Anda di halaman 1dari 30

PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG

Kabupaten Malang

BAB 1
PENDAHULUAN
BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG

1.1. DASAR HUKUM


Dasar hukum atau konsideran yang digunakan dalam pelakasanaan pekerjaan ini sudah
cukup lengkap dan memperhatikan berbagaia spek secara komprehensif yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;
2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya;
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi;
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;
7. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

LAPORAN AKHIRI- 1
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian; Kawasan Perkotaan;


9. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana; 33. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi;
10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 34. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
11. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi; Kereta Api;
12. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah; 35. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan
13. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan; Pendayagunaan Tanah Terlantar;
14. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; 36. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
15. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan; Ruang;
16. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan 37. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran
Hidup; Masyarakat dalam Penataan Ruang;
17. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian 38. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi
Pangan Berkelanjutan; Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan;
18. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan 39. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang Manajemen dan Rekayasa,
Permukiman; Analisis Dampak, serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas;
19. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial; 40. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai;
20. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan 41. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Hidup;
Perundang-Undangan; 42. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk
21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Penataan Ruang Wilayah;
Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan umum; 43. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan
22. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian; Angkutan Umum;
23. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak 44. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2017 tentang Rencana Tata Ruang
Lingkungan Hidup; Wilayah Nasional;
24. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota; 45. Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan
25. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah; Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern;
26. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan 46. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung; Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
27. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi; 47. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 33 tahun 1989 tentang Pengelolaan
28. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan; Kawasan Budidaya;
29. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan 48. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Penanggulangan Bencana; Kawasan Lindung;
30. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air; 49. Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009 tentang Badan Koordinasi Penataan
31. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri; Ruang Nasional;
32. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan 50. Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2

LAPORAN AKHIRI- 2
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Tahun 1999 tentang Izin Lokasi; 63. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2009 tentang Tata Cara
51. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Kerja Sama Antar daerah;
Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam 64. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang; Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
52. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 22 Tahun 2007 tentang Pedoman 65. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 01 Tahun 2010 tentang
Penataan Ruang Kawasan Rawan Bencana Longsor; Penyelenggaraan Jaringan Telekomunikasi;
53. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 Tahun 2008 tentang Pedoman 66. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2010 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; Revitalisasi Kawasan;
54. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi 67. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14 Tahun 2010 tentang Standar
Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
(KSNP-SPALP); 68. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18 Tahun 2010 tentang Pedoman
55. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, Nomor Revitalisasi Kawasan;
02/PER/M.KOMINFO/03/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan 69. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2010 tentang Pedoman
Bersama Menara Telekomunikasi; Pemanfaatan dan Penggunaan Bagian-Bagian Jalan;
56. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53 Tahun 2008 tentang Pedoman 70. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman
Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Pengelolaan Sampah;
Modern; 71. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pedoman
57. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Jalan Khusus;
Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan Daerah tentang 72. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pedoman
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Dan Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota;
Kabupaten/Kota beserta Rencana Rincinya; 73. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 36 Tahun 2011 tentang Perpotongan
58. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12 Tahun 2009 tentang Pedoman dan/atau Persinggungan antara Jalur Kereta Api dengan Bangunan Lain;
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) di Wilayah 74. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 43 Tahun 2011 tentang Rencana Induk
Perkotaan / Kawasan Perkotaan; Perkeretaapian Nasional;
59. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penyidik 75. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur
Pegawai Negeri Sipil Penataan Ruang; Kereta Api;
60. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2009 tentang 76. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman
Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern;
Wilayah; 77. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pembentukan
61. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 27 Tahun 2009 tentang Produk Hukum Daerah;
Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis; 78. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 1 Tahun 2014 tentang Standar
62. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang;
Tata Cara Kerja Sama Daerah; 79. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan

LAPORAN AKHIRI- 3
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Hutan di Jawa Timur; 1.2. TINJAUAN TERHADAP RTRW KABUPATEN MALANG 2012-2032
80. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2007 tentang Perizinan 1.2.1. Rencana Struktur Ruang
Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan di Jawa Timur; Rencana struktur ruang wilayah yang terkait dengan BWP Jabung adalah sebagai
81. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan berikut :
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Provinsi Jawa Timur; 1. Sistem Perkotaan
82. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2008 tentang Perlindungan, BWP Jabung termasuk dalam kawasan perkotaan kecil dengan delineasi wilayah
Pemberdayaan Pasar Tradisional, dan Penataan Pasar Modern di Provinsi Jawa Timur; perkotaan dan perdesaannya sebagaimana tabel berikut.
83. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2007 tentang Perizinan
Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan di Jawa Timur; Tabel 1.1. Delineasi Wilayah Perkotaan dan Perdesaan Kecamatan Jabung
84. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Wilayah Lingkup Wilayah

Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Provinsi Jawa Timur; Desa Sukolilo
Perkotaan Desa Jabung
85. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2009 tentang Irigasi;
Desa Kemantren
86. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Sampah
Desa Kemiri
Regional Jawa Timur;
Desa Slamparejo
87. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No. 05 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Desa Argosari
Wilayah Propinsi Jawa Timur;
Desa Gadingkembar
88. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 80 Tahun 2014 tentang Pemanfaatan Ruang Pada
Desa Sidomulyo
Kawasan Pengendalian Ketat Skala Regional Di Provinsi Jawa Timur;
Desa Sidorejo
Perdesaan
89. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 34 Tahun 2013 tentang Mekanisme Pemberian Desa Kenongo
Persetujuan Substansi Rancangan Perda Kabupaten/Kota tentang Rencana Detail Tata Ruang Desa Sukopuro
Bagian Wilayah Perkotaan Kabupaten/Kota; Desa Pandansari Lor
90. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 20 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Persiapan Desa Ngadirejo

Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum; Desa Taji

91. Peraturan Daerah Kabupaten Malang No 3 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Desa Gunungjati

Wilayah Kabupaten Malang;


92. Peraturan Daerah Kabupaten Malang No 3 Tahun 2012 Tentang Perlindungan dan Wilayah Kecamatan Jabung termasuk dalam Wilayah Pengembangan (WP)

Pemberdayan Pasar Tradisional Serta Penataan dan Pengendalian Pusat Perbelanjaan dan Tumpang.Wilayah Pengembangan ini meliputi Kecamatan Tumpang, Kecamatan

Toko Modern; Poncokusumo, Kecamatan Wajak dan Kecamatan Jabung, dengan pusat pelayanan

93. Peraturan Daerah Kabupaten Malang No 8 Tahun 2012 Tentang Pengendalian Menara di Perkotaan Tumpang.

Telekomunikasi; Kegiatan utama pada WPini diarahkan sebagai pengembangan kegiatan:

94. Peraturan Daerah Kabupaten Malang Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan a. Pariwisata;

Daerah. b. Agropolitan;
c. Minapolitan

LAPORAN AKHIRI- 4
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

d. Peternakan; dan Gambar 1.1.


e. Perindustrian Wilayah Pengembangan
Kabupaten Malang
Pengembangan fasilitas kawasan perkotaan diarahkan sebagai :
a. Pusat industri/pemasaran hasil pertanian; Sumber :
b. Pusat agropolitan; Revisi RTRW Kabupaten Malang
Tahun 2017
c. Pusat minapolitan;
d. Pusat terminal peti kemas (dryport);
WP Dampit
e. Pusat informasi dan pelayanan wisata nasional. WP Sumbermanjing
WP Lingkar Kota Malang

Tabel 1.2. Kebutuhan Pengembangan Fasilitas Perkotaan Jabung WP Tumbang


WP Kepanjen
Kebutuhan
WP Ngantang
No. Pengembangan Fasilitas Jenis Fasilitas
Perkotaan
1. Perdagangan Pasar, Pertokoan, Ruko, Pasar Hewan.
Jasa Sosial - Ekonomi Skala Kecamatan, seperti Jasa Koperasi Simpan Pinjam,
2. Jasa 2. Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
Pegadaian, Penginapan (Motel, Losmen).
3. Pendidikan SMU, SMK, BLK a. Rencana Jaringan Jalan.
4. Kesehatan puskesmas rawat inap, puskesmas, puskesmas pembantu, poliklinik 1). Rencana jalan strategis nasional rencana meliputi :
5. Panti Sosial Panti rehabilitasi kesejahteraan sosial, panti anak terlantar
Ruas jalan Lawang - Singosari – Jabung – Pakis – Tumpang – Tajinan –
Pusat Peribadatan Skala Kecamatan / Lokal, seperti Masjid, Musholla, Gereja,
6. Peribadatan Bululawang – Gondanglegi.
Pura.
7. Perkantoran Perkantoran Skala Kecamatan, balai pertemuan umum/ gedung serba guna
2). Jalan Strategis Kabupaten Malang dikembangkan untuk menunjang arahan

Rekreasi - Olahraga & pengembangan Kabupaten Malang wilayah Timur dan Perkotaan
8. Stadion, Umbulan, Air Terjun Kalijahe, Tari Topeng
Wisata Kepanjen, yang selanjutnya akan ditingkatkan pengelolaannya akan
9. Industri dan Potensi Lain Pengembangan kawasan industri yang didukung oleh perumahan pendukungnya
ditingkatkan menjadi jalan nasional atau provinsi meliputi:
Sumber: Revisi RTRW Kabupaten Malang Tahun 2017
Jalan Lingkar Timur Kabupaten Malang yang melalui Lawang – Jabung –
Pakis – Tumpang – Poncokusumo – Wajak – Turen;
3). Rencana jalan tembus:
⁻ Jaringan jalan yang menghubungkan Desa Dengkol Kecamatan
Singosari– Jabung – Kota Malang.
⁻ Jaringan jalan yang menghubungkan Jabung– Nongkojajar (Kabupaten
Pasuruan).
4). Arahan pengembangan jalan lokal primer yang termasuk status Jalan
Kabupaten di wilayah Kabupaten Malang, dan pengelolaannya menjadi
wewenang Pemerintah Kabupaten Malang adalah :

LAPORAN AKHIRI- 5
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Tabel 1.3. Jalan Lokal Primer di Kecamatan Jabung c. Rencana Sistem Transportasi Udara.
NOMOR PANJANG RUAS Kecamatan Jabung termasuk dalam kawasan pengembangan Bandar Udara
NAMA RUAS
URUT RUAS (KM) Abdurrahman Saleh meliputi:

VI. KECAMATAN JABUNG 1). Peningkatan jalan menuju bandara

101 KAB Jeru - Jabung 6,9 2). Peningkatan panjang landasan pacu.

102 KAB Sukopuro - Taji 9,9


103 KAB Sidiorejo - Sidomulyo 2,1 3. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Lingkungan

104 KOTA Jalan Ahmad Yani 1,6 Rencana penetapan lokasi pengelolaan limbah industri B3 dan non B3 di kawasan

105 KOTA Jalan Sunan Kalijogo 0,35 industri Jabung dan Sumbermanjing Wetan.

106 KOTA Jalan Sidodadi 1,5


107 KOTA Jalan Kramat 0,275 1.2.2. Rencana Pola Ruang
Rencana pola ruang RTRW Kabupaten Malang terkait dengan BWP Jabung
108 KOTA Jalan Raden Patah 0,35
adalah sebagai berikut:
JUMLAH 22,975
1. Kawasan Lindung
a. Kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya meliputi kawasan
b. Jaringan Rel Kereta Api
resapan air.
Pengembangan dry port di sekitar kawasan industri Jabung.
Kawasan resapan air adalah daerah yang memiliki kemampuan tinggi
meresapkan air hujan, sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuiver)
yang berguna sebagai penyedia sumber air.
Kawasan resapan air yang terdapat di Kabupaten Malang meliputi:
 Kawasan pegunungan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) di
Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kecamatan Poncokusumo,
Kecamatan Tumpang, Kecamatan Jabung dan Kecamatan Wajak.
Taman Nasional Bromo – Tengger – Semeru dibagi menjadi 6 (enam) zona
yaitu zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona khusus, zona religi dan
zona tradisional berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 56 Tahun
2006 tentang pedoman zonasi taman nasional. Namun dalam
pengembangannya, zona yang dapat dikembangkan meliputi zona
tradisional. Adapun pengertian zona-zona, sebagai berikut:
o Zona rimba, untuk wilayah perairan laut disebut zona perlindungan
bahari adalah bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan
potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti
Sumber: Revisi RTRW Kabupaten Malang Tahun 2017
dan zona pemanfaatan. Zona rimba di Kabupaten Malang terdapat di

