Anda di halaman 1dari 14

GANGGUAN POLA ISTIRAHAT DAN TIDUR

A. Pengertian
Istirahat adalah suatu keadaan dimana keadaan jasmaniah menurun yang

berakibat badan menjadi lebih segar. Sedangkan tidur oleh Johnson dianggap sebagai

salah satu kebutuhan fisiologis manusia. Tidur terjadi secara alami, dengan fungsi

fisiologis dan psikologis yang melekat merupakan suatu proses perbaikan tubuh.

Secara fisiologis, jika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk

mempertahankan kesehatan tubuh, dapat terjadi efek-efek seperti pelupa, konfusi, dan

disorientasi, terutama jika deprivasi tidur terjadi untuk waktu yang lama.
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat

dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai (Guyton 1986). Tidur merupakan

suatu kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat, tidur

merupakan proses yang diperlukan manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang

baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, member waktu organ tubuh untuk istirahat

maupun untuk menjaga keseimbangan metabolism dan biokimiawi tubuh (Mass,

2002). Dengan perkataan lain, tidur merupakan suatu keadaan tidak sadarkan diri

yang relative, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih

kepada suatu urutan siklus yang berulang. Tidur memiliki cirri, yaitu adanya aktivitas

yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapatnya perubahan proses

fisiologis, dan terjadinya penurunan respon terhadap rangsiangan dari luar

B. Fisiologi Tidur Normal


Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu 7-8 jam untuk tidur setiap malam.

Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih atau kurang.

Waktu tidur lansia berkurang berkaitan dengan factor ketuaan. Fisiologi tidur dapat
dilihat melalui gambaran elektrofisiologik sel-sel otak selama tidur. Polisomnografi

merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak selama tidur. Alat tersebut dapat

mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi. Stadium tidur diukur

dengan polisomnografi terdiri dari tidur Rapid Eye Movement (REM) dan tidur Non-

Rapid Eye Movement (NREM). Tidur REM disebut juga tidur D atau bermimpi karena

dihubungkan dengan mimpi atau paradox karena EEG aktif selama fase ini. Tidur

NREM disebut juga tidur ortodoks atau tidur gelombang lambat atau tidur S. Kedua

stadium ini bergantian dalam satu siklus yang berlangsung antara 70-120 menit.

Secara umum 4-6 siklus REM-NREM terjadi setiap malam.Periode tidur REM I

berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut malam, periode REM makin panjang.

Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu stadium 1,2,3, dan 4.

Gangguan Pola Tidur Pada Lansia


Manfaat istirahat dan tidur dalam menjaga kesehatan fisik pada lansia sering

kali disepelekan dan diabaikan, terutama di lingkungan lembaga tempat rutinitas

sangat penting. Istirahat dan tidur menjalankan sebuah fungsi pemulihan baik secara

fisiolofis maupun psikologis. Secara fisiologis, tidur mengistirahatkan organ tubuh,

menyimpan energi, menjaga irama bilogis, dan memperbaiki kesadaran mental dan

efisiensi neurologis. Secara psikologis, tidur mengurangi ketegangan dan

meningkatkan perasaan sejahtera.


Fungsi pemeliharaan ini sangat penting untuk lansia, yang memerlukan lebih

banyak waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan Lansia yang waktu

tidurnya terganggu menjadi lebih lupa, disorientasi, atau konfusi; orang yang

mengalami kerusakan kognitif menujukkan peningkatan kegelisahan, perilaku

keluyuran, dan “sindrom” dan “sundowning” (konfusi, agiatasi dan perilaku

terganggu selama sore menjelang senja dan jam awal malam).


Kualitas tidur dapat dipengaruhi oleh perubahan terkait usia, konsumsi banyak

obat dan gangguan organik dan mental.


Pola tidur pada lansia

Tidur yang normal terdiri atas komponen gerakan bola mata cepat(rapid eye

movement, REM) dan non REM. Tidur non REM dibagi menjadi empat tahap: pada

tahap 1, jatuh tertidur, orang tersebut mudah dibangunkan dan tidak menyadari ia

telah tertidur. Kedutan atau sentakan otot menandakan relaksasi selama tahap ini.

