Anda di halaman 1dari 27

A.

Pendahuluan

Dinamika pertumbuhan penduduk yang terjadi di Indonesia pada

beberapa dasa warsa ini merupakan faktor utama acuan seluruh kebijakan

pemerintah bagaimana meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat, karena

pertumbuhan penduduk yang tinggi serta kualitas sumber daya manusia yang

rendah dan terbatasnya kesempatan kerja merupakan akar permasalahan

kemiskinan.

Permasalahan Bangsa Indonesia saat ini tidak hanya sebatas

pertumbuhan ekonomi yang berjalan lambat, akan tetapi termasuk juga angka

pengangguran dan kemiskinan yang masih tinggi, Sebagai contoh pada tahun

2009 tamatan SMK se Jawa Tengah sebanyak ± 135.000 siswa, dari jumlah 1022

SMK Negeri maupun Swasta dengan berbagai program keahlian : Teknologi

industri, bisnis manajemen, Pariwisata, Pertanian, dan kelompok khusus. Dari

jumlah tamatan tesebut diatas yang terserap di DU/DI baru sebesar 80,06 %.

Kondisi ketenagakerjaan di Indonesia selalu mengalami perubahan yang

mendasar setiap waktu. Perubahan ini dapat disebabkan karena terjadinya

perubahan komposisi penduduk. Jumlah penduduk dan laju pertumbuhan

angkatan kerja di Indonesia tiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Namun

demikian laju pertumbuhan angkatan kerja baik yang dihasilkan oleh pendidikan

formal, seperti sekolah menengah umum, kejuruan dan perguruan tinggi

(SMA/SMK/D1/S1) maupun non formal tidak diikuti oleh laju pertumbuhan

kesempatan kerja, sehingga terjadi ketidak seimbangan yang mengakibatkan

jumlah pengangguran selalu meningkat.


Perubahan kondisi ketenagakerjaan tersebut tidak hanya dipengaruhi

adanya perubahan komposisi penduduk akan tetapi dipengaruhi juga oleh

perubahan industri dan jabatan dalam dunia kerja, perubahan teknologi di dalam

tempat kerja, restrukturisasi perusahaan dan globalisasi ekonomi. Kondisi yang

demikian menjadikan pemikiran dan perhatian bagi semua pihak, terutama bagi

pemerintah sehingga dalam menetapkan kebijakan pembangunan hendaklah

diarahkan agar ramah ketenagakerjaan.

Sejak terjadinya krisis ekonomi atau multi dimensional di negara

Indonesia ini, pemerintah banyak mengalami kesulitan dalam menghadapi

berbagai masalah yang terjadi, termasuk masalah kesulitan dalam membuka

kesempatan kerja baru serta penempatannya. Penempatan tenaga kerja ini sangat

dipengaruhi oleh pasar kerja yang merupakan suatu pasar yang mendistribusikan

tenaga kerja kepada pekerjaan, secara umum merupakan suatu pasar yang

mempertemukan penyedia tenaga kerja dan pengguna tenaga kerja.

Masalah angkatan kerja baru yang semakin meningkat belum

mendapatkan pekerjaan harus mendapatkan perhatian berbagai pihak baik

pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha atau dunia industri. Apabila hal

ini tidak secara cepat diantisipasi, maka akan terjadi akumulasi jumlah

pengangguran yang semakin besar jumlahnya dan berdampak terhadap nasib

Negara Indonesia ke depan.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut diperlukan adanya pelayanan

penempatan tenaga kerja yang merupakan kegiatan untuk mempertemukan tenaga

kerja (pencari kerja) dengan pemberi kerja (pengguna tenaga kerja) supaya tenaga

kerja dapat memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya serta pemberi kerja memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan

kebutuhan. Pelayanan penempatan tenaga kerja tidak hanya dilakukan oleh

pemerintah saja akan tetapi perlu adanya keterlibatan semua pihak secara terpadu

dan terkoordinasi.

B. Kerangka Pengembangan Model

Penempatan tenaga kerja dan lapangan pekerjaan merupakan suatu

kesatuan yang saling berkaitan. Penempatan tenaga kerja diarahkan untuk

menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian,

ketrampilan, bakat, minat dan kemampuan dengan memperhatikan harkat,

martabat, hak asasi dan perlindungan hukum. Disamping itu dalam penempatan

tenaga kerja, penyediaan tenaga kerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan

permintaan tenaga kerja. Oleh karenanya diperlukan lembaga pelaksana

penempatan tenaga kerja yang bukan hanya dari Instansi Pemerintah yang

bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan, dan lembaga swasta berbadan

hukum akan tetapi pelayanan penempatan tenaga kerja juga dilakukan dilembaga

satuan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dan pelatihan yang disebut

Bursa Kerja Khusus (BKK) yang dalam pelayanan penempatan khusus bagi para

tamatannya, para siswa yang putus sekolah dan siswa yang masih aktif.

Model konseptual atau rancangan model sebagai langkah awal dalam

penelitian ini dikembangkan berdasarkan kajian teoritik dan masih bersifat

konseptual. Oleh karena itu, model ini sering dikenal dengan model teoritis.

