Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Pada penelitian kali ini terdapat 50 mahasiswa angkatan 2016 Program

Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Purwokerto (FK UMP) yang sudah sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

Mahasiswa FK UMP angkatan 2014 terdiri dari 34 perempuan dan 16 laki-

laki. Penelitian dilakukan dengan cara membagikan kuesioner kepada

responden pada tanggal 25 Juli 2017. Sebelum pembagian kuesioner

dilakukan, peneliti memastikan apakah responden sesuai dengan kriteria

inklusi dan eksklusi. Selanjutnya setelah diketahui sesuai dengan kriteria

inklusi, peneliti menjelaskan tata cara pengisian dan meminta informed

consent. Setelah menandatangani informed consent, responden dipersilahkan

memulai mengisi kuesioner dengan didampingi oleh peneliti. Responden yang

telah mengisi kuesioner hingga selesai kemudian diberi cenderamata sebagai

ucapan terimakasih sudah berkenan membantu dan meluangkan waktu dalam

penelitian ini.
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Fakultas Kedokteran UMP terletak di

Gedung G Jl. Raya Dukuhwaluh, Dukuhwaluh, Kembaran, Kabupaten

Banyumas, Jawa Tengah 53182. Fakultas Kedokteran UMP berdiri dan

mulai aktif beroperasi pada tahun 2013. Oleh karena itu, Fakultas

Kedokteran UMP masih dianggap baru sebab baru 4 tahun berdiri.


Fakultas Kedokteran UMP merupakan Fakultas Kedokteran ke-70 yang

berdiri di Indonesia. Sedangkan, untuk di Kabupaten Banyumas sendiri

merupakan Fakultas Kedokteran yang berdiri ke-2 setelah sebelumnya

terdapat Fakultas Kedokteran Universitas Jendral Soedirman (Unsoed)

yang berdiri sejak tahun 2001.


Sejauh ini tiap tahunnya Fakultas Kedokteran UMP menerima 50

mahasiswa tiap angkatan. Fakultas Kedokteran UMP memiliki keunggulan

dibidang kedokteran herbal. Fakultas Kedokteran UMP sesuai dengan

salah satu visi dan misinya yaitu ingin melahirkan dokter islami yang

pandai dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu mengikuti

perkembangan jaman dan mampu bersaing di kancah international. Maka

tak heran apabila Fakultas Kedokteran UMP terus mengepakkan sayapnya

untuk menjadi yang lebih baik tiap tahunnya.

B. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas


1. Uji validitas
Instrumen penelitian yang akan dibagikan kepada responden ketika

penelitian, harus diuji coba terlebih dahulu kepada responden yang

memiliki kriteria inklusi dan ekslusi yang sama. Tujuan pengujian validitas

kuesioner adalah untuk meyakinkan bahwa kuesioner yang disusun benar-

benar baik dalam mengukur gejala dan menghasilkan data yang valid

(Sugiyono, 2009). Uji Validitas dilakukan kepada 30 responden di

Universitas Jendral Soedirman Purwokerto.


Jumlah item pada kuesioner penatalaksanaan ini sebanyak 20 item

pertanyaan sebelum dilakukan uji validitas, setelah dilakukan uji validitas


maka semua item dinyatakan valid. Adapun sebaran item sebelum dan

setelah uji validitas dapat dilihat dalam tabel berikut ini:

Tabel IV.1 Skala Motivasi Belajar Sebelum Uji Validitas


No Indikator Item Jumlah
Favourable Unfavourabl
e
1 Motivasi sebagai 1 2 2
kebutuhan
2 Dorongan individu 3 4 2
3 Tujuan 5 6 2
4 Imbalan atau hukuman 9,10 7,8 4
5 Harapan 11 12 2
6 Keinginan 13 14 2
7 Cita-cita 15,17 16 3
8 Kemampuan 18,20 19 3
Total 11 9 20

