Anda di halaman 1dari 9

PENGAUDITAN II SAP 2

(EKA 446 C3)

OLEH

KELOMPOK 2

Ni Wayan Pitriyani (1607531047)


Ni Nengah Witri Astiti (1607531049)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
PROGRAM REGULER
2018
A. SIFAT SIKLUS PENDAPATAN

Siklus pendapatan suatu perusahaan terdiri atas kegiatan-kegiatan yang berhubungan


dengan pertukaran barang dan jasa dengan pelanggan, dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan
dengan penerimaan pendapatan dalam bentuk kas. Kelompok-kelompok transaksi dalam
siklus pendapatan meliputi penjualan kredit, penerimaan kas (penerimaan piutang atau
penjualan tunai), dan penyesuaian penjualan (potongan penjualan, retur dan potongan
penjualan lainnya, serta penghapusan piutang).

Tujuan audit untuk siklus pendapatan berkaitan dengan perolehan bukti kompeten yang
mencukupi tentang setiap asersi laporan keuangan yang signifikan menyangkut saldo dan
transaksi siklus pendapatan.

Penggunaan Pemahaman Atas Bisnis Dan Bidang Usaha Untuk Pengembangan Strategi
Audit

1. Pemahaman Bisnis dan Bidang Usaha Klien


Audit mengembangkan strategi audit berdasarkan risiko salah saji yang material.
Langkah pertama dalam menilai risiko itu adalah memperoleh pemahaman tentang bisnis
dan industri klien karena hal tersebut juga dapat membantu auditor dalam:
1. Memperkirakan total pendapatan klien dengan memahami kapasitas klien, pasar, dan
pelanggan klien.
2. Memperkirakan laba kotor dengan memahami pangsa pasar dan keunggulan
kompetitif klien di pasar.
3. Memperkirakan piutang bersih berdasarkan periode pengumpulan piutang rata-rata
untuk klien dan bidang usaha yang sama.
2. Materialitas
Kelompok transaksi dan saldo akun yang menyertai siklus pendapatan biasanya
mempunyai pengaruh material terhadap laporan keuangan. Untuk meningkatkan
keefektifan dan keefisienan auditor dalam memenuhi tujuan audit spesifik pada siklus ini,
perhatian yang cermat harus diberikan guna mempertimbangkan risiko bawaan, risiko
prosedur analitis, dan risiko pengendalian ketika menentukan strategi audit untuk setiap
tujuan audit tersebut.
3. Risiko Bawaan
Dalam menilai risiko bawaan pada asersi siklus pendapatan, auditor harus
mempertimbangkan faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi asersi dalam
beberapa siklus, termasuk siklus pendapatan, serta faktor-faktor yang hanya berkaitan
dengan asersi tertentu dalam siklus pendapatan.
4. Risiko Prosedur Analitis
Risiko prosedur analitis merupakan unsur risiko deteksi yang timbul dari kegagalan
prosedur analitis dalam mendeteksi salah saji material. Prosedur analitis merupakan cara
yang efektif dari segi biaya dan mengandalkan pada pengetahuan auditor tentang bisnis
dan industri klien. Prosedur ini tidak hanya efektif dalam mengidentifikasi salah saji yag
potensial atas laporan keuangan, tetapi juga efektif dalam mengidentifikasi masalah yang
timbul ketika memberikan jasa menilai tambah di samping laporan audit.
Tahap pertama dalam melakukan prosedur analitis adalah memperoleh pemahaman
mengenai total pendapatan yang diberikan: (1) kapasitas klien, yaitu volume penjualan
maksimum yang dapat dicapai, seandainya klien menggunakan penuh seluruh fasilitas
dan tenaga kerja yang dimilikinya untuk memproduksi dan mengirimkan barang dan jasa
yang dihasilkannya. dan (2) pasar produk-produk klien. prosedur analitis yang penting
adalah memahami pangsa pasar klien, yang membandingkan pendapatan klien dengan
total pendapatan dari pasar produk-produk klien.

Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal

1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian teridir dari beberapa faktor yang dapat mengurangi bebrapa
risiko inheren yang berkaitan dengan siklus pendapatan. Di samping itu, faktor-faktor ini
juga dapat meningkatkan atau mengurangi keefektifan komponen pengendalian internal
lainnya dalam mengendalikan risiko salah saji pada asersi siklus pendapatan.
2. Penilaian Risiko
Penilaian risiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan adalaha sama dengan
penilaian risiko inheren oleh auditor ekternal. Upaya yang cermat oleh sebagian
manajemen untuk megidentifikasi jenis-jenis risiko yang berkaitan dengan saldo dan
transaksi siklus pendapatan, bersama dengan komitmen untuk mengawali aktivitas
pengendalian atas risiko tersebut, harus mengurangi risiko salah saji.
3. Informasi dan Komunikasi (Sistem Akuntansi)
Pemahaman atas sistem akuntansi pendapatan memerlukan pengetahuan tentang
bagaimana (1) penjualan diawali, (2) barang dan jasa diberikan, (3) piutang dicatat, (4)
kas diterima, dan (5) penyesuaian penjualan dilakukan, termasuk metode pemrosesan data
serta dokumen penting dan catatan yang digunakan.
4. Pemonitoran (Monitoring)
Auditor harus memperoleh pemahaman tentang umpan balik ini dan apakah
manajemen telah mengawali setiap tindakan korektif berdasarkan informasi yang diterima
dari aktivitas pemantauan. Kemungkinan ini mencakup informasi yang diterima dari (1)
pelanggan yang mengalami kesalah penagihan, (2) lembaga pengatur yang
memperhatikan ketidaksesuaian kebijakan pengakuan pendapatan atau hal-hal yang
berkaitan dengan pengendalian internal, dan (3) auditor eksternal yang
mempertimbangkan kondisi yang dapat dilaporkan atau kelemahan material dalam
pengendalian internal yangn ditemukan pada audit sebelumnya.
5. Penetapan Awal Risiko Pengendalian dan Strategi Awal Audit
Pada saat auditor memproleh bukti tenyang keefektifan operasi pengendalian internal
yang berkaitan dengan prosedur untuk memperoleh pemahaman, auditor dapat
mengevaluasi risiko pengendalian berdasarkan bukti tersebut. Dalam kasus semacam itu,
kepastian yang terbatas mungkin diperoleh tentang keefektifan pengendalian yang
terutama didasarkan atas prosedur yang mencangkup pengajuan pertanyaan, observasi,
dan beberapa inspeksi atas bukti yang didokumentasikan. Banyak auditor akan menilai
resiko pengendalian untuk asersi tertentu secara sepintas dibawah atau diatas maksimum.

B. AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PENJUALAN KREDIT

Transaksi penjualan ini biasanya dicatat dengan menggunakan system komputer yang
dapat memproses transaksi secara berurutan atau metode pemrosesan batch. Aktivitas
pengendalian selama transaksi penjualan berlangsung harus disesuaikan dengan perubahan
situasi.

Perusahaan yang memerlukan audit mempunyai system akuntasi yang terkomputerisasi.


Pertimbangan akan diberikan pada prosedur yang digunakan oleh auditor untuk (1)
memperoleh dan mendokumentasikan pemahaman atas pengendalian internal dan (2)
melakukan pengujian pengendalian yang digunakan dalam membuat penilaian akhir atas
risiko pengendalian untuk transaksi pembelian.

Berbagai dokumen dan catatan yang biasanya digunakan perusahaan besar dalam
pengolahan transaksi penjualan kredit adalah sebagai berikut : (1.) order dari pembelian, (2.)
order penjualan, (3.) dokumen pengiriman, (4.) faktur penjualan, (5.) daftar harga, dan
lainnya. Pengolahan transaksi pendapatan melibatkan fungsi-fungsi pendapatan berikut ini,
yaitu : Pelayanan awal penjualan, Pengiriman barang dan jasa, Pencatatan penjualan

Mendapatkan Pemahaman Dan Menetapkan Risiko Pengendalian

Auditor harus memperoleh pemahaman atas siklus penjualan yang mencukupi untuk
merencanakan audit, yaitu auditor perlu mempunyai pemahaman yang cukup untuk dapat (1)
mengidentifikasi jenis salah saji yang potensial, (2) mempertimbangkan faktor-faktor yang
mempengaruhi risiko salah saji yang material, dan (3) merancang pengujian substansif.

Auditor bisa saja merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada tingkat sedang
atau tinggi atau menggunakan pengetahuannya tentang keefektifan pengendalian siklus
pendapatan yang diperoleh ketika memahami pengendalian internal.

C. AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PENERIMAAN KAS

Penerimaan kas berasal , dari berbagai aktivitas . Sebagai contoh , kas mungkin diterima
dari transaksi pendapatan , pinjaman jangka pendek ataupun jangka panjang , penerbitan
saham , penjualan surat berharga , investasi jangka panjang , dan aktiva lainnya . Dokumen
penting dan catatan yang digunakan dalam penerimaan kas meliputi Pengantar pembayaran ,
pradaftar , dafar perhitungan kas , ikhtisiar kas harian , slip setoran ke bank , file transaksi
penerimaan kas , dan juga jurnal penerimaan kas . Adapun fungsi penerimaan kas meliputi
pengolahan penerimaan kas, penyetoran kas ke bank, dan pencatatan penerimaan kas.

D. AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PENYESUAIAN PENJUALAN

Transaksi penyesuaian penjualan meliputi : (1.) Pemberian potongan penjualan, (2.)


Penerimaan retur penjualan dan pemberian potongan lain (3.) Penghapusan piutang tak
tertagih.

Auditor melakukan pengujian pengendalian untuk memperoleh bukti tentang keefektifan


perancangan dan operasi sistem pengendalian internal perusahaan. Risiko bawaan yang
berkaitan dengan transaksi penerimaan kas adalah tinggi akibat kemungkinan penipuan oleh
karyawan melalui pengalihan penerimaan kas. Jika prosedur analitis menunjukkan kenaikan
jumlah hari piutang beredar, maka hal ini mungkin dapat menjelaskan pengalihan penerimaan
kas itu. Akibat risiko bawaan atas penggelapan kas, dan dampak transaksi penerimaan kas
terhadap piutang, auditor seringkali akan menguji prosedur pengendalian yang berkaitan
dengan penerimaan kas.
Jika auditor merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada tingkat sedang
(moderate) atau tinggi, maka auditor mungkin akan mendukung penilaian risiko pengendalian
melibatkan pengendalian manual dan auditor akan memperoleh bukti melalui Tanya-jawab,
observasi, serta inspeksi dokumen.

Jika auditor merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada tingkat yang rendah,
maka auditor akan memperluas pengujian sehingga mencakup inspeksi dokumen dan
pelaksanaan kembali pengendalian manual.

Pengujian Substantif Atas Piutang Usaha

Piutang mencakup semua tagihan kepada para pelanggan, karyawan dan pengusaha
afiliasi yang timbul dari penjualan secara kredit, transaksi wesel, pemberian pinjaman dan
bunga yang masih akan diterima

Penentuan Risiko Deteksi Untuk Pengujian Detail

Hutang usaha dipengaruhi baik oleh transaksi pembelian yang menambah saldo maupun
oleh transaksi pengeluaran kas yang menurunkan risiko saldo tersebut. Jadi, risiko pengujian
rincian untuk asersi hutang usaha dipengaruhi oleh risiko bawaan, risiko prosedur analitis,
faktor – faktor risiko pengendalian yang berkaitan dengan kedua kelompok transaksi tersebut.
Auditor menggunakan metodologi menggabungkan penilaian risiko pengendalian yang tepat
atas asersi kelompok transaksi guna mencapai penilaian risiko pengendalian untuk asersi –
asersi saldo akun utang usaha..

Perancangan Pengujian Substantif

Tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi laporan laporan keuangan
yang signifikan dicapai dengan mengumpulkan bukti dari pengujian substantif yang
dirancang secara tepat, termasuk prosedur analitis, dan pengujian rincian. Ketika membahas
piutang usaha, juga dapat digunakan dalam merancang pengujian substantif untuk hutang
usaha

Prosedur Awal

Titik awal untuk memenuhi setiap pengujian audit adalah memperoleh pemahaman
tentang bisnis dan industri klien. Prosedur awal yang penting untuk memperivikasi piutang
usaha dan akun penyelisihan terkait adalah menelusuri saldo awal periode berjalan ke saldo
akhir yang telah diaudit dalam kertas kerja tahun sebelumnya (jika dapat dilakukan).
Selanjutnya, aktivitas periode berjalan dalam akun pengendalian buku besar dan akun
penyisihan terkait harus direview untuk setiap ayat jurnal yang signifikasi, yang tidak biasa
dari segi sifat atau jumlah, yang memerlukan investigasi khusus.

Prosedur Analitis

Tujuan auditor dalam melakukan prosedur analitis adalah mengembangkan ekspektasi


atas saldo piutang usaha, hubungan piutang usaha dengan penjualan, dalam marjin kotor
perusahaan.

Pengujian Detail Transaksi

Pengujian rincian transaksi tertentu dapat dilaksanakan selama pekerjaan interim (interim
work) bersama dengan pengujian pengendalian dalam bentuk pengujian bertujuan ganda
meliputi yaitu Pencocokan Piutang di pembukuan ke dokumen pendukungnya, melakukan
pengujian pisah batas untuk penjualan dan retur penjualan, melakukan pengujian pisah batas
atas penerimaan kas.

