Anda di halaman 1dari 3

JAPANESE ENCHEPHALITIS

JAPANESE ENCHEPHALITIS
Causa RNA untai tunggal positif
Sifat agen Suhu: Hancur dengan pemanasan selama 30 menit di atas 56 C; titik inaktivasi termal (TIP)
adalah 40 C.
pH: Dilarutkan dalam lingkungan asam pH 1-3 (stabil di lingkungan alkalin pH 7-9).
Bahan kimia / disinfektan: Dilarutkan oleh pelarut organik dan lipida, deterjen umum, iodin, fenol
iodofen 70% etanol, glutaraldehida 2%, formaldehida 3-8%, sodium 1% hipoklorit
Bertahan hidup: Virus sangat labil dan tidak bertahan dengan baik di lingkungan; sensitif terhadap
sinar ultraviolet dan iradiasi gamma
Gejala klinis (a) a. Pada babi, viraemia terjadi dengan titer tinggi dan berlangsung selama 2-4 hari, Pada hewan,
hewan penyakit ini dapat menimbulkan abortus, kematian , atau tanpa gejala.
(b) manusia a. Pada manusia : Masa inkubasi bervariasi antara 4 sampai 14 hari. Perkembangan gejala terbagi atas
4 stadium: prodromal (2-3 hari), fase akut (3-4 hari), fase subakut (7-10 hari), fase penyembuhan/
convalescence (4-7minggu). Pada kasus fatal, pasien dapat koma dan meninggal.
b. Gejala biasanya datang tiba-tiba, seperti nyeri kepala, gangguan pernapasan, penurunan nafsu
makan, mual, sakit perut, muntah, kelainan saraf, termasuk gangguan jiwa. Gejala kerusakan otak
sehubungan dengan infeksi dapat berupa: kejang dan/atau pergerakan abnormal, pergerakan bola
mata yangtidak simetris, refl eks kornea negatif, pernapasan tidak teratur. Demam tidak terlalu
tinggi disertai gangguan pernapasan mungkin merupakan gejala klinis Japanese encephalitis.
Cara penularan a. Manusia Hewan
(a) Tidak terjadi penularan karena manusia adalah titik akhir perjalanan penyakit
Manusiahewan
(b)hewan b. Hewan manusia :
manusia Virus ini dipindahkan ke manusia saat nyamuk yang terinfeksi mengisap darah orang tersebut. Setelah
masuk ke dalam tubuh, lewat kapiler darah virus melakukan perjalanan ke berbagai kelenjar tempat virus
akan berkembang biak. Virus ini kemudian dapat memasuki ke seluruh aliran darah sampai akhirnya virus
mengendap di dalam otak. Disini virus menyebabkan gangguan-gangguan, terutama peradangan otak yang
serius. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 4-15 hari.
Pada babi, viraemia terjadi selama 2-4 hari dan diikuti dengan pembentukan antibodi dalam waktu 1-4
minggu. Virus JE dapat menembus plasenta tergantung pada umur kebuntingan dan galur virus JE .
Kematian fetus dan mumifikasi dapat terjadi apabila infeksi JE berlangsung pada umur kebuntingan 40-60
hari. Sedangkan infeksi JE sesudah umur kebuntingan 85 hari, kelainan yang ditimbulkan sangat sedikit.

Cara Untuk mengurangi penyebaran penyakit JE pada ternak, maka pemutusan rantai penularan (virus,
penanggulangan vektor nyamuk dan induk semang) perlu dilakukan. Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan
dalam rangka pemutusan rantai penularan, misalnya dilakukan penyuluhan kepada masyarakat
akan bahaya infeksi JE, ditetapkannya relokasi peternakan babi yang jauh dari pemukiman
penduduk yang pada tuntuk menghindari kontak antara vektor dengan manusia yang dapat
menyebabkan radang otak; menghambat populasi vektor ; dan penerapkan sistem karantina yang
ketat dengan cara memperketat pengawasan lalu lintas ternak ( khususnya babi ) di setiap daerah
point of entry. Pemasukan babi dari negara atau daerah positif JE ke wilayah Indonesia secara
ilegal perlu diwaspadai. Pemberian larvasida misalnya abate pada air yang menggenang, seperti
bak air, disertai dengan penyemprotan insektisida ataupun fogging untuk membunuh larva dan
nyamuk dewasa secara berkala, perlu dilakukan di rumah ataupun di sekitar kandang temak.
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi. Saat ini sudah tersedia sebuah vaksin
untuk Japanese ensefalitis (JE-VAX) dengan tiga seri dosis, yaitu dosis pertama, dosis kedua pada
hari ke 7 setelah dosis pertama, dan dosis ke tiga pada 30 hari setelah dosis pertama. Umumnya
vaksin diberikan kepada anak-anak sampai remaja usis di bawah 17 tahun di daerah-daerah
endemik JE. Bagi para wisatawan atau pelancong yang akan mengunjungi daerah endemis JE
dapat juga memanfaatkan vaksin ini sebagai langkah pencegahan