Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saliva adalah cairan yang terdapat dalam rongga mulut yang
mengandung bakteri mulut, sisa makanan dan sel-sel epitel yang
terdeskuamasi. Saliva disekresi dari glandula saliva mayor dan minor
bersama sama dengan ginggival crevicular fluid (GCF), merupakan cairan
oral atau keseluruhan saliva yang menyediakan lingkungan kimiawi dari
gigi dan jaringan lunak rongga mulut (Humprey & Williamson, 2011).
Saliva disekresi oleh sekelompok sel dalam kelenjar yang disebut
acini, saliva yang disekresi merupakan cairan yang tidak berwarna,
agak kental dan mengandung komponen-komponen organik dan anorganik.
Saliva mengandung dua enzim pencernaan yaitu lipase lingualis yang
disekresikan oleh kelenjar pada lidah dan ptialin (-amilase saliva) yang
disekresi oleh kelenjar saliva, saliva juga mengandung mucin yaitu suatu
glikoprotein yang melumaskan makanan sekitar 1.500ml (Hartini, 2009).
Kecepatan sekresi (flow rate) saliva bervariasi dari hampir tidak
dapat diukur pada waktu tidur sampai 3-4 ml/menit pada stimulasi
maksimal. Kelenjar saliva dapat dirangsang dengan beberapa cara, yaitu:
a. Mekanis, misalnya mengunyah makanan keras atau permen karet;
b. Kimiawi, oleh rangsangan rasa seperti asam, manis, asin, pahit, pedas;
c. Neuronal, melalui sistem syaraf autonom, baik simpatis maupun
parasimpatis;
d. Psikis, stress menghambat sekresi, ketegangan dan kemarahan dapat
menjadi stimulasi
e. Rangsangan rasa sakit, seperti radang, gingivitis, dan protesa dapat
menstimulasi sekresi.

Fungsi saliva adalah sebagai lubrikasi, pelindung, buffering action,


pembersih, anti pelarut dan antibakteri serta berperan dalam proses
pengecapan dan pencernaan dengan bantuan enzim amilase. Faktor yang ada
dalam saliva yang berhubungan dengan karies antara lain adalah aksi
penyangga dari saliva, komposisi kimiawi, aliran (flow), viskositas dan
faktor anti bakteri (Humprey & Williamson, 2011).
Derajat keasaman dan kapasitas buffer diperkirakan disebabkan oleh
susunan bikarbonat, yang meningkat sesuai dengan kecepatan sekresi. Hal
ini dapat diartikan bahwa pH dan kapasitas buffer saliva meningkat sesuai
dengan kenaikan laju kecepatan sekresi saliva. Bagian-bagian saliva lainnya,
seperti fosfat (terutama HPO4 2-) dan protein, hanya merupakan tambahan
sekunder pada kapasitas buffer. Ureum pada saliva dapat digunakan oleh
mikroorganisme pada rongga mulut dan menghasilkan pembentukan
amonia. Amonia tersebut akan menetralkan hasil akhir asam metabolisme
bakteri, sehingga pH menjadi lebih tinggi.
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur dan Kandungan Kelenjar Saliva

2.1.1 Anatomi Kelenjar Saliva

Saliva dihasilkan oleh kelenjar saliva yang terdiri atas sepasang kelenjar
saliva mayor serta beberapa kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri
dari kelenjar parotis, submandibularis, dan sublingualis. Kelenjar parotis
merupakan kelenjar saliva terbesar, terletak bilateral di depan telinga antara ramus
mandibularis dan processus mastoideus dengan bagian yang meluas ke muka di
bawah lengkung zigomatik. Kelenjar submandbularis merupakan kelenjar saliva
terbesar kedua yang terletak pada dasar mulut di bawah korpus mandibula.
Salurannya bermuara melalui lubang yang terdapat di samping frenulum lingualis.
Kelenjar sublingualis adalah kelenjar saliva mayor terkecil dan terletak paling
dalam, pada dasar mulut antara mandibula dan otot genioglossus. Masing-masing
kelenjar sublingualis sebelah kanan dan kiri bersatu untuk membentuk massa
kelenjar di sekitar frenulum lingualis. Kelenjar saliva minor terdiri dari kelenjar
lingualis, bukalis, labialis, palatinal, dan glossopalatinal. Kelenjar-kelenjar ini
berada di bawah mukosa dari bibir, lidah, pipi, serta palatum (Soejoto, dkk, 2010
dan Snell, 2000).

