Anda di halaman 1dari 81

PEMERIKSAAN FISIK

BAYI DAN ANAK

(Antarini Idriansari - PSIK UNSRI)


PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan tahap pertama dalam proses


keperawatan.

Pada tahapan pengkajian, perawat


melakukan pengkajian terhadap data-data kesehatan
klien, baik yang diperoleh melalui wawancara, rekam
medis dan catatan keperawatan, laporan teman
sejawat, dan pemeriksaan fisik.
TUJUAN PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mengidentifikasi


status kesehatan melalui pengumpulan data-data
dasar dan riwayat kesehatan sebelumnya.

Hasil identifikasi status kesehatan tersebut pada


akhirnya akan menjadi landasan pengambilan
keputusan terkait rencana perawatan dan atau
pengobatan selanjutnya.
PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik, terdapat empat


teknik yang dapat dilakukan yaitu:
1. Inspeksi
2. Auskultasi
3. Perkusi
4. Palpasi
PERSIAPAN ALAT

1. Baki beralas
2. Termometer aksila, rektal, dan timpani (bila ada)
3. Tensimeter yang dilengkapi manset ukuran bayi
dan anak
4. Stetoskop anak
5. Penlight
6. Tounge spatel
7. Reflex hammer
8. Timbangan bayi dan anak
PERSIAPAN ALAT

9. Pengukur tinggi badan bayi dan anak


10. Meteran
11. Kapas dan kapas alkohol
12. Bengkok
13. Sarung tangan
14. Vaselin
15. Buku catatan dokumentasi
PERSIAPAN ANAK DAN KELUARGA

Persiapan anak dan keluarga sejatinya dapat dipahami


sebagai proses pengkondisian anak dan keluarga
mengenai tindakan pemeriksaan fisik yang
akan dilakukan.
PERSIAPAN ANAK DAN KELUARGA

Persiapan anak dan keluarga ini meliputi penjelasan


mengenai tujuan, tata laksana, dan estimasi waktu
yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan fisik,
sehingga diharapkan anak dan keluarga dapat
bekerjasama selama proses pemeriksaan fisik
berlangsung.
PERSIAPAN ANAK DAN KELUARGA
Oleh karena itu, adanya persiapan anak dan
keluarga menjadi suatu komponen yang penting
dalam pemeriksaan fisik karena persiapan anak dan
keluarga tidak lain turut menentukan keberhasilan
tindakan pemeriksaan fisik yang
akan dilakukan.
PERSIAPAN LINGKUNGAN

Beberapa persiapan lingkungan yang perlu dilakukan


selama pemeriksaan fisik berlangsung diantaranya
adalah:
1. Pencahayaan ruangan yang cukup
2. Privasi anak
3. Pengaturan suhu dan suasana ruangan yang
nyaman
TAHAPAN PEMERIKSAAN FISIK
BAYI DAN ANAK

A. Persiapan umum
B. Penilaian penampilan umum
C. Penilaian pertumbuhan
D. Penilaian tanda vital
E. Pemeriksaan fisik sistematis
F. Terminasi
A. PERSIAPAN UMUM

1. Cuci tangan dengan benar


2. Persiapan alat
3. Persiapan anak dan keluarga
4. Persiapan lingkungan
B. PENILAIAN PENAMPILAN UMUM

Penilaian terhadap penampilan umum bayi dan


anak diantaranya meliputi:
1. Postur tubuh
2. Kebersihan diri
3. Tingkat kesadaran
C. PENILAIAN PERTUMBUHAN

1. Berat Badan
Sebelum melakukan pengukuran, pastikan bahwa
timbangan menunjukkan angka nol.

Interpretasi pengukuran berat badan bayi dan


anak dapat dilakukan dengan melihat grafik
pertumbuhan ataupun tabel z-score.
C. PENILAIAN PERTUMBUHAN

2. Tinggi/Panjang Badan
Tinggi (panjang) badan diukur dari puncak kepala
sampai dengan tumit dengan posisi tubuh dan kaki
lurus.
Tandai hasil pengukuran pada grafik pertumbuhan
ataupun pada tabel z-score untuk menentukan
apakah pertambahan tinggi (panjang) badan berada
pada rentang normal atau tidak.
Interpretasi pengukuran berat badan dan
panjang badan (MTBS, 2008):

