Anda di halaman 1dari 9

KEWARGANEGARAAN

Hak Asasi Manusia & Rule of Law


DAFTAR ISI

Daftar Isi.. 1

Bab I: Pendahuluan.. 2
1.1 Latar belakang 2
1.2 Rumusan Masalah.. 2
1.3 Tujuan Penelitian... 2
1.4 Metode Memperoleh Data. 3
Bab II: Isi. 4
2.1 Studi Kasus Pelanggaran HAM. 4
2.2 Hasil Analisis 5
Bab III: Penutup. 7
Daftar Pustaka. 8

1
BAB I
Pendahuluan

1.1.Latar belakang

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kedudukan paling tinggi dari
ciptaan lainnya karena manusia makhluk yang memiliki akal dan pikiran, memiliki rasa ingin
tahu yang besar tentang benda-benda disekitarnya. Dalam menjalani kehidupan ini, mausia
tidak dapat hidup seorang diri, maka dari itu manusia disebut makhluk sosial sehingga
terbentuk peraturan-peraturan yang membatasi manusia dalam menjalani kehidupan. Setiap
manusia memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, namun diantara semua hak dan
kewajiban yang ada, manusia memiliki sebuah hak yang sama yaitu Hak Asasi Manusia.
Menurut John Locke, HAM ialah hak-hak yang langsung diberikan Tuhan yang esa kepada
manusia sebagai hak yang kodrati. Oleh karenanya, tidak ada kekuatan apapun di dunia yang
bisa mencabutnya. HAM ini sifatnya fundamental atau mendasar bagi kehidupan manusia dan
pada hakikatnya sangat suci. Oleh karna sifatnya yang fundamental, jika ada seseorang yang
menlanggar hak asasi orang lain, maka seseorang tersebut akan menerima hukuman.

1.2.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini, yaitu;

1. Jenis pelanggaran HAM apa yang terjadi pada kasus kematian Angeline
2. Apa faktor yang menyebabkan kematian Angeline
3. Undang-undang apa yang mengatur pelanggaran HAM pada kasus ini

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan yang dicapai melalui kasus Angeline adalah mengetahui jenis
pelanggaran HAM yang terjadi pada kasus ini, faktor yang menyebabkan kematian Angeline,
dan UU yang berhubungan dengan kasus ini serta menjelaskan perspektif kasus Angeline
dilihat dari Indonesia sebagai negara hukum dan HAM.

2
1.4. Metode Memperoleh Data

Dalam bagian ini dijelaskan cara-cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang
dibutuhkan dalam penyusunan studi kasus, adalah; Metode Dokumentasi, dokumentasi adalah
pengumpulan data dari tempat penelitian, yaitu meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-
peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, dan data-data dari penelitian
terdahulu.

3
BAB II
ISI

A. Studi Kasus Pelanggaran HAM

Menyingkap Tabir TV One Eksklusif Kematian Angeline 29 Juni 2015

Setelah melakukan rangkaian penyidikan yang cukup panjang, aparat kepolisian daerah
Bali akhirnya menetapkan Margriet C. Megawe sebagai tersangka pembunuhan Angeline, anak
angkatnya yang masih berusia 8 tahun. Keterangan tersangka sebelumya, Aguntinus T.
Hamdamai dan hasil forensik pihak kedokteran jadi bukti keterlibatan Margriet dalam kasus
pembunuhan ini. Dalam sangkaannya, Margriet sebagai pelaku utama sedangkan Agus ikut
serta dalam pembunuhan.

Penetapan ini seolah menjawab kecurigaan berbagai pihak soal siapa dalang
pembunuhan bocah 8 tahun, yang mayatnya ditemukan terkubur di dekat kandang ayam ini.
Menurut polisi, barang bukti yang digunakan untuk menjerat Margriet diantaranya keterangan
tersangka Agus, hasil otopsi dari tim forensik RS Sanglah Denpasar, hasil forensik tim inafis
Mabes Polri serta hasil olah TKP yang dilakukan Polda Bali. Penetapan tersangka ini
disampaikan langsung oleh Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Hery Wiyanto.

