Anda di halaman 1dari 14

BAB III

PENGARUH PEMBERIAN TERAPI IMUNOSUPRESAN BEBAS STEROID

PADA PASIEN DENGAN OFTALMIA SIMPATIKA

3.1. Kafein Menurut Pandangan Islam

Kafeina dijumpai secara alami pada bahan pangan seperti biji kopi, daun

teh, buah kola, guarana, dan maté. Pada tumbuhan, kafein berperan

sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan mematikan serangga-serangga tertentu

yang memakan tanaman tersebut. Kafein umumnya dikonsumsi oleh manusia dengan

mengekstraksinya dari biji kopi dan daun teh.

Sumber utama kafeina dunia adalah biji kopi. Kandungan kafeina pada kopi

bervariasi, tergantung pada jenis biji kopi dan metode pembuatan yang digunakan.

Secara umum, satu sajian kopi mengandung sekitar 40 mg (30 mL espresso varietas

arabica) kafeina, sampai dengan 100 mg kafeina untuk satu cangkir (120 mL) kopi.

Umumnya, kopi dark-roast memiliki kadar kafeina yang lebih rendah karena proses

pemanggangan akan mengurangi kandungan kafeina pada biji tersebut. Kopi

varietas arabica umumnya mengandung kadar kafeina yang lebih sedikit daripada kopi

varietas robusta. Kopi juga mengandung sejumlah kecil teofilina, namun tidak

mengandung teobromina.

Sebuah manuskrip tentang budaya muslim di abad ke-15 menyebutkan bahwa

kopi mulai dikenal dalam budaya umat islam pada tahun sekitar 1400. Awalnya kopi itu

dibawa masyarakat Yaman dari Ethiopia. Orang Afrika terutama Ethiopia telah

52
mengenal kopi mulai tahun 800 sebelum masehi. Saat itu mereka mengkonsumsi kopi

yang dicampur dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan

energi tubuh. Sumber lain, yakni kesaksian dari ilmuwan muslim terkemuka Ar Razi dan

Ibnu Sina mengatakan bahwa kopi telah dikenal di kalangan umat Islam pada awal abad

ke-10. Mereka menyebut minuman kopi sebagai Al Kahwa. Konon peminum pertama

kopi adalah kaum Sufi yang menggunakannya sebagai stimulan agar tetap terjaga

selama berdzikir pada malam hari. Dari Yaman, keharuman kopi menyebar ke berbagai

kawasan di sekitarnya, lalu ke Eropa, Amerika dan akhirnya mendunia.

Hukum asal dari meminum kopi adalah mubah, sebab hukum asal dari segala

sesuatu adalah halal, karena pada hakekatnya semua yg diciptakan Allah adalah untuk

kemanfaatan manusia, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 145 yang

berbunyi:

[insert picture here]


Artinya: “Katakanlah ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepada-
Ku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya’“. (Q.S. Al An’am
:145)

Namun, hukum ini dapat berubah karena hal-hal di luar kopi tersebut, seperti

karena kondisi orang yang meminumnya. Misalnya orang yang menderita suatu penyakit

dan salah satu pantangannya adalah tidak boleh minum kopi, maka hukum minum kopi

baginya bisa menjadi makruh atau bahkan haram tergantung dari seberapa besar efek

buruk setelah meminumnya. Disebutkan dalam Kitab Al-Fatawi Al-Kubro Al-Fiqhiyah

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juz 4 hal. 38-39:

“(Imam Ibnu Hajar Al-Haitami ra ditanya) tentang sekelompok peminum kopi secara
bersama-sama tidak untuk kemungkaran, tetapi mereka mengingat Allah dan

53
bersholawat kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam karena dengan meminum kopi
menghilangkan kemalasan dalam melakukan kebaikan, maka apakah haram
meminumnya seperti sebagian orang mengatakan kopi memabukkan atau tidak? Apakah
boleh mengikuti perkataan Al-Jim Al-Ghofir bahwa kopi tidak memabukkan dan tidak
berbahaya? Ataukah mengikuti perkataan kopi tidak memabukkan jika sedikit? Dan
apakah boleh mengikuti perkataan boleh meminumnya karena tidak memabukkan dan
tidak membahayakan? Apakah kopi haram atau tidak?

