Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia dalam hidupnya mengalami berbagai fase perubahan yang disebut


perkembangan, dimana perkembangan ini merupakan bertambahnya kemampuan
manusia secara fisik maupun psikis dan bersifat kualitatif. Seorang individu bisa
dikatakan berhasil ketika ia bisa melewati setiap fase dalam perkembangan itu
dengan menyelesaikan tugas perkembangannya. Dalam melewati setiap fase itu,
individu mungkin akan menghadapi hambatan baik itu dari aspek fisik, kognitif,
emosi, sosial maupun spritual.

Dari seluruh fase yang terjadi selama rentang usia manusia tersebut, setiap
fase memiliki peranan penting yang akan mempengaruhi fase selanjutnya dalam
kehidupan. Pada makalah ini penyusun membatasi bahasannya pada
perkembangan pada masa awal pubertas atau sering disebut masa remaja. Jika
pada masa kanak kanak terjadi berbagai fase penting dimana mereka
menduplikasi serta mengaplikasikan secara langsung apa yang mereka lihat, maka
pada masa remaja juga merupakan fase penting yang merupakan fase awal mereka
mencari idealisme dan jati diri, pada masa ini pula terjadi proses pembentukan
mental yang akan akan mempengaruhi pandangan hidup.

Dikarenakan masa remaja ini merupakan masa transisi dimana individu harus
meninggalkanmasa kanak kanak dan menuju kedewasaan, maka masalah dan
hambatan itu akan kian tampak pada fase ini , salah satunya saat individu ingin
merasakan kebebasan dari apa yang mengaturnya saat ia dalam fase kanak kanak
namun disaat yang sama ia juga tidak ingin kehilangan perhatian, sehingga
mendorong dirinya untuk melakukan pemberontakan serta penyimpangan. Karena
hal inilah penting bagi kita untuk memahami kondisi yang terjadi pada masa ini.

Terdorong dengan rasa keingin tahuan dan fakta tersebut, maka penyusun
memilih topik perkembangan masa remaja dalam makalah sederhana yang diberi
judul Perkembangan Masa Awal Pubertas

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Dasar Perkembangan Periode Remaja ?
2. Bagaimana Rencana Edukasi pada Perkembangan Periode Remaja?

1.3 TujuanTujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar perkembangan periode
dewasa dan rencana edukasi pada perkembangan periode remaja.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Memahami konsep dasar perkembangan periode remaja.
2. Memahami rencana edukasi pada perkembangan periode remaja.

2
BAB II

KONSEP DASAR

PERKEMBANGAN PERIODE REMAJA

2.1 Definisi Perkembangan Periode Remaja

Remaja dalam ilmu psikologis juga diperkenalkan dengan istilah lain, seperti
puberteit, adolescence, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikaitkan
pubertas atau remaja. Remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa
kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 21 tahun. Masa
remaja terdiri dari masa remaja awal usia 12-15 tahun, masa remaja pertengahan
usia 15-18 tahun, dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun (Monks, et al. 2002).
Masa remaja disebut juga sebagai periode perubahan, tingkat perubahan dalam
sikap, dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan perubahan fisik (Hurlock,
2004).

1.2 Pembagian Perkembangan Periode Remaja

Berdasarkan sifat dan ciri perkembangnya, masa (rentang waktu) remaja ada
tiga tahap menurut widyastuti (2009), yaitu:

1. Remaja Awal / Early Adolescent ( 10 - 12 Tahun )

Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar antara 10
sampai 1 tahun atau yang biasa disebut dengan usia belasan yang tidak
menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik,
psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973).

Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis,


yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada
kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang
mengganggu (Ekowarni, 1993).

3
Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang
kondusif dan sifat keperibadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya
berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar
aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan
kenakalan remaja.

2. Remaja Tengah / Middle Adolescent ( 13 15 Tahun )

Pada usia ini pergumulan remaja biasanya berkaitan dengan penerimaan


lingkungan teman-temannya terhadap dirinya ini. Apakah teman-temannya bisa
menerimanya sebagai seseorang yang masuk dalam kelompok mereka. Ini sering
kali menjadi dilema buat orang tua, karena adakalanya kelompok anak akan
memaksakan seorang anak melakukan hal-hal yang tidak setujui oleh orang tua.
Orang tua harus berhati-hati dalam merespon hal ini, adakalanya orang tua terlalu
terburu-buru memisahkan anak dari lingkungannya sehingga anak itu tidak pernah
benar-benar bergumul dengan tantangan yang ada di depannya atau ada anak yang
justru kebalikannya terjun masuk ke dalam kelompoknya dan menanggalkan nilai-
nilai supaya teman-teman bisa menerimanya.