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Saliva


2.1.2 Mekanisme Sekresi Saliva

Saliva disekresi sekitar 1 sampai 1,5 liter setiap hari tergantung pada
tingkat perangsangan, baik dirangsang secara langsung oleh ujung-ujung saraf
yang ada di mukosa mulut maupun secara tidak langsung oleh rangsangan
mekanis (rangsang mekanik merupakan rangsang utama untuk meningkatkan
sekresi saliva), termis, kimiawi, psikis atau olfaktori. Kecepatan aliran saliva
bervariasi dari 0,1-4,0 ml/menit. Pada kecepatan 0,5 ml/menit sekitar 95% saliva
disekresi oleh kelenjar parotis dan kelenjar submandibularis, sisanya disekresi
oleh kelenjar sublingual dan kelenjar saliva minor (Despopoulus, 2000 dan
Soejoto, 2010).

Volume sebenarnya dari saliva per hari tidak diketahui karena terdapat
banyak variasi pada laju aliran saliva antara individu-individu. Laju aliran saliva
mengalami perubahan karena beberapa faktor berikut (Ganong, 1999):

1. Derajat hidrasi

Derajat hidrasi atau cairan tubuh merupakan faktor yang paling penting karena
apabila cairan tubuh berkurang 8% maka kecepatan aliran saliva berkurang hingga
mencapai nol. Sebaliknya hiperhidrasi akan meningkatkan kecepatan aliran saliva.
Pada keadaan dehidrasi, saliva menurun hingga mencapai nol.

2. Posisi tubuh

Posisi tubuh dalam keadaan berdiri merupakan posisi dengan kecepatan aliran
saliva tertinggi bila dibandingkan dengan posisi duduk dan berbaring. Pada posisi
berdiri, laju aliran saliva mencapai 100%, pada posisi duduk 69% dan pada posisi
berbaring 25%.

3. Paparan cahaya

Paparan cahaya mempengaruhi laju aliran saliva. Dalam keadaan gelap, laju aliran
saliva mengalami penurunan sebanyak 30-40%.

4. Irama siang dan malam


Laju aliran saliva memperlihatkan irama yang dapat mencapai puncaknya pada
siang hari dan menurun saat malam hari.

5. Obat

Penggunaan atropin dan obat kolinergik seperti antidepresan trisiklik, antipsikotik,


benzodiazepin, atropin, -blocker dan antihistamin dapat menurunkan laju aliran
saliva

6. Usia

Laju aliran saliva pada usia lebih tua mengalami penurunan, sedangkan pada anak
dan dewasa laju aliran saliva meningkat.

7. Efek psikis

Efek psikis seperti berbicara tentang makanan dan melihat makanan dapat
meningkatkan laju aliran saliva. Sebaliknya, berfikir makanan yang tidak disukai
dapat menurunkan sekresi saliva.

8. Jenis Kelamin

Laju aliran saliva pada pria lebih tinggi daripada wanita. Perbedaan ini disebabkan
oleh karena ukuran kelenjar saliva pria lebih besar daripada kelenjar saliva wanita.

2.1.3 Kandungan Kelenjar Saliva

Saliva terdiri dari dua komponen yang mensekresi kembali melalui


mekanisme independen, yaitu:

a. Sebuah komponen cairan, yang meliputi ion, diproduksi khusus dalam


menanggapi rangsangan parasimpatis

b. Komponen protein dirilis khusus dalam menanggapi rangsangan simpatis

Saliva terdiri dari campuran kompleks dari zat anorganik dan organik yng
dapat secara luas dibagi menjadi elektrolit, enxim, protein lain, senyawa
meolekular dengan berat yang rendah dan vitamin-vitamin. Dalam saliva manusia
diperkirakan terdapat 200 protein yang berbeda. Sel-sel plasma dalam kelenjar
saliva menghasilkan antibodi, terutama dari kelas Immunoglobulin A (IgA) yang
ditransportasikan ke dalam saliva. Selain antibodi, saliva juga mengandung
beberapa jenis enzim antimikrobial seperti lisozim, laktoferin dan peroksidase
serta beberapa komponen seperti growth factor, yang berguna untuk menjaga
kesehatan dari jaringan luka mulut dan dapat membantu proses pencernaan,
khususnya karbohidrat (Soejoto, 2010 dan Arnold, 2010).