LAPORAN AKHIRI- 6
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Wajak, Kecamatan Poncokusumo, edukasi dan desa wisata.
Kecamatan Tumpang dan Kecamatan Jabung c. Kawasan peternakan
o Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan  Kawasan sentra produksi sapi perah di Malang Utara – Tenggara (kecamatan
untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang Pakis, Jabung, Tumpang, Poncokusumo, Wajak)
karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya  Pengembangan peternakan berbasis wisata edukasi
alam. Zona tradisional di Kabupaten Malang terletak di Kecamatan d. Kawasan pertambangan
Ampelgading, Wajak, Tirtoyudo, Poncokusumo, dan Jabung. Pertambangan batuan Andesit (Kecamatan Jabung, dan Kecamatan
b. Kawasan pelestarian alam yaitu wisata coban jahe Karangploso);
c. Kawasan rawan bencana e. Kawasan peruntukan industri:
 Rawan bencana longsor terdapat di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang akan mengembangkan kawasan industri terpadu di
Poncokusumo, Donomulyo, Ngantang, Kasembon, Bantur, Gedangan, Kecamatan Jabung dan Sendangbiru dalam bentuk kawasan industri. Kawasan
Sumbermanjing Wetan, Jabung, Tirtoyudo, Dampit, Wonosari Lawang dan Industri yang dikembangkan akan dipusatkan pada dua lokasi, yakni di
Karangploso. Kecamatan Jabung dengan luas sekitar 200 Ha, dan Sendangbiru dengan luas
Pernah terjadi bencana longsor di Desa Kemiri (Kec.Jabung) total 600 Ha yang menyatu dengan kawasan perkotaan dan kawasan pelabuhan.
 Rawan banjir dan kekeringan. Pengelolaan kawasan industri di Kabupaten Malang meliputi:
 Rawan bencana letusan gunung berapi  Kawasan industri yang akan dikembangkan di Daerah adalah di Kecamatan
Gunung Bromo di sebagian Kecamatan Poncokusumo, Jabung, Pakis dan Jabung, dengan memanfaatkan rencana jalan tembus Singosari - Jabung -
Tumpang; Pakis. Kawasan ini diprediksi akan memiliki tarikan kegiatan lain yang besar
d. Lindung Lainnya sehingga diperlukan penataan kawasan industri secara khusus;
Kawasan pengungsian satwa yaitu kawasan yang merupakan tempat hidup dan  Pengembangan industri berbasis wisata teknologi dan sejarah industri di
perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya Kecamatan Pakisaji, Jabung, Bululawang dan Sumbermanjingwetan.
konservasinya; memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;  pengembangan permukiman pendukung Kawasan Industri Jabung
merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; mempunyai f. Kawasan peruntukan pariwisata:
luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.  Pengembangan wisata berbasis pertanian
Kawasan pengungsian satwa di Kabupaten Malang berupa Kawasan Taman  Pengembangan wisata berbasis peternakan;
Nasional Bromo-Tengger-Semeru di Kecamatan Jabung, Tumpang,  Pengembangan wisata berbasis industri,
Poncokusumo, Wajak, Ampelgading dan Tirtoyudo; g. Kawasan peruntukan permukiman:
 Pengembangan permukiman baru skala besar di Kecamatan Singosari,
2. Kawasan Budidaya Jabung, Pakis;
a. Hutan rakyat  Pengembangan permukiman pendukung kawasan industri Jabung dan
Hutan rakyat di Kecamatan Jabung adalah seluas 1260,4 ha kawasan industri Sendangbiru;
b. Kawasan pertanian h. Kawasan Budidaya lainnya berupa Kawasan Hankam :
Arahan pengembangan pertanian di Kecamatan Jabung adalah berbasis wisata  Batalyon Infanteri Para Raider 502/Ujwala Yudha dan Brigif Linud

LAPORAN AKHIRI- 7
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

18/Trisula Kostrad seluas 148,2902 ha.


 Koramil 0818/23
 Kawasan bandar udara Abdurrahman Saleh masuk dalam kawasan
horizontal luar.

Gambar 1.3.

Peta Kawasan Industri


Terpadu Kabupaten Malang

Gambar 1.4.
Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Malang
Sumber:Revisi RTRW Kabupaten Malang 2017

Sumber:
Revisi RTRW Kabupaten Malang
1.2.3. Penetapan Kawasan Strategis
2017
Kawasan strategis adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan.
1. Kawasan Strategis Hankam
meliputi: Kawasan Strategis Militer di Kecamatan Singosari dan Kecamatan Jabung.
Kawasan strategis hankam di Kecamatan Jabung adalah kawasan strategis militer
KOSTRAD
2. Kawasan Strategis Ekonomi
a. Kawasan industri (KI) Jabung:
KI di Kabupaten Malang terdapat di Kecamatan Jabung dan Kecamatan
Sumbermanjing Wetan. Dengan adanya rencana pengembangan KI di Kabupaten
Malang, diharapkan memacu peningkatan perekonomian di Kabupaten Malang,
meningkatkan taraf pendapatan masyarakat serta membuka peluang investasi di
Kabupaten Malang.

LAPORAN AKHIRI- 8
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Rencana pengembangan KI Jabung terdiri dari dua (2) lokasi. KI 1 dengan luas Ruang”.
178 ha, sedangkan KI 2 dengan 103 Ha. KI Jabung diarahkan menjadi pusat Prinsip penataan pola ruang yang ada di Kawasan Perkotaan Jabung antara lain:
industri berbasis agroindustri pengolahan hasil pertanian dari wilayah 1. Tersedia zona industri dan peternakan yang ramah lingkungan dan serasi dengan
sekitarnya. zona permukiman.
2. Tersedia kawasan permukiman yang dapat menampung kebutuhan akibat
Gambar 1.5.
perkembangan industry.
Peta Rencana Kawasan Industri Jabung
3. Tersedia sarana dan prasarana perkotaan yang memenuhi kebutuhan permukiman
KAWASAN INDUSTRI
dengan optimal.
JABUNG
Kawasan industri Jabung 4. Tersedia akses yang memadai untuk mendukung kegiatan industri dan distribusi
kurang lebih seluas 200 Ha
hasil pertanian dan peternakan yang memadai.

1.3.2. Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang


Kawasan Industri 1 dengan luas 178 Ha
Kebijakan dan strategi penataan ruang Kawasan Perkotaan Jabung adalah
sebagai berikut:
1. Kebijakan I :
Tersedia zona industri dan peternakan yang ramah lingkungan dan serasi dengan
Kawasan Industri 2 dengan luas 103 Ha zona permukiman
b. Kawasan Poncowismojatu (Poncokusumo – Wajak – Pakis – Bromo – Jabung – Strategi :
Tumpang) a. Menyediakan zona industri dengan buffer zone dan RTH yang mencukupi
Poncowismojatu berdasarkan Peraturan Bupati Malang Nomor 28 Tahun 2015 b. Menyediakan zona peternakan minimal 1,5 km dari permukiman
tentang Roadmap Penguatan Sistem Inovasi Daerah Kabupaten Malang Agro 2. Kebijakan II :
Ekowisata “ Ponco Wismo Jatu” meliputi Poncokusumo, Wajak, Pakis, Bromo, Tersedia kawasan permukiman yang dapat menampung kebutuhan akibat
Jabung dan Tumpang. Kecamatan Poncokusumo sebagai kawasan agropolitan perkembangan industri
(dalam RPJMD), dan sebagai kawasan pendukung adalah Kecamatan Wajak Strategi :
sebagai kawasan minapolitan, Gunung Bromo sebagai wilayah wisata nasional, a. Menyediakan zona pengembangan permukiman baru untuk menampung
Kecamatan Jabung sebagai kawasan industri dan Kecamatan Tumpang sebagai perkembangan penduduk akibat adanya industri
kawasan pendukung perekonomian. b. Menyediakan zona perdagangan dan jasa yang tertata untuk mencukupi
kebutuhan di kawasan industri
1.3. TINJAUAN TERHADAP RDTR BWP JABUNG TAHUN 2012-2032 3. Kebijakan III :
1.3.1. Tujuan Penataan Ruang Tersedia sarana dan prasarana perkotaan yang memenuhi kebutuhan permukiman
Tujuan penataan ruang di kawasan Perkotaan Jabung adalah “Mewujudkan dengan optimal
Wilayah Perkotaan Jabung yang Mendukung Perkembangan Industri dan Kegiatan Strategi :
Peternakan yang Tertata dan tidak Mengakibatkan Dampak Negatif Pemanfaatan a. Menyediakan sarana air bersih yang dapat mengakomodasi seluruh penduduk

LAPORAN AKHIRI- 9
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

kawasan melalui jalur individu (perpipaan) ataupun komunal (tandon dan Tabel 1.4.
Konsep Pengembangan BWP Jabung
keran air komunal)
No. Konsep Pengembangan Peta
b. Menyediakan sarana drainase untuk menampung air buangan hujan
1. KONSEP KEPENDUDUKAN
maupun rumah tangga sehingga tidak mengganggu badan jalan,
Rencana distribusi penduduk didasarkan pada
permukiman maupun guna lahan lainnya lahan kosong selain lahan pertanian irigasi teknis
c. Menyediakan sarana persampahan berupa tempat sampah di masing- dan lahan konservasi yang dapat difungsikan
sebagai lahan permukiman. Sehingga rencana
masing rumah maupun penyediaan TPS untuk mengurangi pencemaran
persebaran penduduk di Perkotaan Jabung sebagai
sungai dan sebagai lokasi pembuangan yang menhubungkan dengan TPA berikut:
a. Diarahkan pada semua desa khususnya pada
Paras
wilayah layak bangun yang telah ditentukan
d. Menyediakan sarana system pengolahan air limbah untuk kawasan industri untuk daerah permukiman.
b. Lebih diprioritaskan di desa dengan kepadatan
baik secara on site maupun secara off site
yang masih rendah untuk memeratakan
4. Kebijakan IV : distribusi penduduk
Tersedia akses yang memadai untuk mendukung kegiatan industri dan distribusi
hasil pertanian dan peternakan yang memadai 2. KONSEP PENGEMBANGAN TRANSPORTASI
Strategi : Menyediakan jaringan jalan yang menjadi akses utama menghubungkan konsepsi rencana jaringan transportasi dan strategi yang diperlukan bagi pengembangan Perkotaan
Jabung yang mencakup sistem dan pola sirkulasi pergerakan dan jaringan jalan, termasuk sistem
kawasan industri dengan kawasan permukiman. angkutan umumnya, adalah sebagai berikut :
a. Sistem jaringan pergerakan harus merupakan sub sistem dari jaringan pergerakan Perkotaan
Jabung.
1.3.3. Rencana Pola Ruang
b. Sistem dan pola jaringan jalan diupayakan untuk menyesuaikan dengan konsep RTRW Kabupaten
1.3.3.1. Konsep Pengembangan Malang serta berdasarkan pula pada karakteristik dan permasalahan pada saat ini.
c. Sistem dan pola jaringan harus menunjang bagi perwujudan pola struktur pemanfaatan ruang dan
Konsep pengembangan Kawasan Perkotaan Jabung dalam RTRK Perkotaan Jabung
struktur pusat-pusat pelayanan wilayah perencanaan yang diinginkan. Konsep pola jaringan
meliputi Konsep kependudukan, pengembangan transportasi, pengembangan struktur ruang, pergerakan/jalan yang diterapkan adalah gabungan pola grid dan linier.
pengembangan penggunaan lahan, pengembangan fasilitas sosial dan fasilitas umum serta d. Sistem jaringan pergerakan harus dapat membantu peningkatan perkembangan dalam wilayah
perencanaan sesuai dengan potensi kelayakan lahan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan
pengembangan utilitas. Konsep pengembangan tersebut di atas akan didetailkan sebagaimana perwilayahan.
tabel berikut ini. e. Hierarki jalan perlu dipertegas. Klasifikasi ini didasarkan pada sistem jaringan jalan yang tertuang
dalam Undang-Undang Nomor 34 tahun 2006 sehingga masing-masing jalan dituntut, mempunyai
kualitas bahan permukaan, kapasitas jalan, lebar jalan dan kecepatan laju kendaraan yang tertentu
pula.
f. Sirkulasi pergerakan harus terhindar dari kemacetan atau kelambatan, khususnya pada simpul-
simpul pertemuan/persimpangan jalan utama, melalui kelengkapan prasarana jalan (lampu
pengatur dan rambu-rambu lalu lintas). Sehingga perlu adanya jaringan jalan alternative untuk
memecah konsentrasi arus lalu lintas di pusat kota
g. Sirkulasi pergerakan harus dapat menjamin kenyamanan dan keamanan masing-masing
pelakunya, baik pejalan kaki maupun kendaraan.
h. Untuk melayani pergerakan penduduk diseluruh wilayah perencanaan dan menghubungkan
dengan lingkungan sekitarnya, diperlukan adanya penyediaan sistem dan pola jaringan angkutan
umum. Sistem dan pola jaringan angkutan umum ini mencakup penentuan rute, pemilihan moda
angkutan dan penyediaan tempat pemberhentian (sub terminal dan halte/shelter).

