Anda di halaman 1dari 7

1

Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)


2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

Uji Antimikroba Curcuma spp. Terhadap Pertumbuhan Candida albicans,


Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

Antimicrobial test of Curcuma spp. on the growth of Candida albicans,


Staphylococcus aureus and Escherichia coli

*)
Rahmi Adila , Nurmiati dan Anthoni Agustien
Laboratorium Mikrobiologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Andalas, Kampus UNAND Limau Manis Padang – 25163
*)
Koresponden : adilarahmi56@gmail.com

Abstract

A study about the effect of fresh extract of Curcuma spp on the growth of Candida albicans,
Staphylococcus aureus and Escherichia coli was conducted from March to July 2012 at
Microbiology Laboratory, Faculty of Sciences Andalas University. This experiment used nested
completely randommized design. The result showed that fresh extracts of Curcuma spp. have
different growth inhibition effects on C. albicans, S. aureus dan E. Coli. Temulawak (Curcuma
xhantorrhiza) has the highest inhibition effect to the growth of C. albicans (13.07 mm), S. aureus
(15.75 mm) and E. coli (31.56 mm). The lowest bactericidal consentration of fresh extract rhizome
of temulawak for E. coli were 12.5% and 25%, but there is no inhibition effect to the C. albicans
and S. aureus.

Keywords: Curcuma, antimicrobial, extract, pathogen microbial

Pendahuluan Curcuma banyak dimanfaatkan


sebagai antimikroba karena kandungan
Penyakit infeksi seperti saluran pernafasan senyawa aktifnya mampu mencegah
dan diare salah satu penyebab kematian pertumbuhan mikroba. Tanaman ini terdiri
terbesar di dunia (Jayalakhsmi, Ravesha dan dari beberapa spesies diantaranya Curcuma
Amruthes, 2011) disebabkan oleh mikroba xanthorriza (temulawak), C. domestica
patogen (Jawetz, Melnick, dan Adelberg’s, (kunyit), C. mangga (temu mangga), C.
2005). Selama ini penyakit infeksi diatasi zedoaria (temu putih), C. heyneana (temu
dengan menggunakan antibiotika. giring), dan C. aeruginosa (temu hitam)
Penggunaan antibiotika yang tidak rasional (Tjitrosoepomo, 1994). Rimpang Curcuma
bisa membuat mikroba patogen menjadi ini sering digunakan dalam pengobatan
resisten (Refdanita, et al., 2004) dan tradisonal (Hernani dan Rahardjo, 2002)
munculnya mikroba resisten ini penyebab diantaranya mengobati keputihan, diare, obat
utama kegagalan pengobatan penyakit infeksi jerawat dan gatal-gatal (Rukmana, 2004).
(Ibrahim, et al., 2011). Oleh sebab itu, Curcuma juga berpeluang sebagai obat
diperlukan alternatif dalam mengatasi infeksi yang disebabkan oleh mikroba
masalah ini dengan memanfaatkan bahan- patogen seperti C. albicans, S. aureus dan E.
bahan aktif antimikroba dari tanaman obat. coli (Jawetz, et al., 2005). Penggunaan
Curcuma ini sebagai obat tradisional dapat
2
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

