Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Pada era globalisasi yang
dirasakan saat ini terlihat bahwa pendidikan menduduki tingkat teratas. Pendidikan dapat
menentukan kualitas seseorang. Pendidikan erat kaitannya dengan belajar dan pembelajaran.
Ini terlihat dari adanya suatu proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dimaksud
berupa melakukan kegiatan yang aktif untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Belajar pada hakikatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada
disekitar individu siswa. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada
pencapaian tujuan dan proses berbuat melalui pengalaman yang diciptakan guru. Menurut
Sudjana (dalam Rusman, 2012) belajar juga merupakan proses melihat, mengamati, dan
memahami sesuatu. Kegiatan pembelajaran dilakukan oleh dua orang pelaku, yaitu guru dan
siswa. Perilaku guru adalah membelajarkan dan perilaku siswa adalah belajar. Perilaku
tersebut terkait dengan bahan pembelajaran. Bahan pembelajaran dapat berupa pengetahuan,
nilai-nilai kesusilaan, seni, norma, agama, sikap dan keterampilan. Hubungan antara guru,
siswa dan bahan ajar bersifat dinamis dan kompleks.

Seiring dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 pada Undang-undang Nomor 20


Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang
pertama adalah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan
yang kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Seperti menurut
Nanang (2009), menyatakan bahwa guru sebagai pelaku reformasi di dalam kelas harus terus
mensiasati membangun kultur belajar siswa, antara lain belajar untuk tahu (learning to know),
belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi sesuatu (learning to be), dan
belajar untuk hidup bekerjasama (learning to live together).

Dalam pelaksanaannya, pengajaran matematika pada siswa sekolah menengah


pertama tidak lepas dari masalah-masalah yang ada didalamnya. Para guru menyadari bahwa
2

penguasaan siswa dalam pembelajaran matematika masih lemah, karena sampai saat ini
masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran matematika.

Lerner (Abdurahman, 2012:202) mengemukakan bahwa matematika disamping


sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia
memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas. Ada
banyak juga alasan tentang perlunya siswa belajar matematika. Menurut Comelius
(Abdurrahman 2012:204) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena
matematika merupakan (1) sarana berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk
memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) sarana pola-pola hubungan dan generalisasi
pengalaman, (4) sarana untuk mengembangkan kreaktivitas, dan (5) sarana untuk
meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya. Oleh karena itu guru harus mampu
memberikan suatu alternatif konsep-konsep yang telah diajarkan dan dapat mengaktifkan
siswa dalam belajar matematika.

Dalam pembelajaran matematika di sekolah, aspek pemahaman suatu konsep


matematika sangatlah diperlukan bagi siswa. Jika sedari awal siswa telah memiliki konsep
yang salah, maka sukar untuk memperbaiki kembali, terutama jika sudah diterapkan dalam
menyelesaikan soal matematika. Selain itu, belajar matematika siswa belum bermakna,
sehingga pengertian siswa tentang konsep sangat lemah, kebanyakan siswa mengalami
kesulitan dalam mengaplikasikan matematika ke dalam situasi kehidupan real. Guru dalam
pembelajarannya di kelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki oleh siswa, dan
siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali dan mengkonstruksi sendiri
ide-ide matematika. Oleh karena itu, yang terpenting adalah bagaimana siswa memahami
konsep matematika secara bulat dan utuh, sehingga jika diterapkan dalam menyelesaikan soal
matematika siswa tidak mengalami kesulitan. Gambaran permasalahan tersebut menunjukkan
bahwa pembelajaran matematika perlu diperbaiki guna meningkatkan pemahaman siswa
terhadap konsep – konsep matematika.

