Anda di halaman 1dari 10

Nama : Ria Yolanda Arundina

NIM : 175100600111008

Kelas : H

BAB I : KESEJARAHAN PANCASILA

1. Pancasila Sebagai Kristalisasi Nilai-Nilai Bangsa

Pada Sidang Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan selaku ketua lembaga


tersebut, Dr. Rajiman Wedyodiningrat meminta kepada para anggota sidang untuk
mengemukakan dasar (negara) Indonesia merdeka. Dari sekian respon yang
diberikan, Ir Soekarno adalah tokoh yang menonjol dalam menyampaikan
pendapatnya terkait bentuk dasar negara yang harus dimiliki “calon bangsa dan
negara Indonesia”. Bung Karno, telah memahami bahwa bangsa yang besar harus
ditopang oleh norma-norma, nilai-nilai, ataupun pandangan dunia yang telah
membentuk bangsanya. Maka Sokarno telah menemukan mutiara nusantara yang
sekarang dikenal dengan nama Pancasila. Pancasila adalah sistem nilai dan
pandangan dunia yang terpendam dan hadir di dalam sanubari bangsa Indonesia.
Pancasila dalam pengertian definitifnya merupakan saripati nilai-nilai bangsa
Indonesia yang telah dihayati dan terkristalisasi dalam perikehidupan seluruh bangsa
Indonesia.

2. Periodesasi Sejarah Pancasila

Istilah periodesasi dapat diartikan sebagai rentetan atau urutan waktu


kesejarahan yang membentuk sebuah peristiwa dan alasan mengapa peristiwa itu
terjadi. Pemikiran tentang pancasila juga mengalami lintasan waktu yang terbagi
menjadi beberapa fase dan masih menggejala hingga saat ini. Ada dua konsep pokok
periodesasi pemikiran pancasila yang akan digunakan sebagai pendekatan. Pertama,
menteoritisasi fase pemikiran Pancasila menjadi tiga yaitu fase “pembuahan”, fase
perumusan dan fase pengesahan.

3. Zaman Purbakala dan Kerajaan-Kerajaan Nusantara

Sebagai kristalisasi nilai-nilai dan pandangan hidup, tentu benih-benih


pancasila telah ada dan hidup dalam alam pikiran dan tindakan bangsa ini berates
ratus tahun lamanya.

a. Pada zaman Purbakala misalnya, sebelum pengaruh agama-agama datang,


masyarakat Indonesia telah bersikap religius-spiritual yang kita kenal dengan
penganut animisme dan dinamisme. Berdasarkan kesejarahan purba tadi,
nyata bahwa bangsa Indonesia sudah memiliki nilai spiritualitas yang tinggi.
b. Pada zaman Kerajan Kutai Kartanegara misalnya, kita telah mengenal dan
menemukan nilai-nilai,seperti nilai sosial politik, dan Ketuhanan dalam
bentuk kerajaan, kenduri dan sedekah kepada para Brahmana. Hal ini terkait
dengan nilai-nilai integrasi sosial, kebersamaan, serta nilai ketuhanan.
c. Perkembangan sosial dalam Kerajaan Sriwijaya juga telah mengenalkan nilai-
nilai maupun pandangan-pandangan tentang dasar kedatuan, yakni kerajaan.
d. Pada masa Kerajaan Majapahit, kita mengenal sumpah palapa patih Gajah
Mada: Tidak akan berhenti bekerja, sebelum nusantara bersatu. Semboyan
dan Istilah-istilah seperti Bhinneka Tunggal Ika, Nusantara, Pancasila sudah
ada pada periode ini.
e. Pada Masa Kerajaan Kerajaan Islam, Islam sebagai agama baru, telah mulai
dipeluk oleh banyak Kerajaan-kerajaan di Nusantara. Tentu agama baru ini
telah banyak memberi sumbangsih bagi terbentuknya pandangan dunia baru
bagi masyarakat Nusantara. Islam telah memberi daya dorong terbentuknya
masyarakat religius baru dengan penekanan pada nilai-nilai kesamaan yang
merupakan hak yang melekat pada diri manusia.