Pada tahap 2 dan 3, meliputi tidur dalam yang progresif. Pada tahap 4, tingkat

terdalam, sulit untuk dibangunkan.

Tidur tahap 4 sangat penting untuk menjaga kesehatan fisik. Tahap ini sangat

jelas terlihat menurun pada lansia, tetapi mereka belum mengetahui akibat dari

penurunan ini. Pola tidur pada lansia ditandai dengan sering terbangun, penurunan

tahap 3 dan 4 waktu non-REM, lebih banyak terbangun pada malam hari disbanding

tidur, dan lebih banyak tidur selama siang hari. Tidur siang hari dapat mengurangi

waktu dan kualitas tidur di malam hari pada beberapa lansia.

Dari tahap 4, orang tersebut berlanjut ke tidur REM. Tidur REM terjadi

beberapa kali dalam siklus tidur dimalam hari tetapi lebih sering terjadi pagi hari

sekali. Pada tidur REM, aktifitas dan tanda-tanda vital mengalami akselerasi, yang

menyebabkan peningkatan kesenangan dan pelepasan ketegangan yang

dimanifestasikan dengan tersentak dan berbalik, kedutan otot, dan peningkatan

frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, dan tekanan darah. Tidur REM membantu

melepaskan ketegangan dan membantu metabolisme system saraf pusat. Kekurangan

tidur REM telah terbukti menyebabkan iritasi dan kecemasan.

C. Manifestasi Klinis
Gangguan tidur pada lansia

Sebagian besar lansia beresiko tinggi mengalami gangguan tidur akibat berbagai

factor. Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan gangguan pola tidur.
Perubahan- perubahan mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari, dan

peningkatan jumlah tidur siang. Diantar lansia yang sehat terdapat beberapa lansia

yang mengalami berbagi masalah medis dan psikososial yang mengalami gangguan

tidur. Antara lain:

- Penyakit psikiatrik, terutama depresi


- Penyakit Alzheimer dan penyakit degeratif neuro lainnya
- Penyakit kardivaskuler dan perawatan pasca operasi bedah jantung
- Inkompetensi jalan nafas atas
- Penyakit paru
- Penyakit prostatik
- Endokrinopati

Tiga keluhan atau gangguan utama dalam memulai dan mempertahankan tidur terjadi

di kalangan lansia:

1. Insomnia

Insomnia adalah gangguan ketidakmampuan untuk tidur walaupun ada

keinginan untuk melakukannya. Keluhan insomnia meliputi ketidakmampuan

untuk tertidur, sering terbangun, ketidakmampuan untuk tidur kembali dan

terbangun pada dini hari. Maka perhatian harus diberikan pada factor biologis,

emosional dan medis yang berperan.

2. Hipersomnia

Hipersomnia dicirikan dengan tidur lebih dari 8atau 9 jam per periode 24 jam,

dengan keluhan tidur berlebihan. Orang tersebut dapat menunjukkan mengantuk

di siang hari yang persisten, mengalami serangan tidur , tampak mabuk dan

kemotose, atau mengalami mengantuk pascaensefalitik. Keluhan keletihan,

kelemahan dan kesulitan mengingat atau belajar merupakan hal yang sering

terjadi.
3. Apnea tidur

Apnea tidur adalah berhentinya pernafasan selama tidur. Gangguan ini

diidentifikasi dengan gejala mendengkur, berhentinya pernafasan minimal 10

detik, dan rasa kantuk di siang hari yang luar biasa. Gejala apnea tidur antara lain:

 Dengkuran yang keras dan periodic


 Aktifitas malam hari yang luar biasa, seperti: duduk tegak, berjalan dalam

tidur, terjatuh dari tempat tidur


 Gangguan tidur dengan seringnya terbangun di malam hari
 Perubahan memori
 Depresi
 Rasa kantuk yang berlebihan di siang hari
 Nokturia
 Sakit kepala di pagi hari
 Ortopnea akibat apnea tidur
Pasien di anjurkan untuk menghindari alcohol dan obat-obatan yang dapat

mempengaruhi respon terbangun dan untuk menggunakan bantal tambahan atau

tidur di atas kursi.

