Anda di halaman 1dari 8

9.

1 pengujian substantive atas saldo aktiva tetap

Aktiva tetap adalah Suatu kekayaan perushaan yang memiliki wujud dan
memiliki nilai ekonomis lebih dari satu tahun, yang diperoleh perusahaan untuk
melaksanakan kegiatan perusahaan dan tidak untuk dijual. Penggolongan aktiva tetap
adalah Tanah, bangunan, peralatan, kendaraan, mebel air dll
Pengujian substantif terhadap aktiva tetap pada pertama kalinya Ada beberapa
hal yang harus dipertimbangkan dalam audit terhadap aktiva tetap pada audit pertama
kalinya:
a) Apakah laporan keuangan tahun sebelumnya telah di audit oleh auditor
independen lain.
b) Apakah klien menyelenggarakan aktiva rinci.
c) Apakah klien mengarsipkan dokumen-dokumen yang mendukung transaksi yang
bersangkutan dengan perolehannya dan mutasi aktiva tetap s/d saat diaudit yang
pertama dilaksanakan.
Tujuan pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang dengan
aktiva tetap.
2. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang
berkaitan dengan aktiva tetap yang dicantumkan dineraca.
3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan
dineraca.
4. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca
Untuk hal tersebut maka auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo aktiva
tetap yang dicantumkan didalam neraca dengan aktiva tetap yang bersangkutan di
dalam buku besar dan selanjutnya ditelusuri ke jurnal pengeluaran kas, jurnal umum
dan buku pembantu aktiva tetap.
Prosedur audit pengujian substantif terhadap saldo aktiva tetap
1. Prosedur awal
Suatu prosedur awal yang penting termasuk memperoleh pemahaman tentang
bisnis dan industri bersangkutan. Prosedur ini memberikan sarana untuk mengevaluasi
kelayakan bukti yan diperoleh pada tahap audit berikutnya.

Auditor menentukan bahwa saldo buku besar umum awal untuk akun-akun aktiva
tetap telah sesuai dengan kertas kerja periode sebelumnya. Berikutnya, auditor harus
menguji ketepatan matematis dari skedul penambahan dan pelepasan yang disiapkan
klien serta merekonsiliasi totalnya dengan perubahan saldo buku besar umum terkait
untuk aktiva tetap selama periode berjalan. Selain itu, auditor yang harus menguji
skedul-skedul itu dengan memvouching pos-pos pada skedul tersebut ke ayat jurnal
dalam buku besar, dan menelusuri ayat jurnal buku besar ke skedul bersangkutan
untuk menentukan bahwa penyajian yang akurat atas catatan akuntansi yang disiapkan
dari buku tersebut telah dilakukan.
2. Prosedur Analitis
Suatu bagian yang penting dari siklus investasi adalah menentukan bahwa
informasi keuangan yang akan diaudit konsisten dengan ekspektasi auditor. Ketika
melaksanakan prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat skeptisme
profesional yang layak dan menyelidiki hasil-hasil yang tidak normal. Jika hasil
prosedur analitis konsisten dengan ekspektasi auditor, maka strategi audit dapat
dimodifikasi untuk mengurangi luas pengujian rincian transaksi dan saldo.
3. Pengujian Rincian Transaksi
Pengujian substantive ini mencakup tiga jenis transaksi yang berkaitan
dengan aktiva tetap: (1) penambahan, (2) pelepasan, dan (3) reparasi serta
pemeliharaan.
a) Memvouching Penambahan Aktiva Tetap
Semua penambahan yang normal harus didukung oleh dokumentasi
berupa otorisasi dalam notulen rapat, voucher, faktur, kontrak dan cek-cek
yang dibatalkan. Jumlah yang dicatat harus divouching untuk mendukung
dokumentasi. Vouching atas penambahan memberikan bukti tentang asersi
eksistensi/keberadaan atau keterjadian, hak dan kewajiban dan penilaian atau
alokasi .
b) Memvouching Pelepasan Aktiva Tetap
Bukti-bukti tentang penjualan, penarikan, dan tukar-tambah harus
tersedia bagi auditor dalam bentuk nota pembayaran kas, otorisasi tertulis, dan
perjanjian penjualan. Dokumentasi tersebut harus ditelaah secara seksama
untuk menentukan ketepatan dan kelayakan catatan akuntansi, termasuk
pengakuan keuntungan atau kerugian, jika ada.