4. Zaman Pergerakan Nasional

Sejak kolonialisme menjangkarkan kuasanya di bumi Nusantara, Khususnya


pada masa VOC dan Pemerintah Hindia Belanda, bangsa Indonesia mulai sedikit
demi sedikit menyemai kesadaran nasionalnya: yakni bersatu secara bersama-sama
untuk mengusir penjajahan yang menguasai mereka berabad-abad lamanya. Namun
begitu sejak VOC dan Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukan kebijakan-
kebijakan mengurangi perlawanan pemerintah Belanda secara frontal, maka belanda
mulai memikirkan Kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan taraf kehidupan
ekonomi, budaya, dan pendidikan, melaui pendirian sekolah-sekolah, kebijakan
politik etis, pembentukan dewan rakyat (volkraad), dll. Namun semangat
menjinakkan bangsa terjajah ini justru nanti akan menjadi senjata ampuh untuk
penyebaran gagasan anti-imperialisme, nasionalisme, persatuan, dan gelora mengusir
tuannya sendiri (penjajah Belanda).

Pergulatan ide-ide kebangsaan Indonesia tersebut selanjutnya telah


menciptakan monumen kebangsaan bernama: Sumpah pemuda (28 Oktober 1928).
Nilai-nilai, gagasan-gagasan, ide-ide, serta ideologi-ideologi kebangsaan yang
terkulminasi dalam “sumpah Pemuda” tentu merupakan hasil dari pertemuan gagasan
dan nilai-nilai modern yang berasal dari dunia lain, dan sekaligus merupakan
rangkaian kontinum dan persambungan nilai-nilai lama yang telah meresap dan
mengendap dalam sanubari para pejuang kemerdekaan kita. Dari persenyawaan
inilah selanjutnya pancasila sebagai dasar negara dan pemersatu bangsa menemukan
pijakan material dari khasanah pandangan dunia bangsa Indonesia.
5.Zaman Kemerdekan

Dalam sidang pertama BPUPKI (29 mei 1945-1 Juni 1945), Muhammad
Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas lima hal, yaitu:
Ketuhanan Yang Maha Esa; Persatuan Indonesia; Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan
Beradab; Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan; Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Selain itu, usul yang sedikit lebih sistematis juga dikemukakan oleh Soepomo. Ia
mengemukakan pentingnya prinsip-prinsip: Ketuhanan; Kemanusian; Persatuan;
Permusyarawatan; Keadilan/kesejahteraan

Dari usulan-usulan dan gagasan-gasan yang disampaikan oleh anggota-


anggota sidang tentu hal ini memberi masukan penting khususnya bagi Soekarno.
Lima hal inilah yang diuraikan Soekarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 untuk
menjawab tantangan atau pemintaan ketua sidang BPUPKI tentang philosofische
grond-slag seperti diungkapkan mengenai dasar Negara dalam pidatonya sebagai
berikut: Kebangsaan Indonesia; Perikemanusiaan / internasionalisme;
Mufakat/Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan yang berkebudayaan.

Untuk mempertimbangkan usul tersebut, pada akhir sidang pertama BPUPKI,


tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI akhirnya bersepakat untuk membentuk
sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk dan
memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Panitia Kecil yang
beranggotakan sembilan orang ini diketuai oleh Soekarno, dan merupakan sebuah
langkah untuk mempertemukan pandangan dua golongan, yakni antara golongan
nasioanalis dan golongan Islam, menyangkut dasar Negara ini. Dengan komposisi
seperti ini akhirnya pada tanggal 22 juni 1945, panitia kecil (panitia Sembilan) ini
berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal
dengan sebutan “Piagam Jakarta”.

6. Zaman Setelah Kemerdekaan

Pada awal dekade 1950-an itu juga mulai muncul silang-pendapat dan
inisiatif dari sejumlah tokoh yang hendak melakukan interpretasi ulang terhadap
Pancasila. Saat itu muncul perbedaan perspektif yang dikelompokkan dalam dua
kubu. Yakni kelompok pertama berusaha menempatkan Pancasila lebih dari sekedar
kompromi politik atau kontrak sosial. Sedangkan kelompok kedua berusaha
menempatkan Pancasila hanya sebagai sebuah kompromi politik. Dasar
argumentasinya adalah fakta yang muncul dalam siding-sidang BPUPKI dan PPKI.
Pancasila pada saat itu benar-benar merupakan kompromi politik di antara golongan
nasionalis netral agama dan nasionalis Islam mengenai dasar Negara. Akhirnya
presiden republic Indonesia Soekarno mengambil langkah taktis dengan
mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 yang berisi: Pembubaran konstituante; Undang-
Undang Dasar 1945 kembali berlaku; dan Pembentukan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Sementara.

