Anda di halaman 1dari 6

I.

TUJUAN
1. Mengetahui unjuk kerja generator sinkron tanpa beban pada perubahan arus
eksitasi (medan) dan perubahan kecepatan terhadap tegangan jangkar
generator sinkron dan arus jangkar motor penggerak(DC).
2. Mengetahui karakteristik pengaruh arus eksitasi (medan) dan perubahan
kecepatan terhadap tegangan jangkar generator sinkron dan arus jangkar
motor penggerak (DC) pada generator sinkron tanpa beban.
3. Menegtahui pengaruh beban R pada unjuk kerja generator sinkron yaitu
tegangan jangkar, arus jangkar,arus medan, kcepatan putar rotor, dan daya
generator sinkron.
4. Mensinkronisasi 2 pembangkit listrik yaitu generator sinkron dan sumber
listrik PLN.
II. TEORI DASAR
A. Konstruksi Generator Sinkron
Pada dasarnya konstruksi dari generator sinkron adalah sama dengan
konstruksi motor sinkron, dan secara umum biasa disebut mesin sinkron. Ada
dua struktur kumparan pada mesin sinkron yang merupakan dasar kerja dari
mesin tersebut, yaitu kumparan yang mengalirkan penguatan DC atau
disebut kumparan medan dan sebuah kumparan atau disebut kumparan
jangkar tempat dibangkitkannya GGL arus bolak-balik.Hampir semua mesin
sinkron mempunyai kumparan jangkar berupa stator yang diam dan struktur
medan magnet berputar sebagai rotor. Kumparan DC pada struktur medan
yang berputar dihubungkan pada sumber DC luar melalui cincin geser(slip
ring) dan sikat arang (carbon brush), tetapi ada juga yang tidak
mempergunakan sikat arang yaitu sistem brushless excitation.
Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan rotor untuk
menghasilkan medan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime
mover menghasilkan medan magnet berputar pada mesin. Medan magnet
putar ini menginduksi tegangan tiga fasa pada kumparan stator generator.
Rotor pada generator sinkron pada dasarnya adalah sebuah elektromagnet
yang besar. Kutub medan magnet rotor dapat berupa salient (kutub sepatu)
dan dan non salient (rotor silinder). Pada kutub salient, kutub magnet
menonjol keluar dari permukaan rotor sedangkan pada kutub non salient,
konstruksi kutub magnet rata dengan permukaan rotor. Rotor silinder
umumnya digunakan untuk rotor dua kutub dan empat kutub, sedangkan
rotor kutub sepatu digunakan untuk rotor dengan empat atau lebih kutub.
Pemilihan konstruksi rotor tergantung dari kecepatan putar prime mover,
frekuensi dan rating daya generator. Generator dengan kecepatan 1500 rpm
ke atas pada frekuensi 50 Hz dan rating daya sekitar 10 MVA menggunakan
rotor silinder. Sementara untuk daya dibawah 10 MVA dan kecepatan rendah
maka digunakan rotor kutub sepatu.
Arus DC disuplai ke rangkaian medan rotor dengan dua cara:
1. Menyuplai daya DC ke rangkaian dari sumber DC eksternal dengan
sarana slip ring dan sikat.
2. Menyuplai daya DC dari sumber DC khusus yang ditempelkan langsung
pada batang rotor generator sinkron
B. Prinsip Kerja Generator Sinkron
Jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan
magnet homogen, maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan
tersebut. Medan magnet bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC
atau oleh magnet tetap. Pada mesin tipe ini medan magnet diletakkan pada
stator (disebut generator kutub eksternal / external pole generator) yang
mana energi listrik dibangkitkan pada kumparan rotor. Hal ini dapat
menimbulkan kerusakan pada slip ring dan karbon sikat, sehingga
menimbulkan permasalahan pada pembangkitan daya tinggi. Untuk
mengatasi permasalahan ini, digunakan tipe generator dengan kutub internal
(internal pole generator), yang mana medan magnet dibangkitkan oleh kutub
rotor dan tegangan AC dibangkitkan pada rangkaian stator. Tegangan yang
dihasilkan akan sinusoidal jika rapat fluks magnet pada celah udara
terdistribusi sinusoidal dan rotor diputar pada kecepatan konstan. Tegangan
AC tiga fasa dibangkitan pada mesin sinkron kutub internal pada tiga
kumparan stator yang diset sedemikian rupa sehingga membentuk beda fasa
dengan sudut 120.
Pada rotor kutub sepatu, fluks terdistribusi sinusoidal didapatkan
dengan mendesain bentuk sepatu kutub. Sedangkan pada rotor silinder,
kumparan rotor disusun secara khusus untuk mendapatkan fluks terdistribusi
secara sinusoidal. Untuk tipe generator dengan kutub internal (internal pole
generator), suplai DC yang dihubungkan ke kumparan rotor melalui slip ring
dan sikat untuk menghasilkan medan magnet merupakan eksitasi daya
rendah. Jika rotor menggunakan magnet permanen, maka tidak slip ring dan
sikat karbon tidak begitu diperlukan.

