Anda di halaman 1dari 44

Januar

i
DAFTAR ISI

SAMPUL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR TABEL iv
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. PENJELASAN UMUM ORGANISASI 1
B. ASPEK STRATEGIS ORGANISASI DAN ISU 6
STRATEGIS YANG DIHADAPI
C. SISTEMATIKA 9
BAB II : PERENCANAAN KERJA 10
A. PERENCANAAN KINERJA 10
B. PERJANJIAN KINERJA 12
BAB III : AKUNTABILITAS KINERJA 13
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI 13
B. REALISASI ANGGARAN 33
C. SUMBER DAYA LAINNYA 34
BAB IV : PENUTUP 39
LAMPIRAN

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016 ii


DAFTAR GAMBAR

1 GAMBAR 1 Struktur Organisasi Direktorat Bina Upaya Kesehatan 3


Rujukan
2 GAMBAR 2 Peta Strategis Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan 6
Tahun 2015-2019
3 GAMBAR 3 Grafik Realisasi & Target Persentase Kab/Kota Dengan 15
Kesiapan Akses Layanan Rujukan Tahun 2015-2019
4 GAMBAR 4 Grafik Realisasi dan Target Jumlah RS Rujukan Nasional 20
Dengan RS Rujukan Regional Yang Menerapkan Integrase
Data Rekam Medis
5 GAMBAR 5 Grafik Realisasi Dan Terget Presentase RS Regional Sebagai 23
Pengampu Pelayanan Telemedicine
6 GAMBAR 6 Grafik Terget Dan Realisasi Jumlah RS Pratama Yang 26
Dibangun (Kumulatif) Tahun 2015-2016
7 GAMBAR 7 National Command Center 119 30
8 GAMBAR 8 Visual WEB Badan Pengawas RS 32

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2015 iii
DAFTAR TABEL

1. TABEL 1 Pertumbuhan RS Dalam Dua Tahun Terakhir 6


2. TABEL 2 Sasaran Program Direktorat Pelayanan Kesehatan 10
Rujukan Tahun 2015-2019 sesuai Peraturan Menteri
Kesehatan RI No 1144/MENKES/PER/VIII/2010
3. TABEL 3 Sasaran Program Direktorat Pelayanan Kesehatan 11
Rujukan Tahun 2015-2019 sesuai Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015
4. TABEL 4 Perjanjian Kinerja yang Berisi Sasaran Program, 12
Indikator Kinerja dan Target Tahun 2015 Direktorat
Pelayanan Kesehatan Rujukan
5. TABEL 5 Capaian Indikator Kinerja Direktorat Pelayanan 14
Kesehatan Rujukan Tahun 2016
6. TABEL 6 Data Kab/Kota dengan Kesiapan Akses Layanan 16
Rujukan
7. TABEL 7 Rumah Sakit Yang Menerapkan Integrasi Data Rekam 19
Medis
8. TABEL 8 Fasyankes Pengampu dan Diampu Telemedicine 22
Tahun 2015
9. TABEL 9 Fasyankes Pengampu dan Diampu Telemedicine 23
Tahun 2015
10. TABEL 10 Kab/Kota Lokasi Pembangunan RS Pratama TA 2015 25
11. TABEL 11 Kab/Kota Lokasi Pembangunan RS Pratama TA 2015 26
12. TABEL 12 Realisasi Anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan 33
Rujukan Tahun 2017
13. TABEL 13 Sumber Daya Manusia Direktorat Pelayanan Kesehatan 35
Rujukan Daya
Sumber persubdirektorat tahun 2016
Manusia Direktorat Pelayanan Kesehatan
14. TABEL 14 Rujukan
Tabel persubdirektorat
Jumlah tahun
Pegawai 2016
Berdasarkan Status 35
Kepegawaian Pada Dit. Yankes Rujukan Tahun 2016
15. TABEL 15 Jumlah PNS Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Dit. 35
Yankes Rujukan Tahun 20165
16 TABEL 16 Jumlah PNS Berdasarkan Jenis Pendidikan Pada Dit. 36
Yankes Rujukan Tahun 2016
17. TABEL 17 Tabel Jumlah PNS Berdasarkan Golongan Pada 36
Direktorat pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016
18. TABEL 18 Laporan Posisi Barang Milik Negara Di Neraca Per 37
Tanggal 31 Desember 2016
19 TABEL 19 Kondisi Sarana dan Prasarana 38

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016 iv


BAB I
PENDAHULUAN

A. PENJELASAN UMUM ORGANISASI


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 64 tahun 2015 tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan, Direktorat Pelayanan Kesehatan
Rujukan mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, pemberian bimbingan teknis dan
supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pelayanan kesehatan
rujukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
menyelenggarakan fungsi:
1. penyiapan perumusan kebijakan di bidang pelayanan medik dan keperawatan,
penunjang, gawat darurat terpadu, dan pengelolaan rujukan dan pemantauan
rumah sakit, serta rumah sakit pendidikan;
2. penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan medik dan keperawatan,
penunjang, gawat darurat terpadu, dan pengelolaan rujukan dan pemantauan
rumah sakit, serta rumah sakit pendidikan;
3. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pelayanan
medik dan keperawatan, penunjang, gawat darurat terpadu, dan pengelolaan
rujukan dan pemantauan rumah sakit, serta rumah sakit pendidikan;
4. penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan medik
dan keperawatan, penunjang, gawat darurat terpadu, dan pengelolaan rujukan
dan pemantauan rumah sakit, serta rumah sakit pendidikan;
5. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pelayanan medik dan
keperawatan, penunjang, gawat darurat terpadu, dan pengelolaan rujukan dan
pemantauan rumah sakit, serta rumah sakit pendidikan; dan
6. pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat

Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan terdiri atas:


1. Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan;
2. Subdirektorat Pelayanan Penunjang;
3. Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu;
4. Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan Rumah Sakit;
5. Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan;
6. Subbagian Tata Usaha; dan
7. Kelompok Jabatan Fungsional.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


1
Tugas dan fungsi dari masing-masing Sub Direktorat sebagai berikut :
1. Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan
Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan mempunyai tugas
melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan
norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan
supervisi di bidang pelayanan medik dan keperawatan.
Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan
menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang rawat jalan dan gawat
darurat dan rawat inap, intensif, dan bedah;
b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang rawat jalan dan gawat
darurat dan rawat inap, intensif, dan bedah;
c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
rawat jalan dan gawat darurat dan rawat inap, intensif, dan bedah;
d. penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang rawat jalan dan
gawat darurat dan rawat inap, intensif, dan bedah.
Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan terdiri atas:
a. Seksi Rawat Jalan dan Gawat Darurat mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi
di bidang rawat jalan dan gawat darurat.
b. Seksi Rawat Inap, Intensif, dan Bedah mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi
di bidang rawat inap, intensif, dan bedah.

2. Subdirektorat Pelayanan Penunjang


Subdirektorat Pelayanan Penunjang mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur,
dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan
penunjang.
Subdirektorat Pelayanan Penunjang menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pelayanan penunjang medik
dan non medik;
b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan penunjang
medik dan non medik;

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


2
c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
pelayanan penunjang medik dan non medik; dan
d. penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan
penunjang medik dan non medik.
Subdirektorat Pelayanan Penunjang terdiri atas:
a. Seksi Pelayanan Penunjang Medik mempunyai tugas melakukan penyiapan
bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar,
prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang
pelayanan penunjang medik.
b. Seksi Pelayanan Penunjang Non Medik mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi
di bidang pelayanan penunjang non medik.

3. Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu


Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu mempunyai tugas
melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan
norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan
supervisi di bidang pelayanan gawat darurat terpadu.
Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pelayanan gawat darurat
terpadu pra rumah sakit dan antar rumah sakit;
b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan gawat darurat
terpadu pra rumah sakit dan antar rumah sakit;
c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
pelayanan gawat darurat terpadu pra rumah sakit dan antar rumah sakit; dan
d. penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pelayanan gawat
darurat terpadu.
Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu terdiri atas:
a. Seksi Pra Rumah Sakit mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar,
prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang
pelayanan gawat darurat terpadu pra rumah sakit.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


3
b. Seksi Antar Rumah Sakit mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar,
prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang
pelayanan gawat darurat terpadu antar rumah sakit.

4. Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan Rumah Sakit


Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan Rumah Sakit mempunyai
tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan
teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
pengelolaan rujukan dan pemantauan rumah sakit.
Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan
Rumah Sakit menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang pengelolaan pelayanan
rujukan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit;
b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan pelayanan
rujukan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit;
c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang
pengelolaan pelayanan rujukan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit;
d. penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengelolaan
pelayanan rujukan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit; dan
e. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pengelolaan pelayanan
rujukan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit.
Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan Rumah Sakit terdiri atas:
a. Seksi Pengelolaan Pelayanan Rujukan mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi
di bidang pengelolaan pelayanan rujukan.
b. Seksi Pemantauan dan Evaluasi Rumah Sakit mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi,
serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pemantauan dan
evaluasi rumah sakit.

5. Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan


Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan mempunyai tugas melaksanakan
penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar,

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


4
prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang rumah sakit pendidikan.
Dalam melaksanakan tugas, Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan
menyelenggarakan fungsi:
a. penyiapan bahan perumusan kebijakan di bidang jejaring rumah sakit
pendidikan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan;
b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan di bidang jejaring rumah sakit
pendidikan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan;
c. penyiapan bahan penyusunan norma, standar, prosedur, dan di bidang jejaring
rumah sakit pendidikan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan;
d. penyiapan bahan bimbingan teknis dan supervisi di bidang jejaring rumah sakit
pendidikan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan; dan
e. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang jejaring rumah sakit
pendidikan dan pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan.
Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan terdiri atas:
a. Seksi Jejaring Rumah Sakit Pendidikan mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,
standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi
di bidang jejaring rumah sakit pendidikan.
b. Seksi Pemantauan dan Evaluasi Rumah Sakit Pendidikan mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan,
penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan
teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang
pemantauan dan evaluasi rumah sakit pendidikan.

6. Sub Bagian Tata Usaha


Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan urusan tata usaha dan
rumah tangga Direktorat.
Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


5
B. ASPEK STARTEGIS ORGANISASI DAN ISU STRATEGIS YANG DIHADAPI
Pertambahan Rumah Sakit di Indonesia dalam 1 tahun (tahun 2015 sampai dengan
tahun 2016) sebanyak 133 RS, atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,3 %.

Tabel 1. Jumlah Rumah Sakit Tahun 2015 dan 2016


REKAP RS 2015 2016
RS Rs RS RS
Kategori Kepemilikan Total Total
Umum Khusus Umum Khusus
Pemerintah 803 85 888 824 86 915
RS
PUBLIK Swasta Non
539 167 706 542 160 702
Profit
RS Privat 610 286 896 696 310 1006
TOTAL 1,952 538 2.490 2.067 556 2.623
Sumber : RS Online Tahun 2015 dan Tahun 2016

Sedangkan untuk jumlah Tempat Tidur (TT) di RS sampai saat ini sebanyak 319.559
yang terdiri dari TT Kelas VVIP sebanyak 5.625, TT Kelas VIP sebanyak 25.752, TT
Kelas I sebanyak 39.623, TT Kelas II sebanyak 55.820, TT Kelas III sebanyak 119.060,
TT Ruang ICU sebanyak 6.876, TT Ruang PICU sebanyak 1.392, TT Ruang NICU
sebanyak 3.262, TT Ruang ICCU sebanyak 1.163, TT Ruang HCU sebanyak 3.966, TT
Ruang IGD sebanyak 13.391, TT Ruang Perinatologi sebanyak 20.556, TT Ruang
Operasi sebanyak 5.906, TT Ruang Bersalin sebanyak 10.959. dan TT Ruang Isolasi
sebanyak 6.255. Jika dilihat dari komposisinya, jumlah TT Kelas III merupakan
komposisi paling besar yaitu 37,3% dari total TT di RS.

Adapun tantangan strategis yang dihadapi oleh Direktorat Pelayanan Kesehatan


Rujukan dalam meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan yang tertuang di
dalam Rencana Aksi Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan 2015-2019 adalah
sebagai berikut:
1. Perlunya penguatan pelayanan kesehatan rujukan
2. Perlunya penetapan sistem regionalisasi rujukan di seluruh provinsi
3. Perlunya penetapan dan pembangunan sistem rujukan nasional
4. Tidak meratanya jumlah, jenis dan kompetensi SDM Kesehatan
5. Kapasitas manajemen rumah sakit yang tidak merata, dan belum berbasiskan
sistem manajemen kinerja
6. Belum tersedianya sarana prasarana dan alkes pada RS Rujukan yang sesuai
standar

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


6
7. Belum terintegrasinya data dan sistem informasi di pusat, daerah dan rumah sakit.
8. Kebijakan pemerintah daerah yang belum tersinkronisasi dengan kebijakan
pemerintah pusat.
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan mempunyai tugas merumuskan serta
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan upaya
kesehatan rujukan. Dalam melaksanakan tugas tersebut Direktorat Pelayanan
Kesehatan Rujukan menetapkan visi:

“AKSES PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN YANG TERJANGKAU DAN


BERKUALITAS BAGI MASYARAKAT”

Untuk mewujudkan visinya, Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan menjalankan misi


sebagai berikut:
1. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan
rujukan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan
2. Menyelenggarakan tata kelola yang baik.

Sasaran strategis menggambarkan rincian dan penjabaran pencapaian Visi Direktorat


Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2019, yang diperoleh dari tantangan strategis
dan analisis SWOT. Sasaran strategis Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Tahun 2015-2019 adalah:
1. Terwujudnya regionalisasi sistem rujukan yang terstruktur dan berjenjang
2. Terwujudnya sistem manajemen kinerja fasyankes rujukan se Indonesia
3. Terwujudnya media sosialisasi pelayanan kesehatan
4. Terwujudnya advokasi kepada Pemda dan K/L terkait
5. Terwujudnya kemitraan berjejaring
6. Terwujudnya Optimalisasi Peran UPT sebagai lembaga pembina
7. Terwujudnya organisasi dan mutu kelembagaan yang ekselen
8. Terbangunnya informasi berbasis data dan pengalaman
9. Terwujudnya sistem perencanaan karyawan dan karir yang efektif

Dalam rangka pencapaian visi 2019, Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan telah
menetapkan suatu peta strategi yang menggambarkan hipotesis jalinan sebab akibat
dari 17 sasaran strategis (yang menggambarkan arah dan prioritas strategis
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan yang diperlukan guna memampukannya
dalam mencapai target kinerja yang berkelanjutan di masa yang akan datang).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


7
Peta strategi pencapaian visi tersebut disusun dengan memperhatikan peta strategi
pada Renstra Kementerian Kesehatan 2015 - 2019 dan Rencana Aksi Program (RKP)
Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.

Gambar 2. Peta Strategis Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan


Tahun 2015 - 2019

Peta strategi disusun untuk mencapai visi Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Tahun 2019 menciptakan Akses pelayanan kesehatan rujukan yang terjangkau dan
berkualitas bagi masyarakat. Visi tersebut dapat dijabarkan dalam bentuk 1 (satu)
tujuan strategis (outcome), yaitu tersedianya fasyankes rujukan berkualitas yang dapat
dijangkau oleh masyarakat.
Tersedianya fasyankes rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh masyarakat
dapat dicapai dengan memastikan proses-proses strategis berikut dikerjakan secara
excellent yakni: mewujudkan Regionalisasi Sistem Rujukan yang Terstruktur dan
Berjenjang, mewujudkan Sistem Manajemen Kinerja Fasyankes Rujukan se
Indonesia,mewujudkan Media Sosilisasi Pelayanan Kesehatan, melakukan advokasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


8
Kepada Pemda dan K/L terkait, mewujudkan Kemitraan Berjenjang, mewujudkan Peran
UPT Sebagai lembaga pembina.
Sasaran strategis terkait upaya strategis yang harus dilakukan secara excellent dalam
meningkatkan mutu kelembagaan organisasi Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
adalah:
1. Terwujudnya Organisasi dan Mutu Kelembagaan Direktorat Pelayanan Kesehatan
Rujukan yang Excellent,
2. Terbangunnya Informasi Berbasis Data dan Pengalaman (Knowledge
management),
3. Terwujudnya Sistem Perencanaan Karyawan dan Karir yang Efektif.
Agar sasaran-sasaran strategis terkait perspektif upaya strategis dapat dicapai secara
berkelanjutan, maka sasaran strategis terkait dengan perspektif sumber daya harus
diwujudkan:
1. Sumber daya manusia yang kompeten dan berbudaya kinerja,
2. Dukungan regulasi pelayanan kesehatan rujukan,
3. Sarana prasarana alat obat dan perbekalan yang memadai,
4. Dana pada bidang pelayanan kesehatan rujukan.

C. SISTEMATIKA
Sistematika penulisan laporan akuntabilitas kinerja Sekretariat Direktorat Jenderal Bina
Upaya Kesehatan terdiri dari:
Bab I Pendahuluan
A. Penjelasan Umum Organisasi
B. Aspek Strategis Organisasi dan Isu Strategis yang Dihadapi Organisasi
C. Sistematika
Bab II Perencanaan Kinerja
A. Perencanaan Kinerja
B. Perjanjian Kinerja
Bab III Akuntabilitas Kinerja
A. Capaian Kinerja Organisasi
B. Realisasi Anggaran
C. Sumber Daya Lainnya
Bab IV Penutup
Lampiran

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


9
BAB II
PERENCANAAN KINERJA

A. PERENCANAAN KINERJA

Berdasarkan dokumen Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015 – 2019 yang


telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
HK.02.02/MENKES/52/2015, sasaran kegiatan Pembinaan Upaya Kesehatan rujukan
adalah tersedianya fasyankes rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

Indikator kinerja yang ingin dicapai selama kurun waktu 5 tahun sebagaimana
ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019 untuk
mencapai sasaran program yang menjadi tugas dan tanggung jawab dari masing-
masing Direktorat mengalami perubahan dengan adanya perubahan Struktur
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.

