Anda di halaman 1dari 11

24

NATURAL B, Vol. 3, No. 1, April 2015

Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan


Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi Bencana
Harti Umbu Mala1)*, Adi Susilo2), Sunaryo2)

1)
Program Studi Magister Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang
2)
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang

Diterima 25 November 2014, direvisi 14 Februari 2015

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian kajian mikrotremor dan geolistrik resistivitas di sekitar jalan arteri
primer Trans Timor untuk mitigasi bencana. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan nilai
percepatan tanah maksimum, frekuensi dominan tanah, indeks kerentanan seismik dan pendugaan
ketebalan lapisan sedimen. Pengambilan data mikrotremor menggunakan seismometer tiga komponen tipe
DS-4A feedback short-period seismometer pada 52 titik ukur dengan jarak antar titik 250 m. Nilai frekuensi
dominan tanah dan faktor amplifikasi diperoleh dengan metode analisis kurva Horizontal to Vertical
Spectral Rasio (HVSR). Perhitungan nilai percepatan tanah maksimum menggunakan persamaan empiris
Kanai, data periode dominan tanah diperoleh dari hasil konversi nilai frekuensi sedangkan parameter-
parameter gempa berdasarkan kejadian gempa 50 tahun dari tahun 1963-2013 dengan magnitudo ≥ 3.
Pengukuran geolistrik menggunakan resistivitimeter OYO, dengan susunan eletroda berdasarkan
konfigurasi Wenner-Schlumberger, terbagi dalam dua lintasan pengukuran dengan panjang masing-
masing lintasan 400 m. Dari hasil penelitian diperoleh nilai percepatan tanah maksimum berkisar antara
80 gal-500 gal dengan tingkat resiko sedang dua sampai tingkat resiko sangat besar satu. Sebaran nilai
frekuensi dominan tanah adalah 0,62 Hz–18,27 Hz, sementara distribusi indeks kerentanan seismik berada
pada rentang 0,21 dan 21,8. Jenis tanah didominasi aluvium dan clay sebagai lapisan penutup (top soil)
dengan variasi ketebalan dari 10 m sampai 50 m, kemudian ditopang oleh batuan gamping sebagai batuan
dasar (bedrock).

Kata kunci : Mikrotremor, PGA, HVSR, Geolistrik Resistivitas, Mitigasi Bencana

ABSTRACT

The research on microtremor and geoelectric resistivity around Trans Timor Primary Artery Road
to disaster mitigation, has been done. The aims of this research were to obtain the Peak Ground Acceleration
(PGA) value, the soil dominant frequency, seismic vulnerability index and to estimate the thickness of
sediment layer. Microtremor data collection was done by using a three-component seismometer, DS-4A
feedback short-period, at 52 points with 250 m interval. Dominant frequency and amplification factors were
obtained by using curve analysis method, horizontal to vertical spectral ratio (HVSR). The PGA value was
calculated using Kanai empirical equations, where the data of dominant period were obtained from the
inversion of frequency values while the parameters of the earthquake were based on seismic events in the
last 50 years, from 1963 to 2013 with magnitude of ≥ 3. Geoelectric measurements were conducted using a
Resistivitymeter OYO, based on Wenner Schlumberger configuration and it was divided into two lines, with
length of 400 m each. From the results obtained by PGA value is ranged between 80 and 500 gal with level
of risk moderate two to very large one. The distribution value of the soil dominant frequency was 0.62 Hz-
18.27 Hz, while the distribution of the seismic vulnerability index ranged from 0.21 to 21.83. The type of soil
is dominated by clay and alluvium as top soil and its thickness varies from 10 m to 50 m, strengthened by
limestone as bedrock.

Keywords : Microtremor, PGA, HVSR, Geolelectic Resistivity, Disaster Mitigation

---------------------
*Corresponding author:
E-mail: hartiumbumala@gmail.com
Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi 25
Bencana