Model ini kemudian dikembangkan melalui beberapa tahap sesuai dengan tahapan

penelitian dan pengembangan. Model manajemen BKK ini membahas secara


spesifik tiga aspek dalam pengembangan model BKK, yaitu 1) pengembangan

manajemen BKK, 2) pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) BKK, dan 3)

pengembangan pembiayaan BKK. Berikut ini akan diuraikan secara lengkap

mengenai pengembangan model manajemen BKK.

Model konseptual dalam penelitian ini ditunjukkan seperti gambar 4.1

1. Kebutuhan dunia kerja.


2. Permintaan Du/Di
3. Kemampuan pihak SMK

Administrasi Kelembagaan

Manajemen Bursa
Kerja Khusus
(BKK) meliputi BKK SMK Pemasaran tenaga
perencanaan, Model kerja lulusan SMK
pengorganisasian, ke Du/Di
pelaksanaan, dan
pengawasan

Sumber Daya Pembiayaan


Manusia

Gambar 4.1. Model Konseptual Manajemen BKK SMK

Sebagai komponen masukan dari rancangan model dalam penelitian ini

adalah adanya kebutuhan dunia kerja. Semakin ketatnya persaingan di dunia kerja

menuntut lembaga pendidikan menengah kejuruan untuk menyiapkan tenaga-

tenaga yang siap secara mental dan skill untuk terjun di dunia kerja. SMK sangat

tanggap menghadapi kenyataan ini. Karena itu SMK semakin terpacu unuk

mendidik para siswanya agar mampu bersaing di dunia kerja. Sebagai lembaga

pendidikan yang menyiapkan tenaga kerja terdidik, SMK telah memiliki segala
fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang proses pembelajaran tersebut. Dengan

segala fasiltas yang ada itu, SMK semakin percaya diri bahwa ke depan akan

mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja dengan tenaga kerja terdidik yang

kompeten di bidangnya. Pasalnya, hampir semua siswa ingin segera mendapatkan

pekerjaan begitu lulus. Sedang perusahaan menginginkan tenaga-tenaga kerja

dengan kualifikasi skill yang tinggi. Untuk menunjang semua itu, kombinasi

kurikulum lebih banyak praktik, yakni mencapai 55 persen praktik dan 45 persen

teori. Dengan cara tersebut, lulusan SMK benar-benar mampu diandalkan saat

menjadi tenaga kerja yang sesungguhnya. Untuk menghasilkan lulusan yang

memiliki kompetensi tersebut, SMK selalu memandang jauh ke depan. Karena

perkembangan teknologi dan industri yang begitu cepat, maka yang harus

dijadikan acuan adalah kebutuhan-kebutuhan masa depan.

Pengembangan model manajemen BKK SMK menggunakan pendekatan

riset dan pengembangan (Research and Development) berdasarkan kebutuhan

lapangan, temuan-temuan hasil penelitian yang relevan, serta mengacu pada teori-

teori yang relevan seperti: model manajemen yang dikemukakan oleh Terry,

model pemasaran yang dijelaskan oleh Kotler. Konsep Trilogi Juran

(Tampubolon, 2000:64) menjelaskan bahwa temuan-temuan yang bersifat

kelemahan-kelemahan dijadikan dasar untuk peningkatan mutu proses dan produk

selanjutnya.

Model manajemen BKK ini membahas secara spesifik tiga aspek dalam

pengembangan model BKK, yaitu (1) pengembangan manajemen BKK, (2)

pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) BKK, dan (3) pembiayaan BKK.

Pengembangan SDM dirasa sangat perlu dalam mengembangkan BKK SMK


secara keseluruhan. Dengan adanya SDM yang handal maka akan memudahkan

pengelolaan BKK SMK. Selain itu, aspek pembiayaan juga tidak luput dalam

penelitian ini. Pembiayaan memegang peranan vital dalam menjalankan roda

organisasi. Dalam BKK ini diperlukan kegiatan-kegiatan yang menunjang

pengembangan BKK dan untuk melaksanakan hal tersebut dibutuhkan biaya.

Sumber pembiayaan BKK SMK juga harus jelas seperti tertuang dalam RAPB

Sekolah. Dengan adanya kejelasan sumber dana maka BKK akan berjalan sesuai

dengan visi dan misinya.

C. Model Pengembangan

Rancangan model hipotetik dikembangkan dari model konseptual yang

diperbaiki berdasarkan hasil analisis-analisis trend BKK masa depan, kebutuhan

dan pemetaan BKK, serta analisis reflektif terhadap peran dan fungsi BKK serta

pelaksanaan faktual di lapangan. Analisis dilakukan melalui triangulasi sumber

data, observasi, wawancara, diskusi, maupun dokumentasi. Dalam pelaksanaan

BKK di SMK terjadi proses berupa serangkaian aktivitas berdaur ulang (siklus)

dengan tahapan perencanaan, pengorganisasian kegiatan, pelaksanaan program

kegiatan, dan pengendalian serta evaluasinya.

Dalam rancangan model tersebut, BKK di SMK membutuhkan

penanganan dengan sistem manajemen tersendiri dalam sebuah model manajemen

BKK di SMK. Untuk mendukung pelaksanaannya diperlukan kerjasama berbagai

komponen seperti Kepala Sekolah, Ketua BKK, Pengelola BKK, Guru, Siswa,

dan tidak ketinggalan Du/Di. Untuk mengoptimalkan peran komponen-komponen


tersebut dilakukan melalui mekanisme jalur dan komunikasi yang efektif oleh tim

pengelola yang menanganinya.