Indikator Kinerja yang menjadi tugas dan tanggung jawab Direktorat Pelayanan
Kesehatan Rujukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 64 tahun 2015 tentang Organisasi Dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Sasaran Program Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan


Tahun 2015-2019 berdasarkan tugas pokok dan fungsi
sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010

Sasaran Target
No Indikator
Program 2015 2016 2017 2018 2019

1 Tersedianya Jumlah RS Rujukan 125 125 125 125 125


Fasyankes Regional yang
rujukan memenuhi sarana
berkualitas yang parasarana dan alat
dapat dijangkau (SPA) sesuai standar
oleh masyarakat Persentase 60% 70% 80% 90% 95%
kabupaten/kota
dengan kesiapan
akses layanan rujukan
Jumlah RS Rujukan 14 14 14 14 14
Nasional yang
ditingkatkan sarana
prasarananya

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016 10


Jumlah dokumen 1 1 0 0 0
tentang kebutuhan
kapal RS di daerah
kepulauan
Jumlah RS Daerah 94 96 97 97 97
yang memenuhi
standar dan dengan
kriteria khusus
Jumlah RS pratama 24 34 44 54 64
yang dibangun
(kumulatif)

Perubahan Indikator Kinerja yang menjadi tugas dan tanggung jawab Direktorat
Pelayanan Kesehatan Rujukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 64 tahun 2015 tentang Struktur Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan RI adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Sasaran Program Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan


Tahun 2015-2019 berdasarkan tugas pokok dan fungsi
sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 64 tahun 2015

Sasaran Target
No Indikator
Program 2015 2016 2017 2018 2019

1 Tersedianya Persentase 60% 70% 80% 90% 95%


Fasyankes kabupaten/kota dengan
rujukan kesiapan akses layanan
berkualitas rujukan
yang dapat Jumlah RS Rujukan - 15 30 45 60
dijangkau Nasional dengan RS RS RS RS
oleh RS Rujukan Regional
masyarakat yang menerapkan
integrasi data rekam
medis
Persentase RS 3% 6% 12 % 20% 32%
Regional sebagai
pengampu pelayanan
telemedicine
Jumlah RS pratama 24 34 44 54 64
yang dibangun RS RS RS RS RS
(kumulatif)
Jumlah dokumen 1 1 0 0 0
tentang kebutuhan
kapal RS di daerah
kepulauan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


11
B. PERJANJIAN KINERJA
Perjanjian kinerja yang diwujudkan dalam penetapan kinerja merupakan dokumen
pernyataan kinerja atau kesepakatan kinerja atau perjanjian kinerja antara atasan dan
bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumber daya
yang dimiliki. Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan menyusun perjanjian kinerja
tahun 2015 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-
2019. Target kinerja ini menjadi komitmen bagi Direktorat Pelayanan Kesehatan
Rujukan untuk mencapainya dalam tahun 2016.
Perjanjian Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan tahun 2016 dapat dilihat
pada tabel 4 dibawah ini:

Tabel 4. Perjanjian Kinerja yang Berisi Sasaran Program, Indikator Kinerja dan
Target Tahun 2016 Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Sasaran Indikator kinerja Target 2016
Program
Tersedianya 1 Persentase kabupaten/kota dengan 70%
Fasyankes kesiapan akses layanan rujukan

rujukan 2 Jumlah RS Rujukan Nasional dengan 15 RS


RS Rujukan Regional yang menerapkan
berkualitas yang integrasi data rekam medis
dapat dijangkau 3 Persentase RS Regional sebagai 6%
oleh masyarakat pengampu pelayanan telemedicine

4 Jumlah RS pratama yang dibangun 34 RS


(kumulatif)
5 Jumlah dokumen tentang kebutuhan 1
kapal RS di daerah kepulauan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


12
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA

A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI


Untuk mengetahui capaian kinerja organisasi dilakukan pengukuran kinerja
dengan membandingkan tingkat kinerja yang dicapai dengan standar, rencana, atau
target dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pengukuran kinerja
diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana realisasi atau capaian kinerja yang
berhasil dilakukan oleh Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan dalam kurun waktu
Januari sampai dengan Desember 2016.
Tahun 2016 merupakan tahun kedua pelaksanaan dari Rencana Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2015–2019. Pengukuran kinerja yang dilakukan adalah
dengan membandingkan realisasi capaian dengan rencana tingkat capaian (target) pada
setiap indikator sehingga diperoleh gambaran tingkat keberhasilan pencapaian masing-
masing indikator. Informasi Capaian dari masing-masing indikator berdasarkan
pengukuran kinerja tersebut ditindaklanjuti dalam perencanaan program/kegiatan di
masa yang akan datang agar setiap program/ kegiatan yang direncanakan dapat dicapai
secara optimal, selain itu informasi mengenai masing-masing indikator juga
dimaksudkan untuk mengetahui kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan pada
tahun 2016, antara lain untuk memberikan gambaran kepada pihak-pihak internal dan
eksternal tentang pelaksanaan misi organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan dalam dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU) dan
Indikator Kinerja Kegiatan (IKK).
Indikator Kinerja Kegiatan yang ditetapkan sebagai indikator yang akan dicapai
dalam Penetapan Kinerja (TAPJA) Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan merupakan
indikator kinerja terukur dalam kurun waktu 1 (satu) tahun.
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja diketahui capaian kinerja tahun 2016 per
indikator sesuai dengan TAPJA Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan adalah
sebagai berikut:

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


13
Tabel 5. Pencapaian Indikator Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Tahun 2015 dan 2016
SASARAN INDIKATOR 2015 2016
STRATEGIS KINERJA T R T R %
Tersedianya 1 Persentase
60% 54% 70% 54% 77,1 %
Fasyankes kabupaten/kota
dengan kesiapan
rujukan
akses layanan
berkualitas rujukan
yang dapat 2 Jumlah RS Rujukan
- - 15 7 RS 46,7%
Nasional dengan
dijangkau RS
RS Rujukan Regional
oleh yang menerapkan
masyarakat integrasi data rekam
medis
3 Persentase RS
3% 3,6% 6% 6,4 % 105%
Regional sebagai
pengampu pelayanan
telemedicine
4 Jumlah RS pratama
24 22 34 27 79,4%
yang dibangun
RS RS RS RS
(kumulatif)
5 Jumlah dokumen
1 Dok 1 Dok 1 Dok 1 Dok 1 Dok
tentang kebutuhan
kapal RS di daerah
kepulauan

Uraian dari capaian masing-masing indikator kinerja Renstra Direktorat Pelayanan


Kesehatan Rujukan Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

1. Persentase kabupaten/kota dengan kesiapan akses layanan rujukan

a. Sasaran Strategis
Tersedianya Fasyankes Rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

b. Definisi Operasional
Definisi operasional yang dimaksud dengan Kab/Kota dengan kesiapan akses
layanan rujukan adalah Kab/Kota yang memiliki:
1) Rasio TT di RS dan Klinik Utama dibanding penduduk 1:1000
2) Memiliki RS dengan jejaring ke RS Rujukan Regional

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


14
c. Cara Perhitungan
Formula perhitungan indikator ini adalah jumlah Kab/Kota dengan kesiapan
akses layanan rujukan dibagi total kab/kota pada tahun tersebut dikali 100 %.

d. Pencapaian Kinerja
Target pencapaian kinerja tahun 2016 untuk indikator jumlah Kab/Kota dengan
kesiapan akses layanan rujukan adalah 70% Kabupaten/Kota dengan kesiapan
akses rujukan atau sebanyak 348 Kab/Kota dari jumlah Kab/Kota sebanyak 497
(jumlah Kab/Kota sebanyak 497 target total yang ditetapkan dalam RPJMN).
Pencapaian indikator ini pada tahun 2016 ada sebanyak 266 Kab/Kota dengan
kesiapan akses layanan rujukan. Jika dibandingkan dengan keseluruhan jumlah
Kab/Kota 497, maka pencapaian indikator ini sebanyak 54 %, sehingga indikator
ini belum mencapai target.