D. Penatalaksanaan Gangguan Istirahat dan Tidur Pada Lansia


1. Pencegahan Primer
a. Tidur seperlunya, tetapi tidak berlebihan, agar merasa segar dan sehat di hari

berikutnya. Pembatasan waktu tidur dapat memperkuat tidur; berlebihnya

waktu yang dihabiskan di tempat tidur tampaknya berkaitan dengan tidur yang

terputus-putus dan dangkal.


b. Waktu bangun yang teratur dipagi hari memperkuat siklus sirkadian dan

menyebabkan awitan tidur yang teratur.


c. Jumlah latihan yang stabil setiap harinya dapat memperdalam tidur; namun,

latihan yang hanya dilakukan kadang-kadang tidak dapat memperbaiki tidur

pada malam berikutnya.


d. Bunyi bising yang bersifat kadang-kadang (mis. bunyi pesawat terbang

melintas) dapat mengganggu tidur sekalipun orang tersebut tidak terbangun


oleh bunyinya dan tidak dapat mengingatnya di pagi hari. Kamar tidur kedap

suara dapat membantu bagi orang-orang yang harus tidur di dekat kebisingan.
e. Meskipun ruangan yang terlalu hangat dapat mengganggu tidur, namun tidak

ada bukti yang menunjukkan bahwa kamar yang terlalu dingin dapat

membantu tidur.
f. Rasa lapar mengganggu tidur; kudapan ringan dapat membantu tidur.
g. Pil tidur yang hanya kadang-kadang saja digunakan dapat bersifat

menguntungkan, namun penggunaannya yang kronis tidak efektif pada

kebanyakan penderita insomnia.


h. Kafein di malam hari dapat mengganggu tidur, meskipun pada orang-orang

yang tidak berpikir demikian.


i. Alkohol membantu orang-orang yang tegang untuk tertidur lebih mudah, tetapi

tidur tersebut kemudian akan terputus-putus.


j. Orang-orang yang merasa marah dan frustasi karena tidak dapat tidur tidak

boleh berusaha terlalu keras untuk tertidur tetapi harus menyalakan lampu dan

melakukan hal lain yang berbeda.


k. Penggunaan tembakau secara kronis dapat mengganggu tidur.
Tindakan pencegahan primer lainnya antara lain adalah:
- Kasur yang baik memungkinkan kesejajaran tubuh yang tepat.
- Suhu kamar harus cukup dingin (kurang dari 24˚C) sehingga cukup

nyaman.
- Asupan kalori harus minimal pada saat menjelang tidur.
- Latihan sedang di siang hari atau sore hari merupakan hal yang

dianjurkan.

2. Pencegahan sekunder
Catatan harian tentang tidur merupakan cara pengkajian yang sangat bagus bagi

lansia di rumahnya sendiri. Catatan tersebut harus mencakup faktor-faktor berikut

ini:
 Seberapa sering bantuan diperlukan untuk memberikan obat nyeri, tidak dapat

tidur, atau menggunakan kamar mandi.


 Kapan orang tersebut turun dari tempat tidur.
 Berapa hari orang tersebut terbangun atau tertidur pada saat diobservasi oleh

perawat atau pemberi perawatan.


 Terjadinya konfusi dan disorientasi.
 Penggunaan obat tidur.
 Perkiraan orang tersebut bangun di pagi hari.

3. Pencegahan tersier
Jika terdapat gangguan tidur seperti apnea tidur yang mengancam kehidupan,

kondisi pasien memerlukan rehabilitas melalui tindakan-tindakan seperti

pengangkatan jaringan yang menyumbat di mulut dan mempengaruhi jalan napas.

Data-data tersebut membantu menentukan pengobatan yang terbaik untuk

mengatasi kesulitan dan merehabilitasi lansia sehingga ia dapat menikmati tidur

yang berkualitas baik sampai akhir hidup.

