Anda di halaman 1dari 4

Reza Afrizona Fauzih

21100114120029
Teknik Geologi UNDIP

PEMBAHASAN LOG
Pada ketebalan 0-20 meter terdapat sikuen boundary berupa agradasi
dominan serta progradasi atau mengkasar keatas dan menebal keatas. Litologi
batupasir dengan tidak memiliki struktur sedimen, adanya keterdapatan bioturbasi
secara horizontal. Di ketebalan ini diinterpretasikan adalah daerah HST. Sikuen
boundary berupa coarsening upward menunjukkan arus regresi. Berdasarkan
litologi yang ada berupa batulempung serta batupasir maka ketebalan ini berada
pada daerah dengan arus tenang atau juga energy transportasi kecil sehingga
material sedimen yang halus dapat mengendap disana dan lama lama menjadi
lempung. Setelah itu permukaan air laut mengalami transgresi sehingga dapat
membentuk fining upward dan membentuk sikuen stratigrafi berupa TST. System
tract ini terbentuk selama tahap kenaikan tingkat dasar (base level) ketika tingkat
kenaikan melebihi tingkat sedimentasi di garis pantai (shoreline). Dari data diatas
dapat diinterpretasikan lingkungan pengendapan pada adalah delta.
Pada ketebalan 20-40 meter terlihat adanya bidang erosi yang
diindikasikan sebagai waktu pengendapan yang berbeda, serta terdapat endapan
mud. Pada ketebalan 40- 50 meter terdapat coarsening upward dan thickening,
dimana terlihat lapisan yang semakin mengkasar ke atas dan semakin menebal.
Pada ketebalan ini diinterpretasikan sebagai LST dengan ciri suplai sedimen lebih
besar dibandikan dengan akomodasi ruang sedimen serta dipengaruhi oleh arus
regresi. Pada ketebalan 50-72 meter terdapat suatu lapisan yang coarsening
upward, serta terdapat komposisi cangkang yang dominan. Pada ketebalan ini
dapat diinterpretasikan adalah daerah lST dengan suplai sedimen yang dominan
dibandingkan dengan ruang akomodasi. Pada ketebalan 73-83 meter terdapat jenis
perulangan yang sama serta terjadi penipisan dalam lapisannya (thinning), dapat
diinterpretasikan sebagai HST dilihat dari agradasi yang dominan. Dapat
dikatakan pada daerah tersebut memiliki suplai sedimen yang sama dengan
akomodasi ruangnya.
Pada ketebalan 83- 119 meter terjadi fining upward yaitu dicirikan dengan
ketebalan lapisa yang menipis. Pada ketebalan ini diinnterpretasikan sebagai TST
dengan sistem retrogradasi. Pada daerah ini memiliki ruang akomodasi yang lebih
besar dibandingkan dengan suplai sedimen dengan dikontrol oleh arus transgresi.
Pada ketebalan 119-148 meter didominasi oleh lapisan agradasi dominan dan
sedikit progradasi, artinya terjadi perualangan yang relatif sama serta
kecenderunga coarsening upward. Hal tersebut diindikasi sebagai daerah HST
dengan suplai sedimen yang berbanding lurus dengan akomodasinya. Pada
ketebalan 149-172 meter terdapat endapan dengan ukuran butir yang berbeda-
beda dengan lapisan yag cenderung fining upward. Lapisan ini diinterpretasikan
sebagai TST dengan sistem retrogradasi, yang dimana terdapat akomodasi ruang
sedimen yang lebih besar dibandingkan dengan suplai sedimen, dikontrol oleh
arus transgresi. Derah tersebut memiliki komposisi cangkang yang banyak serta
semakin ke atas terdapat itologi batugamping. Dapat diinterpretasikan sebagai
lingkungan laut dangkal.

PEMBAHASAN SEISMIK
Pada seismik 1 terlihat pada line trace 2750 -500 adanya pola yang tidak
teratur sehingga tidak dapat menentukan picking secara horizontal. Pada daerah
tersebut menunjukkan adanya kenampakan yang menumpuk dengan bentuk
vertical maka dapat diinterpretasikan pada daerah ini merupakan daerah reef
mounth atau Cautik daerah tersebut menunjukkan sistem tract yaitu TST. Pada
daerah tersebut diindikasikan mengalami transgresi sehingga menunjukan ada
terumbu yang tertransport karena adanya terumbu diinterpretasikan daerah itu
arusnya agradation atau retrogradation karena terumbu biasanya hidup dengan
arus seperti itu. Hal tersebut disebabkan pada keadaan agradation atau
retrogradation, air tidak dipengaruhi oleh sedimen influx sehingga air masih jernih
dan tidak menggangu metabolisme terumbu. Terlihat ada kenampakan onlap dan
kemudian pada ujungnya terdapat downlap menunjukkan bahwa adanya
progradation sehingga terumbu diinterpretasikan ada yang telah mati akibat
adanya sedimen influx yang menyebabkan air tidak menjadi jernih dan kemudian
mengalami transportasi. Terumbu yang sudah mati sebagian mengalami proses
erosi sehingga menjadi klastika, klastika-klastika tersebut membentuk gundukan
atau yang disebut reef mount.. Selanjutnya di line trace 500-0 terlihat kenampakan
pola downlap setelah itu menjadi tidak jelas kenampakannya pada seismic
diinterpretasikan daerah itu mengalami erosi dan terjadi jeda pengendapan yang
lumayan lama. Kemudian mengendap kembali material sedimen dengan pola
normal sehingga polanya menjadi konkordan.

