Anda di halaman 1dari 3

TRAUMA GIGI

Trauma pada wajah dan kepala sering menimbulkan trauma pada gigi dan
jaringan sekitar gigi. Trauma yang terjadi pada gigi tergantung derajat keparahan
trauma. Salah satu akibat trauma dapat terjadi patah gigi. Pada trauma langsung
terjadi bila gigi terbentur langsung dengan suatu objek biasanya mengenai gigi depan
sedangkan pada trauma tidak langsung atau trauma yang terjadi saat rahang bawah
membentur rahang atas secara tiba-tiba dengan kekuatan keras dan cepat maka
biasanya gigi samping yang terkena. Patah gigi dapat terjadi dari enamel hingga ke
akar. Tingkat kerusakan pada trauma gigi tergantung faktor kekuatan, bentuk objek,
arah dan reaksi jaringan sekitar gigi. Pada trauma gigi rahang atas lebih sering terjadi
karna gigi pada rahang atas lebih menonjol dari rahang bawah.

Klasifikasi patah gigi menurut WHO


1. Crown Infection : patah gigi tidak lengkap dari enamel dan tidak mengenai
dentin
2. Uncomplicated crown fracture : patah gigi mengenai enamel atau enamel dan
dentin tapi tidak sampai pulpa
3. Complicated crown fracture : patah gigi mengenai enamel, dentin, lapisan
semen, tapi pulpa tidak terbuka
4. Complicated crown-root fracture : patah gigi mengenai enamel, dentin, lapisan
semen dan pulpa terbuka
5. Root fracture : patah gigi mengenai dentin, lapisan semen dan pulpa

Klasifikasi patah gigi menurut Ellis:


1. kelas 1: Fraktur mahkota sederhana yang hanya melibatkan enamel
2. Kelas 2: Fraktur mahkota yang lebih luas yang telah melibatkan jaringan
dentin tetapi belum melibatkan pulpa
3. Kelas 3: Fraktur mahkota gigi yang melibatkan jaringan dentin dan
menyebabakan terbukanya pulpa
4. Kelas 4: Trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital dengan
atau tanpa kehilangan struktur mahkota
5. Kelas 5: Trauma pada gigi yang menyebabkan kehilangan gigi atau avulasi
6. Kelas 6: fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota
7. Kelas 7: perubahan posisi atau displacement gigi
8. Kelas 8: kerusakan gigi akibat trauma atau benturan pada gigi yang
menyebabkan fraktur mahkota yang besar tapi gigi tetap pada tempatnya dan
akar tidak mengalami perubahan
9. Kelas 9: Kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.

Kerusakan pada jaringan pendukung gigi:


1. konkusi: gigi sensitif terhadap tekanan dan kegoyangan atau perubahan posisi
2. sublukasi: kegoyangan gigi tanpa disertai perubahan posisi gigi
3. luksasi ekstrusi: gigi keluar dari soketnya gigi tampak lebih panjang
4. Lukasi lateral: posisi gigi berubah ke arah labial, palatal, maupun lateral
5. Lukasi intrusi: pergerakan gigi ke tulang alveolar, gigi tampak lebih pendek
6. Avulsi: seluruh gigi keluar dari soket

Kerusakan pada gusi atau jaringan lunak


1. Laserasi: luka terbuka
2. Kontusio: memar tanpa disertai sobek
3. Luka abrasi: luka pada permukaan atau lecet

Pemeriksaan pasien yang mengalami trauma gigi terdiri dari 3 pemeriksaan yang
dilakukan yaitu pemeriksaan umum, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan lanjutan.
Dalam pemeriksaan umum pemeriksa menanyakan identitas, riwayat kasus atau
kronologi trauma dan riwayat medis. Pada pemeriksaan riwayat kasus ditanyakan
keluhan atau gejala pada gigi saat mengunyah, rasa nyeri atau sensitif dan pergerakan
gigi. Pada pemeriksaan lanjutan meliputi pemeriksaan klinis pada ekstra oral dan intra
oral. Pada pemeriksaan oral bertujua untuk melihat luka di luar rongga mulut
misalnya laserasi akibat trauma dan apakah ada pembengkakan disekitar atau diluar
rongga mulut. Pemeriksaan intra oral meliputi pemeriksaan laserasi pada jaringa di
dalam rongga mulut.
Tindakan perawatan terhadap trauma gigi perlu dilakukan secepatnya untuk
mengurangi komplikasi. Tujuan penanganan tindakan perawatan akibat trauma gigi
untuk menstabilkan posisi gigi dan mengembalikan fungsinya.

Trauma gigi yang menimbulkan komplikasi terhadap jaringan pendukung gigi


dapat menganggu fungsi pengunyahan dan fungsi bicara. Selain itu trauma gigi juga
dapat menimbulkan gangguan terhadap pertumbuhan, perkembangan dan estetika
yang dapat berpengaruh terhadap rasa percaya diri korban.