Arnoldw, Ganzer U. 2010.Otohinolaryngology, Head&Neck Sugery. New York:


Springer, p. 393-340.

2.1.4 Fungsi Saliva


Saliva memiliki berbagai macam fungsi diantaranya adalah untuk lubrikasi
jaringan dalam rongga mulut, melindungi jaringan dalam rongga mulut agar tidak
terjadi abrasi saat mastikasi berlangsung, membantu metabolisme karbohidrat,
aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen rongga mulut, membersihkan debris
dan sisa makanan yang tertinggal dalam rongga mulut, serta saliva juga turut
membantu mempertahankan kestabilan sistem bufer dalam rongga mulut (Roland,
2005).
Saliva memiliki sifat utama sebagai berikut:
1. Perlindungan ke jaringan oral danperi-oral
a. Pelumasan dengan mucins danglikoprotein
b. Antimikroba dan aktivitas pembersihan mengecilkan dindingsel
bakteri dan menghambat pertumbuhannya
c. Buffer produksi asam dengan bikarbonat dan pengendali pHplak
d. Remineralisasi dari enamel dengan kalsium danfosfat.
2. Memfasilitasi makan danberbicara
a. Pengolahan makanan, pengunyahan dan menelan
b. Pencernaan, inisiasi denganenzim
c. Meningkatkanrasa
Mengaktifkan pelumas berbicara sebagai fungsi motorik.

3. Penggunaan dalam pengujian diagnostik


a. Bakteri, ragi dan jumlah virus mengindikasikan aktivitas karies dan
mengubah respon imun maupun tes doagnostik untuk penyakit oral
dansistemik.
b. Keseimbangan hormonal untuk mengidentifikasi steroid dan
hormonseks (Roland, 2005).
2.1.5 Volume Saliva

Sekresi kelenjar saliva dikontrol oleh saraf simpatis dan parasimpatis.


Saraf simpatis menginervasi kelenjar parotis, submandibula, dan sublingualis.
Saraf parasimpatis selain menginervasi ketiga kelenjar di atas juga menginervasi
kelenjar saliva minor yang berada palatum. Saraf parasimpatis bertanggung
jawab pada sekresi saliva yaitu volume saliva yang dihasilkan oleh sel sekretori
(Rahayu, 2010).
Variasi sekresi saliva tergantung pada kondisi kelenjar saliva tanpa
stimulasi atau terstimulasi. Volume saliva tanpa stimulasi yaitu 0,3 mL dalam 1
menit dengan pH yang berkisar antara 6,10-6,47 dan dapat meningkat sampai 7,8
pada saat volume saiva mencapai volume maksimal. Volume saliva terstimulasi
3,0 mL dalam 1 menit dengan pH 7,62 (Rolleta, 2002).

2.2 Sorbitol
Sorbitol pertama kali ditemukan oleh ahli kimia dari Perancis yaitu Joseph
Boosingault pada tahun 1872 dari biji tanaman bunga ros. Proses hidrogenasi gula
menjadi sorbitol mulai berkembang pada tahun 1930. Pada tahun 1975 produsen
utama sorbitol adalah Roguette Freres dari Perancis. Sorbitol dinyatakan GRAS
(Generally Recognized As Safe) atau secara umum dikenal sebagai produk yang
aman oleh U.S. Food and Drug Administration dan disetujui penggunaannya oleh
Uni Eropa serta banyak negara di seluruh dunia. Mencakup Australia, Austria,
Kanada dan Jepang.

Sorbitol (C6H14O6) berasal dari golongan gula alkohol. Gula alkohol


merupakan hasil reduksi dari glukosa di mana semua atom oksigen dalam molekul
gula alkohol yang sederhana terdapat dalam bentuk kelompok hidroksil, sinonim
dengan polyhidric alcohol (polyols). Polyols dapat dibagi menjadi dua yaitu
polyols asiklik dan polyols siklik. Sorbitol termasuk dalam kelompok polyols
asiklik dengan enam rantai karbon.