C. Kecepatan Putar Generator Sinkron


Frekuensi elektris yang dihasilkan generator sinkron adalah sinkron
dengan kecepatan putar generator. Rotor generator sinkron terdiri atas
rangkaian elektromagnet dengan suplai arus DC. Medan magnet rotor
bergerak pada arah putaran rotor. Hubungan antara kecepatan putar medan
magnet pada mesin dengan frekuensi elektrik pada stator adalah:

f = frekuensi listrik (Hz)

nr = kecepatan putar rotor = kecepatan medan magnet (rpm)

p = jumlah kutub magnet

Oleh karena rotor berputar pada kecepatan yang sama dengan medan
magnet, persamaan diatas juga menunjukkan hubungan antara kecepatan
putar rotor dengan frekuensi listrik yang dihasilkan. Agar daya listrik
dibangkitkan tetap pada frekuensi 50Hz atau 60 Hz, maka generator harus
berputar pada kecepatan tetapdengan jumlah kutub mesin yang telah
ditentukan. Sebagai contoh untuk membangkitkan 60 Hz pada mesin dua
kutub, rotor arus berputar dengan kecepatan 3600 rpm. Untuk
membangkitkan daya 50 Hz pada mesin empat kutub, rotor harus berputar
pada 1500 rpm

D. Alternator tanpa beban


Dengan memutar alternator pada kecepatan sinkron dan rotor diberi
arus medan (If), maka tegangan (Ea ) akan terinduksi pada kumparan jangkar
stator. Bentuk hubungannya diperlihatkan pada persamaan berikut.

Ea = c.n.fluks

yang mana:

c = konstanta mesin

n = putaran sinkron

f = fluks yang dihasilkan oleh If

Dalam keadaan tanpa beban arus jangkar tidak mengalir pada stator,
karenanya tidak terdapat pengaruh reaksi jangkar. Fluks hanya dihasilkan
oleh arus medan (If).

E. Alternator Berbeban
Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan
mengakibatkan terjadinya reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena
itu dinyatakan sebagai reaktansi, dan disebut reaktansi magnetisasi (Xm ).
Reaktansi pemagnet (Xm ) ini bersama-sama dengan reaktansi fluks bocor (Xa
) dikenal sebagai reaktansi sinkron (Xs) .

Bila generator diberi beban yang berubah-ubah maka besarnya


tegangan terminal V akan berubah-ubah pula, hal ini disebabkan adanya
kerugian tegangan pada:

Resistansi jangkar Ra
Reaktansi bocor jangkar X
Reaksi Jangkar Xa
a) Resistansi Jangkar

Resistansi jangkar/fasa Ra menyebabkan terjadinya kerugian


tegang/fasa (tegangan jatuh/fasa) dan I.Ra yang sefasa dengan arus jangkar.

b) Reaktansi Bocor Jangkar

Saat arus mengalir melalui penghantar jangkar, sebagian fluks yang


terjadi tidak mengimbas pada jalur yang telah ditentukan, hal seperti ini
disebut Fluks Bocor
c) Reaksi Jangkar
Adanya arus yang mengalir pada kumparan jangkar saat generator
dibebani akan menimbulkan fluksi jangkar (A ) yang berintegrasi dengan
fluksi yang dihasilkan pada kumparan medan rotor(F), sehingga akan
dihasilkan suatu fluksi resultan sebesar :

Persamaan tegangan pada generator adalah:

Ea = V + I.Ra + j I.Xs

Xs = Xm + Xa

yang mana:

Ea = tegangan induksi pada jangkar

V = tegangan terminal output

Ra = resistansi jangkar

Xs = reaktansi sinkron

F. Kerja Paralel Alternator


Untuk melayani beban yang berkembang, maka diperlukan tambahan
sumber daya listrik. Agar sumber daya listrik yang yang baru (alternator baru)
bisa digunakan bersama, maka dilakukan penggabungan alternator dengan
cara mempararelkan dua atau lebih alternator pada sistem tenaga dengan
maksud memperbesar kapasitas daya yang dibangkitkan pada sistem. Selain
untuk tujuan di atas, kerja pararel juga sering dibutuhkan untuk menjaga
kontinuitas pelayanan apabila ada mesin (alternator) yang harus dihentikan,
misalnya untuk istirahat atau reparasi, maka alternator lain masih bisa
bekerja untuk mensuplai beban yang lain. Untuk maksud mempararelkan ini,
ada beberapa pesyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Harga sesaat ggl kedua alternator harus sama dalam kebesarannya,