Tabel IV.1 Skala Motivasi Belajar Sesudah Uji Validitas


No Indikator Item Jumlah
Favourable Unfavourabl
e
1 Motivasi sebagai 1 2 2
kebutuhan
2 Dorongan individu 3 4 2
3 Tujuan 5 6 2
4 Imbalan atau hukuman 9,10 7,8 4
5 Harapan 11 12 2
6 Keinginan 13 14 2
7 Cita-cita 15,17 16 3
8 Kemampuan 18,20 19 3
Total 11 9 20

2. Uji reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti


menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila

dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dan

dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2012). Hasil uji

reliabilitas dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel IV.3 Data Hasil Uji Reliabilitas

No Variabel Koefisien Kritik Pengujian Keterangan


alpha (ɑ)
1 Motivasi Belajar 0,742 Kondisi ɑ > 0,7 Reliabel

Berdasarkan hasil uji reliabilitas yang terdapat dalam tabel IV.3

diatas dapat diketahui bahwa kuesioner motivasi belajar dinyatakan

reliabel, karena memilki nilai alpha > 0,7. Kuesioner dikatakan reliabel

jika memiliki nilai alpha minimal 0,7 (Riwidikdo, 2009). Sedangkan kritik

pengujian reliabilitasnya adalah jika r Alpha > r table maka pernyataan

reliabel.

C. Hasil Penelitian

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dalam penelitian ini untuk mengetahui distribusi

frekuensi umur, jenis kelamin serta distribusi frekuensi variabel bebas dan

terikat. Adapun sebaran distribusi frekuensi tersebut adalah sebagai

berikut:

a. Umur
Sebaran umur responden dalam penelitian ini adalah antara umur 19-22

tahun, adapun proporsi sebaran umur responden adalah sebagai

berikut :

Tabel IV.4 Distribusi Frekuensi Umur Responden


No Umur Frekuensi (f) Persentase (%)
1 19 tahun 20 40.0
2 20 tahun 26 52.0
3 21 tahun 2 4.0
4 22 tahun 2 4.0
Total 50 100

Berdasarkan hasil penelitian mengenai umur responden yang

terdapat pada tabei IV.4 dapat diketahui bahwa responden yang

berumur 19 tahun sebanyak 20 orang (40%), berumur 20 tahun

terdapat 26 orang (52%), 21 tahun terdapat 2 orang (4%) dan 22 tahun

terdapat 2 orang (4%).


b. Jenis Kelamin
Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan jinis kelamin

adalah sebagai berikut :

Tabel IV.5 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden


No Jenis kelamin Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Laki-laki 16 32.0
2 Perempuan 34 68.0
Total 50 100

Hasil penelitian yang terdapat pada tabel IV.5 menunjukan

bahwa sebagian besar responden penelitian berjenis kelamin

perempuan yaitu sebanyak 34 orang (68%) sedangkan laki-laki

sebanyak 16 orang (32%)


c. Kecemasan menjelang ujian MCQ
Kecemasan menjelang ujian MCQ diukur dengan skala kece

masan Zung Self-rating Anxiety Scale (ZSAS) yang terdiri dari 20

pertanyaan. Adpaun distribusi frekwensi kecemasan adalah sebagai

berikut :

Tabel IV.6 Distribusi Frekuensi Kecemasan Responden


Menjelang Ujian MCQ
No Kecemasan Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Ringan 20 40.0
2 Sedang 22 44.0
3 Berat 6 12.0
4 Sangat Berat 2 4.0
Total 50 100

Berdasarkan hasil penelitian mengenai kecemasan responden

menjelang ujian MCQ yang terdapat pada tabel IV.6 dapat diketahui

bahwa sebagian besar responden penelitian memiliki kecamasan dalam

kategori “Sedang” yaitu sebanyak 22 orang (44%) sedangkan

responden yang memiliki kecemasan paling sedikit yaitu kecemasan

“Sangat berat” yaitu sebnyak 2 orang (4%).

d. Motivasi belajar

Motivasi belajar dalam penelitian ini di ukur dengan

menggunakan kuesioner sebanyak 20 item pertanyaan, adapun

distribusi frekuensi motivasi belajar adalah sebagai berikut :

