Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM FISIKA DASAR 1

GESEKAN PADA BIDANG MIRING

Disusun Oleh :
1. Lukman Ajiz (0621 11 031)
2. Fajar Dwi Fauzi Hidayat (0621 11 058)
3. Nur’aini (0621 11 061)

Tanggal Percobaan : 21 Oktober 2011


Asisten Dosen :
1. Angela Mariam B.,S. Si
2. Anggun A. Sulis

PRODI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2011-2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tujuan percobaan


Dengan dilakukannya percobaan ini, maka mahasiswa dapat mencari koefisien gesekan statis dan
kinetis, percepatan dan kecepatan benda yang bergerak meluncur pada bidang miring.

1.2. Dasar Teori


1.2.1. Gaya Gesek
Gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan
benda akan bergerak. Gaya gesek muncul apabila dua buah benda bersentuhan. Benda-benda
yang dimaksud di sini tidak harus berbentuk padat, melainkan dapat pula berbentuk cair, ataupun
gas. Gaya gesek antara dua buah benda padat misalnya adalah gaya gesek statis dan kinetis,
sedangkan gaya antara benda padat dan cairan serta gas adalah gaya Stokes. Di mana suku
pertama adalah gaya gesek yang dikenal sebagai gaya gesek statis dan kinetis, sedangkan suku
kedua dan ketiga adalah gaya gesek pada benda dalam fluida.
Gaya gesek dapat merugikan dan juga bermanfaat. Panas pada poros yang berputar,
engsel pintu dan sepatu yang aus adalah contoh kerugian yang disebabkan oleh gaya gesek. Akan
tetapi tanpa gaya gesek manusia tidak dapat berpindah tempat karena gerakan kakinya hanya
akan menggelincir di atas lantai. Tanpa adanya gaya gesek antara ban mobil dengan jalan, mobil
hanya akan slip dan tidak membuat mobil dapat bergerak. Tanpa adanya gaya gesek juga tidak
dapat tercipta parasut.
Gaya gesek merupakan akumulasi interaksi mikro antar kedua permukaan yang saling
bersentuhan. Gaya-gaya yang bekerja antara lain adalah gaya elektrostatik pada masing-masing
permukaan. Dulu diyakini bahwa permukaan yang halus akan menyebabkan gaya gesek (atau
tepatnya koefisien gaya gesek) menjadi lebih kecil nilainya dibandingkan dengan permukaan
yang kasar, akan tetapi dewasa ini tidak lagi demikian. Konstruksi mikro (nano tepatnya) pada
permukaan benda dapat menyebabkan gesekan menjadi minimum, bahkan cairan tidak lagi dapat
membasahinya (efek lotus) pada permukaan daun (misalnya setetes air di atas daun keladi).

Terdapat dua jenis gaya gesek antara dua buah benda yang padat saling bergerak lurus,
yaitu gaya gesek statis dan gaya gesek kinetis, yang dibedakan antara titik-titik sentuh antara
kedua permukaan yang tetap atau saling berganti (menggeser). Untuk benda yang dapat
menggelinding, terdapat pula jenis gaya gesek lain yang disebut gaya gesek menggelinding
(rolling friction). Untuk benda yang berputar tegak lurus pada permukaan atau ber-spin, terdapat
pula gaya gesek spin (spin friction). Gaya gesek antara benda padat dan fluida disebut sebagai
gaya Coriolis-Stokes atau gaya viskos (viscous force).

