Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Diantara banyak aspek, sanitasi dan hygiene merupakan aspek mutlak


yang harus dikuasai karena berbagai alasan. Pertama, adanya sikap kritis
konsumen yang makin meningkat. Kedua, pada umumnya owner atau manajemen
menuntut hal yang serupa pada karyawannya. Ketiga karyawan pun membutuhkan
tingkat kesehatan dan keselamatan kerja. Selama ini, nampaknya pengertian
hygiene dan sanitasi masih sering dibaurkan begitu saja. Mungkin dikarenakan
sangat dekatnya kaitan dua istilah tersebut dalam praktik sehari-hari. Karenanya
perlu kita bedakan keduanya agar jelas dimana perbedaan dan pemakaiannya.
Menurut Ensiklopedi Indonesia (1982) dalam Purnawijayanti (2001 : 41), istilah
hygiene adalah “ilmu yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan berbagai
usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan”. Arti
pentingnya hygiene adalah untuk menjaga kesehatan makanan mulai pengolahan
sampai penyajiannya. Sehingga konsumen tetap terjaga kesehatannya dari
penyebaran penyakit melalui makanan dan minuman yang diolah.

Karena merupakan suatu ilmu, maka hygiene berdiri sebagai suatu ilmu
sejajar dengan ilmu-ilmu yang relevan dengan hidup sehat yang lain seperti ilmu
gizi dan dengan sendirinya mendapat porsi khusus untuk dipelajari, di lembaga
pendidikan dasar, menengah dan tinggi seperti tingkat perguruan tinggi. Dengan
tercapainya kondisi higienis tersebut, diharapkan akan tercapai kenyamanan
hidup, keamanan pada waktu makan, kesehatan alat makan, dan bebasnya
manusia dari bahaya-bahaya keracunan makanan. Kondisi ini harus dipertahankan
secara terus-menerus, dikontrol, dievaluasi, dan dibuat sedemikian rupa sehingga
tetap pada tingkat kualitas tertentu

Upaya higiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang
menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan
makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan (Purnomo, 2009 dalam
Afriyenti, 2002). Penyelenggaraan makanan yang higiene dan sehat menjadi
prinsip dasar penyelenggaraan makanan institusi. Makanan yang tidak dikelola
dengan baik dan benar oleh penjamah makanan dapat menimbulkan dampak
negatif seperti penyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme,
tumbuhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi. Faktor kebersihan
penjamah atau pengelola makanan yang biasa disebut higiene personal merupakan
prosedur menjaga kebersihan dalam pengelolaan makanan yang aman dan sehat.
Prosedur menjaga kebersihan merupakan perilaku bersih untuk mencegah
kontaminasi pada makanan yang ditangani. Prosedur yang penting bagi pekerja
pengolah makanan adalah pencucian tangan, kebersihan dan kesehatan diri. Di
Amerika Serikat 25% dari semua penyebaran penyakit melalui makanan,
disebabkan pengolah makanan yang terinfeksi dan higiene personal yang buruk.
Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat melanjutkan
kehidupannya. Begitu juga bagi atlet, makanan sangat dibutuhkan untuk menjaga
kesehatan jasmaninya agar tidak mudah sakit dan fisiknya tetap kuat. Untuk itu
makanan yang diberikan harus sehat, disamping memiliki nilai gizi yang optimal
juga tidak mengandung bahan berbahaya serta higiene. Bila salah satu faktor
tersebut terganggu maka makanan yang dihasilkan akan menimbulkan gangguan
kesehatan, penyakit bahkan keracunan makanan. (Djarismawati, 2004 dalam
Fauziah, 2010).

1.2 Tujuan

- Untuk mengetahui Personal Hygiene pada rambut, dan telapak tangan

- Untuk mengetahui efektivitas Sanitasi alat pengolahan pangan seperti


Pisau dan Piring
DAFTAR PUSTAKA

Fatmawati Suci, Ali Rosidi, dan Erma Handarsari. “Perilaku Higiene Pengolah
Makanan Berdasarkan Pengetahuan Tentang Higiene Mengolah Makanan
Dalam Penyelenggaraan Makanan Di Pusat Pendidikan Dan Latihan Olahraga
Pelajar Jawa Tengah”. Jurnal Gizi Universitas Muhammadiyah Semarang,
Vol.2, No.2, 2013.

Yuliastri Yuni dan Atun Yulianto. “Peranan Hygiene dan Sanitasi Untuk Menjaga
Kualitas Makanan dan Kepuasan Tamu Di Hotel Inna Garuda Yogyakarta”.
Jurnal Khasanah Ilmu, Vol.4, No.2, 2013.