dan terdapat sesar sungkup di sebelah Utara


Flores dan Pulau Wetar menjadi penyebab
PENDAHULUAN utama tingginya aktivitas gempa [6].
Desa Oebelo merupakan salah satu wilayah
Efek goncangan gempa bumi terasa di Kabupaten Kupang yang dilalui oleh Jalan
bergantung pada besarnya kekuatan gempa dan Trans Timor dan merupakan satu-satunya jalan
kondisi material yang dilaluinya. Getarannya utama yang menghubungkan semua Kabupaten
dapat memicu terjadinya bencana ikutan berupa / Kota di Pulau Timor dengan Negara Timor
longsor dan amblasan tanah [1]. Kondisi Leste. Keberadaannya sangat penting dan vital
demikian mengakibatkan berbagai kerusakan dalam mobilisasi barang dan jasa. Selain itu,
pada infrastruktur, kerugian ekonomi, dan wilayah ini berpotensi menjadi daerah
kehilangan nyawa manusia. Tingkat kerusakan perluasan Kota Kupang sebagai Ibu Kota
yang terjadi bergantung pada kualitas Provinsi. Kondisi geologinya didominasi tanah
infrastruktur, kondisi geologi dan geotektonik, lempung ekspansif, sangat rawan akan
besarnya perecepatan tanah maksimum [2] serta pergeseran dan penurunan. Tingkat
indeks kerentanan seismik [3]. seismisitasnya tinggi didominasi gempa-gempa
Kajian mikrotremor telah banyak dangkal. Berada pada ketinggian ± 8 - 10 m di
digunakan untuk memperkirakan kerusakan atas permukaan laut dengan jarak dari tepi
yang timbul akibat bancana gempabumi. Kajian pantai ± 8 km, menambah rawannya pergeseran
ini sangat tepat dan baik dalam memperkirakan dan penurunan tanah karena sering tergenang
tingkat resiko yang disebabkan oleh aktivitas air pada saat musim hujan dan gelombang
seismik dengan mempertimbangkan kondisi pasang serta terdapat beberapa patahan lokal.
geologi setempat [4]. Berdasarkan gambaran tersebut, maka perlu
Nilai percepatan tanah maksimum/Peak dilakukan kajian mikrotremor dan geolistrik
Ground Acceleration (PGA) diperoleh resistivitas di sekitar jalan arteri primer Trans
menggunakan rumusan empiris Kanai. Timor untuk mitigasi bencana.
Rumusan ini tidak hanya berdasar pada
parameter-parameter gempa, tetapi juga
memperhitungkan efek karakteristik geologi METODE PENELITIAN
setempat yang direpresentasikan oleh nilai
periode dominan tanah berdasarkan analisa Lokasi penelitian di Desa Oebelo sekitar
gelombang mikrotremor [2]. Informasi jalan arteri primer Trans Timor dengan
karakteristik geologi seperti frekuensi alami f0 koordinat 123,10903° BT - 123,76206° BT dan
(natural frequency) dan faktor amplifikasi A0 10,10903° LS - 10,11578° LS. Penelitian
dapat diperoleh dengan teknik Horizontal to dilakukan pada bulan Mei-Juli 2014.
Vertical Spectral Ratio (HVSR) untuk
keperluan pemetaan mikrozonasi dan Pengukuran dan pengolahan data
penentuan indeks kerentanan seismik Kg [3]. mikrotremor. Pengambilan data sebanyak 52
Frekuensi dominan tanah dan faktor titik ukur dengan jarak antar titik 250 m,
amplifikasi merupakan parameter yang menggunakan Seismometer tiga komponen tipe
mewakili kondisi geologi setempat. Kedua DS-4A feedback short-period seismometer dan
paremeter ini dipengaruhi oleh ketebalan seperangkat alat penunjang lainnya. Data yang
lapisan sedimen sehingga informasi ketebalan terekam dalam bentuk trace, kemudian diubah
perlapisan sangat penting dalam menganalisa dalam bentuk miniseed menggunakan DataPro
respon tanah [5]. Metode yang umum sehingga dapat diolah dengan Geopsy untuk
digunakan adalah metode geolistrik resistivitas. menghasilkan kurva HVSR untuk memperoleh
Kabupaten Kupang berada pada wilayah nilai frekuensi dominan tanah dan faktor
Pulau Timor dan merupakan bagian dari amplifikasi. Nilai frekuensi dominan tanah
Provinsi NTT. Aktivitas kegempaannya cukup diiversi dalam bentuk perioda dominan untuk
tinggi dan berpeluang mengalami kerusakan digunakan dalam perhitungan PGA berdasarkan
akibat gempabumi. Diapit oleh lempeng- persamaan empiris Kanai, sedangkan nilai
lempeng tektonik dimana lempeng Indo- amplifikasi faktor digunakan dalam
Australia menyusup di bawah lempeng Eurasia perhitungan indeks kerentanan seismik.
26 Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi
Bencana