Tabel IV.7 Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar


No Motivasi belajar Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Kuat 20 40.0
2 Sedang 23 46.0
3 Lemah 7 14.0
Total 50 100

Hasil penelitian mengenai motivasi belajar yang terdapat dalam

tabel IV.7 menunjukan bahwa sebagaian besar responden penelitian

memilki motivasi belajar dalam kategori “Sedang” yaitu sebanyak 23

orang (46%), selanjutnya motivasi belajar “Kuat” sebanyak 20 orang

(40%) dan motivasi belajar “Lemah” sebanyak 7 orang (14%)


2. Analisis Bivariat (Hubungan kecemasan menjelang ujian MCQ

dengan motivasi belajar mahasiswa)


Untuk mengetahui hubungan kecemasan dengan motivasi belajar

dalam penelitian ini menggunakan uji Spearman Rho, berikut adalah hasil

uji hipotesis:

Tabel IV.8 Hubungan Kecemasan Sebelum Ujian MCQ


dengan Motivasi Belajar
Motivasi Belajar Correlatio
Kecemasa Lemah Sedang Kuat n P-Value
n Coefficient
f % F % F %
Ringan - - 1 2% 19 38
%
Sedang - - 2 42 1 2%
1 %
Berat 5 10 1 2% - - -0.937** 0.000
%
Sangat 2 4% - - - -
berat
Total 7 14 2 46 20 40
% 3 % %

Berdasarkan hasil pengujian yang terdapat pada tabel IV.8 dapat

diketahui bahwa pada tabel silang responden yang memiliki kecemasan

ringan memiliki motivasi sedang sebanyak 1 orang (2%) dan memiliki


motivasi belajar kuar sebanyak 19 orang (38%), selanjutnya responden

yang memilki kecemasan sedang rata-rata memiliki motivasi belajar yang

sedang sebanyak 21 orang (42%) dan memiliki motivasi belajar kuat

sebanyak 1 orang (2%), kemudian responden yang memiliki kecemasan

berat rata-rata memiliki motivasi belajar yang lemah yaitu sebanyak 5

orang (10%) dan responden yang memilki motivasi balajar sangat berat

seluruhnya memiliki motivasi belajar yang lemah sebanyak 2 orang (4%).

Hasil penelitian menunjukan semakin ringan kecemasan maka semakin

kuat motivasi belajar sebaliknya semakin berat kecemasan maka semakin

lemah motivasi belajar.

Selnjutnya hasil analisis yang telah dilakukan menggunakan

korelasi Spearman Rho, yang terdapat pada tabel IV.8 mendapatkan hasil

nilai P value 0,000 (P = <0,05) dengan hasil -0.937artinya Ho ditolak dan

H1 diterima yang bertarti terdapat hubungan yang negatif dan signifikan

antara tingkat kecemasan dengan motivasi belajar sebelum ujian MCQ

pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah

Purwokerto angkatan 2016

D. Pembahasan
1. Tingkat Kecemasan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Purwokerto angkatan 2016

Hasil penelitian mengenai tingkat kecemasan yang terdapat pada tabel

IV.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden penelitian memiliki

kecamasan dalam kategori “Sedang” yaitu sebanyak 22 orang (44%)

sedangkan responden yang memiliki kecemasan paling sedikit yaitu

kecemasan “Sangat berat” yaitu sebnyak 2 orang (4%).

Menurut Hawari (2008), kecemasan merupakan respon emosional

dan penilaian individu yang subjektif yang dipengaruhi oleh alam bawah

sadar dan belum diketahui secara khusus faktor penyebabnya. Lestari (2015)

mengungkapkan kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk

memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain

sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat

melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini

yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan

meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi,

lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal,

kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada

rangsangan yang tidak menambah kecemasan, mudah tersinggung, tidak

sabar, mudah lupa, marah dan menangis. Keadaan tersebut juga yang terlihat

pada responden pada saat pengisian kuesioner dimana responden terlihat

lebih emosional dan gugup.


