Anda di halaman 1dari 14

Nama : IBRAHIM MALIK

No Peserta : 18120222010158
Tugas : TUGAS MODUL 4 KB 2 PROFESIONAL

Instructions

1. Identifikasikan unsur-unsur kepercayan yang terdapat dalam olahraga serta


kaitkan dengan realita yang terjadi saat ini.
2. Susun langkah-langkah agar olahraga dan aktivitas jasmani dapat menjadi
budaya dimasyarakat dan sebagai alat pendidikan.
3. Susun minimal 2 bentuk kegiatan aktivitas jasmani sebagai cara untuk
pengembangan nilai sosial atau pengendalian diri untuk membantu
mengurangi kenakalan/penyimpangan yang dilakukan oleh para
pelajar/remaja.

JAWABAN
1. Identifikasikan unsur-unsur kepercayan yang terdapat dalam olahraga serta
kaitkan dengan realita yang terjadi saat ini.
Sistem kepercayaan (creed) menurut Edward (1981), bahwa olahraga
mengandung 12 unsur, yaitu sebagai:

a. pengembang karakter baik


Dalam kehidupan masyarakat,
orang tua mengharapkan generasi
baru memahami norma salah-
benar, kebijaksanaan dalam hidup
bermasyarakat, memiliki sikap
sportif, disiplin, serta taat
peraturan. Hidup bersama melalui
olahraga bagi anak-anak dapat
memberi pelajaran bahwa permainan dengan tata aturan tertentu dapat
menguntungkan semua pihak dan mencegah konflik . Anak-anak juga
dapat belajar bersosialisasi melalui permainan-permainan, yang
sayangnya fasilitas seperti ini nyaris luput dari perhatian publik. Padahal
melalui aktivitas seperti ini, mereka yang memiliki minat sejenis dapat
berbagi pengalaman dalam kelompok yang dapat ditransformasikan
melalui komunikasi dan interaksi.
Peran olahraga makin penting dan strategis dalam pengembangan
kualitas SDM yang sehat, mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki sifat
kompetitif yang tinggi. Selain itu juga penting dalam pengembangan
identitas, nasionalisme, dan kemandirian bangsa. Olahraga yang dikelola
dengan cara yang betul akan mampu mengangkat martabat bangsa
dalam percaturan internasional.

a. pengembang nilai kesetiaan


Olahraga sebagai pengembang nilai
kesetiaan hampir tidak dapat
terbantahkan. Kuatnya perasaan
bermusuhan terhadap lawan
menimbulkan rasa setia terhadap
tim sendiri. Olahraga dapat
meningkatkan perasaan in-group
dan selalu memandang lawan sebagai out-group. Demi tim seorang atlet
rela mengambil segala resiko yang ada dalam pertandingan. Atlet
mempunyai standar ganda dalam menilai tindakan tim sendiri dan
tindakan lawan. Kesetiaan terhadap in-group lebih menonjol pada
olahraga tim daripada olahraga individu. Sisi lain bahwa kesetiaan ini
dapat melemah dengan adanya bayaran yang tinggi. Seorang bintang
olahragahampir selalu memandang kemenangan tim kurang penting
dibanding rekor pribadi.
b. pengembang rasa kepedulian
(altruisme)
Sebagai pelaku olahraga harus
memiliki sebuah dasar dalam
berbagai komponen yang ada dalam
kriteria perilaku sportif dalam
olahraga. Dasar-dasar tersebut
menyediakan penjelasan-
penjelasan berdasar pada unsur-unsur penting yang mendasari
tingkatan-tingkatan pertimbangan moral, yaitu altruism (tindakan suka
rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk
menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun), aturan yang
tidak memihak dan keseimbangan moral berdasarkan kesepakatan
bersama yang ditentukan harus secara berkelanjutan menyampaikan
dasar-dasar tersebut.