Sejak 1959, dekrit prsiden mengakhiri perdebatan ideologis yang terjadi di


majelis konstituante dan menginstruksikan pembentukan majelis permusyawaratan
sementara. Sejak berlakukannnya demokrasi terpimpin, Pancasila benar-benar tampil
secara hegemonik sebagai “ideologi negara” dengan penafsiran negara. Soekarno
menafsirkan pancasila sebagai kesatuan paham dan doktrin“Manipol/USDEK”.
Manipol/USDEK oleh Soekarno dianggap sebagai langkah untuk menyatukan
fragmentasi ideologi dalam tubuh masyarakat yang terbelah dalam kubu Nasionalis,
Islam, dan Komunis. Namun kondisi ‘keterbelahan’ masyarakat ini akhirnya sudah
dipertahankan. Peristiwa G/30/S 1965 pecah. Pembunuhan pimpinan teras jenderal
jenderal di angkatan Darat memicu konflik masyarakat. Pada tanggal 23 februari
1967 akhirnya presiden Soekarno akhirnya dilengserkan dan Soeharto dilantik
sebagai pejabat Presiden RI.

7. Zaman Orde Baru

Soeharto, menetapkan secara resmi tanggal 1 Oktober sebagai hari Kesaktian


Pancasila. Bahkan karena kekhawatiran perbedaan berlarut-larut terkait pancasila,
Orde Baru sepertinya benar-benar mendambakan stabilitas dan persatuan, setelah
trauma perselisihan yang terjadi pada orde sebelumnya. Dan Karenanya Soeharto
benar-benar ingin menjadikan Pancasila Ideologi tunggal “demi melaksanakan
Pancasila dan amanat UUD 1945 secara murni dan konsekuen”.

Wajah Orde Baru lambat laun semakin menampilkan sikap otoriternya.


Pancasila sebagai dasar negara ditafsir secara tunggal dan dijadikan alat untuk
menopang kekuasaan Soeharto, sekaligus juga dijadikan benteng ampuh untuk
menekan kelompok-kelompok yang menyuarakan secara kritis penyalahgunaan
kekuasaan yang dilakukan oleh Orde Baru. Stabilitas politik dijadikan tameng yang
ampuh menekan kelompok-kelompok oposisi demi langgengnya praktik kebijakan
orde baru yang dipenuhi oleh Nepotisme, Kolusi, maupun korupsi, sehingga pada 21
mei 1998, rakyat, mahasiswa, LSM, maupun rakyat Indonesia secara luas
menyerukan “reformasi”. Soeharto akhirnya lengser.

8. Zaman Reformasi—Hingga Sekarang

Praktik intolerasi baik berdasar konflik etnis, agama, maupun penguasaan


sumber daya sungguh menjadi keprihatinan bersama karena telah membelah prinsip
persatuan nasional yang telah dibangun bertahun-tahun lamanya. Namun begitu,
secara resmi keputusan atau kesepakatan Pancasila menjadi dasar Negara Republik
Indonesia secara normatif ternyata tercantum dalam ketetapan MPR. Ketetapan ini
terus dipertahankan, meskipun ketika itu Indonesia akan menghadapi Amandeman
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.

Berangkat dari keprihatinan akan terkoyaknya perahu/kapal bersama bernama


Indonesia, beberapa tokoh maupun institusi mengambil inisiatif. Azyumardi Azra,
misalnya, sekitar tahun 2004 menggagas perlunya rejuvenasi Pancasila sebagai
faktor integratif dan salah satu fundamen identitas nasional. Seruan demikian tampak
signifikan karena proses amandeman UUD 1945 saat itu sempat memunculkan
gagasan menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Sekretariat Wapres Republik
Indonesia, pada tahun 2008/2009 secara intensif melakukan diskusi-diskusi untuk
merevitalisasi sosialisasi nilai-nilai Pancasila. Sungguh usaha-usaha yang telah
dirintis untuk “meremajakan Pancasila” karena telah terlalu menjadi alat kepentingan
politik orde Baru perlu terus menerus digalakkan dan dilanjutkan.