Jika dibandingkan dengan target sampai tahun 2019 sebanyak 95% Kab/Kota
dengan kesiapan akses layanan rujukan, maka masih terdapat 205 Kab/Kota
yang harus dilakukan pembinaan agar memiliki kesiapan akses layanan rujukan
pada akhir tahun 2019 atau realisasi baru mnecapai 56,8%. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Grafik berikut ini:

Gambar 3. Grafik Realisasi dan Target


Persentase Kab/Kota dengan Kesiapan
Akses Layanan Rujukan Tahun 2015 - 2016
95%
100% 90%
90% 80%
80% 70%
70% 60%
60% 54% 54%
Realisasi
50%
40% Target
30%
20%
10%
0%
2015 2016 2017 2018 2019

Capai tahun 2016 sebesar 54% tidak mengalami kenaikan jika dibandingkan
dengan capain tahun 2015

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


15
Tabel 6. Data Kab/Kota dengan Kesiapan Akses Layanan Rujukan

No Kab/ Kota No Kab/ Kota No Kab/ Kota

1 Fakfak 41 Minahasa Tenggara 81 Kota Pare-pare


2 Kaimana 42 Bolaang Mongondow Selatan 82 Kota Palopo
3 Teluk Wondama 43 Kota Manado 83 Banggai Kepulauan
4 Teluk Bintuni 44 Kota Bitung 84 Banggai
5 Sorong Selatan 45 Kota Tomohon 85 Morowali
6 Sorong 46 Kota Kotamobagu 86 Poso
7 Raja Ampat 47 Kepulauan Mentawai 87 Buol
8 Tambrauw 48 Sijunjung 88 Parigi Moutong
9 Kota Sorong 49 Tanah Datar 89 Tojo Una-Una
10 Majene 50 Padang Pariaman 90 Kota Palu
11 Mamasa 51 Pasaman 91 Pelalawan
12 Mamuju 52 Kota Padang 92 Rokan Hulu
13 Nias 53 Kota Solok 93 Bengkalis
14 Tapanuli Selatan 54 Kota Sawah Lunto 94 Kota Pekanbaru
15 Tapanuli Utara 55 Kota Padang Panjang 95 Kota Dumai
16 Labuhan Batu 56 Kota Bukittinggi 96 Merauke
17 Asahan 57 Kota Payakumbuh 97 Jayawijaya
18 Karo 58 Kota Pariaman 98 Jayapura
19 Deli Serdang 59 WAKATOBI 99 Biak Numfor
20 Pakpak Bharat 60 BUTON UTARA 100 Mimika
21 Serdang Bedagai 61 KONAWE UTARA 101 Boven Digoel
22 Kota Sibolga 62 Kolaka Timur 102 Asmat
23 Kota Pematang Siantar 63 KONAWE KEPULAUAN 103 Pegunungan Bintang
24 Kota Tebing Tinggi 64 Kota KENDARI 104 Sarmi
25 Kota Medan 65 Kepulauan Selayar 105 Keerom
26 Kota Binjai 66 Bulukumba 106 Waropen
27 Kota Padang Sidempuan 67 Bantaeng 107 Supiori
28 Kota Gunungsitoli 68 Jeneponto 108 Mamberamo Raya
29 Ogan Komering Ulu 69 Takalar 109 Kota Jayapura
30 Kota Palembang 70 Sinjai 110 Sumba Barat
31 Kota Prabumulih 71 Bone 111 Sumba Timur
32 Kota Pagar Alam 72 Maros 112 Kupang
33 Kota Lubuk Linggau 73 Pangkajene Kepulauan 113 Timor Tengah Utara
34 Bolaang Mongondow 74 Sidenreng Rappang 114 Belu
35 Minahasa 75 Pinrang 115 Alor
36 Kepulauan Sangihe 76 Enrekang 116 Lembata
37 Kepulauan Talaud 77 Luwu 117 Flores Timur
38 Minahasa Selatan 78 Tana Toraja 118 Sikka
39 Bolaang Mongondow Utara 79 Luwu Timur 119 Ende
40 Kepulauan Siau Tagulandang Biaro 80 Kota Makassar 120 Ngada

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


16
No Kab/ Kota No Kab/ Kota No Kab/ Kota No Kab/ Kota
121 Manggarai 161 Lampung Barat 201 Kota Kediri 241 Kota Yogyakarta
122 Sumba Tengah 162 Kota Bandar Lampung 202 Kota Blitar 242 BENGKULU SELATAN
123 Kota Kupang 163 Kota Metro 203 Kota Malang 243 BENGKULU UTARA
124 Dompu 164 Bangka 204 Kota Probolinggo 244 MUKO-MUKO
125 Bima 165 Belitung 205 Kota Pasuruan 245 KOTA BENGKULU
126 Sumbawa Barat 166 Bangka Barat 206 Kota Mojokerto 246 KOTA CILEGON
127 Kota Mataram 167 Belitung Timur 207 Kota Madiun 247 KOTA TANGGERANG SELATAN
128 Kota Bima 168 Kota Pangkal Pinang 208 Kota Surabaya 248 Kota Tangerang
129 Simeulue 169 Paser 209 Kota Batu 249 JEMBRANA
130 Aceh Selatan 170 Kutai Barat 210 Banyumas 250 TABANAN
131 Aceh Tenggara 171 Kutai Timur 211 Purworejo 251 KLUNGKUNG
132 Aceh Tengah 172 Berau 212 Klaten 252 BANGLI
133 Aceh Barat 173 Malinau 213 Sragen 253 BULELENG
134 Aceh Besar 174 Nunukan 214 Kudus 254 KOTA DENPASAR
135 Pidie 175 Penajam Paser Utara 215 Kota Magelang 255 Kepulauan Seribu
136 Bireuen 176 Kota Balikpapan 216 Kota Surakarta 256 Jakarta Selatan
137 Aceh Barat Daya 177 Kota Samarinda 217 Kota Salatiga 257 Jakarta Timur
138 Gayo Lues 178 Kota Tarakan 218 Kota Semarang 258 Kota Jakarta Pusat
139 Aceh Tamiang 179 Kota Bontang 219 Kota Pekalongan 259 Jakarta Barat
140 Nagan Raya 180 Kotawaringin Barat 220 Kota Tegal 260 Jakarta Utara
141 Aceh Jaya 181 Barito Selatan 221 Purwakarta 261 Banjar
142 Bener Meriah 182 Barito Utara 222 Karawang 262 Barito Kuala
143 Kota Banda Aceh 183 Lamandau 223 Bekasi 263 Hulu Sungai Selatan
144 Kota Sabang 184 Katingan 224 Kota Bogor 264 Hulu Sungai Utara
145 Kota Langsa 185 Murung Raya 225 Kota Sukabumi 265 Balangan
146 Kota Lhokseumawe 186 Kota Palangka Raya 226 Kota Bandung 266 Kota Banjarmasin
147 Kota Subulussalam 187 Bengkayang 227 Kota Cirebon 267 Kota Banjar baru
148 Halmahera Barat 188 Ketapang 228 Kota Bekasi
149 Halmahera Tengah 189 Melawi 229 Kota Cimahi
150 Kepulauan Sula 190 Kota Pontianak 230 Batang Hari
151 Halmahera Utara 191 Kota Singkawang 231 Bungo
152 Halmahera Timur 192 Ponorogo 232 Kota Jambi
153 Kota Ternate 193 Trenggalek 233 Boalemo
154 Maluku Tenggara Barat 194 Tulungagung 234 Gorontalo
155 Maluku Tengah 195 Malang 235 Pohuwato
156 Kepulauan Aru 196 Situbondo 236 Gorontalo Utara
157 Seram Bagian Timur 197 Sidoarjo 237 Kota Gorontalo
158 Maluku Barat Daya 198 Mojokerto 238 Kulon Progo
159 Kota Ambon 199 Jombang 239 Bantul
160 Kota Tual 200 Gresik 240 Sleman

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


17
e. Permasalahan
Jika dibandingkan dengan target sebanyak 70%, seharusnya ada 348 Kab/Kota
dengan kesiapan akses layanan rujukan. Namun saat ini pencapaiannya baru
54%, dikarenakan terdapat beberapa kendala sebagai berikut:
1) Upaya pencapaian indikator melalui kegiatan yang dibiayai oleh Dana Alokasi
Khusus (DAK) yang tidak dapat dikontrol sepenuhnya oleh Kementerian
Kesehatan.
2) Dana DAK masih sedikit yang mengambil bangunan dan TT kelas III
dikarenakan digunakan untuk pengembangan pelayanan unggulan di
masing-masing RS.
3) Kurangnya pengawasan terhadap realisasi penggunaan anggaran DAK.
4) Belum terpenuhinya standar pelayanan, SDM, sarana prasarana dan
manajemen

f. Usul Pemecahan masalah


1) Guna mengatasi kendala, maka perlu dibentuk Tim terpadu antara tim
Kemkes, Bappenas dan Kemenkeu saat musrembang daerah dan nasional
guna melakukan pengawasan terhadap realisasi penggunaan anggaran.
2) Koordinasi dengan Roren terkait pemanfaatan DAK TA 2016 untuk
pemenuhan kebutuhan TT
3) Upaya pemenuhan standarisasi RS Rujukan melalui peningkatan standar
pelayanan, SDM, sarana prasarana dan manajemen RS.
4) Menyusun pedoman penguatan pengampuan RS Rujukan Nasional dan
Regional
5) Monev RS Rujukan
6) Penguatan layanan kesehatan rujukan di RS Rujukan dilakukan melalui
Pencapaian akreditasi melalui DAK non fisik dan Dekon serta Pemenuhan
infrastruktur dan alkes melalui dana DAK fisik
7) Pemenuhan SDM kesehatan dengan melakukan kerjasama Pemda dan
PPSDM

g. Realisasi Anggaran
Alokasi Anggaran untuk melaksanakan indikator ini sebesar
Rp49.346.429.000,- dengan realisasi sampai dengan sebesar
Rp45.108.374.423 atau 91,4%. Anggaran digunakan untuk memperkuat
pelayanan pada rumah sakit seperti penyusunan NSPK, pembinaan layanan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


18
untuk persiapan akreditasi, peningkatan kemampuan SDM melalui workshop-
workshop, dan monev.