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti dengan salah satu guru matematika di
SMP Negeri 17 Kota Jambi sebelum melakukan penelitian, pembelajaran matematika di
sekolah ini tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya. Pembelajaran konvensional masih
juga di pergunakan seperti penyampaian materi dengan metode ceramah, sehingga
menimbulkan kejenuhan pada siswa. Selain itu guru masih banyak menggunakan bahan ajar
cetak berupa lembar kerja siswa (LKS) yang mencakup buku matematika yang dapat
3

diperjual belikan dengan proses pembelajarannya siswa hanya mengerjakan latihan soal dan
uji kompetensi.
Menurut Prastowo (2011:204) Lembar Kerja siswa (LKS) merupakan suatu bahan
ajar cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk
pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus dikerjakan siswa dan mengacu pada kompetensi
dasar yang harus dicapai. Bahan ajar LKS terdiri atas enam komponen utama yang meliputi
judul, petunjuk belajar, kompetensi yang harus dicapai, informasi pendukung, langkah kerja
dan penilaian. LKS berfungsi untuk meningkatkan aktifitas siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar, melatih dan mengembangkan keterampilan proses pada siswa sebagai dasar
penerapan ilmu pengetahuan, membantu memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari
melalui kegiatan tersebut, dan membantu menambah informasi tentang konsep yang
dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. (Prastowo, 2011:204)

Namun berdasarkan observasi peneliti mengenai LKS yang digunakan sekolah


masih bersifat praktis dan tidak menekankan pada proses. LKS yang digunakan siswa berisi
materi dan soal-soal yang belum mengakomodasi kebutuhan siswa untuk belajar secara aktif,
sehingga peran LKS hanya sebagai latihan soal-soal saja dan soal-soal yang disajikan kurang
bervariasi, sehingga siswa dalam menjawab soal hanya mencoba mengingat jawaban bukan
mencari penyelesaian terhadap suatu soal. Terlebih lagi LKS yang tersedia hanya berwarna
hitam dan putih dan kerumitan bahan ajar yang disampaikan semakin membuat siswa kurang
tertarik untuk membaca sehingga menyebabkan pemahaman dan keaktifan siswa menjadi
rendah dalam mengingat materi yang telah dipelajari.

Hal ini dapat dilihat dari data persentase ketuntasan hasil belajar matematika kelas
VII pada ulangan harian pada materi sebelumnya yaitu materi aljabar yang diajarkan dengan
menggunakan bahan ajar LKS yang dibeli dari penerbit sehingga proses pembelajarannya
pada tahun ajaran 2015/2016 di SMP Negeri 17 Kota Jambi yaitu sebagai berikut:

Tabel 1.1 Data Persentase Hasil Ulangan Harian Kelas VII di SMP Negeri 17 Kota Jambi TA. 2015/2016
Kelas Jumlah Siswa yang Tidak Tuntas Jumlah Siswa yang Tuntas (dalam
Belum Tuntas (< 70) (dalam %) < 70 Tuntas ( ≥ 70) %) ≥ 70
VII A 16 43.2 % 21 56.7 %
VII B 12 33.3 % 24 66.7 %
VII C 13 36.1 % 23 63.9 %
VII D 16 40 % 24 60 %
4

VII E 14 36.9 % 24 63.1 %


VII F 16 44.4 % 20 55.6 %
VII G 14 38.9 % 22 61.1 %
VII H 13 35.1 % 24 64.9 %
Sumber : Guru Matematika Kelas VII SMP Negeri 17 Kota Jambi

Prastowo (2011:206) mengenai kegunaan LKS bagi kegiatan pembelajaran, tentu


saja ada cukup banyak kegunaan, bagi selaku pendidik, melalui LKS pendidik mendapat
kesempatan untuk memancing peserta didik agar secara aktif terlibat dengan materi yang
akan dibahas ditinjau dari segi keterbatasan lembar kerja siswa yang digunakan sekolah akan
berpengaruh pada kualitas pembelajaran.

Sesuai dengan permasalahan pembelajaran yang telah dikemukakan, yaitu


kurangnya peran atau keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran maka penulis mencoba
untuk mengembangkan LKS yang dapat memotivasi siswa untuk belajar matematika
terutama tentang bilangan bulat. Sehingga pemilihan teori dalam proses pembelajaran harus
secara tepat, agar terwujud pembelajaran yang lebih bermakna dan dapat diaplikasikan siswa
kedalam kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu, pada tahap pengembangan peneliti ingin
mengembangkan LKS berbasis teori APOS dan dikombinasikan dengan pendekatan yaitu
pendekatan saintifik. Dimana kerangka teori APOS diprediksi dapat bermanfaat dalam
mengoptimalkan tingkat pemahaman siswa. Teori APOS mengasumsikan bahwa
pengetahuan matematika yang dimiliki seseorang merupakan hasil interaksi dengan orang
lain dan hasil konstruksi-konstruksi mental orang tersebut dalam memahami ide-ide
matematika (Arwana, 2009).