Berdasarkan hasil analisis temuan penelitian, ada beberapa hal mendasar

dalam pelaksanaan BKK secara faktual di SMK antara lain: (1) BKK belum

berjalan dengan optimal sesuai dengan tugas dan fungsinya, (2) pola komunikasi

dan arus informasi yang belum optimal dan tepat sasaran, (3) pasifnya BKK

dalam menjalin kerjasama dengan pihak Du/Di, (4) belum ada manajemen

pengelolaan secara jelas mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,

dan pengawasan.

Hasil kajian tersebut dijadikan masukan untuk menyusun model hipotetik

manajemen BKK di SMK, di samping temuan-temuan yang diperoleh di BKK

SMK. Model manajemen BKK SMK yang dikembangkan mencakup komponen-

komponen sebagai berikut: (1) visi, misi, dan tujuan model, (2) latar belakang

BKK di SMK, (3) prosedur pendirian BKK SMK, (4) tugas BKK SMK, (5) ruang

lingkup BKK SMK, (6) manajemen model (perencanaan, pengorganisasian,

pelaksanaan, dan pengawasan), (7) pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)

pengelola BKK SMK, (8) pembiayaan BKK SMK, (9) evaluasi model, (10)

persyaratan pelaksanaan model manajemen BKK SMK.

Model hipotetik dikembangkan dari model konseptual, hasil analisis studi

eksplorasi di lapangan dan temuan faktual pelaksanaan BKK di SMK.


Gambar 4.2 Model Hipotetik Pengembangan Manajemen BKK SMK

Visi, Misi dan Pengembangan Pembentukan Lingkungan Refleksi


Tujuan SMK SMK BKK budaya SMK

Siswa membutuhkan pelayanan pasca Identifikasi kompetensi Pengembangan SDM


pendidikan. lulusan SMK dan kebutuhan pengelola BKK
Du/Di
Kebutuhan dunia kerja yang semakin
berkembang pesat dan menuntut
kecepatan informasi dan komunikasi. Perumusan visi, misi, dan Pelaksanaan Terserapnya lulusan SMK
tujuan model
Dibutuhkan jembatan antara siswa bekerja di Du/Di sesuai
manajemen
lulusan SMK dengan pihak Du/Di, BKK SMK kompetensi keahliannya
yakni BKK di SMK. Penyusunan Program Kerja
BKK SMK
Pelaksanaan manajemen BKK yang
belum optimal mulai dari Pembiayaan BKK SMK
perencanaan, pengorganisasian, Pengendalian
Pengorganisasian lembaga
pelaksanaaan, dan pengawasan. BKK
Belum tercapainya target
keterserapan tenaga kerja lulusan Perencanaan kegiatan BKK Kerjasama dengan pihak Evaluasi
SMK yang bekerja di Du/Di Du/Di sebagai mitra BKK

Perencanaan Pelaksanaan Monitoring


D. Model Empirik

Penempatan tenaga kerja dan lapangan pekerjaan merupakan suatu

kesatuan yang saling berkaitan. Penempatan tenaga kerja diarahkan untuk

menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian,

ketrampilan, bakat, minat dan kemampuan dengan memperhatikan harkat,

martabat, hak asasi dan perlindungan hukum. Disamping itu dalam penempatan

tenaga kerja, penyediaan tenaga kerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan

permintaan tenaga kerja. Oleh karenanya diperlukan lembaga pelaksana

penempatan tenaga kerja yang bukan hanya dari Instansi Pemerintah yang

bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan, dan lembaga swasta berbadan

hukum akan tetapi pelayanan penempatan tenaga kerja juga dilakukan dilembaga

satuan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, dan pelatihan yang disebut

Bursa Kerja Khusus (BKK) yang dalam pelayanan penempatan khusus bagi para

tamatannya, para siswa yang putus sekolah dan siswa yang masih aktif.

BKK dibentuk tidak hanya sebagai pelengkap di SMK. BKK dibentuk

dengan visi dan misi yang jelas. Visi BKK adalah mewujudkan keterserapan

tamatan SMK ke DU/DI sesuai dengan kompetensi yang dimiliki secara

profesional. Sedangkan, misi BKK adalah menyalurkan dan menempatkan

tamatan SMK ke DU/DI serta meningkatkan kerja sama dengan pengguna

tamatan.

Tujuan dibentuknya BKK di SMK diantaranya adalah 1)

Mempertemukan tamatan SMK dengan DUDI, 2) Memberi peluang saling

berinteraksi antara tamatan SMK dan DU/DI untuk menawarkan kompetensi yang

dimiliki, 3)Meningkatkan hubungan kerjasama SMK dengan DU/DI melalui


pendekatan personil pengelola SMK dengan perwakilan industri, 4) Meningkatkan

wawasan tamatan SMK tentang peluang kerja di DU/DI, sehingga tamatan dapat

memilih peluang kerja sesuai kompetensinya, 5) Terjadinya proses rekrutmen

sesuai dengan formasi kerja dan kompetensi yang dibutuhkan, 6) Terserapnya

tamatan ke dunia kerja.

Bursa Kerja Khusus (BKK) merupakan unit kerja sekolah yang

mempunyai tugas menyalurkan tamatan ke dunia kerja. Salah satu indikator

kesuksesan sebuah SMK tidak hanya berdasar pada tingkat kelulusan yang tinggi

tetapi juga oleh jumlah keterserapan di Dunia Usaha/ Dunia Industri atau

berwirausaha.