E. Penatalaksanaan Terapeutik
Bootzin dan Nicassio menganjurkan aturan-aturan berikut untuk mempertahankan

kenormalan pola tidur :


 Pergi tidur hanya jika mengantuk.
 Gunakan tempat tidur hanya untuk tidur; jangan membaca, menonton televisi

atau makan di tempat tidur.


 Jika tidak dapat tidur, bangun dan pindah ke ruangan lain. Bangun sampai anda

benar-benar mengantuk, kemudian baru kembali ke tempat tidur. Jika tidur

masih tidak bisa dilakukan dengan mudah, bangun lagi dari tempat tidur.

Tujuannya adalah menghubungkan antara tempat tidur dengan tidur cepat.

Ulangi langkah ini sesering yang diperlukan sepanjang malam.


o Siapkan alarm dan bangun di waktu yang sama setiap pagi tanpa di malam

hari. Hal ini membantu tubuh menetapkan irama tidur bangun yang konstan.
o Jangan tidur di siang hari.

F. Mengatasi Gangguan Tidur


Kesulitan untuk tidur dan tetap tertidur adalah masalah yang sering terjadi

pada lansia, baik lansia yang tinggal di rumah atau di panti jompo. Jika pasien anda

memiliki masalah tidur, anjurkan untuk:


 Mempertahankan jadwal harian yang sama untuk berjalan-jalan, istirahat dan

tidur.
 Bangun di waktu biasanya ia bangun bahkan jika tidurnya terganggu atau waktu

tidurnya berubah sementara.


 Melakukan ritual waktu tidur dan mengikuti dengan patuh.
 Melakukan olah raga setiap hari tetapi hindari olah raga yang terlalu berat pada

malam hari.
 Membatasi tidur siang 1 dan 2 jam perhari, pada waktu yang sama setiap harinya.
 Mandi air hangat di waktu akhir sore atau menjelang malam.
 Makan kudapan ringan karbohidrat dan lemak sebelum tidur.
 Menghindari minuman dan produk yang mengandung kafein, khususnya

menjelang waktu tidur.


 Mempraktikkan metode relaksasi seperti nafas dalam, masase, mendengarkan

musik atau membaca bacaan yang merilekskan.


 Menghindari minuman beralkohol atau batasi asupan alkohol pasien hingga

sesedikit mungkin setiap harinya.


 Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
 Jika ia terbangun tengah malam selama lebih dari 30 menit, bangkit dari tempat

tidur dan lakukan aktivitas yang tidak menstimulasi seperti membaca.

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN ISTIRAHAT DAN TIDUR PADA LANSIA

I. 1. Pengkajian
a. Identitas
Identitas pada klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama,

pekerjaan, pendidikan, diagnose medis, alasan dirawat, keluhan utama, kapan

keluhan dimulai, dan lokasi keluhan.


b. Riwayat Perawatan
Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga,

keadaan lingkungan, dan riwayat kesehatan lainnya.


c. Observasi dan Pemeriksaan Fisik
Meliputi keadaan umum, Pengukuran Tanda-Tanda Vital (TTV), Pemeriksaan fisik

tentang system kardiovaskuler, system pernafasan, sistem pencernaan, system

perkemihan, sistem endokrin, sistem musculoskeletal, dan sistem reproduksi.


d. Pola Fungsi Kesehatan
Persepsi terhadap kesehatan dan penyakit, kebiasaan sehari-hari, nutrisi

metabolism, pola tidur dan istirahat, kognitif-perseptual, persepsi-konsep diri,

aktivitas dan kebersihan diri, koping-toleransi stress, nilai-pola keyakinan.


e. Data penujang
Hasil pemeriksaan laboraturium, dan pemeriksaan lainnya

2. Pemeriksaan fisik
a. Integumen :
 Lemak subkutan menyusut
 Kulit kering dan tipis, rentang terhadap trauma dan iritasi, serta lambat

sembuh
b. Mata :
 Areus senilis, penurunan visus
c. Telinga :
 Pendengaran berkurang yang selanjutnya dapat berakibat gangguan bicara.
d. Kardiopulmonar :
 Curah jantung berkurang serta elastisitas jantung dan pembuluh darah

berkurang, terdengar bunyi jantung IV (S4) dan bising sistolik, kapasitas

vital paru, volume ekspirasi, serta elastisitas paru-paru berkurang.


