Anda di halaman 1dari 43

5.

Calcium Channel Blockers

Kanal ion Ca merupakan jalur utama masuknya ion Ca ke dalam sel pada berbagai jenis tipe
sel dan mengatur berbagai proses intraseluler sel, seperti kontraksi, transkripsi gen, plastisitas
sinaptik, dan pengeluaran hormon atau neurotransmitter. Kanal Ca merupakan kompleks protein yang
tersusun oleh 4 atau 5 subunit yang berbeda yang disandi oleh beberapa gen. Subunit α1 dengan berat
molekul 190 – 250 kDa merupakan subunit terbesar dan merupakan bagian kanal yang bisa diregulasi
oleh second messenger, obat atau toksin. Subunit α1 terdiri dari 4 domain homolog ( I – IV ) yang
masing – masing mempunyai 6 segmen transmembran ( S1 – S6 ). Segmen S4 berperan sebagai
sensor voltase, sedangkan loop antara segmen S5 dan S6 pada masing – masing domain menentukan
konduktansi dan selesktivitas ion. Selain itu, terdapat pula subunit β dan suatu subunit kompleks α2 –
δ yang merupakan komponen pada hampir semua tipe kanal Ca ( Ikawati, 2014 ).

Klasifikasi Kanal Ca

Penggolongan kanal Ca didasarkan pada jenis arus Ca. Arus Ca yang dapat direkam pada tipe
sel yang berbeda memilikinperbedaan dalam sifat fisiologis dan farmakologisnya. Arus Ca dibedakan
menjadi 5 jenis, yaitu ( Ikawati , 2014 ) :

1. L channel ( L – type ) / long open time

Kanal ini diaktivasi oleh depolarisasi yang besar dan dapat tetap terbuka sampai agak lama
sebelum kemudian inaktif ( 500 m/s atau lebih ). Kanal ini banyak dijumpai pada otot jantung, sel otot
polos, dan endokrin. Berperan dalam inisiasi kontraksi dan sekresi serta dapat diblok oleh obat
antagonis Ca seperti dihidropiridin, fenilalkilamin, dan benzotiazepin.

2. N channel ( N – type ) / neuronal

Kanal ini terekspresi utamanya pada se saraf. Kanal ini diaktivasi oleh depolarisasi yang besar
dan utamanya berperan dalam pelepasan neurotransmitter pada ujung saraf, menginisiasi transmisi
saraf, dan memediasi masuknya Ca ke dalam badan sel dan dendrit. Kanal tipe ini tidak dipengaruhi
oleh obat antagonis Ca tipe L, tetapi dapat diblok oleh toksin tertentu dari keong atau laba – laba.

3. P channel ( P – type )

Kanal ini memiliki sifat dan peran yang sama dengan kanal Ca tipe N.

4. R channel ( R – type )

Informasi untuk kanal ini masih sangat sedikit. Hanya disebutkan memiliki kesamaan sifat
dengan tipe N yang memerlukan depolarisasi yang kuat untuk aktivasinya.
5. T channel ( T – type ) / tiny / transient current

Kanal ini dapat diaktivasi oleh depolarisasi yang kecil dan juga terjadi secara singkat. Karena
itu, kanal ini disebut sebagai low voltage – activated ( LVA ) channel.

Jenis Macam Lokalisasi Antagonis Fungsi Seluler

Kanal Arus Spesifik

Cav 1.1 L Otot rangka dihidropiridin, Eksitasi dan

fenilalkilamin, kontraksi

benzotiazepin

Cav 1.2 L Otot jantung, sel dihidropiridin, Eksitasi – kontraksi,

endokrin, badan sel fenilalkilamin, pelepasan hormon,

saraf dan dendrit, benzotiazepin regulasi transkripsi,

proksimal integritas sinaptik

Cav 1.3 L Sel endokrin, , dihidropiridin, pelepasan hormon,

badan sel saraf dan fenilalkilamin, regulasi transkripsi,

dendrit benzotiazepin integritas sinaptik

Cav 1.4 L Retina Belum ada Pelepasan

neurotransmitter dari

sel bipolar

Cav 2.1 P /Q Ujung saraf dan ω – agatoksin Pelepasan


dendrit IV A neurotransmitter,

masuknya Ca ke

dendrit

Cav 2.2 N Ujung saraf dan ω-conotoxin Pelepasan

dendrit GVIA neurotransmitter,

masuknya Ca ke

dendrit

Cav 2.3 R Badan sel saraf dan SNX – 482 Repetitive firing

dendrit

Cav 3.1 T Badan sel saraf, Tidak ada Picuan denyut

dendrit, dan sel otot jantung, picuan saraf

jantung berulang

Cav 3.2 T Badan sel saraf, Tidak ada Picuan denyut

dendrit, dan sel otot jantung, picuan saraf

jantung berulang

Cav 3.3 T Badan sel saraf dan Tidak ada Picuan denyut

dendrit jantung, picuan saraf


berulang

MEKANISME HIPERTENSI

Pada proses kontraksi otot konsentrasi Ca2+ intraseluler meningkat saat masuk ke dalam sel
dan dilepaskan dari retikulum sarkoplasma. Kemudian Ca2+ berikatan dengan kalmodulin (CaM).
Ca2+ - kalmodulin mengaktifkan rantai ringan miosin kinase (RRMK). RRMK memfosfolirasi rantai
ringan pada kepala mioson dan meningkatkan aktivitas ATPase. Jembatan silang miosin aktif bergeser
sepanjang aktin dan menghasilkan kontraksi otot (Campbell, 2002).

Peningkatan kadar Ca intraseluler menyebabkan kontraksi otot. Ada sedikit perbedaan


mekanisme regulasi Ca pada kontraksi otot polos dan otot jantung. Pada otot polos, untuk bereaksi,
Ca harus berikatan dengan reseptornya, yaitu suat protein pengikat Ca yang disebut calmodulin , yang
dijumpai pada semua sel eukariota (umumnya 1% dari total massa protein). Calmodulin sendiri tidak
memiliki aktivitas enzim. Baru setelah berikatan dengan Ca menjadi kompleks Ca/Calmodulin, dia
bekerja dengan mengikat protein lain, misalnya golongan protein kinase yang tergantung
Ca/Calmudulin yang disebut Ca/Calmodulin-dependent protein kinse (CaM-kinase). Aksi CaM-kinase
adalah memfosforilasi serine atau theroin pada protein target sehingga akhirnya menimbulkan respons
seluler. Salah satu CaM-kinase adalah miosin light-chain kinase (MLCK) yang berperan dalam
kontraksi otot polos. MLCK akan mengaktifkan miosin. Perlu diketahui bahwa miosin merupakan
protein motorik yang akan berinteraksi dengan filamen aktin untuk menyebabkan kontraksi ( Ikawati,
2014 ).

Pada proses relaksasi Ca2+ bebas dalam sitosol menurun saat Ca2+ dipompa keluar dari sel
atau kembali ke dalam retikulum sarkoplasma. Ca2+ melepaskan diri dari kalmodulin (CaM) sehingga
aktivitas RRMK menurun. Miosin fosfatase melepas fosfat dari rantai ringan miosin, yang akan
menurunkan aktivitas ATPase miosin. Berkurangnya aktivitas ATPase miosin ini menyebabkan
penurunan tegangan otot ( Campbell, 2002 ).

Pada sirkulasi darah untuk mempertahankan tekanan darah yang normal bergantung kepada
keseimbangan antara curah jantung dan tahanan vaskular perifer. Sebagian terbesar pasien dengan
hipertensi esensial mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya meningkat.
Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar atau kapiler, melainkan oleh arteriola kecil,
yang dindingnya mengandung sel otot polos. Kontraksi sel otot polos diduga berkaitan dengan
peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler ( Lumbantobing, 2008 ).
Gambar 1. Mekanisme hipertensi

Banyak faktor yang menyebabkan tekanan darah seseorang menjadi tinggi diantaranya apabila terjadi
kontraksi berlebihan dari arteri kecil (arteriola) ( Tatang, 2015 ). Kontraksi pada arteriola dipengaruhi
oleh adanya otot polos yang berperan dalam penyempitan dan pelebaran pembuluh darah. Apabila
otot polos mengalami kontraksi yang berlebihan maka akan menyebabkan penyempitan pada
pembuluh darah yang berkepanjangan. Hal ini lah yang menyebabkan seseorang dapat terkena
hipertensi.

Gambar 2. Perbedaan pembuluh darah normal dengan pembuluh darah yang terkena
hipertensi.
OBAT CCB

Obat CCB beraksi pada otot polos pembuluh darah dengan mengurangi kontraksi arteri dan
menyebabkan peningkatan diameter arteri, fenomena ini di sebut vasodilatasi (CCBs tidak bekerja
pada vena otot polos), Dengan beraksi pada otot jantung (miokardium) mereka mengurangi kekuatan
kontraksi jantung, Dengan memperlambat konduksi aktivitas listrik dalam hati mereka memperlambat
detak jantung, Dengan menghalangi sinyal kalsium pada sel-sel korteks adrenal, mereka langsung
menurunkan produksi aldosteron, yang menguatkan untuk menurunkan tekanan darah . Kelas CCBs
dikenal sebagai dihidropiridin terutama mempengaruhi arteri otot polos pembuluh darah dan
menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan vasodilatasi (Yousef, 2005).

Nifedipine bekerja sebagai antagonis kalsium dengan menghambat arus ion kalsium masuk ke
dalam otot jantung dari luar sel. Karena kontraksi otot polos tergantung pada ion kalsium ekstra
seluler, maka dengan adanya antagonis kalsium dapat menimbulkan efek inotropik negatif, tetapi sel
otot akan mengalami relaksasi dengan berkurangnya jumlah kalsium, sehingga pada saat relaksasi
menyebabkan kondisi pembuluh darah vasodilatasi sehingga aliran darah menjadi lancar dan tekanan
darah turun (Katzung, 2002 ).

Obat-obat calsium channel blocker :

1. Nifedipine

Obat yang mengandung zat aktif nifedipine. Nifedipine tergolong obat penghambat kanal
kalsium yang bekerja menurunkan tekanan darah arteri dengan cara meleburkan pembuluh darah
perifer.