Pengembangan dan pengelolaan BKK harus dilakukan terus menerus

disesuaikan dengan situasi dan kondisi ketenagakerjaan saat ini. Karenanya

diperlukan manajemen pengelolaan BKK yang profesional dan akuntabel sesuai

dengan prinsip-prinsip organisasi dan prinsip-prinsip dasar sistem antar kerja.

Dalam melakukan tugas dan tanggung jawab, BKK melakukan pendekatan ke

dunia usaha dan dunia industri secara kelembagaan maupun pendekatan antar

personal, sehingga terjadi hubungan yang harmonis dan profesional.

Bursa Kerja Khusus (BKK) adalah lembaga yang mempunyai fungsi

mempertemukan antara pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja. Kegiatannya,

memberikan Informasi Pasar Kerja, pendaftaran pencari kerja, memberi

penyuluhan dan bimbingan jabatan serta penyaluran dan penempatan tenaga kerja.

Dalam perjanjian kerjasama antara Departemen Pendidikan dan

Depnaker No. 076/u/1993 dan Kep 215/men/1993 tentang Pembentukan Bursa

Kerja dan Pemanduan Penyelenggara Bursa Kerja di Satuan Pendidikan


Menengah dan Tinggi dalam pasalnya disebutkan antara lain : Bursa kerja di

satuan pendidikan menengah & tinggi bertujuan untuk memberikan pelayanan

antar kerja kepada siswa dan mahasiswa serta tamatan satuan Pendidikan

menengah dan tinggi. Pemanduan penyelenggara bursa kerja disatuan

pendidikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas

penyelenggara bursa kerja agar mampu memberikan bimbingan pemilihan karier,

pelayanan antar kerja, perencanaan tenaga kerja, informasi pasar kerja dan

analisis jabatan .

Selanjutnya disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan bursa kerja dan

pemanduan bursa kerja disatuan pendidikan tersebut diatur oleh dirjen dikdasmen

dan binapenta, sedangkan untuk pendidikan tinggi diatur oleh dirjen dikti & dijen

binapenta.

Keputusan bersama Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Dep PDK

dan Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Depnaker No. 009/c/kep/u/1994

dan Kep 02/bp/1994 tentang Pembentukan Bursa Kerja di Satuan Pendidikan

Menengah dan pemanduan penyelenggara Bursa Kerja. Dalam Pasalnya antara

lain disebutkan bahwa Terbentuknya Bursa Kerja ditujukan kepada pencari kerja

bagi siswa dan tamatan Sekolah Menengah yang bersangkutan dalam rangka

mempertemukan antara kesempatan kerja dan pencari kerja, sedangkan

pemanduan bursa kerja untuk mempersiapkan penyelenggara bursa kerja agar

terampil dalam pelayanan antar kerja.

Dasar perundangan dan aturan yang juga menjadi acuan dalam

pengelolaan BKK adalah : Undang undang nomor 7 tahun 1981 tentang wajib

lapor ketenagakerjaan di perusahaan, Undang undang nomor 13 tahun 2003


tentang ketenagakerjaan, Keppres nomor 4 tahun 1980 tentang wajib lapor

lowongan kerja, Keppres nomor 36 tahun 2002 tentang pengesahan konvensi ILO

no. 88 th. 1948 tentang lembaga pelayanan penempatan tenaga kerja, dan

Kepmenakertrans nomor kep-230/men/2003 tentang golongan dan jabatan tertentu

yang dapat dipungut biaya penempatan tenaga kerja. Permenakertrans nomor 07

th. 08 tentang penempatan tenaga kerja dan Keputusan Dirjen PPTKDN No. Kep-

131/dpptkdn/xi/2004 tentang petunjuk teknis Bursa Kerja Khusus.

Dalam mendirikan Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK harus memenuhi

syarat legal formal berdirinya BKK, dengan mengikuti prosedur pendirian BKK

sebagai berikut: 1) Mengajukan surat permohonan persetujuan yang ditujukan

kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten/Kota dengan

tembusan kepada Direktur Jendral Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja

cq.Direktur Penyaluran Tenaga Kerja dan Kepala Kantor Wilayah Departemen

Tenaga Kerja domisili BKK yang akan didirikan; 2) Surat permohonan dilampiri

dengan a) Surat Penunjukan Penanggungjawab BKK dari Kepala Sekolah, b)

Struktur Organisasi dan nama-nama pengelola BKK, struktur organisasi sekurang-

kurangnya terdiri dari pimpinan urusan pendaftaran dan lowongan, urusan

informasi pasar kerja dan kunjungan perusahaan, penyuluhan bimbingan jabatan,

analisis jabatan serta tata usaha BKK, c) Keterangan fasilitas kantor BKK yang

dimiliki untuk melakukan kegiatan antar kerja, d) Foto copy sertifikat Pemanduan

BKK Penanggungjawab, e) Pas photo Penanggungjawab ukuran 3 x 4 sebanyak 3

(tiga) lembar, f) Struktur Organisasi dan nama pengelola BKK, g) Rencana

penyaluran tenaga kerja, h) Sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan kegiatan

BKK, i) Denah lokasi dan ruang BKK, j) Surat ijin pendirian dan operasional bagi
Satuan Pendidikan Menengah dan pendidikan Tinggi serta Lembaga Kerja Swasta

dari Instansi yang Berwenang; 3) Memasang papan nama dengan ukuran 100 x 60

cm, dengan dasar putih dan tulisan hitam bagi BKK yang telah memiliki ijin

pendirian dari Depnaker; 4) Memiliki stempel BKK; 5) Pengelola harus sudah

mengikuti Pemanduan Penyelenggaraan Bursa Kerja.

Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK memiliki tugas utama sebagai berikut:

1) Memberi pelayanan informasi ketenagakerjaan kepada siswa dan alumni yang

akan memasuki lapangan kerja, 2) Membina dan mengembangkan hubungan

kerjasama antara sekolah, dinas terkait dan Dunia Usaha dan Dunia Industri, 3)

Melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan proses rekruitmen dan seleksi

calon tenaga kerja atas permintaan baik dari Depnaker, dinas terkait, atau DU/DI,

4) Membina hubungan antara alumni yang telah bekerja atau berwirausaha dalam

rangka membantu menyalurkan dan menempatkan alumni baru yang memerlukan

pekerjaan, 5) Membantu usaha pengembangan dan penyempurnaan program

pendidikan yang ada disekolahnya dengan memperhatikan tuntutan lapangan

pekerjaan pada DU/DI, 6) Melakukan kegiatan pengembangan SDM yang

berhubungan dengan ketenagakerjaan yang meliputi hard skill dan soft skill.

Ruang lingkup kegiatan BKK meliputi: 1) Mendaftar dan mendata

pencari kerja serta mengupayakan penempatan tenaga kerja bagi lulusannya, 2)

lowongan kesempatan kerja dan melaksanakan kerja dengan pengguna tenaga

kerja dalam rangka mengisi lowongan kesempatan kerja berdasarkan Sistem Antar

Kerja, 3) Melaksanakan bimbingan kepada pencari kerja lulusan untuk

mengetahui bakat, minat dan kemampuannya, sesuai dengan kebutuhan pengguna

tenaga kerja atau berusaha mandiri, 4) Melakukan penawaran kepada pengguna


tenaga kerja mengenai persediaan tenaga kerja, 5) Melakukan pengiriman untuk

memenuhi permintaan tenaga kerja, 6) Mengadakan verifikasi sebagai tindak

lanjut pengiriman tenaga kerja yang dilakukan, 7)Mencetak bentuk-bentuk

formulir Kartu Antar Kerja, 8) Melakukan kerjasama dengan Instansi/

Badan/Lembaga Masyarakat dalam rangka pembinaan kepada pencari kerja untuk

berusaha mandiri, 9) Melaksanakan kerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja dan

Transmigrasi dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten serta instansi

terkait dalam rangka mencari Informasi Pasar Kerja (IPK), Bursa Kerja dan

Informasi Ketenagakerjaan lainnya.

Salah satu sasaran atau tujuan dari Bursa Kerja Khusus (BKK) di SMK

adalah membantu mempersiapkan dan menyalurkan lulusan untuk memperoleh

pekerjaan yang sesuai minat, bakat dan kompetensi yang dimiliki. Untuk

mendukung tujuan tersebut dibutuhkan sarana dan prasarana (tempat, sistem

informasi, perlengkapan sekretariat), sumber daya manusia (pengelola), kreatif

dan inovatif serta dukungan dari pimpinan sekolah atau yayasan yang

bersangkutan. Dengan demikian agar tujuan tersebut dapat tercapai suatu proses

manajemen yang meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),

pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling) terhadap semua rencana

agar sesuai dengan tujuan bersama.

Perencanaan Pengorganisasian Pelaksanaan Pengawasan


(planning) (organizing) (actuating) (controlling)

Bagan 4.1. Teori manajemen menurut Terry


Perencanaan
Penetapan Strategi,
kemudiandirincikan ke
dalam berbagai rencana

Pengendalian Pengorganisasian
Proses
Menentukan prestasi, Mengkonfigurasikan
membandingkan dengan Manajemen tugas, pelaksana dan alat-
sasaran dan jika alat lainnya untuk
diperlukan mengarahkan melaksanakan rencana

Pengawasan
Mengawasi dan
menginspirasi
para pelaksana dan
kelompok
kerja
Bagan 4.2. Proses Manajemen

a. Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupaka proses pemilihan informasi dan pembuatan

asumsi-asumsi mengenai keadaan di masa yang akan datang untuk merumuskan

kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan yang

ditetapkan sebelumnya.

Terdapat berbagai bentuk rencana yang pada dasarnya dapat dibedakan

menjadi: (1) kebijaksanaan (policy) adalah rencana yang menerangkan

keseluruhan batasan kegiatan secara umum dan komprehensif yang menjadi

pegangan dalam pelaksanaaan kegiatan-kegiatan; (2) prosedur adalah rencana

yang mendefinisikan tata cara pengerjaan suatu kegiatan secara kronologis; (3)
metode adalah rencana yang menerangkan tindakan-tindakan yang harus

dilakukan untuk menjalankan suatu kegiatan; (4) standar adalah suatu gambaran

pencapaian yang diharapkan dari kegiatan-kegiatan yang direncanakan; (5)

anggaran yaitu rencana mengenai penerimaan dan pengeluaran uang dalam suatu

kegiatan; (6) program adalah rencana komprehensif yang menyangkut pemakaian

sumber daya secara integratif termasuk jadwal pelaksanaan kegiatan.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menyusun perencanaan

secara umum adalah sebagai berikut: (1) mendefinisikan persoaalan yang

direncanakan dengan jelas dan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan;