dalam bentuk ekstrak segar, seduhan, rebusan Penentuan daerah bebas mikroba
dan pemurnian (Dzulkarnain, et al., 1996). menggunakan metode difusi (Bonang dan
Menurut Padiangan (2010) ekstrak C. Koeswardono, 1979). Medium SDA dan
xanthorriza mampu menghambat MHA steril dituangkan pada cawan petri
pertumbuhan Bacillus cereus, E. coli, sebanyak 15 ml secara aseptis dan dibiarkan
Penicilium sp dan Rhizopus oryzae. Meilisa memadat. Lidi kapas steril dicelupkan ke
(2009) menyatakan ekstrak etanol rimpang suspensi mikroba uji setara Mc.Farland’s 0,5,
temulawak mampu menghambat kemudian dioleskan ke permukaan medium
pertumbuhan bakteri E. coli. Chen, et al., sampai rata. Diletakkan secara aseptis cakram
(2008) menyatakan kandungan senyawa (telah ditetesi dengan ekstrak segar Curcuma
dalam temu putih dan kunyit mampu masing–masing sebanyak 20µl) pada
menghambat pertumbuhan S. aureus dan E. permukaan medium. Diinkubasi pada suhu
coli. Namun belum ditemukan informasi yang 370C selama 18-24 jam. Dilakukan
menyatakan ekstrak segar enam jenis pengamatan dan pengukuran diameter daerah
rimpang Curcuma yang paling efektif dalam bebas mikroba yang terbentuk sekitar cakram
menghambat mikroba uji. menggunakan jangka sorong
Berdasarkan uraian di atas belum ada Penentuan Nilai KHM dan KBM
laporan yang menyatakan bahwa ekstrak menggunakan metoda dilusi (Bonang dan
segar rimpang Curcuma yang terbaik dalam Koeswardono, 1979). Suspensi ditanam pada
menghambat pertumbuhan mikroba uji dan tabung dengan penambahan ekstrak segar
pada konsentrasi berapa yang mampu rimpang Curcuma sesuai konsentrasi tertentu
menghambat dan membunuh pertumbuhan dan diinkubasi selama 24 jam. Suspensi
mikroba uji tersebut. kemudian diambil lalu ditumbuhkan pada
medium MHA/SDA, diinkubasi pada suhu
Metode Penelitian 37°C selama 24 jam. Amati pertumbuhan,
hitung jumlah koloni lalu tentukan angka
Alat dan bahan KHM dan KBM. KHM adalah konsentrasi
Ekstrak segar rimpang enam jenis Curcuma terkecil yang masih dapat menghambat
yang digunakan adalah dalam bentuk perasan pertumbuhan mikroba uji sedangkan KBM
segar. Biakan C. albicans american type merupakan konsentrasi tertinggi yang mana
culture center 10231, S. aureus ATCC 25923 mampu membunuh pertumbuhan mikroba uji.
dan E. coli ATCC 25922, diperoleh dari
Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Analisa Data
Kedokteran, Universitas Indonesia. Media Data yang diperoleh pada metoda difusi di
yang digunakan yaitu Sabouraud Dextrosa analisis secara statistik dalam bentuk
Agar, Sabouraud Dextrosa Broth, Muller Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola nested
Hilton Agar dan Muller Hilton Broth. dan hasil metoda dilusi dilakukan
Peralatan yang digunakan terdiri dari: pengamatan secara deskriptif.
autoklafe, kertas cakram, mikrometer, jarum
ose, petri, testube, elenmeyer dan pinset Hasil dan Pembahasan

Cara Kerja Diameter Daerah Bebas (Zona


Rimpang Curcuma dicuci bersih dan Hambat/Halo) Mikroba Uji
disterilisasi permukaan dengan alkohol 70%.
Rimpang Curcuma dikupas, dicuci dengan air Uji antimikroba ekstrak segar rimpang enam
mengalir dan dibilas dengan aquadest steril. jenis Curcuma terhadap C. albicans, S.
Kemudian rimpang digerus, diperas dan aureus dan E. coli, menunjukkan bahwa
disaring. Hasil saringan disentrifus selama 5 semua ekstrak Curcuma tersebut mampu
menit dengan kecepatan 10.000 rpm. menghambat pertumbuhan mikroba uji. Rata-
3
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