2. Jumlah RS Rujukan Nasional dengan RS Rujukan Regional yang menerapkan


integrasi data rekam medis
a. Sasaran Strategis
Tersedianya Fasyankes Rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

b. Definisi Operasional
Definisi operasional indikator ini adalah tersedianya 60 RS Rujukan Nasional
dengan RS Regional yang menerapkan integrasi data rekam medis.

c. Cara Perhitungan
Jumlah RS Rujukan Nasional, Rujukan Provinsi dan RS Rujukan Regional yang
menjadi pengampu integrasi data rekam medis

d. Pencapaian Kinerja
Pada tahun 2016 telah berhasil dilakukan integrasi rekam medis pada 7 RS atau
sebesar 46,7% dari target yaitu 15 RS
Tabel 7 : Rumah Sakit yang menerapkan integrasi data rekam medis
No Nama Rumah Sakit Keterangan
1 RSUP Wahidin Sudirohusodo RS Rujukan Nasional
2 RSUD Labuan Baji RS Rujukan Regional
3 RSUD Kota Makassar RS Rujukan Regional
4 RSUD A Makassau pare Pare RS Rujukan Regional
5 RSUD Sariwegading RS Rujukan Regional
6 RSUD tenriawaru Bone RS Rujukan Regional
7 RSUD Sulthan Daeng Radja RS Rujukan Regional

Jika dibandingkan dengan target tahun 2019 untuk indikator jumlah rumah sakit
rujukan nasional dengan rs rujukan regional yang menerapkan integrasi data
rekam medis yaitu 60 RS, maka masih terdapat 45 RS yang harus dilakukan
pembinaan atau realisasi baru mencapai 11,7%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


19
Gambar 4. Grafik Realisasi dan Target
Jumlah RS Rujukan Nasional dengan RS Rujukan
Regional yang menerapkan integrasi data rekam medis
60
60

50 45

40
30
Realisasi
30
Target
20 15
7
10

0
2015 2016 2017 2018 2019

Dalam RPJM Tahun 2015-2018 untuk indikator jumlah rumah sakit rujukan
nasional dengan rs rujukan regional yang menerapkan integrasi data rekam
medis belum ditetapkan target

e. Permasalahan
Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya pemenuhan capaian
indikator tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:
1) Belum adanya pedoman integrasi rekam medis
2) Masih lemahnya teknologi informasi di RS
3) Telah ada SIRS di RS yang tidak dapat diintegrasikan Karena terkait dengan
sourccat dan hak cipta dari masing-masing system yang telah terpasang.

f. Usul Pemecahan Masalah


Terdapat beberapa upaya yang telah dilakukan guna mengatasi kendala dalam
pencapaian indikator, antara lain adalah sebagai berikut:
1) Menyusun pedoman dan road map integrase data rekam medisMenyusun
pedoman dan road map integrase data rekam medis
2) Berkoordinasi dengan Bagian PI terkait proses input variable rekam medik
elektronik pada SIM GOS

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


20
g. Realisasi Anggaran
Alokasi Anggaran untuk melaksanakan indikator ini sebesar Rp211.820.000
dengan realisasi sebesar Rp190.920.000,- atau sebesar 90,1% angaran
tersebut diagunakan untuk penyusunan pedoman dan pertemuan koordinasi
integrasi rekam medis

Persentase RS Regional sebagai pengampu pelayanan telemedicine


3.

a. Sasaran Strategis
Tersedianya Fasyankes Rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

b. Definisi Operasional
Definisi Operasional dari indikator Persentase RS Regional sebagai pengampu
pelayanan telemedicine adalah :
1) Terselenggaranya salah satu jenis pelayanan telemedicine oleh RS
Pengampu dengan fasyankes yang diampu
2) Telemedicine adalah pelayanan kesehatan jarak jau melalui pemanfaatan
teknologi komunikasi dan informasi dalam rangka konsultasi diagnostik dan
tatalaksana perawatan pasien antara faskes pengampu dan yang diampu.
Pelayanan telemedicine yang dapat dikembangkan yaitu tele-radiologi, tele-
kardiologi, radio-komunikasi medik (tele-conference), vidio-conference
(VCom), tele-radiotherapy, tele-konsultasi.

c. Cara Perhitungan
RS rujukan Regional yang memberikan pelayanan (sebagai pengampu)
telemedicine dibagi jumlah seluruh RS Rujukan Regional) x 100%
Jumlah RS Rujukan Regional sebanyak 110 RS

d. Pencapaian Kinerja
Pelayanan telemedicine adalah pelayanan dengan menggunakan transmisi dari
informasi medis seperti teks, citra, biosinyal, video, suara serta keahlian medis
dan perawatan dari satu lokasi ke lokasi lainnya melalui hubungan
telekomunikasi. Telemedicine meliputi tele-laboratorium, tele-kardiologi, tele-
radiologi, dll. bagi pasien, dan untuk pengembangan pendidikan dokter dan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


21
dokter spesialis berbasis kompetensi di Indonesia
Capaian indicator Presentase RS Regional sebagai pengampu pelayanan
telemedicine tahun 2016 yaitu sebanyak 6 Rumah Sakit Pegampu atau sebesar
100 % dari target yaitu 6% dari jumlah rumah sakit rujukan regional atau
sebanyak 6 RS. Jumlah fasyankes yang diampu pada tahun 2016 sebanyak 19
fasyankes.

Tabel 8 Fasyankes Pengampu dan Diampu TelemedicineTahun 2016

TeleKon Telera Tele- Tele-


No RS Pengampu No Fasyankes Diampu
sultasi diologi EKG USG

RS Zaenoel Abidin
1 1 RSUD Sabang 1 1
(Rujukan Provinsi)
2 RSIA Banda Aceh 1 1
Puskesmas Sukajaya
3
Kota Sabang
1
RSUD Abdul Azis
2 4 RSUD Pemangkat 1 1
Singkawang
5 Puskesmas Seulakau 1 1
RSUD Syamsudin
3
Sukabumi
6 RSUD Pelabuhan Ratu 1 1
RS. Universitas
4 7 RSUD Sinjai 1
Hasanuddin
8 Puskesmas Balangnipa 1 1 1
9 Puskesmas Kampala 1 1 1
10 Puskesmas Lappadata 1 1 1
11 Puskesmas Panaikang 1 1 1
Puskesmas Pulau
12
Sembilan
1 1 1
RSUD Djasamen
5 13 RSUD Simalungun 1 1
Saragih
14 RSUD Tarutung 1 1
RSUD Johanes
6 15 RS Labuan Bajo 1 1
Kupang, NTT
16 RSUD Mboi 1 1
17 RSUD Malaka 1 1
Puskesmas Ruteng
18
(Wangko)
1 1
Puskesmas Langke
19
Majok Ruteng
1 1

Jika dibandingkan dengan target tahun 2019, maka masih terdapat 29 Rumah
Sakit yang menjadi target dan harus dilakukan pembinaan atau realisasi baru
mencapai 17%.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


22
Gambar 5. Grafik Realisasi dan Target
Presentase RS Regional sebagai pengampu pelayanan
telemedicine

32%
35.0%
30.0%
25.0% 20%
20.0% Realisasi
12%
15.0% Target
10.0% 6.3% 6%
3.6% 3%
5.0%
0.0%
2015 2016 2017 2018 2019

Jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015 yaitu sebesar 3,6% maka
capaian tahun 2016 sebesar 6,3% mengalami kenaikan sebesar 2,7% sehingga
secara secara kesuluruhan jumlah RS yang telah menjadi pengampu
telemedicine sebanyak 10 RS

Tabel 9: Fasyankes Pengampu dan Diampu Telemedicine Tahun 2015


Telemedicine
No RS Pengampu No Fasyankes Diampu Teleradiologi berbasis
vicon
RSUP dr. M.
1 1 RSUD Pariaman, Sumbar 1
Djamil, Padang
RSUD dr. M. Zein Painan,
2 1
Sumbar
RSUD Pasaman Barat,
3 1
Sumbar
RSUD Lubuk Sikaping,
4 1
Sumbar
RSUD Kepulauan Meranti,
5 1
Riau
RSUP M. Hoesin, RSUD Kotaagung,
2 6 1
Palembang Lampung
RSUD Hasannudin Damrah,
7 1
Bengkulu
RSUD Curup Rejang
8 1
Lebong, Bengkulu
RSUP Dr. Wahidin
RSUD Harapan Insan
3 Sudirohusodo, 9 1
Sendawa, Kaltim
Makassar
RSUD Besemah Pagar
4 RS PON, Jakarta 10 1
Alam, Sumsel
RS Stroke Bukittinggi,
11 1
Sumbar