Dosis nifedipine : untuk mengontrol tekanan darah tinggi dapat digunakan 10 mg 1-2 tablet
sehari bila diperlukan, dosis dapat di naikkan sampai 60 mg sehari bila di perlukan.

Efek samping : efek samping utama penggunaan nifedipine adalah hipotensi (keadaan tekanan
darah rendah), hipotensi terjadi terutama pada titrasi awal atau pada saat dosis dinaikkan, efek
samping lainnya dapat berupa nyeri kepala, pusing berputar, sembelit,mual, muntah dan mulut kering
(Anonim, 2012)

2. Diltiazem

Mekanisme kerja senyawa ini adalah mendepresi fungsi nodus SA dan AV, juga vasodilatasi
arteri dan arteriol koroner serta perifer. Dengan demikian maka diltiazem akan menurunkan denyut
jantung dan kontraktilitas otot jantung, sehingga terjadi keseimbangan antara persediaan dan
pemakaian oksigen pada iskhemik jantung.
Dosis : Dewasa 4 x 30 mg, bila perlu dapat di tingkatkan sampai 360 mg sehari, di berikan
sebelum makan dan waktu hendak tidur.

Efek samping : pusing terutama saat duduk atau pada saat bangkit berdiri, nyeri kepala,
gangguan saluran cerna dan bradikardia (Anonim, 2012)

3. Verapamil

Menghambat masuknya kalsium ion melintasi membran ion miokard dan otot polos pembuluh
darah, sehingga menghambat proses kontraktil otot polos pembuluh darah jantung

Dosis : dosis diberikan sebanyak 240-320 mg per hari yang di bagi menjadi tiga dosis
konsumsi

Efek samping : verapamil memiliki efek samping yaitu konstipasi, lelah, pusing, sakit kepala,
mual, pergelangan kaki bengkak (Anonim, 2012)
6. Alfa Blocker

Alpha-blocker atau α-blocker adalah agen farmakologis yang bertindak sebagai antagonis
netral reseptor α-adrenergik (adrenoseptor-a). α-blocker digunakan dalam pengobatan beberapa
kondisi, seperti penyakit Raynaud, hipertensi, dan skleroderma.

α-blocker juga dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan dan panik, seperti
gangguan kecemasan umum, gangguan panik, atau gangguan stres posttraumatic (PTSD). Sementara
yang paling umum digunakan untuk mengobati hipertensi (biasanya bersamaan dengan diuretik saat
perawatan lainnya tidak efektif), mereka juga sering digunakan untuk mengobati gejala BPH (benign
prostatic hyperplasia).

Klasifikasi Alfa Bloker.

Alfa Bloker di bagi menjadi 2 :

1. Alfa bloker Non selektif

2. Alfa bloker Selektif

1.Alfa bloker Nonselektif ada 3 kelompok yaitu :

a. Derivat haloalkilamin

b. Derivat imidazolin

c. Alkaloid ergot

a.Derivat haloalkilamin

 Mekanisme Kerja:

Ikatan kovalen yang stabil dengan adrenoreseptor α dan menghasilkan hambatan yang
ireversibel. Disebut juga α bloker yang nonkompetitif dan kerja yang panjang.

 Indikasi

Hipertensi ringan sampai dengan sedang, hiperplasia prostatik jinak. Hiperplasia prostatik jinak
diterapi dengan pembedahan atau menggunakan alfa bloker atau dengan anti androgen finasteride.

 Kontra Indikasi
Alfabloker harus dihindari pada pasien dengan riwayat hipotensi postural dan micturition
syncope

 Efek samping:

hipotensi postural

b.Derivat imidazolin

 Fentolamin dan tolazolin adalah α bloker nonselektif yang kompetitif. Obat obat ini
menghambat reseptor serotonin , melepaskan histamin dari sel mast , meragsang reseptor
muskarinik di saluran cerna , merangsang sekresi asam lambung , saliva air mata dan
keringat.

 Penggunaan terapi : mengatasi episode akut hipotensi, mengatasi pseudo-obstruksi usus,


nekrosis kulit, disungsi eksresi

 Fentolamin tersedia dalam vial 5 mg untuk pemberian IV atau IM, sedangkan tolazolin dalam
kadar 25 mg/ml untuk suntikan IV

 efek samping : hipotensi

c.Alkaloid Ergot

 Adalah α bloker yang pertama ditemukan , sebagai agonis atau antagonis parsial pada
reseptor α adrenergik, reseptor dopamin, dan reseptor serotonin.

 Farmakodinamik:

Vasodilatasi

 Farmakokinetik :

Absorbsi baik pada pemberian oral

 Efek samping:

Pusing, sakit kepala, ngantk, palpitasi, edema perifer dan mual

2. Alfa Bloker Selektif :

1. Prazosin

2. Terazosin

3. Doksazosin
Contoh obat Alfa bloker selektif

1. Prazosin (minipress)

Mekanisme Kerja :Antagonis adrenergik alfa-1 perifer mendilatasi arteri maupun vena.

Indikasi : Hipertensi,gagal jantung kongestif.

Efek Samping : sakit kepala,hipotensi postural,gangguan

saluran pencernaan,gatal-gatal,mulut kering.

Dosis : 0,5 mg 2 kali sehari.selanjutnya dosis di tingkatkan

1 mg 2 kali sehari.

2. Doxazosin.

Mekanisme Kerja : Antagonis adrenergik alfa-1

perifer mendilatasi arteri maupun vena.

Indikasi : Hipertensi.

Kontraindikasi : Hipersentitif

Efek Samping : Hipotensi postural,sakit

kepala, kelelahan,vertigo,dan edema.

Dosis : 1 Mg sehari.

D.Alfa-1-Bloker

Alpha-1 bloker (juga disebut agen penghambat alfa-adrenergik) merupakan aneka obat yang
menghalangi reseptor alfa-1-adrenergik di arteri, otot halus, dan jaringan sistem saraf pusat. Dengan
menghalangi reseptor alfa-1, hal itu menyebabkan otot-otot halus dan arteri melebar. Hal ini terutama
digunakan untuk mengobati Benign prostatic hyperplasia (BPH), hipertensi dan gangguan stres pasca-
trauma.

Selama 40 tahun terakhir berbagai obat telah dikembangkan dari bloker alfa-1 non-selektif ke
bloker alfa-1 selektif. Obat pertama yang digunakan adalah non-selective alpha bloker, yang diberi
nama phenoxybenzamine dan digunakan untuk mengobati BPH. Hari ini tamsulosin adalah
pengobatan lini pertama untuk BPH dan merupakan penghambat alpha-1 selektif.
Pembesaran kelenjar prostat dapat menyebabkan rasa sakit yang serius dan kontraksi dari
kelenjar prostat menyebabkan berkurangnya buang air kecil. Alpha-1 bloker digunakan untuk
mengobati gejala tersebut.

Benign prostatic hyperplasia

Benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah pembesaran kelenjar prostat. Alpha-1 bloker
adalah obat yang paling umum digunakan untuk mengobati BPH. Alpha-1 bloker adalah pengobatan
lini pertama untuk gejala BPH pada pria. Doxazosin, terazosin, alfuzosin dan tamsulosin semuanya
sering digunakan dalam pengobatan gejala saluran kemih yang lebih rendah (LUTS) karena BPH.
Mereka semua diyakini memiliki efek serupa saat digunakan untuk mengobati LUTS. Generasi
pertama alpha-1 bloker, seperti prazosin tidak dianjurkan untuk mengobati LUTS karena efeknya
pada tekanan darah. Generasi kedua dan ketiga direkomendasikan. Dalam beberapa kasus,
penghambat alfa-1 telah digunakan dalam terapi gabungan dengan penghambat reduksi 5-alfa.
Dutasteride dan tamsulosin dipasarkan sebagai terapi gabungan dan hasilnya menunjukkan bahwa
mereka memperbaiki gejala secara signifikan versus monoterapi.

Hipertensi

Alpha-1 bloker digunakan sebagai terapi lini kedua tekanan darah tinggi. Mereka tidak
dianggap baik sebagai pengobatan lini pertama karena ada yang lebih selektif lagi, meski bagus untuk
mengobati pria dengan hipertensi dan BPH. Doxazosin telah dikenal untuk mengobati gejala BPH
pada orang tua dan mengurangi tekanan darah pada saat bersamaan. BPH sangat umum pada pria
berusia di atas 60 tahun dan juga hipertensi. Terazosin juga aman dan efektif untuk digunakan
melawan hipertensi dan BPH namun merupakan generasi pertama sedangkan doxazosin adalah
penghambat alpha-1 generasi kedua.

E.Mekanisme Kerja Alfa-1 Bloker

Alfa-1 Bloker

menghambat

Reseptor alfa-1 di pembuluh darah

Dilatasi ateri dan vena


Menurunkan resistensi perifer

Mengurangi aliran balik vena

Mekanisme Kerja Alfa-1 bloker

- Menghambat reseptor alfa-1 di pembuluh darah terhadap efek vasokonstriksi Non Efinefrin
dan Efinefrin sehingga terjadi dilatasi arteriol dan vena.
- Efek positif terhadap lipid darah (menurunkan kolesterol LDL dan trigliserid dan
meningkatkan kolesterol HDL)
- Menurunkan resistensi insulin
- Tidak berinteraksi dengan AINS

Gambar 15. Obat antagonis menempati alpha1-adrenoceptor dan blok pengikatan


norepinephrine ke reseptor.

Beberapa jenis penghambat alfa-adrenoseptor telah diperkenalkan, termasuk antagonis alfa2,


alpha1, alpha1, adrenergik antagonis non-selektif (alpha1 + alpha2), presynaptic alpha2, dan
postynaptic. Antagonis alfa-adrenoseptor selektif menurunkan tekanan darah terutama dengan
menghalangi adrenoseptor alfa1 postsynaptic.

Prazosin adalah senyawa kuinazolin 3 (doxazin, prazosin, dan terazosin) pertama yang
pertama (1976), yang merupakan antagonis alfa1-adrenoseptor selektif postsynaptic, yang disetujui di
Amerika Serikat untuk pengobatan hipertensi. Obat ini sangat selektif untuk subtipe alpha1-
adrenoceptor (alpha1A, alpha1B, alpha1D). Bila diberikan dalam dosis besar, mereka tidak
menghambat alfa2-adrenoseptor (alpha2A, alpha2B, alpha2C), beta-adrenoseptor (beta1, beta2,
beta3), atau reseptor lainnya seperti asetilolin (muscarinic), dopamin, dan 5-hydroxytryptamine.