rata diameter zona hambat mikroba ekstrak bahwa flavonoid dapat menghambat
segar rimpang enam jenis Curcuma ini pembentukan protein sehingga menghambat
terhadap C. albicans berkisar antara 9-13 pertumbuhan mikroba. Selain flavonoid
mm, S. aureus berkisar 8-15 mm dan E. coli kandungan senyawa lain seperti senyawa
berkisar 9-31 mm. Temulawak memberikan tanin juga dapat merusak membran sel.
pengaruh yang berbeda nyata dibandingkan Cowan (1999) menyatakan bahwa senyawa
dengan ekstrak segar Curcuma lainnya yang tanin dapat merusak pembentukan konidia
pengaruh sama terhadap ketiga mikroba uji. jamur. Kandungan senyawa lain seperti
Pengaruh yang diberikan terlihat dari alkaloid dalam rimpang Curcuma mampu
diameter zona hambat yang terbentuk (Tabel mendenaturasi protein sehingga merusak
1 dan Gambar 1-3). aktivitas enzim dan menyebabkan kematian
Terbentuknya diameter zona hambat sel (Robinson, 1991).
hal ini dikarenakan ekstrak segar rimpang Berdasarkan kategori daya hambat di
Curcuma memiliki senyawa aktif yang atas, temulawak lebih sensitif dalam
bersifat sebagai antimikroba, Rukmana menghambat pertumbuhan ketiga mikroba uji
(2004) berpendapat bahwa rimpang Curcuma dibandingkan dengan Curcuma lain terutama
mengandung senyawa aktif diantaranya pada bakteri E. Coli. Bahkan diameter zona
terpenoid, alkaloid, flavonoid, minyak atsiri, hambat yang dibentuk melebihi diameter
fenol dan kurkuminoid yang berfungsi kontrol positif khlorampenikol (29 mm)
sebagai antimikroba sehingga sering dibandingkan dengan S. aureus dan C.
digunakan dalam ramuan obat tradisonal. albicans. Pada rimpang Curcuma terdapat
Duryatmo (2003) menambahkan Curcuma kandungan senyawa aktif yang bersifat
merupakan tanaman multikhasiat mampu antimikroba. Nur (2006) menyatakan
mengobati berbagai macam penyakit seperti temulawak sangat sensitif terhadap ketiga
penyakit infeksi. mikroba uji. Diduga ekstrak segar rimpang
Diameter daya hambat ekstrak segar temulawak memiliki senyawa antimikroba
rimpang Curcuma dapat dikelompokkan yang khas yaitu xhantorrizol yang tidak
berdasarkan kategori daya hambat Davis dimiliki oleh rimpang Curcuma lainnya
Stout dalam Rita (2010). Ekstrak segar walaupun hanya dalam jumlah yang sangat
rimpang temulawak dikategorikan sangat kecil. Hal ini sesuai dengan pernyataan
kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Hansel (1980) yaitu senyawa zhantorrizol
E. coli (31,56 mm) karena melebihi standar pada temulawak ≥ 6 % sedangkan pada
kategori daya hambat ≥20 mm dan dikatakan kunyit ≥ 3%.
sedang dalam menghambat S. aureus (15,75 Senyawa xhantorrizol merupakan
mm) dan C. albicans (13,07 mm) dengan senyawa aktif antimikroba utama yang
standar daya hambat 10-20 mm. Daya hambat terdapat dalam rimpang temulawak. Hwang
yang dibentuk Curcuma lainnya berkisar 8-11 (2000) menyatakan xhantorrizol secara
mm hal ini dikategorikan sedang (S) (5-10 efisien dapat mengobati infeksi pada gigi dan
mm) (Tabel. 2). penyakit kulit. Aktivitas antimikroba dari
Respon daya hambat pertumbuhan xanthorrizol mempunyai stabilitas yang baik
mikroba yang dihasilkan dipengaruhi oleh terhadap panas, yakni pada temperatur tinggi
kandungan senyawa aktif yang terdapat antara 60-121oC. Fatmawati (2008) juga
dalam rimpang Curcuma seperti minyak melaporkan bahwa xanthorrizol mampu
atsiri, alkaloid, flavonoid, tanin, kurkuminoid menghambat Streptococcus mutans dan S.
dan terpenoid (Rukmana, 2004). Menurut aureus.
Heinrich, et al., (2009) senyawa flavonoid
mampu merusak dinding sel sehingga Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
menyebabkan kematian sel. Hal ini sesuai dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM)
dengan pernyataan Sundari et. al., (1996)
4
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

Tabel 1. Rata-rata Diameter Daerah Bebas Mikroba Ekstrak Segar Rimpang Enam Jenis Curcuma
terhadap mikroba uji.

