Anda di halaman 1dari 5

Jawaban

1. Dalam kasus RSUD Margono tersebut mengenai pembeberan data rekam


medis, letak kesalahan Rumah Sakit yaitu memberikan kepada 18 instansi lainnya
bukan hanya diberikan kepada penegak hukum sesuai dengan Permenkes no.
269/2008 & UU no.29/2004 yaitu rekam medis apabila sudah menjadi perkara baru
dapat diberikan kepada penegak hukum, tetapi dalam kasus ini rekam medis diberikan
kepada 18 instansi lainnya, , salah satunya ke kantor Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) Cabang Banyumas. Dalam pasal lainnya adapun penjelasan mengenai rekam
medis yaitu menurut pasal 1 Permenkes RI nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang
Rekam Medis, rekam medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang
telah diberikan kepada pasien. Rekam medis merupakan pintu utama dalam pelayanan
kesehatan, sebagai salah satu ukuran kepuasan pasien. Unit rekam medis bertanggung
jawab terhadap pengelolaan, pengumpulan data, pemprosesan, dan penyajian data
pasien menjadi informasi kesehatan yang berguna bagi pengambil keputusa. Selain
itu, pelayanan ksehatan mempunyai kewajiban administrasi unutk membuat,
menyimpan dan memelihara rekam medis, dan yang berhak mendapatkan ringkasan
rekam medis adalah :
 Pasien
 Keluarga pasien
 Orang yang diberi kuasa oleh pasien atau keluarga pasien
 Orang yang mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien

Sedangkan dalam kasus ini, yang mendapatkan isi rekam medis tersebut merupakan
tanpa persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga pasien.

2. A. Audit medik atau audit kematian

Rekam medis dijaga kerahasiaannya, bahkan sampai pasien meninggal dunia.


Jika pasien meninggal dunia, maka keluarga tidak berhak untuk meminta
rekam medis

B. Penelitian

Untuk kepentingan penelitian, dapat diberikan, namun tanpa identitas


C. Asuransi

Rekam medis hanya boleh diketahui oleh pasien atau orang tuanya {dalam hal
ini apabila pasien belum dewasa). Pihak lain seperti keluarga, kuasa hukum pasien,
perusahaan atau asuransi kesehata dapat mengetahui isis rekam medik apabila pasien
mengizinkan secara tertulis dan sadar akan risiko diketahui rahasia dirinya oleh orang lain.

D. Pengadilan

Rekam medis mempunyai nilai hukum karena isisnya menyangkut masalah


adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan dalam usaha menegakkan hukum serta
bukti unutk mengakkan keadilan.

3. A. Sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008. Sesuai Permenkes tersebut

dijelaskan antara lain:

 Untuk Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan


rekam medis maka harus memenuhi aturan sebagai berikut:
o Rekam medis pasien rawat inap wajib disimpan sekurang-kuangnya 5
tahun sejak pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat di rumah sakit.
o Setelah 5 tahun rekam medis dapat dimusnahkan kecuali ringakasan
pulang dan persetujuan tindakan medik.
o Ringakasan pulang dan persetujuan tindakan medik wajib disimpan dalam
jangka waktu 10 sejak ringkasan dan persetujuan medik dibuat.
o Rekam medis dan ringkasan pulang disimpan oleh petugas yang ditunjuk
oleh pimpinan sarana pelayanan kesehatan.
 Untuk Pelayanan Kesehatan non rumah Sakit dalam mengelola dan pemusnahan
rekam medis harus memenuhi aturan sebagai berikut:
o Rekam medis pasien wajib disimpan sekurang-kuangnya 2 tahun sejak
pasien berobat terakhir atau pulang dari berobat. Setelah 2 tahun maka
rekam medis dapat dimusnahkan.

Pemusnahan dokumen rekam medis dilakuan dengan cara dibakar menggunakan


incerator atau dibakar biasa, dicacah, dibuat bubur disaksikan oleh pihak ketiga dan
tim pemusnah.
B. Kebijakan sesuai dengan Sesuai Permenkes No. 269/MENKES/PER/III/2008.
Diaman dalam pelaksanaan rekam medik, baik kegiatannya, pencatatan dan
penyimpanan diatur dalam UU no.29/2004 dan standar prosedur yang dibuat
sarana pelayanan kesehatan, juga saesuai dengan etika kedokteran indonesia. Jadi
jelas bahwa rekam medik tidak boleh keluar dari sarana pelayanan kesehatan.