c. pengembang nilai sosial atau


pengendalian diri
Karena banyak hal bertentangan
batin antara mengutamakan
kepentingan pribadi atau lebih
mengutamakan kepentingan umum,
merupakan tatangan terhadap kuat-
lemahnya disiplin individu. Oleh
karena itu sebagai seorang atlet bisa memiliki disiplin dan pengendalian
diri baik dalam olahraga maupun dalam bermasyarakat.
Penanaman disiplin dalam buku psikologi olahraga harus dilandasi
pengertian pokok mengenai pengendalian diri dan disiplin, yang intinnya
menanamkan kepatuhan yang didasarkan atas pemahaman dan
kesadaran, serta tanggung jawab.
d. pengembang “fortitude” (daya
tahan atas penderitaan)
Olahraga sebagai pengembang
kemampuan daya tahan atas
penderitaan (fortitude). Aktivitas
olahraga terutama contact sport,
memerlukan daya tahan, namun
fenomena yang sering terjadi bahwa orang-orang yang direkrut ke dalam
contact sport dimaksud adalah mereka yang sudah potensial mempunyai
daya tahan, bukan sebagai media untuk membina mereka yang
kemampuan daya tahannya rendah

e. cara untuk mempersiapkan


atlet menata kehidupan
Olahraga sebagai cara untuk
mempersiapkan atlet menata
kehidupan. Gagasan ini benar
apabila konsepnya pada olahraga
disekolah, pelajaran pendidikan
jasmani, atau atlet olahraga
amatir, tidak berlaku untuk
olahraga professional. Olahraga
profesional mengusung konsep bahwa kehidupan itu adalah olahraga itu
sendiri. Kehidupan pelaku atau atlet olahraga profesional adalah
pengerahan terhadap tenaga, waktu dan pikiran hanya semata-mata
fokus untuk olahraga dimaksud. Sebagai tambahan baik atlet olahraga
amatir, siswa pendidikan jasmani maupun atlet profesional bahwa,
pemberian sanjungan yang berlebihan kepada mereka yang berprestasi
juga tidak bersifat mendidik untuk kehidupan masa depannya

f. cara untuk memberi peluang kemajuan individu


Olahraga sebagai cara untuk memberi peluang kemajuan individu.
Penelitian yang dilakukan Calhoun (1987) di Amerika menemukan bahwa
ini berlaku untuk sebagian orang tetapi tidak bagi kebanyakan orang.
Penelitian ini dilakukan pada kelompok minoritas yang terdiri dari orang-
orang Irlandia, Jerman, Polandia, Italia, orang-orang berkulit hitam
(Negro). Olahraga merupakan tangga untuk menaikan kelompok
minoritas tersebut dari segi prestise, prestasi, dan uang. Hasil penelitian
ternyata hanya 1% yang berhasil mengalaminya, 99% berputar-putar
diposisi awalnya bahkan malahan mundur karena Olahraga. Kesempatan
mereka untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi hilang karena waktu dan
perhatiannya terlalu banyak diabdikan kepada olahraga

g. cara membina kebugaran jasmani


Olahraga sebagai cara membina kebugaran
jasmani benar dan tepat untuk cabang
olahraga kecil seperti Tennis, Jogging,
Renang yang latihannya dibiasakan
sepanjang hayat. Tidak demikian dengan
olahraga besar seperti olahraga beladiri
(contact sport) yang mengandung resiko
sebaliknya, meskipun sebagian atlet atau mantan atlet untuk cabang
olahraga ini tetap sehat tanpa mengalami cacat, dan umumnya orang
yang membiasakan berolahraga akan memiliki kebugaran jasmani yang
lebih baik daripada yang jarang atau tidak berolahraga

h. cara menghasilkan
ketangguhan mental (mental
alertness)
Olahraga sebagai cara menghasilkan
ketangguhan mental tidak dapat
dibuktikan secara pro dan kontra.
Berolahraga memang harus
memerlukan ketangguhan mental,
namun seberapa jauh para pelakunya dapat mengaktualisasikan
ketangguhan mental itu dalam kehidupan sehari-harinya masih dalam
sebuah pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi
hasil latihan mental sangat kuat dalam situasi yang sama tetapi lemah
dalam situasi yang berbeda. Analoginya, orang yang cemerlang dalam
matematika belum tentu dapat pula memecahkan masalah-masalah
kehidupan secara cerdas seperti layaknya menyelesaikan soal-soal
matematika.