Adanya kecemasan yang menunjukan rata-rata dalam kategori sedang

hal tersebut dapat dikarenakan responden merupakan angkatan baru dan

belum memiliki banyak pengetahuan tentang ujian MCQ, hal tersebut

sebagaimana yang diungkapkan oleh Lestari (2015) yang menyatakan bahwa

pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kecemasan dimana pengetahuan yang rendah mengakibatkan seseorang

mudah mengalami stress. Ketidaktahuan terhadap suatu hal dianggap sebagai

tekanan yang dapat mengakibatkan krisis dan dapat menimbulkan

kecemasan. Stress dan kecemasan dapat terjadi pada individu dengan tingkat

pengetahuan yang rendah, disebabkan karena kurangnya informasi yang

diperoleh.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang telah dilakukan

oleh Abdulghani (2008) cemas berdasarkan tingkatan mahasiswa yaitu pada

mahasiswa tingkat pertama mencapai 74,2%, mahasiswa tingkat kedua

mencapai 69,8%, mahasiswa tingkat ketiga mencapai 48,6% dan mahasiswa

tingkat keempat mencapai 30,4%. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan

oleh Augesti, (2015) menunjukkan bahwa pada mahasiswa tingkat pertama

tingkat stres sedang sampai berat mencapai 72,6%, sedangkan pada

mahasiswa tingkat akhir tingkat stres sedang sampai berat mencapai 55%.

Dan penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2013) yang memperoleh

hasil penelitian rata-rata responden memiliki kecemasan tingkat sedang yaitu

sebanyak 51%.
2. Motivasi belajar sebelum ujian MCQ pada mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto angkatan 2016

Motivasi belajar dapat diartikan sebagai dorongan mental yang

menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia untuk belajar. Di dalam

motivasi terdapat tiga komponen utama, yaitu kebutuhan, dorongan, dan

tujuan. Kebutuhan terjadi apabila individu merasa ada ketidakseimbangan

antara apa yang teah dimiliki dengan yang diharapkan. Dorongan merupakan

kekuatan mental untuk melakuakan kegiatan dalam rangka memenuhi

harapan atau tujuan. Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut

merupakan inti motivasi (Sardiman, 2008).

Hasil penelitian mengenai motivasi belajar yang terdapat dalam tabel

IV.7 menunjukan bahwa sebagaian besar responden penelitian memilki

motivasi belajar dalam kategori “Sedang” yaitu sebanyak 23 orang (46%),

selanjutnya motivasi belajar “Kuat” sebanyak 20 orang (40%) dan motivasi

belajar “Lemah” sebanyak 7 orang (14%).

Adanya hasil penelitian yang menunjukan bahwa rata-rata motivasi

belajar mahasiswa sebelum ujian MCQ adalah sedang hal itu berarati

mahasiswa memiliki keinginan yang positif, mempunyai harapan yang

tinggi, namun memiliki keyakinan yang rendah bahwa dirinya dapat

bersosialisasi dan mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Sedangkan responden yang memiliki motivasi kuat hal tersebut berarti

responden dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari memiliki harapan yang

positif, mempunyai harapan yang tinggi, dan memiliki keyakinan yang tinggi
bahwa penderita akan menyelesaikan pengobatannya tepat pada waktu yang

telah ditentukan (Sobur, 2011).

Hasil penelitian yang menunjukan rata-rata responden memiliki

motivasi sedang tersebut di dukung oleh penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya yitu penelitian yang dilakukan oleh Kristini & Mere (2010) hasil

penelitianya menunjukan terdapat 25 responden (54,35%) yang memiliki

motivasi sedang, lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Puspitha (2017)

namun bertolakbelakang dimana penelitian tersebut rata-rata responden

memiliki motivasi tinggi yaitu sebanyak 62,3%. Dan mengembangkan

penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2013) hasil penelitianya

menunjukan bahwa prestasi belajarr yang dimiliki responden dalam kategori

sedang sebanyak 48%

3. Hubungan antara tingkat kecemasan dengan motivasi belajar sebelum

ujian MCQ pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Purwokerto angkatan 2016

Hasil analisis yang telah dilakukan menggunakan korelasi Spearman

Rho, yang terdapat pada tabel IV.8 mendapatkan hasil nilai P value 0,000 (P

= <0,05) dengan hasil -0.937artinya Ho ditolak dan H1 diterima yang bertarti

terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara tingkat kecemasan

dengan motivasi belajar sebelum ujian MCQ pada mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto angkatan 2016.