4. Menurut saya dokter yang menangai pasien di Unit Gawat Darurat dengan
memberikan infus yang mengandung gula pada pasien Diabetes adalah Criminal
Malpractice yang bersifatne negligence (lalai) misalnya kurang hati-hati
mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien.
5. Jenis-Jenis Malpraktek dan cara pencegahannya yaitu :
a. Malpraktek Etik

Yang dimaksud dengan malpraktek etik adalah dokter melakukan tindakan yang
bertentangan dengan etika kedokteran. Sedangkan etika kedokteran yang dituangkan da
dalam KODEKI merupakan seperangkat standar etis, prinsip, aturan atau norma yang
berlaku untuk dokter.

b. Malpraktek Yuridik

Soedjatmiko membedakan malpraktek yuridik ini menjadi :

1. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)


Terjadi apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan tidak dipenuhinya isi
perjanjian (wanprestasi) didalam transaksi terapeutik oleh dokter atau tenaga
kesehatan lain, atau terjadinya perbuatan melanggar hukum (onrechmatige daad)
sehingga menimbulkan kerugian pada pasien.

Adapun isi dari tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa :

 Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.


 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi
terlambat melaksanakannya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak
sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
 Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan.
Sedangkan untuk perbuatan atau tindakan yang melanggar hukum haruslah memenuhi
beberapa syarat seperti :

 Harus ada perbuatan (baik berbuat naupun tidak berbuat)


 Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupuntidak tertulis)
 Ada kerugian
 Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang melanggar
hukum dengan kerugian yang diderita.
 Adanya kesalahan (schuld)

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena kelalaian
dokter, maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsure berikut :

 Adanya suatu kewajiban dokter terhadap pasien.


 Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim.
 Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti
ruginya.
 Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.

Namun adakalanya seorang pasien tidak perlu membuktikan adanya kelalaian


dokter. Dalam hukum ada kaidah yang berbunyi “res ipsa loquitor” yang artinya fakta
telah berbicara. Misalnya karena kelalaian dokter terdapat kain kasa yang tertinggal
dalam perut sang pasien tersebut akibat tertinggalnya kain kasa tersebut timbul
komplikasi paksa bedah sehingga pasien harus dilakukan operasi kembali. Dalam hal
demikian, dokterlah yang harus membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.

2. Malpraktek Pidana (Criminal Malpractice)

Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat akibat


dokter atau tenaga kesehatan lainnya kurang hati-hati atua kurang cermat
dalam melakukan upaya penyembuhan terhadap pasien yang meninggal dunia
atau cacat tersebut.

a. Malpraktek pidana karena kesengajaan (intensional)

Misalnya pada kasus-kasus melakukan aborsi tanpa indikasi medis,


euthanasia, membocorkan rahasia kedokteran, tidak melakukan pertolongan
pada kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa
menolong, serta memberikan surat keterangan dokter yang tidak benar.

b. Malpraktek pidana karena kecerobohan (recklessness)


Misalnya melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai
dengan standar profesi serta melakukan tindakn tanpa disertai persetujuan
tindakan medis.
c. Malpraktek pidana karena kealpaan (negligence)

Misalnya terjadi cacat atau kematian pada pasien sebagai akibat


tindakan dokter yang kurang hati-hati atau alpa dengan tertinggalnya alat
operasi yang didalam rongga tubuh pasien.

d. Malpraktek Administratif (Administrative Malpractice)

Terjadi apabila dokter atau tenaga kesehatan lain melakukan


pelanggaran terhadap hukum Administrasi Negara yang berlaku, misalnya
menjalankan praktek dokter tanpa lisensi atau izinnya, manjalankan praktek
dengan izin yang sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek tanpa membuat
catatan medik.

Upaya pencegahan Malpraktek :

Yaitu, kita sebagai tenaga medis khususnya dokter harus selalu berhati-
hati dalam bertindak selalu fokus dan mengikuti seluruh rangkaian sop. Kita
juga harus mengenal mengenai jenis jenis malpraktek dengan begitu kita bisa
tahu cara untuk menghidari dari malpraktek tersebut, karena sekarang terdapat
kecenderungan masyarakat untuk menggugat tenga kesehatan khusunya dokter
dan banyak pula kasus kriminalisasi dokter.