Dalam hal ini, antagonis antagonis selektif alpha1 berbeda dari penghambat alfa nonselektif
seperti inhibitor kompetitif, phentolamine, dan inhibitor nonkompetitif, fenoksibenzamin.
Adrenoseptor alergen presinaptik menghambat pelepasan norepinephrine. Alfa-blokade nonspesifik
menyebabkan reseptor alpha2 ini untuk meningkatkan pelepasan norepinephrine dengan takikardia
medi-adrenoceptor-mediated, sekresi renin yang ditingkatkan, dan atenuasi alfa1inhibition
postsynaptic. Blokade selektif dari adrenoseptor alfa2 presinaptik dengan obat seperti yohimbine
dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Sebaliknya, antagonis alfa-selektif dapat mengurangi nada vaskular pada pembuluh


kapasitansi dan juga pembuluh penghambat untuk memberikan keseimbangan preload dan
pengurangan afterload, sehingga menghindari vasodilatasi (reduksi afterload) tanpa venodilasi
(pengurangan preload) - yang akan meningkatkan peningkatan dalam curah jantung dan detak
jantung. Sebagai hasil dari perbedaan farmakologis antara agen nonselektif dan selektif, penghambat
alfa nonselektif tidak berhasil dalam upaya pengobatan hipertensi esensial dan simtomatik BPH.

Phentolamine, obat parenteral, digunakan hampir secara eksklusif untuk hipertensi berat
emergensi dan mendesak dengan pelepasan katekolamin berlebih. Penghambat alfa, nonselektif dan
nonkompetitif, fenoksibenzamin, tetap merupakan agen penting dalam pengelolaan
pheochromocytomas pra operasi dan kasus pheochromocytoma metastatik yang tidak dapat dioperasi.
Labetolol adalah penghambat beta nonselektif dengan efek antagonis alpha1-adrenoreseptor selektif,
yang sekitar 10% dari phentolamine. Meskipun kombinasi agen alpha + beta, labetolol didominasi
antagonis alfa1-adrenoseptor selektif postsynaptic selama pemberian oral intravena akut atau kronis.
Carvedilol adalah penghambat beta nonselektif dengan efek antagonis alpha1-adrenoreseptor selektif,
yang diindikasikan untuk pengobatan gagal jantung dan hipertensi, dan didominasi beta-bloker.
Gambar 16. Obat antagonis mencegah kontraksi otot polos yang dimediasi reseptor.

Ada alasan fisiologis yang sehat untuk penggunaan inhibitor alpha1-adrenoceptor selektif
dalam pengobatan hipertensi. Dengan secara selektif menghambat alfa1-adrenoseptor dari pembuluh
darah dan dengan demikian menghambat respons yang dimediasi oleh reseptor terhadap
norepinephrine, agen ini mengurangi tekanan darah melalui penurunan langsung pada ketahanan
vaskular perifer. Penurunan tekanan darah dicapai dengan sedikit atau tidak ada perubahan pada
hemodinamika sentral, denyut jantung, atau curah jantung. Efek hemodinamik yang menguntungkan
dari penghambat alpha1 selektif juga telah ditunjukkan selama olahraga, ketika kinerja jantung lebih
baik diawetkan dengan alpha1-bloker dibandingkan dengan beta-bloker.

F.Obat Alfa-1 Bloker

Alfa 1 blokers selektif, contoh : prazosin, terazosin. Doksazosin dll.

Doksazosin dan prazosin menghambat reseptor alfa pasca sinaptik dan menimbulkan
vasodilatasi, namun jarang menyebabkan takikardi. Obat ini menurunkan tekanan darah dengan cepat
setelah dosis pertama, sehingga harus hati-hati pada pemberian
pertama. Peindoramin dan terazosin memiliki sifat yang serupa prazosin. Untuk pengobatan
hipertensi yang resisten, alfa bloker dapat digunakan bersama obat antihipertensi lain.
 DOKSAZOSIN
Indikasi:
Hiperplasia prostat jinak pada pasien yang memiliki riwayat hipertensi maupun tekanan darah normal.

Peringatan:
Hipotensi postural/syncope, penggunaan bersama penghambat PDE-5, gangguan fungsi hati,
gangguan fungsi ginjal, mengemudi atau mengoperasikan mobil, kondisi penyempitan saluran cerna
yang berat, komplikasi Intraoperative Floppy Iris Syndrome pada operasi katarak.
Interaksi:
Obat hipertensi lain seperti terazosin dan prazosin, lihat lampiran 1 (alfa bloker).

Kontraindikasi:
Usia <16 tahun, hipersensitivitas terhadap doksazosin, quinazolin, sumbatan pada saluran pencernaan,
hiperplasia prostat jinak dengan riwayat hipotensi, pasien dengan riwayat hipotensi ortostatik,
penyempitan atau penyumbatan dalam saluran kemih, infeksi saluran kemih yang sudah berlangsung
lama, batu kandung kemih, dan inkontinensi luapan atau anuria dengan atau tanpa masalah ginjal.

Efek Samping:
Serangan jantung, kelemahan pada lengan dan kaki atau kesulitan berbicara (gejala stroke),
pembengkakan pada wajah, lidah, atau tenggorokan yang merupakan reaksi alergi, nyeri dada, angina,
napas pendek, sulit bernapas, napas berbunyi, denyut jantung meningkat/menurun atau tidak
beraturan, palpitasi, kemerahan atau gatal-gatal pada kulit, pingsan, kekuningan pada kulit atau mata,
rendahnya jumlah sel darah putih atau trombosit.
Umum: vertigo, sakit kepala, tekanan darah rendah, pembengkakan pada kaki, tumit, atau jari-
jari, bronkitis, batuk, infeksi saluran napas, hidung tersumbat, bersin, hidung berair, nyeri
lambung/abdominal, infeksi saluran kemih, inkontinensi urin, mengantuk, perasaan lemah, gangguan
pencernaan, nyeri ulu hati, mulut kering, nyeri punggung, nyeri otot, gejala menyerupai pilek.
Tidak umum: konstipasi, kembung, radang lambung dan usus yang menyebabkan diare dan
muntah-muntah, nyeri atau merasa tidak nyaman ketika buang air kecil, buang air kecil lebih sering
dari biasanya, adanya darah pada urin, radang pada persendian, nyeri persendian, nyeri umum, kurang
tidur, gelisah, depresi, berkurang atau berubahnya rasa sentuhan atau sensasi pada tangan dan kaki,
peningkatan nafsu makan atau hilangnya nafsu makan, berat badan naik, mimisan, telinga berdenging,
tremor, kegagalan/ketidakmampuan mencapai ereksi penis, uji laboratorium abnormalitas fungsi hati.
Sangat jarang: pingsan atau limbung akibat tekanan darah ketika bangkit berdiri dari posisi
duduk atau berbaring, hepatitis atau gangguan empedu, urtikaria, kerontokan rambut, bercak merah
atau ungu pada kulit, perdarahan di bawah kulit, kesemutan atau kekebasan pada tangan dan kaki,
agitasi, kegelisahan, kelelahan, kram otot, lemah otot, pandangan kabur, wajah memerah, gangguan
buang air kecil, buang air kecil di malam hari, peningkatan volume urin yang dikeluarkan,
peningkatan produksi urin sehingga lebih sering buang air kecil, ketidaknyamanan atau pembesaran
payudara pada pria, ereksi penis yang menetap dan terasa sakit.
Frekuensi tidak diketahui: sperma yang diejakulasikan saat klimaks seksual menjadi sedikit
atau tidak ada, urin keruh setelah klimaks seksual, masalah mata yang dapat timbul selama bedah
mata untuk katarak.
Dosis:
Hipertensi. 1 mg sehari, ditingkatkan setelah 1-2 minggu menjadi 2 mg sekali sehari, kemudian 4 mg
sekali sehari, bila perlu. Maksimal 16 mg sehari.
Tablet pelepasan termodifikasi: 4 mg sehari, tablet ditelan utuh dan jika perlu dosis dapat ditingkatkan
setelah 4 minggu menjadi 8 mg sehari.

 INDORAMIN
Indikasi:
Hipertensi; hiperplasia prostat ringan.

Peringatan:
Hindari alkohol (meningkatkan kecepatan dan besarnya absorpsi); mengendalikan gagal jantung yang
baru mulai dengan diuretika dan digoksin; gangguan hati atau ginjal; pasien usia lanjut; penyakit
parkinson; epilepsi (kejang pada percobaan hewan); riwayat depresi.

Kontraindikasi:
Gagal jantung; pasien yang menerima MAOI.

Efek Samping:
Sedasi; juga pusing, depresi, gagal ejakulasi, mulut kering, kongesti nasal, efek ekstrapiramidal,
kenaikan bobot badan.

Dosis:
Hipertensi, awalnya 25 mg 2 kali sehari, ditingkatkan 25-50 mg sehari dengan interval 2 minggu;
dosis maksimal sehari 200 mg dalam 2-3 dosis terbagi.

 PRAZOSIN HIDROKLORIDA
Indikasi:
Hipertensi; sindrom Raynaud; gagal jantung kongestif; hiperplasia prostat jinak.
Peringatan:
Dosis pertama dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi (karena itu harus diminum sebelum tidur);
usia lanjut; kurangi dosis awal pada gangguan ginjal; gangguan hati; kehamilan dan menyusui.

Kontraindikasi:

Tidak disarankan untuk gagal jantung kongestif akibat obstruksi mekanik (misal stenosis aortik).
Efek Samping:
Hipotensi postural, mengantuk, lemah, pusing, sakit kepala, tidak bertenaga, mual, palpitasi, sering
kencing, inkontinesia dan priapismus.

Dosis:
Hipertensi, 0,5 mg 2-3 kali sehari selama 3-7 hari, dosis awal diberikan sebelum tidur; tingkatkan
sampai 1 mg 2 - 3 kali sehari setelah 3-7 hari; bila perlu tingkatkan lebih lanjut sampai dosis
maksimal 20 mg sehari.