3. Remaja Akhir / Late Adolescent ( 16 19 Tahun )

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai
dengan pencapaian lima hal yaitu:

a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.


b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan
dalam pengalaman- pengalaman baru.
c. Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti
dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
e. Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum.

4
2.3 Karakteristik Perkembangan Periode Remaja
a. Ciri ciri Remaja Awal (Early Adolescent)
1. Ciri Fisik :
a. Laju perkembangan secara umum berlangsung pesat.
b. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering- kali kurang seimbang.
c. Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu pada pubic region, otot
mengembang pada bagian bagian tertentu), disertai mulai aktifnya
sekresi kelenjar jenis kelamin (menstruasi pada wanita dan day
dreaming pada laki-laki).
2. Ciri Psikomotor :
a. Gerak gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasikan.
b. Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan.
3. Ciri Bahasa :
a. Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan mulai tertarik
mempelajari bahasa asing.
b. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung segi erotik,
fantastik dan estetik.
4. Ciri Perilaku Kognitif :
a. Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika
formal (asosiasi, diferen-siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat
abstrak, meskipun relatif terbatas.
b. Kecakapan dasar intelektual menjalani laju perkembangan yang
terpesat.
c. Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai menujukkan kecenderungan-
kecende- rungan yang lebih jelas.
5. Ciri Perilaku Sosial :
a. Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan
keinginan bergaul dengan banyak teman tetapi bersifat temporer.
b. Adanya kebergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai
semangat konformitas yang tinggi.

5
6. Ciri Moralitas :
a. Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh
orang tua dengan kebutuhan dan bantuan dari orang tua.
b. Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji
kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataannya dalam
perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya.
c. Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang dipandang tepat dengan
tipe idolanya.
7. Ciri Perilaku Keagamaan :
a. Mengenai eksistensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai
dipertanyakan secara kritis dan skeptis.
b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan atas
pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar
dirinya.
c. Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidup.
8. Ciri Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian :
a. Lima kebutuhan dasar (fisiologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri
dan aktualisasi diri) mulai menunjukkan arah kecenderungannya.
b. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosionalnya masih labil dan belum
terkendali seperti pernya-taan marah, gembira atau kesedihannya masih
dapat berubah-ubah dan silih berganti dalam yang cepat.
c. Kecenderungan-kecenderungan arah sikap nilai mulai tampak (teoritis,
ekonomis, estetis, sosial, politis, dan religius), meski masih dalam taraf
eksplorasi dan mencoba-coba.
d. Merupakan masa kritis dalam rangka meng-hadapi krisis identitasnya
yang sangat dipengaruhi oleh kondisi psiko-sosialnya, yang akan
membentuk kepribadiannnya.

2. Ciri Remaja Tengah ( Middle Adolescent )


a. Tampak dan ingin mencari identitas diri.
b. Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis.
c. Timbul perasaan cinta yang mendalam.

6
3. Ciri Remaja Akhir ( Late Adolescent)
1. Ciri Fisik :
a. Laju perkembangan secara umum kembali menurun, sangat lambat.
b. Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih seimbang mendekati
kekuatan orang dewasa.
c. Siap berfungsinya organ-organ reproduktif seperti pada orang dewasa.
2. Ciri Psikomotor :
a. Gerak gerik mulai mantap.
b. Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif dan terbatas pada
keterampilan yang menunjang kepada persiapan kerja.
3. Ciri Bahasa :
a. Lebih memantapkan diri pada bahasa asing tertentu yang dipilihnya.
b. Menggemari literatur yang bernafaskan dan mengandung nilai-nilai
filosofis, ethis, religius.
4. Ciri Perilaku Kognitif :
a. Sudah mampu meng-operasikan kaidah-kaidah logika formal disertai
kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan
komprehensif.
b. Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan (plateau)
yang suatu saat (usia 50-60) menjadi deklinasi.
c. Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan
kemantapannya.
5. Ciri Perilaku Sosial :
a. Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas dan selektif dan lebih
lama (teman dekat).
b. Kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali
dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat.
6. Ciri Moralitas :
a. Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai nilai atau normatif yang
universal dari para pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat keliru
atau kesalahan.

7
b. Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas
norma atau sistem nilai yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati
nuraninya.
c. Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasan- nya mana
yang harus dirundingkan dengan orang tuanya.
7. Ciri Perilaku Keagamaan :
a. Eksistensi dan sifat kemurah-an dan keadilan Tuhan mulai dipahamkan
dan dihayati menurut sistem kepercayaan atau agama yang dianutnya.
b. Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas
dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri secara tulus
ikhlas.
c. Mulai menemukan pegangan hidup.
8. Ciri Konatif, Emosi, Afektif dan Kepribadian :
a. Sudah menunjukkan arah kecenderungan tertentu yang akan mewarnai
pola dasar kepribadiannya.
b. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosinalnya tampak mulai terkendali dan
dapat menguasai dirinya.
c. Kecenderungan titik berat ke arah sikap nilai tertentu sudah mulai jelas
seperti yang akan ditunjukkan oleh kecenderungan minat dan pilihan
karier atau pendidikan lanjutannya; yang juga akan memberi warna
kepada tipe kepribadiannya.
d. Kalau kondisi psikososialnya menunjang secara positif maka mulai
tampak dan ditemukan identitas kepriba-diannya yang relatif definitif
yang akan mewarnai hidupnya sampai masa dewasa.