c) Mereview Ayat Jurnal Beban Reparasi dan Pemeliharaan


Tujuan auditor dalam melaksanakan pengujian ini adalah untuk
menentukan kelayakan dan konsistensi pembebanan ke beban reparasi.
Kelayakan meliputi pertimbangan mengenai apakah klien telah melakukan
pembebanan yang tepat antara pengeluaran modal dan pendapatan. Untuk pos-
pos ini, auditor harus memeriksa dokumentasi pendukung, seperti faktur
penjual, pesanan kerja perusahaan, dan otorisasi manajemen guna menentukan
kelayakan beban atau kebutuhan akan ayat jurnal penyesuaian.
4. Pengujian Rincian Saldo
Tiga prosedur dalam kategori pengujian substantif ini adalah:
a) Menginspeksi Aktiva Tetap
Inspeksi aktiva tetap akan memungkinkan auditor untuk mendapatkan
pengetahuan pribadi yang langsung mengenai eksistensinya. Dalam penugasan
yang berulang, inspeksi yang terinci dapat dibatasi pada pos-pos yang
tercantum pada skedul penambahan aktiva tetap.
b) Memeriksa Dokumen dan Kontrak Hak Kepemilikan
Kepemilikan atas kendaraan dapat ditetapkan dengan memeriksa
sertifikat hak (BPKB), sertifikat pendaftaran (STNK), dan polis asuransi.
Untuk peralatan, perabotan, dan furniture, faktur yang telah dibayar mungkin
merupakan bukti terbaik mengenai kepemilikan. Bukti tentang kepemilikan
dalam industri real estate apartemen dapat ditemukan dalam akte pembelian,
polis asuransi pemilikan, tagihan pajak property, tanda terima pembayaran
hipotek dan polis asuransi kebakaran.
5. Perbandingan Penyajian Laporan Dengan GAAP
Persyaratan penyajian laporan aktiva tetap dalam keuangan bersifat ekstensif.
Properti yang digadaikan sebagai jaminan atas pinjaman harus diungkapkan.
Kelayakan pengungkapan klien yang berkaitan dengan aktiva menurut lease dapat
ditentukan dengan melihat kembali ke pengumuman akuntansi otoritatif dan
perjanjian lease yang berkaitan.
9.2 Pengujian Substantive atas saldo utang jangka panjang
Utang jangka panjang adalah kewajiban sekarang yang timbul dari kegiatan
atau transasksi yang lalu, yang jatuh temponya lebih dari setahun ditinjau dari tanggal
neraca. Contohnya utang jangka panjang dari bank (berupa kredit investasi), utang
obligasi, utang kepada induk perusahaan, utang sewa jangka panjang, utang pension,
dan utang wesel jangka panjang.
Ada beberapa alasan mengapa perusahaan memilih cara pembelanjaan
kegiatannya dengan menarik utang jangka panjang :
1. Seringkali perusahaan tidak dapat melunasi kewajiban jangka pendeknya
dengan menggunakan aktiva lancar, sehingga alternatif yang masih
menguntungkan untuk dipilih adalah dengan menarik utang jangka panjang
guna melunasi utang jangka pendeknya tersebut.
2. Utang jangka panjang seringkali timbul sebagai akibat dari kebutuhan dana
yang besar, yang pemegang saham tidak menghendaki pemenuhannya dengan
menambah saham yang beredar.
3. Kemungkinan pemenuhan kebutuhan dana akan lebih murah bila diperoleh
dari penarikan utang jangka panjang karena biaya bunga dapat dikurangkan
dalam perhitungan pajak penghasilan, sedangkan deviden yang dibayarkan
kepada pemegang saham tidak dapat diperlakukan sebagai biaya dalam
laporan laba rugi, sehingga tidak dapat mengurangi besarnya pajak
penghasilan yang harus dibayar oleh perusahaan.
4. Seringkali lebih menguntungkan jika aktiva tetap diperoleh dengan cara
menyewa (lease) daripada membeli.
Tujuan pengujian substantif terhadap utang jangka panjang adalah :
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan utang jangka panjang.
2. Membuktikan asersi keberadaan dan keterjadian utang jangka panjang
dicantumkan dineraca.
3. Membuktikan asersi kelengkapan utang jangka panjang yang dicantumkan
dineraca.