Gagal jantung kongestif, 0,5 mg 2-4 kali sehari (dosis awal sebelum tidur), tingkatkan sampai 4 mg
sehari dalam dosis terbagi Sindroma Raynaud, dosis awal 0,5 mg 2 kali sehari (dosis awal sebelum
tidur); bila perlu setelah 3-7 hari ditingkatkan hingga dosis penunjang lazim 1-2 mg 2 kali sehari.
Hiperplasia prostat jinak

 TERAZOSIN
Indikasi:
Hipertensi ringan sampai sedang; hiperplasia prostat jinak.

Peringatan:
Dosis pertama dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi (dalam 30-90 menit, karena itu harus
diminum sebelum tidur), (juga dapat terjadi dengan peningkatan dosis yang cepat); kehamilan.

Efek Samping:
Mengantuk, pusing, tidak bertenaga, edema perifer, sering kencing, dan priapismus.

Dosis:
Hipertensi, 1 mg sebelum tidur; bila perlu dosis ditingkatkan menjadi 2 mg setelah 7 hari; dosis
penunjang lazim 2-4 mg sekali sehari Hiperplasia prostat jinak.
G.Interaksi Alfa-1 Bloker
Alfa-1 Bloker menghambat reseptor A1 sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol dan
venula sehingga menurunkan resistensi perifer. Menghambat enzim Angiotensin Converting Enzyme
(ACE) sehingga pembentukan Angiotensin II yang diindikasikan sebagai vasokonstriktor kuat
terhambat. Interaksi Obat dengan Peningkatan efek hipotensif oleh ACEis. Sinergis : Enalapril
(ACEis) + Bunazosin . Potensiasi : Alfuzosin, Prazosin, dan terazosin + ACEis
H.Alfa-2 Agonis
Hipotalamus dan nukleus traktus solitarius umumnya dianggap sebagai tempat utama untuk
integrasi berbagai fungsi saraf otonom , termasuk tekanan darah. Fungsi simpatis diintegrasi oleh
nukleus hipotalamus bagian posterior dan lateral.
Reseptor α2A adalah reseptor adrenergik yang paling dominan di sistem saraf pusat.
Perangsangan α2A oleh α2-agonis , melalui protein G inhibisi (Gi) menurunkan pembentukan cAMP.
sehingga mensufresi outflow aktivitas saraf simpatis dari otak dan demikian menimbulkan hipotensi.
Di samping itu, di perifer, aktivitas reseptor α2 di ujung saraf adrenergik menghambat penglepasan
NE dari ujung saraf , sehingga memperkuat efek hipotensi dari SSP. Akan tetapi reseptor α2 juga
terdapat di pascasinaps otot polos pembuluh darah, dan aktivasinya menyebabkan vasokonstriksi.
Reseptor alfa-2 berfungsi memperantai penghambatan umpan balik dari terminal saraf
simpatik dan parasimpatetik presynap.
I.Mekanisme Kerja Alfa-2 Agonis
Alfa-2 Agonis bekerja dengan cara menstimulasi reseptor alfa 2 yang berdaya vasodilatasi.
Contoh klonidin. Agonis alfa-2 adrenergik memiliki dua efek yakni sistem saraf pusat dan perifer.

Reseptor alfa-2 memainkan peran yang dominan pada reseptor presynap dalam neuron
adrenergik, mereka berpasangan dengan protein Gi yang bersifat menghambat adenilat siklase.
Stimulasi pada reseptor ini mengakibatkan hambatan adenilat siklase, yang diikuti dengan penurunan
kadar cAMP . proses menurunnya pelepasan NE endogen pada gilirannya akan menurunkan produksi
humor akuos

J.Obat Alfa-2 Bloker


 Klonidin (catapers)
Mekanisme kerja : bekerja di otak sebagai agonis adrenergik-α2 yang menyebabkan penurunan
aktifitas sistem syaraf simpatis (penurunan frekuensi jantung, curah jantung dan tekanan darah)
Indikasi : hipertensi ringan sampai sedang
Kontra indikasi : hipersensitifitas terhadap klonidin
Dosis : Awal: 0,075.
Maksimal: 0,6.
Frekuensi pemberian: 2x.
Sediaan : tablet 0,75mg; 0,,15mg
Efek samping : ruam, mengantuk, mulut kering, konstipasi, sakit kepala, gangguan ejakulasi.
Hipertensi balik bila dilakukan mendadak. Untuk membatasi toksisitas, mulai dengan dosis rendah
dan tingkatkan perlahan.

 Metil dopa (aldomet)


Mekanisme kerja : seperti klonidin juga, disintesis menjadi metil norepi nefrin yang bekerja sebagai
“neurotransmiter palsu” simpatomimetik lemah yang menurunkan aliran keluar simpatis dari SSP.
Indikasi : seperti klonidin. Untuk mengobati hipertensi pada wanita hamil
Kontra indikasi : jika terjadi tanda-tanda gagal jantung ( disebabkan retensi cairan akibat aliran
darah ginjal menurun), hentikan obat. Dikontra indikasikan untuk pasien fungsi hepar buruk.
Dosis : Awal: 250.
Maksimal: 1000.
Frekuensi pemberian: 2x.
Sediaan : tablet 125mg; 150mg
Efek samping : mulut kering, sedasi, hipotensi ortostatik ringan. Beberapa pasien mengalami
impotensi, gangguan psikis, mimpi buruk, gerakan infoluntar, atau hepatotoksisitas.

 Guanabenz (wytensin)
Mekanisme kerja : seperti klonidin. Juga mengosongkan simpanan norepinefrin pada terminal syaraf
adrenergik perifer.
Indikasi : hipertensi ringan sampai ringan
Kontra indikasi : -
Dosis : Awal: 0,5.
Maksimal: 2.
Frekuensi pemberian: 1x.
Sediaan : tablet 1mg
Efek samping : mulut kering, segrasi, hipertensi balik lebih jarang.
J.Interaksi Obat-obat Alfa-2 Agonis
Obat Alfa-2 Agonis menghambat saraf simpatis sehingga cardiac output juga menurun. Efek
samping berupa disfungsi seksual, mulut kering, mengantuk. Obat ini berinteraksi dengan
antidepresan dan obat simpatomimetik sehingga mengurangi efeknya. Pemberhentian tiba-tiba obat
alfa-2 agonis dapat menyebabkan rebound hypertension (naiknya tekanan darah melebihi tekanan
darah sebelum pengobatan) ; paling efektif bila diberikan bersama diuretik untuk mengurangi retensi
cairan.
7. Obat Adrenergik Sentral

NEURON ADRENERGIK DAN KATEKOLAMIN

Serat-serat pascaganglionik sistem saraf simpatis terutama


adalah adrenergik, di mana pada ujung sarafnya membebaskan transmiter noradrenalin
(= norepinefrin, NE) dan mungkin juga adrenalin (epinefrin, Epi). Sebagian kecil
dari serat saraf pascaganglionik yang ke kelenjer keringat dan pembuluh darah adalah
kolinergik yang membebaskan ACh pada akhir sarafnya.
Konsep dari serat saraf adrenergik adalah bahwa impul-impul saraf menyebabkan
depolarisasi dan peningkatan permiabilitas terhadap kalsium yang masuk ke dalam
sel dan meyebabkan pembebasan NE dan sedikit epinefrin dari terminal saraf.
NE, Epi dan dopamin secara kimia termasuk golongan senyawa
katekolamin (katekol adalah gugusan 3,4-dihidroksibenzen). Senyawa-senyawa
ini didistribusi-
kan ke semua jaringan dalam sel yang disebut sel-sel kromafin. Besarnya pernsentase
berbagai katekolamin di dalam sel kromafin tergantung pada lokasi dan speciesnya. Dalam
usus dopamin terutama ditemukan dalam sel-sel non-saraf. Dalam medula adrenal
ditemukan sedikit sekali dopamin, tetapi banyak sekali adrenalin. Pada organ-organ lain
yang mungkin juga ada hubungannya dengan serat saraf, terdapat dopamin sebanyak 50%
dari jumlah total katekolamin dan selebihnya adalah NE dan Epi.
Dalam otak dopamin terdapat terutama dalam nukleus kaudatus
dan mungkin berfungsi sebagai transmiter ditempat ini. Pada
penderita Parkinsonisme, dalam neulkleus kaudatusnya terdapat kadar dopamin yang
rendah sekali.

Katekolamin adalah amin simpatomimetik yang berisi gugusan 3,4-dihydroxybenzene


(termasuk epinefrin, norepinefrin, isoproterenol dan dopamin),
dibentuk dari asam amino fenilalanin seperti terlihat dalam Tabel 1.8.

Umumnya katekolamin ditemukan dalam partikel-partikel subselular yang disebut


"granul kromafin" atau "gudang granul", diperkirakan terdapat sebanyak 20-
40% yang bebas dalam sitoplasma. Granul mempunyai ATP yang banyak, yang
dalam kombinasi dengan katekolamin terdapat dalam rasio 1:4. Juga mengandung suatu
protein khusus yang larut ("chromogranin") dan enzim dopamin-beta-oksidase.

Katekolamin disimpan dalam partikel subseluler yang disebut


"storage granule" dan berfungsi: (1) mengambil dopamin dari
sitoplasma, (2) mengoksidasinya menjadi NE, (3) mengikat dan menyimpan NE untuk
mencegah difusi ke luar sel dan destruksi oleh enzim-
enzim, dan (4) membebaskan NE setelah rangsangan fisiologik.

Tabel 1.8. Proses pembentukan katekolamin.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Substrat Reaksi enzim Inhibitor
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
FENILALANIN

Fenilalanin hidroksilase

TIROSIN
Tirosin hidroksilase α metil tirosin
3 iodotirosin
DOPA
Dopa dekarboksilase metildopa

DOPAMIN
Dopamin β hidroksilase disulfiram
guanoklor
NORADRENALIN
Feniletanolamin-N-metil
transferase
ADRENALIN
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Medula adrenal. Disamping epineferin, medula adrenal juga mengandung NE


dan disekresi ke dalam sirkulasi. Pada manusia NE dalam medulla adrenal kira-kira 20%
dari seluruh katekolamin di dalamnya, dan persentasenya lebih tinggi lagi pada bayi baru
lahir dan tumor medula adrenal. NE dan E mempengaruhi sejumlah fisiologis target organ
, termasuk otot polos pembuluh darah, jantung, hepar, jaringan lemak, dan otot polos
uterus. Fungsi utama dari NE adalah untuk mempertahankan tonus simpatis yang normal
dan pengaturan sirkulasi darah.