Perhitungan PGA. Perhitungan nilai PGA 1. Perhitungan menggunakan persamaan,


menggunakan parameter-parameter gempa dan
VS 30
karakteristik geologi setempat. Adapun h (3)
tahapan-tahapan pengumpulan data adalah: 4 f0
1. Parameter-parameter gempa yang
Dengan, h ketebalan lapisan sedimen (m),
digunakan dalam perhitungan PGA adalah
Vs30 kecepatan gelombang sekunder pada
magnitudo permukaan (Ms) dan jarak kedalaman 30 m (m/s2) dan f0 frekuensi
hiposenter (H). Data-data gempa diperoleh
dominan tanah (Hz) [9].
dari USGS dan BMKG, dipilih berdasarkan
2. Nilai Vs30 di peroleh dari USGS, dipilih
sebaran episenter yang melingkupi daerah
koordinat yang melingkupi daerah
Kabupaten Kupang dalam kurun waktu 50 penelitian. Sebaran nilai Vs30 ini tersebar
tahun, dari tahun 1963 sampai tahun 2013
dengan jarak 1000 m sedangkan jarak titik
dengan magnitudo ≥ 3.
ukur mikrotremor 250 m, sehingga perlu
2. Parameter karakteristik geologi setempat
diinterpolasi untuk mendapatkan nilai Vs30
direpresentasikan oleh nilai periode yang tepat di setiap titik ukur mikrotremor.
dominan tanah (T0) yang diinversikan dari
3. Nilai f0 diperoleh dari pengukuran
nilai frekuensi dominan tanah (f0) hasil
mikrotremor.
pengukuran mikrotremor dengan metode
HVSR. Pengukuran Geolistrik. Pengkuran
3. Perhitungan nilai PGA menggunakan geolistrik terbagi dalam dua lintasan masing-
rumus empiris Kanai [7] dengan masing di sisi utara dan sisi selatan jalan,
memasukkan parameter-parameter pada panjang lintasan ukur 400 m menggunakan
Point (1) dan (2) di atas: konfigurasi Wenner-Schlumberger dengan
 3, 6  1,83 spasi elektroda 10 meter. Nilai resistivitas semu
0,61Ms 1,66  log R  0,167
5
g  10  R  R
(1)
yang diperoleh selanjutnya diolah
Tg menggunakan software Res2dinv untuk
mendapatkan penampang 2D.
Dengan g nilai percepatan getaran tanah titik
pengamatan (gal), Tg periode dominan tanah
titik pengamatan (s), Ms magnitudo surface dan HASIL DAN PEMBAHASAN
R jarak hiposenter (km).
Gambaran Umum Lokasi Penelitian.
Perhitungan Indeks Kerentanan Tanah permukaan di wilayah ini didominasi
Seismik. Indeks kerentanan seismik [4,8] aluvium yang bersifat ekspansif, sedikit
dihitung berdasarkan persamaan berikut, bercampur clay merah dan clay hitam serta
2 pasiran. Terdapat singkapan batu gamping
A
Kg  0 (2)
koral. Berada pada dataran rendah yang
merupakan daerah pengendapan dan dekat
f0
dengan garis pantai. Hal ini menyebabkan
Dengan Kg indeks kerentanan seismik, A0 faktor ketidakstabilan tanah dan berpotensi bergerak
amplifikasi dan f0 frekuensi dominan tanah secara terus menerus bahkan mengalami
(Hz). Nilai A0 dan f0 diperoleh dari pengukuran penurunan atau amblasan.
mikrotremor dengan metode HVSR.
Ketebalan Lapisan Sedimen. Pengkuran
Perhitungan Ketebalan Lapisan dengan metode Geolistrik dilakukan untuk
Sedimen. Pendugaan ketebalan lapisan memperoleh informasi mengenai ketebalan
sedimen dilakukan menggunakan data-data lapisan sedimen dan juga jenis-jenis tanah/
mikrotremor yang mana hasilnya akan batuan yang menyusun perlapisan tersebut.
dicocokkan dengan hasil pendugaan Penampang 2D hasil inversi dengan Res2dinv
menggunakan metode Geolistrik. Adapun memberikan gambaran dan informasi yang
tahapan perhitungan ketebalan lapisan sedimen sangat baik mengenai kondisi tanah dan
dengan mikrotremor adalah ketebalan lapisan sedimen.
Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi 27
Bencana

Gambar 1. Penampang 2D lintasan ukur sebelah Selatan jalan.

Gambar 2. Penampang 2D lintasan ukur sebelah Utara jalan.

Sedangkan lintasan ukur sebelah Utara USGS. Nilai-nilai Vs30 kemudian diinterpolasi
jalan (Gambar 2), didapati jenis perlapisan yang dan disesuaikan dengan titik-titk ukur
tidak jauh berbeda dengan jenis perlapisan pada mikrotremor, sehingga diperoleh nilai-nilai
bagian selatan. Lapisan pertama sebagai lapisan Vs30 tepat disetiap titik-titik ukur mikrotremor.
penutup (top soil) dengan nilai resistivitas Berdasarkan persamaan (3), diperoleh
berkisar 3,65-16,1 Ωm berupa tanah bercampur kedalaman batuan dasar pada setiap titik ukur
clay 40% dan tanah aluvium serta terdapat tersebut. Hasil perhitungan diperoleh
kandungan air tanah. Tidak ditemukan adanya kedalaman batuan dasar berkisar 5,75 – 137,72
intruisi air laut pada lintasan ukur ini. Lapisan m. Kedalaman batuan dasar yang dangkal
di bawahnya adalah tanah campuran clay 20% berada pada titik-titik ukur dengan frekuensi
dan pasir, berada pada kedalaman ± 50 m dominan tanah yang tinggi, sebaliknya
dengan resistivitas 33,7 Ωm. Lapisan paling kedalaman batuan dasar yang dalam pada titik-
dasar adalah limestone dengan resistivitas 50 – titik ukur yang nilai frekuensi dominan
70,8 Ωm, kedalaman ± 60 – 70 m. tanahnya rendah.
Berdasarkan gambar penampang 2D hasil Penggunaan metode mikrotremor dalam
pengkuran geolistrik, secara umum daerah memperkirakan kedalaman bedrock dan
penelitian didominasi clay dan tanah aluvium ketebalan lapisan sedimen sebelumnya ini telah
dangan ketebalan rata-rata antara 10 – 60 m. dilakukan dan memberikan hasil yang baik oleh
Terbentuknya lapisan ini sebagai bagian dari beberapa peneliti, diantaranya [10] melakukan
proses sedimentasi dan pengendapan batuan- penelitian pendugaan ketebalan lapisan
batuan di sekitar daerah tersebut dan gambaran sedimen di Teluk Rhine, Jerman sementara [11]
ini sesuai dengan Peta geologi lembar Kupang- di Massachusetts dan [12] di daerah San
Atambua. Batuan limestone diduga sebagai Joaquin Valley sementara [9] di Bengkulu
bedrock yang menopang lapisan sedimen di memanfaatkan kajian ini untuk memperkirakan
atasnya dengan kedalaman antara 60 – 70 m. kedalaman bedrock. Hubungan antara
Selain menggunakan geolistrik, kajian kedalaman bedrock dan f0 saling mempengaruhi
mikrotremor juga dapat digunakan untuk satu dengan yang lain.
menduga ketebalan lapisan sedimen Hasil tersebut hampir sama dengan hasil
menggunakan persamaan (3). Hasilnya tidak interpretasi menggunakan metode geolistrik
jauh berbeda dan terkonfirmasi cukup baik resistivitas serta gambaran dalam peta geologi,
dengan hasil pendugaan kedalaman batuan sehingga dapat disimpulkan bahwa pendugaan
dasar menggunakan metode geolistrik. ketebalan sedimen dan kedalaman bedrock
Data-data kecepatan gelombang S (Vs30) di menggunakan metode mikrotremor dapat
lokasi pengukuran geolistrik diperoleh dari memberikan hasil yang baik.
28 Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi
Bencana

