Anda di halaman 1dari 4

Didunia ini banyak misteri yang belum terungkap.

Bagaimana dunia ini tercipta dan siapa yang mengatur


perputaran segalanya,masih belum diketahui oleh otak manusia yang hanya sebesar batok kelapa ini
yang katanya telah berevolusi lebih cepat dari pada makhluk lainnya.Aku sendiri menyebutnya
takdir.Sebuah sel atau atompun memiliki takdirnya sendiri.Takdir dari Tuhan tidak akan pernah
diketahui,dicerna apalagi ditebak oleh manusia.Berbeda dengan orang yang tidak memiliki agama
(atheis) mereka hanya mengangga penciptaan,kelahiran dan kematian hanyalah suatu kebetulan.
Mungkin takdir,kemungkinan dan penciptaan hanya di peruntukkan untuk orang yang masih memiliki
seonggok iman dihatinya . Dan takdir yang telah dirancang Tuhan jauh-jauh hari sedang aku jalani.
Baru 3 bulan aku tinggal di Jakarta.Kota yang tidak ada kata kasihan padanya.Berbekal ijazah SMA dan
cita-cita setinggi langit ,aku meninggalkan kampung.Aku bekerja seadanya di Jakarta mulai dari siang
sampai malam , upah yang aku terimapun sama dengan nilai ijazah yang kudapatkan.Hanya 3 bulan
,Jakarta mampu mengubur cita-citaku yang telah ku rangkai sampai pada tanah yang terdalam. Hingga
akhirnya ku temukan diriku sedang tersudut di kontrakan 3 lantai ini.Kontrakan yang tidak terlalu kotor
ini adalah gubuk tempatku merebahkan badan.Aku tinggal di lantai 2 bersama 6 teman sekamarku yang
tidak terlaluku kenal . Akhir-akhir ini ,aku sangat sulit tidur,sepertinya ada sesuatu yang menganjal
dalam hatiku yang membuat mataku tak mau tidur.Seperti hari ini,aku terbangun dan menatap
sekeliling teman sekamarku sedang tertidur lelap. Aku berpikir insomniaku makin parah.Kulihat jam
dinding yang menemaniku menunjukkan pukul dua dinihari. Dengan alasan untuk mencari udara segara
aku pergi ke lantai 3.Lantai 3 yang kumaksud adalah tempat tanpa atap yang tepinya didinding dengan
kawat-kawat pembatas.Aku pun beranjak dari tempat tudir dan menuju lantai 3.Jalan satu satu hanyalah
melalui tangga besi yang sudah berkarat dan rapuh.Setiap kakiku menaiki anak tangganya terdengar
bunyi krekkk seolah-olah tangganya tak mampu lagi menahan tubuhku ini.Udara Jakarta malam ini
sangat hangat. Ku hirup udara Jakarta yang mengandung racub ini,bukan hanya polusinya tapi
kesombongannya juga menyesakkan dada.
Kulihat sekitarku dan kupandangi lampu lampu di apartemen yang masih hidup dan mobil mobil yang
tak pernah beranjak ke ranjang mereka.Jakarta emang tak pernah mati.Tapi sejak aku disini ada sesuatu
yang membuat kedua bolaku tertegun yaitu ,apartemen di depan kontrakan yang menjadi perbandingan
bagiku dengan teman-teman sekamar.Di sela-sela jendela kami melihat bagaimana makanan mereka
terhidang dan cara makan mereka.Semua tertata rapid an penuh sopan santun.Berbeda dengan kami
yang makan seperti harimau yang kelaparan di musim panas.Kami bagaikan sebuah planet venus yang
dingin dan iri dengan bumo yang penuh dengan kehangatan.Hinggu suatu ketika temanku mengatakan
Tuhan itu tidak adil
Semua tertegun dan diam,aku tak tau kenapa kami tertegun dan diam ,apakah setuju atau
bingung.Sedangkan aku masuk pada golongan yang bingung.Namun aku bukan pada kaum yang tidak
percara pada keestetikaan Tuhan.Mental yang terbentuk oleh agama seperti mengaji,walapun sering
absen dalam sholat aku, tetap percaya bahwa pasti ada yang mengatur segala liku-liku dan
permasalahan yang ada di dunia ini.Namun sampai saat ini aku belum mengetahui apa itu Tuhan
Banyak yang bilang kalau kamu bisa menemukan cinta maka kamu akan menukan Tuhan
Lalu neuron-neuron di otakku bekerja.Lalu apak tiu Tuhan?apakah itu cinta?.Apakah seseorang yang
telah menemukan salah satunya juga akan menemukan keduanya.Aku tetap berpikir di tengah hangat
malam Jakarta ini.Apakah mungkin Tuhan dan cinta itu seperti sebuah mata koin,yang memiliki sifat
satu,namun tidak bisa dipisahkan?.Seperti pepatah sebuah jawaban akan membuat ribuan pertanyaan
baru.Dan apakah Tuhan dan cinta juga di peruntukkan bagi orang yang homoseksual?.Apakah mereka
menemukan cinta dengan arti yang berbeda dengan orang lainnya mereka juga menemukan Tuhan?.
Semuanya pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam pikiran ku.
Apabila sebuah cahaya datang menginari sebuah pertanyaanku,kabut asap yang tebal akan menutupi
cahaya tersebut.ahhh kataku .Pertanyaan tentang Tuhan memang tidak dapat dicerna oleh otak