Pembebasan katekolamin. Potensial aksi yang sampai di terminal akson akan


membebaskan katekolamin. Tiap-tiap sel saraf akan membebaskan hanya 1 katekolamin.
Katekolamin disimpan dalam vesikel-vesikel dan dibebaskan oleh proses eksositosis.

Terminasi kerja dan metabolisme katekolamin. Terminasi efek


katekolamin adalah dengan beberapa cara. Kebanyakan di ataranya
dikembalikan ke granular pool (re-uptake) dan sebagian
didegradasi secara enzimatik. Faktor-faktor lain termasuk redistribusi dan reflek-
reflek kompensasi. "Re-uptake aktif" sangat penting dalam terminasi kerja katekolamin
(kecuali untuk katekolamin yang dibebasakan oleh medula adrenal).

Degradasi metabolik katekolamin ialah dengan cara o-metilasi yang dikatalisasi oleh
Catechol-O-methyltransferase (COMT - suatu enzim mitokondria) merupakan cara
utama yang paling penting, disertai dengan proses lain seperti oksidatif-deaminasi oleh
monoamin oksidase (MAO - suatu enzim sitoplamik) atau dengan konjugasi. Kedua enzim
ini terdapat dalam konsentrasi tinggi di dalam hepar dan ginjal. Metabolit katekolamin yang
utama adalah normetanefrin, metanefrin dan asam 4-hidroksi-3-metoksimandelat (asam
fanililmandelat atau FMA).

RESEPTOR ADRENERGIK

Setelah pembebasan dari terminal saraf, katekolamin bekerja pada reseptor-reseptor


adrenergik dari sel efektor. Ahlquist pada tahun 1948 membagi reseptor adrenergik menjadi
resptor alfa dan beta (α dan β) berdasarkan responnya terhadap beberapa agonis dan
antagonis selektif untuk masing-masing reseptor.

Efek yang ditimbulkan melalui resptor α pada otot polos umumnya adalah stimulasi
seperti pada otot vaskuler di kulit dan mukosa; dan pada reseptor beta adalah inhibisi
seperti terlihat pada otot polos usus, bronkus dan pembuluh darah otot rangka (Tabel 1.6).
Terdapat pengecualian, yaitu: (1) Pada otot polos usus yang mempunyai reseptor alfa dan
beta, dan aktivasi kedua reseptor tersebut menimbulkan efek inhibisi. Hal ini terlihat
dalam efek epinefrin pada usus yang bekerja pada resptor alfa dan reseptor beta menimbulkan
relaksasi usus. Untuk dapat menghambat efeknya secara total diperlukan penghambatan
reseptor alfa dan beta. (2) Pada jantung, yang mempunyai reseptor beta yang aktivasinya
menimbulkan perangsangan denyut jantung dan kontraksi otot jantung.

Reseptor beta dibedakan lagi atas reseptor beta-1 dan beta-2 berdasarkan selektivitas
agonis dan antagonis reseptor beta pada berbagai organ. Reseptor beta pada jantung
disebut beta-1; dan pada otot polos bronkus, pembuluh darah otot rangka, usus, uterus,
dan kelenjar-kelenjar disebut beta-2 (Tabel 1.6).

Reseptor alfa juga dibedakan atas α-1 dan alfa-2. Alfa-1 terdapat pada sel efektor
otot polos dan kelenjar. Alfa-2 terdapat pada ujung saraf adrenergik dan kolinergik.
Aktivasi α-2 menghambat pembebasan NE dari ujung saraf adrenergik dan ACh dari ujung
saraf kolinergik. Alfa-2 juga terdapat pada sel efektor di otak, uterus, kelenjar parotis dan
otot polos pembuluh darah tertentu.
Efek obat adrenergik dapat diperkirakan sebelumnya bila
diketahui reseptor mana yang terutama dipengaruhi oleh obat tersebut.

OBAT-OBAT ADRENERGIK

Obat-obat adrenergik ialah obat-obat yang mempunyai efek sama dengan efek yang
dihasilkan oleh perangsangan sistem saraf simpatis.

Penggolongan

Agonis adrenergik (agonis adrenoseptor) harus dikelompokkan menurut 2 cara


pendekatan:
1. Penggolngan berdasarkan spektrum efeknya, yaitu (1) agonis α, (2) agonis β, (3)
campuran α dan β (4) dopamin.
2. Penggolongan berdasarkan mekanisme kerjanya, yaitu:
(1) Agonis yang bekerja langsung, yaitu obat secara langsung mengaktifasi
adrenoseptor. Termasuk dalam golongan ini ialah: katekolamin ( dopamin,
epinefrin, norepinefrin, isoproterenol, dan dobutamin), albuterol, klonidin,
metaproterenol, metoksamin, renilefrin, ritodrin, terbutalin.
(2) Agonis kerja tak langsung , yaitu yang menyebabkan pembebasan
katekolamin
endogen (meningkatkan pembebasan norepinefrin dari vesikel)
(3) Agonis campuran (kombinasi kerja langsung dan tidak langsung), termasuk
golongan ini ialah: efedrin dan metaraminol.

Kedua cara penggolongan ini mempunyai arti penting dalam klinis.

Mekanisme kerja molekular

Mekanisme kerja agonis α belum selutuhnya dimengerti. Diduga bawa pada reseptor
α 2 mereka agaknya menghambat pembentukan cAMP oleh adenilat siklase. Pengaktifan
reseptor α 1 dapat lansung menyebabkan peningkatan influks kalsium ke dalam sel otot polos.
Sebaliknya mekanisme akktivasi reseptor β telah dipelajari secara ekstensif, dan komponen
sistem reseptor-efektor telah dapat diisolasi dan dibentuk kembali pada suatu membran
buatan. Efekutama (pada reseptor β 1 dan β 2) adalah aktivasi adenilsiklase. Hasilnya berupa
peningkatan konversi ATP menjadi cAMP. Cyclic AMP merupakan second messanger untuk
berbagai interaksi reseptor hormon.

1. DOPAMIN

Sifat-Sifat Fisiologis Dan Farmakologis

Dopamin disintesa pada ganglion simpatis, substansia nigra otak tengah dan bagian
tengah hipotalamus dan retina. Tidak dapat melewati sawar darah-otak. Efeknya di SSP
terjadi karena adanya produksi lokal. Prekursor-DOPA dapat melewati sawar darah-otak,
dan karena itu berguna untuk pengobatan Parkinson (secara biokimia dikarakteristikkan
dengan hilangnya sel-sel dopaminergik). Terdapat 2 macam dopamin, yaitu : (1)
reseptor D1, efek-efeknya diperantarai oleh adenilat siklase; reseptor D2, kerjanya tidak
tergantung pada adenilat siklase.
Efek-efek dopamin sebagai agonis β-1 adalah:
 menghambat pelepasan prolaktin, stimulasi SSP, memodifikasi tonus otot,
 merangang chemoreceptor trigger zone (CTZ) di medula oblongata yang menimbulkan
enek dan muntah,
 pada jantung mempunyai efek inotropik positif dan
kronotropik (β1) pada dosis sedang sampai tinggi,
 pada pembuluh arteri ginjal (mempunyai reseptor-reseptor dopamin) memberikan
efek: (1) vasodilatasi dan peningkatan GFR pada dosis rendah, (2) vasokonstriksi dan
penurunan GFR pada dosis tinggi.

INDIKASI KLINIK

Dopamin secara klinik dapat digunakan untuk: (1) Mengatasi shok, (2)
pengobatan oliguri sekunder disebabkan menurunnya aliran darah ginjal, (3) efek
dopaminergik untuk meningkatkan aliran darah ke ginjal tanpa menaikkan tekanan
darah sistemik yang diperoleh dengan pemberian dopamin dosis rendah (1-4
mcg/kg/menit) per infus; (4) dosis kisaran beta (4-12 mcg/kg/menit per infus)
meningkatkan aliran darah ginjal, meningkatkan kontraksi otot jantung,
kronotropik, tetapi menyebabkan vasodilatasi ringan; (5) dosis kisaran alfa (>12
mcg/kg/menit per infus) meningkatkan tekanan darah sistemik, kontraksi otot jantung,
kronotropik, yang pada dosis tinggi dapat menurunkan aliran darah ginjal karena efek
vasokonstriksi.
Toksisitas pada pemberian per infus : (1) dengan dosis tinggi terjadi penurunan
perfusi ke ginjal, (2) ekstravasasi dapat menyebabkan iskemia dan nekrosis lokal, (3)
takikardi, angina, aritmia dan hipertensi.

2. EPINEFRIN
Epinefrin disintesa oleh medula adrenal dan batang otak. Tidak dapat menembus
sawar darah-otak.

FARMAKODINAMIK

Epinefrin umumnya menimbulkan efek mirip prangsangan sistem saraf


simpatis. Efeknya jelas terutama terhadap jantung, otot polos pembuluh darah dan otot
polos lain.
Jantung: Epinefrin memperkuat kotraksi dan mempercepat relaksasi, sehingga
waktu sistolik dan diastolik menjadi pendek. Epinefrin mengaktivasi reseptor beta-1 di
jantung menimbulkan efek inotropik dan kronotropik positif. Obat ini merangsang nodus
SA dan sel otomatik lainnya dan mempercepat depolarisasi fase-4 (depolarisasi lambat pada
waktu diatole) sehingga mempercepat fing rate pacu jantung dan merangsang pembentukan
fokus ektopik dalam ventrikel. Dalam nodus Perangsangan nodus SA menyebabkan
perpindahan pacu jantung ke sel-sel yang mempunyai firng rate lebih cepat; mempercepat
konduksi, mengurangi blokade AV, dan memperpendek periode refrakter nodus AV.
Dengan demikian curah jantung, kerja jantung dan pemakaian oksigen bertambah tidak
seusai dengan kerja jantung, sehingga efisiensi jantung berkurang.
Dosis epinefrin yang berlebihan akan menyebabkan tekanan darah jadi tinggi sekali,
disertai kontraksi prematur pada ventrikel, taki kardi ventrikel dan akhirnya fibrilasi
ventrikel.