i. cara pengembang religious


Olahraga sebagai cara peningkat kemajuan akademik; tinjauannya ada
dua; (1) siswa yang memanfaatkan kemampuan berolahraga untuk dapat
terus meningkatkan pendidikan; (2) setelah berhasil dalam olahraga,
siswa dihadapkan pilihan antara olahraga dan kerja akademik. Sulit
membagi waktu, tenaga dan perhatian untuk kedua-duanya sekaligus.
Ada kondisi dimana siswa memanfaatkan beasiswa atau dana hasil beliau
sebagai atlet olahraga untuk mempersiapkan diri meraih kemajuan
akademik, keluar dari ranah olahraga; tetapi ada juga yang terpaksa
mengorbankan kelanjutan pendidikannya demi olahraga.

j. cara penumbuh rasa


patriotisme.
Olahraga sebagai cara
pengembang religious.
Hasil penelitian
menyatakan bahwa tidak
terdapat bukti yang kuat
bahwa olahraga dapat
meningkatkan atau
menurunkan tingkat
religiusitas para atlet (Edward,1981). Memang sebelum bertanding atlet
berdoa kemudian setelah itu berpikir mencari-cari cara, atau celah untuk
melakukan kecurangan, pelanggaran aturan yang kesannya legal. Tradisi
mengumandangkan lagu kebangsaan sebelum pertandingan atau ketika
upacara penyerahan medali sebenarnya tidak dihayati dengan khusuk,
kalaupun kelihatan demikian itu berlaku ketika itu bukan berarti terpatri
sehingga meningkatkan religious yang permanen didalam diri.
2. Susun langkah-langkah agar olahraga dan aktivitas jasmani dapat menjadi
budaya dimasyarakat dan sebagai alat pendidikan.
Kunci utama menjadi anak pintar dan berprestasi di sekolah tentu adalah
dengan giat belajar. Fungsi kognitif otak memang bisa menurun apabila otak
jarang digunakan untuk berpikir. Akan tetapi, sesi belajar yang hanya
dihabiskan dengan duduk diam berjam-jam perlu juga diimbangi dengan
aktivitas fisik, seperti olahraga.

Selain membantu pertumbuhan tulang


dan otot serta meningkatkan stamina,
olahraga fisik juga menyehatkan otak.
Selama tubuh dipacu untuk terus
bergerah, jantung akan terus
memompa darah segar ke seluruh
organ tubuh, termasuk pula otak.
Aliran darah yang lancar menuju otak
akan mencegah terjadinya kerusakan
sel otak dan, di saat yang bersamaan,
membantu pembentukan sel otak yang
baru.

Sel-sel otak yang sehat akan bekerja lebih baik dalam menunjang fungsi
kognitif otak, termasuk kemampuan berpikir, kemampuan fokus/konsentrasi,
bagaimana seseorang memahami sesuatu, memecahkan masalah, mengambil
keputusan, mengingat, hingga mengambil tindakan.