Frekuensi Dominan Tanah. Pengolahan kecepatan anginnya.


data getaran tanah menggunakan Software Kurva HVSR pada Gambar 4 merupakan
Geopsy dengan metode HVSR. Hasil dari hasil pengukuran getaran tanah pada titik ukur
metode HVSR ini adalah nilai frekuensi H2.12. Nilai frekuensi dominannya 18,27 Hz
dominan tanah dan nilai faktor amplifikasi yang dan faktor amplifikasi 2,48. Kondisi tanah
ditandai dengan puncak kurva HVSR. Nilai permukaan berupa clay bercampur pasir dan
frekuensi tanah dominan pada saat puncak terdapat singkapan batu gamping koral. Nilai
kurva HVSRnya maksimum [13] seperti yang frekuensi dominan tanah yang tinggi
diilustrasikan pada Gambar 3. Gambar ini mengindikasikan bahwa lapisan sedimennya
merupakan salah satu bentuk kurva HVSR, tipis dan kedalaman batuan dasarnya rendah.
berdasarkan data rekaman getaran tanah pada Sebaliknya nilai frekuensi dominan tanah yang
titik H1.1 dengan nilai faktor amplifikasi 3,00 rendah menunjukkan bahwa ketebalan lapisan
dan frekuensi dominan tanah 1,54 Hz. Kurva sedimen tebal dan kedalaman batuan dasar yang
HVSR ditunjukkan garis hitam tebal sedangkan dalam. Hal ini sesuai dengan hasil interpretasi
nilai frekuensi dominan oleh daerah yang [14] bahwa peningkatan nilai periode dominan
terarsir tepat pada nilai puncak/maksimum diikuti dengan peningkatan ketebalan lapisan
kurva HVSR. sedimen atau kedalaman batuan dasar.

Gambar 3. Kurva HVSR pada titik H1.1 Gambar 4. Kurva HVSR dengan nilai frekuensi
dominan tanah tertinggi.
Titik pengukuran getaran tanah yang
memberikan nilai frekuensi dominan yang Sebaran nilai frekuensi dominan tanah di
tinggi ditunjukkan oleh Gambar 4. Adanya daerah penelitian secara umum rendah
perbedaan ketajaman puncak kurva HVSR meskipun di beberapa titik pengukuran terdapat
diinterpretasikan sebagai akibat perbedaan yang nilai frekuensi dominan yang tinggi. Nilai
sangat kontras pada impedansi akustik (Z) frekuensi dominan antara 0,62-5,72 Hz tersebar
antara lapisan top soil (sedimen) dan lapisan pada 42 titik ukur dan hampir mendominasi
dibawahnya (batuan) serta adanya gangguan daerah penelitian sedangkan nilai frekuensi
angin yang menyebabkan terjadi noise pada dominan > 6 Hz hanya tersebar pada 10 titik.
rekaman gelombang mikrotremor. Kurva Titik-titik ukur dengan nilai frekuensi dominan
HVSR akan terlihat jelas puncak frekuensinya yang tinggi merupakan daerah dengan
ketika terdapat perbedaan impedansi akustik karakteristik geologi didominasi batu gamping
yang kontras dengan perbandingan lapisan koral, sedangkan nilai frekuensi dominan yang
kedua dan lapisan pertama > 2:1. Kondisi ini rendah merupakan daerah yang didominasi
sesuai dengan hasil penelitian [11] pada dua tanah aluvium yang lunak/elastis.
daerah yang berbeda karateristik geologi dan Sebaran nilai frekuensi dominan tanah pada
Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi 29
Bencana

daerah penelitian dapat di lihat pada Gambar 5. daerah dengan nilai frekuensi dominan tersebut
Rata-rata nilai frekuensi dominan tanah adalah jumlah tingkat bangunan yang disarankan 2,5 ≤
3,90 Hz. Jika mengacu pada Tabel 1 maka 5.

f0 (Hz)
Lintang (°)