BAB II : PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Sila-sila Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya


merupakan suatu kesatuan organik. Sila-sila dalam pancasila saling berkaitan, saling
berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Sila yang satu senantiasa
dikualifikasikan oleh sila-sila lainnya. Dengan demikian, Pancasila pada hakikatnya
merupakan suatu sistem, dalam pengertian bahwa bagian-bagian (sila-silanya) saling
berhubungan secara erat sehingga membentuk suatu struktur yang menyeluruh.

Kesatuan sila-sila Pancasila pada hakekatnya bukanlah hanya merupakan


kesatuan yang bersifat formal logis saja, namun juga meliputi kesatuan dasar
ontologis, dasar epistimologis, serta dasar aksiologis dari sila Pancasila.

a. Dasar Ontologis

Dasar Ontologis Pancasila pada hakekatnya adalah manusia yang memiliki


hakekat mutlak. Subyek pendukung pokok-pokok Pancasila adalah manusia, hal ini
dijelaskan sebagai berikut : “Bahwa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmah permusyawaratan/perwakilan, serta yang berkeadilan social
adamah manusia Demikian juga jikalau kita pahami dari segi filsafat Negara, adapun
pendukung pokok Negara adalah rakyat, dan unsure rakyat adalah manusia itu
sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakekat dasar
ontopologis sila-sila pancasila adalah manusia.

Manusia sebagai pendukung pokok sila-sila pancasila secara ontologism


memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan kodrat, raga dan jiwa,
jasmani dan rohani, sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk individu dan
makhluk social, serta kedudukan kodrat manusia sebagai pribadi berdiri sendiri dan
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kedudukan kodrat manusia
sebagai makhluk pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk Tuhan inilah maka
secara hirarkis sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa mendasari dan menjiwai
keempat sila-sila pancasila lainnya.

b. Dasar Epistemologis

Dasar epistimologis Pancasila sebagai suatu system filsafat pada hakekatnya


juga merupakan suatu system pengetahuan. Dalam kehidupan sehari-hari pancasila
merupakan pedoman atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas
alam semesta, manusia, masyarakat, bangsa dan Negara tentang makna hidup serta
sebagai dasar bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup
dan kehidupan. Pancasila dalam pengertian yang demikian ini telah menjadi suatu
system cita-cita atau keyakinan-keyakinan yang telah menyengkut praksis, karena
dijadikan landasan bagi cara hidup manusia atau suatu kelompok masyarakat dalam
berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal ini berarti filsafat telah menjelma
menjadi ideology (Abdul Gani, 1998). Sebagai suatu ideology maka panasila
memiliki 3 unsur pokok agar dapat menarik loyalitas dari para pendukungnya yaitu :
Logos, yaitu rasionalitas atau penalarannya; Pathos, yaitu penghayatannya; dan
Ethos, yaitu kesusilaannya. Sebagai suatu system filsafat atau ideology maka
pancasila harus memiliki unsur rasional terutama dalam kedudukannya sebagai suatu
system pengetahuan.

c. Dasar Aksiologis

Nilai-nilai pancasila termasuk nilai kerohanian, tetapi nilai-nilai kerohanian


yang mengakui nilai material dan vital. Dengan demikian nilai-nilai pancasila
tergolong nilai kerohanian, yang juga mengandung nilai-nilai lain secara lengkap dan
harmonis, yaitu nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan, atau
estetis, nilai kebaikan atau nilai moral ataupun nilai kesucian yang secara
keseluruhan bersifat sistematik hierarkhis, dimana sila pertama sebagai basisnya
sampai sila kelima sebagai tujuannya (Darmo diharjo).

Pancasila sebagai sistem filsafat yaitu suatu konsep tentang dasar negara yang
terdiri dari lima sila sebagai unsur yang mempunyai fungsi masing-masing dan satu
tujuan yang sama untuk mengatur dan menyelenggarakan kehidupan bernegara di
Indonesia. Filsafat negara kita ialah Pancasila, yang diakui dan diterima oleh bangsa
Indonesia sebagai pandangan hidup. Dengan demikian, Pancasila harus dijadikan
pedoman dalam kelakuan dan pergaulan sehari-hari.

