
normal,perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui
sebagai beban bunga selamaperiode kredit, kecuali dikapitalisasi
sesuai dengan perlakuan alternatif yang diizinkan dalamPSAK 26
tentang Biaya Pinjaman. [par.23]

b. Aset yang diperoleh melalui pertukaran non moneter atau kombinasi


aset moneter dan non moneter diukur sebesar nilai wajar, kecuali
1) Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
2) Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur
secara andal [par.24]

c. Biaya perolehan aset tetap yang dicatat oleh lessee dalam sewa
pembiayaan ditentukan sesuai dengan PSAK 30 (Revisi 2011): Sewa
9
[par.27]

d. Nilai tercatat aset tetap dapat dikurangi dengan hibah pemerintah


sesuai dengan PSAK 61:Akuntansi Hibah Pemerintah dan
Pengungkapan Bantuan Pemerintah [par.28]
PengukuranSetelah Entitas memilih model biaya (cost model) atau model revaluasi (revaluation
Pengakuan Awal model) sebagai kebijakan akuntansinya dan menerapkan kebijakan tersebut
terhadap seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama [par.29]
1) Model Biaya Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan
dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai
2) Model Revaluasi
aset [par.30]

10
a. Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya
dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian,
yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah
tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan
yang cukup reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak
berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan
menggunakan nilai wajar pada akhir periode pelaporan [par.31].

b. Jika suatu aset direvaluasi, seluruh aset tetap dalam kelompok yang
sama harus direvaluasi[par.36].

c. Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan


tersebut langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi.
Namun, kenaikan tersebut harus diakui dalam laporan laba rugi
hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang
pernah diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi [par.39].

d. Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut


diakui dalam laporan laba rugi. Namun, penurunan nilai akibat
revaluasi tersebut langsung didebit ke ekuitas pada bagian surplus
revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit
sruplus untuk aset tersebut [par.40].

e. Jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke


model revaluasi dalam pengukuran aset tetap, perubahan tersebut
berlaku prospektif [par.43]
Penyusutan a. Setiap bagian dari aset tetap yang memiliki biaya perolehan secara
signifikan terhadap total biaya perolehan seluruh aset harus
disusutkan secara terpisah [par.44].

b. Beban penyusutan untuk setiap periode harus diakui dalam laporan


laba rugi, kecuali jika beban tersebut dimasukkan dalam jumlah
tercatat aset lainnya [par.49].

c. Jumlah tersusutkan dari suatu aset dialokasikan secara sistematis

11
sepanjang umur manfaatnya [par.51].

d. Nilai residu dan umur manfaat setiap aset tetap harus di-review
minimum setiap akhir tahun buku. Bila ternyata hasil review berbeda
dengan estimasi sebelumnya, perbedaan tersebut harus diperlakukan
sebagai perubahan estimasi akumulasi sesuai dengan PSAK 25
(Revisi 2009): Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan,
Koreksi Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi
[par.52].

e. Metode penyusutan yang digunakan harus mencerminkan ekspektasi


pola konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset oleh entitas
[par.61].

f. Metode penyusutan harus di-review minimum setiap akhir tahun


buku. Bila terjadi perubahan signifikan dalam ekspektasi pola
konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, metode
penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola
tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai
perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK 25: Laba atau
Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Koreksi Kesalahan Mendasar,
dan Perubahan Kebijakan Akuntansi [par.62].
Penurunan Nilai Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan
nilai, entitas menerapkan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset. PSAK ini
menjelaskan

1. bagaimana entitas me-review jumlah tercatat asetnya,

2. bagaimana menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali


dari aset, dan

3. kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai [par.64].

Dalam hal terdapat kompensasi dari pihak ketiga untuk aset tetap
yang mengalami penurunan nilai, hilang, atau dihentikan,
kompensasi tersebut harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada
saat kompensasi itu diakui sebagai piutang [par.65]

12
Penghentian 1. Pengakuan jumlah tercatat aset tetap dihentikan pada saat
Pengakuan
a. dilepaskan; atau

b. tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan


dari penggunaan atau pelepasannya [par.67].

2. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset tetap
harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat pengakuan aset
tersebut dihentikan (kecuali PSAK 30 mengharuskan perlakuan
berbeda dalam hal transaksi jual dan sewa balik). Laba tidak boleh
diklasifikasikan sebagai pendapatan [par.68].

3. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian suatu aset


tetap harus ditentukan sebesar perbedaan antara jumlah neto hasil
pelepasan, jika ada, dan jumlah tercatat dari aset tersebut [par.72].

Sumber: PSAK 16 (Revisi 2011) (IAI, 2011) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: PSAK 16 (Revisi 2011) (IAI, 2011) dan IAS 16 (IASCF, 2009)

Sumber: Paragraf 1-3 PSAK 14 (Revisi 2008) (IAI, 2008) dan IAS 2 (IASCF, 2009)

PENGANTAR

PSAK 8 tentang Peristiwa Setelah Periode Pelaporan telah disahkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan pada tanggal 23 Oktober 2010.

PSAK 8 ini merevisi PSAK 8 tentang Peristiwa Setelah Tanggal Neraca yang telah dikeluarkan
pada tanggal 14 Oktober 2003.

13
Penyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PENGANTAR PENYESUAIAN

Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengesahkan penyesuaian atas PSAK 8 tentang
Peristiwa Setelah Periode Pelaporan pada tanggal 27 Agustus 2014.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 8

PERISTIWA SETELAH PERIODE PELAPORAN

Tujuan Pernyataan ini adalah untuk menentukan:

(a) kapan entitas menyesuaikan laporan keuangannya untuk peristiwa setelah periode
pelaporan; dan

(b) pengungkapan yang dibuat entitas tentang tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit
dan peristiwa setelah periode pelaporan.

14
Pernyataan ini juga mensyaratkan bahwa entitas tidak boleh menyusun laporan keuangan atas
dasar kelangsungan usaha jika peristiwa setelah periode pelaporan mengindikasikan bahwa
penerapan asumsi kelangsungan usaha tidak tepat.

Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi untuk, dan pengungkapan atas, peristiwa setelah
periode pelaporan.

Peristiwa setelah periode pelaporan adalah peristiwa yang terjadi antara akhir periode pelaporan
dan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit, baik peristiwa yang menguntungkan
maupun yang tidak. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

(a) peristiwa yang memberikan bukti atas adanya kondisi pada akhir periode pelaporan
(peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan); dan

(b) peristiwa yang mengindikasikan timbulnya kondisi setelah periode pelaporan (peristiwa
nonpenyesuai setelah periode pelaporan).

Entitas menyesuaikan jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk mencerminkan peristiwa
penyesuai setelah periode pelaporan. Entitas tidak menyesuaikan jumlah pengakuan dalam
laporan keuangan untuk mencerminkan peristiwa nonpenyesuai setelah periode pelaporan.

Entitas mengungkapkan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit dan pihak yang
bertanggung jawab mengotorisasi laporan keuangan. Jika entitas menerima informasi setelah
periode pelaporan tentang kondisi yang ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas
memutakhirkan pengungkapan kondisi tersebut sesuai dengan informasi terkini.

15
Peristiwa nonpenyesuai setelah periode pelaporan yang berdampak material jika tidak
diungkapkan akan mempengaruhi pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan. Sejalan
dengan hal tersebut, entitas mengungkapkan informasi berikut untuk setiap kelompok peristiwa
tersebut:

(a) sifat peristiwa; dan

(b) estimasi atas dampak keuangan, atau pernyataan bahwa estimasi tersebut tidak dapat dibuat.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2011. Entitas menerapkan penyesuaian paragraf 11 secara prospektif untuk
periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

PSAK 10

LINGKUP

Tujuan dari dibentuknya PSAK 10 ini adalah untuk mengetahui bagaimana memasukkan transaksi
dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri kedalam laporan keuangan entitas kedalam
menjabarkan laporan keuangan kedalam mata uang penyajian.