(Maka Dijawab) Meminum kopi adalah halal, sebab hukum asal dari segala sesuatu
adalah halal, karena pada hakekatnya semua yg diciptakan Allah adalah untuk
kemanfaatan manusia. Karena sesungguhnya kopi tidak memabukkan dan tidak
membahayakan dan sungguh aku telah memilih dari kebanyakan pendapat mereka yg
kuat. Dari para penuntut ilmu termasuk orang yg meminumnya sesungguhnya kopi tidak
memabukkan atau membahayakan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya oleh Al-
Jim Al-Ghofir jika dalam jumlah yg sedikit dan menggunakan penjelasan yang lain
tidaklah sah mengqiyaskan (menyamakan) penjelasan yang lainnya untuk
mengharamkan kecuali didapat alasan hukum qiyas karena memabukkan,
membahayakan dan merusakkan. Sungguh di awal tidak ditemukan penjelasan
mengenai hal itu. Kemudian aku melihat fatwa dari beberapa ilmuwan Yaman menilai
Ahmed bin Umar Al-Mazjadi Al-Yamani sesungguhnya kopi itu tidak merubah pikiran,
tetapi menghasilkan semangat dan spiritualitas dan tidak menimbulkan bahaya tetapi
dimungkinkan membantu untuk meningkatkan kinerja maka hikmah yg dihadapinya, jika
itu adalah amal ketaatan maka ketaatan yang diperolehnya atau perbuatan yang
diperbolehkan maka dibolehkan karena suatu pertanyaan berarti tergantung hukum
tujuannya.” (Al-Fatawi Al-Kubro Al-Fiqhiyah Imam Ibnu Hajar Al-Haitami juz 4 hal.
38-39)

Dalam Kitab Al-Fiqh Al-Islamiyah Wa Adillatuh Imam Wahbah Az-Zuhaili juz 6

hal. 166-167:

“Kopi dan rokok : Al-Abab As-Shafi’i ditanya tentang masalah kopi. Maka dia
menjawab pertanyaan tentang kopi berarti tergantung hukum tujuan yang dimaksud.
Jika dengan kopi bertujuan untuk membantu taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah)
maka hukumnya taqorrub, atau untuk menolong hal yang mubah maka hukumnya
mubah, untuk menolong hal yang makruh maka hukumnya makruh, untuk menolong hal

54
yang haram maka hukumnya haram. Dia didukung oleh beberapa pendapat ulama
Hambali pada penjelasan ini, Syeikh Mar’i bin Yusuf Al-Hanbali pemilik kitab Ghoyah
Al-Muntaha mengatakan halal menghisap rokok dan meminum kopi. Dan yang paling
utama untuk meninggalkannya (meminum kopi dan merokok) tergantung masing-masing
individu.” (Al-Fiqh Al-Islamiyah Wa Adillatuhu Wahbah Az-Zuhaili juz 6 hal. 166-167)

Dalam Kitab Tadzkiirun Naas hal 177 dan kitab At-Tadzkir Al-Musthafa li Aulaadi Al-

Musthofa Wa Ghairohum Min Man Ijtabaahullooh Wasthofa karangan Alhabib Abu

Bakar al-Atthas bin Abdullah bin alwy bin Zain Alhabsyi hal. 117:

Dalam As-Shufiyah Fii Hadramaut oleh Syeikh Ali Baabkar telah menyebutkan Alhabib
Ahmad bin Hasan Al-Aththos dari Alhabib Abu Bakar bin Abdulloh Al-Aththos
sesungguhnya beliau berkata, ‘Adalah Syid Ahmad bin Ali Al-Qodimi bertemu dengan
Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa salam dalam keadaan terjaga. Maka beliau berkata,
‘Wahai Rasulullah aku ingin mendengarkan sebuah hadits darimu langsung dengan
tanpa perantara.’ Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Aku akan
mengajarkanmu tiga hadits :

1. Selama bau biji kopi ini masih tercium aromanya di mulut seseorang maka selama itu
pula para malaikat beristighfar (memintakan ampunan) untukmu

2. Barang siapa yang menyimpan tasbih untuk dibuat berdzikir maka Allah akan
mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia menggunakan tasbihnya atau
tidak

3. Barang siapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau sudah wafat maka
pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.”