LAPORAN AKHIRI- 10
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Konsep Pengembangan Peta No. Konsep Pengembangan Peta


i. Penyediaan fasilitas sub terminal dengan mempertimbangkan lokasi yang tepat/strategis, baik
ditinjau dari pola jaringan angkutan umum (rute), ketersediaan luasan lahan yang memadai, 5. PENETAPAN KAWASAN PERLINDUNGAN SETEMPAT
kesesuaian dengan tata guna lahan maupun dengan hierarki jalan. Kawasan lindung di Perkotaan Jabung ditetapkan sebagai berikut:
j. Pada lokasi-lokasi tertentu dimana diperkirakan akan terjadi pergantian moda angkutan 1. Kawasan Sempadan Sungai
penumpang/barang, penurunan dan pengangkutan penumpang, perlu halte-halte yang memadai Adapun kawasan sempadan sungai di Perkotaan Jabunguntuk Sungai Jilu dan Sungai Paras
dan pada lokasi yang tepat. adalah:
 Perlindungan terhadap anak sungai-anak sungai diluar permukiman ditetapkan minimum 50
3. KONSEP PENGEMBANGAN STRUKTUR RUANG meter.
a. Pusat Pelayanan Skala Kecamatan  Pada sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman ditetapkan minimum
Fungsi : Pusat pemerintahan skala kecamatan, 15 meter.
perkantoran, perdagangan dan jasa, pendidikan 2. Kawasan Sempadan Irigasi
skala kecamataN. Kawasan sempadan irigasi adalah kawasan sepanjang kanan-kiri saluran irigasi primer dan
Dilengkapi : fasilitas peribadatan, kesehatan, sekunder, baik irigasi bertangggul maupun tidak. Kawasan ini bermanfaat untuk pelestarian
permukiman saliran irigasi, baik dari sisi kualitas air maupun manfaat bagi area yang diairi.Adapun kawasan
b. Pusat Pelayanan Skala Lokal sempadan irigasi di Perkotaan Jabung meliputi :
Fungsi : pendidikan sampai SMP/MTs, a. Perlindungan pada irigasi primer baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan
perdagangan dan jasa skala local perkotaan, minimum 10 meter kiri-kanan saluran;
pusat pemerintah skala desa b. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran
Dilengkapi : fasilitas peribadatan dan dengan lebar jalan minimum 4 meter.
permukiman c. Perlindungan pada irigasi sekunder baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan
c. Pusat Pelayanan Skala Lingkungan minimum 6 meter kiri-kanan saluran;
Fungsi : perdagangan dan jasa skala lingkungan, d. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran
pendidikan sampai SD/MI dengan lebar jalan minimum 3 meter.
Dilengkapi : puskesmas pembantu, fasilitas 6. PENETAPAN ZONA PERTANIAN
peribadatan permukiman. kawasan pertanian terutama pertanian dengan irigasi teknis merupakan salah satu kawasan yang
dipertahankan, namun sejalan dengan kebutuhan pengembangan kawasan maka adanya alih fungsi
4. KONSEP PENGEMBANGAN PENGGUNAAN lahan pertanian menjadi lahan terbangun harus diminimalisir. Penggunaan lahan untuk perluasan
LAHAN kegiatan, perkembangan skala kegiatan dan pemerataan perkembangan kawasan diperkirakan dalam
Pengembangan lahan yang ada di Perkotaan jangka panjang akan berpengaruh terhadap perkembangan lahan pertanian, sehingga lahan
Jabung akan diperuntukkan sebagai kawasan pertanian yang ada sekarang diasumsikan akan semakin berkurang akibat tingkat perkembangan
industri penunjang dari Kecamatan SIngosari, dari berbagai kegiatan yang berkembang.
selain itu beberapa kawasan akan dijadikan Dengan tidak secara sporadis memanfaatkan lahan-lahan tidak terbangun yang ada untuk mewadahi
kawasan pertanian serta lahan permukiman dan kebutuhan pengembangan fisik kota, maka pemanfaatan lahan-lahan belum terbangun terutama
kawasan penunjang seperti perdagangan dan jasa. lahan pertanian diarahkan sebagai berikut:
Untuk kawasan militer merupakan bagian a. Pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan terbangun terkait dengan perkembangan kota
penunjang dari Bandara Abdulrachman Saleh yang diprioritaskan pada lahan yang mempunyai tingkat kesuburan rendah terlebih dahulu.
terdapat di Perkotaan Jabung. b. Seluruh sawah irigasi teknis tetap dipertahankan sebagai lahan pertanian abadi
Rencana penggunaan lahan :
7. PENETAPAN ZONA PERMUKIMAN
a. Pengembangan industry berada pada pintu
Untuk masa mendatang pengembangan zona permukiman di Perkotaan Jabung ditekankan untuk
gerbang masuk Perkotaan Jabung
mendistribusikan pertumbuhan kawasan perumahan secara merata pada masing-masing kelompok
b. Pengembangan kawasan pertanian berada pada
kawasan permukiman dengan meningkatkan aksesibilitas lokasi, perkembangan kawasan
sisi selatan Perkotaan Jabung
permukiman ini diarahkan perkembangannya tidak searah dengan koridor jalan utama, karena akan
c. Prioritas pengadaan perdagangan dan jasa
memicu penumpukan kegiatan dan hambatan di sepanjang jalan utama Perkotaan Jabung yakni:
berada di sepanjang jalan atau koridor jalan
a. Bagian Utara dan Timur
penghubung antar desa dan antar dusun.
Pengembangan perumahan umum dengan konsep penyatuan/infiltrasi dengan tetap

LAPORAN AKHIRI- 11
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Konsep Pengembangan Peta No. Konsep Pengembangan Peta


mempertimbangkan aspek keseimbangan lingkungan dengan memanfaatkan lahan yang masih c. Sistem penanganan sampah perkotaan secara terkoordinir dan pengelolaan sampah secara terpadu
kosong pada daerah ini. dari rumah tangga hingga TPA Paras, Poncokusumo dan pengadaan TPS.
b. Bagian Tengah
Pengembangan perumahan dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong yang masih ada dengan Tabel 1.5.
konsep infiltrasi dan menghindari terciptanya ruang-ruang mati. Konsep ini dinilai cocok karena Kebijakan yang ditetapkan di BWP Jabung
kondisi permukiman yang berupa perkampungan cukup padat. No Lokasi Bentuk Kebijakan RTRW Kabupaten Malang
c. Bagian Selatan
Perkembangan kawasan permukiman ditujukan pada lahan-lahan pertanian yang kurang Sarana Prasarana Pengembangan kawasan
produktif dan memiliki jarak yang aman dengan lokasi industri 1 Desa Direncanakan tempat  Jalan Kolektor Primer yang Pengembangan kawasan
Sukolilo pembuangan limbah termasuk status jalan industri seluas ± 200 ha
8. PENETAPAN ZONA PERDAGANGAN DAN JASA industri B3 dan non Kabupaten adalah jaringan jalan
Fasilitas perdagangan dan jasa di Perkotaan Jabung mempunyai kedudukan yang vital yaitu sebagai B3 di kawasan yang menghubungkan antara
sarana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan regional. Industri Jabung Singosari - Jabung – Pakis. Jalan
Pemanfaatan kawasan perdagangan diarahkan sebagai berikut: ini memiliki fungsi penunjang
a. Kawasan pusat perkotaan pemanfaatan kawasan perdagangan dan jasa diarahkan dalam bentuk jalan Lingkar Timur dan
kawasan pertokoan dengan lokasi menyebar mengikuti pola jaringan jalan. penunjang pengembangan
kawasan industri Jabung dan
b. Selain itu juga dikembangkan fasilitas perdagangan skala regional seperti pusat pertokoan, pasar,
Bandara Abdulrahman Saleh.
pada wilayah Desa Sukolilo dan Desa Kemantren yang menjadi pusat kegiatan skala kecamatan  Jalan Tembus, yaitu Jalan
c. Perkembangan perdagangan di kawasan permukiman skala lingkungan ditingkatkan tembus yang menghubungkan
keberadaannya secara menyebar untuk memenuhi kebutuhan penduduk Kabupaten Malang dengan
Kabupaten Pasuruan, yaitu
9. PENETAPAN ZONA PENDIDIKAN
melewati Jabung - Nongkojajar
Fasilitas pendidikan yang telah membentuk kawasan yaitu fasilitas pendidikan SD, SMP,dan SMK. (Pasuruan)
Di dalam pemanfaatan kawasan pendidikan di wilayah perencanaan lebih diarahkan untuk 2 Desa  Jalan Tembus, yaitu Jalan  Khusus untuk kompleks
pengembangan fasilitas pendidikan skala regional seperti SMA atau SMK yang lokasinya disesuaikan Kemantren tembus yang menghubungkan militer, pengembangan
dengan skala pelayanan dan kebutuhan Kabupaten Malang dengan kawasan sekitar perlu ada
Kabupaten Pasuruan, yaitu pembatasan, salah satunya
10. PENETAPAN ZONA INDUSTRI melewati Jabung - Nongkojajar dengan pelarangan
Sebagian besar industri di Perkotaan Jabung direncanakan berupa industri kecil sampai industri (Pasuruan); penggunaan tanah yang
besar. Adapun arahan pengembangan kawasan industri untuk jangka panjang dengan kriteria memiliki intensitas kegiatan
memiliki batas ruang (penyangga) dari permukiman penduduk (dengan batas atau jarak yang tinggi dan menimbulkan
fleksibel) dan didukung dengan aksesibilitas yang memadai dari dan menuju Kecamatan SIngosari, multiplier effect.
sebagai pusat kegiatan indusri utama di Kabupaten Malang. Selain itu untuk mengatasi  RTR Kawasan Khusus
Bandara Abdulrachman
permasalahan lingkungan diperlukan pula pengolahan limbah secara off site dan on site
Saleh
11. KONSEP PENGEMBANGAN FASILITAS SOSIAL DAN FASILITAS UMUM  Kawasan pendukung
Adapun konsep pengembangan fasilitas di Perkotaan Jabung selanjutnya yaitu: transportasi udara dan
a. Penambahan fasilitas-fasilitas baik fasilitas perkantoran skala desa maupun perkantoran jasa yang kawasan penyangga sekitar
bandara
diperlukan oleh masyarakat
3 Desa  Jalan Tembus, yaitu Jalan
b. Penambahan fasilitas pendidikan setara SMP di setiap desa hingga memenuhi kebutuhan
Jabung tembus yang menghubungkan
masyarakat, dan dilokasikan menyebar untuk mempermudah jangkauan masyarakat Kabupaten Malang dengan
c. Peningkatan kinerja puskesmas pembantu untuk sarana kesehatan masyarakat Kabupaten Pasuruan, yaitu
12. melewati Jabung - Nongkojajar
KONSEP PENGEMBANGAN UTILITAS
(Pasuruan);dan Jaringan jalan
Konsep pengembangan pengembangan jaringan utilitas di Perkotaan Jabung sebagai berikut:
yang menghubungkan antara
a. Perluasan jaringan listrik, telepon, air bersih pada kawasan permukiman baru atau wilayah- Singosari – Jabung – Pakis
wilayah yang akan dikembangkan.  Pengembangan BTS bersama
b. Pengembangan sistem drainase yang menyeluruh untuk seluruh kawasan perkotaan yang untuk pelayanan kawasan
ditunjang dengan adanya kawasan resapan air berupa ruang terbuka hijau. Malang dan sekitarnya

LAPORAN AKHIRI- 12
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Pola Ruang Peta