e. Muskuloskeletal :
 Massa tulang berkurang, lebih jelas pada wanita, jumlah dan ukuran otot

berkurang.
 Massa tubuh banyak yang tergantikan oleh jaringan lemak yang disertai

pula oleh kehilangan cairan.


f. Gastrointestinal :
 Mobilitas dan absorpsi saluran cerna berkurang, daya pengecap, serta

produksi saliva menurun.


g. Neurologikal :
 Rasa raba juga berkurang, langkah menyempit dan pada pria agak melebar.

Selain itu, terdapat potensi perubahan pada status mental.


3. Pemeriksaan Fisik Umum
a. Kesadaran : klien dapat menunjukkan tingkat kesadaran baik (tidak ada

kelainan atau gangguan kesadaran).


b. Pengkajian status gizi :Terjadi malnutrisi

4. Pengkajian Fisik Khusus


a. Pengkajian sistem perkemihan : Inkontinensia
b. Pengkajian sistem pernapasan : Perubahan pada saluran pernapasan atas,

diameter dinding dan dinding dada kaku.


c. Pengkajian sistem kulit/integumen : Pertumbuhan epidermis melambat (kulit

kering, epidermis menipis), berkurangnya vaskularisasi, juga melanosit dan

kelenjar-kelenjar pada kulit.


d. Pengkajian pola tidur : susah tidur pulas, sering terbangun, serta kualitas tidur

yang rendah, lama ditempat tidur serta jumlah total waktu tidur per hari yang

berkurang.
e. Pengkajian status fungsional :
- Tentang mandi = Dikatakan mandiri (independen) bila dalam melakukan

aktivitas klien hanya memerlukan bantuan untuk menggosok atau

membersihkan sebagian tertentu dari anggota badannya, Dikatakan

dependen bila klien memerlukan bantuan untuk lebih dari satu bagian

badannya.
- Berpakaian = Independen bila tak mampu mengambil sendiri pakaian

dalam lemari atau laci.


- Ke toilet = Independen bila lansia tak mampu ke toilet sendiri, beranjak

dari kloset, merapikan pakaian sendiri. Dependen bila memang

memerlukan bed pan atau pispot.


- Transferring = Independen bila mampu naik turun sendiri dari tempat tidur

atau kursi roda. Dependen bila selalu memerlukan bantuan untuk kegiatan

tersebut diatas atau tak mampu melakukan satu atau lebih aktivitas

transferring.
- Kontinensia = Independen bila mampu buang hajat sendiri (urinari dan

defekasi). Dependen bila pada salah satu atau keduanya miksi atau

sefekasi memerlukan enema atau kateter.


- Makan = Independen bila mampu menyuap makanan sendiri, mengambil

dari piring.
f. Pengkajian aspek spiritual =
- Perasaan individu tentang kehidupan keagamaannya
- Melakukan kewajiban-kewajiban agar berkontemplasi tentang kehidupan

menurut agama dan kepercayaannya

II. Diagnosa
1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri
2. Gangguan pola tidur erhubungan dengan psikologis

III. Intervensi Keperawatan


1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidur menjadi efektif

Kriteria hasil :
a. Dapat meningkatkan rasa sehat dan merasa dapat tidur
b. Merasa tidur tidak terganggu dan nyeri hilang

Intervensi :

1. Biasakan dan Patuhi jam tidur setiap malam


2. Upaya memodifikasi faktor lingkungan, khususnya bagi lansia yang tinggal di

institusi.
3. Pertahankan kondisi yang kondusif untuk tidur, yang mencakup perhatian

pada faktor-faktor lingkungan dan kegiatan ritual menjelang tidur.


4. Bantu orang tersebut untuk rileks pada saat menjelang tidur dengan

memberikan usapan punggung, masase kaki atau kudapan tidur bila

diinginkan. Latihan pasif dan gerakan mengusap memberikan efek yang

menidurkan.
5. Memberikan posisi yang tepat, menghilangkan nyeri, dan memberika

kehangatan dengan selimut-selimut konvensional atau selimut listrik listrik

juga dapat membantu.