Ruang Lingkup

a.Akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali transaksi dan saldo derivative
(PSAK 55)

b.Menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang termasuk dalam
laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional atau metode ekuitas.

c.Menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang penyajian

d.Derivatif mata uang asing, kecuali derivative yang tidak termasuk lingkup PSAK 55 misal
derivative yang melekat pada kontrak lain.

e.Akuntansi lindung nilai mata uang asing termasuk lindung nilai investasi di LN

16
f.Penyajian laporan arus kas yang timbul dari transaksi mata uang asing atau penjabaran arus kas
dari kegiatan usaha LN

Definisi

Investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri adalah jumlah kepentingan entitas pelapor dalam
asset neto dari kegiatan usaha luar negeri tersebut.

Kegiatan usaha luar negeri adalah entitas anak, asosiasi, ventura bersama atau cabang dari entitas
pelapor yang aktiitasnya dilaksanakan di Negara yang mata uangny a menggunakan mata uang
selain mata uang pelapor.

Kelompok usaha adalah suatu entitas induk dan seluruh anaknya.

Kurs adalah rasio pertukaran dua mata uang

Kurs penutup adalah kurs spot pada akhir periode pelaporan

Kurs Spot adalah kurs untuk realisasi segera

Mata Uang Asing adalah mata uang selain mata uang funsional suatu entitas

Mata Uang Fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama dimana entitas
beroperasi.

Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

Pos-pos moneter adalah unit mata uang yang dimiliki serta asset atau liabilitas yang akan diterima
atau dibayarkan dalam jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan.

Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu satu mata uang
kedalam mata uang lain pada kurs yang berbeda.

PERTIMBANGAN MATA UANG FUNGSIONAL

1.Mata Uang

Paling mempengaruhi harga jual (sringkali menjadi mata uang dimana harga jual untuk barang
dan jasa didenominasikan dan diselesaikan dan

Dari suatu Negara yang kekuatan persaingan dan perundang-undngannya sebagian besar
menentukan harga jual dari barang dan jasanya.

17
2.Mata uang yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan baku, dnan biaya lain dari pengadaan
barang atau jasa (biaya didenominasikan dan diselesaikan).

3.Mata uang yang mana dana dari aktifitas pendanaan (antara lain penerbitan instrument utang
dan instrument ekuitas) dihasilkan.

4.Mata uang dalam mana penerimaan dari aktifitas operasi pada umumnya ditahan.

5.Apakah kegiatan usaha luar negeri dilaksanakn sebagai suatu perpanjangan dari entitas pelapor
atau otonomi yang signifikan.

Hanya menjual barang yang diimpor dari entitas pelapor dan mengirimkan hasilnya ke entitas
pelopor melalui system perpanjangan

Mengakumulasikan kas dan pos moneter, pengeluaran, pendapatn dan pinjaman, yang secara
substansial mengunakan mata uang lokalnya yaitu hak otonomi

6.Tinggi rendahnya proporsi kegiatan usaha luar negeri

7.Apakah arus kas secara langsung mempengaruhi arus kas entitas pelapor dan apakah arus kas
tersebut siap tersedia untuk dikirimkan ke entitas pelapor

8.Apakah arus kas cukup untuk membayar kewajiban instrument utang yang ada ataupun yang
diperkirakan dapat terjadi tanpa adanya dana yang disediakn oleh entitas pelapor.

9.Ketika indicator Mata uang tidak jelas manajemen menggunakan pertimbangannya untuk
menentukan mata uang fungsional manakah yang paling tepat

10.Manajemen memberikan prioritas pada indicator-indikator utama dalam paragraph 9 (1)


sebelum mempertimbangkan indicator-indikator dalam paragraph 10 (2) dan (13)

11.Mata uang fungsional suatu entitas mencerminkan transaksi, kejadian dan kondisi yang
mendasari yang relevan

12.Sekali ditentukan, mata uang fungsional tidak berubah kecuali ada perubahan pada transaksi,
kejadian dan kondisi yang mendasari tersebut.

Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya
transaksinya.

Pelaporan pada tanggal Neraca

18
Pada setiap tanggal neraca :

a.Pos asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan kedalam mata uang rupiah
dengan menggunakan kurs tangga neraca. Apabila terdapat kesulitaan dalam menentukan kurs
tanggal neraca, dapat digunakan kurs tengah BI sebagai indicator yang obyektif.

b.Pos nonmoneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca, tetapi tetap
harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi, dan

c.Pos nonmoneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan
menggunakankurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan.

Transaksi Valuta Berjangka

a.Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran dua valuta asing
melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali secara berjangka. Pada hakekatnya transaksi
tersebut dilakukan untuk lebih mendapatkan kepastian tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap
selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar dari kerugian akibat perubahan kurs.
Dalam transaksi SWAP pembuat transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan
terlebih dahulu.

b.Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk tujuan hedging utang
adalah sebagai berikut :

Selisih kurs tunai (spor rate) dan kurs masa depan (forward rate) dicatat) sebagai diskonto atau
premi yang harus diamortisasi sesuai dengan jangka waktu kontrak valuta berjangka;

Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk utang dalam mata uang asing (yang
diproteksi melalui hedging), forward receivable, dan forward payable dalam mata uang asing.
Selisih kurs yang timbul sebagai akibat perbedaan antara kurs tanggal neraca dengan kurs tunai
pada saat terjadinya transaksi diakui sebagai keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan;

Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto atau premi yang belum
diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta berjangka yang berhubungan harus dijadikan satu
dibagian asset atau kewajiban. Bergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.

Investasi neto dalam suatu entitas asing

Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam substansinya membentuk bagian
investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai suatu ekuitas
19
dalam laporan keuangan perusahaan hingga saat pelepasan (disposal) investasi neto dan pada saat
tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban (lihat PSAK 11).

Selisih kurs yang timbul dari kewajiban valuta asing yang diperhitungkan sebagai hedging dari
investasi neto perusahaan dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai suatu ekuitas
dalam laporan keuangan perusahaan pelepasan (disposal) investasi neto, dan pada saat tersebut
harus diakui sebagai pendapaan atau sebagai beban (lihak PSAK 11)

Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam uraian selisih kurs diatas, selisih penjabaran pada
asset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang
timbul dari transaksi dlam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi
periode berjalan.

Perlakuan alternative diijinkan

Selisih kurs dapat disebabkan oleh devaluasi atau depresiasi luar biasa suatu mata uang dalam
keadaan tidak tersedia fasilitas hedging dan menimbulkan kewajiban yang tidak terselesaikan
akibat perolehan asset yang baru saja dilakukan dan harus dilunasi dalam mata uang asing. Selisih
kurs tersebut dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) asset sepanjang nilai
tercatat asset yang disesuaikan tidak melebihi jumlah terendah antara biaya pengganti
(replacement cost) dan jumlah yang dapat diperoleh kembali (amount recoverable) dari penjualan
atau penggunaan asset tersebut. Alternative yang dipilih harus diungkapkan secukupnya.

Pengungkapan

Perusahaan harus mengungkapkan :

a.Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian untuk periode tersebut,

b.Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai suatu unsure yang
terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan akhir periode, dan

c.Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam nilai tercatat suatu asset
sesuai dengan perlakuan alternative yang diijinkan.

Ketentuan Transisi

Pada saat pernyataan ini diterapkan, perusahaan harus mengklasifikasikan secara terpisah dan
mengungkapkan saldo kumulatif, pada awal periode, selisih kurs yang ditangguhkan dan

20
diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam periode sebelumnya, kecuali jika jumlah tersebut tidak dpat
ditentukan secara wajar. Dalam hal tersebut perlu dijelaskan alasannya.

21