(2) mengumpulkan informasi-informasi yang berkenaan dengan kegiatan-kegiatan

yang mungkin akan terjadi dalam rangka pencapaian tersebut; (3) melakukan

analisis terhadap informasi yang dapat dikumpulkan dan mengklasifikasikan atas

kepentingannya; (4) menetapkan batasan-batasan perencanaan; (5) menetapkan

alternatif-alternatif rencana; (6) memilih rencana yang akan dipakai dari alternatif-

alternatif yang ada; (7) menyiapkan langkah-langkah pelaksanaan yang lebih rinci

serta jadwal pelaksanaannya; (8) melakukan pemeriksaan ulang (review) terhadap

rencana yang diusulkan sebelum rencana dilaksanakan.

b. Pengorganisasian (Organizing)

Organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan dan

pengelompokan kerja, mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang maupun

tanggung jawab dan menetapkan hubungan-hubungan kerja dengan maksud untuk

memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalammenuju tujuan

yang ditetapkan.
Suatu organisasi yang baik mempunyai ciri-ciri tertentu. Adapun ciri-ciri

tersebut antara lain: (1) adanya tujuan yang jelas; (2) adanya kesatuan arah dalam

organisasi; (3) adanya kesatuan perintah; (4) adanya keseimbangan antara tugas,

wewenang dan tanggung jawab; (5) struktur organisasi yang sesederhana

mungkin; (6) pola dasar organisasi harus mantap (mampu menghadapi berbagai

situasi); (7) setiap orang yang telah berjasa harus mendapatkan imbalan setimpal

sesuai dengan jasa yang telah diberikan kepada organisasi; (8) menetapkan orang

sesuai dengan ahlinya; (9) koordinasi, beberapa ahli mengemukakan tentang

koordinasi sebagai berikut: (a) menurut Fayol koordinasi berarti mengikat

bersama dan menyelaraskan kegiatan dan usaha; (b) menurut Terry, koordinasi

sinkronisasi yang teratur dari usaha-usaha untuk menciptakan kelayakan kuantitas,

waktu, pengarahan, persamaan yang menghasilkan keselarasan dan kesesuaian

tindakan untuk tujuan yang telah ditetapkan.

Koordinasi adalah prinsip umum di dalam semua organisasi, atau dapat

pula dikatakan bahwa koordinasi adalah prinsip pokok dalam organisasi.

Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsi-fungsi

dan hubungan-hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai

suatu sasaran. Secara fisik organisasi dapat dinyatakan dalam bentuk gambaran

grafik (bagan) yang memperlihatkan hubungan unit-unit organisasi dan garis-garis

wewenang.

Beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan bagan organisasi

adalah: (1) bagan organisasi dapat memperlihatkan karakteristik utama dari

perusahaan yang bersangkutan, (2) bagan organisasi dapat memperlihatkan

gambaran pekerjaan dan hubungan-hubungan yang ada di dalam lembaga atau


perusahaan; (3) bagan organisasi dapat digunakan untuk merumuskan rencana

kerja yang ideal sebagai pedoman untuk dapat mengetahui jalur koordinasi.

Bagan biasanya disusun secara piramidal, di bagian atas menyempit tapi

di bagian bawah melebar. Bagan tersebut memperlihatkan tingkatan-tingkatan

yang ada dalam suatu lembaga atau perusahaan.

Berikut ini adalah gambaran umum struktur organisasi Bursa Kerja

Khusus (BKK):

PELINDUNG
KA. DINAS NAKERTRANS
KA. DINAS PENDIDIKAN PROV

PEMBINA TEKNIS
KA. DINAS NAKERTRANS
KA. DINAS PENDIDIKAN KOTA

PENANNGGUNG JAWAB
KEPALA SEKOLAH

WAKIL PENANGGUNG JAWAB

KETUA BKK

SEKRETARIS BENDAHARA

PETUGAS PETUGAS PETUGAS PETUGAS


IPK DAN DIKLAT DAN PENDATAAN/ ADM/TU
KP/HUMAS BIM JABATAN REG (SI BKK)
Tugas Pelindung adalah melaksanakan pembinaan secara umum tentang

penyelenggaraan Bursa Kerja Khusus (BKK).

Tugas Pembina Teknis adalah 1) Memberi ijin pendirian BKK, 2)

Memberi pembinaan teknis penyelenggaraan BKK.

Tugas Penanggung jawab/Wakilpenanggung jawab adalah 1)

Bertanggung jawab penuh dalam pelaksanaan BKK, 2) Memberi arahan dalam

perencanaan program BKK, 3) Mengawasi dan memberi petunjuk dalam

pelaksanaan BKK, 4) Menetapkan BKK menjadi kebijakan sekolah, 5)

Mengalokasikan dana untuk kegiatan BKK, 6) Melaporkan hasil kerja BKK ke

kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Tugas Ketua BKK adalah 1) Merencanakan dan membuat program kerja,

2) Mengkonsultasikan program kerja, 3) Mengkoordinir pelaksanaan program

kerja, 4) Melaporkan hasil kegiatan BKK kepada Kepala Sekolah.