1. BB/TB < -3 SD : sangat kurus


2. BB/TB ≥ -3 SD - < -2 SD : kurus
3. BB/TB -2 SD - +2 SD : normal
C. PENILAIAN PERTUMBUHAN
3. Lingkar kepala
Lingkar kepala bayi dan anak diukur dengan
menggunakan meteran.
Letakkan meteran di atas area frontal kepala,
diteruskan ke area parietal dan oksipital.
Pemeriksaan lingkar kepala tersebut dilakukan
setiap bulan pada anak usia <1 tahun dan setiap
dua bulan pada anak usia >1 tahun.
C. PENILAIAN PERTUMBUHAN
3. Lingkar kepala
lingkar kepala diukur sampai usia 36 bulan dan
pada anak-anak yang memiliki masalah pada
ukuran kepala.
Ukuran normal lingkar kepala bayi baru lahir: 33-
35 cm.
Pertambahan ukuran lingkar kepala:
Usia 1-3 bulan: 2 cm/bulan
Usia 3-6 bulan: 1 cm/bulan
Usia 6-12 bulan: 0.5 cm/bulan
D. PENILAIAN TANDA VITAL
1. Suhu tubuh
Penilaian suhu tubuh dapat dilakukan pada daerah
seperti aksila, oral, membran timpani, dan rektal.

Suhu tubuh normal pada bayi dan anak berada


pada rentang nilai 36,50C-37,50C.

Lama pengukuran ± 3-5 menit,


bervariasi pada lingkup praktik.
D. PENILAIAN TANDA VITAL

2. Frekuensi pernapasan
Frekuensi pernapasan diukur selama satu menit
penuh. Adapun frekuensi pernapasan normal
sebagai berikut:
Usia 0-28 hari (neonatus) : 40-60 kali/menit
Usia >28 hari – 1 tahun (bayi): 30-40 kali/menit
Usia >1 tahun – 3 tahun (toddler): 20-30 kali/menit
Usia >3 tahun : 12-20 kali/menit
D. PENILAIAN TANDA VITAL

3. Denyut nadi
Pengukuran denyut nadi dilakukan selama satu
menit penuh melalui perabaan (palpasi).
Palpasi pada bayi dilakukan pada arteri brachialis
dan pada anak usia >2 tahun pada arteri radialis.
Adapun pada bayi, pemeriksaan denyut nadi dapat
pula dilakukan dengan cara auskultasi
pada area apikal jantung yaitu ICS 4-5
(di bawah puting).
D. PENILAIAN TANDA VITAL

Pengukuran denyut nadi meliputi pengukuran:


a. Frekuensi
Usia 0-28 hari (neonatus) : 120-160 kali/menit
Usia >28 hari – 1 tahun (bayi): 80-120 kali/menit
Usia >1 tahun – 12 tahun : 60-110 kali/menit
Usia remaja : 50-90 kali/menit
D. PENILAIAN TANDA VITAL

Pengukuran denyut nadi meliputi pengukuran:


b. Irama
Pada saat palpasi, kaji apakah irama denyut nadi
regular atau irregular.

c. Kedalaman
Pada saat palpasi, perhatikan pula apakah
kedalaman denyut nadi cukup atau kurang.
D. PENILAIAN TANDA VITAL

4. Tekanan darah
Manset yang digunakan untuk mengkur tekanan
darah disesuaikan dengan usia. Pengukuran
tekanan darah dilakukan pada anak usia >3 tahun
atau ada gejala hipertensi, kondisi emergensi, dan
perawatan intensif. Metode pengukuran tekanan
darah pada anak usia >3 tahun sama dengan
metode pengukuran pada orang dewasa.
D. PENILAIAN TANDA VITAL

Usia Sistolik Diastolik

Bayi 87-105 53-66

Anak-anak 95-105 53-66


(usia 2 tahun)

Anak-anak 97-112 57-71


(usia 7 tahun)
E. PEMERIKSAAN FISIK SISTEMATIS

Pemeriksaan fisik sistematis berikut ini akan


merujuk pada pemeriksaan fisik
yang dilakukan dari kepala sampai dengan
ekstremitas atau ‘’head to toe’’.
KEPALA

• Inspeksi bentuk kepala


• Inspeksi kebersihan kulit kepala dan rambut
• Inspeksi distribusi dan warna rambut
• Palpasi apakah ubun-ubun sudah menutup atau
belum
• Palpasi apakah terdapat benjolan, luka, atau
kelainan lainnya.
• Lakukan pengukuran lingkar kepala
MATA

• Inspeksi kebersihan dan kesimetrisan kedua mata,


warna sklera: putih jernih (normal), dan warna
konjunctiva: merah muda (normal).