Sebagaimana pandangan hidup bangsa, maka sewajarnyalah asas-asas


pancasila disampaikan kepada generasi baru melalui pengajaran dan pendidikan.
Pansila menunjukkan terjadinya proses ilmu pengetahuan, validitas dan hakikat ilmu
pengetahuan (teori ilmu pengetahuan).
Pancasila sebagai sistem filsafat memberi arah agar kesejahteraan dan
kemakmuran bertolak dari keyakinan manusia yang percaya kepada kebesaran
Tuhan, kesejahteraan yang berlandaskan paham kemanusiaan, kesejahteraan yang
memihak pada kesatuan dan persatuan serta kebersamaan sebagai suatu kesatuan
bangsa yang utuh dan bulat.

BAB III : PANCASILA SEBAGAI JALAN TENGAH IDEOLOGI DUNIA

Secara hakiki, ideologi adalah hasil refleksi manusia berkat


kemampuanya mengadakan distansi terhadap dunia kehidupannya. Keduanya
(ideologi dan kenyataan hidup) terkait secara dialektis, sehingga berlangsung
pengaruh timbal balik yang terwujud di dalam interaksi yang di satu pihak
memacu ideologi makin realistis dan di lain pihak mendorong masyarakat
makin mendekati bentuk ideal. Singkatnya, ideologi pada dasarnya merupakan
dasar hidup kolektif yang berasal dari penggalian diri. Untuk dapat menilai
sebuah pandangan bersiap ideologis maka diperlukan sikap kritis, sebab ideologi
bukanlah istilah yang bersifat netral.

Terdapat dua macam pembagian tipe ideologi. Yang pertama adalah


tipe yang dikategorisasikan berdasarkan gerakan pengaplikasiannya dan yang
kedua berdasarkan sifat keterbukaannya. Berdasarkan pengaplikasiannya dibagi
menjadi: konservatif,reformis, revolusioner, dan kontra ideologi. Berdasarkan
keterbukaannya, dibagi menjadi: ideologi tertutup dan ideologi terbuka. Ideologi
bukan han ya sekedar pengetahuan teoritis belaka, tetapi merupakan sesuatu
yang dihayati menjadi keyakinan. Ideologi adalah suatu pilihan yang membawa
komitmen untuk mewujudkannya. Semakin mendalam kesadaran ideologisnya
semakin tinggi komitmen untuk melaksanakannya.

Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara, sebab Pancasila adalah


rumusan tentang cita-cita bangsa dan negara, cita -cita berdasarkan kesadaran
kebangsaan sekaligus cita-cita penyelenggaraan pemerintahan negara. Ideologi
merupakan suatu rangkaian kesatuan cita -cita yang mendasar dan menyeluruh yang
jalin menjalin menjadi suatu sistem pemikiran yang logis bersumber dari pandangan
hidup (falsafah hidup bangsa). Pandangan hidup bangsa Indonesia adalah pluralitas
atau keberagaman, yang berasal dari cit a-cita kesatuan bangsa. Sebuah ideologi
diarahkan untuk bisa diaktualisasikan secara mendasar dan nyata/konkrit.
Singkatnya, ideologi, di samping menyangkut kadar kefilsafatan juga
menyangkut praksis. Pada level kefilsafatan ideologi bersifat sistem pemikiran, cita-
cita, ide dan bahkan norma, sementara bersifat praksis menyangkut
operasionalisasi, strategi dan doktrin.

Pancasila yang merupakan belief-system yang bersifat evolutif perlu memuat


tiga dimensi, yakni dimensi realita, idealisma, dan fleksibilita. Pancasila sebagai
suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun ersifat terbuka. Hal ini
dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat aktual, dinamis,
antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman
(memenuhi syarat -syarat dimensi fleksibilita). Keterbukaan ideologi Pancasila
bukan berarti mengubah nilai -nilai dasar Pancasila namun mengeksplisitkan
wawasannya secara kongkrit.

Kebedaan Pancasila sebagai ideologi negara senantiasa diperbandingkan


dengan ideologi-ideologi besar dunia. Perbandingan ini dapat menjadi bukti
bahwa ideologi Pancasila merupakan ideologi integral yang digali dari nilai -
nilai luhur bangsa, bukan berasal dari dominasi ideologi besar dunia yang sedang
menguasai pandangan dunia kala Indonesia lahir. Perbandingan ini juga
menjadikan wacana.

Di orde lama, Pancasila diletakkan sebagai alat untuk mempersatukan


berbagai aliran ideologi. Ikhtiar tersebut dilakukan oleh Soekarno dengan
memberi tafsir Pancasila sebagai satu kesatuan paham dalam doktrin
Manipol/Usdek. Manipol (manifesto politik) adalah materi pokok pidoto
Soekarno tanggal 17 Agustus 959 berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”
yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Pertimbangan Agung (DPA) menjadi
GBHN.