Vaskuler. Perangsangan reseptor α-1 menimbulkan vasokonstriksi pada pembuluh


darah kulit, mukosa, dan ginjal. Dosis rendah menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah
otot rangka karena aktivasi reseptor β-2 yang lebih dominan karena afini-
tasnya lebih besar terhadap reseptor β-2. Dosis tinggi menyebabkan vasokonstriksi (α
lebih domonan) dan dapat menimbulkan peninggian tekanan darah yang jelas (sistolik >
diastolik). Bila sebelum pemberian epinefrin diberikan penghambat reseptor-α (misalnya
dibenamin) maka pemberian epinefrin hanya menimbulkan vasodilatasi dan penurunan
tekanan darah. Gejala ini disebut epinephrine reversal.

Arteri koroner. Epinefrin meningkatkan aliran darah ke koroner, tetapi karena


kompresi jantung akibat kerja jantung bertambah dan karena efek pada reseptor alfa-1 yang
dominan maka aliran ke koroner dapat berkurang. Akibat peningkatan kontraksi
jantung menimbukan hipoksia relatif yang akan membebaskan metabolit vasodilator yang
merupakan faktor penentu yang lebih dominan maka hasil akhir adalah peningkatan aliran
koroner. Efek epinefrin yang menambah aliran darah ke koroner ini tidak
bermanfaat karena ditiadakan oleh kerja efek peningkatan kerja jantung.

Mata: midriasis (reseptor alfa) menurunkan tekanan intra okuler, dapat digunakan
untuk "open-angle glaukoma".

Saluran cerna : Perangsangan reseptor alfa-2 (terdapat pada membran di terminal


saraf kolinergik dan aktivasi reseptor alfa-2 menyebabkan hambatan pembebasan ACh) dan
beta-2 (terdapat pada membran sel otot polos) pada otot polos saluran cerna menimbulkan
relaksasi, penurunan tonus dan motilitas usus dan lambung.

Respirasi : Epi memberikan efek sentral dan efek perifir: (1) Efek perifir
perangsangan reseptor Beta-2 di paru-paru menimbulkan relaksasi otot polos bronkus
(bronkodilatasi). (2) Efek sentral merangsang pernafasan sehingga frekwensi
pernafasan meningkat. Pemberian epinefrin secara IV dapat menim-bulkan apnue
selintas sebelum timbul perangsangan. Efek apnue ini mungkin disebabkan oleh
penghambatan pusat pernafasan melalui efek langsung atau melalui reflek baroreseptor.
Perangsangan α-1 pada pembuluh darah paru menyebabkan vasokon striksi yang
menimbulkan kekeringan mukosa saluran nafas.

Uterus : Pada uterus manusia terdapat reseptor alfa dn β-2. Responya terhadap
epinefrin tergantung pada dosis yang diberikan dan fase kehamilan. Pada kehamilan bulan
terakhir dan pada waktu partus epinefrin menghambat tonus dan kontraksi uterus melalui
resptor β-2. Efek ini tidak begitu jelas. Pemberian β-2 agonis seperti ritodrin atau terbutalin
ternyata efektif untuk menunda kelahiran prematur.

Kandung kemih: Reseptor beta-2 menyebabkan relaksasi dan reseptor alfa


menyebabkan kontraksi otot trigon dan spingter, sehingga dapat menimbulkan kesulitan
miksi dan retensi urin.
SSP: Epinefrin dosis terapi tidak menimbulkan efek stimualsi yang kuat karena obat
inmi relatif polar sehingga sukar melewati sawar darah-otak. Akibat dari efek perifirnya pada
beberapa orang dapat menimbul kegelisahan, kekawatiran, sakit kepala dan tremor.

Efek metabolik. Perangsangan reseptor beta-2 di hati dan otot rangka menstimulasi
glikogenolisis. Dalam hati glikogen dirubah menjadi glukosa oleh glukosa-6-fosfatae,
sedangkan otot rangka tidak mempunyai enzim ini, tetapi melepaskan asam laktat.
Epinefrin juga menghambat sekresi insulin (dominasi reseptor alfa terhadap beta-2) dan
menurunkan ambilan glukosa oleh jaringan perifir.

FARMAKOKINETIK

Pemberian oral epinefrin dirusak oleh enzim COMT dan MAO yang banyak terdapat
dalam dinding usus dan hati. Suntikan subkutan absorpsinya lambat karena terjadi
vasokonstriksi lokal. Pemberian I.M. absorpsi lebih cepat. Pemberian lokal melalui semprot
hidung dan inhalasi, efeknya terbatas pada saluran nafas, namun dapat terjadi efek sistemik.

EFEK SAMPING DAN INTOKSIKASI

Efek samping dapat berupa : rasa takut, kawatir, kegelisahan ketegangan, sakit
kepala berdenyut, tremor, rasa lemas, pusing, pucat, palpitasi dan sukar bernafas.
Gejala ini cepat mereda setelah istirahat.
Dosis epinefrin yang berlebihan atau pemberian IV dapat menimbulkan
perdarahan otak akibat kenaikan tekanan darah yang hebat secara mendadak. Untuk
mengatasi ini dapat diberikan vasodilator kerja cepat seperti Na-nitroprusid atau suatu alfa-
bloker.
Penderita hipertiroidi dan hipertensi lebih peka terhadap efek samping dan efek pada
sistem kardiovaskuler.
Pada penderita penyakit jantung organik atau pada anestesi dengan hidrokarbon
berhalogen, epinefrin dapat menimbulkan aritmia ventrikel dan dapat melanjut jadi
fibrilasi ventrikel yang biasanya fatal.
KONTRAINDIKASI

Epinefrin tidak boleh diberikan pada penderita : (1) hipertensi, (2) hipertiroidi,
(3) aritmia dan (4) angina pektoris karena memperberat kerja jantung dan memperberat
kekurangan O2 yang dapat menimbulkan serangan angina.

INDIKASI KLINIS

Epinefrin sering digunakan untuk: (1) bronkospasme diberikan secara subkutan, (2)
anafilaktik, diberikan secara parenteral ,(3) dengan infiltrasi anestesi untuk
memperpanjang masa kerja anestesi lokal (efek vasokonstriksi lokal pada tempat suntikan),
(4) henti jantung, untuk merangsang kontraksi jantung dan (5) secara lokal untuk
menghentikan perdarahan kapiler.

3. NOREPINEFRIN (LEVATERENOL)

FISIOLOGIS DAN FARMAKOLOGI


Norepinefrin (NE) yang disebut juga sebagai noradrenalin atau levarterenol adalah sebagai
berikut : (1) disintesa oleh serat simpatis pascaganglion dan sel di "locus cereleus" dan pon.
(2) tidak dapat melewati sawar darah-otak; (3) reseptor alfa memberikan efek
fisiologis (lihat Tabel 1.6) :
a) alfa-1 - terutama pada membran pasca-sinaptik, sensitivitas terhadap Epi = NE, >
isoproterenol
b) alfa 2 - terutama pada membran prasinaptik; snsitivitas Epi = NE > isoproterenol
(tidak ada aktivitas); (4) reseptor beta - untuk efek fisiologis, lihat TAbel 1.6 ; NE
lebih poten pada reseptor beta-1 daripada beta-2. Beta-1 bekerja terutama
pada jaringan jantung; sensitivitas terhadap isoproterenol > Epi = NE; beta-2
terutama terdapat pada otot polos dan kelenjar-kelenjar; sensitivitas terhadap
isoproterenol > Epi > NE.
4. ISOPROTERENOL

Isoproterenol (= isopropilnorepinefrin = isoprenalin = isopro- pilarterenol)


mempunyai efek yang paling kuat terhadap reseptor beta-1 dan beta-2, umunya tidak
mempunyai efek pada reseptor alfa (efenya relatif murni terhadap reseptor beta).
Aktivasi reseptor beta-2 oleh isoproterenol merelaksasi hampir semua jenis otot
polos. Efek ini terutama jelas bila tonus otot polos sebelumnya tinggi, dan paling jelas
terlihat pada otot polos bronkus dan saluran cerna.

Otot polos pembuluh darah. Pemberian isoproterenol per infus pada manusia
menurunkan tekanan darah diastolik, karena relaksasi otot polos pembuluh darah
terutama otot rangka, dan juga mesenterium dan ginjal. Efek inotrpoik dan
kronotropik positif meyebabkan curah jantung bertambah.

Otot polos bronkus. Isoproterenol bekerja sebagai antagonis fisiologik terhadap


obat-obat atau terhadap penyebab asma yang menyebabkan bronkokonstriksi. Toleransi
dapat timbul bila obat ini digunakan secara berlebihan. Pada asma isoproterenol juga
menghambat pembebasan histamin pada reaksi antigen-antibodi. Efek ini juga dimiliki oleh
antagonis beta-2 yang selektif.

Otot polos saluran cerna dan uterus. Isoproterenol menurunkan tonus dan motilitas
usus dan juga motilitas uterus.

SSP.Isoproterenol menstimulasi SSP. Efek ini tidak jelas pada dosis terapi.

INDIKASI KLINIK. Isoproterenol diindikasikan untuk : (1) mengatasi


bronkospasme, diberikan secara ihalasi; (2) perangsang jantung, diberikan IV untuk
pengobatan shok (jarang digunkanan); (3) mengatasi bradikardi yang disertai hipotensi
dan/atau angina.
5. DOBUTAMIN

EFEK FARMAKOLOGI

Secara kimia ada kaitannya dengan dopamin. Merupakan stimulan beta-1 yang
selektif. Efeknya lebih sedikit pada reseptor-reseptor beta-2, alfa atau dopamin.

Kardiovaskuler. Dobutamin mempunyai efek inotropik positif sama seperti dopamin,


tetapi efek kronotropik kurang kuat, lebih sedikit menyebabkan aritmia dan iskemia kardiak
daripada dopamin; tidak menghasilkan vasodilatasi pada dosis rendah (dopamin
menimbulkan vasodilatasi pada dosis rendah); efek vasokonstriksi minimal.

INDIKASI KLINIK
Dobutamin digunakan untuk kelemahan jantung kongestif pada periode pasca-
insufisiensi mitral, dengan miokarditis atau kardiomiografi dan setelah "open
heart surgery". Meningkatkan curah jantung dengan sedikit perubahan pada O2 miokard.

EFEK SAMPING
Efek samping dapat berupa : enek, muntah, sakit kepala, palpitasi, angina dan
aritmia.