Bujur (°)
Gambar 5. Sebaran Nilai Frekuensi Dominan Tanah

Tabel 1. Hubungan frekuensi dominan tanah dan jumlah dominan tanah. Semakin kecil frekuensi
tingkat bangunan yang disarankan [5] dominan tanah maka akan semakin dalam posisi
Frekuensi Jumlah tingkat batuan dasar, begitupun sebaliknya. Meskipun
No dominan tanah bangunan (lantai) yang
(Hz) disarankan pada beberapa titik ada nilai kedalaman batuan
dasar yang besar namun secara keseluruhan,
1 0- 2 5 - tingkat tinggi
kecenderungan kurvanya menurun secara lienar
2 2,01- 4 2,5 ≤ 5
berdasarkan peningkatan frekuensi domian
3 4,01-6 2 ≤ 2,5 tanah. Hal ini mengindikasikan bahwa
4 6,01-8 1, 25 ≤ 2,5 frekuensi dominan tanah dipengaruhi oleh
5 8,01-10 1 ≤ 1, 25 kedalaman batuan dasar atau ketebalan lapisan
6 ≥ 10 ≤1 sedimen yang menutupi perlapisan batuan di
bawahnya. Lapisan sedimen yang tebal
Kurva yang tampak pada Gambar 6 terlihat menyebabkan banyaknya gelombang terjebak
hubungan antara frekuensi dominan tanah dan pada lapisan tersebut sehingga waktu yang
kedalaman bedrock. Berdasarkan kurva dibutuhkan untuk menjalar sampai ke
tersebut, terlihat pola distribusi kedalaman permukaan semakin lama yang kemudian
batuan dasar yang mengalami penurunan menghasilkan nilai frekuensi dominan yang
seiring dengan peningkatan nilai frekuensi kecil.

160.00
Kedalaman batuan dasar

140.00
120.00
100.00
h (m)

80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
0.62 0.65 0.73 0.76
0.86 1.08 1.25 1.46 1.78 2.47 4.37 9.97 16.61
Frekuensi dominan tanah f0 (Hz)
Gambar 6. Kurva hubungan frekuensi dominan (f0) tanah dan kedalaman batuan dasar (h)
30 Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi
Bencana

Hubungan frekuensi dominan tanah dan dimana ketebalan lapisan sedimen diduga
kedalaman bedrock di atas sesuai dengan kurva mempengaruhi menurunnya nilai frekuensi
yang dibuat oleh Zaharia [14] seperti pada dominan tanah. Nilai frekuensi dominan tanah
Gambar 7. Kurva ini dibuat berdasarkan data- yang kecil cenderung berada di daerah dengan
data penelitian yang dilakukan oleh Ibs-von proses sedimentasi yang tinggi begitupun
Sehht dan Wolhenberg dan Parolai, dkk pada sebaliknya nilai frekuensi dominan tanah yang
tahun 2002. tinggi tersebar di daerah dengan singkapan
batuan gamping dan di sekitar punggungan
bukit gamping.
Ketika frekuensi alamiah sebuah bangunan
sama atau mendekati nilai frekuensi dominan
tanah yang bergetar tepat dibawahnya, maka
bangunan tersebut sangat rentan dan beresiko
tinggi untuk ambruk karena efek resonansi [14]
sehingga dalam pembuatan bangunan tahan
gempa perlu mendesain frekuensi alamiah
bangunan harus melebihi frekuensi dominan
tanah untuk mengurangi dampak kerusakan
akibat kejadian gempa bumi [15].

Indeks Kerentanan Seismik. Indeks


Gambar 7. Hubungan frekuensi dominan tanah dengan kerentanan seismik (Kg) menunjukkan besaran
kedalaman batuan dasar [14] fisis kerentanan suatu daerah yang terkena
dampak akibat goncangan atau pergerakan
Ibs-von Seht bersama Wolhenberg dan lapisan batuan. Semakin besar nilai indeks
Parolai,dkk melakukan penelitian di Jerman kerentanan seismik maka semakin rentan
dengan melihat hubungan antara frekuensi daerah tersebut terkena dampak goncangan.
dominan tanah dan kedalaman batuan dasar Hasil perhitungan Kg di daerah penelitian
menggunakan metode mikrotremor kemudian bervariasi, berada pada rentang 0,21 dan 21,83
membandingkannya dengan hasil bor. Hasil dengan rata-rata 4,40. Secara umum nilai Kg
penelitian mereka menunjukkan adanya yang mendominsai daerah penelitian berada di
hubungan yang saling terkait antara kecepatan bawah 10 sedangkan nilai Kg di atas 10 berada
gelombang geser, frekuensi dominan tanah dan pada 6 titik ukur yaitu H2.6, H3.4, H3.6, H.3.7,
kedalaman bedrock [14]. H3.8 dan H.3.11 yang ditandai dengan indeks
Sebaran frekuensi dominan tanah hasil warna hijau muda, kuning dan merah seperti
penelitian menunjukkan kondisi yang sama, pada Gambar 8.

f0 (Hz)
Lintang (°)

Bujur (°)
Gambar 8. Sebaran Nilai Indeks Kerentanan Seismik
Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi 31
Bencana