• Kaji refleks kornea: dekatkan suatu objek ke kornea,


mata akan berkedip.

• Kaji refleks cahaya: jika diberi cahaya, pupil akan


berkonstriksi.
TELINGA

• Inspeksi kebersihan kedua lubang telinga dan


kondisi membran timpani.

• Inspeksi pula kesimetrisan kedua telinga dan


kesejajaran antara daun telinga dengan kantus
lateral mata.

• Kaji refleks startle: jika diperdengarkan


bunyi yang keras, lengan abduksi secara tiba-tiba.
HIDUNG
• Inspeksi kebersihan dan kesimetrisan letak hidung ,
keutuhan dan adakah deviasi septum nasal, serta
adakah pula keluaran sekret.

• Kaji pasase hidung dengan merasakan hembusan


napas pada punggung tangan atau gerakan kapas.

• Kaji refleks glabelar: ketuk glabelar (pangkal


hidung) dengan cepat maka mata akan berespon
dengan menutup rapat dan cepat.
MULUT DAN TENGGOROKAN

• Inspeksi kebersihan mulut

• Pada anak-anak, inspeksi kebersihan dan jumlah


gigi.

• Inspeksi keutuhan bibir, adakah kelainan kongenital


seperti labiopalatoschizis.
MULUT DAN TENGGOROKAN
• Kaji Refleks:
a. Rooting Reflex
Sentuh pipi sepanjang sisi mulut, bayi akan
bersepon dengan cara kepala mengikuti arah
stimulasi. Hilang pada usia 3-4 bulan, ditoleransi
sampai usia 12 bulan.
b. Sucking Reflex
Sentuh bibir bayi, bayi akan berespon dengan
cara menghisap kuat. Berlangsung selama fase
infant.
ROOTING REFLEX
SUCKING REFLEX
MULUT DAN TENGGOROKAN

c. Gag Reflex
Stimulasi pada posterior faring dengan tube atau
suction : respon bayi akan muntah.

d. Extrusion Reflex
Sentuh lidah dengan tongue spatel, bayi akan
mendorong lidah keluar. Hilang pada usia 4 bulan.
EXTRUSION REFLEX
LEHER

• Palpasi apakah ada pembesaran kelenjar limfe

• Pada bayi, kaji refleks:


a. Tonic neck reflex
Saat kepala bayi menengok ke salah satu
sisi, tangan dan kaki ekstensi ke sisi tersebut
sedangkan tangan dan kaki sisi lainnya fleksi.
Hilang pada usia 3-4 bulan.
LEHER

• Pada bayi, kaji refleks:


b. Neck righting reflex
Saat bayi miring ke salah satu sisi, sisi yang lain
ikut miring ke sisi tersebut.
D A D A (P A R U – P A R U)

• Diameter anterior-posterior = diameter transversal


• Inspeksi pengembangan paru: simetris atau tidak
simetris, irama reguler atau tidak, dan kedalaman
(dalam/dangkal).
• Inspirasi : ekspirasi = 1 : 2
• Kaji suara nafas
Dengarkan pada saat inspirasi, suara nafas normal:
vesikuler (terdengar pada lapang paru kiri dan
kanan)
D A D A (P A R U – P A R U)

• Pergerakan dinding dada: simetris/ tidak simetris


Letakkan kedua telapak tangan mendatar pada
bagian punggung atau dada dengan kedua ibu jari
berada pada garis tengah sepanjang pinggir iga
bagian bawah paru.
Anak harus duduk selama prosedur ini dan menarik
nafas dalam beberapa kali.
D A D A (P A R U – P A R U)