1.3.3.2. Rencana Pola Ruang BWP Jabung Perkembangan zona industry berada di Desa Sukolilo dengan luasan yang tidak mencapai 200
hektar. Perkembangan ini dibatasi mengingat adanya perkembangan permukiman dan sawah
Rencana pola ruang Bagian Wilayah Perkotaan Jabung adalah sebagaimana tabel irigasi teknis yang ada di kawasan desa tersebut, zona industri direncanakan ± 94,56 ha. Pada
zona industri jarak antara permukiman dan kawasan industri dibatasi oleh kawasan penyangga
berikut.
sebagai penyaring polusi udara yang dihasilkan oleh industri.
D. Zona Militer dan KKOP
Tabel 1.6.
Batas pengembangan zona militer merupakan
Rencana Pola Ruang BWP Jabung kawasan penyangga yang memisahkan aktivitas
dari kegiatan militer dengan kegiatan
No. Rencana Pola Ruang Peta
permukiman. Arahan penambahan
1. RENCANA ZONA LINDUNG pengembangan zona militer hanya berkisar
kawasan militer dan sekitarnya. Sedangkan
A. Zona Perlindungan Setempat untuk zona KKOP, akan dibatasi pengembangan
Zona perlindungan yang ada di kawasan Perkotan Jabung berupa kawasan sempadan sungai Jilu pembangunan hanya berupa intensitas
dan Paras. Sesuai dengan lebar dan fungsi sungai, maka perlu ditetapkan kawasan sempadan bangunan, untuk perkembangan guna lahan
sungai sebagai salah satu kawasan perlindungan. Zona perlindungan untuk kawasan sempadan pembangunan tidak dibatasi namun masih dalam
sungai di Perkotaan Jabung yang berada di luar kawasan permukiman adalah 50 meter, sedangkan pengawasan pihak LANUD Abdulrachman
untuk yang melewati kawasan permuikiman, sempadan ditetapkan 15 meter dari bagian tengah Saleh. Zona militer di kawasan perkotaan Jabung
sungai. sebesar ± 48,40 ha.
Sedangkan untuk saluran irigasi yang ada di kawasan Perkotaan Jabung berupa jaringan primer
menggunakan sempadan minimum 10 meter di sisi kanan dan kiri, sedangkan untuk jaringan
irigasi sekunder menggunakan sempadan minimum 6 meter. E. Zona Pertanian dan Peternakan
Zona pertanian direncanakan sebesar ± 499,57 ha yang merupakan kawasan penyangga Kabupaten
B. Zona Sekitar Mata Air Malang sehingga sebagian diperuntukkan sebagai lahan pertanian berkelanjutan. Hal ini sejalan
Mata air yang ada di kawasan Perkotaan Jabung terdapat di Desa Kemantren yang masih dengan perekonomian masyarakat Desa Jabung yang mayoritas memiliki pekerjaan sebagai buruh
dimanfaatkan oleh pondok sehingga belum digunakan secara luas oleh masyarakat. Penggunaan tani.
mata air ini sleama 20 tahun akan menurunkan tingkat debit, sehingga perlu adanya perlindungan Sedangkan untuk kawasan peternakan dikembangkan pada lokasi lahan yang kurang produktif
berupa penetapan sempadan untuk menjaga kelestarian mata air. dengan luas rencana sebesar ± 157,70 ha dan juga dibatasi pengembangannya dengan jarak 1,5 km
dari permukiman penduduk untuk mengurangi pencemaran limbah ternak dari air dan udara.
2. RENCANA ZONA BUDIDAYA Kawasan peternakan akan ditunjang oleh industrii peternakan yang ada di sekitar kawasan
A. Zona Permukiman Perkotaan Jabung dan juga KAN Jabung
Permukiman yang ada di Perkotaan Jabung
dipersiapkan untuk perkembangan industri yang
akan terjadi di Desa Sukolilo. Sehingga sesuai 1.3.3.3. Penetapan Sub BWP Prioritas
dengan kebutuhan tersebut, perkembangan
permukiman akan memiliki beberapa klasifikasi Penetapan dan Rencana Penanganan Sub BWP Prioritas adalah sebagaimana tabel
yang disesuaikan dengan kebutuhan
perkembangan perumahan. Zona permukiman di berikut.
Perkotaan Jabung direncanakan ± 360, 75 ha.
B. Zona Perdagangan dan Jasa
Kawasan perdagangan dan jasa yang ada di
Perkotaan Jabung dibagi menjadi beberapa
hirarki perdagangan dan jasa yang membentuk
pusat kegiatan. Perbedaan tersebut mengacu
pada kondisi eksisting yang ada, sehingga
pembentukan rencana kegiatan disesuaikan
dengan kebutuhan dan juga skala permukiman di
kawasan tersebut. Dengan luas ± 48,53 ha, zona
perdagangan dan jasa direncanakan tersebar di
Desa Kemantren dan Desa Sukolilo.
C. Zona Industri

LAPORAN AKHIRI- 13
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Tabel 1.7. No. Rencana Penanganan Konsep


Penetapan dan Rencana Penanganan Sub BWP Prioritas
kayu.
No. Rencana Penanganan Konsep 3.5 Terdapat kawasan
1. Penetapan Sub BWP Prioritas pusat pemerintahan
3.1 Lokasi sub-BWP yang kecamatan
diprioritaskan adalah
3.6 Pusat pemerintahan
Sub-BWP I, hal ini
kecamatan atau kantor
dikarenakan:
kecamatan Jabung
3.2 Merupakan rencana berada di dekat
kawasan industri
gerbang perbatasan
3.3 Kawasan industri ini Kecamatan Jabung dan
merupakan kawasan Kecamatan Pakis dan
industri penyanggga berdampingan dengan
dari Kecamatan SMK Ahmad Yani.
Singosari. Kawasan ini
3.7 Terdapat lahan irigasi
akan terdiri dari
teknis pertanian
kawasan industri skala
3.8 Lahan irigasi teknis ini
besar hingga skala
diperuntukkan untuk
kecil dengan
mempertahankan lahan
memperhitungkan
pertanian yang ada di
dampak lingkungan
kawasan ini. Lahan
yang ada di kawasan
pertanian yang ada
tersebut. Lokasi
berupa perkebunan dan
kawasan industri tidak
palawija serta lahan
diperbolehkan
persawahan.
menggunakan lahan
3.9 Terdapat kawasan
pertanian irigasi teknis
permukiman dan
dikarenakan Kecamatan
perumahan
Jabung merupakan
3.10 Kawasan permukiman
salah satu akwasan
yang ada saat ini
penyangga pertanian
kepadatan sedang.
Kabupaten Malang.
3.11 Tema Sub BWP
3.4 Untuk kondisi saat ini
Prioritas : “Penataan
yang ada di kawasan
permukiman disekitar
sub-BWP I berupa
kawasan industri yang
industri ternak yaitu PT.
berlandaskan
Super Unggas Jaya,
lingkungan”
peternakan ayam dan
pabrik pengolahan

LAPORAN AKHIRI- 14
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Penanganan Konsep No. Rencana Penanganan Konsep


2. Rencana Penanganan Sarana polusi. Arahan
a. Permukiman pengembangan Rusun
3.12 Permukiman yang akan
Kawasan Industri di
berkembang mengikuti
Perkotaan Jabung
perkembangan skala
dengan memeanfaatkan
industri di kawasan ini,
lahan di sekitar
pengembangan industri
kawasan Industri.
skala besar dapat
Dengan ketentuan-
menjadi salah satu
ketentuan sebagai
indikator akan
berikut :
munculnya permukiman
Konsep Desain
di sekitar kawasan
3.14 Luas lahan 20.000 m2 ,
tersebut akibat
terdiri dari 4 blok
kebutuhan tenaga kerja
3.15 Luas blok rumah susun
pada industri. Melalui
± 5000 m2
kawasan ini akan
Kriteria Desain
dibentuk kawasan 3.16 Efisiensi bahan
permukiman sebagai bangunan melalui
tempat tinggal para penerapan koordinasi
pekerja berupa Rumah modular
Susun (Rusun) yang 3.17 Kecepatan kerja
layak huni dan pembangunan yang
berwawasan tinggi
lingkungan untuk 3.18 Efisiensi penggunaan
mengurangi dampak lahan/orang pada
biologis maupun bangunan
ekologis terhadap
3.19 Sistem pelaksanaan
masyarakat sekitar
pembangunan yang
kawasan industri.
masih bersifat labour
3.13 Konsep berwawasan intensive
lingkungan dibentuk
3.20 Biaya pemeliharaan
dari ketersediaan lahan
yang murah
dari kapling
3.21 Bangunan harus hemat
permukiman untuk
energi
dijadikan ruang terbuka
3.22 Kenyamanan hunian
hijau privat serta
yang cukup tinggi
pengembangan taman
3.23 Bangunan mendukung
lingkungan untuk
komunikasi penghuni
mengurangi dampak

LAPORAN AKHIRI- 15
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Penanganan Konsep No. Rencana Penanganan Konsep


yang akrab
3.24 Memenuhi persyaratan
teknis bangunan
gedung negara: tata
bangunan dan
lingkungan, bahan
bangunan, struktur
bangunan, utilitas
3.33
bangunan, dan sarana
3.34
penyelamatan
b. Perdagangan dan Jasa
3.25 3.35 Kegiatan perdagangan
Sistem Sambungan Listrik PLN dan jasa di Perkotaan
3.26 Meteran listrik dipasang untuk tiap hunian dalam blok panel di hall tengah tiap
Jabung merupakan
lantai Kapasitas genset untuk backup listrik PLN untuk: pompa air bersih, pompa
faslilitas yang akan
hydrant, lampu koridor dan lampu taman
melengkapi fungsi
3.27 Karena tidak menggunakan plafod dalam setiap hunian, maka jaringan pipa/kabel
kegiatan industri serta
listrik perlu finishing sehingga terlihat estetis dan lebih aman
permukiman.
3.28 Menyediakan jaringan kabel listrik untuk kebutuhan hunian seperti TV, dan lain-
Perdagangan dan jasa
lain lengkap assesorisnya
pada kawasan ini dapat
3.29 Setiap unit hunian 5 titik lampu, 3 titik stop kontak, 1 titik deteksi kebakaran.
berkembang menjadi
Rencana Penataan Kawasan di Jalan Kolektor
3.30 kawasan perdagangan
Air Bersih Sistem Persampahan
skala local maupun
3.31 Tekanan suplay air
regional, namun sesuai
tidak akan melemah
dengan pembatasan
pada hunian terakhir
serta skala kebutuhan
pada waktu pemakaian
pengembangan,
puncak dan bersamaan.
kegiatan perdagangan
Dengan tekanan
dan jasa aakan dibatasi
grafitasi, tekanan air
pada pelayanan skala
stabil, Meteran air pada
lingkungan saja
masing-masing unit
sehingga tidak tumpang
hunian.
tindih dengan kawasan Rencana Penataan Kawasan di Jalan
3.32 Lingkungan
perdagangan dan jasa
skala regional.
3.36 Arahan pengembangan
perdagangan dan jasa
menggunakan konsep
lingkungan dengan

LAPORAN AKHIRI- 16
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Penanganan Konsep No. Rencana Penanganan Konsep


memanfaatkan lahan Rencana Penataan RTH untuk Industri
parkir atau lahan Kawasan industri yang direncanakan berada pada
Desa Sukolilo merupakan salah satu kontribusi
kosong sebagai ruang penghasil polutan Udara. Oleh karena itu perlu
terbuka yang adanya buffer zone di sekitar wilayah kawasan
industri berupa green belt (jalur hijau) untuk
difungsikan sebagai
menyerap polutan-polutan udara seperti Pb, CO2,
penyaring udara. SOx dll.
Adanya ruang terbuka hijau di kawasan industry
dibutuhkan sebagai penyeimbang lingkungan antara
kawasan industry dengan lingkungan sekitar.
Beberapa vegetasi yang direncanakan dapat
dikembangkan di kawasan industri sepanjang by
pass berbentuk jalur yaitu Kiera payung dan
Tanjung dengan jarak penanaman antar pohon 3 – 5
m, sedangkan untuk pemecah angin jarak tanam
rapat < 3 m. Sedangkan jenis vegetasi yang dapat
ditanam di dalam lingkup kawasan industri yaitu
Bambu Cina yang di tanam sejajar di sekeliling
lingkup wilayah industri, Asam Kranji dan Kembang
Sepatu.