Tugas Sekretaris adalah 1) Mencatat kegiatan BKK, 2) Membuat surat-

surat, blangko-blangko dan administrasi BKK dan mendokumentasikannya, 3)

Menginformasikan lowongan kerja yang tersedia.

Tugas Bendahara adalah 1) Merencanakan anggaran biaya BKK, 2)

Menerima, mencatat, dan menyimpan keuangan BKK, 3) Mengeluarkan biaya

yang diperlukan atas persetujuan Ketua, 4) Membuat laporan keuangan BKK.

Tugas Petugas Informasi Pasar Kerja dan Kunjungan Perusahaan adalah

1) Menawarkan tamatan ke DU/DI, 2) Menerima permintaan calon tenaga kerja,

3) Menjalin hubungan dengan DU/DI, Disnakertrans, dan BKK lain, 4)

Melakukan pelepasan/pengiriman calon tenaga kerja.


Tugas Petugas DIKLAT dan Bimbingan Jabatan adalah 1) Memberi

pembekalan kepada calon tenaga kerja yang akan dikirim, 2) Memberikan

pendidikan da pelatihan tentang soft skill dan hard skill, 3) Menganalisa jenis

pekerjaan dan jabatan yang akan dimasuki oleh calon tenaga kerja, 4) Memberi

layanan konsultasi kepada tamatan yang sudah bekerja, 5) Melayani calon tenaga

kerja yang ingin berkonsultasi, 6) Melakukan tes wawancara calon tenaga kerja.

Tugas Petugas Administrasi/Tata Usaha adalah 1) Membantu kegiatan

sekretaris, 2) Menerima surat-surat masuk, 3) Menyampaikan informasi dari luar

kepada yang berkompeten, 4) Membuat daftar lowongan kerja yang tersedia, 5)

Membuat dan menyerahkan laporan bulanan, 6) Melayani pendaftaran calon

tenaga kerja, 7) Mencari dan mendata tamatan yang belum bekerja.

c. Pelaksanaan (Actuating)

Proses manajemen dalam hal ini adalah melaksanakan suatu rencana

yang sudah terorgansir dengan baik. Pada dasarnya prinsip dalam proses

manajemen ini adalah melakukan aktivitas yang sudah direncanakan dengan

sumber daya yang dimiliki (man, material, machine, methode, money) secara

profesional.

Langkah-langkah praktis dalam pelaksanaan ini adalah: (1) menempatkan

sumber daya manusia yang sesuai dengan kapasitas yang dimiliki (kreatif dan

inovatif); (2) memobilisasi sumber-sumber daya yang dimiliki oleh organisasi

agar dapat bergerak dalam satu kesatuan sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Dalam hal ini terkadang usaha-usaha bagaimana memotivasi orang agar dapat

bekerja dengan baik, bagaimana proses kepemimpinan yang memungkinkan

pencapaian tujuan serta dapat memberikan suasana hubungan kerja yang baik, dan
bagaimana mengkoordinasi orang-orang dan kegiatan dalam suatu organisasi; (3)

melakukan penjadwalan terhadap semua aktivitas kemudian dikoordinasikan

dengan pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi; (4) melakukan suatu

pengukuran dan pencatatan administrasi setiap aktivitas yang dilakukan; (5) selalu

melakukan koordinasi terhadap semua aktivitas agar prosesnya berjalan dengan

lancar dan baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan koordinasi antara

lain sebagai berikut: (1) rentang kendali (span of control) yaitu banyaknya orang

yang masihdapat dikendalikan oleh seseorang secara efektif. Pada dasarnya makin

banyak bawahan yang harus dikendalikan maka koordinasi juga semakin sulit.

Namun harus diingat bahwa jenis pekerjaan dan tingkat manajemen juga

mempengaruhi kemampuan tersebut; (2) hirarki organisasi sesedikit mungkin

sehingga perintah atau informasi jangan sampau terlambat atau menyimpang; (3)

adanya kesatuan komando.

Dalam melaksanakan kegiatan harus selalu dilakukan pencatatan

(notulen) kegiatan agar terdokumentasi.

d. Pengawasan (Controlling)

Pengendalian adalah proses penempatan apa yang telah dicapai, yaitu

proses evaluasi kinerja, dan jika diperlukan dilakukan perbaikan sesuai dengan

rencana yang telah ditetapkan. Kegiatan ini sangat erat kaitannya dengan kegiatan

perencanaan sebab pada kegiatan pengendalian inilah dilihat apakah yang

direncanakan tersebut dapat dicapai atau tidak.

Ada 4 (empat) pengendalian, yaitu 1) Pengendalian kuantitas; 2)

Pengendalian kualitas (mutu) meliputi a) Pengendalian Mutu Siswa, b)


Pengendalian Mutu Diklat/kurikulum, c) Pengendalian Mutu Pengajar/Instruktur,

d) Pengendalian Mutu Prakerin/Magang, e) Pengendalian Mutu Kompetisi

lulusan, f) Pengendalian Mutu Fasilitas/sarana/alat media, g) Pengendalian Mutu

Manajemen, h) Pengendalian jaringan Kemitraan; 3)Pengendalian waktu; 4)

Pengendalian biaya

Proses pengendalian dapat diterangkan sebagai berikut 1) Sebagai

langkah pertama dilakukan pengukuran terhadap kinerja yang telah ditampilkan

dalam selang waktu pengendalian tertentu, 2) Kemudian hasil yang dicapai

tersebut dibandingkan dengan standar-standar yang sudah ditetapkan dalam

rencana, maka proses manajemen terus dilakukan, jika tidak maka harus

dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap rencana yang telah dibuat sehingga

proses manajemen berulang kembali.