2.4 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Masa Remaja


Dalam Kehidupan
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah sebagai
berikut:
1) Faktor Pribadi
Setiap anak berkepribadian khusus. Keadaan khusus pada anak bisa
menjadi sumber munculnya berbagai perilaku menyimpang.

8
Keadaan khusus ini adalah keadaan konstitusi, potensi, bakat, atau sifat dasar
pada anak yang kemudian melalui proses perkembangan, kematangan, atau
perangsangan dari lingkungan, menjadi aktual, muncul, atau berfungsi (Lester,
2004).
Sehubungan dengan masalah pelajaran ini, perasaan-perasaan tertekan dan
beban yang tidak sanggup dihadapi juga dapat timbul karena berbagai hal
yang lain seperti berikut ini:
a. Tuntutan dari pihak orang tua terhadap prestasi anak yang sebenarnya
melebihi kemampuan dasar yang dimiliki anak.
b. Tuntutan terhadap anak agar ia bisa memperlihatkan prestasi-prestasi
seperti yang diharapkan orang tua.
c. Tekanan dari orang tua agar anak mengikuti berbagai kegiatan, baik yang
berhubungan dengan pelajaran-pelajaran sekolah maupun kegiatan-
kegiatan lain yang berhubungan dengan pengembangan bakat dan minat.
d. Kekecewaan pada anak karena tidak berhasil memasuki sekolah atau
jurusan yang dikehendaki dan yang tidak dinetralisasikan dengan baik
oleh orang tua. Kekecewaan yang berlanjut pada penilaian bahwa harga
dirinya tidak perlu dipertahankan karena orang tua tidak mencintainya
lagi.
Dari uraian di atas, dijelaskan bahwa masalah yang berkaitan dengan
masalah sekolah, masalah belajar, prestasi, dan potensi (bakat) bisa menjadi
sumber timbulnya berbagai tekanan dan frustrasi. Hal tersebut dapat
mengakibatkan reaksi-reaksi perilaku nakal atau penyalahgunaan obat
terlarang (Libert, 2003).
2) Faktor Keluarga
Keluarga adalah unit sosial yang paling kecil dalam masyarakat.
Lingkungan keluarga berperan besar karena merekalah yang langsung atau
tidak langsung terus-menerus berhubungan dengan anak, memberikan
perangsangan (stimulasi) melalui berbagai corak komunikasi antara orang tua
dengan anak (Prawirosudirjo, 2003).
3) Lingkungan Sosial dan Dinamika Perubahannya

9
Lingkungan sosial dengan berbagai ciri khusus yang menyertainya
memegang peranan besar terhadap munculnya corak dan gambaran
kepribadian pada anak. Kesenjangan antara norma, ukuran, patokan dalam
keluarga dengan lingkungannya perlu diperkecil agar tidak timbul keadaan
timpang atau serba tidak menentu, suatu kondisi yang memudahkan
munculnya perilaku tanpa kendali, yakni penyimpangan dari berbagai aturan
yang ada. (Ellis, 2001).
Lingkungan pergaulan anak adalah sesuatu yang harus dimasuki karena di
lingkungan tersebut seorang anak bisa terpengaruh ciri kepribadiannya,
tentunya diharapkan terpengaruh oleh hal-hal yang baik. Di samping itu,
lingkungan pergaulan adalah sesuatu kebutuhan dalam pengembangan diri
untuk hidup bermasyarakat. Karena itu, lingkungan sosial sewajarnya menjadi
perhatian kita semua, agar bisa menjadi lingkungan yang baik, yang bisa
meredam dorongan-dorongan negatif atau patologis pada anak maupun remaja
(Santrock, 2002).

10
BAB III
RENCANA EDUKSI

3.1 Kegiatan Pendidikan Seksual

Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja ( 1994), secara umum


Pendidikan Seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas
manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan,
kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-
aspek kesehatan, kejiwaan, dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual
yang diberikan berkaitan dengan norma- norma yang berlaku dimasyarakat, apa
yang dilarang, apa yang dilazimkan, dan bagaimana melakukannya tanpa
melanggar aturan-aturan yang berlaku dimasyarakat.

Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat


menolong muda- mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada
dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk
menerengkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam
bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi
pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai
bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain,
berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak
serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi Praktis, Anak, Remaja dan Keluarga,
1991).

