Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Konsep Kebutuhan
a. Definisi / deskripsi kebutuhan rasa nyaman (Nyeri)
Nyeri dapat digolongkan menjadi 2 (dua) jenis karakteristik yaitu:
1. Nyeri akut ialah pengalaman emosional dan sensori yang tidak
menyenagkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara
actual atau potensial atau menunjukan adanya kerusakan
(Association for the study of pain ): srangan mendadak atau
perlahan dari intensitas ringan sampai berat dapat diantisipasi
atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan. (Nanda)
Batasan karakteristik:
2 . Nyeri kronis ialah pengalaman emosional dan sensori yang
tidak menyenagkan yang muncul dari kerusakan jaringan secara
actual atau potensial atau menunjukan adanya kerusakan
(Association for the study of pain ): srangan mendadak atau
perlahan dari intensitas ringan sampai berat,nyeri konstan atau
berulang yang tidak dapat dantisipasi atau diprediksi
kesembuhannya dengan durasi nyeri lebih dari 6 bulan. (Nanda)

b. Fisiologi sistem / fungsi normal system syaraf


1. Reseptor nyeri atau nosireseptor adalah organ tubuh yang
berfungsi untuk menerima rangsangan nyeri. Organ tubuh
yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung-ujung
saraf bebas dalam kulit yang berespons hanya terhadap
stimulus kuat yang secara potensial merusak.
Reseptor nyeri di sbut juga nosiseptor, ada yang bermielin
dan ada yang tidak dari saraf aferen. Berdasarkan letak
nosiseptor dapat dilaporkan dalam beberapa bagian tubuh
yaitu pada kulit (kutaneus), somatic dalam (deep somatic),
dan pada daerah visceral. Karena letaknya yang berbeda-
beda inilah, maka nyeri yang timbul juga memiliki sensassi
yang berbeda.
a. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua
komponen, yaitu:
 serabut A-Delta: serabut komponen cepat, kec.
Transmisi 6-30 m/dt, mungkin nyeri tajam dan akan
cepat hilang apabila penyebab ny
 Serabut C :seraby=ut komponen lambat kec.
Transmisi 0,5-2 m/dt, terdapat pada daerah yang lebih
dalam, nyeri bersifat tumpul dan sulit
dilokalisasi.
b. Nosiseptor somantik dalam:
 Reseptor nyeri yang terdapat pada tulang,
pem.darah, otot dan jaringan penyangga lainya
 Nyeri yang muncul adalah nyeri tumpuldan sulit
dilokalisasi
c. Nosiseptor visceral
 Meliputi organ-organ visceral seperti jantung,
hati, usus, ginjal, dll
 Nyeri yang timbul biasanya difus (terus-menerus,
tidak sensitif pada pemotongan organ tetapi sangat
sensitive pada penekanan, iskemia, dan inflamasi)
 Nyeri visceral dapat menyebabkan nyeri alih
(reffered pain) yaitu nyeri yang dapat timbul pada
daerah yang berbeda/jauh dari organ asal stimulus
nyeri tersebut adanya sinaps jaringan viseral pada
medulla spinalis dengan serabut yang berasal dari
jaringan subkutan tubuh.