Pengujian Detail Saldo

Dua bidang utama dari prosedur dalam kategori pengujian substantif untuk piutang usaha
ini akan dibahas : konfirmasi piutang dan prosedur tindak lanjut yang berkaitan serta
prosedur untuk mengevaluasi kecukupan penyisihan piutang tak tertagih.

1. Konfirmasi Piutang
Konfirmasi piutang usaha mencakup komunkasi tertulis secara langsung antara
pelanggan dan auditor.
2. Prosedur Audit Yang Berlaku Umum
Konfimasi piutang adalah prosedur sudit yang berlaku umum. SA 330.04 (PSA
No.07), menyatakan ada anggapan bahwa auditor akan meminta konfirmasi piutang
selama melakukan audit, kecuali:
a. Piutang usaha bersifat tidak material terhadap laporan keuangan.
b. Penggunaan konfirmasi akan menjadi tidak efektif sebagai suatu prosedur audit.
c. Penilaian gabungan auditor atas risiko inheren serta risiko pengendalian adalah rendah
dan bahwa penilaian ini, bersama dengan bukti yang diharapkan disediakan oleh
prosedur analitis atau pengujian substantif lainnya, sudah cukup untuk mengurangi
risiko audit ke tingkat rendah yang dapat diterima untuk asersi laporan keuangan yang
berlaku.
3. Bentuk Konfirmasi
a. Konfirmasi Positif adalah suatu permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk
merespons secara langsung kepada auditor yang menunjukkan apakah pihak yang
dikonfirmasi setuju atau tidak setuju dengan informasi yang terdapat dalam
permintaan konfirmasi, atau menyediakan informasi yang diminta (SA 505.6b.).
b. Konfirmasi Negatif adalah suatu permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk
merespons secara langsung kepada auditor hanya jika pihak yang dikonfirmasi tidak
setuju dengan informasi yang terdapat dalam permintaan konfirmasi.
4. Saat dan Banyaknya Permintaan Konfirmasi
Apabila tingkat risiko deteksi rendah, auditor biasanya mengirimkan permintaan
konfirmasi piutang pada tanggal neraca. Pada tingkat risiko deteksi tinggi, tanggal
pengiriman konfirmasi bisa dipilih satu atau dua bulan lebih awal.
5. Pengawasan atas Permintaan Konfirmasi
Auditor harus mengawasi semua tahapan dalam proses konfirmasi yang berarti:
Menentukan bahwa jumlah, nama, dan alamat pada konfirmasi cocok dengan data
mengenai hal yang sama dalam rekening pelanggan, menggunakan amplop jawaban
konfirmasi yang sudah disediakan dengan alamat yang sudah tercetak tertuju pada kantor
akuntan publik yang bersangkutan, dan mewajibkan pengiriman jawaban langsung
kepada auditor.
6. Prosedur Alternatif untuk Konfirmasi yang Tidak Dijawab
Dua prosedur alternatifnya adalah memeriksa penerimaan kas pada periode
berikutnya dan mencocokkan ke dokumen (faktur penjualan) saldo piutang yang ada pada
akhir tahun.
7. Meringkas dan Mengevaluasi Hasil
Ringkasan hasil jawaban konfirmasi menunjukkan data berikut: (1) jumlah dan nilai
rupiah konfirmasi yang dikirimkan, (2) Bagian dan total populasi yang dicakup oleh
sampel, (3) Hubungan antara nilai per audit dengan nilai per buku yang dicakup oleh
sampel.
8. Mengevaluasi Kecukupan Cadangan Kerugian Piutang

Pengujian Saldo meliputi:


a. Penggunaan perangkat lunak audit digeneralisasi untuk menjumlah vertikal dan
menjumlah horizontal daftar umur piutang dan mencocokkan jumlah totalnya
dengan saldo buku besar.
b. Pengujian umur yang terecantum pada kelompok umur dalam daftar umur piutang.
c. Pertimbangan bukti yang berkaitan dengan kredibilitas untuk rekening-rekening yang
telah lewat waktu.
d. Menetapkan kewajaran persentase untuk menghitung komponen cadangan yang
diperlukan untuk setiap kelompok umur dan kecukupan cadangan sebagai
keseluruhan.
e. Penilaian atas estimasi kerugian piutang pada waktu yang lalu dengan pengalaman
kemudian dan manfaat dan pengalaman di masa lalu.

DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al. Haryono. 2002. Auditing (Pengauditan). Yogyakarta: STIE YKPN.