Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Nyeri punggung bawah (NPB) di daerah lumboskral merupakan gangguan
yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Setelah nyeri kepala, kelainan
inilah yang paling sering diderita dan penyebab orang mangkir tidak masuk kerja.
Pada satu penelitian didapatkan 18% populasi berusia 18 – 68 tahun menderita
nyeri punggung bawah. NBP adalah nyeri yang dirasakan di daerah punggung
bawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikular atau keduanya.1
Di Indonesia, insidensi NPB belum diketahui dengan jelas. Berbagai data
yang ada di beberapa negara berkembang menyebutkan, insidensi NPB lebih
kurang 15 – 20% populasi, yang sebagian besar merupakan NPB akut maupun
kronik termasuk tipe benigna. Sembilan puluh persen NPB benigna dapat sembuh
spontan dalam kurun waktu 4 – 6 minggu, namun ada kecenderungan berulang
sehingga menyebabkan terjadinya nyeri kronik dan disabilitas. 1
Penyebab pasti sebagian besar kasus NPB benigna baik yang akut maupun
kronik, sulit ditentukan, walaupun diperkirakan kebanyakan karena sebab
mekanikal (97%). Dari sekian banyak penyebab mekanikal, proses degeneratif
(spondilosis) menduduki peringkat kedua (10%) setelah lumbar strain/sprain
(70%). Disusul hernia nucleus pulposus (HNP) (4%), stenosis spinalis (3%),
fraktur kompresi osteoporotik (4%), fraktur traumatik dan penyakit kongenital (<
1%), spondilolisis dan NPB diskogenik.1
Spondilo berasal dari bahasa Yunani yang berarti tulang belakang.
Spondilosis lumbalis dapat diartikan perubahan pada sendi tulang belakang
dengan ciri khas bertambahnya degenerasi discus intervertebralis yang diikuti
perubahan pada tulang dan jaringan lunak, atau dapat berarti pertumbuhan
berlebihan dari tulang (osteofit), yang terutama terletak di aspek anterior, lateral,
dan kadang-kadang posterior dari tepi superior dan inferior vertebra centralis
(corpus).1,2
Daerah lumbal terdiri atas L1 sampai L5 dan L5 – S1 yang paling besar
menerima beban atau berat tubuh sehingga daerah lumbal menerima gaya dan

1
2

stress mekanikal paling besar sepanjang vertebra. Oleh karena itu, daerah lumbal
sangat peka terhadap terjadinya nyeri pinggang. Disamping itu, gerakan
membawa atau mengangkat objek yang sangat berat biasanya dapat menyebabkan
terjadinya cidera pada lumbal spine.1,2
Di dunia spondilosis lumbal dapat mulai berkembang pada usia 20 tahun,
namun paling banyak terjadi pada usia 45 tahun dan lebih banyak terjadi pada
wanita dari pada laki-laki. Kira-kira 20% pria dan 22% wanita berusia 45-64
tahun mengalami osteofit lumbalis. Lebih dari 95% manusia akan mengalami
perubahan pada lumbosakral seperti penyempitan ruang diskus atau pengerasan
diskus yang identik dengan spondilosis. 1,2
Spondilosis lumbalis sering bersifat asimtomatis, sehingga kita sebagai
dokter sangat perlu untuk mengetahui gejala klinis yang sering tampak serta
pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang untuk dapat menegakkan
diagnosa dan memberikan penanganan yang tepat. Spondilosis juga dapat
menimbulkan nyeri apabila telah mengenai nervus spinalis sehingga dapat
menimbulkan gangguan dan keterbatasan aktivitas sehari-hari. 1,2
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana etiologi dan patofisiologi Spondylosis Lumbalis?
2. Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan Spondylosis Lumbalis?
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui etiologi dan patofisiologi Spondylosis Lumbalis.
2. Mengetahui cara mendiagnosis dan penatalaksanaan Spondylosis
Lumbalis.
1.4 MANFAAT
1. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya.
2. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti
kepaniteraan klinik bagian ilmu radiologi