2. Transmisi nyeri terdapat dua macam transmitter impuls nyeri


yang berfungsi untuk menghantarkan sensasi nyeri dan
sensasi yang lain seperti rasa dingin,hangat,sentuhan,dan
sebagainya. Reseptor berdiameter kecil (serabut A delta dan
serabut C) berfungsi untuk mentransmisikan nyeri yang
sifatnya keras dan reseptor ini berupa ujung saraf bebas yang
terdapat di seluruh permukaan kulit dan pada struktur tubuh
yang lebih dalam seperti tendon,fascia dan tulang serta
organ-organ interna. Sedangkan transmitter yang
berdiameter besar (serabut A-Beta) memiliki yang terdapat
pada struktur permukaan tubuh dan fungsinya selain
menstransmisikan sensasi nyeri, juga lebih berfungsi untuk
menstransmisikan sensasi lain seperti sensasi
getaran,sentuhan,sensasi panas/dingin,seta juga terhadap
tekanan halus. Serabut A-Beta mempunyai sifat inhibitor
(penghambat) yang ditransmisikan ke serabut A dan A-delta.
3. Kornu dorsalis yang terdapat pada medulla spinalis (cornu
posterius medullae spinallis). Di medulla spinalis terjadi
interaksi antara serabut berdiameter besar dan serabut
berdiameter kecil di suatu area khusus yang disebut dengan
substansta galantnosa (SG). Pada substantia galatinosa ini
dapat terjadi perubahan,modifikasi,serta mempengaruhi
apakah sensasi nyeri yang diterima oleh medulla spinalis
akan diteruskan ke otak atau akan dihambat.
4. Thalamus bertindak sebagai penerima input sensori (impuls
nyeri ) dari traktus spinotalamikus lateral untuk kemudian
diteruskan kekorteks.
5. Neuroregulator nyeri atau substansi yang berperan dalam
transmisi stimulus saraf dibagi dalam dua kelompok besar,
yaitu neurotransmitter dan neuromodulator. Neurotransmitter
mengirimkan impuls-impuls elektrik melewati rongga sinaps
antara dua serabutsaraf,dan dapat bersifat sebagai
penghambat atau dapat pula mengeksitasi. Sedangkan
neuromodulator bekerja untuk memodifikasi aktivitas
neuron tanpa menstransfer secara langsung sinyal-sinyal
menuju sinaps. Neuro modulator dipercaya bekarja secara
tidak langsung dengan meningkatkan atau menurunkan efek
partikuler neurotransmitter.
Beberapa neuroregulator yang berperan dalam penghantaran
impuls nyeri antara lain adalah:
1. Neurotransmitter
a. Substansi P (Peptida)
 Ditemukan pada neuron nyeri di kornu
dorsalis (Peptida ektisator)
 Diperlukan untuk menstransmisi nyeri
dari perifer otak
 Menyebabkan vasodilatasi dan edema
b. serotonin
 Dilepaskan oleh batang otak dan kornu
dorsalis untuk menghambat transmisi nyeri
c. Prostaglandin
 Dibangkitkan dari pemecahan pospolipid di
membrane sel
 Dipercaya dapat meningkatkan sensitivitas
terhadap sel
2. Neuromodulator
a. Endofrin (morfin endogen)
 Merupakan substansi sejenis morfin yang
disuplay oleh tubuh
 Aktivasi oleh daya stress dan nyeri
 Terdapat pada otak, spinal, dan traktus
gastrointestinal
 Memberi efek analgesic
b. Bradikinin
 Dilepaskan oleh plasma dan pecah di sekitar
pembuluh darah yang mengalami cedera
 Bekerja pada reseptor saraf perifer,
menyebabkan stimulus nyari
 Bekerja pada sel, menyebabkan reaksi
berantai sehingga terjadi pelepasan
prostaglandin

Respon fisik timul karena pada saat impuls nyeri


ditransmisikan oleh medula spinalis menuju batang otak dan
talamus, system saraf otonom terstimulasi, sehingga
menimbulakn respon yang serupa dengan respon tubuh terhadap
stress.

Pada sekala nyeri ringan sampai moderat serta pada nyeri


superficial, tubuh bereaksi membangkitkan “ General Adaptatoin
syndrome” (Reaksi Fight or Flight), dengan merangsang system
saraf simpatis. Sedangkan pada nyeri yang berat dan tidak dapat
di toleransi serta nyeri yang berasal dari organ visceral, akan
mengakibatkan stimulasi terhadap saraf parasimpatis.

Respons fisiologis tubuh terhadap nyeri:

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri :


 Factor-faktor yang mempengaruhi persepsi tentang nyeri pada
seorang individu meliputi:
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Budaya
4. Pengetahuan tentang nyeri dan penyebabnya
5. Makna nyeri
6. Perhatian klien
7. Tingkat kecemasan
8. Tingkat stres
9. Tingkat energy
10.Pengalaman sebelumnya
11.Pola koping
12.Dukungan keluarga dan social
 Factor-faktor yang meningkatkan toleransi terhadap nyeri
adalah sebagai berikut:
1. Alcohol
2. Obat-obatan
3. Hypnosis
4. Panas
5. Gesekan/garukan
6. Pengalihan perhatian
7. Kepercayaan yang kuat
 Factor-faktor yang menurunkan toleransi terhadap nyeri antara
lain:
1. Kelelahan
2. Marah
3. Kebosanan, depresi
4. Kecemasan
5. Nyeri kronis
6. Sakit/penderitaan
e. Macam-macam gangguan yang mungkin terjadi pada
 Fraktur pada muskuluskeletal
 Peradangan pada system pencernaan
 Luka post oprasi