manusia yang hanya sebesar batok kelapa ini.Akupun melihat lahit.Apakah dia bersemayam
diasana.Lagit menatapku dengan sombong dan bintang-bintang yang diciptakanNya seperti
mebusungkan dadanya padaku.Seolah-olah mereka menyembunyikan tentang semua rahasia Tuhan
dibalik lembaran awan mereka.
Bercerita tentang Tuhan ,aku teringat dengan seorang teman yang bernama Citra. Dia adalah wanita
karir yang sukses dengan usianya yang masih sangat muda. Pekerjaannya di salah satu perusahaan
asuransi besar menuntutnya untuk selalu tampil prima sehingga kesan perfeksioin tergambar dalam
tindakannya. Dan tiap kali aku ngobrol dengan Citra begitu dia dipanggil. Entah kenapa aku diserang
gejala minder yang hebat. Auranya yang kuat selalu berhasil mengintimidasiku. Bagai dinosaurus dan
semut. Dengan tahu diri aku selalu menjaga jarak dengannya takut bila dia pingsan mencium bau
kemelaratan dariku.Yang menarik dari Citra adalah dia pernah 4 kali berpindah agama.Pernah sekali aku
bertana padanya tentang Tuhan.
Citra maaf sebelumnya. Menurut kamu Tuhan itu apa? yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah
mengapa dia bisa mudah saja berpindah haluan agama sampai empat kali.
Ahh apa yang bisa kubagikan padamu kawan hatiku langsung mekar hanya karena dia menyebutku
kawan.
Hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Begitu banyak cinta, begitu banyak rahasia. Tak ada
yang bisa kau berikan padanya selain rasa percaya. Aku terpana
Jika kau bertanya padaku tentang apa itu Tuhan? Tuhan itu apa yang bisa kau lihat, apa yang bisa kau
dengar, apa yang bisa kau yakini dan apa yang bisa kau rasa. Sebenarnya Tuhan itu berjalan bersama
kita, melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar dan merasa apa yang kita rasa. Bahkan
Tuhan itu lebih dekat daripada urat nadi. Tuhan itu mencakup segala sesuatu yang dapat terlihat
maupun tidak. Apakah kau mengerti?
Aku mengganguk saja walaupun kalimat-kalimat penuh makna itu terlalu sesak untuk bisa masuk
semuanya di kantong intelejensiaku yang terbatas.
Tapi ingat kawan, penjelasan bukanlah seperti pengalaman. Aku bisa berkata apa saja tapi jika kau tidak
pernah mengalaminya sendiri jangan pernah percaya! Aku menjawab pertanyaanmu sesuai
pengalamanku mata lestari makin berbinar ketika menjelaskannya.
Jadi kamu percaya Tuhan tanyaku
Pertannyaan itu hanya menginggung keestetikaan Tuhan
Aku pun memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan yang kupendam dari awal
jadi itu alasannya kamu pindah-pindah agama tanyaku
Citra pun diam dan menghela nafas.
Maaf.. ya Cit.. kataku
oh tak apa Susi.Bukan hanya kamu yang memberikan pertanyaan ini padaku
Seperti yang kubilang, hubungan manusia dengan Tuhan itu sangat intim. Seperti aku. Kedekatan antar
manusia dengan Tuhannya itu relatif, beda satu sama lain. Kau tidak bisa mengsamaratakan intensitas
kedekatan tiap manusia dengan Tuhannya harus sama dengan tiap manusia lainnya.Mendengarnya
kepalaku mendadak pening.
Dan juga agama adalah sebuah perjalanan bagiku. Saat kau lahir kau diberikan kaki untuk memulai
perjalanan lalu karena perjalanannya masih jau kau menggunakan sepeda. Di tengah jalan ternyata ada
sungai. Kau tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan sepeda kan? Akhirnya kau meletakan
sepedamu untuk menggantinya dengan rakit atau perahu
Aku sedikit paham maksud Citra. Dia menganalogikan keputusannya untuk pindah agama sebagai
perjalanan hidup yang tak mungkin bisa dihindari.
Jika suatu saat nanti kau telah sampai di tujuan. Apakah mungkin kau melupakan mereka? Tidak kan?
Mereka juga yang telah membantumu pelan-pelan untuk sampai di tujuan. Menemukan hakikat
hidupmu lanjutnya.
Aku merasa ciut. Aura milik Citra benar-benar mampu menenggelamkan apapun di sekelilingnya.
Akupun mengaangguk angguk seperti burung beo.Citra tetaplah Citra . Gadis cantik yang penuh dengan
ungkapan yang penuh makna. Dan ku dengar dia adalah penganut agama Budha sekarang.Tapi yang
pasti dia lebih wangi dari pada ku.
Kurapatkan tubuh ini untuk bersandar di kawat-kawat pembatas lantai atas ini. Pagi masih enggan untuk
datang. Langit Jakarta masih saja gelap seperti kepalaku yang disesaki berbagai pertanyaan. Andai saja
ada Citra. Aku ingin menanyakan sesuatu yang belum sempat kupertanyakan waktu itu
Apa itu cinta?