3.2 Larangan Berlebihan Dalam Islam

[insert pict here]


Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui
batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa

55
nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan
mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang
lurus.” (QS. Al-Maidah: 77)

[insert pict here]


Artinya: “Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya, sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar : 53)

[insert pict here]


Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)

[insert pict here]


Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun
dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah
dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya
di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin), dan janganlah
kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-
lebihan”. (QS. Al An`am: 141)

3.2. Penyakit Parkinson Menurut Pandangan Islam

Kesehatan adalah nikmat Allah swt yang sangat besar, yang dilimpahkan-Nya

kepada manusia. Dengan tubuh yang sehat, setiap umat Muslim dapat melakukan

aktivitas sehari-harinya dengan baik, seperti mencari nafkah, bersosialisasi dan

56
beribadah dengan khusyu’. Maka alangkah baiknya apabila setiap Muslim

berkeyakinan bahwa memelihara kesehatan merupakan ibadah setiap manusia kepada

Allah swt sebagai pencipta dan Rasul-Nya.

Dengan merujuk konsep sehat yang dewasa ini, dipahami berdasarkan rumusan

WHO yaitu : “Health is a state of complete, mental and social being, not merely the

absence of disease on infirmity” (sehat adalah suatu keadaan jasmaniah, rohaniah, dan

sosial yang baik, tidak hanya tidak berpenyakit atau cacat). Dadang Hawari melaporkan

bahwa sejak tahun 1984, WHO telah menyempurnakan definisi di atas dengan

menambah satu unsur lagi, yaitu sehat spiritual agama sehingga menjadi sehat bila

seseorang memiliki tubuh jasmani yang tidak berpenyakit, mental yang baik, sosial

yang baik dan spiritual atau iman yang baik dan benar (Zuhroni dkk, 2003). Islam

melihat dimensi kesehatan meliputi sehat fisik, sosial dan sehat spiritual atau iman

(Zulkifli, 1994).

Telah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak

terkena penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini diupayakan

agar manusia tetap sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih baik daripada

meminum obat saat sakit. Dalam kaidah ushulliyat dinyatakan :

Artinya : “Kesehatan badan didahulukan atas kesehatan agama.”

Juga dinyatakan :

57
Artinya : “Menolak lebih mudah daripada menghilangkan.”

Dan ulama mengatakan :

Artinya : “Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.”

Begitu pentingnya suatu nilai kesehatan yang merupakan unsur terpenting

dalam kehidupan manusia, dengan kondisi yang sehat manusia dapat beraktivitas dan

beribadah dengan baik. Nabi sangat menekankan upaya menjaga kesehatan, dan berdoa

mendapatkan kesehatan dunia dan akhirat, seperti terdapat dalam anjuran Nabi kepada

Abbas :

58
Artinya : “Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, aku pernah datang menghadap Rasulullah saw,

saya bertanya : Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan dibaca dalam

doaku. Nabi menjawab : Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan, kemudian

aku menghadap lagi pada kesempatan yang lain saya bertanya : Ya Rasulullah ajarkan

kepadaku suatu doa yang akan dibaca dalam doaku. Nabi menjawab : Wahai Abbas,

Wahai paman Rasulullah saw mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan di

akhirat.” (HR. Ahmad, al-Turmudzi, dan al-Bazzar)

Aktualisasi doa dalam Islam, tidak berhenti semata-mata dalam untaian kata-

kata permintaan tetapi harus disertai dengan berbagai usaha yang sesuai Hadits serupa

di atas banyak ditemukan, bahkan dalam doa Nabi setiap pagi dan sore, diantara yang

selalu diminta adalah kesehatan, seperti diriwayatkan dalam hadis Nabi :

Artinya : “Dari ‘Abdillah bin ‘Umar, ia berkata : Rasulullah saw senantiasa tidak

meninggalkan doa-doa ini, pada pagi dan sore hari. Ya Allah aku memohon kepada-

Mu kesehatan di dunia dan di akhirat, ya Allah aku memohon kepada-Mu ampunan

dan kesehatan agamaku, duniaku, keluarga, dan hartaku ....” (HR. Ahmad, Abu

Dawud, dan Ibnu Majah).

