Anda di halaman 1dari 8

WAWASAN KEMARITIMAN

TEKNOLOGI AI PADA BIDANG MILITER

ASRIF FAJAR HIDAYAT


E1E1 16 066

JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
1. Teknologi Night Vision

Night vision memiliki sejarah panjang digunakan militer. Di desain oleh


Galileo sehingga terkenal secara luas digunakan sampai akhir abad ke-19.
Penglihatan malam (night vision) adalah sebuah teknologi yang mempunyai
kemampuan untuk melihat dengan baik dalam lingkungan gelap. Night vision
digunakan pertama kali pada Perang Dunia ke-II dan sering digunakan pada
perang di Vietnam.
night vision digunakan untuk tujuan militer, dan membantu melindungi
dan menjaga personil bersenjata dari kemungkinan bahaya di medan
pertempuran. Generasi yang lebih tua dari kacamata night vision menggunakan
cahaya inframerah, sehingga orang dapat melihat melalui penglihatan
kacamata untuk mendapatkan gambar dari target.
Sebuah perangkat night vision sebenarnya bekerja dengan 2 cara yang
berbeda tergantung teknologi yang digunakan. Pertama, dengan memperkuat
gambar. Cara ini bekerja dengan mengumpulkan sejumlah kecil cahaya,
termasuk sepotong spektrum cahaya infrared yang tertangkap, yang ada tetapi
mungkin tidak terlihat oleh mata biasa, kemudian memperkuatnya sehingga
gambar tersebut dapat dilihat dengan mudah.
Kedua, dengan sistem pemanasan gambar. Teknologi ini beroperasi
dengan menangkap bagian tertinggi dari spektrum cahaya infrared, yang
dipancarkan oleh objek yang digambarkan sebagai cahaya. Objek yang lebih
panas seperti panas tubuh manusia, memancarkan lebih banyak cahaya
dibandingkan objek yang lebih dingin seperti pohon atau bangunan.
Cahaya infrared dapat dipilah menjadi tiga kategori:

1. Mendekati Infrared merupakan cahaya yang dapat terlihat dengan


panjang gelombang dari 0,7 hingga 1,3 mikron atau 700 billion hingga
1300 billion meter.
2. Pertengahan Infrared merupakan cahaya dengan panjang gelombang
dari 1,3 hingga 3 mikron. Kedua tipe ini digunakan oleh bermacam
perangkat elektronik termasuk remote control.
3. Infrared Thermal merupakan cahaya yang menempati bagian terbesar
dari spektrum infrared dengan panjang gelombang 3 mikron hingga
30 mikron.

Perbedaan utama antara infrared thermal dan dua yang lainnya bahwa
infrared thermal dipancarkan dari sebuah objek dan tidak merefleksikannya
kembali. Cahaya infrared memancar dari sebuah objek sebenarnya berkaitan
dengan apa yang disebut level atomik. Level atomik merupakan seberapa besar
jumlah atom pada sebuah cahaya.
Berkaitan dengan perangkat night vision, cahaya infrared yang
digunakan pada perangkat tersebut bekerja dengan dua cara yaitu thermal
imaging (berdasarkan panas dari image yang tertangkap) dan image
enhancement (memperkuat image yang tertangkap).
Kelemahan dari teknologi night vision ialah bahan-bahan yang
digunakan untuk membuat alat tersebut sangatlah mahal.
2. Free Electron LASER

LASER (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation)


yang merupakan penguatan cahaya oleh pemancaran radiasi yang terstimulasi.
Sesuai namanya, mekanisme laser mampu memancarkan suatu radiasi
elektromagnetik, yang biasanya tidak terlihat, melalui proses pancaran
terstimulasi. Berkat proses ini, cahaya yang telah dipancarkan oleh laser dapat
memiliki karakteristik khas yang dimilikinya, yakni diantaranya adalah:
1.Monokromatik (memiliki satu panjang gelombang yang spesifik)
2.Koheren (memiliki frekuensi yang sama)
3.Menuju arah yang sama (sehingga menempuh garis lurus).