Imajinasiku kemudian bekerja. Aku berpikir Citra pasti akan menjawabnya dengan letupan-letupan
imajinasinya yang melimpah yang maknanya akan bertaburan seperti bintang yang harus kutangkap satu
demi satu dengan cepat agar tidak ada makna yang terlewat lalu kumasukan dalam kantong intelejensi
dan kenanganku. Namun pertanyaan tentang apa itu cinta dan Tuhan masih mengambang di kepalaku.
Aku teringat dengan sinetron yang mengangkat tema cinta beda agama. Cintamu dan cintaku adalah
sama namun Tuhanmu dan Tuhanku adalah beda. Di satu sisi mereka tidak ingin meninggalkan Tuhan
dalam sisi yang lain mereka juga tidak ingin meninggalkan cinta. Mereka tidak bisa mendapatkan
keduanya sekaligus. Mereka harus memilih salah satu. Ditinggalkan Tuhan atau ditinggalkan cinta. Kedua
pilihan bagaikan dilema. Maka kenyataan ini berbanding terbalik dengan analogi Tuhan dan cinta itu
seperti koin. Ternyata mereka beda, mereka tidak satu. Mereka seakan berdiri masing-masing.
Kenyataan ini membuat lidahku terasa pahit. Ternyata cinta dan iman adalah beda rasa.
Menganalogikakannya dengan suatu bentuk tunggal mungkinkah sebuah kesalahan?
Ternyata benar,sebuah jawaban akan memancing mutiata-mutiara pertanyaan ke permukaan.Dunia
tidak hanya memiliki sisi putih dan hitam ,namun juga memiliki sisi abu-abu ,yaitu sustu sisi yang belum
jelas,kaburmdan belum pasti.Tuhan dan cinta sepertinya berdiri disisi abu-abu tersebut.Bukan hanya
putih yang dibuthkan di dunia ini,namun hitam dan abu-abu juga.Karena kebenaran yang sempurna
hanyalah milikNya.Bukankan karena sebuah kesalahan kita besar sesuatu yang baru darinya.Apabila
Adam dan Hawa tidak memakan buah Khuldi ,mereka tidak akan mengetahui mana yang baik,dan buruk.
Tuhan telah menciptakan alam sedemikian rupa.Dengan segala hitungan dan kerumitannya dijaga selalu
oleh Tuhan agar manusia tahu betapa lemahnya iiya.Sehinnga apa yang telah tercapai,diciptakan atau
dibuat oleh manusia masih belum mampu mengungkap dan menembus pengetahuan tentang Tuhan
dan Cinta.

Aku menghela nafas. Membiarkan beban hidupku ikut lepas. Akhirnya aku mencoba larut dalam pasrah.
Biarkan semua terjadi sesuai dengan kehendak Nya. Tak usah aku terburu-buru menyingkap misteri
hidupku. Biarkan semua mengalir.
Perlahan suara adzan Subuh terdengar sayup-sayup membelai kota Jakarta. Ternyata aku sudah
melamun berjam-jam untuk memikirkan arti cinta dan Tuhan. Dengan hasil kosong. Tapi entah kenapa
aku merasa telah menemukan jawabannya. Jawaban itu hanya bisa dimengerti olh hati dan logika tidak
pernah bisa ikut campur. Mataku menatap langit dan seakan juga sedang menatap mata Nya. Hatiku
berbisik lirih Terima kasih Tuhan
Telah semalaman aku memikirkan tentang cinta dan Tuhan.Hanya satu benang kesimpulan yang ku
tarik.Jika cinta dan Tuhan selalu menjaga keeksistensian dan keestikaanya dalam cahaya yang disebut
misteri

******Tamat*****