3. Rencana asuhan keperawatan klien dengan gangguan kebutuhan


a. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan
Kaji masalah kesehatan sekarang, riwayat penyakit dahulu, satus
kesehatan keluarga, dan status perkembangan.
2. Pemeriksaan fisik: data focus
a. Pendekatan klinis terhadap nyeri klien
 A: Ask (tanyakan nyeri secara teratur)
 A: Assess (kaji nyeri secara sistematis) ….
 B: Behavior (percaya apa yang dilaporkan klien dan
keluarga serta apa yang mereka lakukan untuk
menghilangkan nyeri)
 C: Choose (pilih cara pengontrolan nyeri yang cocok
untuk klien)
- Nonfarmakologi
Penatalaksanaan nonfarmakologis terdiri dari berbagai
tindakan penanganan nyeri berdasarkan stimulasi fisik
maupun perilaku kognitif. Penanganan fisik meliputi
stimulasi kulit, stimulasi elekrik saraf kulit transkutan
(TENS, Transcutaneous Electric Nerve Stimulation ),
akupuntur, dan pemberian placebo. Intervensi perilaku
kognitif meliputi tindakan distraksi, teknik relaksasi,
imajinasi terbimbing, umpan-balik biologis, hypnosis,
dan sentuhan terapeutik.
Penanganan nyeri dengan tindakan fisik dilakukan
dengan tujuan sebagai berikut:
 Meningkatkan kenyamanan
 Memperbaiki adanya disfungsi fisik
 Mengubah respons fsikologik
 Menurunkan kecemasan yang berhubungan
dengan imobilisasi karena nyeri atau adanya
pembatasan aktivitas

Stimulasi kulit dapat member efek penurunan nyeri


yang efektif. Tindakan ini mengalihkan perhatian
sehingga klien berfokus pada stimulus taktil dan
mengabaikan sensasi nyeri, yang pada akhirnya dapat
menurunkan persepsi nyeri.stimulasi kulit juga
dipercaya dapat:

 Meningkatkan pelepasan endorphin tang


memblok transmisi stimulus nyeri
 Menstimulasi serabut saraf berdiameter besar
A-Beta sehingga menurunkan transmisi impuls
nyeri melalui serabut kecil A-Delta dan serabut
saraf C

Yang termasuk teknik stimulasi kulit meliputi:

 Masase
 Kompres panas dan dingin
 Akupuntur
 Stimulasi kontralateral
MASASE KULIT

Masase kulit memberikan efek penurunan kecemasan


dan ketegangan otot. Rangsangan masase otot ini
dipercaya akan merangsang serabut berdiameter besar,
sehingga mampu memblok atau menurunkan impuls
nyeri. Beberapa strategi stimulasi kulit lainya juga
menggunakan mekanisme ini. Masase adalah
stimulasi kulit tubuh secara umum, dipusatkan pada
penggung dan bahu, atau dapat dilakukan pada satu
atau beberapa bagian tubuh dan dilakukan sekitar 10
menit pada masing-masing bagian tubuh untuk
mencapai hasil relaksasi yang maksimal.

Masase kulit dapat dilakukan dengan menggunakan


ointment (balsam gosok) atau liniment (obat carir
gosok) yang mengandung mentol yamg membantu
pengurangan nyeri. Balsam ini akan menimbulkan
sensasi hangat segera setelah pemakaian hingga
beberapa saat setelah pemberian. Di Indonesia sering
digunakan untuk mengurangi nyeri ototdan sendi serta
digunakan pada perut yang terasa kembung.

Berikut ini contoh prosedur penanganan nyeri dengan


masase punggung.

Tipe Masase

 Efflurage: memberikan pukulan pada tubuh


 Petrisage: membuat pijatan atau cubitan besar
pada kulit, subkutan,dan otot
KOMPRES

Penggunaan panas dingin meliputi penggunaan


kantong es,masase air dingin atau panas,penggunaan
selimut atau bantal panas.

Kompres panas dingin, selain menurunkan sensasi


nyeri juga dapat meningkatkan proses penyembuhan
jaringan yang mengalami kerusakan.