Diameter Daerah Bebas Mikroba (mm)


Rimpang Curcuma C. albicans S. aureus E. coli
C. xanthorriza (Temulawak) 13,07 a 15,75 a 31,56 a
C. domestica (Kunyit) 9,14b 9,25 b 10,16 b
C. mangga (Temu mangga) 9,95b 9,26 b 10,47 b
C. heyneana (Temu giring) 0,31b 9,26 b 9,93 b
C. zedoaria (Temu putih) 9,47 b 8,28 b 10,27 b
C. aeruginosa (Temu hitam) 0,21b 9,70 b 9,92 b
Kontrol Positif (Nistatin 1 %) 20,5 - -
Kontrol Positif (Klorampenikol) - 21 29
Ket. Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang tidak sama adalah berbeda nyata pada uji taraf 5%

Tabel 2. Daya Hambat Ekstrak Segar Rimpang Enam Jenis Curcuma Berdasarkan kategori Daya
Hambat Davis Stout cit. Rita 2010.

Kategori Daya Hambat


Rimpang Curcuma C. albicans S. aureus E. coli
C. xanthorriza (Temulawak) K K SK
C. domestica (Kunyit) S S S
C. mangga (Temu mangga) S S S
C. heyneana (Temu giring) S S S
C. zedoaria (Temu putih) S S S
C. aeruginosa (Temu hitam) S S S
Ket. : SK (Sangat Kuat), K (Kuat) dan S (Sedang), Menurut Davis Stout (Sumber: Ardiansyah 2004 cit. Rita
2010)

Tabel 3. Nilai KHM dan KBM dari Ektrak Segar Rimpang C. xanthorriza Terhadap Candida
albicans, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Mikroba uji Nilai KHM (%) Nilai KBM (%)
Candida albicans ATCC 10231 - -
Staphylococcus aureus ATCC 25923 - -
Escherichia coli ATCC 25922 12,5 25
Ket. : - tidak mampu menghambat dan membunuh mikroba uji

Nilai KHM ekstrak segar rimpang temulawak Senyawa aktif yang dihasilkan
terhadap pertumbuhan mikroba uji hanya ekstrak segar rimpang temulawak pada
didapatkan pada bakteri E. coli 12,5%, konsentrasi 25% sudah dapat membunuh
sedangkan nilai KBM dari ekstrak segar bakteri E. coli. Hal ini juga dapat
temulawak terhadap E. coli 25%, namun pada menunjukan bahwa pada konsentrasi 12,5%
C. albicans dan S. aureus tidak didapatkan ekstrak segar rimpang temulawak terhadap
nilai KHM dan KBM (Tabel 3). bakteri E. coli bersifat bakteriostatik,
5
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