4. Membuktikan asersi klaim kreditur atas aktiva entitas pada tanggal neraca.
5. Membuktikan asersi penilaian utang jangka panjang yang dicantumkan
dineraca.
6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan utang jangka panjang
dineraca.
Prosedur audit pengujian substantif terhadap Hutang Jangka Panjang
1. Prosedur Awal
Di sini penting untuk mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industrinya,
menentukan kebutuhan entitas akan pembiayaan eksternal, dan kemampuan untuk
melunasi hutang. Karena pembiayaan begitu jelas berkaitan dengan aktivitas
investasi, maka auditor dapat melaksanakan prosedur-prosedur tersebut secara
serentak. Karena ada kemungkinan pengujian substantif dapat dilakukan atas masing-
masing daftar yang dibuat sebelumnya, maka prosedur ini berkaitan dengan
komponen ketepatan matematis dan klerikal dari asersi penilaian atau alokasi, serta
dilaksanakan dengan menggunakan skedul hutang jangka panjang sebagai dasar untuk
pengujian substantif tambahan.
2. Prosedur Analitis
Suatu bagian penting dari audit atas hutang jangka panjang adalah menentukan
bahwa informasi keuangan yang akan diaudit konsisten dengan harapan auditor.
Auditor juga harus mengevaluasi pengungkapan mengenai jatuh tempo hutang dan
perjanjian utang. Sebagai bagian dari tanggung jawab auditor atas evaluasi mengenai
apakah suatu entitas dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, auditor akan
mengevaluasi kemampuan entitas itu untuk menghasilkan arus kas yang mencukupi
guna memenuhi komitmen yang berkaitan dengan beban bunga (termasuk bunga yang
dikapitalisasi), jatuh tempo hutang, dan perjanjian hutang. Ketika melaksanakan
prosedur analitis, auditor harus mempertahankan tingkat skeptisisme profesional yang
tepat dan menyelidiki hasil-hasil yang abnormal.
3. Pengujian Rincian Transaksi
Untuk obligasi, auditor harus mendapatkan bukti tentang nilai nominal dan
hasil bersih obligasi itu pada tanggal penerbitan. Penerbitan instrumen hutang ini
harus ditelusuri ke penerimaan kas sebagaimana yang dibuktikan oleh surat kiriman
uang dari pialang. Pembayaran pokok hutang jangka panjang dapat diverifikasi
dengan memeriksa voucher dan cek-cek yang dibatalkan; sementara pembayaran
penuh dapat divalidasi dengan memeriksa wesel yang dibatalkan atau sertifikat
obligasi. Bukti-bukti tentang transaksi semacam itu dapat tersedia dalam bentuk
sertifikat obligasi yang dibatalkan dan penerbitan sertifikat saham yang berkaitan.
Apabila bunga obligasi dibayar oleh agen independen, maka auditor harus
memeriksa laporan agen tentang pembayaran tersebut. Vouching atas ayat jurnal yang
dicatat tidak akan mengungkapkan hutang jangka panjang yang belum tercatat.
4. Pengujian Rincian Saldo
Terdapat tiga pengujian substantif dalam kategori ini: (1) menilai otorisasi dan
kontrak atas hutang jangka panjang, (2) mengkonfirmasi hutang dengan pemberi
pinjaman dan perwalian obligasi, serta (3) menghitung kembali beban bunga.
5. Perbandingan penyajian Laporan dengan GGAP
Pengujian terdahulu yang memeriksa kontrak utang dan mengkonfirmasi
hutang memberikan data tentang klien untuk digunakan dalam perbandingan.
Pengujian ini berkaitan dengan asersi penyajian dan pengungkapan.
9.3 Pengujian Substantive Terhadap Ekuitas Pemegang Saham
Pengujian substantive terhadap ekuitas pemegang saham adalah berbeda
dengan pengujian substantive terhadap aktiva lancar dan utang lancar. Dalam
pengujian substantive terhadap aktiva lancar dan utang lancar, auditor menghadapi
transaksi perubahan unsur neraca yang frekuensi terjadinya tinggi dengan jumlah
rupiah setiap transaksi relatif kecil. Sedangkan dalam pengujian substantive terhaap