Sorbitol atau dikenal juga hexitol dengan rumus kimia C6H14O6.


Gambar 2.1 Struktur Kima Sorbitol (perry, 1999)

Nama kimia lain dari sorbitol adalah hexitol atau glusitol dengan rumus
kimia C6H14O6. Struktur molekulnya mirip dengan struktur molekul glukosa
hanya yang berbeda gugus aldehid pada glukosa diganti menjadi gugus alkohol.
Sorbitol pertama kali ditemukan dari juice Ash berry (Sorbus auncuparia L) di
tahun 1872. Setelah itu, sorbitol banyak ditemukan pada buah-buahan seperti apel,
plums, pears, cherris, kurma, peaches, dan apricots. Zat ini berupa bubuk kristal
berwarna putih yang higroskopis, tidak berbau dan berasa manis, sorbitol larut
dalam air, gliserol, propylene glycol, serta sedikit larut dalam metanol, etanol,
asam asetat, phenol dan acetamida. Namun tidak larut hampir dalam semua
pelarut organik.

Sorbitol dapat digunakan sebagai pengganti sukrosa pada penderita


penyakit diabetes. Nilai kalori makanan yang mengandung sorbitol sama tinggi
dengan gula, tapi rasa manisnya kira-kira hanya 60 persen rasa manis sukrosa.
Kerugian sorbitol adalah bila dipakai dalam jumlah yang berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya diare. Sorbitol merupakan gula yang diabsorbsi sangat
sedikit oleh usus halus, sehingga sorbitol akan langsung masuk ke usus besar dan
dapat menunjang terjadinya diare dan perut kembung (Soesilo D, 2005).

2.3 Sukrosa

Sukrosa merupakan disakarida yang berasal dari tebu (Saccharum


officinarum). Sukrosa tersusun atas sebuah -D-glucophyranosil dan -D-
fructofuranosyl yang berikatan antar ujung reduksinya. Sukrosa tidak mempunyai
ujung pereduksi sehingga termasuk dalam gula non pereduksi (Fennema, 1996).
Sukrosa (C12H22O11) membentuk kristal keras anhydrous dalam bentuk
monoklin, yang mempunyai tiga sumbu asimetris berbeda panjangnya.
Mempunyai densitas 1,606 g/cm3, berat molekul 342, berat jenis 1,033 sampai
1,106 (Suparmo dan Sudarminto, 1991).Pada gula pasir mempunyai kandungan
gula reduksi sebanyak 1,24% sedangkan kandungan sukrosa adalah 97,10%
(Thorpe, 1974). Hui (1991) menyatakan bahwa pada gula bubuk biasanya
ditambahkan tepung jagung 3% untuk mencegah penggumpalan.

Sukrosa mempunyai sifat sedikit higroskopis dan mudah larut dalam air.
Semakin tinggi suhu, kelarutannya semakin besar. Menurut Tranggono (1990)
satu gram sukrosa dapat larut dalam 0,5 ml air pada suhu kamar/ 0,2 ml dalam air
mendidih, dalam 170 ml alcohol/ 100 ml methanol. Kristal sukrosa bersifat stabil
di udara terbuka dan dalam keadaan yang langsung berhubungan dengan udara
dapat menyerap air sebanyak 1% dari total berat dan akan dilepaskan kembali
apabila dipanaskan pada suhu 90C (Sudarmaji, 1982). Higroskopisitas dikenal
sebagai kemampuan untuk menyerap dan menahan air. Sukrosa memiliki sifat
sedikit lebih higroskopis daripada dekstrosa monohidrat. Pada RH 90% dan suhu
25C, sukrosa mampu menyerap 50 60% air sedangkan dekstrosa hanya
menyerap 17 18% air (Mc Wiloiams, 2001). Hal ini dapat terjadi karena sukrosa
memiliki keseimbangan kelembaban (ERH) yang lebih rendah daripada dekstrosa
monohidrat (Achdiyan dan Abudaeri, 1999). Jika produk memiliki ERH lebih
rendah daripada RH lingkungannya maka produk tersebut akan cenderung
menjadi basah/ lengket (Schenck and Hebeda, 1992).