Free Electron Laser (FEL) merupakan laser yang sedang dikembangkan


oleh Angkatan Laut (AL) yang dapat menembak jatuh roket dan misil yang
dapat menyerang kapal. Laser Elektron Bebas (FEL) seperti yang ditunjukkan
oleh namanya, FEL (Free Electron Laser) merupakan radiasi koheren oleh
elektron bebas yang bergerak dalam vakum, bukan elektron yang terikat pada
suatu atom seperti pada medium penghasil laser konvensional. Akibat radiasi
ini yang digunakan adalah tidak terkuantisasi, sehingga panjang gelombangnya
dapat diatur sesuai dengan kehendak pemakai. Gambaran dari skematik sebuah
FEL yang dibuat untuk pertama kalinya pada tahun 1975 oleh John MJ Madey
dan kawan-kawan yang berada di Stanford.
Di sini laser dihasilkan oleh interaksi antara tiga unsur, diantaranya
adalah sebagi berikut: berkas elektron berenergi tinggi, gelombang
elektromagnetik yang merambat searah dengan gerakan elektron, dan medan
magnet yang periodik dalam ruang, medan ini dihasilkan oleh piranti magnetik
yang disebut wiggler. FEL buatan Madey menggunakan wigller yang
berbentuk heliks. Berkas elektronnya disuntikkan ke dalam wigller dari sebuah
pemercepatan linier, besar arus elektronnya 2,6 A dengan energi sebesar 43
MeV. Di sini wigller berperan sebagai rongga laser, tempat elektron-elektron
berenergi tinggi memberikan tenaganya kepada gelombang elektromagnetik
yang merambat searah dengannya. Dalam FEL Madey gelombang
elektromagnetik yang akan diperkuat tenaganya dihasilkan oleh laser CO2
dengan panjang gelombang 10,6 mm. Medan gelombang elektromagnetik yang
akan diperkuat tenaganya berinterferensi dengan medan magnet periodik milik
wigller. Hasil interferensinya disebut dengan gelombang pukul yang
frekuensinya sama dengan frekuensi gelombang semula tetapi merambat
dengan angka gelombang yang lebih besar, karena angka gelombang dari
kedua medan yang berinterferensi saling menjumlah. Berkas elektron yang
dimasukkan akan berinteraksi dengan gelombang-pukul ini. Apabila sebuah
elektron bergerak lebih cepat daripada gelombang-pukul, ia akan diperlambat
dan menyerahkan sebagian energinya kepada gelombang-pukul. Proses
perbesaran energi pada gelombang akan berakhir pada saat elektron tadi
mencapai suatu keadaan dimana ia terjebak di dalam lembah gelombang-pukul.
Free Electron Laser (FEL) yang terdiri dari electron injector, particle
accelerator dan magnetic undulator atau wiggler. Rinciannya adalah sebagai
berikut:
Electron injector menginjeksikan elektron bebas ke partikel accelerator
Particle accelerator akan mengakselerasi elektron sampai kecepatan
cahaya (300.000 km/detik)
Elektron akan berpindah ke undulator dengan serangkaian magnet
Di dalam wiggler elektron akan berosilasi maju mundur, Saat membelok
elektron akan memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang
spesifik
Penempatan magnet didalam wiggler akan mengontrol panjang gelombang
yang dipancarkan. Laser jenis ini dapat diatur dengan cara mengatur jarak
magnetnya
Keunggulan FEL dibandingkan laser konvensional yaitu panjang
gelombang yang dihasilkan dapat diatur sesuai keinginan. Disamping itu
efisiensi perubahan energi masukan menjadi keluarannya cukup tinggi, dapat
mencapai 65%. FEL yang ada di LLNL mengubah 35% energi berkas elektron
menjadi radiasi gelombang mikro 8 mm dengan daya puncak satu milyar watt.
Daya ini sangatlah besar,sehingga pada masa depan FEL dapat digunakan
untuk memicu sebuah reaktor fusi nuklir seperti reaktor tokamak yang
membutuhkan radiasi berdaya rata-rata 20 juta watt pada panjang gelombang
lebih kecil daripada 1 mm.
Kelemahan FEL yaitu kharateristik dari laser yang selalu menuju arah
yang sama yang berarti laser FEL hanya bisa digunakan dalam jarak dekat dan
tidak bias menembak musuh dari jauh, karena FEL tidak bisa mengikuti
lengkukan dari bumi. Dan banyaknya daya yang dibutuhkan hanya untuk satu
kali penembakan.
3. Predator Drones

Dalam bidang militer, terdapat sebuah teknologi pesawat tak berawak atau
dalam bahasa Inggris disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dan disebut pula
RPAS (Remotely Piloted Aerial System). Dewasa ini seringkali kita menyebutnya
dengan sebutan Drones. Awalnya Drones dikembangkan untuk tujuan militer.
Diantaranya berfungsi sebagai mesin pengintai, pengumpul informasi intelijen,
mengidentifikasi target maupun mengawasi target. Pada masa sekarang ini, Drones
tidak hanya digunakan untuk tujuan militer atau spionase, namun untuk tujuan
komersil. Misalnya untuk mengambil gambar atau video dari ketinggian yg tidak
memungkinkan bila harus memaksa seorang juru kamera naik ke ketinggian
tertentu.

Seperti namanya, Drones bukanlah sekedar kendaraan biasa karena


sesungguhnya sistem yg bekerja di dalam Drones itu sendirilah yg mempunyai
peranan besar agar Drones dapat menjalankan tugasnya dengan tepat, efektif dan
efisien, seperti tujuan Drones itu sendiri diciptakan. Drones dikendalikan lewat
sebuah stasiun berisi pilot-pilot atau lebih tepatnya operator yang nama tempatnya
sendiri disebut Ground Control Station (GCS).

Sebuah Predator Drones mampu melaksanakan suatu misi sederhana secara


mandiri seperti pengintaian terprogram maupun dikendalikan langsung oleh kru di
stasiun control. Kru tersebut terdiri dari seorang pilot dan dua operator sensor. Pilot
tersebut mengendalikan Predator Drones menggunakan joystick standar untuk
mengendalikan pesawat serta instrumen terkait yg mengirimkan perintah lewat C-
Bands Line-of-Sight Data Link. Ketika operasi sudah berada jauh diluar
jangkauan, perintah akan dialihkan lewat Ku-Bands satellite link dan dikirim ke
satelit dahulu untuk kemudian baru diterima oleh Drones. Dalam hal ini, satelit
bertindak sebagai pengantara. Didalam kendaraan itu sendiri, Drones menerima
perintah menggunakan L-3 Com satellite data link system.

Dengan menggunakan teknologi Predator Drones dapat mengurangi


korban jiwa yang diakibatkan oleh perang, namun menggunakan teknologi
Predator Drones dapat menimbulkan beberapa masalah seperti, bug ataupun error
pada drones. Hal tersebut dalam membuat drones tidak dapat lagi berfungsi dengan
benar dan dapat jatuh, dan lebih parahnya lagi jika drones tersebut menyerang
secara membabi buta bahkan dapat menyerang kawan / daerah sendiri.