Rencana Penataan Kawasan di Jalan Lokal Konsep Rencana Penataan RTH Sempadan Sungai
Pengembangan penghijauan pada kawasan
c. Pendidikan sempadan sungai dapat berfungsi sebagai penyerap
Pendidikan yang diperlukan di kawasan ini merupakan kawasan pendidikan skala TK, SD/MI hingga air, penahan erosi dan peneduh
SMA/MA/SMK, untuk pendidikan tingkat SMA/MA/SMK sudah ada di kawasan ini, sedangkan
untuk tingkat lainnya masih diperlukan sesuai dengan jumlah penduduk yang akan menignkat di
kawasan ini.
Kawasan pendidikan memerlukan penyangga disekitar bangunan untuk meredam kebisingan yang
dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar. Untuk penyaring memerlukan vegetasi yang dapat
digunakan untuk penyaring kebisingan.

d. Kesehatan
Fasilitas kesehatan yang ada di kawasan ini merupakan pelengkap dan penunjang untuk mengatasi
permasalahan kesehatan yang ada di kawasan tersebut akibat kegiatan industri. Skala kesehatan
dapat berupa puskesmas pembantu ataupun praktek dokter.

e. Peribadatan 2 Pa
ga 5 Bang
Kegiatan peribadatan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada di kawasan ini, kegiatan perbadatan m
r m unan
akan difungsikan sesuai dengan kebutuhan di kawasan permukiman.

f. Ruang Terbuka
Jenis ruang terbuka yang ada di kawasan industri
dapat berupa jalur hijau, dan juga dapat berupa Konsep Rencana Penataan RTH Makam Konsep Rencana Penataan RTH Taman
taman terbuka. Bentuk ruang terbuka berupa jalur Lingkungan
yang mengitari kawasan industri, sedangkan Buffer Zone
untuk taman berupa playground atatu ruang
publik. Pembangunan hutan skala kecamatan
maupun skala desa dapat dilakukan sehingga Industri
dapat menciptakan ruang penyaring udara yang
baik

LAPORAN AKHIRI- 17
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Penanganan Konsep No. Rencana Penanganan Konsep


pengguna.
Perabot ruang luar yang dimaksud meliputi lampu
penerangan jalan, tempat sampah, halte, telepon
umum, bis surat, reklame, termasuk juga rambu-
rambu. Konsep pengembangan street furniture
didasari atas kebutuhan atau pemintaan dengan
tetap memperhatikan estetika lingkungan. Dengan
demikian, maka standar-standar yang berlaku
terhadap pengadaan masing-masing perabot ruang
Jenis Vegetasi Pengembangan RTH Taman luar tersebut tetap digunakan. Selain itu, konsep
RW dan Kelurahan pengembangan blok perdagangan sebagai sebuah
⁻ Bungur blok yang terintegrated dengan kegiatan perumahan
⁻ Dadap Merah dan pendidikan sehingga perlu dipadupadankan
Konsep Rencana Penataan RTH Taman RW ⁻ Asam Jawa dengan pengembangan street furniture bergaya
⁻ Bougenvil budaya
⁻ Flamboyan
⁻ Rumput Pait Jaringan Listrik
⁻ Kembang Sepatu Jaringan listrik di kawasan ini sudah terpenuhi secara eksisting, namun dengan penambahan kawasan
⁻ Puring industri, yang perlu ditingkatkan adalah kapasitas pelayanan listrik.
⁻ Rumput embun Ketentuan jarak jaringan listrik:
⁻ Lili Paris ⁻ Jarak antar tiang rata-rata 40 meter
⁻ Lantana ⁻ Untuk penyesuaian dengan keadaan permukaan tanah jalan dan sebagainya, maka dapat diambil
jarak tiang antara 30 meter – 45 meter
⁻ Jarak kawat pengantar (konduktor) terhadap unsur-unsur didalam lingkungan antara lain bangunan,
pohon, jarak tiang dan lain-lain harus dengan peraturan PLN yang sudah berlaku. Penempatana tiang
dan penarikan kawat harus sempurna dan tinggi kawat minimum 7 meter diatas permukaan tanah.

3. Rencana Penanganan Prasarana ROW 18 Jaringan Telekomunikasi


Jaringan Pergerakan Telekomunikasi yang diperlukan adalah jaringan yang dapat melayani secara internasional misanya
Kegiatan pergerakan di kawasan ini memerlukan dengan penambahan BTS maupun dengan penambahan jaringan telepon untuk menyokong kebutuhan
peningkatan hirarki sehingga dapat membantu industri di desa Sukolilo dan di seluruh kawasan perkotaan Jabung yaitu desa Kemantren dan desa
aksesibilitas distribusi di kawasan industri. Jabung
Peningkatan ini dapat berupa pelebaran jalan yang
ROW 12
menjadi penghubung antara kawasan industri dan Jaringan Air Minum
Kecamatan Singosari. Air bersih yang dapat digunakan adalah melalui PDAM melalui sumber air Jengglong yang berada di
Peningkatan jaringan trasnportasi lainnya yang KecamatanPoncokusumo. Pemenuhan kebutuhan jaringan air bersih sambungan rumah dengan
perlu dilakukan adalah peningkatan armada ROW 8 ketentuan :
angkutan umum dan juga peningkatan sarana ⁻ Harus tersedia sistem plumbing dalam rumah
penunjang seperti halte serta APK (area pangkalan ⁻ Ukuran minimum pipa dinas 18 mm
kendaraan) ⁻ Harus dipasang meter air dengan ukuran 12,5 mm
Bentukan penampangan jalan dan bangunan di ⁻ Untuk pipa yang tertanam dalam tanah dapat dipakai pipa PVC
wilayah perencanaan dibagi menjadi 6 (enam) tipe, ⁻ Untuk pipa yang dipasangdi atas tanah tanpa perlindungan dipakai GIP
yaitu : ⁻ Meter harus dipasang tertutup dan diamankan terhadap pengrusakan
⁻ Jalan kolektor dengan lebar 18 m Untuk jaringan kran umum memiliki kriteria kawasan :
⁻ Jalan lokal direncanakan dengan lebar 12 m ⁻ Jumlah pemakai 200 jiwa satu kran umum
⁻ Jalan lingkungan direncanakan dengan lebar 8 m ⁻ Radius pelayanan maksimum 100m
⁻ Untuk hidran umum yang merupakan sambungan kran umum yang dilengkapi dengan
Perencanaan bentukan, dimensi dan penempatan reservoir/bak penampung dengan kapasitas 2 – 4 m2, saluran pembuangan dapat dialirkan ke
perabot jalan harus saling terintegrasi dengan saluran pembuangan jalan atau bidang resapan yang berukuran 80x80x100cm3
elemen wajah jalan lainnya untuk menghindari ⁻ Untuk prediksi perhitungan kebutuhan air non domestik dipergunakan asumsi 20 % dari kebutuhan
terjadinya ketidakteraturan lingkungan. Selain itu, air domestik.
dimensi jarak penempatan juga harus diperhatikan ⁻ Hidran untuk penyediaan air bila terjadi kebakaran menggunakan jaringan air PDAM. Untuk
untuk mengoptimalkan pelayanan bagi masyarakat perletakan adalah pada masing-masing blok bangunan. Perencanaan air bersih didasarkan pada

LAPORAN AKHIRI- 18
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Rencana Penanganan Konsep No. Rencana Penanganan Konsep


kondisi eksisting yang sudah ada dan perencanaan kedepannya. Penyediaan ar bersih disuplai dari ⁻ Penempatannya sedemikian rupa, sehingga mudah dicapai oleh petugas kebersihan dan tidak
jaringan PDAM. mengganggu lalu lintas
Tempat pengumpulan sampah lingkungan perumahan :
Jaringan Drainase ⁻ Kapasitas tempat sampah lingkungan minimum bervolume 2 m3, berdasarkan jumlah rumah yang
Analisa sistem saluran drainase/limbah dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan terhadap dilayani 200 rumah
arahan penanganan sistem saluran drainase/limbah di kawasan perencanaan, sehingga diperoleh suatu ⁻ Tempat dampak dibuat dari bahan rapat berupa ruang terbuka yang bisa untuk menempatkan
lingkungan yang aman dan sehat. Seperti yang ada dalam kondisi eksisting jaringan saluran drainase container kapasitas 6 m3
dan limbah menjadi satu. Limbah cair adalah buangan air mandi, pencucian dan dapur yang masuk Sistem pengangkutan sampah meliputi :
langsung ke dalam fasilitas sanitasi sumur resapan. Air kotor adalah buangan berupa limbah pekat/ ⁻ Fasilitas pengangkutan sampah dapat berupa gerobag dorong,dan truk pengangkut sampah
tinja manusia yang masuk kedalam septik tank sebelum diresapkan ke sumur resapan. ⁻ Jumlah dan kapasitas alat angkut tergantung pada jumlah dan frekuensi sampah yang akan di angkut
Saluran pembuangan air hujan dapat menggunakan saluran terbuka untuk kawasan permukiman dan ⁻ Jangka waktu pengangkutan dari tiap-tiap ruamh atau tempat pengumpulan sampah harus diatur
saluran tertutup untuk kawasan perdagangan. maksimum 2 hari sekali.
⁻ Saluran terbuka berbentuk ½ lingkaran dengan ukuran minimum diameter 20cm
⁻ Bentuk bulat telur umuran minimum 20/30 cm
⁻ Bahan saluran : beton dan pasangan batu dan bahan lain
⁻ Kemiringan saluran minimum 2%
⁻ Kedalaman saluran minimum 4 cm 1.3.3.4. Rencana Pola Ruang Sub BWP/Blok
Apabila saluran dibuat tertutup, maka tiap perubahan arah harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa Rencana pola ruang zona dan sub BWP dan Blok yang ada di Perkotaan Jabung
dan pada saluran yang lurus, lubang pemeriksa harus ditempatkan pada jarak minimum 50 meter.
⁻ Bahan saluran PVC, beton dan bahan lain sebagaimana tabel berikut.
⁻ Kemiringan saluran minimum 2%
Tabel 1.8.
⁻ Kedalaman saluran minimum 30 cm
Rencana Pola Ruang Zona Dan Sub Zona BWP Jabung
Jaringan Air Limbah
No. Bub BWP / Blok Peta
Penanganan air limbah dilakukan dengan membuat saluran limbah dan juga unit pengolahan air
limbah. Pembuatan pengolahan air limbah ini dilakukan secara on site agar penangan limbah yang 1. Blok peruntukan A-I, berada pada perbatasan Desa
1.
diperlukan tidak bercampur antara industri satu dan industri lainnya. Sukolilo dan Desa Kemantren, pada kondisi eksisting
Untuk limbah permukiman dan perdagangan, sistem pembuangan air limbah kota dan sistem dominasi penggunaan lahan merupakan lahan tidak
pembuangan air limbah lingkungan harus dapat melayani kebutuhan pembuangan dengan persyaratan terbangun dengan dominasi lahan berupa
berikut : permukiman. Arahan penggunaan lahan pada blok ini
⁻ Ukuran pipa pembawa minimum 2 mm berupa ruang terbuka hijau, penambahan
⁻ Sambungan pipa harus rapat air perdagangan dan jasa dan perngembangan kawasan
⁻ Pada jalur pembawa arus dilengkapi dengan lubang pemerikas pada tiap penggantian arah pipa dan permukiman.
minimum pada jarak setiap 50 m pada bagian yang lurus 2. Blok peruntukan A-II, berada pada Desa Sukolilo
Air limbah harus melalui sistem pengolahan sedemikian rupa, sehingga memenuhi standar yang dengan dominasi lahan eksisting berupa lahan irigasi
berlaku sebelum dibuang ke perairan terbuka. teknis. Untuk arahan pada blok ini merupakan lahan
Pada tangki septic memiliki syarat ; irigasi teknis yang dipertahankan sebagai lahan
⁻ Muka air tanah harus cukup rendah pertanian abadi. Untuk pengembangan lainnya adalah
⁻ Jarak minimum antara bidang resapan bersama dengan sumur adalah 10 meter ruang terbuka hijau, permukiman dan perdagangan
⁻ Tangki septic harus dibuat dari bahan rapat air dan jasa
⁻ Ukuran tangki septic bersama dengan sistem tercampur : 3. Blok peruntukan A-III, berada pada Desa Sukolilo dan
⁻ panjang 5m Desa Kemantren dengan dominasi lahan pertanian
⁻ lebar 2,5 m non-teknis. Arahan yang ada pada lahan ini berupa
⁻ kedalaman total 1,8m pengembangan kawasan industry yang terhubung
⁻ tinggi air dalam tangki minimum 1m dengan Kecamatan Singosari, pengembangan yang
lain berupa pengembangan ruang terbuka hijau
Jaringan Persampahan sebagai penyangga dengan kawsan permukiman.
Sistem pengumpulan sampah meliputi : 4. Blok peruntukan A-IV, berada pada Desa Kemantren
Fasilitas pengumpulan sampah rumah tangga dengan dominasi penggunaan lahan berupa kawasan
⁻ Kapasitas minimum tempat sampah rumah tanaga 40 liter berdasarkan jumlah orang dan banyaknya militer milik angkatan udara. Arahan pengembangan
buangan sampah untuk saluran lingkungan perumahan dan perkotaan yakni 2,5-2,75 pada kawasan ini adalah pengembangan dan
liter/orang/hari. pemanfaatan ruang terbuka hijau serta pemanfaatan
⁻ Tempat sampah dibuat dari bahan rapat air lahan pertanian sebagai pembatas dengan lahan