Sebagai kontrol terhadap kinerja dari sebuah organisasi atau

lembaga, maka perlu kontrol dan evaluasi dari pelaksanaan kegiatan sejauh

mana kegiatan itu berjalan sesuai dengan program yang direncanakan atau

sesuai tidaknya dengan tujuan awal organisasi yang termuat dalam AD/ART.

Indikator keberhasilan BKK dapat diukur dengan krteria sebagai berikut

1) Tercapainya pelayanan informasi ketenagakerjaan pada tamatan SMK yang

bisa bermanfaat bagi alumni dalam memudahkan akses lowongan pekerjaan

sesuai dengan relevansi kompetensi, potensi dan analisis jabatan, 2) Adanya

data tamatan SMK yang valid sesuai dengan kualifikasi alumni. Sehingga

akan mempermudah DU/DI dalam mengakses data dalam rangka pemenuhan

canaker di perusahaan, 3) Adanya data keterserapan tamatan SMK yang

diharapkan dapat mengetahui sejauh mana jumlah tamatan yang telah terserap di
DU/DI, 4) Adanya data penelusuran tamatan, yaitu untuk mengetahui keberadaan

tamatan secara keseluruhan baik yang bekerja, wirausaha, melanjutkan pendidikan

dan yang belum bekerja, Kegiatan ini dilakukan secara periodik, 5) Tercapainya

pengembangan hubungan kerjasama dengan DU/DI yang dibuktikan dengan

adanya MoU, baik berkaitan dengan proses rekruitmen maupun MoU dalam

bidang yang lain, 6) Terjalinnya hubungan alumni SMK dengan sekolah yang

dibuktikan dengan terbentuknya ikatan alumni dari SMK tersebut, 7) Adanya

sinkronisasi pembelajaran antara DU/DI dengan sekolah sehingga ada kesamaan

program pembelajaran yang ada disekolah sesuai dengan kompetensi yang

dibutuhkan oleh perusahaan, 8) Adanya pembelajaran soft skill, sebagai bekal

masuk dunia kerja dengan menghadirkan nara sumber dari perusahaan atau biro

konsultasi.

Dalam sebuah organisasi, unsur pembiayaan merupakan salah satu

komponen yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan/program. Dalam

pelaksanaan kegiatan pengelolaan BKK, sumber dana yang bisa digunakan dari

berbagai sumber dengan tidak menyimpang dari ketentuan Kepmenakertrans

No.230/MEN/2003 meliputi: pasal 4, (1) biaya penempatan tenaga kerja

dibebankan pada pemberi kerja (2) biaya penempatan tenaga kerja dapat dipungut

dari tenaga kerja untuk golongan dan jabatan tertentu, pasal 5 (2) golongan atau

jabatan dimaksud, menerima upah sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali upah

minimum yang berlaku di wilayah tersebut.

Pasal 6, besarnya biaya penempatan tenaga kerja yang dipungut dari

pemberi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), ditetapkan sesuai

dengan kesepakatan antara pemberi dan BKK/LPTKS, (2) Pemberi kerja dilarang
membebankan biaya penempatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada

tenaga kerja yang bersangkutan.

Pasal 7 (1) Besarnya biaya penempatan tenaga kerja yang dipungut dari

tenaga kerja golongan dan jabatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5,

ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pekerja/buruh dengan LPTKS dan

besarnya tidak melebihi 1 (satu) bulan upah yang diterima.

Dalam pelaksanaannya, sumber-sumber yang bisa digunakan antara lain

1) RAPB Sekolah dalam rangka memenuhi tujuan utama SMK yaitu keterserapan

tamatan di DU/DI, 2) Bantuan dari DU/DI perekrut tamatan dengan catatan

disepakati kedua belah pihak sejak awal proses perekrutan sehingga tidak

mengganggu kerjasama yang terjalin, 3) Bantuan operasional dari naker yang

dinyatakan diterima dalam proses rekruitment dengan kesepakatan kedua belah

pihak sebelum dilakukan proses rekruitmen atau secara sukarela, 4) Hasil usaha

yang sah dari kegiatan organisasi serta dari sumbangan/hibah yang sifatnya tidak

mengikat.

E. Penutup

Pedoman manajemen BKK SMK ini disusun sebagai rambu-rambu yang

masih bersifat umum. Implementasi dari pedoman ini memerlukan penyesuaian

dan penyempurnaan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan Du/Di. Oleh sebab

itu pihak pengelola selaku komponen penyelenggara diharapkan dapat

mengembangkan dengan inovasi dan kreatifitas dan disesuaikan dengan program-

program yang sudah dicanangkan dan telah diselenggarakan.


Pedoman ini bersifat fleksibel, terutama yang berkaitan dengan

pendanaan dan pengembangan SDM. Pendanaan disini dapat diperoleh dari

berbagai sumber. Namun, pendanaan BKK SMK harus tercantum dalam RAPBS

untuk menjamin terlaksananya program-program BKK SMK.