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


23
e. Permasalahan
Walaupun target pada indikator ini sudah terpenuhi, namun masih terdapat
kendala dalam pencapaiannya. Kendala tersebut yaitu :
1) Belum selesainya regulasi pedoman tentang telemedicine
2) Pelaksanaan telemedicine di RS yang telah diberikan alat belum berjalan
dengan baik dikarenakan permasalahan signal terkait data internet
3) Belum adanya regulasi tentang tarif pembiayaan telemedicine

f. Usul Pemecahan Masalah


Upaya pemecahan masalah dalam rangka pencapaian indikator di atas yaitu
dengan :
1) Mengkoordinasikan dengan pihak-pihak terkait untuk mempercepat
penyelesaian pedoman telemedicine
2) Mendorong adanya perjanjian kerjasama fasyankes pengampu dan yang
diampu terkait tarif pembacaan telemedicine
3) Mendorong pemanfaatan dan penggunaan pelayanan telemedicine
4) Berkoordinasi dengan Pusdatin dan Provider telekomonikasi untuk
peningkatan kemampuan signal data internet

g. Realisasi Anggaran
Alokasi Anggaran untuk melaksanakan indikator ini sebesar Rp8.845.616.000
dengan realisasi sebesar Rp7.515.094.809,- atau 85,0%. Anggaran digunakan
untuk penyusunan pola tarif, penyusunan pedoman, sosialisasi pengembangan
jejaring, dan pengadaan perangkat telemedicine.

4. Jumlah RS Pratama yang Dibangun (Kumulatif)

a. Sasaran Strategis
Tersedianya Fasyankes Rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

b. Definisi Operasional
Definisi operasional dari Jumlah RS Pratama yang dibangun adalah tersedianya
RS Pratama yang dibangun pada tahun berjalan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


24
c. Cara Perhitungan
Jumlah RS Pratama yang telah selesai dibangun pada tahun berjalan.

d. Pencapaian Kinerja
Pencapaian indikator jumlah RS Pratama yang dibangun (kumulatif) pada tahun
2015 adalah 92% atau 22 RS dari 24 RS yang ditargetkan dalam di RPJMN.
Tahun 2016 pencapaian indikator jumlah RS Pratama yang dibangun (kumulatif)
adalah 79,4% atau sebanyak 27 RS dari 34 RS yang ditargetkan di RPJMN.
Daftar nama RS Pratama yang dibangun beserta status pembangunannya dapat
dilihat pada Tabel Daftar RS Pada Proses Pembangunan RS Pratama Tahun
2016.

Tabel 10 : Progres pembangunan RS Pratama Tahun 2016

NO PROVINSI KABUPATEN / KOTA REALISASI FISIK

A. DANA ALOKASI KHUSUS APBN


Papua
1 Tolikara 100%
2 Papua Yalimo Dokumen perencana

3 Sumatera Selatan Ogan Komering Ilir 100%

B. DANA ALOKASI KHUSUS APBN PERUBAHAN


1 Sumatera Barat Kepulauan Mentawai Dokumen perencana

2 Kalimantan Barat Bengkayang Dokumen perencana

3 Kalimantan Barat Kapuas Hulu Dokumen perencana


4 Sulawesi Utara Tomohon Dokumen perencana
5 Sulawesi Selatan Pangkajene dan 100% (Finising)
Kepulauan
6 Sulawesi Selatan Pinrang 100%

7 Sulawesi Tenggara Konawe Kepulauan 100 %

8 Nusa Tenggara Barat Dompu Dokumen perencana


9 Nusa Tenggara Timur Ende Dokumen perencana

10 Papua Waropen Dokumen perencana

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


25
Target sampai dengan tahun 2019, terdapat 64 rumah sakit pratama yang
dibangun. Jika dibandingkan antara pencapaian tahun 2016, maka masih
terdapat 37 RS Pratama lagi yang harus dibangun.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik berikut ini:

Gambar 6. Grafik Target dan Realisasi


Jumlah RS Pratama yang Dibangun (Kumulatif)
Tahun 2015 - 2016

70 64

60 54
50 44

40 34
Realisa
27
30 22 24 si
20
10
0
2015 2016 2017 2018 2019

Jika dibandingkan dengan capai tahun 2015 sebesar 22 RS maka capaian tahun
2016 sebesar 27 RS mengalami kenaikan 5 RS.
Daftar nama RS Pratama yang dibangun tahun 2015 tabel berikut :

Tabel 11 : Kab/Kota Pembangunan RS Pratama Tahun 2015


NO KABUPATEN PROPINSI
1 Sarmi Papua
2 Merauke Papua
3 Manokwari Papua Barat
4 Alor NTT
5 Sumba Timur NTT
6 Manggarai Barat NTT
7 Lombok Barat NTB
8 Tojo Una – Una Sulawesi Tengah
9 Donggala Sulawesi Tengah
10 Mesuji Lampung
11 Pesisir Selatan Sumatera Barat

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


26
NO KABUPATEN PROPINSI
12 Aceh Barat Aceh
13 Intan Jaya Papua
14 Nduga Papua
15 Banggai Sulawesi Tengah
16 Morowali Sulawesi Tengah
17 Parigi Moutong Sulawesi Tengah
18 Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah
19 Toraja Utara Sulawesi Selatan
20 Hulu Sungai Selatan Kal- Selatan
21 Kota Waringin Timur Kal - Tengah
22 Buleleng Bali

e. Permasalahan
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan indikator jumlah rs pratama yang
dibangun (kumulatif) antara lain:
1) Pembangunan RS Pratama Yalimo mengalami masalah Karena penyiapan
lahan yang membutuhkan waktu lama sehingga pelaksanaan pekerjaan
menjadi tertunda
2) Daerah yang menjadi lokus RS Pratama melalui DAK Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negaran Perubahan untuk 10 RS Pratama belum siap dokumen
perencanaan seperti Detail Enggenering Disgn (DED), dan dokumen lelang,
serta pembangunan fisik RS Pratama tidak maksimal oleh daerah Karena
masalah waktu efektif yang hanya 3 bulan hingga akhir tahun
3) Daerah tidak dapat melaksanakan pembangunan RS Pratama secara
maksimal oleh daerah karena masalah waktu yang hanya 3 Bulan
4) Belum ada mekanisme monitoring pelaksanaan DAK RS Pratama secara
rutin.

f. Usul Pemecahan Masalah


Beberapa usulan pemecahan masalah yang dilakukan dalam menangani
kendala pencapaian indikator jumlah RS pratama yang dibangun (kumulatif)
adalah sebagai berikut:
1) Alokasi anggaran melalui DAK Penugasan APBN awal dan disahkan oleh
Daerah melalui mekanisme APBD diawal tahun sehingga cukup waktu untuk
pelaksanaan.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


27
2) Mempersiapkan daerah yang diusulkan sebagai lokus RS Pratama secara
detail sehingga potensi gagal dalam pelaksanaan dapat dihindarkan
3) Melaksanakan monitoring secara berkala terhadap pelaksanaan DAK
Pembangunan RS Pratama
4) Meningkatkan koordinasi antara Kemenkes dan kemenkeu terkait aturan
penggunaan alokasi anggaran DAK perubahan pembangunan RS Pratama
lintas tahun terutama yang berasal dari anggaran APBN Perubahan

g. Realisasi Anggaran
Alokasi anggaran sebesar Rp27.792.778.000,- dengan realisasi
Rp13.282.525.474,- atau 47,8%. Anggaran digunakan untuk penyelesaian
Pembangunan 3 RS Bergerak dan Pengiriman alat kesehatan dan penunjang
untuk 8 RS Bergerak dan 4 RS Pratama. Serta pengiriman alat kesehatan dan
penunjang RS Pratama yang direlokasi ke RSUD

5. Jumlah Dokumen Tentang Kebutuhan Kapal RS di Daerah Kepulauan

a. Sasaran Strategis
Tersedianya Fasyankes Rujukan berkualitas yang dapat dijangkau oleh
masyarakat.

b. Definisi Operasional
Definisi operasional dari indikator jumlah dokumen tentang kebutuhan kapal RS
di daerah kepulauan yaitu adanya data kebutuhan kapal Rumah Sakit di
Kabupaten kepulauan.

c. Cara Perhitungan
Jumlah dokumen yang terkait dengan pedoman penyelenggaraan rumah sakit
bergerak di perairan.

d. Pencapaian Kinerja
Tahun 2016 telah dilaksakan penyempurnaan pedoman RS kapal serta survey
kebutuhan RS Kapal di daerah kepulauan. Telah tersusun Draft Pedoman RS
Bergerak di Perairan yang disertai 7 Proposal tentang kebutuhan RS Kapal dari

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


28
7 Provinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau,
Papua, Kalimantan Utara)
Indikator ini memiliki target pada tahun 2015 dan 2016, masing-masing 1
dokumen tentang kebutuhan kapal RS di daerah kepulauan. Sehingga ditahun
2016 target telah dicapai.

e. Permasalahan
Dokumen kebutuhan kapal rumah sakit di daerah kepulauan yang disusun
hanya membahas penyelenggaraan rumah sakit bergerak di perairan tidak
secara detail membahas peoposal kebutuhan anggaran untuk rs kapal di daerah
kepulauan

f. Usul Pemecahan Masalah


1) Koordinasi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan dan
Daerah sehingga dapat disusun secara detail dokumen proposal kebutuhan
Rumah Sakit Kapal.
2) Melakukan monev ke 7 Provinsi untuk mengkoordinasikan data terkait
kebutuhan RS Kapal

g. Realisasi Anggaran
Alokasi anggaran yang terkait dengan indikator ini sebesar Rp200,00,000,-
dengan realisasi sebesar Rp175.304.800,- atau sebesar 87,7%.