Amika Singh, PhD., seorang periset dari Vrije Universiteit University Medical
Center di Amsterdam, Belanda sekaligus penulis di Archieves of Pediatrics &
Adolescent Medicine, mengatakan, “Selain efek fisi, olahraga juga dapat
membantu tingkah dan pola perilaku keseharian anak di kelas sehingga mereka
lebih bisa berkonsentrasi saat belajar.” Ya. Pasalnya selain memperlancar aliran
darah ke otak, olahraga juga sekaligus memicu otak untuk melepaskan hormon
mood bahagia endorfin, yang membuat emosi anak menjadi lebih mudah
bahagia, stabil, dan tenang sehingga jadi jarang “berulah”.
Manfaat olahraga untuk otak ini juga sudah didukung oleh suatu penelitian
yang menunjukkan bahwa rata-rata anak pintar dan yang berprestasi di
sekolah adalah anak-anak yang juga rajin berolahraga.
Adanya anggapan bahwa pendidikan jasmani tidak memiliki kandungan
akademik banyak dipengaruhi oleh proses penyelenggaraan pendidikan yang
kurang mampu mengakibatkan merosotnyaproses ajar. kondisi tersebut terkait
pula dengan faktor lainnya yakni ketersediaan tenaga guru spesialisasi di
bidang pendidikan jasmani yang sudah sedemikian parah terutama di jenjang
Sekolah Dasar berkaitan dengan masalah ini seperti yang telah dipaparkan
dibutuhkan rumusan strategi pengembangan pendidikan jasmani berikut ini
a. membentuk persepsi yang sama tentang makna dan manfaat pendidikan
jasmani di luar berikan melalui penyebaran informasi
b. memperkuat koordinasi dan kerjasama di antara semua pihak terkait guru
orang tua tokoh masyarakat pengurus klub olahraga media massa dan lain-
lain
c. melaksanakan pembaharuan secara bertahap dalam sistem manajemen
pendidikan jasmani dan memperhatikan kemampuan
d. memperkuat sistem pendukung utama kelengkapan pokok untuk
merealisasi penerapan kurikulum di setiap jenjang pendidikan

Olahraga apabila
sudah tumbuh dan
berkembang serta
membudaya pada
masyarakat, pada
tahap berikutnya
olahraga akan
menjadi kebutuhan
bagi masyarakat.
Dengan demikian,
masyarakat yang
sadar akan olahraga,
tidak perlu lagi dipaksa atau disuruh untuk melakukan olahraga. Meskipun
demikian, yang terjadi, pada keadaan masyarakat di Indonesia belum secara
menyeluruh sampai kepada taraf ini (sadar dan butuh olahraga). Jika
masyarakat telah menganggap olahraga sebagai kebutuhan, masyarakat akan
lebih banyak belajar tentang olahraga, bagaimanakah olahraga yang benar
untuk tujuan kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya.
Beragamnya makna olahraga oleh masyarakat menandakan bahwa olahraga
memiliki sejuta makna yang dapat diterjemahkan menurut selera dan wawasan
pengetahuan masyarakat itu sendiri. Makna yang sangat sederhana adalah
aktivitas jasmani. Namun terkadang juga diterjemahkan sebagai bentuk
“prestasi” dari penampilan keterampilan tingkat tinggi. Makna olahraga
bercampur antara olahraga sebagai aktivitas jasmani, bermain, atau gerak

Kurikulum sekolah di Indonesia rata-rata sudah termasuk mata pelajaran


Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan) yang dilakukan setidaknya
seminggu sekali. Namun, durasinya bisa berbeda-beda untuk setiap anak.
Misalnya jika mengacu pada kurikulum 2013, durasi mata pelajaran Penjaskes
untuk anak sekolah rata-rata berkisar antara 70 sampai 100 menit setiap
minggu.

Kebanyakan orangtua mungkin merasa ini sudah cukup. Memang sih, idealnya
lama waktu aktivitas fisik anak dalam satu hari adalah 60 menit. Namun
olahraga seminggu sekali di sekolah saja tidak cukup, lho! Nyatanya,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setiap anak dan remaja
yang berusia 5-17 tahun untuk berolahraga setidaknya 60 menit setiap hari
atau jika ditotal menjadi 142 menit dalam seminggu. Jika dibandingkan, tentu
tidak cukup bukan?

Makanya, anak tetap harus beraktivitas fisik setiap hari. Misalnya dengan
membiarkan anak naik sepeda atau jalan kaki ke sekolah, atau daftarkan ia
untuk ekskul berenang atau sepak bola. Dorong anak untuk menghabiskan
waktu istirahatnya dengan bermain bersama, misalnya main petak umpet.