Penelitian-penelitian Kg yang telah nilai indeks kerentanan seismik di daerah


dilakukan sebelumnya, tidak memberikan suatu penelitian secara umum memberikan gambaran
rentang nilai yang pasti dan jelas mengenai bahwa daerah tersebut rentan terhadap
tingkat kerusakan yang terjadi sehingga sulit goncangan yang terjadi.
untuk mengetahui pada rentang nilai Kg yang Jika sebaran nilai Kg ini dihubungkan
sebesar berapa akan terjadi kondisi yang dengan sebaran nilai frekuensi dominan tanah,
berbahaya ataupun sebaliknya. Untuk itu maka terlihat bahwa daerah dengan nilai Kg
diperlukan penelitian pembanding yang melihat tinggi berada pada daerah dengan sebaran nilai
hubungan besaran nilai kerentanan seismik dan frekuensi dominan tanah yang rendah dan
tingkat kerusakan yang ada. Penelitian yang ketebalan lapisan sedimen yang besar. Kondisi
dilakukan di Sumbawa [16] mengkomparasikan ini menunjukkan bahwa daerah dengan nilai
hasil penelitian Kg mereka dengan hasil frekuensi dominan tanah yang rendah dan
penelitian Kg Daryono tahun 2006 di Daerah perlapisan sedimen lunak yang tebal merupakan
Bantul. Nilai Kg diatas 10 diperoleh di daerah daerah yang berpotensi terkena dampak gempa
Bantul yang mengalami kerusakan parah, bumi dengan tingkat kerusakan yang cukup
sedangkan di daerah Nglanggran tidak parah. Kondisi inipun terjadi dengan daerah
mengalami kerusakan parah dengan indeks Kg Graben Bantul yang mengalami kerusakan
dibawah 2. Hasil komparasi tersebut kemudian parah akibat efek tapak lokal saat gempabumi
digunakan untuk menduga kondisi Bantul tahun 2006 dilihat dari sebaran nilai
kemungkinan efek gempa bumi yang terjadi di frekuensi dominan tanah yang rendah kurang
Sumbawa cenderung relatif rendah dengan dari 5 Hz sedangkan di daerah Nglanggran yang
indeks Kg 0,1 - 4,8 tidak mengalami kerusakan parah memiliki
Mengacu pada hasil komprasi di atas, maka nilai frekuensi dominan yang berkisar 10 Hz
distrubusi nilai Kg di lokasi penelitian dapat di hingga 13 Hz [16].
bagi dalam tiga bagian, yaitu rendah dengan Penelitian di Kobe, Jepang menunjukkan
indeks Kg di bawah 5, sedang dengan indeks Kg bahwa indeks Kg tinggi diperoleh di daerah
pada rentang 5-10, dan tinggi dengan indeks Kg pesisir yang tersusun oleh material aluvium [4],
di atas 10 seperti pada Gambar 8. Indeks Kg di Intramuros, Pilipina indeks Kg tinggi tersebar
sedang dan tinggi mendominasi daerah di daerah bekas rawa dan reklamasi [8] dan di
penelitian yang ditandai dengan warna biru daerah Porong, nilai Kg pada rentang 43 - 150
muda, hijau, kuning dan merah. Tersebar dengan karakteristik geologi berupa
merata pada daerah yang didominasi sedimen sedimentasi delta dan efek luapan lumpur
berupa lempungan dan pasiran sedangkan Sidoarjo [3].
daerah dengan Kg rendah kondisi geologinya
berupa sebaran singkapan batuan gamping koral Percepatan Tanah Maksimum.
dengan indeks warna ungu-biru tua. Sebaran Perhitungan nilai percepatan tanah maksimum

PGA
(gal)
Lintang (°)

Bujur (°)
Gambar 9. Sebaran nilai percepatan tanah maksimum.
32 Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi
Bencana