6. Jangan membiarkan pasien meminum kafein (kopi, teh, cokelat) di sore hari

dan malam hari.


7. Lakukan tindakan-tindakan yang masuk akal seperti memutar musik lembut di

radio dan menawarkan susu hangat dan minuman hangat lainnya atau kudapan

yang lebih berat untuk meningkatkan tidur pada lansia tanpa menggunakan

hipnotik. Pada waktu malam, secangkir anggur, sherry, brandi atau bir

memberikan kehangatan internal dan relaksasi pada lansia yang perlu tidur.

Namun, efek dari satu minuman hanya berlangsung selama dua pertiga siklus

tidur. Sedasi juga bersifat sama, yang menyebabkan tidur terputus-putus.


8. Tidur siang merupakan hal yang tepat; namun jumlah tidur siang tidak boleh

lebih dari 2 jam.


9. Latihan setiap hari juga harus dianjurkan. Hal ini merupakan cara yang terbaik

untuk meningkatkan tidur. Latihan harus dilakukan di pagi hari daripada

menjelang tidur karena pada jam-jam tersebut latihan hanya akan

menimbulkan efek menyegarkan daripada menidurkan.


10. Mandi air hangat terkadang dapat merilekskan lansia tetapi beberapa di

antaranya tidak menyukai intervensi ini, mengeluh pusing pada saat mereka

bangun dari tempat tidur.

2. Gangguan pola tidur b.d psikologis


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, tidur menjadi efektif

Kriteria hasil :
a. Dapat meningkatkan rasa sehat dan merasa dapat tidur
b. Merasa tidur tidak terganggu

Intervensi :

1. Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan keluhan yang mungkin

menghalangi tidur.
2. Rencanakan asuhan keperawatan rutin yang memungkinkan pasien tidur tanpa

terganggu selama beberapa jam.


3. Berikan bantuan tidur kepada pasien, seperti bantal, mandi sebelum tidur,

makanan atau minuman dan bahan bacaan.


4. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk tidur.
5. Berikan pengobatan yang diprogramkan untuk meningkatkan pola tidur

normal pasien.
6. Minta pasien setiap pagi menjelaskan kualitas tidur malam sebelumnya.
7. Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang tehnik relaksasi seperti

imjinasi terbimbing, relaksasi otot progresif, dan meditasi.

Rasional

1. Mendengar aktif dapat membantu menentukan penyebab kesulitan tidur.


2. Tindakan ini memungkinkan asuhan keperawatan yang konsisten dan

memberikan waktu untuk tidur tanpa terganggu.


3. Susu dan beberapa kudapan tinggi protein, seperti keju dan kacang,

mengandung L-trytophan, yang dapat mempermudah tidur.


4. Tindakan ini dapar mendorong istirahat dan tidur.
5. Agens hipnotik memicu tidur, obat penenang menurunkan ansietas.
6. Tindakan ini membantu mendeteksi adanya gejala perilaku yang berhubungan

dengan tidur.
7. Upaya relaksasi yang bertujuan biasanya dapat membantu meningkatkan tidur.

IV. Implementasi
Melaksanakan tindakan yang diidentifikasi sesuai dengan intervensi dan tindakan

keperawatan dilakukan sesuai standar prosedur secara aman dan tepat.

V. Evaluasi
Mengevaluasi kemajuan klien terhadap pencapaian tujuan dengan melihat acuan

tujuan dan kriteria hasil pada perencanaan dan respon klien terhadap tindakan

kemudian didokumentasikan.
DAFTAR PUSTAKA

Stanley M, Patricia GB. 2006 . Buku Ajar Keperawatan Gerontik . Jakarta : EGC.

Cynthia M, Taylor . 2011 . Diagnosis Keperawatan Dengan Rencana Asuhan . Jakarta : EGC.

http://wahyupurwitasari.blogspot.co.id/ diakses pada hari senin tanggal 12 September 2016,

pukul 17.00 WIB