LAPORAN AKHIRI- 19
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
permukiman dan penyangga sungai. Blok A1
5. Blok peruntukan B-I, berada pada Desa Jabung dan 1. Zona Permukiman (R3)
Desa Kemantren dengan dominasi lahan eksisting Fungsi : tempat tinggal dan hunian
berupa lahan pertanian non-teknis yang kebanyakan Arahan penggunaan lahan utama sebagai kawasan
berupa tegal atau kebun. Sedangkan untuk arahan perumahan.
pengambangan berupa permukiman sebagai dampak a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini
perkembangan penduduk di Perotaan Pakis dengan adalah :
dilengkapi dengan pengembangan ruang terbuka - Rumah (I)
hijau dan lahan perdagangan dan jasa. - Fasilitas Peribadatan (T)
6. Blok peruntukan B-II, berada pada Desa Jabung dan - Toko (T)
Desa Kemantren dengan dominasi lahan eksisting - Warung (T)
berupa lahan pertanian non-teknis. Arahan - Home Industri (T)
penggunaan lahan pada blok ini berupa - Fasilitas Kesehatan (T)
pengembangan kawasan permukiman dan juga - Fasilitas Pendidikan (T)
pengembangan ruang terbuka hijau. b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di zona
7. Blok peruntukan B-III, berada pada Desa Jabung ini adalah :
dengan dominasi lahan pertanian non-teknis, dan - Perkantoran (-)
lahan peternakan. Sedangkan untuk arahan c. Arahan sarana penunjang adalah :
pengembangan guna lahan di blok ini merupakan - Fungsi jalan lingkungan lingkungan minimal
pengembangan dari lahan peternakan dan pertanian lebar 4 meter
non-teknis. - Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.
- Adanya sarana penerangan jalan
- Adanya tempat penampungan sampah sementara
(TPS).
- Fas. Pendidikan di jalan lingkungan minimal
lebar 3 meter
- Ruang bermain (taman)
- Adanya RTH
- Lahan Parkir
2. Zona Perkantoran (KT1)
Fungsi : kegiatan pemerintahan dan pelayanan
masyarakat
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona
PK1 adalah :
- Perkantoran (T)
- Kantor kota (I)
- Gedung pertemuan (i)
- Lapangan olahraga (T)
- SMA (T)
- Masjid kantor (T)
- Pekarangan (I)
- Sempadan (I)
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
zona PK1 adalah :
- Parkir on street (-)
- PKL (-)
- Berbagai jenis industri (-)
- Sarana perdagangan skala lokal – regional(-)
c. Arahan prasarana penunjang zona PK1 adalah :
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
drainase sekunder tertutup (Normalisasi berkala
guna memperlancar aliran air)

LAPORAN AKHIRI- 20
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA kota) memperhatikan ketentuan ketentuan yang
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR terkait dengan perencanaan RTH perkotaan
(menyatu) 5. Zona Perdagangan dan Jasa (K1) dan (K3)
- 100% dilayani PDAM Fungsi :pengembangan kelompok kegiatan
- Akses jaringan jalan berupa jalan lokal perdagangan dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing pelayanan regional yang dikembangkan dalam bentuk
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama tunggal secara horisontal maupun vertical
dengan pihak DKP a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona K1
3. Zona Pendidikan (SPU-1) dan K3 adalah:
Fungsi : sarana pendidikan dasar sampai dengan - Toko (I)
pendidikan tinggi, pendidikan formal dan informal, - Pertokoan (I)
serta dikembangkan horizontal dan vertikal - Sempadan (I)
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona - Pekarangan (I)
SPU-1adalah : - Sempadan (I)
- Pendidikan (I) b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
- Masjid (T) zona K1 dan K3:
- Telepon umum (T) - PKL di ruas jalan zona ini (-)
- Pekarangan (i) - Kegiatan industri (-)
- Sempadan (i) c. Arahan prasarana penunjang bagi zona K1 dan K3 :
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada - Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
zona SPU-1 adalah : drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi
- Kantor kota/ kelurahan (i) berkala guna memperlancar aliran air)
- Parkir on street (-) - Daya listrik yang melayani > 1300 VA
- PKL di depan masing-masing kegiatan (-) - Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR
- Kegiatan industri (-) (menyatu)
c. Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1 - 100% dilayani PDAM
adalah: - Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran sekunder
drainase sekunder tertutup (dg normalisasi - Sistem parkir off street
berkala guna memperlancar aliran air) - Menyediakan tempat sampah individu dan
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA pengelolaannya dikoordinir oleh pihak RW
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR setempat.
(menyatu) 2. Blok A-II
- 100% dilayani PDAM 1. Zona Permukiman (R3) dan (R4)
- Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor Fungsi :
sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar (R3) : Bangunan berada di bawah satu atap yang sama
perkerasan 12 m untuk beberapa unit hunian. Umumnya memiliki
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan halaman hanya di bagian depan bangunan dan hanya
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing memiliki 1 lantai
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama (R4) : tempat tinggal atau hunian dengan
dengan pihak DKP perbandingan yang kecil antara jumlah bangunan
4. Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) rumah dengan luas lahan
Fungsi: area memanjang/jalur dan atau a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat adalah :
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh - Rumah (I)
tanaman secara alamiah maupun yang sengaja - Fasilitas Peribadatan (T)
ditanam. - Toko (T)
- Dialokasikan pada pada pusat-pusat pelayanan - Warung (T)
sesuai dengan hierarki taman yang akan - Home Industri (T)
direncanakan memiliki jalan akses minimum - Fasilitas Kesehatan (T)
berupa jalan lingkungan (untuk taman lingkungan, - Fasilitas Pendidikan (T)
jalan kolektor untuk taman kecamatan dan taman b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di zona

LAPORAN AKHIRI- 21
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
ini adalah : bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama
- Perkantoran (-) dengan pihak DKP
c. Arahan sarana penunjang adalah : d. Intensitas Pemanfaatan Ruang:
- Fungsi jalan lingkungan lingkungan minimal Fasilitas Pelayanan Skala Kota
lebar 4 meter - KDH minimum 10%
- Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung - KDB maksimum 70%
limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan. - KLB maksimum 2,1
- Adanya sarana penerangan jalan - Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi
- Adanya tempat penampungan sampah sementara 4 m dan lantai 3 setinggi 4 m
(TPS). - GSB minimum 7 m dari tepi jalan (bagi bangunan
- Fas. Pendidikan di jalan lingkungan minimal baru) dan menyesuaikan kondisi eksisting
lebar 3 meter (bangunan lama)
- Ruang bermain (taman) - Jarak minimum antar bangunan 4 m (bagi
- Adanya RTH bangunan baru) dan menyesuaikan kondisi
- Lahan Parkir eksisting (bagi bangunan lama)
d. Intensitas Pemanfaatan Ruang: - Tinggi pagar yang berbatasan dengan jalan
- KDB Max 80 % minimum 2 m
- KLB Max 1,6 Blok A-III
- KDH MI-40 % 1. Zona Permukiman (R-1) dan (R-3)
- GSB Depan Min 2 m Fungsi :
- TB Max 2 lantai (R-1) : Tempat tinggal atau hunian dengan
2. Zona Pendidikan (SPU-1) perbandingan yang sangat besar antara jumlah
Fungsi : sarana pendidikan dasar sampai dengan bangunan rumah dengan luas lahan
pendidikan tinggi, pendidikan formal dan informal, (R-3) : Bangunan berada di bawah satu atap yang sama
serta dikembangkan secara horizontal dan vertika untuk beberapa unit hunian. Umumnya memiliki
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona halaman hanya di bagian depan bangunan dan hanya
SPU-1adalah : memiliki 1 lantai
- Pendidikan (I) b. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini
- Masjid (T) adalah :
- Telepon umum (T) - Rumah (I)
- Pekarangan (i) - Fasilitas Peribadatan (T)
- Sempadan (i) - Toko (T)
- Warung (T)
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada - Home Industri (T)
zona SPU-1 adalah : - Fasilitas Kesehatan (T)
- Kantor kota/ kelurahan (i) - Fasilitas Pendidikan (T)
- Parkir on street (-) c. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di zona
- PKL di depan masing-masing kegiatan (-) ini adalah :
- Kegiatan industri (-) - Perkantoran (-)
c. Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1 d. Arahan sarana penunjang adalah :
adalah: - Fungsi jalan lingkungan lingkungan minimal
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran lebar 4 meter
drainase sekunder tertutup (dg normalisasi - Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
berkala guna memperlancar aliran air) limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA - Adanya sarana penerangan jalan
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR - Adanya tempat penampungan sampah sementara
(menyatu) (TPS).
- 100% dilayani PDAM - Fas. Pendidikan di jalan lingkungan minimal
- Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor lebar 3 meter
sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar - Ruang bermain (taman)
perkerasan 12 m - Adanya RTH
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan - Lahan Parkir
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing e. Intensitas Pemanfaatan Ruang:

LAPORAN AKHIRI- 22
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- KDB Max 80 % minimum 2 m
- KLB Max 1,6 3. Zona Perdaganga dan Jasa (K-1) dan (K-3)
- KDH MI-40 % Fungsi :
- GSB Depan Min 2 m (K-1) : Pengembangan kelompok kegiatan
- TB Max 2 lantai perdagangan dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat
2. Zona Pendidikan (SPU-1) berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala
Fungsi : sarana pendidikan dasar sampai dengan pelayanan regional yang dikembangkan dalam bentuk
pendidikan tinggi, pendidikan formal dan informal, tunggal secara horisontal maupun vertical.
serta dikembangkan secara horizontal dan vertikal (K-3):Pengembangan kelompok kegiatan perdagangan
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat berusaha,
SPU-1adalah : tempat hiburan dan rekreasi dengan skala pelayanan
- Pendidikan (I) regional yang dikembangkan dalam bentuk deret.
- Masjid (T) a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona K1
- Telepon umum (T) dan K3 adalah:
- Pekarangan (I) - Toko (I)
- Sempadan (I) - Pertokoan (I)
- Sempadan (I)
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada - Pekarangan (I)
zona SPU-1 adalah : - Sempadan (I)
- Kantor kota/ kelurahan (I) b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
- Parkir on street (-) zona K1 dan K3 adalah :
- PKL di depan masing-masing kegiatan (-) - PKL di ruas jalan zona ini (-)
- Kegiatan industri (-) - Kegiatan industri (-)
c. Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1 c. Arahan prasarana penunjang bagi zona K1 dan K3 :
adalah: - Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran drainase sekunder tertutup (dg normalisasi
drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi berkala guna memperlancar aliran air)
berkala guna memperlancar aliran air) - Daya listrik yang melayani > 1300 VA
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA - Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR (menyatu)
(menyatu) - 100% dilayani PDAM
- 100% dilayani PDAM - Akses jaringan jalan kolektor sekunder
- Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor - Sistem parkir off street
sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar - Menyediakan tempat sampah individu dan
perkerasan 12 m pengelolaannya dikoordinir oleh pihak RW
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan setempat
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing d. Intensitas Pemanfaatan Ruang:
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama Fasilitas Pelayanan Skala Kota
dengan pihak DKP - KDH minimum 7%
d. Intensitas Pemanfaatan Ruang: - KDB maksimum 85%
Fasilitas Pelayanan Skala Kota - KLB maksimum 1,7
- KDH minimum 10% - Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi
- KDB maksimum 70% 4m
- KLB maksimum 2,1 - GSB minimum 6 m dari tepi jalan
- Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi - Jarak minimum antar bangunan sekitar 4 m
4 m dan lantai 3 setinggi 4 m 4. Zona Perkantoran (KT-1)
- GSB minimum 7 m dari tepi jalan (bagi bangunan Fungsi : peruntukan ruang yang merupakan bagian
baru) dan menyesuaikan kondisi eksisting dari kawasan budi daya difungsikan untuk
(bangunan lama) pengembangan kegiatan pemerintahan dan pelayanan
- Jarak minimum antar bangunan 4 m (bagi masyarakat
bangunan baru) dan menyesuaikan kondisi a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona
eksisting (bagi bangunan lama) PK1 adalah :
- Tinggi pagar yang berbatasan dengan jalan - Perkantoran (T)