Dubinsky dan Mc Donald (2013:2-11) menjelaskan bahwa, teori APOS adalah sebuah
teori konstruktivisme tentang bagaimana peserta didik belajar konsep yang didasarkan pada
teori perkembangan Piaget. Ed Dubinsky sebagai pengembang teori APOS mendasarkan
teorinya pada pandangan bahwa pengetahuan dan pemahaman seseorang merupakan suatu
kecenderungan seseorang untuk merespon terhadap suatu situasi dan merefleksikannya pada
konteks sosial. Berkaitan dengan paradigma tersebut Astuti P. dkk mengemukakan bahwa
dalam menyelesaikan suatu masalah, terdapat dua hal yang harus dimiliki seseorang yaitu
mengerti konsep dan memanfaatkannya ketika diperlukan. Asiala dkk juga meyatakan bahwa
tujuan yang ingin dicapai dari teori APOS adalah terbentuknya konstruksi mental siswa
(Dubinsky, 2013:11). Yang dimaksud konstruksi mental dalam pembelajaran matematika ini
5

adalah terbentuknya aksi (action), yang direnungkan (interiorized) menjadi proses (process),
selanjutnya dirangkum (encapsulated) menjadi objek (object), objek dapat diurai kembali (de-
encapsulated) menjadi proses. Aksi, proses, dan objek dapat diorganisasi menjadi suatu
skema (schema) untuk dapat dimanfaatkannya dalam menyelesaikan suatu masalah yang
dihadapi dan dapat disingkat menjadi APOS.

Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran sedemikian rupa agar peserta didik
secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati
(untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisa data,
menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Pendekatan saintifik di maksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik
dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa
informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari
guru.

Penelitian mengenai teori APOS ini sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh peneliti
terdahulu. Menurut Abdul, dkk (2013) tentang upaya penguatan struktur kognitif siswa
melalui model pembelajaran advance organizer dengan pemberian LKS terstruktur
berdasarkan teori APOS. Di dapat bahwa upaya penguatan struktur kognitif siswa melalui
model pembelajaran advance organizer dengan pemberian LKS terstruktur berdasarkan teori
APOS telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan
aktivitas belajar siswa. Terjadi peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus
pertama 41,94 menjadi 90,32 . Dan peningkatan nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada
siklus pertama 59,72 menjadi 74,47.

Dengan dikembangkannya LKS berbasis teori APOS ini siswa diajarkan empat tahap
pemahaman diri secara spesifik, yaitu tahap aksi, tahap proses, tahap objek, dan tahap skema
sehingga siswa dapat mempelajari suatu topik atau konsep yang terdapat dalam LKS berbasis
teori APOS. Pembelajaran dengan teori APOS yang dapat memahamkan siswa pada materi
bilangan terdiri dari empat tahapan berikut. Tahap aksi, siswa melakukan aktivitas prosedur
dengan bantuan LKS yang memuat tahapan aksi. Tahap proses, siswa mampu menjelaskan
tahapan pengerjaan dari tahap aksi dengan penjelasan dan kata-kata sehingga siswa memiliki
pemahaman secara procedural. Tahap objek, siswa mampu menjelaskan definisi serta mampu
menyatakan contoh dan bukan contoh bilangan sehingga siswa memiliki pemahaman
6

konseptual. Tahap skema, siswa mampu mengaitkan aksi, proses, objek untuk menyelesaikan
masalah dalam LKS. Dengan demikian, siswa telah dilatih untuk belajar mandiri dengan
memanfaatkan LKS berbasis teori APOS.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul
“Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Teori APOS dengan Pendekatan Saintifik
pada Materi Bilangan Bulat kelas VII SMP Negeri 17 Kota Jambi”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah


penelitian ini adalah :