Dalam hadis yang lain disebutkan pula :

59
Artinya : “Abu bakar Al-Shiddiq pernah berdiri di atas mimbar, kemudian ia

menangis, ia berkata, Rasulullah pernah berdiri pada tahun pertama di atas mimbar,

kemudian beliau menangis, lalu bersabda : “Mintalah kalian ampunan dan kesehatan,

tak ada anugerah yang diberikan kepada seseorang setelah keyakinan lebih baik dari

kesehatan.” (HR. Al-Turmudzi)

Allah telah menciptakan tanaman yang banyak dimuka bumi. Setiap tanaman

mempunyai khasiat tertentu, hal ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang

yang beriman dan berfikir, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an berbunyi :

60
Artinya : “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan

dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-

tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau

itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang

menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang

serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan

(perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada

tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Al-An’am (6) :

99)

Rasulullah SAW punya cara menjaga kesehatan mata. Diriwayatkan Abu Daud dalam

kitab sunannya, dari Abdurrahman Ibnu Nu'man Ibnu Ma'ad Ibnu Haudzah al-

Anshariy, dari ayah dan kakeknya disebutkan bahwa Rasul menyuruh mengolesi mata

dengan batucelak mata yang dibaluri wewangian misik sebelum tidur.

Rasulullah SAW memerintahkan celak itsmid yang dibubuhi minyak wangi menjelang

tidur. Namun kata Rasul, orang yang berpuasa hendaknya menjauhinya. Abu Ubaid

meriwayatkan bahwa arti dibubuhi minyak wangi adalah minyak kasturi.

Dalam Sunan Ibnu Majah diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW

memiliki tempat celak yang Rasulullah SAW gunakan tiga kali di bagian mata.

Sementara dalam riwayat Tirmidzi, dari Ibnu Abbas bahwa jika memakai

celak, Nabi SAW menggunakan tiga kali pada mata kanan, dimulai dari kanan dan

diakhiri di bagian kanan dan dua kali pada bagian kiri.

Abu Daud meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda, " Siapa saja yang bercelak

seharusnya dia menggunakan bilangan ganjil." Apakah bilangan ganjil itu berlaku pada

kedua belah mata? Di mana masing-masing mata dicelaki tiga kali? Atau kanan tiga

kali dan mata kiri dua kali?

61
Imam Ahmad menjelaskan, " Hal yang perlu diperhatikan dalam mencelaki mata

adalah hendaknya mata kanan didahulukan terlebih dahulu. Hendaknya mencelaki mata

dengan bilangan (celakan) ganjil, bisa dilakukan pada mata kanan tiga kali, kemudian

mata kiri dua kali atau mata kanan dan kiri masing-masing tiga kali."

Para ahli medis mengatakan celak mata memiliki daya guna dan faedah. Di antara

kegunaan yang paling utama adalah menjaga kesehatan mata, menjaga kejernihan

pandangan mata dan menambah ketajaman daya pandang serta penglihatan mata,

sehingga bisa memandang dengan jelas dan terang.

Celak mata juga berfungsi untuk membersihkan kotoran-kotoran mata dan

memperindah mata.

Adapun saat paling tepat untuk celak mata adalah ketika hendak tidur. Karena pada

saat itu ketenangan mata dan kestabilan gerak mata sangat terjaga, sehingga fungsi

celak akan berjalan secara optimal di saat manusia tidur.

Celak biasanya berupa bubuk untuk bulu mata atau disapukan di sekeliling mata.

Telah diketahui banyak orang bahwa celak adalah perhiasan yang dipakai wanita untuk

berhias.

Walaupun terdapat perbedaan diantara para ulama tentang boleh-tidaknya wanita

bercelak di depan lelaki non-mahram.