menggunakan formula Kanai. Formula ini tidak PGA sehingga sangat perlu untuk
hanya berdasarkan pada parameter gempa bumi mempertimbangkannya dalam setiap perkiraan
tetapi juga mempertimbangkan faktor yang tingkat resiko akibat getaran gempa bumi.
dipengaruhi kondisi/ karateristik geologi yang Untuk daerah dengan jarak hiposenter tidak
direpresentasikan nilai periode dominan. berbeda secara signifikan sekitar 1 km tidak
Parameter-parameter gempa bumi diperoleh memberikan perubahan nilai PGA yang
berdasarkan data-data USGS dalam kurun signifikan, namun ketika karakteristik geologi
waktu 50 tahun (1963-2013) dengan 445 lokasinya berbeda (perbedaan nilai periode
kejadian gempa yang tersebar di seluruh dominan tanah), maka akan memberikan
wilayah Kabupaten Kupang. Sedangkan perubahan yang cukup signifikan terhadap
periode dominan tanah diperoleh dari inversi besarnya PGA.
nilai frekuensi dominan tanah hasil pengolahan Kerusakan akibat gempa bumi, utamanya
gelombang mikrotremor dengan metode HVSR. karena konstruksi bangunan yang dibangun
Sebaran nilai PGA pada Gambar 9 berkisar tidak memperhatikan kondisi geologi dan
antara 92,69 gal hingga 503,08 gal dengan rata- seismisitas. Tingkat resiko yang
rata 190,91 gal. Data gempa memberikan direpresentasikan oleh besar kecilnya nilai PGA
pengaruh terhadap maksimumnya nilai suatu daerah perlu dipertimbangkan dalam
percepatan tanah ini adalah data gempa dengan mendesain bangunan yang tahan gempa demi
magnitudo 6,08 SR dengan jarak hiposenter 21 mengurangi kerugian yang terjadi. PGA adalah
km dan pusat gempa pada kedalaman 16 km. salah satu faktor kunci untuk menganalisis
Daerah penelitian terbagi dalam enam potensi kerusakan akibat gempa, dan
tingkatan resiko. Tingkat resiko sedang dua merupakan salah satu parameter bahaya gempa
terdistribusi pada 11 titik ukur mikrotremor yang dapat diandalkan untuk perencanaan
dengan indeks warna biru, resiko sedang tiga bangunan tahan gempa dan mitigasi bencana,
dengan indeks warna biru muda tersebar di 12 terutama untuk daerah yang rawan gempa [17].
titik ukur, resiko besar satu pada 9 titik ukur Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dengan indeks warna hijau, resiko besar dua dilakukan berupa sebaran nilai PGA, nilai
pada 7 titik ukur dengan indeks warna kuning, frekuensi dominan tanah dan indeks kerentanan
resiko besar tiga dengan indeks warna merah seismik, maka diperkirakan daerah sekitar jalan
pada 3 titik dan resiko sangat besar satu tersebar arteri primer rentan terhadap goncangan gempa
pada 10 titik dengan indeks warna ungu. Hal ini bumi. Untuk mengurangi kerusakan yang
disebabkan oleh kondisi seismisitas yang sangat terjadi dan demi pengehematan biaya
tinggi dan kondisi tanah yang sangat pemeliharaan jalan, maka diharapkan dalam
lunak/elastis didominasi clay dan tanah proses desain jalan/bangunan dapat
aluvium. Selengkapnya diberikan pada Tabel 2. mempertimbangkan nilai parameter-parameter
tingkat resiko tersebut dengan membangun
Tabel 2. Tingkat resiko dan Intensitas berdasarkan Nilai jalan tahan gempa yang mampu bertahan pada
PGA lokasi penelitian kondisi dengan tingkat resiko sedang dua
No Tingkat Resiko PGA (gal) sampai tingkat resiko besar satu.
1 Resiko sedang dua 80 - 99,67 Pengukuran geolistrik resistivitas
2 Resiko sedang tiga 100,38 - 123,78 memberikan gambaran mengenai kondisi
3 Resiko besar satu 125,17 - 140,11
perlapisan, ketebalan lapisan dan jenis-jenis
tanah di sekitar jalan arteri primer. Berdasarkan
4 Resiko besar dua 159,05 - 199,68
hasil olahan data dalam bentuk 2, jenis tanah
5 Resiko besar tiga 206,63 - 280,13 aluvium dan clay mendominasi dengan
6 Resiko sangat besar satu 306,17 - 503,08 ketebalan ± 10-60 m ditambah dengan
terdapatnya kandungan air tanah yang secara
Peningkatan resiko dampak gempa bumi langsung mempengaruhi sifat ekspansifnya
seiring dengan besarnya magnitudo gempa, tanah tersebut.
dekatnya sumber gempa dan kecilnya periode Distribusi data-data PGA pada daerah
dominan tanah di lokasi yang terkena dampak penelitian dapat dijadikan acuan untuk
tersebut. Karakteristik geologi suatu daerah merencanakan bangunan tahan gempa dengan
memberikan kontribusi dalam perhitungan nilai memperhatikan tingkat resiko dari konversi
Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi 33
Bencana