1. Bagaimana mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) matematika berbasis teori


APOS (Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik
2. Bagaimana keefektifan Lembar Kerja Siswa (LKS) matematika berbasis teori APOS
(Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut :

1. Menghasilkan produk lembar kerja siswa (LKS) matematika berbasis teori APOS
(Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik
2. Mengetahui keefektifan produk lembar kerja siswa (LKS) matematika berbasis teori
APOS (Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik

1.4 Spesifikasi Produk Yang Diharapkan

Spesifikasi produk yang ada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar cetak berupa lembar kerja siswa
(LKS) berbasis teori APOS (Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan
saintifik.
2. Produk LKS ini disajikan disajikan berdasarkan pada setiap pertemuan sehingga
mempermudah siswa belajar secara mandiri.
7

3. Bahan ajar yang dikembangkan adalah lembar kerja siswa (LKS) berbasis teori
APOS, dengan format menggunakan fase-fase teori APOS yaitu : (1) Aksi (Action),
(2) Proses (Process), (3) Objek (Object), (4) Skema (Schema) dan 5 tahapan yang
harus dilakukan pendekatan saintifik yaitu : (1) Mengamati (Observing), (2)
Menanya (Questioning), (3) Mengumpulkan Data (Experimenting), (4) Menalar
(Associating), (5) Mengkomunikasikan. Tahapan ini mempermudah siswa pada
proses KBM, karena apa yang harus dilakukan siswa pada saat belajar sudah
terstruktur pada LKS.
4. Materi lembar kerja siswa (LKS) yang akan dikembangkan adalah materi
5. LKS ini mempunyai variasi warna, gambar dan tulisan yang menarik.

1.5 Manfaat Pengembangan

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tersedianya bahan ajar berupa lembar kerja siswa (LKS) berbasis teori APOS
(Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik
2. Memberi kemudahan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran materi
3. Memperluas wawasan dan pengetahuan guru tentang teori APOS (Action, Process,
Object, Schema).
4. Memotivasi guru dalam mengembangkan bahan ajar lainnya sebagai bahan
pembelajaran matematika.
5. Mempermudah siswa dalam memahami konsep materi pembelajaran
6. Siswa berkesempatan untuk belajar secara mandiri dan mengurangi ketergantungan
terhadap guru.
7. Siswa dapat mengembangkan pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan
motivasi untuk terus belajar.

1.6 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Pengembangan

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :

1. Memilih materi Bilangan Bulat di kelas VII SMP N 17 Kota Jambi semester ganjil
tahun ajaran 2017/2018 untuk dikembangkan menjadi lembar kerja siswa (LKS)
matematika.
8

2. Memilih pembelajaran teori APOS (Action, Process, Object, Schema) dengan


pendekatan saintifik sebagai pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan
lembar kerja siswa (LKS) pada materi bilangan bulat kelas VII SMP.
3. Langkah kerja pada LKS dirancang sesuai tahapan-tahapan pada teori APOS
(Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan saintifik.

1.7 Definisi Istilah

1. Pengembangan berarti suatu perubahan secara bertahap kearah tingkat yang


berkecenderungan lebih tinggi, meluas dan mendalam yang secara menyeluruh dapat
tercipta suatu kesempurnaan atau kematangan.

2. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis
maupun tidak sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa
untuk belajar.

3. LKS merupakan bahan ajar cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi,
ringkasan dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas pembelajaran yang harus
dikerjakan oleh siswa, yang mengacu pada kompetensi dasar yang harus dicapai.

4. Teori apos adalah konstruktivisme sosial. Pembelajaran dengan menggunakan teori


APOS menekankan pada perolehan pengetahuan melalui konstruksi mental. Dan
konstruksi mental dalam konteks teori APOS adalah terbentuknya aksi, yang
direnungkan menjadi proses, selanjutnya dirangkum menjadi objek, objek dapat
diuraikan kembali menjadi proses. Aksi, proses, dan objek dapat diorganisasi
menjadi suatu skema.

5. Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran sedemikian rupa agar peserta didik
secara aktif mengkonstruk konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati, merumuskan masalah, mengajukann atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisa data, menarik kesimpulan
dan mmengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.