Penggunaan kompres panas, selain member efek


mengatasi atau nenghilangkan sensasi nyeri, teknik ini
juga memberikan efek fisiologis antara lain:

 Meningkatkan respons inflamasi


 Meningkatkan pembentukan edema
 Meningkatkan aliran darah dalam jaringan

Penggunaan panas (aplikasi kompres panas) sebaiknya


dilakukan pada:

 Trauma yang lebih dari 48 jam


 Sistitis
 Hemoriid
 Nyeri punggung
 Arthritis
 Bursitis
Penggunaan kompres panas dikontraindikasikan pada
:
 Trauma 12-24 jam pertama
 Perdarahan/edema
 Gangguan vaskuler
 Pluritis
Perludiketahui apabila suhu suhu yang diaplikasikan
terlalu tinggi akan menimbulkan rasa tidak nyaman
dan kurang memberikan efek penurun nyeri pada
klien. Untuk itu, suhu perlu diatur yaitu sekitar 52o C
pada dewasa normal, 40,5-46oC pada anak kecil di
bawah usia 2 tahun.
Pada aplikasi dingin, selain memberikan efek
menurunkan sensasi nyeri alikasi dingin juga member
efek fisiologis:
 Menurunkan respons inflamasi jaringan
 Menurunkan aliran darah
 Mengurai edema

Penggunaan kompres dingin diindikasikan pada:

 Trauma 12-24 jam pertama


 Fraktur
 Gigitan serangga
 Perdarahan
 Spasme otot
 Arthritis rheumatoid
 Pruritis
 Sakit kepala

Penggunaan kompres dingin dikontraindikasikan


pada:

 Penyakit reinuad
 Alergi dingin
 Trauma yang lama (lebih dari 48 jam)

Untuk memberikan efek terapeutik yang diharapkan


(mengurangi nyeri), sebaiknya suhu tidak terlalu
dingin (yaitu, berkisar antara 18-25oC), karena suhu
yang terlalu dingin selain memberikan rasa tidak
nyaman dapat menyebabkan frostbite/membeku.
STIMULASI KONTRALATERAL
Stimulasi kntralateral adalah memberi stimulasi pada
daerah kulit di sisi yang berlawanan dari daerah terjadi
nyeri. Stimulasi kontralateral dapat berupa garukan
pada daerah yang berlawanan jika terjadi gatal,
menggosok (masase) jika kram (kejang) atau
pemberian kompres dingin atau panas serta pemberian
balsam atau obat cair gosok.
Metode ini mungkin berguna jika daerah yang
mengalami nyeri tidak dapat disntuh karena
hipersensitif, tertutup perban atau gips atau ketika
terjadi nyeri bayangan atau fhantom (phantom pain).
ACUPRESURE (PIJAT REFLEKSI)
Acupressure dikembangkan dari ilmu pengobatan
kuno Cina dengan menggunakan system akupunktur.
Terapis member tekanan jari-jari pada berbagai titik
organ tubuh seperti pada akupunktur. Tindakan ini
merupakan tindakan sederhana dan mudah dipelajari.
- FARMAKOLOGI
Penatalaksanaan secara farmakologis meliputi
penggunaan opioid (narkotik), nonopioid/NSIDs
(Nonsteriod Anti-imflammation Drugs), dan Adjuvan,
serta ko-analgesik
Daftar Analgesik yang umum digunakan:

Analgesic opioid (narkotik) terdiri dari berbagai


derivate dari opium seperti morfin dan kodein.
Narkotik dapat menyebabkan penurunan nyeri dan
member efek euphoria (kegembiraan) karena obat ini
mengadakan reseptor opiate.

Daftar obat Narkotik yang umum digunakan:


 D: Diliver (berikan intervensi secara terjadwal,logis dan
terkondisi)
 E: Empower (dayagunakan klien dan keluarga)
 E: Enable (mampukah klien mengontrol pengobatan)
b. Ekspresi Nyeri Klien
Laporan klien tentang nyeri yang dirasakan merupakan
indicator tunggal yang paling dapat dipercaya tentang
keberadaan dan intensitas nyeri dan apapun yang
berhubungan dengan ketidaknyamanan.
c. Karakteristik
 P: Provokatif/paliatif (apa penyebab, apa yang
memunculkannya, apa yang menguraninya ? )
 Q: Qualitas (bagaimana rasanya ? )
- Remuk/sensasi pukul
- Berdenyut
- Tajam/tumpul
- Terbakar
- Tidak dapat dijelaskan
 R: Regio/radiasi (dibagian mana nyeri terjadi?, apakah
menyebar?)
 S: Severiti (bagaimana intensitas nyeri dengan
menggunakan skala nyeri?,bagaimana pengaruh nyeri
terhadap aktivitas?)
Skala Penilaian Numerik 0-10
- 0-3 tidak nyeri/nyeri ringan
- 4-7 nyeri sedang
- 8-10 sangat nyeri/nyeri berat
Skala Penilaian Numerik 0-5
- 0: tidak ada nyeri
- 1: nyeri ringan
- 2: nyeri sedang
- 3: nyeri berat
- 4: nyeri sangat berat
- 5: nyeri yang paling buruk