sedangkan pada konsentrasi 25% ekstrak segar rimpang temulawak terhadap E. coli
segar rimpang temulawak dapat dikatakan masing-masing 12,5% dan 25%.
bersifat bakterisidal. Menurut Volk dan
Wheeler (1991), ekstrak temulawak pada Ucapan Terimakasih
konsentrasi rendah bersifat bakteriostatik dan
pada konsentrasi tinggi bersifat bakterisidal. Terima kasih kepada Dr. phil. nat Periadnadi,
Hal ini disebabkan semakin tinggi Dr. Nasril Nasir dan Zuhri Syam M.P., yang
konsentrasi ekstrak maka senyawa aktif telah memberikan saran dan masukan untuk
antimikroba yang terkandung makin banyak penelitian dan penulisan artikel. Ucapan
sehingga kemampuan untuk menghambat terimakasih juga ditujukan kepada
pertumbuhan mikroba semakin tinggi pula Faullinawati Hidayah, M.Si., atas bantuan
(Pelczar dan Chan, 1986). yang diberikan dalam penyediaan biakan
Pada C. albicans dan S. aureus bakteri pada penelitian ini.
ekstrak segar temulawak tidak dapat
membunuh pertumbuhan mikroba ini. Hal ini Daftar Pustaka
kemungkinan disebabkan oleh struktur dan
komposisi pada dinding sel E.coli yang Bonang, G. dan E. S. Koeswardono. 1979.
berbeda dengan S. aureus dan C. albicans. E. Mikrobiologi Kedokteran untuk
coli yang merupakan bakteri gram negatif Laboratorium dan Klinik. Gramedia.
dengan kandungan peptidoglikan pada Jakarta.
dinding sel lebih tipis (Pelczar dan Chan Chen, I. N., C. Chang, C. Wang, Y. Shyu and
1986). Terdapat protein porin pada membran T. L. Chang. 2008. Antioxidant
luar dinding sel E. coli yang berfungsi and Antimicrobial Activity of
sebagai saluran keluar masuknya senyawa Zingiberaceae Plants in Taiwan. Plant
aktif, sehingga senyawa aktif pada temulawak Foods. 63:15.
akan mudah masuk dan merusak aktivitas Cowan, M. 1999. Plants Products as
enzim sel yang menyebabkan kerusakan sel Antimicrobial Agents. Clinical
E. coli (Sunatmo, 2009). Selain itu, adanya Microbiology (12) 4: 564-582
kandungan lipid pada dinding sel mampu Duryatmo, S. 2003. Aneka Ramuan
memperbesar permeabilitas dinding sel Berkhasiat Temu-Temuan. Puspa
(Pelzcar dan Chan, 1986). Berbeda dengan Swara. Jakarta.
bakteri S. Aureus, bakteri gram positif yang Dzulkarnain, B., D. Sundari, dan A. Chosin.
memiliki peptidoglikan pada dinding sel lebih 1996. Tanaman Obat Bersifat
tebal sehingga membentuk suatu struktur Antibakteri di Indonesia. Cermin
yang kaku (Jawetz, et. al., 2001). Sedangkan Dunia Kedokteran (110). Dep.
pada C. Albicans, terjadi pembentukan Kesehatan RI. Jakarta.
klamidospora yaitu spora aseksual pada Fatmawati, D. A. 2008. Pola Protein dan
bagian ujung hifa yang membentuk dinding Kandungan Kurkuminoid Rimpang
yang tebal dan tampak seperti gram positif Temulawak (Curcuma xanthorrhiza
(Jawetz, et al., 2005) sehingga sulit ditembus Roxb.). [Skripsi]. FMIPA. ITB.
oleh senyawa antimikroba. Bandung.
Hansel, R. 1980. Pharmazeutische Biology.
Kesimpulan Springer-Verlag. Berlin.
Heinrich, M. 2009. Farmakognosi dan
Temulawak memberikan daya hambat terbaik Fitoterapi. Buku Kedokteran
terhadap ketiga mikroba uji (C. albicans Indonesia. Jakarta.
(13,07 mm), S. aureus (15,75 mm) dan E. Hernani dan Rahardjo. 2002. Tanaman
coli (31,56 mm). KHM dan KBM ekstrak Berkhasiat Antioksidan. Swadaya.
Jakarta.
6
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

6mm

1 2 3 4 5 6

Gambar 1. Diameter daerah bebas mikroba ekstrak segar rimpang enam jenis Curcuma terhadap
pertumbuhan C. albicans (Ket. : 1. Temulawak, 2. Kunyit, 3. Temu mangga, 4. Temu
giring, 5. Temu putih dan 6. Temu Hitam).

6mm

1 2 3 4 5 6
Gambar 2. Diameter daerah bebas mikroba ekstrak segar enam jenis rimpang Curcuma terhadap
pertumbuhan S. aureus (Ket. : 1. Temulawak, 2. Kunyit, 3. Temu mangga, 4. Temu
giring, 5. Temu putih dan 6. Temu Hitam).