Sukrosa merupakan gula yang paling kariogenik dibandingkan gula


lainnya. Hal ini disebabkan karena sintesis polisakarida ekstra sel sukrosa lebih
cepat dibandingkan glukosa, fruktosa dan laktosa. Selain itu, sukrosa memiliki
kemampuan yang lebih efisien terhadap pertumbuhan mikroorganisme asidogenik
seperti s.mutans dibandingkan dengan karbohidrat lainnya (Ramayanti dan
Purnakarya, 2013).

Disakarida sukrosa dapat diubah menjadi 2 monosakarida yaitu fruktosa


dan glukosa. Proses ini dikatalisis oleh enzim dari kelas sukrase. Enzim invertase
merupakan salah satu contoh enzim dari kelas enzim sukrase. Prinsip kerja enzim
ini adalah dengan memutuskan ikatan glikosidik antara oksigen dan glukosa
residu hingga akhirnya terbentuk fruktosa dan glukosa (Horton, 2012: 348).
BAB III

METODE DAN HASIL

3.1 Alat dan Bahan

Alat:
1. Baker glass
2.KasadanKapas
3. PH meter
4.GelasUkur
5.Permen (xylitol &sukrosa)
6.Stopwatch
Bahan :
1. Saliva
2. Air
3.2 Cara Kerja

1. Mahasiswa dibagi menjadi dalam beberapa keolmpok


2. Tiap-tiap kelompok menyiapkan 2 orang anggota kemlompok dengan oral
hygiene uang baik sebagai subyek (subyek I dan II) untuk pelaksanaan
praktikum
3. Masing-masing subyek diminta untuk berkumur menggunakan aqua
4. Selanjutnya subjek I dan II mengunyak kapas selama 10 menit sambil
menampung saliva dalam gelas ukur

Gambar 1. Subyek mengunyah kapas selama 10 menit sambil menanmpung saliva

5. Setelah 10 menit, saliva diukur volumenya dalam gelas ukur


Gambar 2. Mengukur volume saliva

6. Mengukur pH saliva yang didapatkan menggunkan pH meter. Untuk


menjaga akurasi pH meter, perlu dilakukan pencucian dengan
menggunakan aqua dan dikeringkan menggunkan kertas tissue

Gambar 3. Mengukur pH saliva Gambar 4. Mencuci pH meter

7. Subyek istirahat selama 15 menit


8. Selanjutnya:
- Subyek I mengunyah permen karet yang mengandung gula
sukrosa selama 10 menit sambil menampung sliva didalam
gelas ukur
- Subyek II mengunyah peremen karet yang mengandung gula
xylitol selama 10 menit sambil menampung saliva didalam
gelas ukur
9. Setelah 10 menit mengunyah permen karet, saliva subyek I dan II
dilakukan perlakuan cara kerja nomer 5 dan 6
10. Catat hasil yang didapatkan oleh smeua keompok dalam sebuah tabel, buat
pembahasan dan kesimpulannya

3.3 Hasil Praktikum

Tabel 1. Hasil pengukuran pH dan volume saliva dengan pH air = 7

Mahasiswa coba 1 Mahasiswa coba 2

Kapas Xylitol Kapas Sukrosa


pH Volume pH Volume pH Volume pH Volume

6,8 15 ml 6,8 20 ml 7 20 ml 6,9 28 ml

Pada praktikum pengaruh makanan terhadap sekresi dan pH saliva


didapatkan hasil yaitu pada mahasiswa coba 1, pengunyahan kapas menghasilkan
15 ml saliva dengan pH 6,8. Pengunyahan xylitol menghasilkan 20 ml saliva
dengan pH tetap 6,8. Pada mahasiswa coba 1 terjadi peningkatan sekresi saliva
sebanyak 5 ml saat pengunyahan xylitol.

Pada mahasiswa coba 2, pengunyahan kapas menghasilkan 20 ml saliva


dengan pH 7 dan pengunyahan sukrosa menghasilkan 28 ml saliva dengan pH 6,9.
Pada mahasiswa coba 2 terjadi peningkatan sekresi saliva sebanyak 8 ml dan
penurunan pH saliva sebanyak 0,1.