Skala wajah Wong-bakers untuk mengukur nyeri

 T: Time (kaoan mulai terjadi nyeri?, berapa lama nyeri


terjadi?,apakah awitanya tiba-tiba atau bertahap?,seberapa
sering hal itu terjadi?)

3. Pemeriksaan penunjang
b. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa 1 : Nyeri akut
1. Nyeri akut adalah keadaan ketika individu mengalami atau
melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan yang hebat atau
sensasi yang tidak menyenagkan selama enam bulan atau
kurang.
2. Batasan karakteristik:
Subjektif:
 Komunikasi verbal atau nonverbal tentang nyeri.

Objektif:

 Perilaku sangat berhati-hati,melindungi organ yang


sakit
 Memusatkan diri
 Mempersempit fokus (perubahan persepsi,menarik
diri dari hubungan social,gangguan proses berpikir)
 Perilaku distraksi (mengerang, menangis, mondar-
mandir, mencari orang lain,gelisah)
 Raut wajah kesakitan (mata kuyu, terlihat lelah,
menangis)
 Perubahan tondus otot
 Respon autonom: diaphoresis, peningkatan TD dan
nadi, dilatasi pupil, perubahan frekuensi pernafasan
(biasany tidak terlihat pada nyeri kronis/stabil)
3. Faktor yang berhubungan:
 Yang berhubungan dengan kontraksi uterus selama
persalinan
 Yang berhubungan dengan trauma pada perineum
selama persalinan
 Yang berhubungan dengan involusi uterus dan
pembengkakan payudara
 Yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks
spasme otot skunder terhadap
 Gangguan muskuluskeletal:
- Fraktur
- Artritis
- Kontraktur
- Gangguan medulla spinalis
- Spasme
 Gangguan visceral:
- Jantung
- Hepatik
- Paru
- Ginjal
- Usus
- Kanker
 Gangguan vascular:
- Vasospasme
- Flebitis
- Oklusi
- Vasodilatasi
 Yang berhubungan inflamasi pada
- Saraf
- Sendi
- Tendon
- Otot
- Bursae
- Struktur yukstoartikuler
 Yang berhubungan dengan keletihan,malaise dan
pruritus skunder terhadap
- Penyakit cacar,rubella
- Pankreatitis
- hepatitis
 Yang berhubungan dengan pengaruh kanker pada
(sebutkan organnya)
 Yang berhubungan dengan kram abdomen,diare dan
muntah skunder terhadap
- Gastroenteritis
- Ulkus gastrium
 Yang berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot
skunder terhadap
- Batu ginjal
- Infeksi gastrointestinal
Diagnose 2 : Nyeri kronis
1. Nyeri kronis adalah keadaan seorang individu mengalani
nyeri yang menetap atau intermiten dan berlangsung
lebih dari enam bulan.
2. Batasan karakteristik:
Subjektif:
 Individu melaporkan bahwa nyeri telah ada sejak
lebih dari enam bulan

Objektif:

 Ketidaknyamanan
 Marah,frustasi,defresi karena situasi
 Raut wajah kesakitan
 Anoreksia,penurunan berat badan
 Insomnia
 Gerakan yang sangat berhati-hati
 Spasme otot
 Kemerahan,bengkak,panas
 Perubahan warna pada area yang terganggu
 Abnormalitas refleks
3. Factor yang berhubungan:
 Yang berhubungan dengan kontraksi uterus selama
persalinan
 Yang berhubungan dengan trauma pada perineum
selama persalinan
 Yang berhubungan dengan involusi uterus dan
pembengkakan payudara
 Yang berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks
spasme otot skunder terhadap
 Gangguan muskuluskeletal:
- Fraktur
- Artritis
- Kontraktur
- Gangguan medulla spinalis
- Spasme
 Gangguan visceral:
- Jantung
- Hepatik
- Paru
- Ginjal
- Usus
- Kanker
 Gangguan vascular:
- Vasospasme
- Flebitis
- Oklusi
- Vasodilatasi
 Yang berhubungan inflamasi pada
- Saraf
- Sendi
- Tendon
- Otot
- Bursae
- Struktur yukstoartikuler
 Yang berhubungan dengan keletihan,malaise dan
pruritus skunder terhadap
- Penyakit cacar,rubella
- Pankreatitis
- hepatitis
 Yang berhubungan dengan pengaruh kanker pada
(sebutkan organnya)
 Yang berhubungan dengan kram abdomen,diare dan
muntah skunder terhadap
- Gastroenteritis
- Ulkus gastrium
 Yang berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot
skunder terhadap
- Batu ginjal
- Infeksi gastrointestinal
c. Perencanaan
Diagnose 1 : Nyeri akut
1. Tujuan:
- Nyeri berkurang /teratasi
Kriteria hasil:
 Klien mengatakan kenyamanan menjadi lebih baik
 Perilaku klien atau gejala yang berhubungan dengan
nyeri berkurang atau hilang
 Klien memperagakan usaha untukmengurang
nyeri,menguraikan obat yang digunakan,menyatakan
kapan harus minta pertolongan ke layanan kesehatan
(bila telah pulang)
 Klien menghubungakan pengurangan nyeri setelah
melakukan tindakan penurunan rasa nyeri
2. Rencana tindakan
Intervensi Rasional
1. Kaji derajat nyeri 1. Pengkajian nyeri dengan
2. Observasi tanda-tanda vital menggunakan skala 0-
3. Tingkatkan pengetahuan: 10,skala visual analog atau
 Jelaskan penyebab skala Mc Gill,dan pada anak-
nyeri anak dapat menggunakan
 Jelaskan berapa lama skala wajah Wong-Baker
nyeri akan 2. Pada klien dangan nyeri
berlangsung peningkatan nadi sering
 Jelaskan terjadi
karakteristik nyeri 3. Pengetahuan yang memadai
yang mungkin orientasi tentang penyakit
timbul selama yang lebih baik,mengurangi
prosedur diagnostic kecemasan yang dapat
4. Berikan informasi yang meningkatkan sensasi
akurat untuk mengurangi nyeri,sekaligus
rasa nyeri meningkatkan hubungan
5. Tunjukan penerimaan perawat-klien dalam
perawat terhadap respons meningkatkan rasa aman
nyeri individu: 4. Kekakuan dapat menjadi
 Kenali adanya rasa factor yang meningkatkan
nyeri sensasi nyeri
 Dengarkan dengan 5. Tindakan member perhatian
penuh perhatian kepada klien akan
tentang nyeri yang meningkatkan rasa percaya
terjadi klien kepada
 Tunjukan bahwa perawat,sehingga dapat
perawat sedang tergali data
mengkaji nyeri klien nyeri,menurunkan hambatan
6. Diskusikan alasan mengapa saat menyampaikan dalam
individu mengalami menyampaikan keluhan,serta
peningkatan dan penurunan meningkatkan rasa aman
nyeri yang secara tidak langsung
7. Ajarkan metode distraksi dapat mengurangi persepsi
selama nyeri akut nyeri
8. Ajarkan metode penurunan 6. Memberi dasar pengetahuan
nyeri noninvatif objektif tentang nyeri dan
9. Berikan analgesik tindakan yang harus atau
tidak boleh dilakukan oleh
klien
7. Distraksi dapat memberikan
manipulasi pada tingkat
persepsi (tingkat tinggi otak)
sehingga menurunkan nyeri
8. Tindakan nyeri noninvatif
antara lain:
 Relaksasi
 Stimilasi kutan
 Distraksi
9. Memblok impuls nyeri dari
serabut-serabut nyeri agar
tidak disampaikan ke
thalamus.

4. Daftar Pustaka
 Tarmasuri, Anas. 2006. Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri.
Jakarta: EGC
 WHO. 2005. Pedoman Perawatan Pasien. Jakarta: EGC
 NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa keperawatan
 Priharjo, Robert. 1993. Perawatan Nyeri Pemenuhan Aktivitas
Istirahat Pasien. Jakarta: EGC