6mm

1 2 3 4 5 6
Gambar 3. Diameter daerah bebas mikroba ekstrak segar enam jenis rimpang Curcuma terhadap
pertumbuhan E. Coli (Ket. : 1. Temulawak, 2. Kunyit, 3. Temu mangga, 4. Temu giring,
5. Temu putih dan 6. Temu Hitam).

Hwang, J. K. 2000. Xhantorrhizol a Potential Jawetz, E., J. L. Melnick dan E. Adelberg.


Antibacterial Agents from Curcuma 2005. Mikrobiologi Kesehatan.
xhantorrhiza Against Streptococcus Penerbit Buku Kesehatan. Jakarta.
mutans. Planta Med 66:196-197. Jayalakshmi, B., K. A. Ravesha and K. N.
Ibrahim, T.A., B. O. Opawale and J. M. A. Amruthes. 2011. Phytochemical
Oyinloye. 2011. Antibacterial activity Investigations and Antibacterial
of Herbal Extracts Against Multi Drug Activity of Some Medicinal Plants
Resistent Strains of Bacteria from Against Phatogenic Bacteria. Applied
Clinical Original. Life Sciences Pharmacheutical Science. 1(5):124-
Leaflets 15: 490-498. 128.
7
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
2(1) – Maret 2013 : 1-7 (ISSN : 2303-2162)

Meilisa. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Dan Intensif Rumah Sakit Fatmawati
Formulasi Dalam Sediaan Kapsul Jakarta. Makara Kesehatan. 8(2): 41-
Dari Ektrak Etanol Rimpang 48.
Tumbuhan Rita, W. S. 2010. Isolasi, Identifikasi dan Uji
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Aktivitas Antibakteri Senyawa
Terhadap Beberapa Bakteri. [Skripsi]. Golongan Triterpenoid Pada Rimpang
Universitas Sumatra Utara. Medan. Temu Putih. Jurnal Kimia 4(1):20-26.
Mira, S., Suharto., R. Utji, Agus, Tertia, Robinson, T. 1991. Kandungan Organik
Haidil. 2004. Standard Operating Tumbuhan Tingkat Tinggi. ITB.
Procedur (SOP) Pemeriksaan Bandung.
Mikrobiologi Klinik. Mikrobiologi Rukmana, R. 2004. Temu-temuan Apotik
Klinik. Fakultas Kedokteran. Hidup di Perkarangan. Kanisius.
Universitas Indonesia. Jakarta. Yogyakarta.
Nur, S. W. 2006. Perbandingan Sistem
Ekstraksi dan Validasi Penentuan Sundari, D., P. Kosasih, dan K. Ruslan. 1996.
Xhantorrhizol dari Temulawak Secara Analisis Fitokimia Ekstrak Etanol
Kromagtografi Cair Kinerja Tinggi. Daging Buah Pare (Momordica
[Skripsi]. ITB. Bandung. charantia L.). [Tesis]. Jurusan Farmasi.
Padiangan, M. 2010. Stabilitas Antimikroba Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Ekstrak Temulawak (Curcuma Tjitrosoepomo, G. 1994. Taksonomi
xanthorrhiza) Terhadap Mikroba Tanaman Obat-Obatan. UGM.
Patogen. Media Unika. 73(4): 365-373. Yogyakarta
Pelczar, M. J dan E. C. S. Chan. 1986. Dasar- Sunatmo, T.I. 2009. Mikrobiologi Esensial.
Dasar Mikrobiologi. Jilid 1. Penerbit Mikrobiologi IPB. Bogor.
Universitas Indonesia. Jakarta Volk, W. A. and M. F. Wheeler. 1991.
Refdanita, R. Maksum, A. Nurgani dan P. Mikrobiologi Dasar. Jilid 2. Erlangga.
Endang. 2004. Pola Kepekaan Kuman Jakarta.
Terhadap Antibiotik di Ruang Rawat