nilai PGA tersebut. Nilai-nilai frekuensi


dominan tanah digunakan sebagai acuan untuk
merancang bangunan dengan penentuan UCAPAN TERIMAKASIH
frekuensi alamiah bangunan yang lebih besar
dari frekuensi dominan tanah demi menghindari Ucapan terima kasih kepada pihak BMKG
terjadinya resonansi antara tanah dan bangunan Kupang yang telah mengijinkan penulis
yang berpotensi timbulnya kerusakan yang menggunakan alat Seismograf dan pihak
parah. Sementara untuk sebaran indeks Jurusan Fisika FST-UNDANA yang
kerentanan seismik dimanfaatkan untuk meminjamkan alat Resistivitymeter.
memperoleh informasi daerah zona lemah yang
rentan atau mudah terjadi kerusakan jika
dibangun infrastruktur di atasnya demi upaya DAFTAR PUSTAKA
mitigasi bencana.
[1] Natawidjaja, D. H., (2008). Pedoman
Analisis Bahaya Dan Risiko Bencana
KESIMPULAN Gempa Bumi. BNPB/SCDRR: ENTERIM
REPORT TERM I.
Besarnya nilai PGA berkisar antara 80 gal- [2] Edwiza, D. dan S. Novita, (2008).
500 gal. Tingkat resiko sedang dua sampai Pemetaan Percepatan Tanah Maksimum
tingkat resiko sangat besar satu. Berdasarkan dan Intensitas Seismik Kota Padang
sebaran tingkat resiko tersebut, maka Panjang Menggunakan Metode Kanai.
disimpulkan bahwa daerah tersebut sangat Jurnal Teknika Unand, 2 (29).
beresiko terjadi kerusakan akibat gempa [3] Susilo, A dan S. H. Wiyono, (2012).
sehingga dalam upaya mitigasi bencana, perlu Frequency analysis and seismic
menjadi bahan pertimbangan dan acuan dalam vulnerability index by using Nakamura
pembangunan. methods at a new artery way in Porong,
Sebaran nilai frekuensi dominan tanah Sidoarjo, Indonesia. International Journal
antara 0,62 – 18,27 Hz. Nilai frekuensi dominan of Applied Physics and Mathematics 2 (4).
tanah di daerah penelitian secara umum rendah [4] Nakamura, Y., (2000). Clear Identification
meskipun di beberapa titik pengukuran terdapat of Fundamental Idea of Nakamura's.
nilai frekuensi dominan yang tinggi. Proceeding: 12th World Conference on
Distribusi indeks kerentanan seismik Earthquake Engineering, New Zealand.
berada pada rentang 0,21 dan 21,83. Secara [5] Hadi, A. I., Farid, M & Fauzi, Y., (2012).
umum nilai Kg yang mendominsai daerah Pemetaan percepatan getaran tanah
penelitian berada di bawah 10. Distrubusi nilai maksimum dan kerentanan seismik akibat
Kg di lokasi penelitian dibagi dalam tiga bagian, gempa bumi untuk mendukung Rencana
yaitu rendah dengan indeks Kg di bawah 5, Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota
sedang dengan indeks Kg pada rentang 5-10, Bengkulu. SIMETRI, Jurnal Ilmu Fisika
dan tinggi dengan indeks Kg di atas 10. Dalam Indonesia 1(2D): 1217 81-86
pembangunan ataupun upaya mitigasi bencana, [6] Kreemer, C., Holt, .w. E., Goes, S., and
perlu menghindari daerah yang memiliki indeks Govers, R (2000), Active deformation in
kerentanan yang tinggi (zona lemah) karena Eastern Indonesia and the Philippines from
sangat mudah mengalami kerusakan ketika GPS and seismicity data. Journal of
terjadi gempa. Geophysical Research. 105 (B1), 663-680.
Jenis tanah aluvium dan clay sebagai [7] Douglas, J., (2001). Ground Motion
lapisan penutup (top soil) merupakan lapisan Estimation Equation 1964-2003. Imperial
sedimen dengan ketebalan ±10-60 m, kemudian College of Science, Technology and
ditopang oleh batuan gamping sebagai batuan Medicine Civil Engineering Department
dasar (bedrock) pada kedalaman 60 m. London.
Pendugaan kedalaman bedrock menggunakan [8] Saita, J., M. L. P. Bautista, Y. Nakamura,
metode mikrotremor memberikan hasil yang (2004). On Relationship Betwen the
cukup baik dan akurat seperti hasil yang Estimated Strong Motion Characteristics
diperoleh dengan metode geolistrik. of Surface Layer and the Earthquake
34 Kajian Mikrotremor dan Geolistrik Resistivitas di Sekitar Jalan Arteri Primer Trans Timor untuk Mitigasi
Bencana

Damage-Case Study at Intramuros. San Luis Obispo


Proceeding: Metro Manila, 13th World [13] Mirzaoglu, M., & U. Dýkmen, (2003).
Conference on Earthquake Engineering. Application of microtremors to seismic
Vancouver, B.C., Canada. Paper No. 905. microzoning procedure. Journal of the
[9] Refrizon, A.I. Hadi, K. Lestari dan T. Balkan Geophysical Society, 6(3): 143 –
Oktari, (2013). Analisis Percepatan 156.
Getaran Tanah Maksimum dan Tingkat [14] Zaharia, B., M. Radulian, M. Popa, B.
Kerentanan Seismik Daerah Ratu Agung Grecu, A. Bala, D. Tataru, (2008),
Kota Bengkulu. Prosiding Semirata Estimation of the Local Response Using
FMIPA Universitas Lampung. the Nakamura Method for the Bucharest
[10] Ibs-von Seht, M. dan Wohlenberg, Jt Area. Romanian Reports in Physics, 60(1):
(1999), Microtremor Measurements Used 131–144
to Map Thickness of Soft Sediments. [15] Nath, S. K., and Thingbaijam, (2009).
Bulletin of the Seismological Society of Seismic hazard assessment – a holistic
America, 89(1), 250-259. microzonation approach. Natural Hazards
[11] Lane Jr, J.W., E.A. White, G.V. Steele, and Earth System Sciences, Sci., 9: 1445–
and J.C. Cannia, (2008), Estimation of 1459.
bedrock depth using the horizontal-to- [16] Sunardi, B., Daryono, J. Arifin, P.
vertical (H/V) ambient-noise seismic Susilanto, D. Ngadmanto, B. Nurdiyanto,
method. Proceeding: Symposium on the Sulastri (2012), Kajian Potensi Bahaya
Application of Geophysics to Engineering Gempabumi Daerah Sumbawa
and Environmental Problems. Denver, Berdasarkan Efek Tapak Lokal. Jurnal
Colorado. Environmental and Engineering Meteorologi dan Geofisika 13(2): 131-
Geophysical Society. 137.
[12] Morelli, T. A., (2013). Depth to Bedrock [17] Papadopoulou-Vrynioti, Ky., G.D. Bathrellos,
Estimations Using the H/V Spectral Ratio H.D. Skilodimou, G. Kaviris, K. Makropoulos,
in the San Joaquin Valley. The Faculty of (2013), Karst collapse susceptibility
the Natural Resources Management and mapping considering peak ground
Environmental Sciences Department acceleration in a rapidly growing urban
California Polytechnic State University, area. Engineering Geology 158: 77-88.