ekuitas ekuitas pemegang saham, auditor menghadapi transaksi perubahan unsur
neraca yang rendah frekuensi terjadinya, tetapi melibatkan jumlah rupiah yang besar
dalam setiap transaksinya.
Tujuan pengujian substantive terhadap ekuitas pemegang saham diantaranya ialah :
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang
bersangkutan dengan ekuitas pemegang saham.
2. Membuktikan bahwa saldo modal saham mencerminkan kepentingan
pemegang saham yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian
transaksi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham selama tahun yang
diaudit.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selamatahun yang diaudit
dan kelengkapa saldo ekuitas pemegang saham yangdisajikan dineraca.
4. Membuktikan bahwa saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di
neraca merupakan klaim pemilik terhadap aktiva entitas.
5. Membuktikan kewajaran penilaian ekuitas pemegang saham yang
dicantumkan dineraca.
6. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan ekuitas pemegang
saham dineraca.
Prosedur audit pengujian substantif terhadap Ekuitas Pemegang Saham
1. Prosedur Awal
Auditor harus mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri serta
menentukan (1) kebutuhan entitas akan pembiayaan eksternal dan (2) manfaat
menggunakan pembiayaan dengan ekuitas guna mendukung pertumbuhan entitas itu.
Pembiayaan dengan ekuitas dapat digunakan baik untuk mendukung aktivitas
investasi, atau pun untuk mendukung investasi yang diperlukan dalam modal kerja
(yakni, pertumbuhan persediaan dan piutang yang diperlukan untuk mengembangkan
entitas itu).
2. Prosedur Analitis
Hubungan keuangan yan dinyatakan dalam rasio-rasio ini dapat bermanfaat
untuk mengevaluasi kelayakan saldo-saldo ekuitas pemegang saham. Bukti yang
diperoleh dari prosedur analitis ini berkaitan dengan asersi keberadaan atau
keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.
3. Pengujian Rincian Transaksi
Kategori pengujian ini mencakup vouching ayat jurnal dalam akun modal
disetor dan laba ditahan: (1) vouching ayat jurnal ke akun modal disetor, dan (2)
vouching ayat juranl ke laba ditahan.
4. Pengujian Rincian Saldo
Pengujian substantif dalam kategori ini akan dijelaskan dalam lima bagian,
yaitu: 1) review akte pendirian dan anggaran rumah tangga, 2) review otorisasi dan
persyaratan penerbitan saham, 3) konfirmasi saham yang beredar dengan registrar dan
agen transfer, 4) memeriksa buku sertifikat saham, 5) memeriksa sertifikat saham
yang ditahan sebagai treasury stock.
5. Perbandingan Penyajian Laporan dengan GAAP
APB Opinion No. 12 menetapkan bahwa pengungkapan atas perubahan dalam
akun-akun terpisah yang terdiri dari ekuitas pemegang saham disyaratkan untuk
membuat laporan keuangan yang cukup informatif. Pengungkapan tersebut dapat
dibuka pada laporan dasar dan catatan yang menyertainya atau disajikan dalam
laporan terpisah.
9.4 Jasa Bernilai Tambah Dalam Siklus Investasi dan Pembiayaan
Setelah menyelesaikan audit atas aktivitas investasi, auditor dapat
mengevaluasi investasi entitas dibandingkan dengan perusahaan lain dalam
industri yang sama. Auditor juga dapat memberikan dua jasa bernilai tambah
yang penting. Pertama, auditor dapat mengevaluasi seberapa efektif entitas
telah memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan penjualan, laba, dan arus
kas, serta mencapai tujuan entitas itu. Kedua, auditor kemudian dapat
memberikan jasa independen dengan mengevaluasi aktiva investasi yang
direncanakan dapat menjadi pendukung yang penting untuk mencapai sasarannya.

DAFTAR PUSTAKA
Jusup Haryono, Al. 2014. Auditing. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
YKPN.