Proses pembuktian soal ketelibatan Margriet dalam kasus terbunuhnya Angeline


memang cukup rumit, awalnya hanya Agus yang ditetapkan sebagai tersangka. Seiring
perjalanan akhirnya polisi menetapkan Margriet sebagai tersangka. Namun bukan dalam kasus
pembunuhan Angeline, melainkan kasus penelantaran anak. Sejumlah pihak pun seolah tak
puas, mereka meyakini bahwa Margriet terlibat dalam kasus terbunuhnya Angeline.

Belum lagi keterangan yang menyudutkan Margriet dari orang yang pernah bekerja di
rumahnya saat itu. Soal tudingan yang menyudutkan kliennya itu sempat dibantah oleh Hotma
Sitompul selaku kuasa hukum Margriet.

Sekarang polisi memiliki sejumlah alat bukti soal keterlibatan Margriet dalam kasus
pembunuhan Angeline.

Terbukti Bunuh Angeline, Margriet Divonis Penjara Seumur Hidup

4
Liputan6.com, Denpasar - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali,
memvonis ibu angkat Angeline, Margriet Christina Megawe dengan hukuman penjara seumur
hidup. Margriet dinyatakan terbukti membunuh Angeline secara berencana.

"Memutuskan terdakwa dipenjara seumur hidup," kata Ketua Majelis Hakim Edward
Harris, Senin (29/2/2016).

Vonis hakim ini sesuai dengan tuntutan jaksa. Dalam tuntutannya, jaksa menyatakan
Margriet melanggar Pasal 340 KUHP dan dakwaan kedua melanggar Pasal 76 ayat 1 juncto
Pasal 88 Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan dakwaan ketiga
melanggar Pasal 76B jo Pasal 77B UU Perlindungan Anak, dakwaan keempat Pasal 76 a jo
Pasal 77 UU Perlindungan Anak.

Angeline yang dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015 ditemukan meninggal pada 10 Juni
2015. Jasadnya dikubur di halaman belakang rumah ibu angkatnya, Margriet Megawe, di Jalan
Sedap Malam, Sanur, Bali.

Dari hasil autopsi jenazah bocah yang bernama asli Engeline itu ditemukan banyak luka
lebam di sekujur tubuhnya. Luka bekas sundutan rokok dan jeratan tali juga ditemukan di leher
bocah tersebut.

B. Hasil Analisis

Kasus kematian Angeline gadis kecil berusia 8 tahun sempat menjadi topik
perbincangan hangat pada pertengahan tahun 2015 di kalangan masyarakat Indonesia,
khususnya di daerah Bali, tempat tinggal Angeline. Tragis, kata tersebut dapat menggambarkan
bagaimana kematian Angeline. Bagaimana tidak, Angeline yang semula dilaporkan telah
hilang oleh pihak keluarga, ternyata menjadi korban pembunuhan berencana yang dilakukan
oleh ibu angkatnya Margriet dan pembantunya Agustinus.

Tidak hanya menjadi korban pembunuhan, menurut kesaksian dari beberapa ahli,
Angeline yang malang juga menjadi korban penyiksaan dan penganiyaan. Menurut sumber
yang kami dapatkan Angeline mengalami beberapa penganiayaan, diantaranya ;

1. Terdapat memar pada paha kanan samping luar, bokong kanan, pinggang kanan, perut
kanan bawah, tungkai kaki kanan samping luar, tungkai bawah kaki kanan, dan
punggung kaki kanan.

5
2. Dokter juga menemukan luka lecet pada lengan tangan kanan.
3. Pada bagian depan bawah lutut Angeline ditemukan luka lecet, punggung kanan luka
bakar berbentuk bulat, punggung kanan bawah bahu terdapat luka bakar akibat disundut
rokok.

Diungkapkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purwanta di Pengadilan Negeri Denpasar,


Kamis (4/2/2016), dalam peristiwa tersebut ada ketakutan terdakwa bahwa kekayaannya akan
dibagi. Itulah motifnya, yang kemudian membuat adanya hal tersebut, paparnya.
Melihat apa yang telah terjadi pada Angeline, kita dapat menyimpulkan bahwa kasus
ini merupakan kasus pelanggaran HAM anak yang berat. Karena bukan hanya menjadi korban
pembunuhan, namun Angeline juga mengalami penganiayaan dan penyiksaan. Kasus
pelanggaran HAM ini telah melanggar Undang Undang No. 4 tahun 1979 diatur tentang
kesejahteraan anak, Undang Undang No. 23 tahun 2002 diatur tentang perlindungan anak,
Undang Undang No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak, Keputusan Presiden No. 36 tahun
1990 diatur tentang ratifikasi konversi hak anak.
Melalui kasus ini hendaknya Aparat penegak hukum lebih jeli dan teliti lagi dalam
perlindungan hak Asasi Manusia khususnya pelanggaran hak asasi terhadap anak, yang mana
seorang anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak untuk perkembangan hidupnya,
dan juga kepada orangtua seharusnya membimbing dan memberikan pendidikan kepada
anaknya untuk membentuk mereka menjadi manusia seutuhnya. Terlebih. Negara Indonesia,
seperti yang termuat dalam UUD 1945 adalah negara hukum yang secara pasti mengharuskan
negara untuk menjamin hak asasi manusia tanpa memandangan jabatan, suku, agama, golongan
seseorang. Dan adanya lembaga yang melindungi HAM di Indonesia yang dikenal dengan
KOMNAS HAM.
Aparat penegak hukum juga diharapkan mampu memberikan hukuman yang pantas
terhadap tersangka kasus pelanggaran HAM, sehingga dengan demikian diharapkan kasus
pelanggaran HAM tidak terjadi lagi dikemudian hari.

BAB III
Penutup

6
Kesimpulan
Hak asasi merupakan hak fundamental yang dimiliki oleh seseorang sejak seseorang
tersebut lahir ke dunia. Indonesia juga menjunjung tinggi HAM bagi setiap warga negaranya
seperti yang tertulis dalam Undang-undang dasar Negara Republik Indonesia yang tercantum
di dalam Pasal 28 B ayat (2), yang berbunyi Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminas dan
sebagaimana yang diatur didalam Undang-undang Khusus Tentang Hak Asasi Manusia, yaitu
Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 11 yang berbunyi Setiap
orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara
layak.
Meskipun banyak terdapat Undang-Undang yang mengatur HAM dan tersedianya
lembaga yang mengawasi HAM, pelanggaran HAM bukan sesuatu yang mudah untuk dicegah
karna banyaknya faktor/motif yang membuat seseorang untuk melakukan pelanggaran HAM.
Hal yang dapat kita lakukan untuk paling tidak mengurangi kasus pelanggaran HAM
adalah memahami dan menerapkan pentingnya Hak Asasi Manusia dalam kehidupan dan
menerapkan pentingnya HAM dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dari perbuatan yang
baik.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Efridani. Martini. Lubis, Zulkifli.Japar, M. dkk. 2015. Pendidikan Kewarganegaraan.


Jakarta: UPT MKU UNJ

7
https://www.academia.edu/13462226/Peran_Serta_Masyarakat_Dalam_Upaya_Cegah_Keja
hatan_Studi_Kasus_Pembunuhan_Bocah_Angeline
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=11148#.Vz529zGSd
WE

http://www.qwerty.co.id/inilah-penyiksaan-yang-dialami-angeline-sebelum-dibunuh/950/

http://news.okezone.com/read/2016/02/04/340/1305142/jaksa-beberkan-motif-pembunuhan-
angeline