Gaya gesek statis adalah gesekan antara dua benda padat yang tidak bergerak relatif satu
sama lainnya. Seperti contoh, gesekan statis dapat mencegah benda meluncur ke bawah pada
bidang miring. Koefisien gesek statis umumnya dinotasikan dengan μs, dan pada umumnya lebih
besar dari koefisien gesek kinetis.
Gaya gesek statis dihasilkan dari sebuah gaya yang diaplikasikan tepat sebelum benda
tersebut bergerak. Gaya gesekan maksimum antara dua permukaan sebelum gerakan terjadi
adalah hasil dari koefisien gesek statis dikalikan dengan gaya normal f = μs Fn. Ketika tidak ada
gerakan yang terjadi, gaya gesek dapat memiliki nilai dari nol hingga gaya gesek maksimum.
Setiap gaya yang lebih kecil dari gaya gesek maksimum yang berusaha untuk menggerakkan
salah satu benda akan dilawan oleh gaya gesekan yang setara dengan besar gaya tersebut namun
berlawanan arah. Setiap gaya yang lebih besar dari gaya gesek maksimum akan menyebabkan
gerakan terjadi. Setelah gerakan terjadi, gaya gesekan statis tidak lagi dapat digunakan untuk
menggambarkan kinetika benda, sehingga digunakan gaya gesek kinetis.
Gaya gesek kinetis (atau dinamis) terjadi ketika dua benda bergerak relatif satu sama
lainnya dan saling bergesekan. Koefisien gesek kinetis umumnya dinotasikan dengan μk dan
pada umumnya selalu lebih kecil dari gaya gesek statis untuk material yang sama.

Yang memperngaruhi gaya gesek adalah sebagai berikut :


1. Koefisien gesekan ( μ ) adalah tingkat kekasaran permukaan yang bergesekan. Makin kasar
kontak bidang permukaan yang bergesekan makin besar gesekan yang ditimbulkan.
Jika bidang kasar sekali , maka μ = 1.
Jika bidang halus sekali , maka μ = 0.
2. Gaya normal (N) adalah gaya reaksi dari bidang akibat gaya aksi dari benda. Makin besar gaya
normalnya makin besar gesekannya.
Cara merumuskan gaya normal adalah dengan memakai persamaan hukum I Newton,
yaitu ;
 Benda di atas bidang datar ditarik gaya mendatar

N = w = m.g
 Benda di atas bidang datar ditarik gaya membentuk sudut

 Benda di atas bidang miring membentuk sudut

1.2.2. Hubungan antara Gaya Gesek dengan Hukum Newton 1 dan Hukum Newton 2.
Hukum pertama Newton menyatakan bahwa sebuah benda dalam keadaaan diam atau
bergerak dengan kecepatan konstan akan tetap diam atau akan terus bergerak dengan kecepatan
kostan kecuali ada gaya eksternal yang berkerja pada benda itu. Kecenderungan yang
digambarkan dengan mengatakan bahwa benda mempunyai kelembaman.
Pada Hukum pertama dan kedua Newton dapat dianggap sebagai definisi gaya. Gaya adalah
suatu pengaruh pada sebuah benda yang menyebabkan benda mengubah kecepatannya, artinya,
dipercepat. Arah gaya adalah percepatan yang disebabkan jika gaya itu adalah satu-satunya gaya
yang bekerja pada benda tersebut. Besaran gaya adalah hasil kali massa benda dan besaran
percepatan yang dihasilkan gaya.
Sedangkan Massa adalah sifat instrinsik sebuah benda yang mengukur resistansinya
terhadap percepatan.
F = m.a
Hukum kedua Newton menetapkan hubungan antara besaran dinamika gaya dan massa dan
kinematika percepatan, kecepatan dan perpindahan. Hal ini bermanfaat karena memungkinkan
menggambarkan aneka gejala fisika yang luas dengan menggunakan sedikit hukum gaya yang
relative mudah.
BAB II
ALAT DAN BAHAN