Gambar. (kiri) Pengunyahan xylitol, (kanan) Pengunyahan sukrosa


BAB IV

PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa sebelum dan sesudah


mengunyah permen karet yang mengandung sukrosa dan xylitol dapat
menghasilkan respon yang berbeda dalam pH saliva. Hal ini secara umum dapat
terjadi karena dengan mengunyah permen karet dapat menstimulus secara
mekanis maupun kimiawi terhadap kelenjar saliva major dan kelenjar saliva
minor. Dalam penelitian ini stimulus mekanis berupa proses pengunyahan permen
karet selama 10 menit, stimulus kimiawi berupa sukrosa dan xylitol. Stimulus
mekanis dapat merangsang peningkatan sekresi saliva sedangkan sensasi
pengecapan rasa manis dan menthol dari permen karet merupakan stimulus
kimiawi yang dapat meningkatkan aliran saliva.
Saliva berperan untuk menetralkan dan membersihkan asam yang
diproduksi oleh bakteri sehingga memberikan efek remineralisasi enamel gigi.
Saliva juga memiliki peranan penting dalam proses biologis yang terjadi di rongga
mulut diantaranya sebagai pelumas pada pengunyahan, penelanan makanan, aksi
pembersihan dan perlindungan dari karies gigi. Laju aliran saliva dapat distimulasi
dengan cara mekanis dan kimiawi. Secara mekanis dapat berupa aktivitas
pengunyahan sedangkan secara kimiawi berupa efek pengecapan seperti asam,
manis, asin, pahit. Efek mengunyah permen karet telah terbukti meningkatkan
laju aliran saliva 5-6 ml/menit. Kelenjar saliva yang paling terstimulasi adalah
kelenjar parotis. Hasil sekresi kelenjar parotis berupa serus maka akan
menyebabkan viskositas saliva lebih encer. Volume yang bertambah dan saliva
makin encer, secara mekanis mengurangi kesempatan mikroorganisme untuk
berkolonisasi di dalam rongga mulut. Meningkatnya volume saliva menyebabkan
peningkatan kandungan organik dan anorganik saliva. Komponen organik saliva
yang berperan yaitu Imunoglobulin A (IgA), musin, lisosim, laktoferin dan
laktoperoksidase dapat menekan pertumbuhan bakteri. Imunoglobulin A (IgA)
berperan dalam aktivitas opsonisasi, bakteriosid, dan bakteriolitik. Juga
Imunoglobulin A (IgA) merupakan faktor agregat. Musin adalah protein
bermolekul tinggi (glikoprotein) dapat mengagregasi bakteri rongga mulut,
sehingga bakteri akan terbawa oleh minuman dan makanan kelambung dan
menjadi tidak aktif karena berada dalam lingkungan asam. Lisosim merupakan
enzim proteolitik dapat menghidrolisis komponen dinding sel bakteri, yang
mengakibatkan kebocoran dinding sel bakteri sehingga cairan sel, elektrolit dan
molekul bioorganik kecil keluar. Hal ini menyebabkan bakteri mati karena
kekurangan molekul yang diperlukan untuk hidup. Laktoferin merupakan suatu
protein yang berikatan dengan besi dan memiliki efek bakterisid terutama pada
Streptococcus mutans. Laktoperoksidase dan tiosianat terdapat dalam sekresi
saliva, sedangkan hidrogen peroksida dihasilkan oleh beberapa jenis
mikroorganisme mulut. Hasil dari keberadaan sistem laktoperoksidase adalah
terbentuknya hipotiosianat (OSCN-) yang dapat mengoksidasi enzim bakteri pada
membran sel. Sistem peroksidase dapat menghambat produksi asam dan
pertumbuhan Streptococcus. Komponen anorganik saliva yang berperan dalam
penelitian ini bikarbonat dan tiosianat. Bikarbonat melindungi dengan cara
menekan naik turunnya derajat keasaman pH saliva, sedangkan tiosianat berperan
dalam sistem laktoperoksidase.
Pada percobaan yang dilakukan sekresi saliva yang terstimulasi akan
menyebabkan kecepatan aliran saliva makin cepat dan meningkatan volume
saliva. Hal ini dibuktikan pada percobaan orang 1 dan 2. Dapat dilihat bahwa
sebelum mengunyah permen karet mengandung xylitol, orang coba 1 mengunyah
kapas menghasilkan volume saliva sebanyak 15 ml, namun setelah orang coba 1
mengunyah permen karet xylitol didapatkan hasil volume saliva sebanyak 20 ml.