Adanya hubungan yang signifikan antara kecemasan dengan motivasi

belajar dapat dikarenakan berdasarkan tabulasi silang menunjukan bahwa


responden yang memiliki kecemasan ringan memiliki motivasi sedang

sebanyak 1 orang (2%) dan memiliki motivasi belajar kuar sebanyak 19

orang (38%), selanjutnya responden yang memilki kecemasan sedang rata-

rata memiliki motivasi belajar yang sedang sebanyak 21 orang (42%) dan

memiliki motivasi belajar kuat sebanyak 1 orang (2%), kemudian responden

yang memiliki kecemasan berat rata-rata memiliki motivasi belajar yang

lemah yaitu sebanyak 5 orang (10%) dan responden yang memilki motivasi

balajar sangat berat seluruhnya memiliki motivasi belajar yang lemah

sebanyak 2 orang (4%). Hasil penelitian menunjukan semakin ringan

kecemasan maka semakin kuat motivasi belajar sebaliknya semakin berat

kecemasan maka semakin lemah motivasi belajar.

Kecemasan merupakan salah satu aspek instrinsik yang dapat

mempengaruhi motivasi belajar (Santrock, 2007) hal tersebut sesuai dengan

teori yang diungkapkan oleh Djamarah, (2011) yang mengungkapkan bahwa

keadaan cemas pada seseorang akan mengakibatkan mahasiswa menjadi

malas dan tidak tertarik melakukan kegiatan. Salah satu bentuk stres negatif

yaitu kecemasan akademik, akibatnya apabila seseorang mengalami cemas

akan terjadi penurunan minat belajar. Minat belajar yaitu suatu ketertarikan

seseorang terhadap pelajaran. Minat belajar merupakan alat yang mendorong

seseorang termotivasi dalam belajar.

Djamarah, (2011), mengungkapkan beberapa unsur yang

mempengaruhi motivasi belajar menurut di antaranya adalah cita-cita dan

aspirasi, dimana cita-cita merupakan faktor pendorong yang dapat


menambah semangat sekaligus memberikan tujuan yang jelas dalam belajar.

Cita-cita yang bersumber dari dalam diri sendiri membuat seseorang

melakukan upaya lebih banyak yang dapat diindikasikan dengan sifat ingin

mengerti dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, kreativitas yang

tinggi, berkeinginan untk memperbaiki kegagalan yang pernah dialami,

berusaha agar teman dan guru memiliki kemampuan bekerja sama dan

berusaha menguasai seluruh mata pelajaran beranggapan bahwa semua mata

pelajaran penting.

Selanjutnya yaitu kemampuan peserta didik kemampuan yang

dimaksud adalah segala potensi yang berkaitan dengan intelektual atau

intelegensi. Kemampuan psikomotorik juga akan memperkuat motivasi.

Selanjutnya yaitu kondisi peserta didik, kondisi lingkungan belajar, unsur-

unsur dinamis dalam pembelajaran dan upaya pengajar dalam

membelajarkan peserta didik.

Berkaitan dengan hasil penelitian ini maka mendukung penelitian

yang telah dilakukan sebelumnya yaitu penelitian oleh Puspitha (2017) yang

mendapatkan hasil hubungan bermakna antara stres terhadap motivasi

belajar dengan nilai P=0,19 (P<0,05). Kemudian penelitian Solikah (2014)

kecemasan siswa pada matematika mempunyai hubungan dengan prestasi

belajar dan penelitian oleh Kristini & Mere (2010) hasil penelitian

menunjukan ada hubungan antara motivasi pendidikan dan prestasi

akademik.