LAPORAN AKHIRI- 23
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- Kantor kota (I) gula, margarine, minyak goreng, rokok, susu,
- Gedung pertemuan (I) tepung terigu
- Lapangan olahraga (T) - aneka pengolahan sandang yang menghasilkan
- SMA (T) kebutuhan sandang, seperti bahan tenun, tekstil,
- Masjid kantor (T) industri kulit dan pakaian jadi
- Pekarangan (I) - aneka kimia dan serat yang mengolah bahan baku
- Sempadan (I) melalui proses kimia sehingga menjadi barang jadi
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada yang dapat dimanfaatkan, seperti ban kendaraan,
zona PK1 adalah : pipa paralon, pasta gigi, sabun cuci, dan korek api
- Parkir on street (-) - aneka bahan bangunan yang mengolah aneka bahan
- PKL (-) bangunan, seperti industri kayu, keramik, kaca dan
- Berbagai jenis industri (-) marmer
- Sarana perdagangan skala lokal – regional(-) a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona I-4
c. Arahan prasarana penunjang zona PK1 adalah : adalah :
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran - Perumahan (T)
drainase sekunder tertutup (Normalisasi berkala - Pertokoan (T)
guna memperlancar aliran air) - Ruko (T)
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR Zona I-4 adalah :
(menyatu) - Pendidikan (-)
- 100% dilayani PDAM - Perkantoran (-)
- Akses jaringan jalan berupa jalan lokal c. Arahan sarana penunjang Zona I-4 adalah :
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan - Pengaturan Sarana & Prasarana di Wilayah Blok
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing ini disesuaikan dengan rencana yang ada bahwa
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama adanya pengembangan sistem jaringan jalan
dengan pihak DKP menjadi status kolektor sekunder, sehingga
5. Zona Pertanian (PL-1) kemungkinan ada kegiatan pelebaran jalan untuk
Fungsi : Menampung kegiatan yang berhubungan meningkatkan status.
dengan pengusahaan mengusahakan tanaman - Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
tertentu, pemberian makanan, pengkandangan, dan limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.
pemeliharaan hewan untuk pribadi atau - Adanya pembatas daerah terbangun dengan
a. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan daerah milik jalan.
pertanian lahan basah secara ruang dapat - Adanya sarana penerangan jalan
memberikan manfaat untuk : - Adanya Ruang Terbuka Hijau
- meningkatkan produksi pangan dan - Adanya Pedestrian
pendayagunaan investasi; - penyediaan lahan parkir bagi bangunan baru (Off
- meningkatkan perkembangan street)
- pembangunan lintas sektor dan sub sektor - Perumahan fungsi jalan lingkungan lingkungan
- serta kegiatan ekonomi sekitarnya minimal lebar 4 meter
- meningkatkan fungsi lindung; - Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
- meningkatkan upaya pelestarian kemampuan limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.
sumberdaya alam untuk pertanian pangan; - adanya tempat penampungan sementara (TPS).
- meningkatkan pendapatan masyarakat; d. Intensitas Pemanfaatan Ruang:
- meningkatkan pendapatan nasional dan daerah; - dikembangkan pada lingkungan dengan tingkat
- menciptakan kesempatan kerja; kepadatan rendah sampai sedang
- meningkatkan ekspor; - penentuan lokasi industri dilakukan dengan
- meningkatkan kesejahteraan masyarakat memperhatikan rencana transportasi yang
6. Zona Industri (I-4) berhubungan dengan simpul bahan baku industri
Fungsi : industri yang menghasilkan beragam dan simpul-simpul pemasaran hasil produksi
kebutuhan konsumen dibedakan ke dalam 4 golongan, yang merupakan bagian dari rencana umum
yaitu: jaringan transportasi yang tertuang di dalam
- aneka pengolahan pangan yang menghasilkan rencana tata ruang maupun rencana induk
kebutuhan pokok di bidang pangan seperti garam, transportasi

LAPORAN AKHIRI- 24
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- memperhatikan kepadatan lalu lintas dan bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama
kapasitas jalan di sekitar industri dengan pihak DKP
- disediakan lahan untuk bongkar muat barang d. Intensitas Pemanfaatan Ruang:
hasil industri sehingga tidak mengganggu arus Fasilitas Pelayanan Skala Kota
lalu lintas sekitar pemukiman - KDH minimum 15%
7. Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) - KDB maksimum 63%
Fungsi : area memanjang/jalur dan atau - KLB maksimum 3 lantai
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat - Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh 4 m, dan lantai 3 setinggi 4 m
tanaman secara alamiah maupun yang sengaja - GSB minimum 7 m dari tepi jalan
ditanam - Jarak antar bangunan minimum 4 m
Pemanfaatan Ruang : - Tinggi pagar yang berbatasan dg jalan 2 m
- Dialokasikan pada pada pusat-pusat pelayanan 2. Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH)
sesuai dengan hierarki taman yang akan Fungsi : area memanjang/jalur dan atau
- Direncanakan memiliki jalan akses minimum mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
berupa jalan lingkungan (untuk taman lingkungan, terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh
jalan kolektor untuk taman kecamatan dan taman tanaman secara alamiah maupun yang sengaja
kota) memperhatikan ketentuan ketentuan yang ditanam.
terkait dengan perencanaan RTH perkotaan Pemanfaatan Ruang :
Blok A-IV - Dialokasikan pada pada pusat-pusat pelayanan
1. Zona Militer (KH-1) sesuai dengan hierarki taman yang akan
Fungsi : menjamin kegiatan dan pengembangan - Direncanakan memiliki jalan akses minimum
bidang pertahanan dan keamanan seperti kantor, berupa jalan lingkungan (untuk taman lingkungan,
instalasi hankam, termasuk tempat latihan baik pada jalan kolektor untuk taman kecamatan dan taman
tingkat nasional, Kodam, Korem, Koramil, dsb kota) memperhatikan ketentuan ketentuan yang
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan dalam zona terkait dengan perencanaan RTH perkotaan
KH-1 adalah : Blok B-I
- Rumah dinas (I) 1. Zona Permukiman (R-3) dan (R-4)
- Perkantoran/bisnis lainnya (T) Fungsi :
- lapangan olah raga (T) (R-3) : Bangunan tunggal dengan atap menyambung
- Makorem (I) untuk 2 unit hunian Bangunan dibatasi oleh dinding
- Kodim (I) pada bagian utama rumah.
- Masjid (T) (R-4) : Bangunan berada di bawah satu atap yang sama
- Pekarangan (I) untuk beberapa unit hunian. Umumnya memiliki
- Sempadan (I) halaman hanya di bagian depan bangunan. Umumnya
- Telepon umum (I) hanya memiliki 1 lantai
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini
dalam zona KH-1 adalah : adalah :
- Perdagangan skala lokal - hingga regional (-) - Rumah (I)
- Rumah tunggal (-) - Fasilitas Peribadatan (T)
- Industri (-) - Toko (T)
- PKL (-) - Warung (T)
- Parkir on street (-) - Home Industri (T)
c. Arahan prasarana penunjang bagi zona KH-1 : - Fasilitas Kesehatan (T)
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran - Fasilitas Pendidikan (T)
drainase sekunder tertutup b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di zona
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA ini adalah :
- 100% dilayani PDAM - Perkantoran (-)
- Akses jaringan jalan berupa jalan arteri sekunder c. Arahan sarana penunjang adalah :
dengan lebar jalan 17 m dan lebar perkerasan 12 - Fungsi jalan lingkungan lingkungan minimal
m lebar 4 meter
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan - Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.

LAPORAN AKHIRI- 25
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- Adanya sarana penerangan jalan - GSB minimum 6 m dari tepi jalan
- Adanya tempat penampungan sampah sementara - Jarak minimum antar bangunan sekitar 4 m
(TPS). 3. Zona Pertanian (PL-1)
- Fas. Pendidikan di jalan lingkungan minimal Fungsi : peruntukan ruang yang dikembangkan untuk
lebar 3 meter menampung kegiatan yang berhubungan dengan
- Ruang bermain (taman) pengusahaan mengusahakan tanaman tertentu,
- Adanya RTH pemberian makanan, pengkandangan, dan
- Lahan Parkir pemeliharaan hewan untuk pribadi atau
d. Intensitas Pemanfaatan Ruang: a. Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan
Fasilitas Pelayanan Skala Kota pertanian lahan basah secara ruang dapat
- KDB Max 80 % memberikan manfaat untuk :
- KLB Max 1,6 - meningkatkan produksi pangan dan
- KDH MI-40 % pendayagunaan investasi;
- GSB Depan Min 2 m - meningkatkan perkembangan
- TB Max 2 lantai - pembangunan lintas sektor dan sub sektor
2. Zona Perdagangan dan Jasa (K-1) - serta kegiatan ekonomi sekitarnya
Fungsi : pengembangan kelompok kegiatan - meningkatkan fungsi lindung;
perdagangan dan/atau jasa, tempat bekerja, tempat - meningkatkan upaya pelestarian kemampuan
berusaha, tempat hiburan dan rekreasi dengan skala sumberdaya alam untuk pertanian pangan;
pelayanan regional yang dikembangkan dalam bentuk - meningkatkan pendapatan masyarakat;
tunggal secara horisontal maupun vertical - meningkatkan pendapatan nasional dan daerah;
a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona K1 - menciptakan kesempatan kerja;
adalah: - meningkatkan ekspor;
- Toko (I) - meningkatkan kesejahteraan masyarakat
- Pertokoan (I) 4. Zona Pendidikan (SPU-1)
- Sempadan (I) Fungsi : sarana pendidikan dasar sampai dengan
- Pekarangan (I) pendidikan tinggi, pendidikan formal dan informal,
- Sempadan (I) serta dikembangkan secara horizontal dan vertikal
b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada a. Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona
zona K1 adalah : SPU-1adalah :
- PKL di ruas jalan zona ini (-) - Pendidikan (I)
- Kegiatan industri (-) - Masjid (T)
c. Arahan prasarana penunjang bagi zona K1: - Telepon umum (T)
- Saluran drainase pada zona ini adalah saluran - Pekarangan (i)
drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi - Sempadan (i)
berkala guna memperlancar aliran air) b. Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
- Daya listrik yang melayani > 1300 VA zona SPU-1 adalah :
- Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR - Kantor kota/ kelurahan (i)
(menyatu) - Parkir on street (-)
- 100% dilayani PDAM - PKL di depan masing-masing kegiatan (-)
- Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor - Kegiatan industri (-)
sekunder c. Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1
- Sistem parkir off street adalah:
- Menyediakan tempat sampah individu dan - Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
pengelolaannya dikoordinir oleh pihak RW drainase sekunder tertutup (dg normalisasi
setempat berkala guna memperlancar aliran air)
d. Intensitas Pemanfaatan Ruang: - Daya listrik yang melayani > 1300 VA
Fasilitas Pelayanan Skala Kota - Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR
- KDH minimum 7% (menyatu)
- KDB maksimum 85% - 100% dilayani PDAM
- KLB maksimum 1,7 - Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor
- Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar
4m perkerasan 12 m

