Anda di halaman 1dari 6

[tutup]

Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di F icon.svg Facebook, Twitter bird logo 2012.svg
Twitter, Instagram simple icon.svg Instagram, dan Telegram logo.svg Telegram
Tutup
Krakatau
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation
Jump to search
Artikel ini berisi uraian tentang pulau dan gunung Krakatau. Untuk lainnya, lihat
Krakatau (disambiguasi).
Untuk nama kereta api, lihat Kereta api Krakatau Ekspres.
Krakatau
Krakatoa eruption lithograph.jpg
Letusan Krakatau 1883.
Titik tertinggi
Ketinggian 813 m (2.667 kaki)
Geografi
Krakatau is located in Indonesia
Krakatau
Krakatau
Lokasi di dalam Indonesia
Letak Selat Sunda, Indonesia
Geologi
Jenis gunung Kaldera vulkanik
Letusan terakhir 4 Agustus 2009

Krakatau (bahasa Inggris: Krakatoa) adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan
berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra yang termasuk dalam kawasan
cagar alam. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana
(Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus
1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya
menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami
ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar
sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653
kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan
di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Selat Sunda

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua
setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup
sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba
dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di
Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia
masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia
sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan,
dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu
teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia
setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi
dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu
memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. Gunung Krakatau yang meletus,
getarannya terasa sampai Eropa.
Daftar isi

1 Perkembangan Gunung Krakatau


1.1 Gunung Krakatau Purba
1.2 Munculnya Gunung Krakatau
1.3 Erupsi 1883
1.4 Anak Krakatau
2 Krakatau dalam karya seni
2.1 Film
2.2 Sastra
3 Lihat pula
4 Referensi
5 Pranala luar

Perkembangan Gunung Krakatau


Gunung Krakatau Purba

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada
masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus
dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau
Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini
disusun dari bebatuan andesitik.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno
yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi.
Isinya antara lain menyatakan:
� Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula
goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian
datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan
seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke
timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah
menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera �
Krakatoa evolution map-fr.gif

Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa
kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks
tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi
Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran
pantainya mencapai 11 kilometer.

Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan
kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai
Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai
Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir
bertanggung jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar
bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan
mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba,
transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia
Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika
Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung
selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per
detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter,
menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
Munculnya Gunung Krakatau
Perkembangan Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba
kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal
sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik.
Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung
Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu.
Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam.
Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak
meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20
Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada
Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat
Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang
puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.
Erupsi 1883
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: ?Letusan Krakatau 1883

Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, terjadi ledakan pada gunung
tersebut. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris
yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang
paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling
meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai
4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat
itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama


ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar
dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai
ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume
18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras
yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan
sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung
Rakata di mana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan
sedalam 250 meter. Tsunami (gelombang laut) naik setinggi 40 meter menghancurkan
desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan
hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung
kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai
barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera
Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan
harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak
lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke
pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu
kilometer.
Anak Krakatau
Anak Krakatau, dua tahun sejak awal terbentuknya. Foto diambil 12 atau 13 Mei 1929,
koleksi Tropenmuseum.

Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung
Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera
purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan
pertumbuhan tingginya sekitar 0.5 meter (20 inci) per bulan. Setiap tahun ia
menjadi lebih tinggi sekitar 6 meter (20 kaki) dan lebih lebar 12 meter (40 kaki).
Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika
dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 190
meter (7.500 inci atau 500 kaki) lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab
tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru
itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan
laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan
laut.

Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang
dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan
Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika
akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus.
Beberapa ahli geologi memprediksi letusan ini akan terjadi antara 2015-2083. Namun
pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa
diabaikan.
Anak Krakatau, Februari 2008

Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang,
Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya
ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava
pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori
yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada
minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang
ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Anak Krakatau saat ini secara
umum oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan "Gunung Krakatau" juga, meskipun
sesungguhnya adalah gunung baru yang tumbuh pasca letusan sebelumnya.
Krakatau dalam karya seni
Film

Krakatoa, East of Java Drama, Amerika Serikat, 1969, Sutradara: Bernard


Kowalski, bersama pemeran utama Maximilian Schell
Krakatau � Ein Vulkan ver�ndert die Welt. Doku-Drama, 2006, 45 Min., Sutradara
dan naskah: Jeremy Hall, Produksi: ZDF, Laman di ZDF
Krakatoa. The Last Days, Dokudrama, Britania Raya, 2006, 87 Min., Sutradara:
Sam Miller, Produksi BBC, dengan Rupert Penry-Jones dan Olivia Williams sebagai
pemeran utama. Laman di BBC

Sastra

Syair Lampung Karam tulisan Mohammad Saleh, terbit di Singapura (1883)


berbahasa Melayu.

Lihat pula

Gunung meletus
Daftar gunung di Indonesia

Referensi

^ Dunk, Marcus (2009-07-31). "Will Krakatoa rock the world again?". London:
Associated Newspapers Ltd. Diakses tanggal 2010-01-23.

Pranala luar

Laman di tentang Krakatau di Discovery Channel


Koleksi foto Anak Krakatau erupsi 2011-2012
van Sandick RA 1890. In The Realm of The Volcano. The eruption of Krakatau and
the aftermath. Zutphen, W.J. Thieme & Cie. Buku daring berisi catatan-catatan
seorang juru mesin pada saat Krakatau meletus
Laman berisi penuturan saksi-saksi mata peristiwa meletusnya Krakatau 1883.
GeoGeomagz Volume 1 No. 3

[tampilkan]
lbs

Gunung di Indonesia
Kategori:

Halaman yang menggunakan infobox Gunung dengan parameter yang tidak


dikethuiGunung berapi di IndonesiaGunung berapi di LampungGunung di Indonesia

Menu navigasi

Belum masuk log


Pembicaraan
Kontribusi
Buat akun baru
Masuk log

Halaman
Pembicaraan

Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu

Pencarian

Halaman Utama
Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang

Komunitas

Warung Kopi
Portal komunitas
Bantuan

Wikipedia

Tentang Wikipedia
Pancapilar
Kebijakan
Menyumbang
Hubungi kami
Bak pasir

Bagikan

Facebook
Twitter
Google+

Cetak/ekspor

Buat buku
Unduh versi PDF
Versi cetak
Dalam proyek lain

Wikimedia Commons

Perkakas

Pranala balik
Perubahan terkait
Halaman istimewa
Pranala permanen
Informasi halaman
Item di Wikidata
Kutip halaman ini
Pranala menurut ID

Bahasa lain

English
Espa�ol
Fran�ais
??????
Basa Jawa
Bahasa Melayu
Basa Sunda
????
??

Sunting interwiki

Halaman ini terakhir diubah pada 2 Juli 2018, pukul 17.58.


Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons;
ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih
jelasnya.

Kebijakan privasi
Tentang Wikipedia
Penyangkalan
Pengembang
Cookie statement
Tampilan seluler

Wikimedia Foundation
Powered by MediaWiki