Begitu pula yang terjadi pada orang coba 2, yaitu sebelum mengunyah permen
karet mengandung sukrosa orang coba menghasilkan volume saliva sebanyak 20
ml, dan setelah orang coba mengunyah permen karet sukrosa didapatkan hasil
volume saliva yang meningkat yaitu sebesar 28 ml.
Sukrosa banyak dikonsumsi orang karena rasa manis dan bahan dasarnya
mudah diperoleh, biaya produksinya cukup murah. Hanya sukrosa disintesa lebih
cepat dari karbohidrat lainnya seperti glukosa, fruktosa dan laktosa sehingga di
ubah menjadi glukan dan fruktan. Glukan diperlukan pada proses glikolisis
bakteri menghasilkan energi dan asam laktat, yang ini akan menyebabkan pH
turun dalam waktu 1-3 menit sampai pH 4,5 5,0, kemudian pH akan kembali
normal pada pH sekitar 7 dalam waktu 30 60 menit. Jika penurunan pH ini terjadi
secara terus menerus akan terjadi demineralisasi pada permukaan gigi. Pertama
kali akan terlihat bercak putih (white spot) pada permukaan enamel dan lesi
demineralisasi tersebut akan berkembang menjadi karies. Tetapi pada percobaan
yang kami lakukan penurun pH dari 7 lalu 6,9 yang disebabkan beberapa faktor
salah satunya kandungan sukrosa yang di konsumsi rendah sehingga tidak dapat
membuat pH dalam keadaan asam.
Xylitol bahan yang tidak dapat difermentasi oleh bakteri dan tidak diubah
menjadi asam, sehingga dapat mendorong keseimbangan asam basa di dalam
mulut, juga mempunyai efek merangsang kecepatan sekresi saliva dan menekan
pertumbuhan Streptococcus mutans. Mekanisme penghambatan spesifik xylitol
terhadap metabolisme Streptococcus mutans dikarenakan aktivitasnya ketika
memasuki sel bakteri tersebut. Xylitol ditransfer ke dalam sel Streptococcus
mutans melalui sistem fosfotransferase yang diproduksi secara konstitutif dan
membentuk xylitol-5-fosfat yang tidak dapat dimetabolisme. Penumpukan
senyawa ini menghambat kerja substansi-substansi yang berperan dalam proses
glikolisis seperti glukosa-6-fosfat, fruktosa-6-fosfat, gliseraldehid-3- fosfat,
fruktosa-1,6-bifosfat, 3-fosfogliserat, 2-fosfogliserat, dan fosfoenolpiruvat. Hal ini
mengakibatkan menurunnya energi yang dihasilkan saat metabolisme karena
terganggunya proses glikolisis, yang akhirnya akan lisis (Streptococcus mutans)
dan jumlah koloninya didalam saliva akan menurun.
Respon penelitian terhadap pH saliva tertinggi adalah pada pengunyah
permen karet yang mengandung xylitol. Xylitol merupakan pemanis yang
memiliki 5 atom karbon, bukan 6 seperti pemanis lain sehingga bakteri tidak
memfermentasi. Kecepatan aliran mempengaruhi konsentrasi komponen saliva,
dengan demikian Na dan karbonat akan meningkat, hali ini akan meningkatkan
pH saliva. Hal ini sejalan dengan penelitian, kecepatan aliran saliva tertinggi pada
pengunyah permen karet yang mengandung xylitol bagitupun pH nya.
Sterptococcus mutans dapat dicegah adhesi nya oleh probiotik sehingga kolonisasi
Streptococcus mutans dihambat, jumlah asam hasil glikolisis berkurang sehingga
pH saliva dapat meningkat.Sukrosa dapat dipermentasi Streptococcus mutans
sehingga asam hasil glikolisis bertambah sehingga pH saliva akan menurun.
BAB V

PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

Saliva merupakan suatu cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna
terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada
mukosa oral. Derajat keasaman (pH) pada saliva dipengaruhi oleh beberapa
faktor, namun umumnya saliva memiliki pH yang berkisar antara 7,0.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung sukrosa dapat menurunkan pH saliva
menjadi lebih asam sehingga menyebabkan resiko terjadinya karies. Sedangkan
apabila mengkonsumsi xylitol dapat menstimulasi meningkatnya sekresi saliva
dan membuat pH mulut menjadi lebih tinggi sehingga menurunkan resiko
terjadinya karies.