LAPORAN AKHIRI- 26
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
- Sistem parkir off street pada setiap kegiatan Arahan prasarana penunjang bagi zona K1 dan K3:
- Menyediakan tempat sampah (masing-masing ⁻ Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi
dengan pihak DKP berkala guna memperlancar aliran air)
d. Intensitas Pemanfaatan Ruang: ⁻ Daya listrik yang melayani > 1300 VA
Fasilitas Pelayanan Skala Kota ⁻ Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR (menyatu)
- KDH minimum 10% ⁻ 100% dilayani PDAM
- KDB maksimum 70% ⁻ Akses jaringan jalan kolektor sekunder
- KLB maksimum 2,1 ⁻ Sistem parkir off street
- Ketinggian : lantai 1 setinggi 8 m, lantai 2 setinggi ⁻ Menyediakan tempat sampah individu dan
4 m dan lantai 3 setinggi 4 m pengelolaannya dikoordinir oleh pihak RW
- GSB minimum 7 m dari tepi jalan (bagi bangunan setempat
baru) dan menyesuaikan kondisi eksisting 2. Pendidikan (SPU-1)
(bangunan lama) peruntukan ruang yang merupakan bagian dari
- Jarak minimum antar bangunan 4 m (bagi kawasan budi daya yang dikembangkan untuk sarana
bangunan baru) dan menyesuaikan kondisi pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi,
eksisting (bagi bangunan lama) pendidikan formal dan informal, serta dikembangkan
- Tinggi pagar yang berbatasan dengan jalan secara horizontal dan vertikal
minimum 2 m Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona SPU-
5. Zona Ruang Terbuka Hijau (RTH) 1adalah :
Fungsi : area memanjang/jalur dan atau ⁻ Pendidikan (I)
mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat ⁻ Masjid (T)
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh ⁻ Telepon umum (T)
tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ⁻ Pekarangan (i)
ditanam ⁻ Sempadan (i)
Pemanfaatan Ruang Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
- dialokasikan pada pada pusat-pusat pelayanan zona SPU-1 adalah :
sesuai dengan hierarki taman yang akan ⁻ Kantor kota/ kelurahan (i)
- direncanakan memiliki jalan akses minimum ⁻ Parkir on street (-)
berupa jalan lingkungan (untuk taman lingkungan, ⁻ PKL di depan masing-masing kegiatan (-)
jalan kolektor untuk taman kecamatan dan taman ⁻ Kegiatan industri (-)
kota) memperhatikan ketentuan ketentuan yang Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1
terkait dengan perencanaan RTH perkotaan. adalah:
Blok B-II ⁻ Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
1. Perdagangan dan jasa (K1) drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi
peruntukan ruang yang merupakan bagian dari berkala guna memperlancar aliran air)
kawasan budi daya difungsikan untuk pengembangan ⁻ Daya listrik yang melayani > 1300 VA
kelompok kegiatan perdagangandan/atau jasa, ⁻ Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR (menyatu)
tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan ⁻ 100% dilayani PDAM
rekreasi dengan skala pelayanan regional yang ⁻ Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor
dikembangkan dalam bentuk tunggal secara sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar
horisontal maupun vertical perkerasan 12 m
Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona K1 ⁻ Sistem parkir off street pada setiap kegiatan
dan K3 adalah: ⁻ Menyediakan tempat sampah (masing-masing
- Toko (I) bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama
- Pertokoan (I) dengan pihak DKP
- Sempadan (I) 3. Pertanian (PL-1)
- Pekarangan (I) peruntukan ruang yang dikembangkan untuk
- Sempadan (I) menampung kegiatan yang berhubungan dengan
Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada pengusahaan mengusahakan tanaman tertentu,
zona K1 dan K3adalah : pemberian makanan, pengkandangan, dan
- PKL di ruas jalan zona ini (-) pemeliharaan hewan untuk pribadi atau peternakan.
- Kegiatan industri (-) Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan

LAPORAN AKHIRI- 27
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
pertanian lahan basah secara ruang dapat ⁻ Fungsi jalan lingkungan lingkungan minimal lebar
memberikan manfaat untuk : 4 meter
⁻ meningkatkan produksi pangan dan ⁻ Adanya gorong-gorong/parit untuk menampung
pendayagunaan investasi; limpasan air hujan, pada sisi kanan kiri jalan.
⁻ meningkatkan perkembangan ⁻ Adanya sarana penerangan jalan
⁻ pembangunan lintas sektor dan sub sektor ⁻ Adanya tempat penampungan sampah sementara
⁻ serta kegiatan ekonomi sekitarnya (TPS).
⁻ meningkatkan fungsi lindung; ⁻ Fas. Pendidikan di jalan lingkungan minimal lebar
⁻ meningkatkan upaya pelestarian kemampuan 3 meter
sumberdaya alam untuk pertanian pangan; ⁻ Ruang bermain (taman)
⁻ meningkatkan pendapatan masyarakat; ⁻ Adanya RTH
⁻ meningkatkan pendapatan nasional dan daerah; ⁻ Lahan Parkir
⁻ menciptakan kesempatan kerja; 2. Pertanian (PL-1)
⁻ meningkatkan ekspor; peruntukan ruang yang dikembangkan untuk
⁻ meningkatkan kesejahteraan masyarakat menampung kegiatan yang berhubungan dengan
4. Ruang Terbuka (RTH) pengusahaan mengusahakan tanaman tertentu,
area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang pemberian makanan, pengkandangan, dan
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat pemeliharaan hewan untuk pribadi atau peternakan.
tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman secara Kawasan yang apabila digunakan untuk kegiatan
alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dialokasikan pertanian lahan basah secara ruang dapat
pada pada pusat-pusat pelayanan sesuai dengan memberikan manfaat untuk :
hierarki taman yang akan direncanakan memiliki ⁻ meningkatkan produksi pangan dan
jalan akses minimum berupa jalan lingkungan (untuk pendayagunaan investasi;
taman lingkungan, jalan kolektor untuk taman ⁻ meningkatkan perkembangan
kecamatan dan taman kota) memperhatikan ⁻ pembangunan lintas sektor dan sub sektor
ketentuan ketentuan yang terkait dengan ⁻ serta kegiatan ekonomi sekitarnya
perencanaan RTH perkotaan. ⁻ meningkatkan fungsi lindung;
Blok B-III ⁻ meningkatkan upaya pelestarian kemampuan
1. Permukiman sumberdaya alam untuk pertanian pangan;
(R-3) : Bangunan berada di bawah satu atap ⁻ meningkatkan pendapatan masyarakat;
yang sama untuk beberapa unit hunian. ⁻ meningkatkan pendapatan nasional dan daerah;
Umumnya memiliki halaman hanya di bagian depan ⁻ menciptakan kesempatan kerja;
bangunan. Umumnya hanya memiliki 1 lantai ⁻ meningkatkan ekspor;
(R-4) : peruntukan ruang yang merupakan bagian dari ⁻ meningkatkan kesejahteraan masyarakat
kawasan budi daya difungsikan untuk tempat tinggal 3. Pendidikan (SPU-1)
atau hunian dengan perbandingan yang kecil antara peruntukan ruang yang merupakan bagian dari
jumlah bangunan rumah dengan luas lahan kawasan budi daya yang dikembangkan untuk sarana
Arahan penggunaan lahan utama sebagai kawasan pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi,
perumahan. Dengan arahan kegiatan keseluruhan pendidikan formal dan informal, serta dikembangkan
sebagai berikut: secara horizontal dan vertikal
Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona SPU-
adalah : 1adalah :
⁻ Rumah (I) ⁻ Pendidikan (I)
⁻ Fasilitas Peribadatan (T) ⁻ Masjid (T)
⁻ Toko (T) ⁻ Telepon umum (T)
⁻ Warung (T) ⁻ Pekarangan (i)
⁻ Home Industri (T) ⁻ Sempadan (i)
⁻ Fasilitas Kesehatan (T) Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
⁻ Fasilitas Pendidikan (T) zona SPU-1 adalah :
Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan di zona ⁻ Kantor kota/ kelurahan (i)
ini adalah : ⁻ Parkir on street (-)
⁻ Perkantoran (-) ⁻ PKL di depan masing-masing kegiatan (-)
Arahan sarana penunjang adalah : ⁻ Kegiatan industri (-)

LAPORAN AKHIRI- 28
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

No. Bub BWP / Blok Peta No. Bub BWP / Blok Peta
Arahan prasarana penunjang pada zona SPU-1 dengan hierarki taman yang akan direncanakan
adalah: memiliki jalan akses minimum berupa jalan
⁻ Saluran drainase pada zona ini adalah saluran lingkungan (untuk taman lingkungan, jalan kolektor
drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi untuk taman kecamatan dan taman kota)
berkala guna memperlancar aliran air) memperhatikan ketentuan ketentuan yang terkait
⁻ Daya listrik yang melayani > 1300 VA dengan perencanaan RTH perkotaan
⁻ Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR (menyatu)
⁻ 100% dilayani PDAM
⁻ Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor
sekunder dengan lebar jalan 17 m dan lebar
1.4. TUJUAN PERATURAN ZONASI
perkerasan 12 m
⁻ Sistem parkir off street pada setiap kegiatan Tujuan Peraturan Zonasi disusun berdasarkan:
⁻ Menyediakan tempat sampah (masing-masing
bangunan) dimana pengelolaannya bekerjasama 1. Arahan sistem dan fungsi perkotaan yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Malanag
dengan pihak DKP terhadap BWP Jabung;
4. Perdagangan dan jasa (K1)
peruntukan ruang yang merupakan bagian dari 2. Tujuan Penataan Ruang BWP Jabung yang ditetapkan dalam RDTR BWP Jabung;
kawasan budi daya difungsikan untuk pengembangan
kelompok kegiatan perdagangandan/atau jasa, 3. Potensi dan masalah perkembangan BWP Jabung;
tempat bekerja, tempat berusaha, tempat hiburan dan 4. Isu strategis BWP Jabung.
rekreasi dengan skala pelayanan regional yang
dikembangkan dalam bentuk tunggal secara Sistem dan fungsi perkotaan BWP Jabung yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten
horisontal maupun vertical
Arahan kegiatan yang diperbolehkan pada zona K1
Malang adalah:
dan K3 adalah: 1. BWP Jabung merupakan bagian dari WilayahPengembangan (WP) Tumpang meliputi
- Toko (I)
- Pertokoan (I) Kecamatan Tumpang, Kecamatan Poncokusumo, Kecamatan Wajak dan Kecamatan Jabung,
- Sempadan (I)
dengan pusat pelayanan di Perkotaan Tumpang.
- Pekarangan (I)
- Sempadan (I) 2. Wilayah Pengembangan Tumpang, ditetapkansebagaipengembangan pelayanan pusat
Arahan kegiatan yang tidak diperbolehkan pada
zona K1 dan K3adalah : industri/pemasaran hasil pertanian, pusat agropolitan, pusat minapolitan, pusat terminal
- PKL di ruas jalan zona ini (-)
peti kemas (dryport), dan pusat informasi dan pelayanan wisata nasional.
- Kegiatan industri (-)
Arahan prasarana penunjang bagi zona K1 dan K3: Berdasarkan fungsi perkotaan Jabung yang telah ditetapkan oleh RTRW Kabupaten
⁻ Saluran drainase pada zona ini adalah saluran
drainase sekunder tertutup (dengan normalisasi Malang tersebut, serta potensi dan permasalahan yang ada, dalam RDTR BWP Jabung Tahun
berkala guna memperlancar aliran air) 2012-2032telah ditetapkan:
⁻ Daya listrik yang melayani > 1300 VA
⁻ Jaringan listrik berupa SUTM dan SUTR (menyatu) 1. Tujuan penataan ruang di kawasan Perkotaan Jabungadalah “Mewujudkan Wilayah
⁻ 100% dilayani PDAM
⁻ Akses jaringan jalan berupa jalan kolektor Perkotaan Jabung yang Mendukung Perkembangan Industri dan Kegiatan Peternakan
sekunder yang Tertata dan tidak Mengakibatkan Dampak Negatif Pemanfaatan Ruang”.
⁻ Sistem parkir off street
⁻ Menyediakan tempat sampah individu dan 2. Prinsip penataan pola ruang yang ditetapkanadalah tersedianya:
pengelolaannya dikoordinir oleh pihak RW
setempat
 Zona industri dan peternakan yang ramah lingkungan dan serasi dengan zona
5. Ruang Terbuka (RTH) permukiman.
area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat  Kawasan permukiman yang dapat menampung kebutuhan akibat perkembangan industri
tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman
 Sarana dan prasarana perkotaan yang memenuhi kebutuhan permukiman dengan
secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.
dialokasikan pada pada pusat-pusat pelayanan sesuai optimal

LAPORAN AKHIRI- 29
PENYUSUNAN PERATURAN ZONASI BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN JABUNG
Kabupaten Malang

Akses yang memadai untuk mendukung kegiatan industri dan distribusi hasil pertanian dan
peternakan yang memadai.

LAPORAN AKHIRI- 30