dan bertentangan dalam arah, atau harga sesaat ggl alternator harus sama
dalam kebesarannya dan bertentangan dalam arah dengan harga efektif
tegangan jalajala.
2. Frekuensi kedua alternator atau frekuensi alternator dengan jala
harus sama
3. Fasa kedua alternator harus sama
4. Urutan fasa kedua alternator harus sama
Bila sebuah generator G akan diparaelkan dengan jala-jala, maka
mula-mula G diputar oleh penggerak mula mendekati putaran sinkronnya,
lalu penguatan IF diatur hingga tegangan terminal generator tersebut sama
denga jala-jala. Untuk mendekati frekuensi dan urutan fasa kedua tegangan
(generator dan jala-jala) digunakan alat pendeteksi yang dapat berupa lampu
sinkronoskop hubungan terang. Benar tidaknya hubungan pararel tadi, dapat
dilihat dari lampu tersebut.

III. ALAT DAN BAHAN


1. AC dan DC supply 1 buah
2. Shunt wound motor (0.3 kW) 1 buah
3. Synchronous machines (0.3 kW) 1 buah
4. Resistive load 1 buah
5. Inductive load 1 buah
6. Moving iron meter 1 A 1 buah
7. Moving iron meter 600 V 1 buah
8. Power factor meter 1 buah
9. Wattmeter 1 buah
10. Kabel konektor secukupnya
IV. RANGKAIAN PERCOBAAN
V. PROSEDUR PERCOBAAN
1. PERCOBAAN GENERATOR SINKRON TANPA BEBAN
Membuat rangkaian percobaan seperti pada gambar 4.1 generator
sinkron tanpa beban.
Mengoperasikan brake pada posisi speed control sebagai penggerak
generator sinkron
Mengatur kecepatan motor (brake) sampai mencapai kecepatan
sinkron generator sinkron.
Memberikan supply DC pada medan generator sinkron. Mengatur
sampai didapatkan arus medan/eksitasi 0.5 A
Mencatat tegangan jangkar /stator seperti pada table 6.1.
Mengulangi langkah d-e untuk arus eksitasi berbeda seperti pada
table 6.1
Mengulangi langkah d-f untuk arus eksitasi konstan sebesar Ierr=3A
dan kecepatan motor 500 rpm
Mencatat tegangan jangkar/stator seperti pada table 6.2 untuk
kecepatan motor yang berbeda.
Apabila semua hasil pengamatan untuk table 6.1 dan 6.2 selesai.
Kemudian mematikan suplai dengan urutan sebagai berikut:
mematikan sumber DC untuk arus medan generator baru kemudian
mematikan sumber arus DC untuk brake (motor DC) sebagai
penggerak mula.
2. PERCOBAAN GENERATOR SINKRON BERBEBAN
Membuat rangkaian percobaan seperti pada gambar 4.1 generator
sinkron tanpa beban.
Mengoperasikan brake pada posisi speed control sebagai penggerak
generator sinkron
Mengatur kecepatan motor (brake) sampai mencapai kecepatan
sinkron generator sinkron.
Memberikan supply DC pada medan generator sinkron. Mengatur
sampai didapatkan arus medan/eksitasi dari generator sinkron 3 A
Memberikan pembebanan beban pada generator sinkron dengan
memutar rheostat mulai dari tahanan yang terendah seperti
ditunjukkan pada table 6.3
Mencatat tegangan jangkar/stator,arus stator,putaran generator
sinkron serta daya dari beban.
Mengulangi langkah d-f untuk kombinasi beban R berbeda seperti
pada table 6.3.
Apabila semua hasil pengamatan untuk table 6.3 selesai. Kemudian
mematikan suplai dengan urutan sebagai berikut: mematikan
sumber DC untuk arus medan generator baru kemudian mematikan
sumber arus DC untuk brake (motor DC) sebagai penggerak mula.

3. PERCOBAAN SINKRONISASI ANTARA 2 GENERATOR SINKRON DAN SUMBER


LISTRIK PLN
Membuat rangkaian percobaan seperti pada gambar (4.3) sikronisasi
generator sinkron dengan sumber listrik PLN.
Mengoperasikan brake pada posisi speed control sebagai penggerak
generator sinkron.
Mengatur kecepatan motor brake sampai mencapai kecepatan
sinkron generator sinkron.

https://anggadewangga.wordpress.com/2011/03/28/generator-sinkron/