Pada seismik 2 pada picking horizontal di bagian bawah merupakan


pengendapan yang terjadi saat syn reef depotisional. Karena ditunjukkan adanya
proses pengendapan dengan cara downlap setelah itu terjadi unconformity. Setelah
itu mengalami erosi dan kemudian terjadi jeda pengendapan, kemudian
terndapkan lagi secara downlap dan terjadi sitem arus LST. Setelah itu
diinterpretasikan mengalami transgesi sehingga terbentuk pengendapan secara
onlap, kemudian mengalami jeda pengendapan. Diinterpretasikan endapan yang
bagian atas adalah endapan post reef depositional kemudian terendapkan saat
proses transgesi sehingga terbentuknya onlap. Kemudian dilakukan picking lebih
lanjut terlihat adanya struktur sesar terlihat pada seismic tetapi tiba tiba
menghilang karena refleksi warna dari gelombang seismic itu sendiri.

Pada seismik 3 secara garis besar, seismik ini dibagi menjadi 2 bagian
berdasarkan pada jeda waktu pengendapannya. Pada line trace 1250 500 terlihat
kenampakan di seismic dengan pola yang tidak jelas diinterpretasikan daerah
tersebut adalah daerah yang isinya material lepasan. Lalu pada line trace 1750
1250 adanya perubahan muka air laut tetapi dengan skala local karena terlihat
adanya downlap sehingga menunjukan endapan yang coarsening upward hal itu
menunjukan regresi dengan suplai sedimen lebih banyak di banding dengan ruang
akomodasinya. Kejadian tersebut dipengaruhi oleh arus daripada gaya gravitasi
yang ada yaitu berupa arus suspensi. Penyempitan ruang akomodasi dipengaruhi
bukan hanya karena penurunan muka air laut, tapi bisa disebabkan juga oleh
adanya uplift di dasar permukaan laut karena adanya proses deformasi.
Selanjutnya diinterpretasikan mengalami transgesi berupa kenaikan air laut
terlihat pengendapan mengarah ke land work. Terlihat adanya toplap pada seismic
kenampakannya pada sudut berarti ada batas jeda waktu pengendapan karena
adanya perubahan arus. Pada bagian ini diinterpretasikan kenampakan onlap
berarti pengendapannya cenderung kearah landword dicirikan dengan sedimennya
berupa fining upward. Pada onlap itu material sedimen mengendap karenya gaya
gravitasi. Kemudian diinterpretasikan adanya erosi yang diakibatkan oleh faktor
fisika, kimia ataupun biologi (proses eksogenik) yang menyebabkan terjadinya
jeda waktu pengendapan. Pada bagian 2 pengendapan material cenderung
downlap yang berarti cenderung mengisi cekungan dengan tipe material sedimen
coarsening upward dan terjadi regresi dengan ciri suplai sedimen lebih kecil
dibanding ruang akomodasi. Kemudian diinterpretasikan arus secara global mulai
konstan sehingga terlihat pada seismik pola agradasi dengan kenampakan berupa
garis lurus. Pada seismik 3 ini lebih ditekankan akan picking secara stratigrafi
karena diindikasikan daerah ini tidak dipengaruhi oleh struktur geologi.
Pada seismik 4 terlihat adanya perubahan pola yang signifikan dengan
jumlah yang cukup banyak. Dapat diinterpretasikan pengaruh permukaan air laut
tetapi secara lokal karena iklim daerah itu dengan adanya gaya tarik bulan yang
prosesnya itu pasang surut air laut. Pada picking stratigrafi dan picking horizon
ditemukan bahwa bagian bawah umumnya berupa downlap yang berarti polanya
berupa coarsening upward dan disebabkan pengaruh dar regresi sehingga material
yang halus akan terendapkan lebih dahulu dan mengkasar ke atas sebagai akibat
suplai sedimen lebih kecil dibandingkan ruang akomodasi. Terlihat bagian onlap
pada lapisan diatasnya maka menunjukkan setelah mengalami regresi kemudian
terjadi transgresi yang menyebabkan fining upward. Hal tersebut menunjukkan
bahwa suplai sedimen lebih besar dibandingkan ruang akomodasi sehingga suplai
sedimen dari darat sebagai akibat pengaruh gravitasi akan mengendapkan gravel
terlebih dahulu dan kemudian akan menghalus keatas. Kemudian terlihat pola
agradasi yang berarti terlihat arus mulai konstan sebagai akibat pengaruh iklim
yang normal dan aktivitas tektonik yang tidak ada. Sehingga pengendapan
cenderung konstan. Hal ini diinterpretasikan muka air laut global yang konstan
sebagai akibat iklim di permukaan bumi yang relatif stabil. Pola pengendapan
pada seismik 4 secara garis besar yaitu awalnya berupa LST (downlap) kemudian
menjadi TST (onlap) dan selanjutnya HST (agradasi).