Ada banyak cara yang bisa orangtua lakukan untuk membimbing dan
membiasakan anak berolahraga setiap hari. Selain menjauhkan anak dari risiko
berbagai penyakit berbahaya saat ia dewasa nanti, manfaat olahraga juga
sudah terbukti membuat anak pintar dan berpresta
3. Susun minimal 2 bentuk kegiatan aktivitas jasmani sebagai cara untuk
pengembangan nilai sosial atau pengendalian diri untuk membantu
mengurangi kenakalan/penyimpangan yang dilakukan oleh para
pelajar/remaja.

Karena banyak hal bertentangan batin antara mengutamakan kepentingan


pribadi atau lebih mengutamakan kepentingan umum, merupakan tatangan
terhadap kuat-lemahnya disiplin individu. Oleh karena itu sebagai seorang
atlet bisa memiliki disiplin dan pengendalian diri baik dalam olahraga maupun
dalam bermasyarakat.
Penanaman disiplin dalam buku psikologi olahraga harus dilandasi pengertian
pokok mengenai pengendalian diri dan disiplin, yang intinnya menanamkan
kepatuhan yang didasarkan atas pemahaman dan kesadaran, serta tanggung
jawab.
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak
dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau jouvenille court pada
tahun 1899 di Cook Country, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan
tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak yang memutuskan
perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum,
kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan
kenakalan anak diatas usia 18 tahun dianggap merupakan suatu bentuk
kejahatan.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain
mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orang tua
hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian
tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab
ini hendaknya tidak dengan paksaan maupun mengada-ada. Si remaja di beri
pengertian yang jelas sekaligus diberikan teladan. Sebab dengan memberikan
tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu ’ kluyuran ” tidak
karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban
serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta
mampu memecahkan masalah sehari-hari, mereka dididik mandiri
bagaimana olahraga mengatasi kenakalan remaja :
1. Dengan berolahraga maka remaja akan disibukkan berolahraga
sehingga remaja tidak sempat membuat kenakalan.
2. Dengan berolahraga maka remaja akan lebih bertanggung jawab
terhadap yg dilakukan karena dalam olahraga sangat diajarkan
kedisiplinan.
3. Karena dengan berolahraga dapat merubah mindset, sehingga
dapat merubah pikiran remaja agar melakukan hal-hal positif
4. Jika anak tersebut suka berkelahi maka orangtua harus
mengarahkannya ke olahrag beladiri.dan begitu juga dengan yg
lain

Berikut ini beberapa aktivitas olahraga untuk membantu mengurangi kenakalan


remaja:
A. SEPAKBOLA
Sepakbola sebagai permainan yang dimainkan secara tim harus senantiasa
menyatukan taktik dan teknik serta kerja sama tim demi mencapai tujuan
bersama. Di samping itu, dalam sepakbola terkandung pula nilai tanggung
jawab masing-masing pemain dalam menjalankan peran masing-masing,
sehingga harus menyadari posisi dan tugas dan dapat mengesampingkan
ego pribadi. Meskipun dalam keadaan yang tidak semestinya seperti saat
terjadi peperangan, bencana alam, krisis, dan lain sebagainya sepakbola
datang menjadi penghibur di tengah-tengah masyarakat.

Kendati sepakbola dapat menyatukan berbagai perbedaan yang ada di


tengah-tengah kehidupan manusia baik kasta, suku, bangsa dan bahasa,
namun sepakbola tidak selamanya membuahkan hasil yang manis. Hal ini
dikarenakan sepakbola adalah permainan yang keras dan kadang kejam
karena perjuangan yang telah dilakukan tidak selalu berakhir dengan
kemenangan. Sering perjuangan mati-matian di lapangan hijau itu hanya
menghantarkan para pemain dan penonton yang terlibat dengan mereka
kepada kegagalan yang pahit dan menyedihkan. Sehingga dalam sepakbola
dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menerima kegagalan, tekad dan
keberanian untuk bangkit meraih kemenangan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sepakbola
terdapat nilai-nilai karakter, fair play, serta sportivitas seperti tanggung
jawab akan tugas masing-masing, semangat pantang menyerah, saling
kerja sama, serta kebesaran jiwa untuk menerima kegagalan di mana nilai-
nilai tersebut adalah nilai yang dibutuhkan untuk mencapai hidup selaras,
serasi, dan seimbang di tengah-tengah masyarakat.