6. KEGIATAN TROBOSAN

a. Call Center 119


Upaya penguatan akses pelayanan kesehatan antara lain dengan Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang bertujuan memberikan
pertolongan pertama pada kasus kegawatdaruratan di bidang kesehatan.
SPGDT merupakan layanan emergency medik di Indonesia yang
diselenggarakan melalui pelayanan berbasis call center yaitu Pusat Komando
Nasional/National Comand Center (NCC) 119 dan Pusat Pelayanan Kesehatan
Terpadu/Public Safety Center (PSC) 119.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


29
NCC merupakan pusat panggilan kegawatdaruratan medikdengan nomor akses
119 yang digunakan diseluruh wilayah Indonesia, yang berada di Kementerian
Kesehatan.
PSC merupakan pusat layanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam
hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan medik yang berdada di
Kabupaten/Kota yang merupakan ujung tombak pelayanan untuk mendapatkan
respon cepat. Fungsi PSC yaitu (1) pemberi pelayanan gawat darurat, (2)
Pemandu pertolongan pertama (first aid), (3) Pengevakuasi korban/pasien
gawat darurat dan (4) pengoordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Tugas PSC (1) menerima terusan (dispatch) panggilan kegawatdaruratan dari
Pusat Komando Nasional; (2) melaksanakan pelayanan kegawatdaruratan
dengan menggunakan algoritme kegawatdaruratan; (3) memberikan layanan
ambulans; (4) memberikan informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan; dan
memberikan informasi tentang ketersediaan tempat tidur di rumah sakit; (5) PSC
yang sudah terkoneksi dengan NCC
PSC yang sudah terintegrasi dengan NCC 119 sebanyak 27 PSC antara lain
Aceh, Sumatera Utara, Kabupaten Bangka, Kota Bandung, Kota Yogyakarta,
Kota Solo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Tulung
Agung, Kota Mataram, DKI Jakarta, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Utara,
Kabupaten Tangerang, Sumatera Selatan, Kabupatn Bekasi, Kota Bekasi, Kota
Makassar, Kota Tengerang Selatan, Kabupaten Sragen, Kabupaten Kendal,
Kota Cirebon, Kabupaten Tuban, Kabupaten Trenggalek, Kota Denpasar, dan
BPBD Provinsi Bali.

Gambar 7 : National Command Center 119

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


30
Dengan adanya NCC dan PSC 119 akan memudahkan :
1) Masyarakat dapat mengakses layanan kegawatdaruratan medis melalui
nomor 119 secara luas dan gratis melalui telepon seluler maupun rumah
2) Masyarakat bisa mendapatkan informasi fasilitas kesehatan terdekat,
ketersediaan tempat tidur fasilitas kesehatan, dan ambulans
3) Mandapatkan panduan pertolongan pertama (first aid)
4) Pelayanan kegawatdaruratan dengan menggunakan algoritma
kegawatdaruratan
5) Koordinasi layanan kegawatdaruratan antara pemerintah pusat dan daerah
melalui NCC di Pusat dan PSC di Daerah

b. Pembuatan WEB Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS)


Dalam melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2013 tentang
Badan Pengawas Rumah Sakit, Kementerian Kesehatan telah menetapkan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2014
tentang Dewan Pengawas rumah sakit, Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 88 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengawasan, Sistem
Pelaporan dan Sistem Informasi dalam Penyelenggaraan Pembinaan dan
Pengawasan Rumah Sakit oleh Badan Pengawas Rumah Sakit serta Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2014 tentang
Keanggotaan, Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota badan Pengawas
Rumah Sakit Indonesia.
Di tingkat pusat disebut Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia yang
merupakan unit nonstuktural pada Kementerian yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan yang melakukan pembinaan dan
pengawasan rumah sakit secara eksternal yang bersifat nonteknis
perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat, sedangkan ditingkat
provinsi disebut Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi yang merupakan unit
nonstruktural pada Dinas Kesehatan Provinsi yang melakukan pembinaan dan
pengawasan rumah sakit secara eksternal yang bersifat nonteknis
perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat. Pengawasan yang ada
selama ini hanya dilakukan oleh dewan pengawas internal rumah sakit dan
diharapkan BPRS yang anggotanya terdiri dari wakil pemerintah , asosiasi
rumah sakit masyarakat dan profesi ini diharapkan dapat memberikan kontrol
secara independen penyelenggaraan pelayanan rumah sakit baik milik
pemerintah maupun swasta.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


31
Agar masyarakat dapat mengakses berbagai informasi dan kegiatan dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi BPRS maka telah dibua akses informasi berbasi
WEB yang dapat diakses pada bprs.kemkes.go.id/V1/index.php

Gambar 8. Visual WEB Badan Pengawas Rumah Sakit

Dengan adanya WEB BPRS akan memudahkan :


1) Masyarakat mengakses informasi terkait rumah sakit, berita, regulasi di
bidang perumahsakitan, dan kegiatan BPRS sebagai Badan yang
mempunyai tugas pengawasan Rumah Sakit.
2) Masyarakat menyampaikan keluhan/laporan/pengaduan terkait pelayanan
di Rumah Sakit
3) Pengelola/Manajemen Rumah Sakit dalam melakukan koordinasi/konsultasi

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


32
B. REALISASI ANGGGARAN
1) Pencapaian Realisasi Anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
Alokasi anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun Anggaran
2016 sebesar Rp151.070.490.000,- dengan alokasi anggaran yang dapat
dilaksanakan sebesar Rp86.503.202.000,- (Self blocking sebesar
Rp64.567.288.000,-).
Realisasi anggaran Tahun 2017 sebesar Rp66.441.684.313,- sehingga
pencapaian realisasi anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan tahun
2016 terhadap total pagu sebesar 44,0% dan realisasi terhadap alokasi anggaran
yang dapat dilaksanakan adalah sebesar 76,8%

2) Alokasi Dan Realisasi Anggaran Per Subdit Pelayanan Kesehatan Rujukan


Realisasi anggaran per Sub Direktorat pada Direktorat Pelayanan Kesehatan
Rujukan tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 12 dibawah ini:

Tabel 12. Realisasi Anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun


2017

REALISASI
NO SUBDIT PAGU
Rp %
Subdit Pelayanan Gawat Darurat
1 12,686,576,000 12,126,652,989 95.59
Terpadu
2 Subdit YanMedik dan Keperawatan 15,970,013,000 15,292,988,210 95.76

3 Subdit RS Pendidikan 9,402,402,000 8,611,424,475 91.59


Subdit Pengelolaan Rujukan dan
4 3,528,138,000 2,542,456,584 72.06
Pemantauan RS
5 Subdit Pelayanan Penunjang 11,961,441,000 10,374,139,494 86.73

6 Subbag Tata Usaha 4,714,221,000 3,866,540,707 82.02

7 Belanja Modal 28,240,411,000 13,627,481,854 48.26

JUMLAH 86,503,202,000 66,378,602,144 76.81

3) Masalah dalam Realisasi Anggaran


Masalah dan hambatan dari realisasi anggaran Direktorat Pelayanan Kesehatan
Rujukan adalah sebagian berikut :

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


33
a. Hambatan internal
1. Adanya revisi efisiensi (self blocking) anggaran
2. Tertundanyan pengiriman dan uji fungsi Alkes 10 RS Bergerak dan 4 RS
Pratama
3. Tertundanya pembayaran prestasi pekerjaan bangunan RS Bergerak
Sarmi
b. Hambatan eksternal
1. Kurang komitmennya kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan
pengiriman dan uji fungsi alat RS bergerak seperti keterlambatan memulai
pekerjaan, mobilisasi tenaga dan material yang terlambat dan jumlah
tenaga kerja yang kurang
2. DAK perubahan pada bulan Juli 2016 menyebabkan daerah mengalami
kesulitan dalam pelaksanaannya
3. Penetapan APBD Perubahan terkai DAK Perubahan yang terlambat
4) Efisiensi Anggaran
Dari 5 indikator pada Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, terdapat 3
indikator 2 indikator yang tercapai yaitu (1) Persentase RS Regional sebagai
pengampu pelayanan telemedicine dan (2) Jumlah dokumen tentang kebutuhan
kapal RS di daerah kepulauan. Efisiensi anggaran dari ke – 2 indikator tersebut
adalah sebesar 27,3% yaitu terdri dari 12,3 % untuk indikator (1) Persentase RS
Regional sebagai pengampu pelayanan telemedicine dan15 % untuk indikator
(2) Jumlah dokumen tentang kebutuhan kapal RS di daerah kepulauan
Selain efisiensi tersebut pada tahun anggaran 2016 terdapat efisiensi melalui self
blocking pada DIPA Direktorat pelayanan kesehatan rujukan sebesar
Rp64.567.288.000,- atau sebesar 42,7% dari total pagu yaitu sebesar
Rp151.070.490.000,-