2.1. Peralatan yang Digunakan


1) Papan luncur
2) Mistar ukur
3) Stopwatch

2.2. Bahan yang Digunakan


1) 3 buah balok kayu

BAB III
METODA KERJA

1. Diletakkan balok di atas bidang luncur pada tempat yang sudah diberi tanda. Ukur panjang
lintasan yang akan dilalui oleh benda (St).
2. Diangkat bidang luncur perlahan-lahan hingga balok pada kondisi akan meluncur. Diukur posisi
vertikal (y) dan horizontal (x) balok.
3. Diangkat bidang luncur sedikit ke atas lagi hingga balok meluncur. Dengan menggunakan
stopwatch diukur waktu yang diperlukan balok selama meluncur sepanjang lintasan tadi.
4. Diulang percobaan nomor 1 sampai 3 lima kali, kemudian hitung koefisien gesek statis (µs),
percepatan (a), koefisien gesek kinetis (µk), dan kecepatan benda pada saat mencapai ujung
bawah bidang luncur (Vt).
5. Dilakukan percobaan diatan dengan menggunakan benda lain.

BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

4.1. Data Pengamatan


Berdasarkan data percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan tanggal 21 Oktober 2011,
maka dapat dilaporkan hasil sebagai berikut.
Keadaan ruangan P (cm)Hg T (oC) C (%)
Sebelum percobaan 74,6 30,5 65 %
Sesudah percobaan 74,7 30 77 %

Balok A
Massa : 114,6 gram
N
x y r t sin α cos α µs µk a v α
o
42,8 0,59 0,80 408,1 285,7 36,2
1 34,4 25,3 0,7 0,736 0,217
2 1 3 6 1 9
0,61 0,79 37,7
2 33,3 25,8 42,1 0,8 0,775 0,372 312,5 250
3 1 3
33,8 25,5 42,4 0,7 0,60 0,79 0,755 360,3 267,8 37,0
x 0,294
5 5 6 5 2 7 5 3 5 1
∆x 0,55 0,25 0,36 0,0 0,01 0,00 0,019 0,077 47,83 17,85 0,72
5 1 6 5 5

Balok B
Massa : 123,1 gram
N
x y r t sin α cos α µs µk A v α
o
38,6 0, 0,87 0,12 555,5 333,
1 29 25,5 0,660 0,751 41,29
2 6 8 4 5 3
0, 0,88 0,12 555,5 333,
2 28,5 25,8 38 0,663 0,75 41,52
6 4 8 5 3
28,7 25,5 38,3 0, 0,661 0,750 0,88 0,12 555,5 333, 41,40
x
5 5 1 6 5 5 1 6 5 3 5
0,001 0,000 0,00 0,00
∆x 0,25 0,25 0,31 0 0 0 0,115
5 5 3 2

Balok C
Massa : 109,2 gram
sin cos
No x y r t µs µk a v α
α α
1 28,2 25,4 37,9 0,79 0,67 0,74 0,905 0,463 320,51 253,20 42,06
2 28,5 25,3 38,1 0,69 0,65 0,74 0,892 0,299 420,16 289,91 41,29
x 28,35 25,35 38 0,74 0,66 0,74 0,8985 0,381 370,33 271,55 41,675
∆x 0,15 0,05 0,1 0,05 0,01 0 0,0065 0,082 49,825 36,355 0,385