Armando Pribadi (2010), secara sederhana dan ringkas mengartikan


“Golden Rule” FIFA sebagai berikut:

 Jangan bermain membahayakan pemain lawan.


 Hormati aturan main dan jalankan dengan baik semua instruksi
official.
 Hormati lawan seperti selayaknya kolega kita di sepakbola.
 Tetap mampu memperlihatkan sikap menjunjung tinggi disiplin,
walaupun dalam situasi yang sulit atau tidak mengenakkan.
 Berikan dukungan terhadap siapapun yang berupaya mengenyahkan
tindakan curang dalam pertandingan.
 Tunjukkan perhatian besar terhadap pemain yang cedera dengan
segera menghentikan pertandingan dalam situasi apapun.
 Jangan pernah punya niat untuk balas dendam terhadap kesalahan
yang dilakukan pemain lain.
 Main sesuai dengan perintah tiupan peluit wasit.
 Rendah hati saat merayakan kemenangan, serta berjiwa besar dalam
menerima kekalahan.
 Memberikan penghargaan terhadap individu atau lembaga yang
secara luar biasa telah menjunjung tinggi sikap-sikap fair play.

Upaya untuk menanamkan karakter, fair play dan sportivitas dibutuhkan


proses yang sangat panjang, sehingga kesadaran dari dalam diri atlet
harus pula menjadi acuan yang kuat apabila ingin menjadi seorang atlet
yang berhasil. Melalui olahraga orang menemukan kegembiraan dan
kepuasan diri serta mengalami kematangan kepribadian melalui
pengalaman dalam olahraga. Olahraga permainan seperti sepakbola
menyediakan ruang untuk bersosialisasi dengan orang lain karena
olahraga tersebut dimainkan secara tim. Sepakbola sebagai salah satu
permainan yang paling digemari di dunia juga mempunyai beberapa nilai
karakter yang terkandung di dalamnya. Melalui permainan sepakbola,
diperoleh nilai-nilai karakter sebagai bekal yang cukup berharga yang
dapat digunakan dalam menjalankan peran di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai upaya menuju keberhasilan menanamkan nilai-nilai karakter, fair


play, dan sportivitas, seorang pelatih maupun praktisi olahraga harus
memahami bagaimana cara yang tepat untuk melatihkan hal tersebut
kepada anak latihnya. Apabila ketiga konsep di atas telah tertanam dalam
diri seseorang, maka dalam bertanding maupun kelak hidup di tengah-
tengah masyarakat persoalan-persoalan yang ada akan dengan mudah
diatasi dan dapat menjalani hidup dengan harmonis.

B. Permainan Memindahkan karet


Permainan ini bertujuan untuk melatih kerjasama kelompok dan kesabaran
agar lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Saat bermain kita akan
bisa langsung melihat wajah teman kita yang berarti secara tidak langsung
kita akan meningkatkan kepedulian terhadap teman kita.
Alat:
Karet sejumlah kelompok yang ada.
Sedotan atau korek api (semakin pendek semakin seru).

Cara bermain:

a. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok;


b. Setiap kelompok bediri dan berbaris berbanjar sambil dan setiap orang
memegang sedotan dengan mulut mereka;
c. Pemandu menaruh karet gelang di sedotan orang yang berada pada
barisan paling depan;
d. Kemudian karet gelang dipindahkan melalui sedotan hingga sampai ke
orang terakhir;
e. Kelompok yang paling cepat memindahkan karet gelang adalah
pemenangnya.