4. ADRENEGIK NON-KATEKOLAMIN

Termasuk obat golongan adrenergik-nonkatekolamin adalah : efendrin, fenilefrin,


amfetamin, metamfetamin, mefentermin, hidroksiamfe-tamin, metaraminol,
metoksamin, agonis beta-2 (orsiprenalin, salbutamol, terbutalin, fenoterol, ritodrin,
isoetarin, kuintere- nol, soterenol), dan lain-lain.
Aktivitas agonis simpatetik dapat dihasilkan dari pembebasan simpanan NE atau
stimulasi langsung reseptor adrenergik. Kebanyakan obat adrenergik nonkatekolamin
dapat diberikan per oral, dan banyak di antaranya mempunyai masa kerja yang lama,
karena resistensi obat-obat ini terhadap COMT dan MAO dan dosisnya relatif besar.
Efek sentral relatif kuat karena dapat melewati sawar-darah otak.

4.1. TIRAMIN

Tiramin banyak ditemukan dalam anggur merah, bir, keju, coklat, dan banyak makanan
lain. Diambil oleh neuron-neuron simpatis dan bekerja sebagai transmiter palsu
untuk membebaskan katekol-katekol. Dalam keadaan normal senyawa ini didegradasi oleh
MAO. Tidak digunakan dalam terapi.

TOKSISITAS. Bila tiramin dimakan oleh orang yang sedang mengunakan MAO
inhibitor akan terjadi penurunan metabolisme MAO inhibitor, dan kadar
tiramin dalam serum yang tinggi akan menimbulkan pembebasan katekolamin
secara mendadak yang akan menginduksi terjadinya hipertensi krisis dan aritmia berat.

4.2. AMFETAMIN

EFEK FARMAKOLOGIK

(1) Amfetamin menimbulkan pembebasan NE (efek-efek alfa dan beta yang kuat) dan
dopamin. Ekskresinya adalah melalui urin, umumnya dalam bentuk tidak berobah.
(2) SSP : Stimulasi SSP menimbulkan iritabilitas, takipnue, efori, penekanan nafsu
makan, peningkatan aktivitas mototrik, dan dosis tinggi dapat menimbulkan psikosis
yang dapat diobati dengan obat-obat blokade dopamin.
(3) Kardiovaskuler : meningkatkan tekanan darah, menurunkan reflek denyut jantung
(bervariasi); dan merupakan aritmogenik pada dosis tinggi.
INDIKASI KLINIK
1. penyakit kurang perhatian pada anak-anak (disfungsi otak yang minimal, hiperaktivitas);
2. sebagai narkolepsi;
3. penekan nafsu makan, hanya digunakan untuk jangka pendek (beberapa
minggu) karena efek adiksinya. Adanya rebound weight gain menghilangkan manfaat
obat ini.

EFEK SAMPING

Efek samping amfetamin dapat berupa :


1. kelemahan, pusing, insomnia, disfori, tremor, sakit kepala, reaksi psikotik (jarang);
2. palpitasi, takikardi, hipertensi;
3. diare atau konstipasi;
4. impoten;
5. dosis berlebih dapat menimbulkan konfusi, delirium, paranoia, psikosis,
aritimia jantung, hipertensi atau hipotensi, nyeri abdomen (pengasaman urin
mempercepat ekskresi obat ini);
6. penyalahgunaan dapat menimbulkan ketergantungan obat.

4.3. Metaraminol

EFEK FARMAKOLOGI
Metaraminol mempunyai efek-efek farmakologi sebagai berikut :
(1) bekerja sebagai "false neurotransmitter" dan sebagai agonis adrenergik;
(2) stimulasi reseptor α -1 dan α-2 (efek langsung dan tidak langsung);
(3) meningkatkan tekanan darah saistolik dan diastolik dan sering menimbulkan
reflek bradikardi.

INDIKASI KLINIK. Metaraminol digunakan untuk mengatasi hipotensi.

EFEK SAMPING : sama dengan NE.


4.4. EFEDRIN

FARMAKODINAMIK. Efedrin adalah alkaloid yang diperoleh dari tumbuhan


Efedra. Farmakodinamik efedrin sama seperti amfetamin (tetapi efek sentralnya
lebih lemah) atau mirip epinefrin. Dibanding dengan epinefrin, efedrin dapat
diberikan per oral, masa kerjanya jauh lebih lama, efek sentralnya kuat, dan untuk
terapi diperlukan dosis yang jauh lebih besar dari dosis epinefrin. Bekerja
merangsang reseptor α, β1 dan β2. Efek perifir, bekerja langsung dan tidak langsung
(melalui pembebasan NE endogen) pada efektor sel.
Seperti epinefrin , efedrin menimbulkan bronkodilatasi, tetapi efeknya lebih lemah
dan berlangsung lama. Hal ini digunakan untuk terapi asma bronkial. Penetesan
lokal pada mata menimbulkan midriasis. Pada uterus dapat mengurangi
aktivitas uterus, dan efek ini daapat dimanfaatkan untuk dismenore.

INDIKASI KLINIK

Dalam klinik efedrin dapat digunakan untuk :


1) sebagai dekongestan diberikan peroral atau intranasal. Penggunaan yang terus
menerus menimbulkan toleran.
2) Pencegahan enuresis, karena efeknya meningkatkan tonus spingter vesica
urinaria.
3) Sebagai midriatika untuk pemeriksaan mata.
4) Pengobatan bronkospasme (asma bronkial).

EFEK SAMPING: sama seperti pada amfetamin, tetapi efek samping pada SSP lebih
ringan.

4.5. METOKSAMIN

Metoksamin adalah suatu agonis α-1 relatif murni, bekerja langsung pada efektor
sel. Efek sentral hampir tidak ada. Efek vasokonstriksi cukup kuat, menimbulkan
kenaikan tekanan darah sistolik dan diastolik, disertai dengan efek bradikardi yang kuat dan
perlambatan konduksi AV.
TOKSISITASNYA: sama dengan fenilefrin.
PENGGUNAAN : untuk hipotensi.

5. AGONIS BETA-2 SELEKTIF

Termasuk golongan ini ialah : orsiprenalin (metaproterenol - inhalasi),


salbutamol (albuterol - agonis beta-2 paling kuat, pemberian inhalasi atau per oral),
terbutalin (inhalasi, subkutan atau per oral), fenoterol, ritodrin, isoetarin (dibanding obat-
obat lain : onsetnya cepat, masa kerja pendek, pemberian hanya per inhalasi), kuinterenol,
soterenol, dan lain-lain. Dalam dosis kecil efeknya pada reseptor β-2 jauh
lebih kuat dari pada β-1. Bila dosis dinaikkan selektivitas ini dapat hilang. Efek
perangsangan β-2 pada paru menimbulkan bronkodilatasi, pada uterus dan pembuluh darah
otot rangka menimbulkan vasodilatasi. Setiap obat agonis β-2 mempunyai
selektivitas yang berbeda-beda .

EFEK SAMPING. Dapat berupa : (1) enek dan muntah, (2) takikardi, palpitasi,
hipertensi, dan disritmia, dan (3) sakit kepala dan tremor.

INDIKASI KLINIK. Agonis beta-2 selektif terutama digunakan untuk terapi


simtomatis bronkospasme (asma bronkial). Untuk serangan akut asma bronkial dapat
digunakan epinefrin subkutan 0,2-0,5 mg atau secara inhalasi ("metered aerosol").
8. Vasodilator

Vasodilator

Obat jenis ini merupakan obat yang poten terutama jika dikombinasi dengan beta bloker dan tiazid.

Diazoksid juga digunakan melalui injeksi intravena pada keadaan kedaruratan hipertensi; tapi pada anak
bukan merupakan terapi lini pertama.
Hidralazin yang diberikan secara oral merupakan tambahan yang berguna pada antihipertensi lain, namun
jika digunakan secara tunggal dapat menyebabkan takikardia dan retensi cairan. Kejadian efek samping
dapat dikurangi jika dosis dipertahankan dibawah 100 mg per hari, tetapi perlu diduga adanya lupus
eritematosus sistemik jika terjadi penurunan berat badan, artritis atau penyakit lain yang tidak dapat
dijelaskan.
Natrium nitroprusid diberikan melalui infus intravena untuk mengendalikan krisis hipertensi berat jika
diperlukan terapi parenteral.
Pada anak, pada dosis rendah obat ini mengurangi resistensi vaskular sistemik dan meningkatkan curah
jantung. Pada dosis tinggi dapat menyebabkan hipotensi berlebihan. Oleh karena itu pemantauan tekanan
darah harus dilakukan secara terus-menerus. Natrium nitroprusid dapat digunakan untuk pengendalian
hipotensi paradoks sesudah pembedahan koarktasio aorta.

Minoksidil hanya digunakan sebagai terapi cadangan untuk hipertensi berat yang resisten terhadap obat
lain. Vasodilatasi disertai dengan peningkatan curah jantung dan takikardia, dan pasien dapat mengalami
retensi cairan. Oleh karena itu, harus ditambahkan beta bloker dan diuretika (biasanya furosemid dosis
tinggi). Obat ini tidak cocok diberikan pada wanita karena menimbulkan hipertrikosis.
Prazosin, doksazosin, dan terazosin memiliki sifat menghambat reseptor alfa dan vasodilator.
Iloprost diindikasikan untuk hipertensi paru dan harus digunakan di bawah pengawasan dokter spesialis.
Monografi:
BERAPROST
Indikasi:
hipertensi paru primer; perbaikan tukak, nyeri dan rasa dingin yang disebabkan oleh oklusi arteri kronik.

Peringatan:
meningkatkan risiko perdarahan pada kondisi menstruasi; pengobatan sebaiknya dihentikan jika terjadi
efek samping yang bermakna secara klinis; lansia; menyusui; anak.

Interaksi:
meningkatkan risiko perdarahan pada penggunaan bersama dengan antikoagulan (misal warfarin),
antiplatelet (misal asetosal, tiklopidin), fibrinolitik (misal urokinase); peningkatan efek penurunan tekanan
darah pada penggunaan bersama dengan golongan prostaglandin I2.
Kontraindikasi:
perdarahan; kehamilan.