5.2 SARAN

Kurangi mengkonsumsi sukrosa karena dapat menyebabkan turunnya pH


mulut dan meningkatkan resiko terjadinya karies. Gantilah gula sukrosa dengan
gula xylitol karena jika mengkonsumsi xylitol dapat menstimulasi meningkatnya
sekresi saliva dan membuat pH mulut menjadi lebih tinggi sehingga menurunkan
resiko terjadinya karies.
DAFTAR PUSTAKA

Despopoulos A. Silbernagl S. Atlas Berwarna & Teks Fisiologi. 4 ed. Jakarta :


Hipokartes; 2000. 202-203.

Fennema, O. R. 1996. Food Chemistry. Third Edition. University of Wiscorsin


Madison. New York

Ganong, W F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17 ed. Jakarta : EGC; 1999. 477

Hartini, Dewi. (2009). Perbedaan Pengaruh Mengunyah Permen Karet Yang


Mengandung Sukrosa Dan Xylitol-Sorbitol Terhadap Perubahan Ph Saliva
(Studi Eksperimental Pada Siswa SD Negeri Wirosari 02 Kabupaten
Kendal). Universitas Diponegoro.
Humprey SP, Williamson RT. (2011). A Review of Saliva Normal Composition,
Flow and Function. J Prosthet Dent p;85(2):162-169.

Hui, Y.H., 1992. Encyclopedia of Food Science and Technology. Jhon Wiley and
Sons Inc. New York

Horton, R.H. 2012. Principle of Biochemistry Ed.5. United Stated of American:


Pearson, p. 348.

Lecture Notes Histologi II. Semarang: Bagian Histologi Fakultas Kedokteran


Universitas Diponegoro; 2010. 25-30.

Mc. William. 2001. Food Experimental Prespectives. 4th edition. Prentice Hall,
Inc. New Jersey

Rahayu F.A, Handajani J. 2010.Mengkonsumsi minuman beralkohol dapat


menurunkan derajat keasaman dan volume saliva. Dent J: Dentika;
15(1);15-9.

Ramayanti, S., Purnakarya, I. 2013. Peran Makanan Terhadap Keadaan Karies


Gigi. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(2): 89-93.

Roland S.M. 2005. Gigi penasihat kesehatan oral aksi, gigi umum praktisi st. john
wood.London.
Roletta H.E. 2002. Pengaruh stimulus pengunyahan dan pengecapan terhadap
kecepatan aliran dan pH saliva. J Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia;;1(9):29-34.

Schenck, F. W. and Hebeda, R. E. 1992. Starch Hydrolysis Product, Worldwide


Technology, Production and Aplication. VCH Publisher, Inc. New York.

Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6 ed. Jakarta: EGC;
2000. 736-40.

Soejoto, Soetedjo, Faradz SMH, Witjahyo RB, Susilaningsih N, Purwati RD, et al.

Soesilo, D, Santoso, ER & Diyatri, I, 2005, The Role of Sorbitol in Maintaining


Salivas PH to Prevent Caries, Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 38, No. 1,
hal. 25

Sudarmadji, Slamet, Haryono, Bambang, dan Suhardi. 1997. Prosedur Analisa


untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta

Thorpe. 1974. Thorpes Dictionary of Applied Chemistry. Vol XI. Fourt Ed.
Longmans Green and Company. London

Tranggono, S., Sutardi, Haryadi, Suparno, A., Murdiyati, S., Sudarmadji, K.,
Rahayu, S., Naruki, M., dan Astuti. 1990. Bahan Tambahan Makanan (Food
Additive). Pusat Antar Universitas Pangan Dan gizi. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.