4.2. Perhitungan
1. Balok A
 Perhitungan x

= 0,55

Ketelitian =
=
= 98,37 %

 Perhitungan y

= 0,25

Ketelitian =
=
= 99,02 %

 Perhitungan r
= 0,36

Ketelitian =
=
= 99,15 %

 Perhitungan t

= 0,05

Ketelitian =
=
= 93,33 %

 Perhitungan sin α

= 0,011

Ketelitian =
=
= 81,73 %

 Perhitungan cos α

= 0,006

Ketelitian =
=
= 99,24 %
 Perhitungan µs

= 0,0195

Ketelitian =
=
= 97,42 %

 Perhitungan µk
g = 980 cm/s2

= 0,0775

Ketelitian =
=
= 73,68 %

 Perhitungan a
st = 100cm

= 47,33

Ketelitian =
=
= 86,86 %

 Perhitungan V
= 17,85

Ketelitian =
=
= 93,33 %

 Perhitungan α

= 0,72

Ketelitian =
=
= 98,05 %

2. Balok B
 Perhitungan x

= 0,25

Ketelitian =
=
= 98,13 %

 Perhitungan y

= 0,15

Ketelitian =
=
= 99,40 %

 Perhitungan r

= 0,31

Ketelitian =
=
= 99,19 %
 Perhitungan t

=0

Ketelitian =
=
= 100 %

 Perhitungan sin α

= 0,0015

Ketelitian =
=
= 99,77 %

 Perhitungan cos α

= 0,0005

Ketelitian =
=
= 99,93 %

 Perhitungan µs

= 0,003

Ketelitian =
=
= 99,67 %
 Perhitungan µk
g = 980 cm/s2

= 0,002
Ketelitian =
=
= 98,41 %

 Perhitungan a
st = 100cm

=0

Ketelitian =
=
= 100 %

 Perhitungan V

=0

Ketelitian =
=
= 100 %

 Perhitungan α

= 0,115

Ketelitian =
=
= 99,72 %

3. Balok C
 Perhitungan x

= 0,15

Ketelitian =
=
= 99,47 %
 Perhitungan y

= 0,15

Ketelitian =
=
= 99,40 %

 Perhitungan r

,1

= 0,1

Ketelitian =
=
= 99,73 %

 Perhitungan t

= 0,05

Ketelitian =
=
= 93,24 %

 Perhitungan sin α

= 0,01

Ketelitian =
=
= 98,48 %

 Perhitungan cos α

=0

Ketelitian =
=
= 100 %

 Perhitungan µs

= 0,0065

Ketelitian =
=
= 99,27 %

 Perhitungan µk
g = 980 cm/s2

= 0,082
Ketelitian =
=
= 78,47 %

 Perhitungan a
st = 100cm
370,33

= 49,825

Ketelitian =
=
= 86,55 %

 Perhitungan V

= 36,355

Ketelitian =
=
= 97,25 %

 Perhitungan α

= 0,115

Ketelitian =
=
= 99,64 %
BAB V
PEMBAHASAN

Gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan
benda akan bergerak. Gaya gesek muncul apabila dua buah benda bersentuhan. Benda-benda
yang dimaksud di sini tidak harus berbentuk padat, melainkan dapat pula berbentuk cair, ataupun
gas. Gaya gesek merupakan akumulasi interaksi mikro antar kedua permukaan yang saling
bersentuhan. Gaya-gaya yang bekerja antara lain adalah gaya elektrostatik pada masing-masing
permukaan. Dulu diyakini bahwa permukaan yang halus akan menyebabkan gaya gesek (atau
tepatnya koefisien gaya gesek) menjadi lebih kecil nilainya dibandingkan dengan permukaan
yang kasar.
Permukaan bidang yang kasar akan membuat gesekan semakin besar sehingga kecepatan
laju balok sedikit lambat atau lebih cepat balok yang permukaannya licin atau halus, pada saat
mendorong benda secara terus-menerus maka akan muncul fs (arah gaya gesek) yang membesar
sampai benda itu tepat bergerak, setelah benda bergerak, gaya gesek menurun sampai mencapai
nilai yang tepat, keadaan itu dikenal dengan gaya gesek kinetis. Maka gesekan kinetis akan besar
ketika sedut kemiringan itu rendah, sedang semakin tinggi gaya gesek semakin kecil.
Maka percepatannya akan berbeda antara balok yang beratnya ringan dengan yang lebih
berat. Sebab massa juga mempengaruhi kecepatan dan gaya. Seperti pada Hukum Newton 2
F = m. a
Dari rumus tersebut dapat dibuktikan bahwa massa dan percepatan berbanding lurus.
Pada sudut kemiringan bidangnya lebih besar benda yang lebih berat dikarenakan terjadi
tekanan pada bidang miring dengan berat benda yang menyebabkan hambatan, sedangkan benda
yang lebih ringan akan mengalami tekanan pada bidang lebih kecil, yang menghasilkan sudut
kemiringan lebih kecil pula.
Kecepatannya lebih cepat yang ringan, karena berat balok mempengaruhi tekanan balok ke
bidang kasar, sehingga gesekan semakin besar, bisa dihubungkan dengan W = m x g. jadi ada
gravitasi yang mempengaruhi gesekan dan mempengaruhi terhadap kecepatan.
 Kecepatan pada Balok A, massa = 114,6 gram