Efek Samping:
perdarahan, syok, pneumonia interstisial, gangguan fungsi hati, angina pektoris, infark miokard, reaksi
hipersensitivitas, sakit kepala, pusing, hot flushes, diare, mual, nyeri abdomen, anoreksia, peningkatan
bilirubin, AST, ALT, LDH, trigliserida.
Dosis:
hipertensi paru primer: dosis awal, 60 mcg sehari dalam 3 dosis terbagi, sesudah makan, dapat
ditingkatkan hingga maksimum 180 mcg sehari dalam 3-4 dosis terbagi; perbaikan tukak, nyeri dan rasa
dingin yang disebabkan oleh oklusi arteri kronik: Dewasa, dosis lazim 120 mcg sehari dalam 3 dosis
terbagi.

HIDRALAZIN HIDROKLORIDA
Indikasi:
hipertensi sedang hingga berat (sebagai terapi tambahan); gagal jantung (dengan nitrat kerja panjang, tapi
kombinasi ini sering tidak dapat ditoleransi); krisis hipertensi (sebagai terapi alternatif pada kehamilan).

Peringatan:
gangguan fungsi hati (lampiran 2); gangguan fungsi ginjal (lampiran 3); penyakit arteri koroner (dapat
menyebabkan angina, hindari penggunaannya setelah infark miokard, tunggu hingga stabil), penyakit
serebrovaskular; kadang, menyebabkan penurunan tekanan darah terlalu cepat walaupun pada dosis
rendah; kehamilan (lampiran 4); menyusui (lampiran 5).

Interaksi:
lihat lampiran 1 (hidralazin)

Kontraindikasi:
lupus eritematosus sistemik idiopatik, takikardia berat, gagal jantung curah tinggi, insufisiensi miokard
akibat obstruksi mekanik, cor pulmonale, aneurism aorta, porfiria.
Efek Samping:
takikardi, palpitasi, wajah memerah, hipotensi, retensi cairan, gangguan saluran cerna, sakit kepala, pusing,
sindroma seperti lupus eritematosus sistemik setelah penggunaan jangka panjang dengan dosis lebih dari
100 mg per hari (atau dengan dosis yang lebih rendah pada wanita dan individu dengan asetilator lambat);
jarang terjadi: kulit kemerahan, demam, neuritis perifer, polineuritis, parestesia, artralgia, mialgia,
lakrimasi yang meningkat, kongesti nasal, dispnea, agitasi, ansietas, anoreksia; ada laporan gangguan
darah (termasuk leukopenia, trombositopenia, anemia hemolitik), abnormalitas fungsi hati, jaundice,
kreatinin plasma meningkat, proteinuria dan hematuria.

Dosis:
Oral, hipertensi, 25 mg dua kali sehari, dapat ditingkatkan hingga maksimal 50 mg dua kali sehari; gagal
jantung (dosis awal dilakukan di rumah sakit) 25 mg 3-4 kali sehari, jika diperlukan dosis dapat
ditingkatkan setiap 2 hari; dosis penunjang lazim 50-75 mg empat kali sehari.

Injeksi intravena lambat, hipertensi dengan komplikasi ginjal dan krisis hipertensi, 5-10 mg diencerkan
dengan 10 mL NaCl 0,9%; dapat diulangi setelah 20-30 menit (lihat peringatan).
Infus intravena, hipertensi dengan komplikasi ginjal dan krisis hipertensi, dosis awal 200-300 mcg/menit;
dosis penunjang 50-150 mcg/menit.
ILOPROST
Indikasi:
hipertensi paru primer atau sekunder yang disebabkan penyakit jaringan ikat (connective tissue disease)
atau akibat obat, pada tahap sedang sampai berat. Sebagai tambahan, pengobatan hipertensi paru yang
disebabkan tromboembolisme paru kronik yang tidak bisa dilakukan pembedahan.
Peringatan:
hipertensi paru tidak stabil dengan gagal jantung kanan yang lanjut; hipotensi (jangan dimulai pemberian
obat jika tekanan sistolik di bawah 85 mmHg), infeksi paru akut, kerusakan hati, gagal ginjal yang
memerlukan dialisis.

Interaksi:
heparin, kumarin, asam asetilsalisilat, AINS, tiklodipin, klopidogrel dan glikoprotein IIb/IIIa antagonis
(absiksimab, eftifibatid dan tirofiban).

Kontraindikasi:
kehamilan dan menyusui (lihat lampiran 2), kondisi yang akan meningkatkan resiko pendarahan (tukak
lambung aktif, trauma, perdarahan intrakranial), angina tidak stabil atau penyakit jantung koroner berat,
infark miokard dalam 6 bulan terakhir, gagal jantung dekompensasi (kecuali jika di bawah pengawasan
dokter), aritmia berat, kongesti paru, kejadian serebrovaskular dalam 3 bulan terakhir (serangan iskemik
transien atau stroke), hipertensi paru akibat penyakit oklusif vena, kelainan katup jantung kongenital atau
yang didapat dengan gejala klinis fungsi miokard yang relevan namun tidak terkait dengan hipertensi paru,
hipersensitif.

Efek Samping:
sangat umum: sakit kepala, vasodilatasi, peningkatan batuk, mual, nyeri rahang/trismus; umum: pusing,
hipotensi, sinkop, dispnea, diare, muntah, iritasi mulut dan lidah, ruam kulit, nyeri punggung; frekuensi
tidak diketahui: hipersensitivitas, bronkospasme/wheezing, disgeusia.
Dosis:
melalui inhalasi: 2,5–5 mcg, 6–9 kali sehari, dapat ditambah tergantung respon dan tolerabilitas.

MINOKSIDIL
Indikasi:
hipertensi berat, sebagai tambahan pada terapi diuretika dan beta bloker.

Peringatan:
lihat keterangan diatas; angina; setelah infark miokard (tunggu hingga stabil); dosis rendah pada pasien
dialisis; porfiria; kehamilan (lampiran 4).

Interaksi:
lihat lampiran 1 (minoksidil).
Kontraindikasi:
feokromositoma.

Efek Samping:
retensi cairan dan natrium, berat badan meningkat, edema perifer, takikardi, hipertrikosis, peningkatan
kreatinin yang reversibel; kadang-kadang, gangguan saluran cerna, payudara menegang, kulit kemerahan.

Dosis:
Dosis awal 5 mg (lansia, 2,5 mg), dalam 1-2 dosis, ditingkatkan menjadi 5-10 mg setiap 3 hari atau lebih;
maksimal 50 mg sehari.

NATRIUM NITROPRUSID
Indikasi:
krisis hipertensi, untuk mendapatkan penurunan tekanan darah yang terkontrol pada anestesi; gagal jantung
kronik atau akut.

Peringatan:
hipotiroidism, hiponatremia, penyakit jantung iskemik, sirkulasi serebral yang terganggu, lansia,
hipotermia, monitor tekanan darah dan kadar sianida dalam darah, jika terapi berlangsung lebih dari 3 hari,
juga perlu dimonitor kadar tiosianat dalam darah; hindari penghentian secara mendadak - hentikan infus
selama 15-30 menit; gangguan fungsi hati (lampiran 2), gangguan fungsi ginjal (lampiran 3); kehamilan
(lampiran 4); menyusui (lampiran 5).

Interaksi:
lihat lampiran 1 (nitroprusid).
Kontraindikasi:
defisiensi vitamin B12 berat, atropi optik Leber; hipertensi sekunder.
Efek Samping:
disebabkan oleh pengurangan tekanan darah yang terjadi secara cepat (kurangi kecepatan infus): sakit
kepala, pusing, mual, muntah-muntah, nyeri lambung, berkeringat, palpitasi, rasa was-was, rasa tidak
nyaman pada bagian retrosternal; jarang terjadi: penurunan jumlah platelet, flebitis transien akut.
Dosis:
Krisis hipertensi, secara infus intravena, dosis awal 0,5-1,5 mcg/kg bb/menit, kemudian ditingkatkan
bertahap 500 nanogram/kg bb/menit setiap 5 menit dalam kisaran 0,5-8 mcg/kg bb/menit (dosis lebih
rendah jika sudah mendapat antihipertensi lain); penggunaan dihentikan jika dalam 10 menit, respons tidak
memuaskan dengan dosis maksimal. Telah digunakan dosis awal lebih rendah 300 nanogram/kg bb/menit;
menjaga tekanan darah diastolik 30-40% lebih rendah dari sebelum terapi, 20-400 mcg/menit (dosis lebih
rendah untuk pasien yang sudah mendapat antihipertensi lain); mengontrol hipotensi saat pembedahan,
dengan infus intravena, maksimal 1,5 mcg/kg bb/menit; gagal jantung, dengan infus intravena, dosis awal
10-15 mcg/menit, ditingkatkan setiap 5-10 menit sesuai kebutuhan; dosis lazim 10-200 mcg/menit,
maksimal 3 hari.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2012. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta : Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.

Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2002. Biologi. Alih bahasa lestari, R. et al. safitri, A.,
Simarmata, L., Hardani, H.W. (eds). Erlangga : Jakarta.

Ikawati , Zullies. 2014 . Farmakologi Molekuler . UGM : Yogyakarta.

Katzung, Bertam G . 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik buku 2 ed 8. Jakarta:Salemba Medika
Glance.

Lumbantobing, S.M. 2008. Tekanan Darah Tinggi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia :
Jakarta.

Tatang, 2015. 10 Faktor Penyebab Tekanan Darah Tinggi ( Hipertensi ). http://smpsma.com/10-


faktor-penyebab-tekanan-darah-tinggi-hipertensi.html . Diakses pada 13 Oktober 2015.

Yousef; et al. 2005. “Mekanisme Kerja dari Calcium Channel Blockers Dalam Pengobatan Nefropati
Diabetik”. Int J Diabetes & metabolism 13:76-82.

Sumber gambar 1: http://www.varimed.hu/hypertension/pat/pat_004.html

Sumber gambar 2: https://en.wikipedia.org/wiki/Hemodynamics

Vasodilator dapus

http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-2-sistem-kardiovaskuler-0/23-antihipertensi/231-vasodilator diakses
pada tanggal 9 Juli 2018

Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui macam obat-obatan pada system kardiovaskuler

2. untuk mengetahui mekanisme obat-obatan pada system kardiovaskuler

3. Untuk mengetahui efek samping obat-obatan pada system kardiovaskuler

4. untuk mengetahui kontraindikasi dari obatobatan kardiovaskuler