Filsafat adalah pemikiran ilmiah dan rasional dengan klaim validitas


universalitas, falsafah adalah hasil dari kegiatan filsafati. Kemudian,
weltanschauung (pandangan hidup atau pandangan dunia) adalah pandangan
yang lebih relatif, personal, eksistensial dan historikal. Filsafat tidak otomatis
menjadi pandangan hidup. Untuk menjadi sebuah weltanschauung, sebuah falsafaf
harus menjadi sikap dan pendirian orang atau sekelompok orang tentang dunia
kehidupan.

Soekarno memposisikan Pancasila sebagai ideologi yang berasal dari


pandangan hidup rakyat Indonesia. “Pancasila” sebagai pandangan
hidup/pandangan dunia (weltanschauung) bangsa Indonesia hendak dijadikan
ideologi nagara”. Posisi ini mirip dengan posisi yang dikonsepkan oleh Engels.
Bahwa ideologi adalah weltanschauung yang diorientasikan dan
disistematisasikan secara ilmiah-filosofis bagi operasional pemerintahan
Indonesia.

BAB IV : PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat


Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9
Juni 1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah
dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar
negara Republik Indonesia. Memorandum DPR-GR itu disahkan pula oleh MPRS
dengan Ketetapan No.XX/MPRS/1966.

Dengan syarat utama sebuah bangsa menurut Ernest Renan: kehendak untuk
bersatu (le desir d’etre ensemble) dan memahami Pancasila dari sejarahnya dapat
diketahui bahwa Pancasila merupakan sebuah kompromi dan konsensus nasional
karena memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan
masyarakat Indonesia.

Maka Pancasila merupakan intelligent choice karena mengatasi


keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya
perbedaan. Penetapan Pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan
perbedaan (indifferentism), tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan
empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka “Bhinneka Tunggal Ika”.

Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa


negara Indonesia adalah Negara Pancasila. Hal itu mengandung arti bahwa negara
harus tunduk kepadanya, membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundang-
undangan. Mengenai hal itu, Kirdi Dipoyudo (1979:30) menjelaskan: “Negara
Pancasila adalah suatu negara yang didirikan, dipertahankan dan dikembangkan
dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi
semua warga bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan beradab), agar masing-
masing dapat hidup layak sebagai manusia, mengembangkan dirinya dan
mewujudkan kesejahteraannya lahir batin selengkap mungkin, memajukan
kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat, dan
mencerdaskan kehidupan bangsa (keadilan sosial).”

Pandangan tersebut melukiskan Pancasila secara integral (utuh dan


menyeluruh) sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang
didirikan di atasnya, dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk
melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa
Indonesia. Perlindungan dan pengembangan martabat kemanusiaan itu merupakan
kewajiban negara, yakni dengan memandang manusia qua talis, manusia adalah
manusia sesuai dengan principium identatis-nya.

Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan
keseragaman sistematikanya melalui Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 itu
tersusun secara hirarkis-piramidal. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang
saling mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat
dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari pembenarannya pada sila lainnya
adalah tindakan sia-sia. Oleh karena itu, Pancasila pun harus dipandang sebagai satu
kesatuan yang bulat dan utuh, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Usaha memisahkan
sila-sila dalam kesatuan yang utuh dan bulat dari Pancasila akan menyebabkan
Pancasila kehilangan esensinya sebagai dasar negara.

Sebagai alasan mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan


yang bulat dan utuh ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat
diantitesiskan satu sama lain. Secara tepat dalam Seminar Pancasila tahun 1959,
Prof. Notonagoro melukiskan sifat hirarkis-piramidal Pancasila dengan
menempatkan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” sebagai basis bentuk piramid
Pancasila. Dengan demikian keempat sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila
“Ketuhanan Yang Mahaesa”. Secara tegas, Dr. Hamka mengatakan: “Tiap-tiap orang
beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu
yang perlu dibicarakan lagi, karena sila yang 4 dari Pancasila sebenarnya hanyalah
akibat saja dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar


negara sesungguhnya berisi:

1. Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang
ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang
ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.

3. Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan


yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/


perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil
dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa,
yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan
ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/
perwakilan.