 Kecepatan pada Balok B, massa 123,1 gram

 Kecepatan pada Balok C, massa 123,1 gram

BAB VI
KESIMPULAN
Dari percobaan, pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut.
 Gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan benda akan
bergerak.
 Massa pada balok mempengaruhi kecepatan meluncur balok tersebut diatas bidang miring
 Sudut kemiringan bidang mempengaruhi kecepatan dan waktu tempuh balok saat meluncur
 Perhitungan hasil percobaan dilakukan dengan bantuan fungsi SD pada kalkulator

LAMPIRAN
Tugas Akhir
1. Apa yang dapat anda simpulkan hubungan antara kekasaran balok (koefisien gesek statis)
dengan sudut kemiringan bidang luncur.
2. Jika dua balok yang beratnya berbeda tetapi kekasarannya sama, apa yang dapat anda simpulkan
mengenai:
a. Sudut kemiringan bidangnya
b. Percepatan (pada α yang sama)
c. Kecepatan pada jarak tempuh dan waktu yang sama. Perkuat pendapat anda dengan rumus-
rumus yang berlaku pada teori.

Jawab
1. Permukaan bidang yang kasar akan membuat gesekan semakin besar sehingga kecepatan laju
balok sedikit lambat atau lebih cepat balok yang permukaannya licin atau halus, pada saat
mendorong benda secara terus-menerus maka akan muncul fs (arah gaya gesek) yang membesar
sampai benda itu tepat bergerak, setelah benda bergerak, gaya gesek menurun sampai mencapai
nilai yang tepat, keadaan itu dikenal dengan gaya gesek kinetis. Maka gesekan kinetis akan besar
ketika sedut kemiringan itu rendah, sedang semakin tinggi gaya gesek semakin kecil
2. a. Sudut kemiringan bidangnya lebih besar benda yang lebih berat dikarenakan terjadi tekanan pada
bidang miring dengan berat benda yang menyebabkan hambatan, sedangkan benda yang lebih
ringan akan mengalami tekanan pada bidang lebih kecil, yang menghasilkan sudut kemiringan
lebih kecil pula.
b. Maka percepatannya akan berbeda antara balok yang beratnya ringan dengan yang lebih berat.
Sebab massa juga mempengaruhi kecepatan dan gaya. Seperti pada Hukum Newton 2
F = m. a
Dari rumus tersebut dapat dibuktikan bahwa massa dan percepatan berbanding lurus.
c. Kecepatannya lebih cepat yang ringan, karena berat balok mempengaruhi tekanan balok ke
bidang kasar, sehingga gesekan semakin besar, bisa dihubungkan dengan W = m x g. jadi ada
gravitasi yang mempengaruhi gesekan dan mempengaruhi terhadap kecepatan.
 Kecepatan pada Balok A, massa = 114,6 gram

 Kecepatan pada Balok B, massa 123,1 gram

 Kecepatan pada Balok C, massa 123,1 gram

DAFTAR PUSTAKA

Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penerbit Erlangga

Halliday dan Resnick, 1991, Fisika Jilid I, Terjemahan, Jakarta : Penerbit Erlangga

Young, Hugh D. & Freedman, Roger A., 2002, Fisika Universitas (terjemahan),Jakarta : Penerbit
Erlangga

Tipler, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta

Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar . Universitas Pakuan. Bogor

Anda mungkin juga menyukai