• Vokal fremitus:
Pengkajian dapat dilakukan saat anak menangis
atau dengan cara ajak anak untuk mengucapkan
‘’tujuh puluh tujuh’’, sambil letakkan telapak tangan
pemeriksa pada bagian dinding dada dekat apeks
paru: normal getaran sama besar antara kedua
paru.
D A D A (P A R U – P A R U)

• Perkusi paru-paru anterior dari bagian apeks ke


basal paru (anak dalam posisi telentang/ duduk).
Setiap sisi dada diperkusi dengan urutan yang
sesuai untuk membandingkan bunyinya. Suara
perkusi pada paru normal: resonan (terdengar
seperti dug dug dug).
D A D A (J A N T U N G)
• Batas-batas jantung:
ICS 2 kanan: aorta
ICS 2 kiri: pulmonal
ICS 3 kiri: mitral
ICS 4 kiri: apeks bayi
ICS 5 kiri: apeks anak
ICS 4 kanan: trikuspid
D A D A (J A N T U N G)

• Suara normal jantung : S1 dan S2 (“lub dub”)


S1 disebabkan oleh penutupan katup trikuspidalis
dan mitral. S2 adalah hasil dari penutupan katup
pulmonal dan aorta.

• S1 terdengar lebih kuat pada daerah apeks jantung.

• S2 terdengar lebih kuat pada daerah pulmonal dan


aorta.
D A D A (J A N T U N G)

• Sirkulasi
Capillary refilling time (CRT): normal < 3 detik.
Pada bayi dapat dikaji dengan cara menekan
telapak tangan atau telapak kaki.
Pada anak yang lebih besar dapat
dilakukan dengan cara menekan kuku.
ABDOMEN

• Inspeksi bentuk
Normalnya abdomen bayi dan anak berbentuk
silindris.

Pada posisi telentang, abdomen tampak datar.


Adapun pada posisi tegak, abdomen agak menonjol.
ABDOMEN

• Abdomen tampak cekung (skapoid) dapat dijumpai


pada bayi baru lahir yang mengalami hernia
diafragmatika serta pada bayi dan anak yang
mengalami malnutrisi, dehidrasi berat.

• Observasi apakah abdomen terlihat distensi


atau tidak. Lakukan pengukuran abdomen untuk
mengkaji peningkatan atau penurunan distensi.
Ukur lingkar abdomen tepat pada umbilikus.
ABDOMEN
• Inspeksi tali pusat
Pada bayi usia <28 hari, observasi apakah tali pusat
sudah puput atau belum.
• Observasi keadaan lain yang mungkin ditemukan:
apakah terdapat omfalokel, lesi atau bekas luka
lainnya.
• Auskultasi ada atau tidak ada persitaltik usus.
Normalnya suara peristaltik terdengar sebagai suara
(seperti berkumur) dengan intensitas rendah setiap
10-30 detik.
ABDOMEN

Daerah auskultasi abdomen

. .

. . . .
. . . .

. .
ABDOMEN

• Perkusi abdomen bertujuan untuk mengetahui


batas massa dan apakah terdapat asites.

• Perkusi dilakukan secara sistematis, mulai dari area


epigastrium menuju area abdomen bawah. suara
normal yang terdengar adalah tympani.
ABDOMEN
Perkusi abdomen:
ABDOMEN
Perkusi abdomen:
.
. .

. . .

. . .

. .
ABDOMEN

• Pada bayi, kaji turgor kulit dengan cara mencubit


abdomen. Observasi apakah kembali cepat atau
lambat.
• Palpasi abdomen dilakukan untuk mengetahui
adakah pembesaran massa seperti hati.
Pada keadaan normal, hati tidak teraba. Adapun
pada kasus pembesaran hati, hati dapat teraba 2-3
cm dibawah margin kosta kanan
EKSTREMITAS

• Inspeksi kebersihan ekstremitas dan kuku jari,


jumlah jari tangan dan kaki, simetris kanan-kiri atau
tidak.
• Pada bayi:
a. Observasi refleks grasp (menggenggam)
Apabila telapak tangan (palmar) atau telapak kaki
(plantar) bayi disentuh maka bayi akan
memberikan reaksi berupa fleksi atau
menggenggam.
EKSTREMITAS