Disalin dari kitab Buku Pintar Kedokteran Nabi oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,

penerbit Fathan Prima Media. (Sumber: Merdeka.com)

Dari semua pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam agama

Islam berolahraga sangat dianjurkan, untuk menjaga kebugaran tubuh, menjaga

kesehatan biologis, dan menjaga aktivitas tubuh.

62
Dan dengan istirahat yang cukup dapat menjaga kekuatan otot,

kelenturan persendian, dan membentuk tulang yang kuat. Oleh karena itu Allah

swt telah mengatur dalam Al-Qur’an agar manusia tidur di malam hari dan

beraktivitas di siang hari.

3.3. Potensi Lycopene dalam Tomat Untuk Mencegah Karsinoma Prostat

Dalam tuntunan Islam telah jelas bahwa setiap manusia atau insan wajib

menjaga kesehatan dan bahwa pencegahan penyakit lebih baik daripada

mengobati. Upaya pencegahan dapat dengan cara mengkonsumsi gizi yang

cukup, olahraga dan istirahat yang cukup, dan menciptakan jiwa yang tenang

serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang dapat menjadikan

terjangkitnya penyakit. Sehingga, dengan upaya-upaya pencegahan tersebut

dapat menciptakan tubuh manusia yang sehat dan terjaga keseimbangannya.

Upaya pencegahan ini, tentunya dilakukan oleh manusia sendiri dari

yang mengatur ataupun mengubah keadaan umat manusia hanyalah Allah swt.

Hal ini sesuai dengan firman Allah swt :

Artinya : “Sesungguh nya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali

kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka" (Q.S Ar-Ra’d

(13) : 11).

63
Oleh karena itu manusia merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah

swt yang diberikan akal. Dengan akalnya manusia dapat melakukan penelitian

terhadap tanaman-tanaman yang ada di bumi untuk dicari manfaatnya terhadap

manusia sendiri. Secara kimiawi, manusia menyaring zat aktif yang terkandung

dalam tumbuh-tumbuhan, meracik dan mengemasnya menjadi obat di

laboratorium. Padahal, hikmah Allah swt secara implisit menghendaki agar

komposisi zat aktif yang dikandung tumbuhan ini ringan sehingga tubuh

manusia mampu berinteraksi dengan komposisi zat aktif yang dikandungnya

dalam bentuk alami tanpa diubah-ubah (Sayyid, 2004).

Di dalam Islam, anjuran untuk menggunakan tomat (lycopene) sebagai

bahan obat tidak disebutkan secara khusus, baik dalam Al-Qur’an maupun al-

hadits. Tomat (lycopene) tergolong tanaman yang halal untuk dikonsumsi.

Berdasarkan penelitian, tomat (lycopene) sangat berguna untuk

mencegah berkembangnya kanker prostat. Oleh sebab itu Islam

memperbolehkan penggunaan tanaman tomat (lycopene) sebagai bahan obat.

Ketentuan ini sesuai dalam kaidah hukum Islam :

Artinya : “Pada dasarnya segala sesuatu dan perbuatan adalah mubah, kecuali

ada dalil yang mengharamkannya.”

Pada dasarnya tomat (lycopene) halal dan baik untuk dikonsumsi bagi

orang yang tidak mempunyai efek samping bila mengkonsumsinya atau

memberikan manfaat yang banyak dan tidak membawa mudarat. Tetapi bagi

64
orang yang bila ia mengkonsumsi tomat (lycopene) akan menimbulkan

mudharat, maka tomat (lycopene) bukan lagi halal dan baik tetapi halal tapi

tidak baik. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum Islam :

Artinya : “ Hukum-hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman,

tempat, dan keadaan.”

Sebagaimana ajaran Islam telah menjelaskan bahwa seorang Muslim

sakit hendaklah berobat dan untuk pengobatannya bertanya kepada ahlinya,

bersabar dan berusaha untuk kesembuhannya.

Lycopene sendiri tidak termasuk dalam zat/substansi yang diharamkan

oleh Al-Qur’an maupun Hadits, dan telah dinyatakan halal oleh LPPOM

Majelis Ulama Indonesia. Oleh karena itu penggunaan lycopene untuk

menghambat IGF-1 dalam pencegahan kanker prostat dapat direkomendasikan.

65