C. SUMBER DAYA LAINNYA


1. Sumber Daya Manusia
Dukungan sumber daya manusia dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan yaitu sebanyak 93 orang yang terbagi
dalam 5 Sub Direktorat dan 1 Sub Bagian Tata Usaha

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


34
Tabel 13 : Sumber Daya Manusia Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
persubdirektorat tahun 2016
No Nama Satuan Organisasi Jumlah
1 Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan 1

2 Subdirektorat Pelayanan Medik dan Keperawatan 18


3 Subdirektorat Pelayanan Penunjang 11
4 Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat Terpadu 11
Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan Pemantauan
5
Rumah Sakit 12
6 Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan 14
7 Subbagian Tata Usaha 26
TOTAL 93

Tabel 14 : Tabel Jumlah Pegawai Berdasarkan Status Kepegawaian pada


Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016
No Status Kepegawaian Jumlah
1 Pegawai Negeri Sipil 79
2 Honorer / Pramubakti
a. Honorer rutin direktorat 9
b. Honorer komite 5
Total 93

Tabel 15: Tabel Jumlah PNS Berdasarkan jenis Kelamin Pada


Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016
Jenis Kelamin
No Nama Satuan Organisasi Jumlah
PRIA WANITA
1 Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan 0 1 1
Subdirektorat Pelayanan Medik dan
2 4 11 15
Keperawatan
3 Subdirektorat Pelayanan Penunjang 3 7 10
Subdirektorat Pelayanan Gawat Darurat
4 7 4 11
Terpadu
Subdirektorat Pengelolaan Rujukan dan
5 3 8 11
Pemantauan Rumah Sakit
6 Subdirektorat Rumah Sakit Pendidikan 4 9 13
7 Subbagian Tata Usaha 7 11 18
TOTAL 28 51 79

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


35
Tabel 16: Tabel Jumlah PNS Berdasarkan Jenis Pendidikan Pada
Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016
Pendidikan
Nama Satuan
No Spesialis Jumlah
Organisasi S3 S2 S1 D IV D III SMA
1/2/A V
1 Direktur 0 0 1 0 0 0 0 1
Subdirektorat Pelayanan
2 0 8 2 4 0 0 1 15
Medik dan Keperawatan
Subdirektorat Pelayanan
3 0 5 1 4 0 0 0 10
Penunjang
Subdirektorat Pelayanan
4 0 9 0 2 0 0 0 11
Gawat Darurat Terpadu
Subdirektorat
Pengelolaan Rujukan dan
5 1 4 0 3 1 0 2 11
Pemantauan Rumah
Sakit
Subdirektorat Rumah
6 0 9 1 1 0 0 2 13
Sakit Pendidikan
7 Subbagian Tata Usaha 0 4 0 8 0 2 4 18
TOTAL 1 39 5 22 1 2 9 79

Tabel 17: Tabel Jumlah PNS Berdasarkan Golongan Pada


Direktorat pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016
Golongan
No Nama Satuan Organisasi III IV
A B C D A B C D
Direktur Pelayanan
1 0 0 0 0 0 0 1 0
Kesehatan Rujukan
Subdirektorat Pelayanan
2 0 2 4 8 0 1 0 0
Medik dan Keperawatan
Subdirektorat Pelayanan
3 0 0 3 3 3 1 0 0
Penunjang
Subdirektorat Pelayanan
4 0 2 4 3 2 0 0 0
Gawat Darurat Terpadu
Subdirektorat Pengelolaan
5 Rujukan dan Pemantauan 0 5 3 1 1 1 0 0
Rumah Sakit
Subdirektorat Rumah Sakit
6 0 3 4 3 2 1 0 0
Pendidikan
7 Subbagian Tata Usaha 4 8 5 0 1 0 0 0
TOTAL 4 20 23 18 9 4 1 0

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


36
2. Barang Milik Negara
a. Laporan Perkembangan BMN

Pengelolaan Barang Milik Negara Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan


selama periode 1 Januari s/d 31 Desember 2016, dapat dilaporkan dalam
bentuk Intrakomtable, Ekstrakomtable, Gabungan Intrakomtable dan
Ekstrakomtable dan Konstruksi dalam pengerjaaan.
Adapun laporan perkembangan masing-masing Barang Milik Negara adalah
sebagai berikut :

Tabel 18: Laporan Posisi Barang Milik Negara Di Neraca


Per Tanggal 31 Desember 2016
No Uraian Nilai
1 Barang Konsumsi 14.250.000
2 Peralatan dan Mesin untuk dijual atau 5.479.841.131
diserahkan kepada masyarakat
3 Aset Tetap Lainnya untuk diserahkan kepada 1.148.232.000
masyarakat
4 Bahan Baku 0
5 Peralatan dan mesin 35.487.673.018
6 Gedung dan Bangun 0
7 Jaringan 0
8 Aset Tetap dalam Renovasi 665.678.040
9 Aset Tetap Lainnya 0
10 Konstruksi Dalam Pekerjaan 124.589.325.084
11 Akumulasi penyusutan Peralatan dan Mesin - 33.828.872.110
12 Akumulasi Penyusutan Jaringan 0
13 Aset Tetap yang tidak digunakan dalam 401.304.946.030
operasi pemerintahan
14 Akumulasi penyusutan Aset Tetap yang tidak - 360.283.341.946
digunakan dalam operasi
Jumlah 174.577.731.247

Berdasarkan hasil laporan Posisi Barang Milik Negara Direktorat Pelayanan


Kesehatan Rujukan berdasarkan Neraca sampai dengan 31 Desember 2016

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


37
nilai BMN sebesar Rp568.689.945.303,- dengan angka penyusutan sebesar
Rp394.112.214.056,-, sehingga tercatat netto sebesar Rp174.577.731.247,-.

b. Inventaris Kantor Dit BUKR

Tabel 19. Kondisi Sarana dan Prasarana

Kondisi
No Jenis barang Jumlah
Baik Rusak
1 Mobil dinas 3 3
2 Sepeda Motor 1 1
3 Laptop 18 11 29
3 LCD Proyektor 7 7
4 Meja Direktur 1 1
5 Meja Kasubdit 5 5
6 Meja Kasie 10 10
7 Meja Staf 82 82
8 Kursi putar 100 100
11 Meja Rapat 6 6
12 Kursi Rapat 55 55
13 Kursi Tamu 5 5
14 Filling Cabinet 46 10 56
15 Lemari Besi 25 17 42
16 Brankas 1 1 2
17 Komputer 71 71
18 Printer 85 85
19 Mesin Tik Elektrik 7 7
20 Scanner 8 8
21 MesinFotocopy 1 1
22 AC 18 18
23 White Board Elektrik 1 1
24 Kulkas 1 pintu 1 1
25 Kulkas kecil 1 1

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


38
BAB IV
PENUTUP

Laporan Akuntabilitas Kinerja ini merupakan media untuk menyampaikan


pertanggungjawaban kinerja yang dilaksanakan Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan
kepada Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan baik
yang terkait langsung maupun tidak langsung selama periode 1 Januari sampai dengan 31
Desember 2016.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan


telah dapat mencapai target dan merealisasikan program dan kegiatan tahun 2016,
khususnya yang ditetapkan dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-
2019.
Pencapaian kinerja kegiatan-kegiatan yang mendukung program tidak selalu dapat
tergambarkan dalam keberhasilan atau hambatan pencapaian indikator per sasaran
program, karena masih dipengaruhi oleh pencapaian kinerja kegiatan dan program dari
sektor lain, meskipun demikian, diharapkan seluruh capaian indikator Direktorat Pelayanan
Kesehatan Rujukan Tahun 2016 dapat memberikan kontribusi dalam pencapaian Program
Pembinaan Pelayanan Kesehatan pada Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Jenderal
Pelaypanan Kesehatan sesuai dengan Rencana Strategis dan dokumen perencanaan
lainnya.
Realisasi program tahun 2016 ini merupakan pentahapan pencapaian sasaran
RPJMN dan Rencana Strategis Pembangunan Kesehatan yang telah ditetapkan dan akan
dilaksanakan berkesinambungan pada tahun-tahun mendatang.
Laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan juga
diharapkan dapat digunakan sebagai alat informasi kinerja untuk peningkatan kinerja dimasa
yang akan datang.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan Tahun 2016


39