3.2 Tujuan Pendidikan Seksual

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek - aspek antomis dan


biologis juga menerengkan tentang aspek aspek psikologis dan moral.
Pendidikan seksual yang benara harus memasukkan unsur- unsur hak asasi
manusia. Juga nilai- nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan
merupaka pendidikan akhlaq dan moral juga.

Menurut Kartono Mohammad pendidikan seksual yanga baik mempunyai


tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggung jawab ( dalam

11
diskusi Panel Islam dan Pendidikan Seks Bagi Remaja, 1991). Juga dikatan bahwa
tujuan dari pendidikan seksual adlah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu
dan ingin mencoba hubungan seksual antar remaja,tetapi ingin menyiapkan agar
remaja tahu tentang seksualitas dan akibat- akibatnya bila dilakukan tanpa
mengetahu aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan
material seseorang Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk
memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam
hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan ( Tirto Husodo,
Seksualitet dalam Mengenal Dunia Remaja, 1987).

Penjabaran tujuan pendidikan seksual yang lebih lengkap sebagai berikut :

1. Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental, dan


proses kematangan emosiona yang berkaitan dengan masalah seksual pada
remaja.
2. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan
penyesuaian seksual ( peran , tuntutan, dan tanggung jawab )
3. Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua
manifestasi yang bervariasi.
4. Meberikan pengertian bahwa hubungan anatra manusia dapat membawa
kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
5. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esesnisa untuk
memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan hubungan dnegan
perilaku seksual.
6. Memberikan pengetahuan tentang kesalah dan penyimpanagn seksual agar
individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu
kesehatan fisik dan mentalnya.
7. Untuk mengurangi prostitusi usia remaja, kekuatan terhadap sekual yang tidak
rasional dan eksplorasi seks yang belebihan.
8. Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melekukan
aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran , misalnya
sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

12
3.3 Kiat Mengajarkan Pendidikan Seksual

Para ahli berpendapat bahwa pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu
sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Dalam
membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan
membutuhkan suasana yang akrab, terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan
anak.

Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau
bapak dengan anak laki-lakinya, sekalipun tidak ditutup kemungkinan dapat
terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya atau bapak dengan
anak perempuannya. Kemudian usahakan jangan sampai muncul keluhan seperti
tidak tahu harus mulai dari mana, kekakuan, kebingungan dan kehabisan bahan
pembicaraan.

Dalam memberikan pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak
bertanya mengenai seks. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana,
sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang
remaja dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan
berkembang kearah kedewasaan.

Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti yang


diuraikan oleh Singgih D. Gunarsa (1995):

1. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-


ragu atau malu.
2. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan
yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi,
boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses
pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya
tetap rasional.
3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan
kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9
atau 10 tahun t belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai

13
perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan
dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap
kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai
masalah tersebut.
4. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya
pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak
sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi
uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.
5. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan
pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu
untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap
oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat
(reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian
dari pengetahuannya.

14
BAB IV

PENUTUP

Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak kanak menuju masa
dewasa, secara umum biasanya terjadi sekitar usia 12 18 Tahun, dikarenakan
masa ini adalah masa peralihan, sehingga terjadi beberapa masalah yang
menyertainya.

Masa remaja ditandai dengan adanya banyak perubahan pada anak, dari
mulai perubahan fisik yang menunjukkan kematangan organ reproduksi serta
optimalnya fungsional organ organ tertentu, perubahan kognitif yang
menunjukkan kemajuan cara berpikir remaja serta perubahan sosio-emosi yang
berpengaruh besar terhadap kondisi kejiwaan remaja tersebut. Ada banyak faktor
yang harus diperhatikan selama pertumbuhan remaja, diantaranya : hubungan
dengan orang tua, hubungan dengan teman sebaya, kondisi lingkungan serta
pengetahuan kognitif anak.

Rencana edukasi yang dapat dilakukan pada perkembangan periode


dewasa adalah dengan kegiatan pendidikan seksual. Kegiatan ini merupakan salah
satu cara dalam mengantisipasi seks bebas dikalangan remaja.

15
DAFTAR PUSTAKA

Al-Mighwar Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia


Bandung.

Crow. 2004. Educational Psychology. New York : American Book Company.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan


Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakrta : Erlangga.

Morks, F.J., Knoers. A.M.P & Hadinoto S.R. 2001. Psikologi Perkembangan:
Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Sarwono, Sarlito W. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada

Santrock, John W. 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup,


Edisi 5 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Tirto Husodo. 1987. Seksualitet dalam Mengenal Dunia RemajaI. Bandung: PT


Remaja Rosdakarya

Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa. 2008. Psikologi Praktis, Anak, Remaja, dan
Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia

16