• Respon palmar grasp menurun setelah usia 3


bulan dan respon plantar grasp menurun usia
8 bulan.
REFLEKS GRASP (GENGGAM)
EKSTREMITAS

b. Observasi refleks babinski: berikan tekanan kuat


tapi perlahan dari ibu jari yang dimulai dari tumit
menyusuri bagian lateral telapak kaki bayi dan
memutar menuju arah ibu jari.
Respon bayi: dorsofleksi ibu jari dan
pengembangan jari-jari lainnya seperti kipas.
Refleks ini menghilang setelah usia satu tahun.
REFLEKS BABINSKI
EKSTREMITAS

c.Observasi refleks merangkak (crawling): jika bayi


ditengkurapkan, bayi akan maju secara perlahan
seperti merangkak. Refleks ini ada sampai usia <6
minggu.

d.Observasi refleks gallant (trunk incurvation): jika


bagian sisi punggung sepanjang spina disentuh
maka pinggul bayi bergerak ke arah sisi yang
disentuh. Refleks ini menetap sampai usia <4
minggu.
REFLEKS CRAWLING (MERANGKAK)
REFLEKS GALLANT
EKSTREMITAS

e. Observasi refleks moro


Kaji dengan cara mengagetkan bayi maka bayi akan
memberikan respon berupa ekstremitas ekstensi
dan abduksi dengan cepat, kadang disertai
menangis. Refleks ini paling kuat pada usia 1-2
bulan, menghilang usia 3-4 bulan.
REFLEKS MORO
REFLEKS MORO
EKSTREMITAS

f. Observasi refleks stepping atau walking:


Jika tumit kaki bayi disentuhkan pada suatu
permukaan yang rata, bayi akan terstimulasi untuk
berjalan dengan menempatkan satu kakinya di
depan kaki yang lain.
Refleks ini akan menghilang sebagai sebuah
respon otomatis dan muncul kembali sebagai
kebiasaan secara sadar pada sekitar usia delapan
bulan hingga satu tahun untuk persiapan
kemampuan berjalan.
REFLEKS STEPPING
EKSTREMITAS
• Pada anak yang lebih besar dapat dikaji :
a. Refleks trisep, respon N: lengan ekstensi parsial
b. Refleks bisep, respon N: lengan fleksi parsial
c. Refleks tendon patella, respon N:tungkai ekstensi
parsial
d. Refleks tendon achilles, respon N: kaki fleksi plantar
(kaki mengarah ke bawah)
e. Kekuatan otot seperti kekuatan otot lengan, tangan,
dan tungkai.
GENITALIA: LAKI-LAKI

• Inspeksi kebersihan

• Kaji apakah testis sudah turun atau belum.

• Kaji letak meatus uretra apakah di ujung penis atau


tidak. Pemeriksaan ini juga sekaligus untuk
mengetahui apakah anak mengalami kelainan
seperti hipospadia atau epispadia.
GENITALIA: PEREMPUAN
• Inspeksi kebersihan, adakah lesi atau tidak

• Klitoris dapat tertutup sedikit oleh prepusium


(lipatan kecil kulit)

• Meatus urethra terletak pada bagian


posterior klitoris.

• Orifisium vagina terletak pada bagian


posterior meatus urethra.
ANUS

• Lubang anus intak atau tidak. Pengkajian demikian


biasanya dilakukan pada bayi baru lahir, kaji dengan
cara memasukkan termometer rektal yang telah
diberi vaselin, bila tidak ada tahanan maka anus
bayi intak. Lakukan pengkajian ini secara hati-hati.

• Kaji refleks sfingter ani eksterna.


F. TERMINASI

1. Terminasi dan evaluasi respon anak dan


keluarga
2. Bereskan alat
3. Cuci tangan dengan benar
4. Dokumentasi
REFERENSI

Kosim, M.S., Yunanto, A., Dewi, R., Sarosa, G.I., & Usman, A.
(2010). Buku ajar neonatologi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
Wong, D.L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M.L,
& Schawrtz, P. (2009). Wong: Buku ajar keperawatan pediatrik.
(edisi 6). Jakarta: EGC.
Gill, D., & O’Brien, N. (2007). Paediatric clinical examination made
easy (fifth ed). Philadelphia: Elsevier.
Ferguson, D., & Lawton, L. (2008). Essential clinical skill for nurses:
Clinical assessment and monitoring in children. Oxford:
Blackwell Publishing.
TERIMA KASIH